• Tidak ada hasil yang ditemukan

pengukuran tinggi badan dan berat badan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "pengukuran tinggi badan dan berat badan"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

i

MATA KULIAH:

TES DAN PENGUKURAN PENDIDIKAN JASMANI

HALAMAN SAMPUL

DOSEN PENGAMPU: ARIS FAJAR PAMBUDI, M.Or

DISUSUN OLEH:

1. THOMAS CANDRA H. NIM. 11601244069

2. SATRIA WIDI S. NIM. 11601244075

3. ADITYA BAYU A. NIM. 11601244076

4. DWI ARIF STIYAPRANOMO NIM. 11601244086

5. SITRUSNO NIM. 11601244093

6. BIMA KARTIKA H. NIM. 11601244095

7. YUDAN ANA PUTRA NIM. 11601244101

8. LINAWATI NIM. 11601244107

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN JASMANI KESEHATAN DAN REKREASI JURUSAN PENDIDIKAN OLAHRAGA

FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

(2)

DAFTAR ISI

A. Latar Belakang Kegiatan ...1

B. Judul Praktik ...1

C. Waktu, Tanggal Praktik ...2

D. Tujuan Praktik ...2

E. Dasar Teori ...2

1. Berat Badan ...2

2. Tinggi Badan ...6

3. Indeks Massa Tubuh (IMT) ...7

F. Metode Pelaksanaan (Pengukuran) ...9

1. Definisi ...9

2. Pengambilan data pengukuran ...10

G. Alat Dan Bahan ...12

H. Cara Kerja ...12

1. Persiapan peralatan ...12

2. Pengkondisian peserta ...12

3. Pelaksanaan pengukuran ...13

4. Evaluasi kegiatan ...13

BAB II ... 14

LAMPIRAN DOKUMENTASI ... 20

(3)

DAFTAR TABEL

(4)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Timbangan Injak ... 5

Gambar 2 Timbangan Dengan Pengukur Tinggi Badan ... 6

Gambar 3 Pengukuran Panjang Badan ... 6

(5)

1

A. Latar Belakang Kegiatan

Dalam pendidikan jasmani, evaluasi kemauan hasil belajar dilaksanakan dengan mepergunakan baebagai jenis tes, baik tes kesegaran jasmani maupun tes-tes keterampilan olahraga. Evaluasi yang dulakukan tersebut berbeda ari mata pelajaran lainnya, yang sebagian besar hanya mengukur ranah pengetahuan (konginti) saja. Sedangkan evaluasi dalam pendidikan jasmani, disamping ranah kognitif dan ranah afektif, maka ranah psikomotor merupakan sasaran utamanya. Cara evaluasi yang tepat dan harus dilakukan yaitu dengan cara tes dan pengukurans terhadap seseorang. Tes dan pengukuran dapat dilakukan dengan beberapa cara dan tahap yang mempunyai manfaat dan tujuan dilakukannya tes tersebut. Dan tes tersebut dibagi menjadi beberapa komponen fisik serta beberapa jenis tes yang sudah dikelompokkan.

Tes dan pengukuran merupakan suatu bagian yang tak terpisahkan dalam kegiatan evaluasi. Tes merupakan suatu alat yang digunakan untuk memperoleh data dari suatu objek yang akan diukur, sedangkan pengukuran merupakan suatu proses untuk memperoleh data. Data hasil pengukuran merupakan data objektif, yang dapat dijadikan dasar melakukan penilaian dalam proses pembelajaran. Dengan melakukan tes dan pengukuran ini kita dapat mengambil beberapa manfaat, diantaranya kita dapat mengevaluasi tahap latihan yang dilakukan, dengan hal itu kita dapat mengetahui seberapa perkembangan kondisi fisik seseorang, selain kita bisa mengembangkan prestasi atlet, kita jugha dapat menjadikan sebagai bahan perbaikan dalam pembelajaran atau pelatihan. Kita juga dapat termotivasi oleh hasil yang diambil dalam tes dan pengukuran ini, atau bahkan kita dapat menggunakan data ini untuk bahan sebuah penelitian.

Tinggi badan merupakan data ukuran tubuh manusia dalam sisi tingginya yang diukur dalam keadaan murni tinggi badan dari tumit hingga ujung kepala tanpa ada benda lain yang ikut terukur. Sedangkan berat badan merupakan ukuran tubuh dalam keadaan berpakaian minimal tanpa perlengkapan apapun. Berat badan diukur dalam satuan kilogram (Kg) dan tinggi badan diukur dalam satuan centimeter (Cm). Namun, terdapat beberapa kesalahan dalam pengukuran tersebut baik dalam mengukur tinggi badan maupun berat badan sehingga dengan diadakannya praktikum mahasiswa dapat lebih mengerti mengenai tatacara pengukuran dengan benar.

B. Judul Praktik

(6)

C. Waktu, Tanggal Praktik

Kamis, 16 Oktober 2014 pukul 08.50 sampai 10.30 bertempat di kampus FIK timur utara hall senam.

D. Tujuan Praktik

1. Mengetahui tatacara pelaksanaan pengukuran berat badan dan tinggi badan seseorang. 2. Mengetahui rata-rata berat badan dan tinggi badan mahasiswa PJKR D semeseter 7. 3. Mengetahui rata-rata indeks massa tubuh mahasiswa PJKR D semester 7.

E. Dasar Teori

1. Berat Badan

Berat badan adalah parameter antropometri yang sangat labil. Dalam keadaan normal, dimana keadaan kesehatan baik dan keseimbangan antara konsumsi dan kebutuhan zat gizi terjamin, berat badan berkembang mengikuti pertambahan umur. Sebnaliknya dalam keadaan yang abnormal, terhadap dua kemungkinan perkembangan barat badan, yaitu dapat berkembang cepat atau lambat dari kedaan normal. Berat badan harus selalu dimonitor agar memberikan informasi yang memungkinkan intervensi gizi yang preventif sedini mungkin guna mengatasi kecenderungan penurunan atau penambahan berat badan yang tidak dikehendaki. Berat badan harus selalu dievaluasi dalam konteks riwayat berat badan yang meliputi gaya hidup maupun status berat badan yang terakhir. Penentuan berat badan dilakukan dengan cara menimbang (Anggraeni, 2012).

Berat badan merupakan salah satu parameter yang memberikan gambaran mass tubuh. Berat badan ideal adalah untuk tinggi badan tertentu yang seacara statistik dianggap paling tepat dan menjamin umur panjang (BKKBN, 2002). Penambahan berat badan adalah pertambahan berat badan yang dihitung sebelum menggunakan KB suntik dan KB oral (pil) sampai dengan penelitian dilakukan. Obesitas atau kegemukan adalah ketidak seimbangan umlah makanan yang masuk dibandingkan dengan pengeluaran energi dari tubuh.

1.1. Kriteria

Untuk mengklasifikasikan obesitas dipergunakan pengukuran: a. Body Mass Index.

(7)

Table 1 Klasifikasi BMI menurut WHO (1998)

Kategori BMI (Kg/M2) Resiko Comordibitas

Underweight <18.5 kg/m2

Rendah (tetapi resiko terhadap masalah klinis kian meningkat)

Batas normal 18.5-24.9 kg/m2

Rata-rata

Table 2 Klasifikasi Berat Badan yang diusulkan berdasarkan BMI pada penduduk Asia Dewasa

Kategori BMI (Kg/M2) Resiko Comordibitas

Underweight <18.5 kg/m2

Rendah (tetapi resiko terhadap masalah klinis lain meningkat)

Normal Wight 18.5-22.9 kg/m2

Rata-rata lemaknya antara 1-2,5 cm, kurang atau lebih dari itu menunjukkan anda terlalu kurus atau terlalu gemuk.

d. Tes Lompat

(8)

1.2. Faktor yang mempengaruhi berat badan

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi berat badan antara lain: a. Kelabihan makanan

Kegemukan hanya mungkin terjadi jika terdapat kelebihan makanan dalam tubuh, terutama bahan makanan sumber energi. Dengan kata lain, jumlah makanan yang dimakan melebihi kebutuhab tubuh.

b. Kekurangan aktivitas dan kemudahan hidup

Kegemukan dapat terjadi bukan hanya kerena makanan berlebih, tetapi juga karena aktivitas fisik berkurang, sehingga terjadi kelebihan energi. Berbagai kemudahan hidup juga menyebabkan berkurangnya aktivitas fisik, serta kemauan teknologi di berbagai bidang kehidupan mendorong masyarakat untuk menempuh kehidupan yang tidak memerlukan kerja fisik yang berat.

c. Faktor psikologis dan genetik

Faktor psikologis sering juga disebut sebagai faktor yang mendorong terjadinga obesitas. Gangguan emosional akibat adanya tekanan psikologis atau lingkungan kehidupan masyarakat yang dirasakan tidak menguntungkan. Saat seseorang merasa cemas, sedih, kecewa atau tertekan, biasanya cenderung mengkonsumsi makanan lebih banyak untuk mengatasi perasaan-perasaan tidak menyenangkan tersebut.

Kegemukan dapat diturunkan dari generasi sebelumnya ke generasi berikutnya dalam sebuah keluarga. Itulah sebabnya kita sering menjumpai orang tua gemuk cenderung memiliki anak-anak yang gemuk pula.

Dalam hal ini faktor genetik telah ikut campur menentukan jumlah unsur sel lemak dalam tubuh yang berjumlah besar melebihi ukuran normal, secara otomatis akan diturunkan kepada bayi selama di dalam kandungan. Maka tidak heran bila bayi yang lahir pun memiliki lemak tubuh yang relatif sama besar. d. Pola konsumsi makanan

Pola makanan masyarakat perkotaan yang tinggi kalori dan lemak serta rendah serat memicu peningkatan jumlah penderita obesitas. Masyarakat di perkotaan cenderung sibuk, biasanya lebih menyukai mengkonsumsi makanan cepat saji, dengan alasan lebih praktis. Meskipun mereka mengetahui bahwa nilai kalori yang terkandung dalam makanan cepat saji sangat tinggi, dan di dalam tubuh kelebihan kalori akan diubah dan disimpan menjadi lemak (Sueharto, 2001).

e. Kebudayaan

(9)

terlalu gemuk pada usia enam minggu pertama menunjukkan bahwa 80% dari anak-anak yang kegemukan akan tumbuh menjadi anak dewasa yang kegemukan juga (hutapea, 1994).

f. Faktor Hormonal

Menurut hipotesa pada ahli, Depo Medroxy Progetseron Acetat (DMPA) merangsang pusat pengendalian nafsu makan di hipotalamus yang menyebabkan akseptor makan lebih banyak dari pada biasanya (Hartanto, 2004).

Sistem pengontrol yang mengatur perilaku makanan terletak pada suatu bagian otak yang disebut hipotalamus. Hipotalamus mengandung lebih banyak pembuluh darah dari daerah lain di otak, sehingga lebih mudah dipengaruhi oleh unsir kimiawi darah. Dua bagian hipotalamus yang mempengaruhi penyerapan makanan yaitu hipolamus lateral (HL) yang menggerakkan nafsu makan (awal atau pusat makanan), hipotalamus ventro-edial (HVM) yang bertugas menggerakkan nafsu makan (pemberi pusat kenyang). Dari hasil suatu penelitian didapatkan bahwa jika HL rusak atau hancur maka individu menilak untuk makan atau minum (diberi infus).

Sedangkan keruasakan pada baian HVM maka seseorang akan menjadi rakus dan kegemukan (Mu’tadin, 2002). Pada penggunaan progesteron yang lama (jangka panjang) menyebabkan pertambahan berat badan akibat terjadinya perubahan anabolik dan stimulasi nafsu makan.

g. Faktor Lingkungan

Faktor lingkungan ternyata juga mempengaruhi seseorang menjadi gemuk. Jika seseorang dibesarkan dalam lingkungan yang menganggap gemuk adalah simbol kemakmuran dan keindahan maka orang tersebut cenderung untuk menjadi gemuk.

1.3. Pengukuran Berat Badan pada Orang Normal a. Timbangan Injak.

Timbangan injak biasanya digunakan utuk mengetahui berat badan pada orang normal remaja dan dewasa. Gambar contoh timbangan injak adalah sebagai berikut.

Gambar 1 Timbangan Injak b. Timbangan dengan pengukur tinggi badan

(10)

Gambar 2 Timbangan Dengan Pengukur Tinggi Badan 2. Tinggi Badan

Tinggi badan merupakan salah satu parameter yang dapat melihat keadaan status gizi sekaran dan keadaan yang telah lalu. Pertumbuhan tinggi/panjang badan tidak seperti berat badan, relatif kurang sensitif pada masalah kekurangan gizi pada waktu singkat (Anggraeni, 2012).

2.1. Pengukuran panjang dan tinggi badan pada orang normal a. Pengukuran panjang badan

Pengukuran ini digunakan utuk mengukur panjang badan bagi anak yang berusia < 2 tahun dan panjang badan ≤ 50 cm serta menggunakan alat ukur panjang badan. Menggunakan alat pegukur panjang badan yang terbuat dari papan kayu yang dikenal dengan nama Length Board.

Gambar 3 Pengukuran Panjang Badan b. Pengukuran Tinggi Badan

Pengukuran ini digunakan utnuk mengukur tinggi badan anak yang telah dapat berdiri tanpa bantuan. Pengukuran tinggi badan dilakukan dengan alat pengukur tinggi (microtoise) yang mempunyai ketelitian 0,1 cm.

(11)

3. Indeks Massa Tubuh (IMT)

Indeks massa tubuh merupakan pengukuran yang membandingkan berat badan dan tinggi badan seseorang. Formula IMT digunakan di seluruh dunia sebagai alat diagnosa untuk mengetahui berat badan yang underweight, normal, overweight dan obesitas.

Mengukur lemak tubuh secara langsung sangat sulit dan sebagai pengganti dipakai

Body Mass Index (BMI) atau Indeks Massa Tubuh (IMT) yaitu perbandingan berat badan (dalam kilogram) dengan kuadrat tinggi badan (dalam meter). Untuk usia lebih dari 20 tahun, menurut kriteria World Health Organization (WHO)/ International Association for the Study of Obesity (IASO)/ International Obesity Task Force (IOTF) dalam The Asia-Pasific Perspective: Redefining Obesity and Its Treatment (2000) seperti dikutip oleh Sugondo (2007) utnuk kawasan Asia Pasifik. Berikut dapat dilihat tebel di bawah ini.

Table 3 Klasifikasi Berat Badan Lebih Dan Obesitas Berdasarkan IMT Menurut Kriteria Asia Pasifik

Obesitas dapat didefinisikan sebagai kelebihan lemak tubuh. Penentu yang digunakan adalah Indeks Massa Tubuh (IMT). Sedangkan overweight adalah tahap sebelum dikatakan obesitas secara klinis (Guyton, 2007). Obesitas dikatakan terjadi kalau terdapat kelebihan berat badan 20% karena lemak pada pria dan 25% pada wanita (Ganong, 2002).

b. Etimologi

(12)

peningkatan aktivitas fisik dipercaya dapat meningkatkan pengeluaran energi melebihi asupan makanan, yang berimbas peurunan berat badan (Guyton, 2007). Faktor lain penyebab obesitas adalah perilaku makan yang tidak baik. Perilaku makan yang tidak baik disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah karena lingkungan dan sosial. Hal ini terbukti dengan meningkatnya prevelensi obesitas di negara maju. Sebaab lain yang menyebabkan perilaku makan tidak baik adalah psikologis, dimana perilaku makan agaknya dijadikan sebagai sarana penyaluran stress. Perilaku makan yang tidak baik pada masa kanak-kanak sehingga terjadi nutrisi juga memiliki kontribusi dalam obesitas, hal ini didasarkan karena kecepatan pembentukan sel-sel lemak yang baru terutama meningkat pada tahun-tahun pertama kehidupan, dan makin besar kecepatan penyimpanan lemak, makin besar pula jumlah sel lemak. Oleh karena itu, obesitas pada kanak-kanak cenderung mengakibatkan obesitas pada dewasanya nanti (Guyton, 2007).

Dari segi neurogenik, dibuktikan bahwa lesi pada hipotalamus bagian ventriomedial dapat menyebabkan seekor binatang makan secara berlebihan dan

obese, serta terjadi perubahan yang nyata pada neurotrasmiter di hipotalamus berupa peningkatan oreksigenik seperti NPY dan penurunan pembentukan zat anoreksigenik seperti leptin dan α-MSH pada hewan obese yang dibatasi makananya (Guyton, 2007). Input dari vegal juga terhitung penting, membawa informasi dari viseral, seperti peregangan dari usus (Flier etal, 2005).

Faktor genetik obesitas dipercaya perperan menyebabkan kelainan satu atau lebih jarak ang mengatur pusat makanan dan pengeluaran energi dan penyimpanan lemak serta defek monogenik seperti mutasi MCR-4, defisiensi leptin kogenital dan mutasi reseptor leptin (Guyton, 2007).

Faktor metabolit juga berperan dalam obesitas. Metabolit, termasuk glukosa dapat mempengaruhi nafsu makan, yang mengakibatkan hipoglikemi yang akan menyebabkan rasa lapar. Akan tetapi, glukosa bukanlah pengatur utama nafsu makan (Flier et al, 2005).

Faktor terakhir penyebab obesitas adalah karena dampak/sindroma dari penyakit lain. Penyakit-penyakit yang dapat menyebabkan obesitas adalah hypogonadism, cushing syndrome, hypithyroidism, insulinoma, craniophryngioma, gangguan lain pada hipotalamus (Flier et al, 2005).

c. Klasifikasi

Obesitas dapat dibagi menjadi beberapa derajat berdasarkan persen kelebihan lemak (Misnadiarly, 2007) antara lain:

(13)

Dikatakan mild obesity apabila berat badan individu antara 20%-30% di atas berat badan ideal.

ii. Moderate Obesity

Apabila berat badan individu antara 30%-60% di atas berat badan ideal. iii. Morbid

Penderita-penderita obesitas yang berat badannya 0% atau lebih di atas berat badan ideal. Pada derajat ini, risiko mengalami gangguan respirasi, gagal jantung, dan kematian mendadak meningkat dengan tajam.

F. Metode Pelaksanaan (Pengukuran)

1. Definisi

Dalam setiap ilmu pengetahuan, pengukuran menhasilkan deskripsi kuantitatif dari suatu proses dan produk yang membuat kita memahami tingkah laku dan hasil. Dan akan semakin berkembang jika kita memilih teknik dan utilitas yang lebih baik untuk mengendalikan dan memaksimalkan kinerja suatu proses, produk dan resources (sumber) yang ada. Menurut Krants et al (1971) pengukuran adalah memetakan objek empirik ke objek angka-angka dengan perubahan yang sama. Dengan demikian pengukuran dapat diartikan sebagai perubahan yang setara antara area empirik dan barisan angka tertentu.

Ahli lain juga mendefinisikan pengukuran menurut bidangnya, seperti menurut Ellis (1966), beliau mengatakan bahwa pengukuran adalah penyebutan dengan pasti secara numerik atau angka terhadap susuatu, termasuk untuk seriap urutan yang sudah pasti dan aturan non degenerate. Sejalan dengan pemikiran tersebut Fenton (1994) mengatakan bahwa pengukuran adalah pendefinisian suatu proses dengan angka atau simbol-simbol yang menjelaskan dengan pasti atribut suatu entiti di dunia nyata sesuai dengan aturan tertentu yang didefinisikan sebelumnya. Secara lebih terperinci dan jelas Bill (1980) mendefinisikan proses pengukuran sebagai proses yang memetakkan properti atau hibingan empiris ke model formal. Pengukuran dimungkinkan dengan adanya isomorphism antara:

a. Hubungan epiris diantara properti suatu objek dan kejadian yang ada padanya. b. Properti dari model formal yang terdiri dari angka dan prubahan operator.

(14)

harus mendaptkan izin pengukuran (kalibrasi) dari badan yang bertanggungjawab (Badan Metorologi).

2. Pengambilan data pengukuran

Tujuan dari pengukuran kesehatan adalah untuk mengetahui kondisi pertumbuhan dan gizi seseorang. Penilaian pertumbuhan pada diri seseorang sebaiknya dilakukan dengan jarak yang teratur disertai dengan pemeriksaan serta pengamatan fisik. Pengukuran berat badan digunakan untuk mengukur pertumbuhan secara umum atau menyeluruh. Sedangkan tinggi badan digunakan untuk mengukur pertumbuhan linier.

Pengukuran antropometri (berat badan, tinggi badan) sebenarnya sangat mudah dilakukan namun juga sekaligus rawan terhadap bias dan error data. Untuk menghindari bias dan error data maka hal yang perlu diperhatikan adlah kualitas alat yang digunakan dan ketelitian testor dalam melakukan pengukuran.

2.1. Pengukuran berat badan

Pengukuran berat badan menggunakan alat ukur timbangan, alat ukur ini digunakan baik untuk mengukur berat badan orang dewasa dan anak yang sudah bisa berdiri. Langkah pertama adalah penyiapan alat ukur, yaitu:

i. Meletakan alat timbang di bagian yang rata/datar dan keras.

ii. Jika berada di atas rumput yang tebal atau karpet tebal atau permadani, maka pasang kaki tambahan pada alat timbangan untuk bisa mengatasi daya pegas dari alas yang tebal.

iii. Pastikan alat timbang menunjukkan angka 00.00 sebelum melakukan penimbangan dengan menekan alat timbang tersebut. Jika alat timbang tidak menunjukkan angka 00.00 lakukan hal sebagai berikut:

 Periksa apakah ada baterai pada alat timbang tersebut.

 Periksa apakah posisi positif dan negatif baterai sudah sesuai.

 Ganti baterai baru (testor harus membawa baterai cadangan selama kegiatan pegnukuran dilakukan).

Persiapan sebelum melakukan pengukuran:

i. Jelaskan kepada peserta tes/testi tujuan dari pengukuran berat badan dan berikan kesempatan untuk bertanya.

ii. Pastikan bahwa peserta tes tidak menggunakan pakaian tebal agar mendapatkan berat badan seakurat mungkin.

Cara pengukuran berat badan:

(15)

ii. Pastikan posisi badan testi dalam keadaan berdiri tegak, mata/kepala lurus ke arah depan, kaki tidak menekuk. Testor dapat membantu testi berdiri dengan baik di atas timbangan dan untuk mengurangi gerakan yang tidak perlu sehingga dapat mempengaruhi hasil timbangan.

iii. Setelah testi berdiri dengan benar, secara otomatis alat timbang akan menunjukkan hasil penimbangan. Testor segera mencatat hasil penimbangan tersebut dan mintalah testi untuk turun.

Cara pengisian kolom pengukuran berat badan:

i. Kolom 1. Tuliskan hasil penimbangan yang didapat pada baris yang tersedia di kolom pertama.

ii. Kolom 2. Ulangi pengukuran dan tuliskan hasilnya pada kolom ke dua. Jika hasil yang didapat pada kolom ke dua sama dengan kolom pertama, maka langsung tuliskan hasilnya pada kolom ke empat, dan pengukuran berat badan selesai. Namun jika pengukuran berat badan pada kolom ke dua menunjukkan hasil yang berbeda, maka lakukan pengukuran ke tiga.

iii. Kolom 3. Ulangi pengukuran sekali lagi. Jika hasilnya sama dengan salah satu kolom (kolom pertama atau kolom ke dua), maka tuliskan hasilnya pada kolom ke empat. Dan pengukuran selesai.jika hasilnya berbeda dengan ke dua kolom lainnya, maka cari rata-rata untuk berat badan testi, rata-rata berat badan ini barus dituliskan pada kolom ke empat.

Cara mencari rata-rata adalah sebagai berikut: i. Bandingkan perbedaan antar akolom.

ii. Jika perbandingan antar ke tiga kolom adalah ≤ 0,4, maka dari rata-rata dari ketiga kolom.

iii. Jika hanya ada dua kolom yang perbandingannya ≤ 0,4, maka cari rata-rata dari ketiga kolom saja yang berbandingannya ≤ 0,4.

iv. Jika perbandingan antar kolom menunjukkan > 0,4, maka pengukuran harus diulang dengan menggunakan alat timbangyang berbeda.

2.2. Pengukuran tinggi badan

Pengukuran tinggi badan seseorang dapat menggunakan alat ukur microtoice dengan persiapan alat sebagai berikut:

i. Gantungkan bandul benang untuk membantu memasang microtoise di dinding agar tegak lurus.

(16)

iii. Tarik papan penggeser tegak lurus ke atas, sejajar dengan benang berbandul yang tergantung dan tarik sampai angka pada jendela baca menunjukkan angka nol (0). Kemudian dipaku atau direkatkan dengan lakban pada bagian atas mecrotoise. iv. Untuk menghindari terjadi perubahan posisi pita, beri lagi perekat pada posisi

sekitar 10 cm dari bagian atas microtoise.

G. Alat Dan Bahan

Persiapan peralatan dilaksanakan sebelum pelaksanaan pengukuran, yaitu 1 jam sebelum kegiatan dilaksanakan. Persiapan peralatan meliputi pengumpulan semua peralatan yang dibutuhkan dalam proses pengukuran termasuk pengujian kelayakan peralatan, pemasangan semua peralatan yang dibutuhkan dalam proses pengukuran, dan pengujian akhir peralatan sampai peralatan siap untuk digunakan dalam proses pengukuran.

Dalam proses pengumpulan peralatan didapatkan 2 buah timbangan dan 2 buah alat pengukur tinggi badan (microtoise dan meteran). Alat pengukur tinggi badan dapat langsung digunakan sedangkan alat pengukur tinggi badan seperti microtoise harus dipasang di tempat yang memungkinkan untuk dilakukan pengukuran dengan memperhatikan tempat. Sedangkan meteran harus disusun sedemikian rupa sehingga dapat digunakan sebagaimana fungsinya alat pengukur tinggi badan, yaitu ditempel di dinding dengan tegak lurus lantai. Alat pengukur berat badan ditempatkan pada tempat yang tertutup, karena saat pengukuran berat badan peserta hanya diperbolehkan memakai pakaian yang seminimal mungkin. sehingga untuk mengantisipasi tindakan yang dianggap melanggar norma kesusilaan maka ditempatkan di daerah yang tertutup dari pandangan orang yang tidak berkepentingan.

Pengujian akhir peralatan adalah dengan cara mempraktikkan pengukuran oleh panitia pengukuran sehingga dapat direvisi kekurangannya dan disusun sehingga dapat dilakukan pengukuran dengan efektif, efisien, dan aman saat kegiatan berlangsung. 2. Pengkondisian peserta

(17)

dalam kelompoknya masing-masing yang telah ditentukan sebelumnya. Pengelompokkan peserta sesuai dengan kemompoknya masing-masing sekaligus diberikannya kartu kendali pengukuran dan pemberian arahan atau petunjuk dalam melaksanakan rangkaian pengukuran. Dalam tahap ini peserta diberi arahan untuk melakukan test pengukuran berat badan dahulu atau pengukuran tinggi badan dahulu sesuai dengan urutan kelompoknya masing-masing.

3. Pelaksanaan pengukuran

Dalam proses pengukuran ditentukan kelompok 2 sampai 5 melaksanakan pengukuran tinggi badan dahulu sedangkan kelomok 6 sampai 8 melaksankan pengukuran berat badan. Hal ini dilakukan untuk mengefisienkan waktu sehingga semua alat ukur dapat digunakan dalam waktu yang bersamaan dan juga ditujukan untuk mencegah adanya urutan peserta yang terlalu banyak pada setiap sesi dan setiap alat pengukuran.

Selanjutnya, setelah satu sesi pengukuran telah diselesaikan oleh setiap kelompoknya maka kelompok tersebut dapat melaksanakan pengukuran pada sesei selanjutnya pada bidang pengukuran yang berbeda, misalnya setelah suatu kelompok telak menyelesaikan pengukuran tinggi badan makan dapat langsung menuju pada tempat pengukuran berat badan, begitu juga sebaliknya.

Dalam proses pelaksanaan pengukuran, testor selalu siap siaga dan berkonsentrasi untuk mendapatkan hasil pengukuran yang valid sesuai dengan aturan yang telah disepakati. Oleh karena itu, dalam setiap peralatan pengukuran terdapat dua panitia pengukuran dengan tugas salah satu menjadi pembaca nilai dan salah satu menjadi penulis dan pengkondisian peserta di tiap peralatan. Tidak terlupa ada petugas dokumentasi yagn bertugas mendokumentasikan semua kegiatan yang berlangsung.

4. Evaluasi kegiatan

(18)

14

A. Hasil

Proses pengambilan data merupakan suatu upaya untuk mendapatkan data berupa hasil pengukuran tinggi badan dan berat badan kelas PJKR D. Dengan demikian, melalui serangkaian proses pengukuran sehingga didapatkan hasil sebagai berikut:

Table 4 Data Pengukuran

No NIM NAMA Tinggi Badan

(Meter)

Berat Badan (Kg)

1 11601244058 Anbar Mailani

2 11601244059 Imam Cahyo Wahyu Wibowo

3 11601244060 Dhiyas Risang Rumaka 1.745 64

4 11601244061 Radiansah 1.69 64

5 11601244062 Yoga Dwi Nugroho 1.76 64

6 11601244063 Ganang Cipto Pramodho 1.68 82.5

7 11601244064 Purna Panca Nugraha 1.72 56.7

8 11601244065 Rio Taovan

9 11601244066 Mukhamad Risqiadi 1.68 57

10 11601244067 Wahyu Dwi Santoso 1.67 64

11 11601244068 Dewanto Dwi Nugroho 1.78 58

12 11601244069 Thomas Candra Hermawan Panitia

13 11601244070 Amrin Rosadi

14 11601244071 Catur Wira Tamtama 1.715 60

15 11601244072 Dias Rendra Sofyanto 1.78 59

16 11601244073 Hilarius Januar H. 1.62 68.5

17 11601244074 Bertha Winda 1.68 72

18 11601244075 Satria Widi Septianto Panitia

19 11601244076 Aditya Bayu Ariyantara Panitia

20 11601244077 Januar Rahman

21 11601244078 Gita Laraningtyas 1.54 48

22 11601244079 Riski Saktianingsih

23 11601244080 Ayub Tatya Atmaja 1.74 71

24 11601244081 Ryan Satriyawan 1.71 62

25 11601244082 Alfian Nurhidayat 1.72 65

26 11601244083 Arifin 1.76 67

27 11601244084 Dony Arif Sulistiyo 1.69 60

28 11601244085 Muhamad Khoirudin 1.59 52

29 11601244086 Dwi Arif Stiyapranomo Panitia

30 11601244087 Epang Nofi Suhartoyo 1.71 57

31 11601244088 Deni Pradita 1.79 98

32 11601244089 Gazali Abas Adnan 1.6 56.2

33 11601244090 Ivan Rizal Satria Linanda

34 11601244091 Verponde Primaspuri 1.8 75.5

(19)

No NIM NAMA Tinggi Badan (Meter)

Berat Badan (Kg)

36 11601244093 Sutrisno Panitia

37 11601244094 Januar Bastian 1.63 55

38 11601244095 Bima Kartika Herlambang Panitia

39 11601244096 Nifera Ufrotun Saidatun Nila

40 11601244097 Fajar Adi Nugroho 1.69 61

41 11601244098 Reza Shidiq Kurniawan 1.655 55

42 11601244099 Aditya Pramudito 1.6 53

43 11601244100 Rendra Permana 1.68 62

44 11601244101 Yudan Ana Putra Panitia

45 11601244102 Muhammad Aziz Nur Sariffudin

46 11601244103 Bartolomeus Bramasakti N 1.705 61

47 11601244104 Wahyu Tri Laksono 1.63 54.9

48 11601244105 Galih Wahyu Wibowo 49 11601244106 Faqih Nurudin

50 11601244107 Linawati Panitia

51 11601244108 Muhammad Naufal Ramadhansyah 1.765 72

52 11601244109 Listyan Sumpani 1.765 63

53 11601244110 Lukman Sepfudin 1.72 56

54 11601244111 Hafid Wafi Hanggarjita 1.68 79

55 11601244112 Ardhana Purnama Putra 1.725 81.2

56 11601244113 Novianta Wahyu P 1.7 74

57 11601244114 Yohanes Sidik Wijaya 1.675 57

58 11601244115 Ma'ruf Fahri Abdillah 1.77 61

59 11601244119 Taufik Yunianto 1.715 51

60 11601244131 Fransisca Eka Sari 1.54 55

B. Pembahasan

Berdasarkan hasil yang diperoleh dari proses pengukuran berat badan dan tinggi badan peserta, maka dapat diperoleh data Indeks Massa Tubuh setiap peserta dan Indeks Massa Tubuh rata-rata dari semua peserta. Berdasarkan IMT peserta tes maka dapat diperoleh kategori peserta tes, sebagai berikut.

Table 5 Pengolahan Data Pengukuran

1 11601244058 Anbar Mailani

2 11601244059 Imam Cahyo Wahyu

Wibowo

3 11601244060 Dhiyas Risang Rumaka 1.745 64 21.0179 IDEAL

4 11601244061 Radiansah 1.69 64 22.4082 IDEAL

5 11601244062 Yoga Dwi Nugroho 1.76 64 20.6612 IDEAL

6 11601244063 Ganang Cipto Pramodho 1.68 82.5 29.2304 OVERWIGHT

(20)

No NIM NAMA

8 11601244065 Rio Taovan

9 11601244066 Mukhamad Risqiadi 1.68 57 20.1956 IDEAL

10 11601244067 Wahyu Dwi Santoso 1.67 64 22.9481 IDEAL

11 11601244068 Dewanto Dwi Nugroho 1.78 58 18.3058 KURUS

12 11601244069 Thomas Candra

Hermawan Panitia

13 11601244070 Amrin Rosadi

14 11601244071 Catur Wira Tamtama 1.715 60 20.3997 IDEAL

15 11601244072 Dias Rendra Sofyanto 1.78 59 18.6214 IDEAL

16 11601244073 Hilarius Januar H. 1.62 68.5 26.1012 OVERWIGHT

17 11601244074 Bertha Winda 1.68 72 25.5102 OVERWIGHT

18 11601244075 Satria Widi Septianto Panitia

19 11601244076 Aditya Bayu Ariyantara Panitia

20 11601244077 Januar Rahman

21 11601244078 Gita Laraningtyas 1.54 48 20.2395 IDEAL

22 11601244079 Riski Saktianingsih

23 11601244080 Ayub Tatya Atmaja 1.74 71 23.4509 OVERWIGHT

24 11601244081 Ryan Satriyawan 1.71 62 21.2031 IDEAL

25 11601244082 Alfian Nurhidayat 1.72 65 21.9713 IDEAL

26 11601244083 Arifin 1.76 67 21.6296 IDEAL

27 11601244084 Dony Arif Sulistiyo 1.69 60 21.0077 IDEAL

28 11601244085 Muhamad Khoirudin 1.59 52 20.5688 IDEAL

29 11601244086 Dwi Arif Stiyapranomo Panitia

30 11601244087 Epang Nofi Suhartoyo 1.71 57 19.4932 IDEAL

31 11601244088 Deni Pradita 1.79 98 30.5858 OBESITAS

TINGKAT I

32 11601244089 Gazali Abas Adnan 1.6 56.2 21.9531 IDEAL

33 11601244090 Ivan Rizal Satria Linanda

34 11601244091 Verponde Primaspuri 1.8 75.5 23.3025 OVERWIGHT

35 11601244092 Nurita Rohmah

36 11601244093 Sutrisno Panitia

37 11601244094 Januar Bastian 1.63 55 20.7008 IDEAL

38 11601244095 Bima Kartika

Herlambang Panitia

39 11601244096 Nifera Ufrotun Saidatun Nila

40 11601244097 Fajar Adi Nugroho 1.69 61 21.3578 IDEAL

41 11601244098 Reza Shidiq Kurniawan 1.655 55 20.0801 IDEAL

42 11601244099 Aditya Pramudito 1.6 53 20.7031 IDEAL

43 11601244100 Rendra Permana 1.68 62 21.9671 IDEAL

44 11601244101 Yudan Ana Putra Panitia

45 11601244102 Muhammad Aziz Nur

Sariffudin

46 11601244103 Bartolomeus Bramasakti

N 1.705 61 20.9837 IDEAL

47 11601244104 Wahyu Tri Laksono 1.63 54.9 20.6632 IDEAL

(21)

No NIM NAMA

49 11601244106 Faqih Nurudin

50 11601244107 Linawati Panitia

51 11601244108 Muhammad Naufal

Ramadhansyah 1.765 72 23.1123 OVERWIGHT

52 11601244109 Listyan Sumpani 1.765 63 20.2233 IDEAL

53 11601244110 Lukman Sepfudin 1.72 56 18.9292 IDEAL

54 11601244111 Hafid Wafi Hanggarjita 1.68 79 27.9904 OVERWIGHT

55 11601244112 Ardhana Purnama Putra 1.725 81.2 27.2884 OVERWIGHT

56 11601244113 Novianta Wahyu P 1.7 74 25.6055 OVERWIGHT

57 11601244114 Yohanes Sidik Wijaya 1.675 57 20.3163 IDEAL

58 11601244115 Ma'ruf Fahri Abdillah 1.77 61 19.4708 IDEAL

59 11601244119 Taufik Yunianto 1.715 51 17.3397 KURUS

60 11601244131 Fransisca Eka Sari 1.54 55 23.1911 OVERWIGHT

Rata-rata 1.69538 63.3125 21.9961 IDEAL

C. Analisi Data

Berdasarkan pembahasan data di atas, maka dapat dikatakan untuk peserta tes dengan kategori: Dengan data rata-rata kelas adalah: 1. Tinggi badan : 169,5 cm

2. Berat badan : 63,31 Kg

3. Skor Indeks Massa Tubuh : 21,9961

4. Klasifikasi : IDEAL (NORMAL)

(22)

18

Tata cara pelaksanaan pengukuran berat badan dilaksanakan dengan menimbang berat badan tanpa ada tambahan dari berat benda lainnya seperti jam tangan, pakaian, dan lain sebagainya yang memungkinkan untuk dapat menambah berat badan murni peserta pengukuran. Pengukuran berat badan menggunakan alat ukur timbangan, alat ukur ini digunakan baik untuk mengukur berat badan orang dewasa dan anak yang sudah bisa berdiri. Langkah pertama adalah penyiapan alat ukur kemudian persiapan sebelum melakukan pengukuran dan dilanjutkan dengan tahap pengukuran berat badan.

Pengukuran tinggi badan seseorang dapat menggunakan alat ukur microtoice dengan persiapan alat sebagai berikut:

i. Gantungkan bandul benang untuk membantu memasang microtoise di dinding agar tegak lurus.

ii. Letakkan pengukur di lantai yang datar tidak jauh dari bandul tersebut dan menempel pada dinding. Dinding jangan ada lekukan atau tonjolan (rata).

iii. Tarik papan penggeser tegak lurus ke atas, sejajar dengan benang berbandul yang tergantung dan tarik sampai angka pada jendela baca menunjukkan angka nol (0). Kemudian dipaku atau direkatkan dengan lakban pada bagian atas mecrotoise.

iv. Untuk menghindari terjadi perubahan posisi pita, beri lagi perekat pada posisi sekitar 10 cm dari bagian atas microtoise.

(23)

19

Anggraeni, Adisty Cynthia. 2012. ASUHAN GIZI; NUTRITIONAL CARE PROCESS. Yogyakarta: GRAHA ILMU.

Ganong. 2002. BUku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC.

Guyton and Hall. 2007. Bahan Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC.

Hartanto, Hanafi. 2004. Keluarga Berencana dan Kontrasepsi. Jakarta: PUSTAKA SINAR HARAPAN.

Hutapea. 1994. Menuju Gaya Hidup Sehat. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Mu’tadin, Zainun. 2002. Pengantar Pendidikan dan Ilmu Perilaku Kesehatan. Yogyakarta: Andi Offset.

Misnadiarly. 2007. Obesitas Sebagai Faktor Risiko beberapa Penyakit. Jakarta: Pustaka Obor Populer.

(24)

20

LAMPIRAN

(25)

1. PERSIAPAN PANITIA PENGUKURAN TINGGI BADAN DAN BERAT BADAN

2. PENGKONDISIAN PESERTA PENGUKURAN

3. PENGISIAN FORMULIR/KARTU KENDALI PESERTA PENGUKURAN TINGGI

BADAN DAN BERAT BADAN

(26)

4. PELAKSANAAN PENGUKURAN BERAT BADAN

(27)
(28)

LAMPIRAN SURAT KETERANGAN KALIBRASI

LAMPIRAN

(29)
(30)
(31)
(32)

Gambar

Table 1 Klasifikasi BMI menurut WHO (1998)
Gambar 1 Timbangan Injak
Gambar 2 Timbangan Dengan Pengukur Tinggi Badan
Table 3 Klasifikasi Berat Badan Lebih Dan Obesitas Berdasarkan IMT Menurut Kriteria Asia Pasifik
+3

Referensi

Dokumen terkait

kesehatan, dan dalam bidang yang lainnya. Sehingga pengukuran, pemantauan, dan tampilan nilai berat badan dan lingkar kepala pada bayi dapat diaplikasikan dalam

Alat pengukur tinggi dan berat badan ini dilengkapi dengan perhitungan indeks massa tubuh yang di dapatkan dari hasil pengukuran tinggi yang di ukur

S.Sarwono, Pedoman Praktis Memantau Status Gizi Orang Dewasa Untuk Mempertahankan Berat Badan Normal Berdasarkan Indeks Massa Tubuh. Arduino

2 mikrokontroler untuk memerintah LCD TFT modul 1,8 inch for Arduino untuk menampilkan data pengukuran sensor berat badan dan tinggi badan otomatis

Dalam penelitian ini dilakukan pengukuran tinggi badan dan berat badan yang selanjutnya dimasukkan ke dalam rumus indeks massa tubuh lalu diinterpretasikan pada kurva

Perbedaan Kecepatan, Kekuatan Otot, Persen Lemak Tubuh, Berat Badan dan Indeks Massa Tubuh (IMT) antara Sebelum dan Sesudah Perlakuan pada Kelompok Diet Tinggi Protein

Pertambahan berat badan lebih dari 12,5 kg pada wanita dengan indeks massa tubuh IMT normal di periode sebelum hamil tidak mungkin merefleksikan peningkatan berat badan janin, jaringan

Ukuran berat berat badan ideal seperti ditunjukan indeks Broucha tidak sepenuhnya cocok untuk semua cabang olahraga , misalnya atlet cabang olahraga yang memerlukan massa tubuh seperti