• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab V Pembahasan Hasil Penelitian: Menyajikan pembahasan dan diskusi terhadap temuan-temuan hasil pengujian hipotesis penelitian, serta hasil

Proposisi 2: Perilaku Oportunistik Manajerial

2.1.14 Corporate Social Responsibility sebagai Good Corporate Governance

Pada tanggal 16 Agustus 2007, pemerintah telah mengesahkan peraturan yang mengatur tentang Perseroan Terbatas yaitu Undang-undang No. 40 Tahun 2007 yang menggantikan UU Perseroan Terbatas No. 1 Tahun 1995. Keberadaan Undang-undang Perseroan Terbatas tersebut diharapkan mampu menjamin terselenggaranya iklim usaha yang kondusif, dimana Perseroan Terbatas sebagai suatu pilar pembangunan perekonomian perlu diberikan landasan hukum untuk lebih memacu pembangunan nasional. Pembaharuan Undang-undang Perseroan Terbatas No. 40 Tahun 2007 ini salah satunya adalah untuk mendukung implementasi dari Good

Corporate Governance (GCG).

Tujuan Good Corporat Governance (GCG) pada intinya adalah menciptakaan nilai tambah bagi semua pihak yang berkepentingan (Arifin, 2005). Pihak-pihak

tersebut adalah pihak internal yang meliputi dewan komisaris, direksi, karyawan, dan pihak eksternal yang meliputi investor, kreditur, pemerintah, masyarakat dan pihak-pihak lain yang berkepentingan (stakeholders). Dalam praktiknya Corporate

Governance (CG) ini berbeda di setiap negara dan perusahaan karena berkaitan

dengan sistem ekonomi, hukum, struktur kepemilikan, sosial dan budaya. Perbedaan praktik ini menimbulkan beberapa versi yang menyangkut prinsip-prinsip CG, namun demikian pada dasarnya adalah mempunyai banyak kesamaan.

Cadbury Report (1992 dalam Arifin, 2005) menyatakan bahwa prinsip utama GCG adalah: keterbukaan, integritas dan akuntabilitas. Sedangkan menurut

Organization for Economic Corporation and Development (OECD), prinsip dasar

GCG adalah: kewajaran (fairness), akuntabilitas (accountability), transparansi

(transparency), dan responsibilitas (responsibility). Prinsip-prinsip tersebut

digunakan untuk mengukur seberapa jauh GCG telah diterapkan dalam perusahaan. Adapun, penjelasan untuk ke empat prinsip dasar tersebut adalah sebagai berikut: 1. Kewajaran (fairness). Prinsip kewajaran menekankan pada adanya perlakuan dan

jaminan hak-hak yang sama kepada pemegang saham minoritas maupun mayoritas, termasuk hak-hak pemegang saham asing serta investor lainnya. Praktik kewajaran juga mencakup adanya sistem hukum dan peraturan serta penegakannya yang jelas dan berlaku bagi semua pihak. Prinsip kewajaran ini dimaksudkan untuk mengatasi masalah yang timbul dari adanya hubungan kontrak antara pemilik dan manajer karena diantara kedua pihak tersebut memiliki kepentingan yang berbeda (conflict of interest).

2. Akuntabilitas (accountability). Prinsip akuntabilitas berhubungan dengan adanya sistem yang mengendalikan hubungan antara unit-unit pengawasan yang ada di perusahaan. Akuntabilitas dilaksanakan dengan adanya dewan komisaris dan direksi independen, dan komite audit. Akuntabilitas diperlukan sebagai salah satu solusi mengatasi Agency Problem yang timbul antara pemegang saham dan direksi serta pengendaliannya oleh komisaris.

3. Transparansi (transparency). Prinsip dasar transparansi berhubungan dengan kualitas informasi yang disajikan oleh perusahaan. Kepercayaan investor akan sangat tergantung dengan kualitas informasi yang disampaikan perusahaan. Oleh karena itu perusahaan dituntut untuk menyediakan informasi yang jelas, akurat, tepat waktu dan dapat dibandingkan dengan indikator-indikator yang sama. Dengan kata lain prinsip transparansi ini menghendaki adanya keterbukaan dalam melaksanakan proses pengambilan keputusan dan keterbukaan dalam penyajian (disclosure) informasi yang dimiliki perusahaan.

4. Responsibilitas (responsibility). Responsibilitas diartikan sebagai tanggungjawab perusahaan untuk mematuhi peraturan dan hukum yang berlaku serta pemenuhan terhadap kebutuhan-kebutuhan sosial. Responsibilitas menekankan pada adanya sistem yang jelas untuk mengatur mekanisme pertanggungjawaban perusahaan kepada pemegang saham dan pihak-pihak lain yang berkepentingan. Hal tersebut untuk merealisasikan tujuan yang hendak dicapai GCG yaitu mengakomodasi kepentingan pihak-pihak yang berkaitan dengan perusahaan seperti masyarakat, pemerintah, asosiasi bisnis dan pihak-pihak lainnya.

Sebagaimana dikemukakan di atas bahwa salah satu prinsip dari GCG adalah

responsibility, dimana prinsip responsibility ini penekanannya diberikan kepada

kepentingan stakeholders perusahaan. Penjelasan mengenai prinsip responsibility dalam GCG, selanjutnya telah melahirkan gagasan Corporate Social Responsibility (CSR) atau peran serta perusahaan dalam mewujudkan tanggung jawab sosialnya. Dalam gagasan CSR perusaahaan tidak lagi dihadapkan pada tanggung jawab terhadap nilai perusahaan (corporate value) yang direflesikan ke dalam kondisi keuangan perusahaan saja, namun tanggung jawab perusahaan harus juga berpijak pada tanggung jawab sosial dan lingkungan.

Istilah Corporate Social Responsibility (CSR) pertama kali menyeruak dalam tulisan Social Responsibility of the Businessman tahun 1953. konsep yang digagas Howard Rothmann Browen ini menjawab keresahan dunia bisnis. Holme dan Watts (2000) mendefinisikan Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai suatu komitmen yang berkelanjutan oleh para pembisnis untuk berperilaku etis dan memberi kontribusi pada pengembangan ekonomi, bahkan meningkatkan kualitas hidup bagi tenaga kerja dan keluarganya sebagaimana hal nya pada komunitas lokal dan masyarakat secara lebih luas. Pohl (2006) menjelaskan bahwa Corporate Social

Responsibility (CSR) adalah tidak memuat hal-hal yang hanya menyangkut suatu

pengertian yang sempit, tetapi merepresentasikan sebuah spektrum luas mengenai budaya perusahaan, nilai-nilai, keyakinan, sikap, dan norma-norma perusahaan yang memainkan peran penting dalam melaksanakan CSR.

Penelitian Basamalah et al (2005) menunjukkan bahwa salah satu alasan manajemen melakukan pelaporan sosial adalah untuk alasan strategis. Meskipun belum bersifat mandatory, tetapi dapat dikatakan bahwa hampir semua perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta sudah mengungkapkan informasi mengenai CSR dalam laporan tahunannya. Dari perspektif ekonomi, perusahaan akan mengungkapkan suatu informasi jika informasi tersebut dapat meningkatkan nilai perusahaan (Verecchia, 1983 dalam Basamalah et al, 2005). Perusahaan akan memperoleh legitimasi sosial dan memaksimalkan kekuatan keuangannya dalam jangka panjang melalui penerapan CSR (Kiroyan, 2006). Hal ini mengindikasikan bahwa perusahaan yang menerapkan CSR mengharapkan akan direspon positif oleh para pelaku pasar, dan memberikan pemahaman bahwa pengungkapan informasi tersebut digunakan dalam penilaian corporate finance (Core, 2001).

Teori legitimasi menyatakan bahwa organisasi secara terus menerus berusaha memastikan bahwa operasinya selalu berada dalam batas-batas dan norma-norma dari masyarakat. Batasan-batasan dan norma-norma tersebut dianggap akan selalu berubah sepanjang waktu sehingga mengharuskan organisasi tersebut untuk tanggap terhadap lingkungan dimana mereka beroperasi (Deegan, 2002). Sejalan dengan itu, Lindblom (1994) berpendapat bahwa legitimasi adalah suatu kondisi atau status yang ada ketika suatu sistem nilai suatu entitas sesuai dengan sistem nilai dari sistem sosial yang lebih besar dimana entitas tersebut menjadi bagiannya. Ketika ada suatu disparitas, baik yang aktual maupun yang masih potensial, antara kedua sistem nilai tersebut, maka akan muncul suatu ancaman pada legitimasi entitas tersebut.

Perusahaan-perusahaan semakin menyadari bahwa kelangsungan hidupnya juga tergantung dari hubungan perusahaan dengan masyarakat dan lingkungannya. Hal ini sejalan dengan legitimacy theory, bahwa perusahaan memiliki kontrak dengan masyarakat untuk melakukan kegiatan berdasarkan nilai-nilai justice, dan bagaimana perusahaan menanggapi berbagai kelompok kepentingan untuk melegitimasi tindakannya (Haniffa et al, 2005). Jika terjadi ketidakselarasan antara sistem nilai perusahaan dan sistem nilai masyarakat, maka perusahaan dapat kehilangan legitimasinya, yang selanjutnya akan mengancam kelangsungan hidup perusahaan (Lindblom, 1994). Pengungkapan informasi CSR dalam laporan tahunan merupakan salah satu cara perusahaan untuk membangun, mempertahankan, dan melegitimasi kontribusi perusahaan dari sisi ekonomi dan politis (Guthrie dan Parker, 1990).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah perusahaan yang melakukan pengungkapan informasi CSR dalam laporan tahunannya semakin bertambah. Jumlah dan jenis informasi CSR yang diungkapkan juga semakin meningkat (Ernst dan Ernst, 1978; Trotman, 1979; Kelly, 1981; Pang, 1982; Guthrie, 1982; Gray, 1990; Gray et al, 1993; Sayekti, 1994). Banyak perusahaan semakin menyadari pentingnya menerapkan program CSR sebagai bagian dari strategi bisnisnya. Survey global yang dilakukan oleh The Economist Intelligence Unit menunjukkan bahwa 85% eksekutif senior dan investor dari berbagai organisasi menjadikan CSR sebagai pertimbangan utama dalam pengambilan keputusan (Warta Ekonomi, 2006).

Penelitian Gray, Kouhy, dan Lavers (1995); Lindblom (1994); Milne dan Patten (2002); Patten (1992); dan Walden dan Schwartz (1997) menggunakan teori

legitimasi untuk mengungkap hubungan sosial antara perusahaan dengan masyarakat dan lingkungannya. Hasil penelitian di atas menunjukkan bahwa luas pengungkapan lingkungan pada laporan keuangan sebagai sebuah fungsi exposure terhadap tekanan publik dalam lingkungan sosial atau politik. Berdasarkan legitimasi ini, perusahaan yang menghadapi exposure yang lebih besar, mempunyai kinerja lingkungan yang buruk, dan memberikan lebih banyak pengungkapan lingkungan yang positif dalam usahanya untuk merespon ancaman dan tantangan yang meningkat terhadap legitimasi perusahaan atau organisasi.

Berdasarkan pada uraian tentang teori, struktur dan mekanisme corporate

governance, hasil penelitian tentang good corporate governance dalam hubungannya

dengan kebijakan dividen dan nilai perusahaan, serta teori corporate social

responsibility sebagai bagian dari good corporate governance, maka dapat

dirumuskan pernyataan proporsi 3, sebagai berikut:

Selanjutnya, secara piktografis pernyataan proposisi 3 di atas dapat disajikan dalam Gambar 2.3, sebagai berikut: