• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

B. Etika Bisnis

Berbicara mengenai etika bisnis sebenarnya berbicara mengenai etika yang mencakup bagaimana bisnis dijalankan secara adil (fairnes) dan sesuai dengan hukum yang berlaku. Setiap tindakan manusia masing-masing memiliki tujuan dan motivasi tertentu yang ingin dicapai. Dalam mencapai tujuan tersebut etika berfungsi sebagai pegangan atau orientasi dalam menjalaninya (Debora dan Ismail, 2013).

Terkadang manusia mencampurkan nilai tindakan dan tujuan, dimana suatu tindakan dinilai baik buruknya berdasarkan tujuannya atau suatu tujuan dinilai baik berdasarkan tindakan yang dilakukan. Contohnya, seorang anak yang mencuri obat demi ibunya yang sedang sakit. Anak ini memiliki tujuan yang baik, tetapi melakukan tindakan yang dianggap tidak benar. Berdasarkan konflik tersebut, ada dua teori etika yang berpengaruh untuk menilai tindakan seseirang, yaitu teori deontologi dan teleologi (Keraf, 1998:23).

1. Teori Deontologi

Etika deontologi merupakan suatu etika yang lebih menekankan kewajiban seseorang untuk bertindak secara baik. Sesuai dengan kata deon

dari bahasa Yunani yang artinya adalah kewajiban. Dalam hal ini, setiap tindakan manusia dilandaskan nilai moral karena tindakan tersebut merupakan aksi dari suatu kewajiban yang memang harus dilaksanakan terlepas dari tujuan atau akibat dari tindakan, maka nilai suatu tindakan tidak akan dipengaruhi oleh akibat serta tujuan dari tindakan tersebut. Sedangkan menurut Yosephus (2010:21) etika deontologi merupakan teori yang hanya merujuk kepada sistem yang mengikat bukan karena konsekuensi atau akibat yang akan ditimbulkan, namun hanya karena norma atau sistem tersebut benar dan baik.

Motifasi, keinginan yang baik, serta kepribadian yang kuat sangat ditekankan dalam etika dentologi. Menurut Kant, kemauan baik adalah syarat mutlak untuk bertindak secara moral yang harus dipenuhi agar manusia dapat bertindak secara baik dan membenarkan tindakannya. Berdasarkan hal tersebut, tindakan yang baik adalah tindakan yang tidak hanya sesuai dengan kewajiban, namun yang juga dijalankan demi kewajiban.

Ada tiga prinsip yang harus dipenuhi dalam bertindak (Keraf, 1998):

a. Tidakan harus dilaksanakan berdasarkan kewajiban agar memiliki nilai moral

b. Nilai moral suatu tindakan tidak tergantung pada tercapainya suatu tujuan, tetapi tergantung pada kemauan baik yang mendorong seseorang dalam melakukan tindakan

c. Kewajiban merupakan hal mutlak dari tindakan yang dilakukan berdasarkan ketaatan terhadap hukum moral universal.

2. Teori Teleologi

Teleologi berasal dari kata Yunani yaitu telos yang berarti tujuan dan logos yang berarti ilmu, doktrin, atau wacana. Etika teleologi merupakan teori yang mengukur baik buruknya suatu tindakan berdasarkan tujuan yang mau dicapai dengan suatu tindakan atau berdasarkan akibat yang muncul dari tindakan tersebut. Suatu tindakan dikatakan baik apabila tujuannya baik atau jika akibat yang ditimbulkan baik dan berguna. Menurut Yosephus (2010:22), etika teleologis mau menjelaskan bahwa perilaku seseorang adalah benar jika menghasilkan hal-hal yang baik dan keliru apabila menyebabkan kerugian bagi orang lain dan bagi orang yang melakukan tindakan tersebut.

Etika teleologi lebih situasional karena tujuan dan akibat suatu tindakan bisa sangat tergantung pada situasi khusus, maka norma dan kewajiban moral tidak dapat berlaku begitu saja dalam setiap situasi dalam teori deontologi (Keraf, 1998). Muncul dua jenis etika berdasarkan teori teleologi:

a. Egoisme Etis

Suatu tindakan dikatakan baik karena mendatangkan dampak-dampak baik bagi si pelaku disebut etika teleologis egois atau egoisme etis. Egoisme etis merupakan akibat baik yang dihasilkan atau yang ditimbulkan bernilai baik dan bermanfaat hanya dirasakan oleh

pelakunya, tidak peduli apakah orang lain terkena dampak dari tindakan tersebut mendapat manfaat dan diuntungkan atau sebaliknya (Yosephus, 2010).Pandangan egoisme adalah tindakan dari setiap orang yang pada dasarnya bertujuan untuk mengejar kepentingan pribadi dan mengunggulkan dirinya sendiri (Keraf, 1998).

b. Teleologis Universal

Menurut teleologis universal, benar-tidaknya suatu tindakan tergantung pada baik-buruknya akibat yang ditimbulkan oleh tindakan tersebut bagi semua orang yang terkena dampak atau akibatnya. Menurut Yosephus (2010), para pebisnis kontemporer semestinya menjalankan bisnis berdasarkan norma-norma atau ketentuan etika teleologis universal . Pebisnis hendaknya menempatkan kesejahteraan bersama (karyawan dan masyarakat) sebagai tujuan akhir yang hendak dicapai dalam keseluruhan proses bisnis, bukan hanya untuk mensejahterakan atau memakmurkan diri sendiri, keluarga, serta para kroni.

3. Prinsip-Prinsip Etika Bisnis

Menurut Keraf (1998), prinsip-prinsip yang berlaku dalam kegiatan bisnis yang baik tidak bisa dilepaskan dari kehidupan kita sebagai manusia pada umumnya. Demikian pula, prinsip-prinsip itu sangat erat terkait dengan sistem nilai yang dianut oleh masyarakat masing-masing. Contohnya bisnis Jepang terkait erat dengan nilai masyarakat tersebut, demikian juga dengan Amerika Serikat, China dan negara-negara lain yang maju ekonominya.

Namun, sebagai etika terapan prinsip-prinsip dalam etika bisnis sesungguhnya merupakan penerapan dari prinsip etika pada umumnya. Menurut Keraf (1998),prinsip-prinsip etika meliputi:

a. Prinsip Otonomi

Otonomi adalah suatu kebebasan yang dimiliki oleh setiap manusia untuk bersikap dan untuk bertindak berdasarkan kesadarannya sendiri tentang apa yang dianggap baik untuk dilakukan. Dalam Hal ini, setiap pelaku bisnis mengetahui dengan baik apa yang menjadi kewajibannya. Mampu mengambil keputusan sendiri dan bertindak berdasarkan keputusan itu merupakan suatu wujud dari kebebasan setiap orang untuk bersikap. Contonya antara lain:

1) Bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri sesuai dengan nurani atas segala sesuatu yang telah dilakukan.

2) Bertanggung jawab atas kepercayaan yang telah diberikan.

3) Bertanggung jawab atas keputusan dan tindakannya kepada pihak-pihak yang secara tidak langsung merasakan dampak dari keputusan dan tindakan tersebut, seperti pelanggan dan pemegang saham.

b. Prinsip Kejujuran

Praktik bisnis dewasa ini semakin mengakui bahwa kejujuran merupakan suatu prinsip yang mendasari terciptanya kegiatan bisnis yang baik dan berjangka panjang. Ada pun wujudnya dalam dunia bisnis adalah sebagai berikut:

2) Menawarkan barang dan jasa dengan mutu yang baik sesuai dengan harganya

3) Hubungan kerja dalam perusahaan;

c. Prinsip Tidak Berbuat Jahat dan Prinsip Berbuat Baik

Prinsip ini sesungguhnya merupakan inti dari prinsip moral. Kita dituntut untu bersikap baik kepada siapa saja. Wujud prinsip ini antara lain:

1) Bersikap baik agar secara aktif dan maksimal kita semua berbuat hal yang baik bagi orang lain;

2) Dalam situasi apapun kita akan melakukan tindakan yang baik bagi orang lain;

d. Prinsip Keadilan

Prinsip ini menuntut kita untuk memperlakukan orang lain sesuai dengan haknya. Kita mengharapkan agar hak kita dihargai dan tidak dilanggar, begitu juga kita seharusnya menghargai hak orang lain . e. Prinsip Hormat Kepada Diri Sendiri

Pinsip ini menunjukkan bahwa kita seharusnya tidak membiarkan diri kita diperlakukan secara tidak adil, tidak jujur, ditindas, diperas dan sebagainya. Kita wajib membela dan mempertahankan kehormatan diri kita sebagai manusia yang bermartabat.

Semua prinsip di atas didasarkan pada satu paham filsafat yaitu “hormat kepada manusia sebagai personal”. Dalam wujud yang lain paham di atas dapat disejajarkan dengan apa yang dikenal sebagai Golden

Rule (Aturan Emas) yaitu melakukan pada diri orang lain apa yang tidak

saya inginkan untuk orang lain lakukan pada diri sendiri. Sebaliknya, diri pribadi perseorangan selalu akan memperlakukan pada diri orang lain apa yang saya inginkan agar orang lain perlakukan pada diri saya. Dalam konteks etika bisnis hal ini dapat diilustrasikan seperti “saya tidak mau ditipu orang lain, dan saya tidak mau menipu orang lain”.

Dokumen terkait