• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

A. Corporate Social Responsibility

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Corporate Social Responsibility 1. Konsep Umum CSR

Tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) merupakan kegiatan sosial yang dilakukan perusahaan yang diwujudkan dalam kegiatan operasi yang legal, berkonstribusi untuk meningkatkan ekonomi, serta peningkatan kualitas hidup karyawan, komunitas lokal, dan masyarakat luas. Tanggung jawab sosial perusahaan didefinisikan oleh World

Bussiness Council Sustainable Development (WBCSD) sebagai komitmen

berkelanjutan kalangan bisnis untuk berperilaku etis dan memberikan sumbangan pada pembangunan ekonomi sekaligus memperbaiki mutu hidup angkatan kerja dan keluarganya serta komunitas lokal dan masyarakat secara keseluruhan (Wibisono, 2007). Berdasarkan hal tersebut, tanggung jawab sosial perusahaan merupakan salah satu tindakan etis yang harus diterapkan oleh perusahaan. Dengan menerapkan CSR, perusahaan telah melaksanakan etika bisnis dalam menjaga hubungan dengan masyarakat. Perusahaan menjaga lingkungan lestari juga telah melaksanakan tindakan yang etis yang dapat menambah kepercayaan masyarakat dalam mengelola sumber daya setempat.

Dalam ISO 26000 dijelaskan mengenasia social responsibility.

Social responsibility adalah tanggung jawab sebuah organisasi terhadap

masyarakat dan lingkungan. Hal ini diwujudkan dalam bentuk perilaku transparan dan etis yang sejalan dengan pembangunan berkelanjutan dan kesejahteraan masyarakat; mempertimbangkan harapan pemangku kepentingan yang sejalan dengan hukum yang ditetapkan dan norma-norma perilaku internasional; serta terintegrasi dengan organisasi secara menyeluruh (Mahendra, 2016;ISO 26000 sebagai Standar Global dalam Pelaksanaan CSR; https://isoindonesiacenter.com/sekilas-tentang-iso-26000). Dengan kata lain, setiap organisasi memiliki tanggung jawab atas dampak yang diakibatkan dari segala keputusan dan kegiatannya. Tanggung jawab tersebut dapat diwujudkan dengan tindakan yang etis dan transparan sesuai dengan tatanan norma yang berlaku secara universal, dan akan memberikan manfaat untuk keberlanjutan organisasi, kesejahteraan masyarakat, serta mewujudkan harapan dari para pemangku kepentingan. Carrol (1991) mendeskripsikan konsep CSR ke dalam empat kategori, yaitu:

a. Economic Responsibility, tanggung jawab utama perusahaan adalah tanggung jawab ekonomi karena lembaga bisnis terdiri atas aktivitas ekonomi yang menghasilkan barang atau jasa bagi masyarakat secara menguntungkan;

b. Legal Responsibility, masyarakat berharap bisnis dijalankan dengan menaati hukum dan peraturan yang berlaku dimana hukum dan peraturan tersebut pada hakikatnya dibuat oleh masyarakat melalui lembaga legislatif

c. Ethical Responsibility, masyarakat berharap perusahaan menjalankan bisnis secara etis;

d. Philantropic Responsibilities, masyarakat mengharapkan keberadaan perusahaan dapat memberikan manfaat bagi mereka. Harapan masyarakat tersebut dipenuhi oleh pihak perusahaan melalui berbagai program yang bersifat filantropis.

Pertemuan penting UN Global Compact di Jenewa, Swis, memiliki tujuan untuk meminta perusahaan menunjukkan tanggung jawab dan perilaku bisnis yang sehat yang dikenal sebagai CSR. Konsep dan Pertimbangan Implementasi CSR adalah sebagai berikut:

a. untuk memenuhi regulasi, hukum dan aturan yang mengaturnya;

b. sebagai investasi sosial perusahaan untuk mendapatkan image yang positif;

c. bagian dari strategi bisnis perusahaan;

d. untuk memperoleh licence to operate dari masyarakat setempat;

e. bagian dari risk management perusahaan untuk meredam atau menghindari konflik sosial.

Implementasi CSR merupakan manifestasi bagi perusahaan yang secara tidak langsung dirasakan, namun berdampak pada keberlanjutan perusahaan. Dengan menjaga lingkungan, perusahaan dapat menyesuaikan mencegah terjadinya penolakan dari masyarakat.

Perusahaan kini semakin dituntut untuk tidak hanya memenuhi tanggung jawab berlandaskan pada Single Bottom Line, yaitu tidak hanya memaksimalkan nilai perusahaan (corporate value) yang digambarkan dalam kondisi keuangan saja (financial). Perusahaan seharusnya melaksanakan tanggung jawab bedasarkan konsep Triple Botom Line yang dikemukakan oleh John Elkington pada tahun 1997 melalui bukunya “Cannibal with Forks, the Triple Bottom Line of Twentieth Century

Business”.

Konsep ini kemudian dikembangkan Elkington menjadi tiga istilah yaitu economic prosperity, environmental quality, dan social justice. Jika suatu perusahaan ingin mempertahankan keberlangsungan hidup perusahaannya perusahaan tersebut harus memperhatikan 3P yaitu

profit(keuntungan), people(masyarakat), dan planet(lingkungan). Tidak

hanya fokus pada keuntungan (profit), perusahaan juga harus memperhatikan dan terlibat dalam pemenuhan kesejahteraan masyarakat (people), dan berkontribusi aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan (planet) (Effendi, 2009:109).

a. Keuntungan (Profit)

Tujuan utama perusahaan adalah untuk memperoleh keuntungan akibat dari kegiatan usaha. Hal ini merupakan tanggung jawab pihak perusahan yang paling mendasar terhadap para pemegang saham. Selain itu, profit merupakan tambahan pendapatan yang dapat digunakan untuk menjamin kelangsungan hidup perusahaan.

Untuk mencapai profit yang diinginkan, aktivitas yang dapat ditempuh antara lain dengan meningkatkan produktivitas yang dapat diperoleh dengan memperbaiki manajemen kerja melalui penyederhanaan proses, mengurangi aktivitas yang tidak efisien, menghemat waktu pemrosesan dan pelayanan. Dengan menggunakan material sehemat mungkin dan biasa serendah mungkin dapat meningkatkan efisiensi biaya, sehingga perusahaan mempunyai keunggulan kompetitif dan dapat memberikan nilai tambah semaksimal mungkin.

b. Masyarakat Pemangku Kepentingan (People)

Salah satu aspek terpenting dalam keberlangsungan dan perkembangan perusahaan adalah masyarakat yang merupakan

stakeholder yang dapat menfukung keberadaan perusahaa. Perusahaan

menjalankan kegiatan usaha dengan mempekerjakan karyawan yang tidak lain berasal dari masyarakat. Pelanggan atau konsumen perusahaan juga merupakan anggota masyarakat, sehingga untuk bertahan dan dapat diterima perusahaan perlu berkomitmen untuk berupaya memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada masyarakat sekitar. Perusahaan juga harus menyadari bahwa operasi perusahaan berpotensi memberikan dampak kepada masyarakat.

c. Lingkungan (Planet)

Lingkungan adalah sesuatu yang terkait dengan seluruh bidang kehidupan manusia. Hal ini merupakan unsur ketiga yang juga harus

diperhatikan.Semua kegiatan yang manusia lakukan berhubungan dengan lingkungan. Lingkungan dapat menjadi teman dan musuh manusia tergantung bagaimana memperlakukannya.

Jika manusia dapat merawat dan memanfaatkan lingkungan dengan baik, maka lingkungan akan memberikan dampak positif. Sedangkan, jika manusia memanfaatkan lingkungan secara tidak baik dan tidak merawat malah merusak, maka manusia akan mendapatkan akibatnya. Pada kenyataannya, hingga saat ini sebagian besar manusia masih kurang peduli dengan lingkungan sekitar. Hal ini disebabkan karena tidak ada keuntungan langsung di dalamnya.

Akan tetapi, banyak pelaku industri yang mengejar keuntungan dan hanya mementingkan cara untuk menghasilkan laba sabanyak-banyaknya tanpa melakukan upaya pelestarian lingkungan. Akibatnya, semakin sering bencana dan kerusakan alam terjadi, serta timbulnya berbagai jenis penyakit. Untuk itu, perusahaan boleh saja mendongkrak laba dan pertumbuhan ekonomi, namun perusahaan juga harus memperhatikan kelestarrian lingkungan. Perusahaan harus menyeimbangkan perhatiannya terhadap keuntungan (profit), masyarakat (people), dan lingkungan (planet), hubungan tiga aspek tersebut digambarkan dalam bentuk segitiga pada Gambar 1.

Berdasarkan gagasan tersebut, perusahaan tidak lagi berpatokan pada single bottom line yang hanya merefleksikan kondisi difinansial saja

dalam aspek ekonomi. Akan tetapi, perusahaan juga harus memperhatikan aspek sosial dan lingkungan.

Gambar 1. Triple Bottom Line (Wibisono, 2007)

2. Manfaat Pelaksanaan CSR

Menurut Wibisono (2007:9) manfaat penerapan tanggung jawab sosial perusahaan dapat dirasakan oleh berbagai pihak sebagai berikut:

a. Bagi Perusahaan

1) Keadaan perusahaan dapat bertumbuh dan berkelanjutan serta memperoleh citra yang baik dari kalangan masyarakat luas.

2) Perusahaan akan dimudahkan dalam memdapatkan akses terhadap modal (capital)

3) Dapat mempertahankan sumber daya manusia (human resource) yang berkualitas

Sosial (Social)

4) Perusahaan dapat meningkatkan kemampuan dalam pengambilan keputusan dalam berbagai hal kritis (critical decision making) dan memudahkan dalam pengelolaan resiko (risk management)

b. Bagi Masyarakat

Dengan menerapkan CSR, perusahaan akan menyerap tenaga kerja dari masyarakat sehingga kualitas sosial daerah dapat meningkat. Penyerapan tenaga kerja lokal akan mendapat perlindungan atas haknya sebagai pekerja.

c. Bagi Lingkungan

Penerapan CSR dapat mencegah tindakan eksploitasi terhadap sumber daya alam, kuliatas lingkungan terjaga, serta melestarikan lingkungan d. Bagi Negara

Pelaksanaan CSR dapat mencegah adanya malpraktik bisnis. Pihak negara juga akan mendapatkan keuntungan dengan adanya pembayaran pajak yang wajar oleh perusahaan

3. Alasan Pelaksanaan CSR

Berdasarkan konsep Triple Bottom Line (Elkingkton,1997), faktor utama dalam pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan yaitu people,

profit, dan planet. Berdasarkan faktor-faktor tersebut alasan pentingnya

pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) sebagai berikut (Alfiani 2015):

a. Alasan sosial

Perusahaan melaksanakan untuk memenuhi tanggung jawab sosial kepada masyarakat. Sebagai pihak yang beroperasi disuatu wilayah, perusahaan dituntut untuk berlaku etis terhadap masyarakat sekitar. Perusahaan harus ikut terlibat dalam pemenuhan kesejahteraan masyarakat dan menjaga lingkungan dari kerusakan yang dapat timbul akibat kegiatan perusahaan.

b. Alasan Ekonomi

Perusahaan melaksanakan CSR agar dapat membangun image yang positif dimata masyarakat sehingga perusahan dapat berjalan lancar untuk meningkatkan profit.

c. Alasan Hukum

Perusahaan diwajibkan untuk melaksanakan CSR karena adanya badan hukum yang mengikat. Pelaksanaan CSR diwajibkan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Perseroan Terbatas pasal 74 yang mewajibkan perusahaan-perusahaan yang terkait dengan penggunaan sumber daya alam untuk melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan.

d. Teori Investasi

Perusahaan memiliki tanggung jawab terhadap pihak-pihak stakeholder yang memiliki harapan terhadap perusahaan. Tindakan yang dilakukan pihak menejerial mencerminkan kinerja perusahaan.

4. Prinsip CSR

Menurut Golodets (2006) dalam Mardikanto (2014) prinsip-prinsip CSR meliputi:

a. Pengembangan mutu produk dan layanan bagi konsumen.

b. Menciptakan keselamatan kerja, dengan melakukan pengembangan produk dam sumberdaya manusia.

c. Mengatasi keluhan masyarakat berdasarkan hukum yang berkaitan dengan dengan pajak, lapangan pekerjaan, lingkungan, dan sebagainya. d. Berintegritas dan menjalin hubungan timbal balik dengan semua

stakeholders.

e. Mengembangkan bisnis agar unggul dalam bersaing dengan melakukan bisnis yang efisien serta menciptakan nilai-tambah ekonomi agar bermanfaat bagi pemilik/pemegang saham dan masyarakat.

f. Menjalin kemitraan sebagai wujud kontribusi dalam mendukung perkembangan atau evolusi masyarakat sipil melalui pengembangan kegiatan-kegiatan sosial.

Selain itu, Bridgen dan kawan-kawan (2003) juga turut merinci pronsip CSR berdasarkan dampak perusahaan bagi masyarakat luas dan bagi masyarakat bisnis. Komisi Brudtland sebelumnya juga telah menetapkan prinsip-prinsip CSR yang didasarkan pada beberapa prinsip, diantaranya yaitu:

a. Prinsip akuntabilitas b. Prinsip perilaku etis

c. Prinsip menghormati kepentingan stakeholders d. Prinsip penghormatan kepada supremasi hukum e. Prinsip menghormati hak asasi manusia

Dari berbagai prinsip yang telah ditetapkan, masing-masing memiliki makna dan tujuan yang tidak jauh berbeda. Ada pun prinsip yang dapat menjadi acuan dalam mengimplementasikan CSR adalah sebagai berikut:

a. Sustainability

Prinsip ini berkaitan dengan pengambilan tindakan pada masa sekarang yang relah mempunyai pilihan atau konsekuensi dimasa depan. Apabila sumber aya dimanfaatkan dimasa sekarang secara berlebihan, maka tidak sumber daya tidak akan cukup dimasa depan. Hal ini adalah perhatian khusus jika sumber daya mempunyai jumlah yang terbatas. b. Accountability

Accountability berkaitan dengan pengakuan perusahaan dalam

melakukan tindakan yang mempengaruhi lingkungan eksternal, dan karena itu perusahaan berasumsi untuk bertanggungjawab pada tindakan yang dilakukan. Prinsip ini berdampak pada hitungan akibat efek tindakan yang diambil perusahaan dalam lingkup internal maupun eksternal perusahaan.

c. Transparency

Sebagai suatu prinsip, transparansi berarti segala akibat internal dari tindakan organisasi dapat dipastikan dan diketahui dari laporan yang

dibuat oleh organisasi, serta fakta yang ada tidak disembunyikan. Dengan demikian, semua akibat dari tindakan yang dilakukan oleh organisasi, termasuk dampak internal seharusnya diungkapkan secara nyata kepada semua pihak melalui pengungkapan informasi yang disediakan dalam mekanisme pelaporan organisasi.

5. Tahap Penerapan CSR

Dalam melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan, tahap-tahap yang dilalui oleh perusahaan sebagai berikut (Wibisono, 2007):

a. Tahap Perencanaan

Perencanaan terdiri atas tiga langkah utama, yaitu awarenes, building, CSR assessement, dan CSR manual building.

1) Awareness building merupakan langkah awal untuk membangun kesadaran mengenai arti penting CSR dan komitmen manajemen. Upaya ini dapat dilakukan anata lain melalui seminar, lokakarya, diskusi kelompok dal lain-lain

2) CSR assessement merupakan upaya untuk memetakan kondisi perusahaan dan mengidentifikasi aspek-aspek yang perlu mendapatkan prioritas perhatian, dan langkah-langkah yang tepat untuk membangun struktur perusahaan yang kondusif bagi penerapan CSR secara efektif.

3) CSR manual bersumber dari hasil penilaian yang merupakan dasar penyusunan manual atau pedoman implementasi CSR. Upaya yang

dapat dilakukan antara lain benchmarking merupakan upaya untuk menggali dari referensi atau bagi perusahaan yang menginginkan langkah praktis. Penyusunan manual ini dapat dilakukan dengan meminta bantuan tenaga ahli independen dari luar perusahaan. CSR

manual ini merupakan inti dari perencanaan karena memberikan

petunjuk pelaksanaan CSR bagi komponen perusahaan. Penyususnan manual CSR digunakan sebagai acuan, pedoman, dan panduan dalam pengelolaan kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan yang dilakukan oleh perusahaan. Pedoman ini diharapkan mampu menberikan kejelasan dan keseragaman pola pikir dan pola tindak seluruh elemen perusahaan guna tercapainya program yang terpadu, efektif, dan efisien.

b. Tahapan Implementasi

Pelaksanaan atau implementasi merupakan wujud nyata dari suatu perencanaan. Walaupun perencanaan telah disusun debaik mungkin, namun jika tidak diimplementasi dengan baik maka hanya sia-sia. Tanpa implementasi, suatu tujuan tidak akan tercapai. Oleh karena itu, sangat diperlukan untuk menyusun stategi dalam menjalankan rencana yang telah disusun. Adapun tahapan implementasi sebagai berikut: 1) Sosialisasi

Sosialisasi diperlukan untuk memperkenalkan berbagai aspek yang terkait dengan implementasi CSR, khususnya mengenai pedoman penerapan CSR. Tujuan utama sosialisasi adalah agar program CSR

mendapat dukungan penuh dari seluruh komponen perusahaan, sehingga dalam pelaksanaannya dapat berjalan lancar.

2) Pelaksanaan

Pelaksanaan kegiatan yang dilakukan pada dasarnya harus sejalan dengan pedoman CSR yang ada dan sesuai dengan roadmap yang telah disusun.

3) Internalisasi

Internalisasi merupakan tahap jangka panjang yang mencakup upaya-upaya memperkenalkan CSR di dalam seluruh proses bisnis perusahaan, misalnya melalui sistem manajemen kerja, prosedur pengadaan, proses produksi, pemasaran, dan proses bisnis lainnya. Dengan demikian, penerapan CSR menjadi strategi perusahaan yang sudah beyound complience.

c. Tahap Evaluasi

Tahap evaluasi merupakan tahap yang diperlukan untuk mengetahui sejauh mana efektifitas penerapan CSR dan dilakukan dari waktu ke waktu secara konsisten. Evaluasi bermanfaat dalam pengambilan kepurusan, misalnya untuk melanjutkan, menghentikan, atau membenahi aspek tertentu dalam program yang telah dijalankan. Evaluasi juga dapat berupa audit implementasi atas praktik CSR yang telah dilakukan. Pelaksanaan audit dapat dilakukan dengan meminta pihak independen dari luar perusahaan. Evaluasi dalam bentuk

d. Tahap Pelaporan

Pelaporan diperlukan dalam rangka membangun sistem informasi yang baik untuk keperluan proses pengambilan keputusan maupun keperluan keterbukaan informasi material yang relevan mengenai perusahaan. Selain berfungsi untuk shareholder, juga berfungsi untuk para stakeholder lain yang memerlukan.

Dokumen terkait