UNIVERSITAS SUMATERA UTARA STAMBUK 2019 SELAMA MASA PANDEMI COVID-19
SKRIPSI
Oleh :
VIKTRIS GRACIA SALSALINA 180100149
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DAN PROFESI DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2021
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA STAMBUK 2019 SELAMA MASA PANDEMI COVID-19
SKRIPSI
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran
Oleh :
VIKTRIS GRACIA SALSALINA 180100149
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DAN PROFESI DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2021
Massa Tubuh Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Stambuk 2019 Selama Masa Pandemi COVID-19
Nama Mahasiswa : Viktris Gracia Salsalina
NIM : 180100149
Program Studi : Pendidikan dan Profesi Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara
Telah berhasil dipertahankan di hadapan Komisi Penguji dan diterima sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Sarjana Kedokteran pada Program Studi Pendidikan dan Profesi Dokter
Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
Medan, 7 Desember 2021 Pembimbing,
(dr. Esther Reny Deswani Sitorus, M.Ked(PA), Sp.PA) NIP. 19711208 200312 2 001
Ketua Program Studi Pendidikan dan Profesi Dokter Fakultas Kedokteran USU
Dekan Fakultas Kedokteran USU
(Dr. dr. Rina Amelia, MARS, Sp.KKLP) NIP 19760420 200312 2 002
(Prof. Dr. dr. Aldy Safruddin Rambe, Sp.S(K)) NIP 19660524 199203 1 002
berkat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik dan tepat pada waktunya. Skripsi ini berjudul “Pengaruh Aktivitas Fisik Terhadap Perubahan Indeks Massa Tubuh Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Stambuk 2019 Selama Masa Pandemi COVID-19” yang merupakan salah satu syarat untuk memperoleh kelulusan sarjana kedokteran program studi Pendidikan dan Profesi Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
Dalam penyusunan dan penyelesaian skripsi ini, penulis mendapat banyak dukungan dan bantuan secara moril maupun materil dari berbagai pihak. Penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih sebesar-besarnya kepada :
1. Yang terhormat, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatra Utara, Prof. Dr. dr. Aldy Safruddin Rambe, Sp.S(K).
2. Yang terhormat, dosen pembimbing penulis, dr. Esther Reny Deswani Sitorus, M.Ked(PA), Sp.PA yang membimbing, memberikan arahan, saran, dan motivasi kepada penulis dengan sabar sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini sebaik mungkin.
3. Yang terhormat, ketua penguji penulis, dr. Beby Syofiani Hasibuan, M.Ked(Ped), Sp.A(K) dan Anggota penguji penulis, dr. Dedy Dwi Putra, Sp.Rad, yang sudah memberikan masukan dan saran yang membangun sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini sebaik mungkin.
4. Yang terhormat, dosen pembimbing akademik, dr. Mega Sari Sitorus, M.Kes, Sp.PA yang telah membimbing penulis selama masa perkuliahan 7 semester dan memberikan motivasi kepada penulis untuk terus giat belajar dan mendapatkan nilai yang baik.
5. Seluruh staf pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Sumatra Utara atas ilmu yang diberikan dari awal perkuliahan sampai penulis menyelesaikan skripsi ini.
7. Kedua orang tua penulis yang telah membesarkan, membimbing, mendidik, mendukung, dan selalu memberikan semangat kepada penulis dengan penuh kasih sayang.
8. Kedua saudara kandung penulis yang selalu memberikan motivasi dan dukungan kepada penulis.
9. Sahabat-sahabat penulis, Vega, Feiza, Timo, Nia, Natasya, Indah, Sabrina, Kezia, Alya, Yiska, Digna, Andri, Nico, dan sahabat lainnya yang tidak bisa disebut satu per satu yang selalu memberikan dukungan dan motivasi dari awal perkuliahan sampai selesainya skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari kata sempurna, baik secara materi maupun tata cara penulisan. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan kaya tulis hasil penelitian ini.
Medan, 7 Desember 2021 Penulis,
Viktris Gracia Salsalina 180100149
HALAMAN PENGESAHAN ... I KATA PENGANTAR ... II DAFTAR ISI ... IV DAFTAR TABEL ... VII DAFTAR GAMBAR ... IX DAFTAR SINGKATAN ...X ABSTRAK ... XI ABSTRACT ... XII
BAB I ... 13
PENDAHULUAN ... 13
1.1 LATARBELAKANG ... 13
1.2 RUMUSANMASALAH ... 3
1.3 TUJUANPENELITIAN ... 3
1.3.1 Tujuan Umum ... 3
1.3.2 Tujuan Khusus ... 3
1.4 MANFAATPENELITIAN ... 3
1.4.1 Bagi Peneliti ... 3
1.4.2 Bagi Mahasiswa ... 4
1.4.3 Bagi Masyarakat ... 4
BAB II ... 5
TINJAUAN PUSTAKA ... 5
2.1 INDEKSMASSATUBUH ... 5
2.1.1 Definisi IMT ... 5
2.1.2 Epidemiologi Status Gizi di Indonesia ... 6
2.1.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi IMT ... 7
2.2 AKTIVITASFISIK ... 10
2.2.1 Definisi Aktivitas Fisik ... 10
2.2.2 Klasifikasi Aktivitas Fisik ... 10
2.2.3 Pengaruh Aktivitas Fisik Terhadap Tubuh ... 14
2.3.1 Definisi COVID-19 ... 16
2.3.2 Pencegahan Penularan COVID-19 ... 17
2.3.3 Gambaran Aktivitas Fisik Saat Pandemi COVID-19 ... 18
2.3.4 Gambaran Indeks Massa Tubuh Saat Pandemi COVID-19 ... 20
2.3.5 Pengaruh IMT Terhadap COVID-19 ... 21
2.4 KERANGKATEORI ... 23
2.5 KERANGKAKONSEP ... 24
2.6 HIPOTESIS ... 24
BAB III ... 25
METODE PENELITIAN ... 25
3.1 RANCANGANPENELITIAN ... 25
3.2 LOKASIDANWAKTUPENELITIAN ... 25
3.2.1 Lokasi Penelitian ... 25
3.2.2 Waktu Penelitian ... 25
3.3 POPULASIDANSAMPELPENELTIAN ... 25
3.3.1 Populasi Penelitian ... 25
3.3.2 Sampel Penelitian ... 25
3.4 KRITERIAINKLUSIDANEKSKLUSI ... 26
3.4.1 Kriteria Inklusi ... 26
3.4.2 Kriteria Eksklusi ... 26
3.5 METODEPENGUMPULANDATA ... 27
3.5.1 Data Primer ... 27
3.5.2 Data Sekunder ... 27
3.5.3 Instrumen Penelitian ... 27
3.6 METODEPENGOLAHANDANANALISISDATA... 29
3.6.1 Metode Pengolahan Data ... 29
3.6.2 Analisis Data ... 30
3.7 ALURPENELITIAN ... 31
3.8 DEFISINIOPERASIONAL ... 32
4.1 DESKRIPSILOKASIPENELITIAN ... 34
4.2 ANALISISDESKRIPTIF ... 34
4.2.1 Distribusi Karakteristik Responden ... 34
4.2.2 Tabulasi Silang Antara Peta Risiko Zonasi dan Aktivitas Fisik ... 39
4.2.3 Tabulasi Silang Antara Porsi Makan dan Frekuensi Makan ... 40
4.2.4 Tabulasi Silang Antara Pilihan Makanan dan IMT Sebelum Pandemi COVID-19 ... 41
4.2.5 Tabulasi Silang Antara Pilihan Makanan dan IMT Saat Pandemi COVID-19 ... 42
4.3 ANALISISDATA ... 43
4.3.1 Uji Normalitas Data ... 43
4.3.2 Perubahan IMT Sebelum dengan Saat Pandemi COVID-19 ... 43
4.3.3 Hubungan Aktivitas Fisik dengan IMT Saat Pandemi COVID-19 ... 45
4.4 KETERBATASANPENELITIAN ... 47
BAB V ... 49
KESIMPULAN DAN SARAN ... 49
5.1 KESIMPULAN ... 49
5.2 SARAN ... 50
DAFTAR PUSTAKA ... 51
LAMPIRAN ... 57
2.1 Kategori IMT Indonesia……….… 6
2.2 Nilai PAR aktivitas……… 11
2.3 Klasifikasi aktivitas fisik……….... 13
3.1 Hasil uji validitas kuesioner………... 28
3.1 Hasil uji realibilitas kuesioner..………. 29
3.3 Definisi operasional IMT sebelum pandemi COVID- 19………... 32
3.4 Definisi operasional aktivitas fisik………... 32
3.5 Definisi operasional IMT saat pandemi COVID-19 …. 33 4.1 Data distribusi sampel penelitian berdasarkan jenis kelamin, usia, dan zonasi ………... 35
4.2 Data distribusi sampel berdasarkan perubahan pola makan sebelum dan saat pandemi COVID-19……….. 36
4.3 Data distribusi sampel berdasarkan porsi makan dan frekuensi makan selama pandemi COVID-19……….. 36
4.4 Data distribusi sampel berdasarkan riwayat pilihan makanan tersering sebelum dan selama pandemi COVID-19………. 37
4.5 Data distribusi sampel berdasarkan kategori IMT sebelum dan selama pandemi COVID-19………. 37
4.6 Data distribusi sampel berdasarkan IMT sebelum dan selama pandemi COVID-19……….. 38
4.7 Data distribusi sampel berdasarkan aktivitas fisik saat pandemi COVID-19……….….. 38
4.8 Data distribusi sampel berdasarkan peta risiko zonasi COVID-19 dengan aktivitas fisik saat pandemi COVID-19………. 39
4.9 Data distribusi sampel berdasarkan porsi makan dan frekuensi makan saat pandemi COVID-19……… 40
4.10 Data distribusi sampel berdasarkan kategori IMT dan pilihan makanan sebelum pandemi COVID-19……... 41
4.12 Uji normalitas aktivitas fisik dan indeks massa tubuh... 43 4.13 Perubahan IMT sebelum dan saat pandemi COVID-
19……… 43
4.14 Aktivitas fisik dan IMT mahasiswa FK USU stambuk
2019 selama pandemi COVID-19 ………... 45
2.1 Keseimbangan kalori………. 9
2.2 Pengaruh laju perpindahan individu terpapar ke individu karantina……….. 17
2.3 Estimasi tingkat risiko keparahan kondisi pasien COVID-19……….. 21
2.4 Kerangka Teori……….. 22
2.5 Kerangka Konsep………... 23
3.1 Alur Penelitian………... 29
FK : Fakultas Kedokteran
FKM : Fakultas Kesehatan Masyarakat IMT : Indeks Massa Tubuh
IPAQ : International Physical Activity Questionnaire MET : Metabolic Equivalents of Task
NCAM : Neural Cell Adhesion Molecule PAL : Physiscal Activity Level
PAR : Physical Activity Rasio
PPKM : Pemberlakuan Pengetatan Kegiatan Masyarakat PSBB : Pembatasan Sosial Berskala Besar
Riskesdas : Riset Kesehatan Dasar
SARS CoV-2 : Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 USU : Universitas Sumatera Utara
WHO : World Health Organization WNA : Warga Negara Asing
dunia mengharuskan setiap individu untuk membatasi aktivitas di luar rumah. Hal ini akan berdampak pada perubahan aktivitas fisik setiap individu yang cenderung menurun karena keterbatasan ruang gerak sehingga menyebabkan penurunan pengeluaran energi dan berpengaruh terhadap perubahan indeks massa tubuh (IMT) seseorang. Tujuan. Untuk melihat perbandingan IMT mahasiswa FK USU stambuk 2019 sebelum pandemi COVID-19 dan saat pandemi COVID-19 serta menganalisis hubungan aktivitas fisik dengan IMT saat pandemi COVID-19.
Metode. Jenis penelitian ini dibagi menjadi dua bagian, observasional retrospektif (case control) dan studi analitik cross-sectional menggunakan data rekam medis responden sebelum pandemi COVID-19 dan kuesioner online yang diberikan kepada responden kemudian dianalisis menggunakan aplikasi program statistik.
Hasil. Hasil penelitian menggunakan uji Wilcoxon Ranked Test p=0,536 (p>0,05) menunjukkan tidak adanya perubahan yang signifikan antara IMT mahasiswa sebelum dengan saat pandemi COVID-19 dan umumnya mahasiswa mengalami kenaikan berat badan, dan uji Kendall Tau-c, p=0,010, (p<0,05) menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara aktivitas fisik dan IMT saat pandemi COVID-19. Kesimpulan. Dapat disimpulkan bahwa tidak adanya perubahan yang signifikan antara IMT sebelum dan saat pandemi COVID-19 dan adanya hubungan yang bermakna antara aktivitas fisik dengan IMT saat pandemi COVID-19.
Kata kunci : Aktivitas fisik, indeks massa tubuh, COVID-19
world, requires every individual to limit activities outside the home. This will have an impact on changes in the physical activity of each individual which tends to decrease due to limited space, causing a decrease in energy expenditure and affecting changes in a person's body mass index (BMI). Objectives. To see a comparison of the BMI of USU Medical Faculty students in 2019 before the COVID-19 pandemic and during the COVID-19 pandemic and analyze the relationship between physical activity and BMI during the COVID-19 pandemic.
Methods. This type of research is divided into two parts, retrospective observational (case control) and cross-sectional analytical studies using respondents' medical records before the COVID-19 pandemic and online questionnaires given to respondents and then analyzed using statistical program applications. Results. The results of the study using the Wilcoxon Ranked Test p=0.536 (p>0.05) showed no significant changes between BMI of students before and during the COVID-19 pandemic and generally students experienced weight gain, and the Kendall Tau-c test, p= 0.010, (p<0.05) indicates a significant relationship between physical activity and BMI during the COVID-19 pandemic.
Conclusion. It can be concluded that there is no significant change between BMI before and during the COVID-19 pandemic and there is a significant relationship between physical activity and BMI during the COVID-19 pandemic.
Keywords: physical activity, body mass index, COVID-19
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG
Pengukuran indeks massa tubuh (IMT) dilakukan untuk mengetahui status gizi seseorang berusia 18 tahun atau lebih. Berdasarkan ketentuan WHO, batas ambang normal IMT dibedakan untuk jenis kelamin laki-laki dan perempuan namun di Indonesia dengan berdasarkan penelitian dan pengalaman klinis, IMT tidak dikategorikan menurut jenis kelamin. (Kemenkes RI, 2019). Di Indonesia populasi masyarakat yang kurang gizi terus meningkat sementara masyarakat dengan gizi berlebih juga meningkat. Individu dengan gizi kurang maupun gizi lebih dapat menurunkan kualitas hidupnya (Suharsa & Sahnaz, 2016).
Berdasarkan Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, prevalensi status gizi berdasarkan kategori IMT pada penduduk dewasa (umur > 18 tahun) di Indonesia dibagi menjadi, kurus (IMT < 18,5) : 9,3%, normal (IMT ≥18,5 s.d IMT <25,0) 55,3%, berat badan lebih (IMT ≥ 25,0 s.d IMT <27,0) 13,6%, obesitas (IMT ≥ 27,0) 21,8% (Kementerian Kesehatan RI, 2019). Prevalensi obesitas pada orang dewasa semakin meningkat berdasarkan laporan Riskesdas 2007 yakni 10,5% kemudian pada Riskesdas 2013 dengan 14,8%, dan Riskesdas 2018 menunjukkan 21,8% (A. R. Wulandari et al., 2019). Gizi lebih maupun gizi kurang merupakan akibat dari ketidakseimbangan antara jumlah energi yang masuk dengan energi yang dikeluarkan setiap hari. Energi yang dikeluarkan dapat bergantung dari aktivitas seseorang (N. Wulandari et al., 2015). Berbagai penelitian menyimpulkan adanya hubungan antara aktivitas fisik dengan kejadian obesitas.
Risiko obesitas semakin rendah dengan aktivitas fisik yang tinggi (Widiantini &
Tafal, 2014).
Adapun masalah yang sedang dialami di seluruh dunia saat ini ialah pandemi COVID-19. Dari awal Januari 2020 saat teridentifikasi jenis virus baru yang diberi nama Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS CoV-2) sehingga World Health Organization (WHO) menamai penyakit yang disebabkan oleh SARS-CoV-2 ini sebagai COVID-19. Pada bulan Maret 2020, WHO dengan resmi
menyatakan bahwa virus SARS-CoV-2 merupakan sebuah pandemi global (Yuliana, 2020). Di Indonesia, kasus COVID-19 pertama kali pada tanggal 2 Maret 2020 ditemukan dua kasus di Jakarta (Morawska et al., 2020). Hingga saat ini masih tetap terjadi penyebaran yang masif terhadap SARS CoV-2 dari manusia ke manusia yang lain (Susilo et al., 2020) Pemerintah menerapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan physical distancing untuk menahan laju penyebaran virus corona. Kegiatan di luar dibatasi dengan hanya bekerja di rumah dan belajar mengajar menggunakan sistem daring atau online (Refialdinata, 2020). Untuk menghindari penyebaran COVID-19 di perguruan tinggi, pemerintah menetapkan keputusan bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri Kesehatan, dan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 03/KB/2020 melarang satuan pendidikan di daerah zona jingga dan merah untuk melakukan proses pembelajaran tatap muka pada tahun akademik 2020/2021.
Metode kegiatan belajar mengajar dilakukan secara daring (Suyasmi et al., 2018).
Saat seseorang bekerja di rumah akan mengeluarkan energi lebih kecil dibandingkan ketika bekerja di luar rumah dan menyebabkan peningkatan berat badan yang lebih tinggi (Hastuti, 2018). Aktivitas di rumah juga menimbulkan risiko untuk perubahan gaya hidup menjadi gaya hidup sedentari, yang hanya duduk dan melakukan aktivitas ringan (Srivastav et al., 2021).
Oleh karena itu, penulis tertarik untuk melihat perbedaan IMT mahasiswa sebelum pandemi COVID-19 dengan saat pandemi COVID-19 serta dengan metode analitik akan membahas mengenai hubungan aktivitas fisik terhadap IMT saat pandemi COVID-19.
1.2 RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian dalam latar belakang masalah di atas, dapat dirumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut:
1. Bagaimana perbandingan IMT mahasiswa stambuk 2019 Fakultas Kedokteran USU sebelum dan saat pandemi COVID-19?
2. Bagaimana hubungan aktivitas fisik terhadap IMT mahasiswa stambuk 2019 Fakultas Kedokteran USU saat pandemi COVID-19?
1.3 TUJUAN PENELITIAN 1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui perbandingan IMT mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara stambuk 2019 sebelum dan saat masa pandemi COVID-19 dan hubungan aktivitas fisik dengan IMT saat masa pandemi COVID- 19.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Mengetahui proporsi responden berdasarkan karakteristik individu (usia, jenis kelamin, zona lokasi tinggal selama pandemi COVID-19, dan riwayat pola makan)
2. Mengetahui gambaran IMT mahasiswa stambuk 2019 FK USU sebelum masa pandemi COVID-19
3. Mengetahui gambaran IMT mahasiswa stambuk 2019 FK USU saat masa pandemi COVID-19
4. Mengetahui gambaran aktivitas fisik mahasiswa stambuk 2019 FK USU saat masa pandemi COVID-19
1.4 MANFAAT PENELITIAN 1.4.1 Bagi Peneliti
1. Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana kedokteran 2. Memberikan pengetahuan kepada peneliti mengenai hubungan aktivitas
fisik dengan IMT mahasiswa stambuk 2019 FK USU
3. Melatih peneliti dalam membuat sebuah penelitian yang baik
1.4.2 Bagi Mahasiswa
1. Meningkatkan pengetahuan kepada mahasiswa terhadap pengaruh aktivitas fisik dengan IMT
2. Meningkatkan kesadaran kepada mahasiswa terhadap perubahan IMT selama masa pandemi COVID-19
1.4.3 Bagi Masyarakat
1. Memberikan informasi kepada masyarakat tentang pengaruh pandemi COVID-19 terhadap aktivitas sehari-hari
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 INDEKS MASSA TUBUH
2.1.1 Definisi IMT
Indeks massa tubuh adalah cara sederhana yang dapat digunakan untuk melihat status gizi seseorang yang telah dewasa. Nilai IMT dapat digunakan sebagai indikator apakah seseorang kekurangan atau kelebihan berat badan (Destiara et al., 2016). Indeks massa tubuh ialah indikator umum yang digunakan sebagai penentuan kejadian obesitas. Akan tetapi, nilai dari IMT tidak dapat membedakan antara massa otot dan lemak (Astuti, 2016). Indeks massa tubuh tidak mengukur lemak secara langsung dan lebih untuk menunjukkan status gizi seseorang. Berbeda dengan IMT, metode pengukuran nilai antropometri lingkar pinggang dapat digunakan untuk menggambarkan distribusi lemak di daerah abdomen (Wendy, 2013). Rumus yang digunakan untuk menghitung IMT adalah sebagai berikut.
𝐼𝑀𝑇 = 𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑏𝑎𝑑𝑎𝑛 (𝐾𝑔)
𝑇𝑖𝑛𝑔𝑔𝑖 𝑏𝑎𝑑𝑎𝑛 (𝑚) 𝑥 𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑖 𝑏𝑎𝑑𝑎𝑛 (𝑚)
Status gizi dapat menjadi tolak ukur dari keberhasilan pemenuhan nutrisi. Setiap individu memiliki kebutuhan nutrisi yang berbeda – beda bergantung pada jumlah kalori yang dibutuhkan. Kebutuhan kalori dipengaruhi oleh usia, kebutuhan energi untuk metabolisme basal harian dan aktivitas masing-masing individu (Budhyanti, 2018).
Indeks massa tubuh untuk seseorang yang berusia 20 tahun ke atas diinterpretasi menggunakan kategori status berat badan standar yang sama untuk semua umur bagi pria dan wanita. Pengukuran untuk orang Indonesia memiliki kriteria IMT mengikuti standar Indonesia bukan Asia atau internasional. Hal ini dikarenakan ukuran tubuh orang Indonesia memiliki perbedaan karakteristik dengan orang Barat seperti pada tinggi badannya. Batas ambang IMT untuk Indonesia telah berdasarkan pengalaman klinis dan hasil penelitian di beberapa negara berkembang (Aprilia, 2014). Klasifikasi IMT untuk Indonesia adalah sebagai berikut.
Tabel 2.1 Kategori IMT Indonesia (Kementerian Kesehatan RI, 2019)
KATEGORI IMT
Kurus < 18,5
Normal 18,5 - 25,0
Berat badan lebih (Overweight) 25,1 – 27,0
Obesitas > 27.0
Pada tingkat gizi lebih, berat badan lebih tinggi dibanding berat badan ideal.
Pada orang yang kegemukan bahkan menderita obesitas, penimbunan cadangan zat gizi sudah penuh. Kelebihan zat gizi di dalam tubuh akan diubah menjadi lemak dan disimpan di tempat tertentu. Jaringan lemak merupakan jaringan relatif inaktif, tidak langsung berperan serta dalam kegiatan kerja tubuh. Orang yang kelebihan berat badan akan kelebihan jaringan lemak yang tidak aktif. Akan terjadi penimbunan lemak di sekitar organ dalam yang vital, seperti jantung ginjal dan hati.
Hal ini akan menghambat fungsi dari organ-organ penting tersebut (Sediaoetama, 2010).
2.1.2 Epidemiologi Status Gizi di Indonesia
Peningkatan prevalensi dari insiden obesitas di negara maju dan berkembang sudah terjadi sejak 25 tahun terakhir. World Obesity pada tahun 2017 mengurutkan negara berdasarkan jumlah penduduk yang menderita obesitas, Indonesia menempati peringkat ke-10 dengan total 15,1 juta jiwa masyarakat yang mengalami kejadian obesitas. Sementara peringkat tertingi ditempati oleh Amerika Serikat dengan total 86,9 juta jiwa penduduk yang mengalami obesitas (Masrul, 2018).
Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) merupakan Riset Kesehatan berbasis komunitas berskala nasional yang dilakukan setiap 5- 6 tahun sekali. Lima hingga enam tahun dianggap interval yang tepat untuk menilai perkembangan status kesehatan masyarakat, faktor risiko, dan perkembangan upaya pembangunan kesehatan (Kementerian Kesehatan RI, 2016). Penyebaran status gizi di Indonesia berdasarkan kategori IMT dari data Riskesdas tahun 2018 didapati persentase masyarakat yang berusia diatas 18 tahun dengan IMT kurus 9,3%, normal 55,3%, berat badan lebih 13,6% dan obesitas mencapai 21,8%. Provinsi Sumatera Utara
menempati peringkat ke-7 dengan populasi obesitas terbanyak dari seluruh provinsi di Indonesia. Prevalensi obesitas di Sumatera Utara mencapai 25,8% sedangkan provinsi obesitas tertinggi diraih oleh Provinsi Sulawesi Utara dengan prevalensi obesitas mencapai 30,2%. Provinsi dengan prevalensi obesitas terendah ialah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan prevalensi obesitas mencapai 10,3%.
Untuk masyarakat dengan IMT Kurus prevalensi tertinggi berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur sebesar 18,1% menjadikan NTT sebagai provinsi yang paling sedikit memiliki masyarakat dengan status gizi obesitas namun terbanyak untuk populasi gizi kurang. Provinsi dengan prevalensi status gizi kurang terendah ialah Provinsi Sulawesi Utara, yakni sebesar 5%. Hal ini berbanding lurus dengan kejadian obesitas tertinggi yang juga berada di provinsi ini (Kementerian Kesehatan RI, 2019).
2.1.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi IMT
Faktor – faktor yang mempengaruhi indeks massa tubuh seseorang antara lain ialah asupan nutrisi, pola makan, aktivitas fisik, gaya hidup, status sosial ekonomi, tingkat pendidikan, tingkat pengetahuan, keadaan lingkungan terhadap paparan penyakit kronis, dan persentase lemak pada tubuh seseorang. Asupan nutrisi dan perubahan IMT memiliki perbandingan yang sejajar. Semakin tinggi asupan nutrisi seseorang maka akan semakin tinggi pula terjadinya perubahan IMT (Nurul Yuda Putra et al., 2016). Asupan makanan yang berlebihan ataupun kurang mengakibatkan perubahan komposisi tubuh yaitu peningkatan atau penurunan berat badan, persen lemak tubuh dan massa otot. Indeks massa tubuh tidak bisa menjadi patokan status gizi seorang atlet karena tidak menggambarkan komposisi tubuh dan tidak merepresentasikan persen lemak tubuh sehingga tidak akurat untuk memprediksi kelebihan massa lemak dan massa otot (Setiowati, 2014).
Rendahnya tingkat pendidikan mempengaruhi ketersediaan pangan dalam keluarga. Kuantitas dan kualitas konsumsi pangan akan mempengaruhi gizi keluarga. Jikalau ketersediaan pangan yang tidak cukup akan menyebabkan kekurangan gizi khususnya pada balita (Budi Faisol et al., 2015). Jika seseorang memiliki tingkat pengetahuan yang baik mengenai pola makan, maka dapat menjaga pola makannya. Akan tetapi, jika seseorang memiliki tingkat pengetahuan
pola makan yang buruk sehingga tidak menjaga pola makan maka akan sulit menjaga IMT dengan kategori normal (Putra & Suryanto, 2015). Akumulasi lemak yang secara bertahap meningkat dengan aktivitas fisik yang kurang dapat mengakibatkan obesitas (Lestari, 2015).
Penyakit kronis pada seseorang dapat mempengaruhi kondisi fisik dan pola makannya sehingga dapat mempengaruhi IMT. Contohnya pada pasien yang menderita kanker atau penyakit infeksi yang kronis seperti tuberkulosis akan mengalami penurunan berat badan secara drastis. Selain itu, seseorang yang mengalami gangguan hormonal seperti penderita hipertiroid akan memiliki BMR (Basal Metabolism Rate) yang tinggi sehingga cenderung untuk kekurangan gizi (Nurul Yuda Putra et al., 2016).
Peningkatan status sosial ekonomi bxperhubungan dengan perubahan gaya hidup dan pola makan. Perubahan gaya hidup yang lebih sering makan di restoran cepat saji, penggunaan lebih banyak minyak nabati, peningkatan konsumsi lemak dan minuman manis dapat menimbulkan obesitas. Aktivitas fisik yang menurun dan meningkatnya waktu luang juga menjadi faktor risiko obesitas (Syarief et al., 2015).
Stress juga dapat mempengaruhi indeks massa tubuh seseorang. Tubuh yang mengalami stres akan meningkatkan kadar kortisol darah dan mengaktifkan enzim penyimpanan lemak dan memberikan respon rangsangan lapar ke otak. Stress psikologi juga sering dihubungkan dengan peningkatan konsumsi makanan terkhusus makanan yang mengandung lemak yang tinggi dan akhirnya terjadi peningkatan berat badan (Purwanti et al., 2017).
Berat badan merupakan hasil keseimbangan antara energi yang masuk dengan energi yang keluar dari aktivitas atau olahraga. Apabila asupan lebih besar dari pada
pengeluaran maka berat badan akan bertambah, namun sebaliknya apabila asupan lebih kecil dari pengeluaran maka berat badan akan menurun. (Arini & Wijana, 2020). Perilaku gizi yang salah seperti ketidakseimbangan antara gizi dengan kecukupan gizi yang dianjurkan menjadi faktor utama terjadinya kejadian masalah gizi (Hafiza et al., 2020).
Gambar 2.1 Keseimbangan kalori (Indonesia Fitness Trainer Association, 2016)
Sering mengonsumsi fast food yang dapat dikategorikan sebagai junk food atau makanan cepat saji yang mengandung banyak kalori tetapi mengandung sedikit nilai gizi menyebabkan peningkatan jumlah obesitas. Junk food umumnya banyak mengandung gula, tepung, lemak trans, lemak jenuh, garam serta zat pengawet atau pewarna, tetapi sedikit mengandung vitamin dan serat. Contoh makanan junk food yang tersedia di restoran cepat saji ialah hamburger, ayam goreng dan kentang goreng (Izhar, 2020). Apabila asupan lebih besar dari pada pengeluaran maka berat badan akan bertambah, namun sebaliknya apabila asupan lebih kecil dari pengeluaran maka berat badan akan menurun (Arini & Wijana, 2020).
Dengan individu mengetahui kelompok dari IMT masing-masing diharapkan agar dapat lebih menjaga sehingga IMT dalam kategori normal (Candra &
Hutabarat, 2016).
2.2 AKTIVITAS FISIK 2.2.1 Definisi Aktivitas Fisik
Aktivitas fisik merupakan setiap gerakan tubuh yang berasal dari kerja otot rangka yang mengeluarkan tenaga dan energi. Berdasarkan intensitas dan besaran kalori yang digunakan, aktivitas fisik terbagi menjadi 3 kategori yaitu : aktivitas fisik ringan, aktivitas fisik sedang dan aktivitas fisik berat (Tukuboya et al., 2020).
Aktivitas tinggi tidak dapat dikategorikan sebagai seseorang yang telah melalui latihan berat, tetapi dengan aktivitas sehari-hari yang dapat diakumulasikan dalam pengeluaran energi total. (Hastuti, 2018)
Pola aktivitas fisik dapat dilihat dari:
1. Lama dan intensitas fisik yang biasa dilakukan sehari – hari
2. Jenis dan frekuensi olahraga yang biasa dilakukan per minggu (Soegih &
Wiramihardja, 2009).
2.2.2 Klasifikasi Aktivitas Fisik
Tingkat aktivitas fisik dinyatakan dalam Physiscal Activity Level (PAL). PAL adalah besarnya nilai dari Physical Activity Ratio (PAR) yang dikeluarkan dalam 24 jam. PAL ditetapkan menggunakan rumus:
𝑃𝐴𝐿 =𝛴(𝑃𝐴𝑅 𝑥 𝑎𝑙𝑜𝑘𝑎𝑠𝑖 𝑤𝑎𝑘𝑡𝑢 𝑡𝑖𝑎𝑝 𝑎𝑘𝑡𝑖𝑣𝑖𝑡𝑎𝑠) 24
Keterangan:
PAL : Physical Activity Level PAR : Physical Activity Ratio W : Alokasi Waktu 24 Jam
Physical Activity Ratio (PAR) adalah jumlah energi yang dikeluarkan untuk masing-masing jenis aktivitas per satuan waktu. Setiap aktivitas memiliki nilai PAR tersendiri (Kustiyah et al., 2011).
Tabel 2.2 Nilai PAR aktivitas (FAO, 2005)
Kegiatan PAR
Tidur 1
Makan 1,5
Perawatan diri (mandi dan berpakaian) 2,3
Berjalan 3,2
Kegiatan ringan (menonton TV, chatting) 1,4
Memasak 2,1
Mengendarai kendaraan 2,0
Olahraga ringan 4,1
Menebang pohon 6,9
Naik tangga 5,0
Hasil perhitungan aktivitas fisik dapat diklasifikasikan yaitu di bawah ini : 1) Sangat Ringan = <1,40 PAL
2) Ringan = 1,40-1,69 PAL 3) Sedang = 1,70-1,99 PAL 4) Berat = 2,00-2,40 PAL
5) Sangat Berat = > 2,40 PAL (Hita et al., 2020).
Perhitungan aktivitas fisik dapat dilakukan pula dengan menggunakan International Physical Activity Quetionnair (IPAQ). Kuesioner ini digunakan untuk mengumpulkan informasi aktivitas fisik yang telah dilakukan oleh responden.
IPAQ yang terbagi menjadi International Physical Activity Quetionnair Short Form (IPAQ-SF) maupun International Physical Activity Quetionnair Long Form telah divalidasi di 12 negara yang telah terstandarisasi secara internasional. Kuesioner IPAQ-SF terdiri dari 7 pertanyaan berdasarkan aktivitas fisik yang dilakukan oleh responden selama 7 hari terakhir (Purnama & Suhada, 2019). IPAQ menggunakan satuan MET (metabolic equivalents of task). 1 MET adalah energi yang dikeluarkan per menit/kg berat badan orang dewasa (1 MET = 1.2 kkal/menit). Skor MET perhitungan terdiri dari 3 jenis yakni, berjalan : 3.3 MET, aktivitas sedang : 4.0 MET, dan aktivitas tinggi : 8.0 MET kemudian masing-masing akan dikalikan
dengan intensitas dalam menit dan hari, lalu ketiganya dijumlahkan sehingga didapatkan skor akhir untuk aktivitas fisik.
Kategori aktivitas fisik menurut IPAQ, antara lain :
1. Aktivitas ringan jika tidak melakukan aktivitas fisik tingkat sedang-tinggi < 10 menit/hari atau <600 METs-menit/minggu.
2. Aktivitas sedang yang terdiri dari 3 kategori :
a) ≥ 3 hari melakukan aktivitas fisik tinggi >20 menit/hari
b) ≥ 5 hari melakukan aktivitas fisik sedang/berjalan > 30 menit/hari.
c) ≥ 5 hari kombinasi dari aktivitas berjalan dengan aktivitas intensitas sedang hingga tinggi dengan total METs minimal > 600 METs-menit/minggu.
3. Aktivitas tinggi yang terdiri dari 3 kategori :
a) Aktivitas intensitas tinggi > 3 hari dengan total METs minimal 1500 METs- menit/minggu.
b) ≥ 7 hari kombinasi dari aktivitas berjalan dengan aktivitas intensitas sedang hingga tinggi dengan total METs>3000 METs-menit/minggu (IPAQ, 2005) Aktivitas fisik ringan hanya memerlukan sedikit tenaga dan tidak menyebabkan perubahan dalam pernapasan. Energi yang dikeluarkan selama melakukan aktivitas ringan <3,5 Kcal/menit. Aktivitas fisik ringan tidak menyebabkan perubahan dalam pernapasan, dan saat melakukan aktivitas ini masih dapat berbicara dan bernyanyi.
Energi yang dikeluarkan saat melakukan aktivitas sedang berkisar 3,5 – 7Kcal/menit. Saat melakukan aktivitas sedang, tubuh sedikit berkeringat, denyut jantung dan frekuensi nafas menjadi lebih cepat, tetap dapat berbicara namun tidak dapat bernyanyi. Berbeda dengan saat melakukan aktivitas berat, tubuh akan mengeluarkan banyak keringat, denyut jantung dan frekuensi nafas sangat meningkat sampai terengah-engah. Energi yang dikeluarkan saat melakukan aktivitas berat ialah > 7 Kcal/menit. (Kemenkes RI, 2018). Contoh aktivitas ringan, sedang, berat adalah sebagai berikut.
Tabel 2.3 Klasifikasi aktivitas fisik (Kemenkes RI, 2018)
Jenis Aktivitas Contoh Kegiatan
Aktivitas fisik ringan Berjalan santai di rumah, kantor, atau pusat perbelanjaan. Duduk bekerja di depan komputer, membaca, menulis, menyetir. Berdiri melakukan pekerjaan rumah tangga ringan seperti mencuci piring, menyetrika, memasak, dan menyapu, mengepel lantai, menjahit. Latihan peregangan dan pemanasan dengan lambat, membuat prakarya, bermain kartu, bermain video game, menggambar, melukis, bermain musik, memancing.
Aktivitas fisik sedang Berjalan cepat dengan kecepatan 5km/jam pada permukaan rata di dalam atau di luar rumah, di kelas, ke tempat kerja atau ke toko, berjalan santai, berjalan sewaktu istirahat kerja. Berkebun, mencuci mobil.
Pekerjaan tukang kayu seperti menyusun balok kayu, membersihkan rumput dengan mesin pemotong rumput. Berolahraga seperti tenis meja, bowling, bersepeda pada lintasan datar.
Aktivitas fisik berat Berjalan dengan sangat cepat dengan kecepatan lebih dari 5 km/jam, berjalan mendaki bukit, berjalan dengan membawa beban di punggung, jogging dengan kecepatan 8km/jam dan berlari. Pekerjaan seperti mengangkut beban berat, menyekop pasir, memindahkan batu bata, menggali selokan, mencangkul. Bersepeda lebih dari 15 km /jam dengan lintasan mendaki, berolahraga seperti bermain sepak bola, badminton kompetitif, dan bermain basket.
Pekerjaan rumah seperti memindahkan perabot yang berat.
2.2.3 Pengaruh Aktivitas Fisik Terhadap Tubuh
Aktivitas fisik memiliki efek yang bermanfaat pada mekanisme fisiologi. Saat beraktivitas fisik, otot menghasilkan senyawa yang meningkatkan fungsi sistem imun dan mengurangi inflamasi (Firdaus, 2011). Penelitian melaporkan latihan olahraga mempengaruhi kekebalan dengan sitotoksisitas alami dan proliferasi limfosit T yang mengurangi pembentukan antibodi yang diinduksi stres, dan meningkatkan jumlah sel-T, sel-B dan imunoglobulin. Sehingga dengan mengikuti aktivitas fisik secara rutin akan bermanfaat untuk mencegah dari kemungkinan infeksi (Srivastav et al., 2021).
Aktivitas fisik yang cukup dapat meningkatkan fungsi dari jantung dan pembuluh darah, homeostasis dari koagulasi dan fibrinolitik. Aktivitas fisik akan meningkatkan ketahanan dan kekuatan dari otot pernapasan. Aktivitas fisik juga berperan dalam kesehatan mental dan fungsi kognitif karena olahraga memiliki efek positif dalam mencegah dan mengurangi gejala depresi, mengurangi kecemasan meningkatkan pembelajaran dan bermanfaat untuk fungsi kognitif pada orang dewasa yang lebih tua (Jakobsson et al., 2020). Aktivitas fisik memberikan manfaat kepada mahasiswa diantaranya memberikan kebugaran dan kesehatan. Namun tidak semua mahasiswa melakukan aktivitas fisik sesuai dengan yang seharusnya (Farradika et al., 2019).
Penurunan aktivitas fisik dapat menyebabkan dampak pada sistem neuromuskular berupa atrofi otot, kerusakan neuromuscular junction dan denervasi otot. Selain atrofi otot, pengurangan penggunaan glukosa oleh otot menyebabkan kelebihan glukosa disimpan di hati dan dibentuk menjadi lipoprotein aterogenik yang dapat memicu terjadinya obesitas dan aterosklerosis. Kerusakan neuromuscular junction dapat dilihat melalui peningkatan fragmen c-terminal agrin. Denervasi otot dapat diketahui melalui peningkatan serabut otot NCAM (neural cell adhesion molecule) positif. Penelitian menunjukkan adanya peningkatan serabut otot NCAM positif disertai dengan denervasi otot pada kondisi tirah baring (Ardella, 2020).
2.2.4 Hubungan Aktivitas Fisik dengan IMT
Total aktivitas fisik harian berkontribusi terhadap pemeliharaan berat badan seseorang. Pada penderita obesitas ditemukan kurang aktif dibandingkan individu dengan IMT normal. Penelitian pada laki-laki paruh baya di Belanda menemukan bahwa pengeluaran energi yang kecil menyebabkan kelebihan berat badan pada subjek. Penelitian di Amerika Serikat menemukan bahwa jumlah waktu yang digunakan untuk menonton televisi berbanding lurus dengan prediksi seseorang mengalami obesitas. Hasil penelitian juga menemukan bahwa semakin kecil pengeluaran energi maka akan meningkatkan risiko dari kenaikan berat badan (Hastuti, 2018).
Mahasiswa dengan aktivitas fisik yang monoton dan lama cenderung mengalami peningkatan IMT. Rendahnya aktivitas fisik menyebabkan penumpukan energi oleh tubuh dalam bentuk lemak dan secara terus-menerus akan menyebabkan peningkatan IMT. Kurangnya melakukan aktivitas fisik dalam kegiatan harian maupun latihan fisik terstruktur menjadi salah satu faktor risiko peningkatan nilai IMT. Hal ini dikarenakan seseorang yang kurang melakukan aktivitas fisik menyebabkan tubuh kurang menggunakan energi yang tersimpan di dalam tubuh (Febriyanti et al., 2015).
Penelitian yang dilakukan oleh Moch, Irfan Mahali dan Noer Kumala Indahsari untuk melihat hubungan kebiasaan aktivitas fisik dengan IMT mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (FK-UWKS) yang menyimpulkan adanya hubungan antara aktivitas fisik dengan IMT mahasiswa FK- UWKS angkatan 2016 dan 2017. Pada kelompok yang tergolong selalu melakukan aktivitas fisik memiliki indeks massa tubuh di kategori normal, sedangkan pada kelompok yang tidak pernah melakukan aktivitas fisik memiliki indeks massa tubuh dikategori tidak normal. Kelompok yang jarang melakukan aktivitas fisik memiliki indeks massa tubuh tergolong normal (Mahali & Indahsari, 2019). Penelitian yang dilakukan oleh Aisyah Nurkhopipah terhadap mahasiswa S-1 Universitas Sebelas Maret menyatakan adanya hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik dengan IMT normal-gemuk. Subjek yang beraktivitas fisik ringan cenderung 3 kali lebih
berisiko mempunyai IMT gemuk dibandingkan dengan orang yang melakukan aktivitas fisik sedang dan berat. (Nurkhopipah et al., 2018)
Penelitian lain yang dilakukan oleh Riska Habriel dan Darmadi terhadap mahasiswa Fakultas Kedokteran Atma Jaya Jakarta menyatakan terdapat hubungan yang bermakna secara negatif antara aktivitas fisik dengan status gizi mahasiswa.
Hasil penelitian menyimpulkan semakin rendah aktivitas fisik mahasiswa maka mahasiswa semakin overweight (Ruslie & Darmadi, 2012).
2.3. CORONA VIRUS DISEASE (COVID-19) 2.3.1 Definisi COVID-19
Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS CoV- 2). SARS CoV-2 merupakan coronavirus varian terbaru yang diidentifikasi pada manusia. Masa inkubasi rata-rata 5 sampai 6 hari dengan masa inkubasi yang terpanjang dapat mencapai 14 hari (Kemenkes RI, 2020). Coronavirus jenis baru atau SARS-CoV2 penyebab Covid-19 dapat diklasifikasikan dalam kelompok betacoronavirus yang menyerupai SARS-CoV dan MERS-CoV tetapi tidak sama (Levani et al., 2021).
Patogenesis dan penggandaan virus nCov-19 diperkuat dengan adanya temuan ACE-2 sebagai reseptor sel untuk SARS-CoV di bagian bawah saluran pernapasan manusia yang dapat diperoleh dari cairan bronchoalveolar dari pasien COVID-19 (Grace, 2020). Gejala umum di awal penyakit adalah demam, kelelahan atau myalgia, dan batuk kering. Pada beberapa organ yang terlibat dalam pernapasan dapat menimbulkan gejala berupa batuk, sesak napas, sakit tenggorokan, hemoptisis (batuk darah), nyeri dada. Pada organ gastrointestinal dapat menimbulkan gejala diare, mual, muntah. Gejala yang bersangkutan dengan neurologis seperti kebingungan dan sakit kepala. Seperempat pasien yang dirawat di rumah sakit Wuhan memiliki komplikasi serius berupa aritmia, syok, cedera ginjal akut dan acute respiratory distress syndrome (ARDS) (Levani et al., 2021).
Pencitraan dengan rontgen thoraks atau CT scan menggambarkan infiltrasi bilateral
atau opasitas ground glass. Saat dilakukan tes darah menunjukkan adanya limfopenia (Grace, 2020).
Penularan SARS CoV-2 dapat terjadi secara langsung melalui transmisi manusia ke manusia. penyebaran SARS-CoV-2 dari orang ke orang diduga terjadi terutama melalui tetesan pernapasan, ketika pasien batuk, bersin, atau bahkan berbicara atau bernyanyi. Tetesan biasanya tidak dapat melintasi lebih dari enam kaki (hampir dua meter). SARS-CoV-2 tetap utuh dan menular dalam tetesan (diameter kurang dari lima mikron) dan dapat melayang di udara hingga tiga jam, sehingga memungkinkan penularan melalui airbone. Pemakaian alat pelindung diri juga bisa menjadi sumber penularan melalui airbone. Dapat juga terjadi penularan melalui kontak tidak langsung yang terjadi saat kita menyentuh benda yang terkontaminasi SARS-CoV- 2 lalu tangan kita kontak langsung dengan selaput lendir seperti mata, hidung, atau mulut (Lotfi et al., 2020).
2.3.2 Pencegahan Penularan COVID-19
Orang yang terinfeksi virus mungkin akan memiliki gejala atau tidak ada gejala sama sekali. Pada pasien COVID-19 yang tanpa gejala tanpa disadari dapat menularkan SARS-CoV-2 ke orang lain (Sukur et al., 2020). Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Resmawan mengungkapkan pentingnya karantina dalam memperlambat laju penyebaran COVID-19. Dapat dilihat dari gambar grafik di bawah ini.
Gambar 2.2 Pengaruh laju perpindahan individu terpapar ke individu karantina (Resmawan et al., 2021)
Hasil dari simulasi ini menunjukkan peningkatan intervensi berupa karantina yang mampu menekan bilangan reproduksi dasar, yang berarti dapat memperlambat terjadinya penularan COVID-19 juga mencegah terjadinya wabah. Salah satu alternatif yang dapat dilakukan untuk menekan penyebaran COVID-19 adalah dengan meningkatkan intervensi karantina khususnya pada manusia yang terdeteksi terpapar virus (Resmawan et al., 2021).
Penting pula bagi kita, setiap individu agar terhindar dari COVID-19 haruslah:
1. Membersihkan tangan secara teratur dengan mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir selama 40-60 detik atau menggunakan cairan antiseptik berbasis alkohol (handsanitizer) minimal 20 – 30 detik. Hindari menyentuh mata, hidung dan mulut dengan tangan yang tidak bersih.
2. Menggunakan alat pelindung diri berupa masker yang menutupi hidung dan mulut saat berinteraksi dengan orang lain.
3. Menjaga jarak minimal 1 meter dengan orang lain untuk menghindari terkena droplet dari orang yang yang batuk atau bersin.
4. Membatasi diri terhadap interaksi dengan orang lain yang tidak diketahui status kesehatannya.
5. Setelah bepergian dan tiba di rumah, segera mandi dan berganti pakaian sebelum kontak dengan anggota keluarga di rumah.
6. Melakukan pola hidup bersih dan sehat untuk meningkatkan daya tahan tubuh dengan mengonsumsi gizi seimbang, aktivitas fisik minimal 30 menit sehari, dan istirahat yang cukup. (Kemenkes RI, 2020).
2.3.3 Gambaran Aktivitas Fisik Saat Pandemi COVID-19
Penularan SARS-CoV-2 yang dapat terjadi melalui transmisi dari manusia ke manusia melalui droplet saat batuk, bersin maupun berbicara menyebabkan peningkatan jumlah kasus yang cepat di seluruh dunia termasuk Indonesia (Lotfi et al., 2020). Peningkatan penyebaran virus SARS-CoV-2 menimbulkan keresahan masyarakat Indonesia. Untuk itu Pemerintah Indonesia mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar Dalam Rangka Percepatan Penanganan Corona Virus Disease (COVID-19) yang
didelegasikan oleh Undang- Undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan (Amalia & Oktava, 2020). Pembatasan sosial berskala besar berupa peliburan sekolah dan tempat kerja, pembatasan kegiatan keagamaan, pembatasan kegiatan di tempat umum, pembatasan kegiatan sosial dan budaya, dan pembatasan transportasi. Langkah yang diambil oleh pemerintah tentu akan berdampak pada aktivitas fisik masyarakat sehingga individu yang terus berada di dalam rumah menjadi kurang aktif. Penelitian melaporkan saat berada di rumah dalam waktu yang lama akan menimbulkan gaya hidup sedentari, seperti lebih banyak duduk, bermain games, dan menonton televisi (Srivastav et al., 2021). Mahasiswa yang berdiam diri di rumah akibat terbatasnya akses keluar rumah dalam waktu yang lama berisiko mengalami perubahan gaya hidup menjadi gaya hidup sedentari (Ashadi et al., 2020).
Gaya hidup sedentari adalah perilaku yang membutuhkan pengeluaran energi yang sangat rendah, seperti duduk atau berbaring sambil menonton televisi, bermain game elektronik, membaca, dan lainnya. Gaya hidup sedentari dapat menurunkan aktivitas fisik dan meningkatkan risiko untuk menjadi obesitas dan overweight (Pramudita & Nadhiroh, 2018). Selama pandemi COVID-19, aktivitas fisik pada remaja cenderung berkurang. Penelitian yang dilakukan pada remaja di Kota Medan untuk melihat aktivitas fisik selama pandemi COVID-19 membuktikan bahwa aktivitas fisik pada remaja cenderung ringan (Rukmana et al., 2020).
Penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Fadhel tentang pengaruh pandemi COVID-19 terhadap aktivitas fisik menyimpulkan bahwa saat pandemi COVID-19 terjadi penurunan aktivitas fisik pada mahasiswa pascasarjana Universitas Sam Ratulangi (Nurmidin et al., 2020).
Penelitian lain yang dilakukan Jihan untuk melihat tingkat aktivitas fisik pada masyarakat yang tinggal di Komplek Pratama, Kelurahan Medan Tembung menyatakan bahwa terjadi penurunan aktivitas fisik di masa pandemi. Penurunan aktivitas fisik ini dikarenakan masyarakat yang khawatir akan penularan COVID- 19 saat beraktivitas di luar rumah. Padahal aktivitas fisik yang terbatas selama pandemi akan mengakibatkan tubuh seseorang rentan terhadap penularan COVID- 19 (Nurhadi & Fatahillah, 2020).
Penelitian yang dilakukan oleh Susy Olivia untuk melihat gambaran tingkat aktivitas fisik pada masyarakat di Kelurahan Tomang, Jakarta Barat pada tahun 2020 menyatakan bahwa 59,7% subjek memiliki gaya hidup sedentari, hanya melakukan aktivitas ringan dan kurang melakukan gerakan seperti menonton televisi, mendengarkan radio (Lontoh et al., 2020).
2.3.4 Gambaran Indeks Massa Tubuh Saat Pandemi COVID-19
Berdasarkan laporam dari Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak, Provinsi Banten pada tahun 2020, saat terjadi pandemi COVID-19, menyimpulkan dari 101.343 masyarakat Kabupaten Lebak, 2.670 diantaranya merupakan masyarakat dengan status gizi lebih sementara masyarakat dengan status gizi kurang berjumlah 3.943 orang dan masyarakat dengan status gizi buruk berjumlah 825 orang (Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak, 2021).
Penelitian yang dilakukan pada mahasiswa angkatan 2017 Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati menunjukkan sebagain besar responden mengalami kenaikan berat badan saat pandemi COVID-19 dengan presentase mencapai 56,8%
dari total seluruh responden. Sementara hanya 29,5% responden yang mengalami penurunan berat badan. Persentase responden dengan status gizi obesitas mencapai 47,7% dan responden dengan statu gizi overweight mencapai 27,3% dan 25%
responden memiliki IMT normal (Mustofa et al., 2021).
Penelitian yang dilakukan oleh Enrico terhadap mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi, Manado, Indonesia saat pandemi COVID- 19 menyatakan bahwa dari 105 responden, 30 responden memiliki status gizi obesitas dengan persentase 28,6%. Persentase responden dengan IMT normal mencapai 50,5% (Supit et al., 2021). Penelitian yang dilakukan oleh Christy selama masa pandemi menunjukkan telah terjadi penurunan berat badan dan indeks massa tubuh pada responden jika dibandingkan dengan berat badan dan indeks massa tubuh sebelum pandemi COVID-19. Rerata berat badan responden laki-laki sebelum masa pandemi yaitu 71,22 kg sedangkan pada masa pandemi rata-rata berat badan menjadi 69,232 kg. Begitu pula dengan responden perempuan, sebelum masa pandemi rata-rata berat badan perempuan 54,47 kg dan saat masa
pandemi rata-ratanya menjadi 53,39 kg. Terjadi penurunan status gizi yang bermakna pada responden ketika masa pandemi COVID-19 (Bolang et al., 2021).
2.3.5 Pengaruh IMT Terhadap COVID-19
Indeks massa tubuh seseorang dapat mempengaruhi tingkat keparahan gejala COVID-19. Studi analisis mengungkapkan IMT yang tinggi berpengaruh terhadap peningkatan mortalitas dan keparahan gejala COVID-19. Seseorang dengan obesitas dibandingkan dengan seseorang dengan IMT normal akan lebih berisiko mengalami hipertensi, dislipidemia, resistensi insulin, diabetes mellitus tipe 2, penyakit kardiovaskular dan serebrovaskular yang mempengaruhi prognosis yang buruk pada pasien COVID-19 (Pranata et al., 2021).
Penurunan status gizi disaat pandemi COVID-19 tentunya tidak baik karena dikhawatirkan untuk status gizi kurang maupun berlebih akan berisiko memperburuk tingkat keparahan seseorang saat terpapar COVID-19. Salah satu studi di Amerika Serikat melaporkan bahwa pasien COVID-19 yang memiliki kategori status gizi kurang atau underweight memiliki risiko 20% lebih tinggi untuk menjalani rawat inap dibandingkan dengan pasien yang memiliki berat badan normal. Pasien usia dibawah 65 tahun dengan proporsi berat badan kurang dilaporkan 41% lebih mungkin untuk menjalani rawat inap dibanding pasien dengan berat badan normal. Dibawah ini adalah grafik mengenai hubungan antara IMT dengan risiko perawatan di rumah sakit, risiko perawatan ICU, risiko memakai ventilasi hingga risiko kematian dan dibagi menjadi beberapa golongan umur (Kompaniyets et al., 2021).
Gambar 2.3 Estimasi Tingkat Risiko Keparahan kondisi pasien COVID-19 (Kompaniyets et al., 2021)
Bentuk kurva yang berbentuk huruf J menyimpulkan bahwa baik individu dengan status gizi kurang maupun status gizi lebih sama-sama berisiko mengalami keparahan gejala COVID-19 dibandingkan dengan individu yang memiliki indeks massa tubuh normal. Jika diliat berdasarkan umur, individu dengan umur 18 sampai 39 tahun memiliki risiko yang terendah mengalami keparahan gejala COVID-19 (Kompaniyets et al., 2021). Penelitian di New York juga menunjukkan bahwa pasien COVID-19 dengan obesitas lebih berisiko akan memerlukan bantuan ventilasi dan kematian diantara pasien dengan infeksi COVID-19 yang lain. Hal ini dikarenakan adanya hubungan antara obesitas dengan komplikasi paru, diabetes, hipertensi, sleep apnea, adanya penumpukan lemak di hati (steatosis hati) dan penyakit ginjal (Kim et al., 2021).
2.4 KERANGKA TEORI
Aktivitas Fisik
Perubahan Indeks Massa Tubuh Saat Pandemi COVID-19
Masa Pandemi COVID-19 Indeks Massa Tubuh
- Tinggi Badan - Berat badan
Faktor yang Mempengaruhi:
• Asupan nutrisi
• Pola makan
• Aktivitas fisik
• Gaya hidup
• Stress
• Status sosial ekonomi
• Tingkat Pendidikan
• Tingkat pengetahuan
• Keadaan lingkungan terhadap paparan penyakit kronis
• Persentase lemak pada tubuh
Gambar 2.4 Kerangka Teori
Gaya Hidup Sedentari
Peningkatan Berat Badan
2.5 KERANGKA KONSEP
Gambar 2.5 Kerangka Konsep
2.6 HIPOTESIS
1. Terdapat hubungan antara aktivitas fisik dengan indeks massa tubuh mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara tahun 2019 saat pandemi COVID-19
Aktivitas Fisik Saat Pandemi COVID-19
Indeks Massa Tubuh Saat Pandemi COVID-19
Variabel Independen Variabel Dependen
Indeks Massa Tubuh Sebelum Pandemi
COVID-19
Indeks Massa Tubuh Saat Pandemi COVID-19
BAB III
METODE PENELITIAN 3.1 RANCANGAN PENELITIAN
Penelitian ini dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama merupakan studi observasional retrospektif (case control) untuk melihat perubahan IMT sebelum pandemi COVID-19 dengan IMT saat pandemi COVID-19. Bagian kedua merupakan studi analitik cross-sectional untuk mengetahui hubungan aktivitas fisik terhadap IMT mahasiswa saat pandemi COVID-19.
3.2 LOKASI DAN WAKTU PENELITIAN 3.2.1 Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di tempat responden berada karena penelitian dilakukan secara online.
3.2.2 Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus – November 2021 dari pengambilan data hingga pelaporan.
3.3 POPULASI DAN SAMPEL PENELTIAN 3.3.1 Populasi Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa angkatan 2019 Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
3.3.2 Sampel Penelitian
Sampel dalam penelitian ini adalah semua mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara stambuk 2019 yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Perhitungan besar sampel pada penelitian ini berdasarkan rumus Slovin, yaitu sebagai berikut.
𝑛 = 𝑁 1 + 𝑛(𝑒2)
𝑛 = 243 1 + 243 (0,1)2
𝑛 = 70,84 → 71 n = jumlah sampel minimum
N = jumlah populasi e = nilai presisi (0,1)
Berdasarkan perhitungan rumus tersebut, maka jumlah sampel minimum yang dibutuhkan pada penelitian ini adalah sebanyak 71 mahasiswa.
Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik consecutive sampling. Maka, subjek yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dikumpulkan dalam penelitian sampai jumlah subjek yang diperlukan terpenuhi (Sudigdo, 2014).
3.4 KRITERIA INKLUSI DAN EKSKLUSI 3.4.1 Kriteria Inklusi
• Mahasiswa angkatan 2019 Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara yang aktif berkuliah
• Mengikuti tes pemeriksaan kesehatan di Poliklinik USU saat sebelum mendaftar ulang untuk mahasiswa baru
3.4.2 Kriteria Eksklusi
• Mahasiswa angkatan 2019 Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara yang tidak bersedia mengisi kuesioner sampai akhir penelitian
• Mahasiswa yang mengalami penyakit kronis yang menyebabkan penurunan berat badan selama tahun 2020-2021
3.5 METODE PENGUMPULAN DATA
Pada penelitian ini peneliti menggunakan data primer, data sekunder dan instrumen penelitian.
3.5.1 Data Primer
Data primer merupakan data yang diperoleh secara langsung dari responden.
Metode pengumpulan data dengan cara peneliti akan memberikan kuesioner kepada mahasiswa angkatan 2019 Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara yang akan menjadi sampel berupa kuesioner dan informed consent online dengan menyebarkan link google form melalui media sosial. Data status gizi berdasarkan IMT pada masa pandemi COVID-19 diperoleh dengan cara mahasiswa melakukan pengukuran berat badan dan tinggi badan di tempat tinggal masing- masing dan diisi di kuesioner google form. Kuesioner aktivitas fisik diambil dari pertanyaan kuesioner IPAQ yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia.
3.5.2 Data Sekunder
Data IMT pada masa sebelum pandemi COVID-19 diperoleh melalui rekam medis yang berasal dari hasil tes pemeriksaan kesehatan mahasiswa ketika diwajibkan mendaftar ulang saat menjadi mahasiswa baru di Universitas Sumatera Utara.
3.5.3 Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang digunakan adalah instrumen yang berkualitas dan sudah terstandarisasi sesuai dengan kriteria pengujian validitas dan reliabilitas.
Hasil pengukuran validitas dan reliabilitas menggambarkan seberapa besar instrumen yang digunakan dapat dipercaya stabilitas dan konsistensinya dari waktu ke waktu. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini, yaitu:
1. Lembar persetujuan responden
2. Kuesioner pengukuran tinggi badan dan berat badan , kuesioner International Physical Activity Questionnaire (IPAQ) yang telah dimodifikasi dan diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, dan kuesioner riwayat pola makan
3. Rekam medis
Setelah menentukan pertanyaan yang akan dimasukkan ke dalam kuesioner selanjutnya adalah melakukan uji coba validitas kuesioner. Kegiatan ini dilakukan dengan cara menyebarkan kuesioner kepada responden yang tidak sebenarnya.
Selanjutnya data yang telah didapatkan dianalisis untuk mengetahui seberapa besar validitas serta reliabilitas instrumen penelitian yang digunakan sehingga hasil penelitian dapat dipertanggungjawabkan
1. Uji Validitas
Uji Validitas bertujuan untuk mengetahui seberapa besar tingkat kevalidan dan kesahihan suatu instrumen. Analisis validitas dilakukan dengan cara mengakumulasi skor pada setiap pertanyaan kemudian dihubungkan dengan skor total menggunakan aplikasi SPSS. Rumus yang digunakan adalah korelasi Pearson.
Syarat kuesioner dianggap valid adalah jika nilai r hitung > r tabel atau koefisien korelasi minimal mencapai 0,3 (Riyono et al., 2016).
Tabel 3.1 Hasil uji validitas kuesioner
Variabel Bagian
Pertanyaan
Total Pearson
Correlation Status
Aktivitas Fisik 1 0,545 Valid
2 0,390 Valid
3 0,493 Valid
4 0,424 Valid
5 0,325 Valid
6 0,495 Valid
7 0,464 Valid
Riwayat Pola Makan 1 0,691 Valid
2 0,618 Valid
3 0,700 Valid
4 0,442 Valid
5 0,475 Valid
2. Uji Reliabilitas
Uji Reliabilitas bertujuan untuk mengukur besar tingkat konsistensi instrumen yang digunakan dari waktu ke waktu sehingga instrumen tersebut dapat diandalkan dan dapat digunakan berulang. Syarat kuesioner dinyatakan reliabel atau konsisten adalah jika nilai Cronbach’s α > 0,6 (Riyono et al., 2016).
Tabel 3.2 Hasil uji realibilitas kuesioner
Variabel Alpha Status
Aktivitas Fisik 0,652 Reliabel
Riwayat Pola Makan 0,724 Reliabel
3.6 METODE PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA 3.6.1 Metode Pengolahan Data
Pengolahan dan analisis data dilakukan melalui beberapa tahap yaitu:
1. Editing
Editing yaitu data yang telah diperoleh perlu dilakukan penyuntingan terlebih dahulu sebelum dimasukkan ke dalam komputer.
2. Coding
Coding yaitu data berupa jumlah mahasiswa yang telah disesuaikan dengan kriteria inklusi dan eksklusi, kemudian diberi kode secara manual.
3. Entry
Entry yaitu pemasukan data yang telah diberi kode, ke dalam komputer.
4. Cleaning Data
Cleaning data yaitu pengoreksian kembali seluruh data yang telah dimasukkan untuk melihat kemungkinan kesalahan kode, ketidaklengkapan, dan sebagainya.
5. Saving
Saving yaitu penyimpanan data ke dalam komputer sebelum dianalisa.
6. Analisis data.
3.6.2 Analisis Data
Data yang didapatkan akan diolah menggunakan aplikasi statistik SPSS (Statistic Package for Social Science) secara univariat terlebih dahulu untuk mendistribusikan IMT sebelum pandemi COVID-19, aktivitas fisik saat pandemi COVID-19, dan IMT saat pandemi COVID-19. Kemudian pada data IMT sebelum dan saat pandemi COVID-19 akan dianalisis menggunakan Uji Statiska Wilcoxon Ranks Test. Kemudian dilakukan uji analisis bivariat menggunakan uji Kendall Tau-c untuk menentukan hubungan aktivitas fisik saat pandemi COVID-19 dengan indeks massa tubuh saat pandemi COVID-19.
3.7 ALUR PENELITIAN
Gambar 3.1 Alur Penelitian
Pengambilan data dengan kuesioner google form dan rekam medis
Mengolah dan Analisis Data
Hasil dan Pembahasan
Mahasiswa Angkatan 2019 Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara
Memenuhi Kriteria Inklusi dan Eksklusi
3.8 DEFISINI OPERASIONAL
Tabel 3.3 Definisi operasional IMT sebelum pandemi COVID-19
Tabel 3.4 Definisi operasional aktivitas fisik
Variabel Aktivitas fisik
Definisi Aktivitas fisik adalah setiap gerakan tubuh akibat kerja otot rangka yang dilakukan sehari-hari.
Alat ukur Kuesioner IPAQ yang telah dimodifikasi dan diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia
Cara ukur Responden diminta mengisi kuesioner berupa pertanyaan mengenai intensitas dan durasi aktivitas fisik
Hasil ukur Skor aktivitas fisik merupakan perkalian MET dengan intensitas dalam menit dan hari. Kategori hasil:
>3000 MET menit/minggu : Aktivitas fisik tinggi
>600-3000 MET menit/minggu : Aktivitas fisik sedang
≤600 MET menit/minggu : Aktivitas fisik rendah Skala ukur Ordinal
Variabel IMT sebelum pandemi COVID-19
Definisi Indeks massa tubuh merupakan gambaran status gizi seseorang. IMT responden yang diukur saat pemeriksaan kesehatan di Poliklinik USU
Alat ukur Rekam medis
Cara ukur Observasi data rekam medis
Hasil ukur Indeks Massa tubuh ditentukan dengan rasio berat badan (kilogram) dibagi tinggi badan kuadrat (meter2) lalu hasil dapat dibagi dalam kategori:
IMT < 18,5 : Kurus IMT 18,5 - 25,0 : Normal
IMT 25,1 – 27,0 : Berat Badan Lebih IMT > 27,0 : Obesitas
Skala ukur Ordinal
Tabel 3.5 Definisi operasional IMT saat pandemi COVID-19
Variabel IMT saat pandemi COVID-19
Definisi Indeks massa tubuh merupakan gambaran status gizi seseorang. Saat pandemi COVID-19 memiliki arti bahwa data IMT yang saat penelitian ini berlangsung
Alat ukur Kuesioner google form.
Cara ukur mahasiswa melakukan pengukuran berat badan dan tinggi badan di tempat tinggal masing-masing dan diisi melalui kuesioner google form.
Hasil ukur Indeks Massa tubuh ditentukan dengan rasio berat badan (kilogram) dibagi tinggi badan kuadrat (meter2) lalu hasil dapat dibagi dalam kategori: IMT < 18,5 : Kurus
IMT 18,5 - 25,0 : Normal
IMT 25,1 – 27,0 : Berat Badan Lebih IMT > 27,0 : Obesitas
Skala ukur Ordinal
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN
Penelitian dilakukan secara daring menggunakan google form dengan sampel penelitian berupa mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara stambuk 2019. Pengumpulan data dilakukan dari bulan Agustus sampai Oktober 2021.
4.2 ANALISIS DESKRIPTIF
Hasil penelitian ini diperoleh dari pengisian kuesioner IPAQ yang dimodifikasi dan pengisian kuesioner pengukuran tinggi badan dan berat badan saat ini oleh mahasiswa FK USU angkatan 2019 juga pengambilan data rekam medis di poliklinik USU untuk data pengukuran tinggi badan dan berat badan sebelum pandemi COVID-19. Dari total 243 mahasiswa FK USU angkatan 2019, yang mengikuti untuk pengisian kuesioner dan masuk ke kriteria inklusi sebanyak 196 mahasiswa. Sesuai dengan rumus Slovin, maka besar sampel adalah 71 mahasiswa.
4.2.1 Distribusi Karakteristik Responden
Pada penelitian ini, karakteristik responden dibedakan berdasarkan jenis kelamin, usia, peta risiko zonasi COVID-19 sesuai dengan kota/kabupaten alamat saat ini, perubahan pola makan responden, perubahan porsi makan, perubahan frekuensi makan dan riwayat pilihan makanan yang lebih sering dikonsumsi oleh responden sebelum dan saat pandemi COVID-19. Responden yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah mahasiswa dan mahasiswi FK USU angkatan 2019 dengan jumlah sebanyak 71 responden. Dari keseluruhan responden diperoleh gambaran IMT dan aktivitas fisik responden selama pandemi COVID-19. Berikut adalah tabel karakteristik sampel penelitian.
Tabel 4.1. Data distribusi sampel penelitian berdasarkan jenis kelamin, usia, dan zonasi
Berdasarkan tabel 4.1 dapat dilihat bahwa umumnya responden berjenis kelamin wanita yakni sebanyak 44 orang (62%) sedangkan jumlah responden pria adalah 27 orang (38%). Berdasarkan usia, responden paling banyak berusia 20 tahun sebanyak 33 orang (46,5%) kemudian responden yang berusia 19 tahun sebanyak 30 orang (42,3%), diikuti responden yang berusia 21 tahun sebanyak 8 orang (11,3%). Berdasarkan peta risiko zonasi COVID-19 di Indonesia dapat dilihat bahwa responden paling banyak berlokasi di zona merah yakni lokasi dengan tingkat risiko yang tinggi terhadap COVID-19 saat pengisian kuesioner sejumlah 49 orang (69%) kemudian diikuti dengan responden yang bertempat tinggal di zonasi jingga yakni daerah yang memiliki risiko sedang terhadap COVID-19 berjumlah 11 orang (15,5%) lalu yang bertempat tinggal di zonasi kuning yang memiliki risiko rendah COVID-19 berjumlah 10 orang (14,1%). Responden paling sedikit bertempat tinggal di zonasi hijau yang berarti tidak ada kasus baru COVID- 19 di waktu pengisian kuesioner sebanyak 1 orang (1,4%).
Karakteristik Frekuensi (n) n=71
Persentase (%)
Jenis Kelamin
Laki-laki 27 38
Perempuan 44 62
Usia
19 30 42,3
20 33 46,5
21 8 11,3
Zonasi
Merah (Risiko tinggi) 49 69
Jingga (Risiko sedang) 11 15,5
Kuning (Risiko rendah) 10 14,1
Hijau (Tidak ada kasus baru) 1 1,4
Tabel 4.2 Data distribusi sampel berdasarkan perubahan pola makan sebelum dan saat pandemi COVID-19
Perubahan Pola Makan f(n) %
Terdapat perubahan pola makan 48 67,6
Tidak terdapat perubahan pola makan 23 32,4
Total 71 100
Berdasarkan tabel 4.2 dapat dilihat bahwa dari 71 responden, umumnya sebanyak 48 orang (67.6%) memiliki perubahan pola makan dari sebelum pandemi COVID-19 dibandingkan saat pandemi COVID-19 sedangkan 23 orang (32.4%) tidak memiliki perubahan pola makan sebelum hingga saat pandemi COVID-19.
Tabel 4.3 Data distribusi sampel berdasarkan porsi makan dan frekuensi makan selama pandemi COVID-19
Karakteristik f(n)
n=48
%
Porsi Makan
Lebih banyak 30 62,5
Berkurang 15 31,3
Sama saja 3 6,3
Frekuensi Makan
Bertambah 10 20,8
Berkurang 36 75
Sama saja 2 4,2
Berdasarkan tabel 4.3 dapat dilihat bahwa dari 48 responden yang memiliki perubahan pola makan, responden umumnya memiliki porsi makan yang lebih banyak saat pandemi COVID-19 dibandingkan sebelum pandemi COVID-19 yakni sebanyak 30 orang (62,5%), sedangkan responden yang berkurang porsi makannya sebanyak 15 orang (31,3%), dan porsi makan yang tetap sebanyak 3 orang (6,3%).
Berbeda dengan frekuensi makan, responden umumnya memiliki frekuensi makan yang berkurang sebanyak 36 orang (75%), kemudian diikuti dengan responden dengan frekuensi makan yang bertambah yakni sebanyak 10 orang (20,8%) sementara frekuensi makan yang sama saja sebanyak 2 orang (4,2%).