• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.8. COVID-19

Coronavirus Disease 19 (COVID-19) merupakan penyakit menular infeksi saluran pernafasan yang disebabkan oleh virus corona jenis baru (SARS-CoV-2).

Laporan pertama dari Cina kepada World Health Organization (WHO), yaitu terdapatnya 44 pasien pneumonia berat di suatu wilayah yaitu Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Cina. Dugaan awal terkait dengan pasar basah yang menjual ikan,

hewan laut dan berbagai hewan lainnya. Pada 10 Januari 2020, penyebab dari penyakit tersebut mulai teridentifikasi dan didapatkan kode genetiknya yaitu virus corona jenis baru. Pada 11 Februari 2020, WHO menamakannya sebagai COVID-19 (Fitriani et. al., 2020).

2.8.2 EPIDEMIOLOGI

Per tanggal 10 Juni 2021, Pemerintah Indonesia mengumumkan 1.885.942 kasus konfirmasi COVID-19, 52.373 kasus kematian, dan 1.728.914 kasus sembuh dari 510 kabupaten/kota di 34 provinsi (Satuan Tugas Penanganan COVID-19, 2021).

Gambar 2.3 Peta zonasi risiko COVID-19 di Indonesia per 6 Juni 2021 (Satuan Tugas Penanganan COVID-19, 2021).

Gambar 2.4 Perkembangan kasus per hari COVID-19 per 10 Juni 2021 (Satuan Tugas Penanganan COVID-19, 2021).

2.8.3 ETIOLOGI

Coronavirus adalah kelompok virus terbesar dalam ordo Nidovirales. Semua virus dalam ordo Nidovirales adalah non-segmented positive-sense RNA viruses.

Dari analisis filogenetik, virus corona ini termasuk dalam subgenus Sarbecovirus dari genus Betacoronavirus, yang memiliki panjang cabang yang relatif lebih panjang dari kerabat terdekat bat-SL-CoVZC45 dan bat-SL-CoVZXC21, dan secara genetik berbeda dari SARS-CoV. Khususnya, pada pemodelan homologi mengungkapkan bahwa, virus corona ini memiliki struktur receptor-binding domain yang sama dengan SARS-CoV, tetapi terdapat variasi asam amino pada beberapa residu utama. Meskipun virus corona ini lebih dekat dengan bat-SL-CoVZC45 dan bat-SL-CoVZXC21 di tingkat genom secara keseluruhan, tetapi melalui analisis filogenetik dari receptor-binding domain, ditemukan bahwa virus corona ini lebih dekat dengan garis keturunan SARS-CoV. Sehingga WHO memberi nama severe acute respiratory syndrome coronavirus 2(SARS-CoV-2) yang sekarang dikenal sebagai penyebab penyakit COVID-19 (Parwanto, 2020).

2.8.4 FAKTOR RISIKO

Beberapa faktor risiko yang ditetapkan oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) adalah kontak erat, termasuk tinggal satu rumah dengan pasien terkonfirmasi COVID-19 dan riwayat perjalanan ke daerah terjangkit. Berada dalam satu lingkungan namun tidak kontak dekat (dalam radius 2 meter) dianggap sebagai risiko rendah. Tenaga medis termasuk salah satu populasi yang berisiko tinggi tertular penyakit ini. Penyakit komorbid hipertensi, diabetes melitus, jenis kelamin laki-laki, dan perokok aktif merupakan faktor risiko terinfeksi SARS-CoV-2. Jenis kelamin laki-laki diduga berhubungan dengan prevalensi perokok aktif yang lebih tinggi. Pada perokok, hipertensi, dan diabetes melitus, diduga ada peningkatan ekspresi reseptor ACE2. Penyakit kanker diasosiasikan dengan reaksi imunosupresif, sitokin yang berlebihan, supresi induksi agen proinflamasi, dan gangguan maturasi sel dendritik. Pasien dengan sirosis atau penyakit hati kronik

juga mengalami penurunan respons imun. Studi Guan, dkk. menemukan bahwa dari 261 pasien COVID-19 yang memiliki komorbid, 10 pasien di antaranya menderita kanker dan 23 pasien dengan hepatitis B. Studi meta-analisis yang dilakukan oleh Yang, dkk. menunjukkan bahwa pasien COVID-19 dengan riwayat penyakit sistem respirasi akan cenderung memiliki tanda dan gejala klinis yang lebih parah (Susilo et. al., 2020).

2.8.5 TRANSMISI

Saat ini, penyebaran utama SARS-CoV-2 adalah dari manusia ke manusia.

Transmisi SARS-CoV-2 dari pasien COVID-19 terjadi melalui droplet yang keluar saat batuk atau bersin. Beberapa laporan kasus menduga dapat terjadi penularan dari karier asimtomatis, namun mekanisme pastinya belum diketahui. Beberapa peneliti melaporkan infeksi SARS-CoV-2 pada neonatus. Namun, transmisi secara vertikal dari ibu hamil kepada janin belum terbukti. Pada pemeriksaan virologi cairan amnion, darah tali pusat, dan ASI dari ibu yang terkonfirmasi COVID-19 ditemukan negatif (Susilo et. al., 2020).

Ada dua fakta yang menguatkan dugaan kemungkinan transmisi secara fekal-oral. Pertama SARS-CoV-2 telah terbukti dapat menginfeksi saluran cerna berdasarkan hasil biopsi pada sel epitel gaster, duodenum, dan rektum. Kedua virus tersebut dapat terdeteksi di feses, bahkan ada laporan sebanyak 23% pasien yang tetap terdeteksi virus tersebut dalam feses, walaupun sudah tidak terdeteksi pada saluran napas (Susilo et. al., 2020).

Persistensi SARS-CoV-2 pada benda mati tidak berbeda jauh dibandingkan SARS-CoV (Susilo et. al., 2020). Persistensi berbagai jenis coronavirus lainnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 2.4 Persistensi berbagai jenis coronavirus pada berbagai permukaan benda mati (Susilo et.

al., 2020).

Permukaan Virus Titer Virus Temperatur Persistensi

Besi MERS-CoV 105 20°C 48 jam

30°C 8-24 jam

HCoV 103 21°C 5 hari

Aluminium HCoV 5𝑥103 21°C 2-8 jam

Metal SARS-CoV 105 Suhu ruangan 5 hari

Kayu SARS-CoV 105 Suhu ruangan 4 hari

Kertas SARS-CoV (Strain P9) 105 Suhu ruangan 4-5 hari SARS-CoV (Strain

GVU6109)

106 Suhu ruangan 24 jam

105 3 hari

104 < 5 menit

Kaca SARS-CoV 105 Suhu ruangan 4 hari

HCoV 103 21°C 5 hari

Plastik SARS-CoV (Strain HKU39849)

105 22-25°C ≤ 5 hari

105 20°C 48 jam

30°C 8-24 jam SARS-CoV (Strain P9) 105 Suhu ruangan

SARS-CoV (Strain FFM1) 107 Suhu ruangan HCoV (Strain 229E) 107 Suhu ruangan

PVC HCoV 103 21°C 5 hari

Karet silikon HCoV 103 21°C 5 hari

Sarung tangan bedah (lateks)

HCoV 5x103 21°C ≤ 8 jam

Gaun bedah SARS-CoV 106 Suhu ruangan 2 hari

105 24 jam

104 1 jam

Keramik HCoV 103 21°C 5 hari

Teflon HCoV 103 21°C 5 hari

2.8.6 MANIFESTASI KLINIS

Manifestasi klinis yang timbul pada pasien COVID-19 sangat beragam, mulai dari tanpa gejala (asimtomatik), gejala ringan, pneumonia, pneumonia berat, ARDS, sepsis, hingga syok sepsis. Sekitar 80% kasus tergolong ringan atau sedang, 13,8% mengalami sakit berat, dan sebanyak 6,1% pasien mengalami kegawatan.

Gejala ringan pasien COVID-19 seperti: infeksi akut saluran napas atas tanpa

komplikasi, bisa disertai dengan demam, fatigue, batuk (dengan atau tanpa sputum), anoreksia, malaise, nyeri tenggorokan, kongesti nasal, mual, diare, atau sakit kepala. Pasien dengan gejala ringan tidak membutuhkan suplementasi oksigen.

Pasien COVID-19 dengan pneumonia berat ditandai dengan demam, ditambah salah satu dari gejala: frekuensi pernapasan >30x/menit, distres pernapasan berat, atau saturasi oksigen 93% tanpa bantuan oksigen (Susilo et. al., 2020).

2.8.7 DIAGNOSIS

Menurut WHO, pemeriksaan pada SARS-CoV-2 sebaiknya diperiksa dengan Nucleic acid amplification test (NAAT), seperti RT-PCR (WHO, 2020). Definisi operasional pada kasus COVID-19 di Indonesia, mengacu pada panduan yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yang mengadopsi dari WHO. Kasus probable didefinisikan sebagai PDP yang memberikan hasil inkonklusif pada pemeriksaan COVID-19 atau seseorang dengan hasil konfirmasi positif pancoronavirus atau betacoronavirus. Kasus terkonfirmasi adalah bila hasil pemeriksaan laboratorium positif COVID-19, tanpa melihat manifestasi klinisnya (Susilo et. al., 2020).

Selain itu, terdapat istilah orang tanpa gejala (OTG), yaitu orang yang tidak memiliki gejala tetapi berisiko tertular atau ada riwayat kontak erat dengan pasien COVID-19. Kontak erat didefinisikan sebagai individu dengan kontak langsung secara fisik tanpa alat pelindung diri, berada dalam satu lingkungan, atau berbicara dalam radius 1-meter dengan pasien dalam pengawasan, probable, atau terkonfirmasi. Kontak yang dimaksud terjadi dalam rentang 2 hari sebelum timbul gejala hingga 14 hari setelah timbul gejala (Susilo et. al., 2020).

2.8.8 PENCEGAHAN 1. Vaksin

Sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/12758/2020 Tentang Penetapan Jenis Vaksin Untuk Pelaksanaan Vaksinasi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19), jenis vaksin

Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) yang diproduksi oleh PT Bio Farma (Persero), AstraZeneca, China National Pharmaceutical Group Corporation (Sinopharm), Moderna, Novavax Inc, Pfizer Inc. and BioNTech, dan Sinovac Life Sciences Co., Ltd., sebagai jenis vaksin COVID-19 yang dapat digunakan untuk pelaksanaan vaksinasi di Indonesia (Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 2020).

2. Deteksi Dini dan Isolasi

Seluruh individu yang memenuhi kriteria suspek atau ada riwayat berkontak dengan pasien yang positif COVID-19, harus segera berobat ke fasilitas kesehatan. Pada tingkat masyarakat, usaha mitigasi meliputi pembatasan bepergian dan kumpul massa pada acara besar (physical distancing) (Susilo et.

al., 2020).

3. Higienitas, Cuci tangan, dan Disinfeksi

Rekomendasi WHO dalam menghadapi wabah COVID-19 adalah dengan melakukan proteksi dasar seperti cuci tangan secara rutin dengan alkohol atau air dan sabun, menjaga jarak dengan orang yang memiliki gejala batuk atau bersin, menerapkan etika batuk dan bersin, dan berobat ketika memiliki keluhan yang sesuai kategori suspek. Rekomendasi jarak yang harus dijaga adalah minimal satu meter. Hindari menyentuh wajah terutama bagian mata, hidung atau mulut dengan permukaan tangan. Lalu gunakan tisu atau sapu tangan satu kali pakai ketika bersin atau batuk untuk menghindari penyebaran droplet (Susilo et. al., 2020).

4. Alat Pelindung Diri

Alat pelindung diri (APD) terdiri atas sarung tangan, masker wajah, kacamata pelindung atau face shield, dan gaun nonsteril lengan panjang. WHO tidak merekomendasikan penggunaan APD pada masyarakat umum yang tidak ada gejala demam, batuk, atau sesak (Susilo et. al., 2020).

5. Mempersiapkan Daya Tahan Tubuh

Berhenti merokok dapat menurunkan risiko infeksi saluran napas atas dan bawah. Merokok dapat menurunkan fungsi proteksi epitel saluran napas, makrofag alveolus, sel dendritik, sel NK, dan sistem imun adaptif. Merokok

juga dapat meningkatkan virulensi mikroba dan resistensi antibiotika.

Mengonsumsi alkohol dapat menurunkan fungsi neutrofil, limfosit, silia saluran napas, dan makrofag alveolus. Gangguan tidur berhubungan dengan gangguan proliferasi mitogenik limfosit, penurunan ekspresi HLA-DR, up regulasi CD14+, dan variasi sel limfosit T CD4+ dan CD8+. Defisiensi seng juga berhubungan dengan penurunan respons imun. Salah satu suplemen yang didapatkan bermanfaat yaitu vitamin D. Suplementasi probiotik juga dapat memengaruhi respons imun (Susilo et. al., 2020).

Dokumen terkait