• Tidak ada hasil yang ditemukan

134.5 206.9 0 50 100 150 200 250

Januari Februari Maret April

mm

selesai dalam waktu dua bulan untuk memberikan keseimbangan hara di dalam tanah sehingga unsur hara tersebut akan mudah diserap oleh tanaman. Aplikasi pupuk urea pada musim kemarau (curah hujan <100mm/bulan) sebaiknya tidak dilakukan karena memiliki potensi penguapan yang tinggi. Sebaliknya pada kondisi curah hujan lebih dari 250 mm/bulan aplikasi pupuk urea, MOP, RP, HGFB, dan kieserit juga sebaiknya tidak dilakukan karena menyebabkan kehilangan tinggi melalui proses pencucian.

Hasil pengamatan yang dilakukan oleh penulis rata-rata curah hujan bulan Januari-April 2012 yaitu 151.85 mm/bulan. Sesuai rekomendasi rotasi pemupukan di kebun BKLE dengan curah hujan tersebut tepat untuk aplikasi pupuk RP, HGFB, MOP, dan Palmo. Dalam kondisi curah hujan yang optimal untuk pemupukan dapat mengurangi tingkat kehilangan pupuk akibat pencucian, erosi, dan aliran air. Aplikasi pemupukan dilakukan pada pagi hari mengingat keefektifan tenaga kerja dan penyerapan hara oleh tanaman lebih baik, serta mengurangi penguapan pupuk akibat panas.

Berdasarkan Tabel 19 realisasi pemupukan di BKLE mengalami ketidaktepatan dari rencana aplikasi pemupukan. Hal ini terjadi pada beberapa aplikasi pemupukan seperti RP, HGFB, dan Palmo. Aplikasi pupuk tersebut megalami kemunduran dari rencana pemupukan karena hari hujan dan keterlambatan datangnya pupuk ke gudang kebun akibat keterbatasan alat transportasi dan stok gudang sentral yang tidak selalu tersedia. Sebaliknya pada pupuk MOP diaplikasikan lebih cepat karena pemupukan ini menggunakan stok pupuk tahun kemarin yang masih ada di gudang kebun. Oleh karena itu ketepatan waktu pemupukan kebun BKLE berdasarkan curah hujan dapat dikatakan tepat waktu namun secara teknis di lapangan masih belum memenuhi prinsip ketepatan waktu.

Tepat Cara dan Tempat

Pada umumnya ada tiga cara aplikasi pupuk yaitu secara manual, mekanis, dan aplikasi melalui udara. Metode yang umum digunakan oleh perkebunan

dalam aplikasi pemupukan adalah cara tebar (broadcast) dan dibenam (pocket).

cepat sampai ke zona perakaran dan seminimum mugkin hilang karena penguapan dan aliran permukaan.

Pemupukan di kebun BKLE dilakukan secara manual yaitu dengan sistem

tebar dan dibenamkan. Pupuk Chelated Zinkcoper dan Palmo pada areal berpasir

diaplikasikan dengan cara dibenamkan dengan jarak 50 cm dari pokok tanaman.

Pupuk urea, kieserit, dan MOP diaplikasikan dengan ditebar berbentuk U-shape

dengan radius 1.5-2 m dari pangkal pokok (arah dalam piringan) dan pupuk RP

berbentuk U-shape dengan ditebar radius >2 m dari pangkal pokok (arah luar

piringan). Pupuk HGFB daplikasikan tebar disekeliling pokok dengan radius 0.5-1 m dari pangkal pokok. Penebaran dengan radius 2 m atau pada pelepah dan

berbentuk U-shape dilakukan karena akar tertier dan kwarter yang aktif menyerap

hara lebih banyak terdapat dibawah pelepah di gawangan mati dibanding pada piringan (Lubis, 2008).

Pengamatan yang dilakukan oleh penulis untuk menghitung ketepatan cara/aplikasi pada pemupukan RP didasarkan pada kondisi penyebaran pupuk di piringan, pupuk diecer, pokok yang dipupuk, dosis/takaran pupuk, untilan tinggal, dan karung tinggal. Penulis mengamati 15 penabur pada satu blok. Tanaman yang diamati yaitu tiga baris sampai pasar tengah untuk masing-masing penabur. Berdasarkan hasil pengamatan rata-rata ketepatan aplikasi tenaga penabur untuk pupuk RP adalah 93%. Hal ini menunjukan bahwa tenaga kerja penabur cukup

tepat dalam kegiatan aplikasi pupuk yang dilakukan karena standar kebun ≥90%.

Tenaga penabur telah mengetahui dan memperhatikan aplikasi pada piringan dan

kondisi kemerataan pupuk pada pirirngan. Hasil pengamatan ketepatan aplikasi

dapat dilihat pada Gambar 9.

Berdasarkan pengamatan penulis pada penempatan aplikasi pupuk RP terdapat 1.2% pokok pengamatan tidak terpupuk dan 98.8% pokok pengamatan terpupuk. Pokok yang tidak terpupuk berada di sekitar pasar tengah. Hal ini karena takaran pupuk yang digunakan tidak dikalibrasi dan hanya mengandalkan perkiraan sehingga ketepatan dosis pupuk yang diaplikasikan pada tiap pokok menjadi tidak rata dan tidak sampai pasar tengah. Selain itu juga karena piringan yang kotor dan tertutup oleh gulma serta kacangan membuat pokok tidak terpupuk.

Pada pengamatan penempatan aplikasi pupuk RP terlihat bahwa 2.3% pupuk ditebar di piringan, 6.7% ditebar di gawangan, 5.2% ditebar di susunan pelepah dan gawangan, 9.1 % ditebar di susunan pelepah dan piringan, serta

76.7% (standar kebun ≥95%) pupuk telah ditebar tepat di susunan pelepah.

Artinya ketepatan penempatan pupuk masih cukup rendah. Hal ini karena kurangnya arahan dari asisten dan mandor pupuk serta tidak adanya perhatian dari penabur pupuk dalam penebaran menjadi sebab kesalahan dalam penempatan lokasi pemupukan.

Prestasi Tenaga Kerja Pemupuk

Prestasi tenaga kerja pemupuk adalah kemampuan seorang pemupuk dalam melakukan pekerjaan penaburan pupuk, dilihat dari output yang dihasilkan. Standar untuk setiap tenaga penabur adalah 550-600 kg/HK pada hari normal kerja (7 jam) sedangkan pada hari jumat 350-400 kg/HK sesuai dengan jenis pupuk dan dosis pupuk yang digunakan.

Hasil pengamatan penulis berdasarkan Tabel 12 rata-rata untuk pemupukan RP prestasi tenaga penabur dari bobot yang diaplikasikan telah mencapai standar kebun. Akan tetapi, pada pengamatan hari jumat tanggal 24 Maret 2012 tenaga penabur pupuk tidak mencapai standar kebun. Hal ini karena pada tanggal tersebut output pemupukan distandarkan pada hari normal (7 jam) untuk mengejar target pemupukan RP, agar bulan Maret selesai dan mengurangi persediaan pupuk di gudang pupuk. Prestasi tenaga kerja penabur untuk aplikasi pupuk MOP masih dibawah standar kebun kecuali pada tanggal 5 Maret 2012. Hal ini disebabkan oleh jumlah tenaga penabur yang berlebih. Sebagai contoh pada tanggal 7 Maret 2012 dengan output/HK adalah 550 kg dan jumlah pupuk 4,534 kg maka tenaga kerja yang dibutuhkan seharusnya 8 orang saja. Hal ini berakibat pemupukan lebih cepat selesai tetapi dari segi biaya akan bertambah. Selain itu juga kurang efisiennya tenaga kerja dalam mengatur jam kerja, padahal jika mereka menggunakan jam kerja dengan baik output yang dicapai akan lebih besar dari standar kebun.

Penulis juga melakukan pengamatan terhadap sepuluh orang tenaga

sebagai penabur pupuk, dan pendidikan. Data diperoleh dari data sekunder jumlah aplikasi pupuk oleh tenaga pemupuk dalam seminggu dapat dilihat pada Tabel 20.

Tabel 20. Profil Pemupuk dan Prestasinya Nama Pemupuk Umur (tahun) Pendidikan Lama Bekerja (tahun) Prestasi kerja (kg/HK) ST Dev Hernita 39 SD 6 786.9 218.50 Rukhayah 40 SD 6 786.6 218.50 Misnah 31 SMP 1 786.9 218.54 Supriatin 35 SMA 1 825.2 210.29 Suharni 38 SMP 1 825.2 210.29 Sutimah 43 SD 6 835.1 197.28 Siti Rahma 29 SMP 2 835.4 197.15 Mahni 31 SD 1 851.8 204.62 Aswi 40 SD 4 851.9 204.57 Riska 21 SMA 0.5 858 209.79

Sumber: Data Kebun (2012)

Data diuji dengan uji korelasi antara umur dengan prestasi, tingkat pendidikan dengan prestasi, lama bekerja dengan prestasi. Hasil menunjukan bahwa tidak terdapat korelasi yang nyata antara pengaruh umur, tingkat pendidikan, dan lama bekerja terhadap prestasi yang dicapai penabur pupuk. Dari hasil ini menunjukan bahwa kualifikasi tenaga penabur pupuk relatif merata.

Hambatan dan Upaya Peningkatan Keefektifan Pemupukan

Pemupukan merupakan kegiatan yang sangat penting karena berbanding lurus dengan produksi buah. Jika pemupukan dilakukan tidak sesuai prosedur yang ada, maka akan berakibat menurunnya produktivitas kelapa sawit. Dalam kaitannya dengan kegiatan pemupukan di kebun BKLE terdapat beberapa hambatan diantaranya adalah:

a. Gudang penyimpanan pupuk yang kurang memadai sehingga ketika hujan

turun akan menyebabkan pupuk yang telah diuntil membatu. Sebaiknya dibuat gudang pemupukan yang sesuai standar penyimpanan pupuk dan

dipisahkan antara pupuk yang telah diuntil dengan pupuk yang belum diuntil agar mudah dalam perhitungan kebutuhan pupuk dan stok pupuk digudang.

b. Takaran untilan dan takaran penabur yang digunakan untuk berbagai

macam jenis pupuk menyebabakan tidak tepatnya dosis untilan dan penaburan. Hal ini karena tidak adanya pengawasan pada kegiatan penguntilan pupuk dan jarang sekali dilakukan penimbangan sampel untilan oleh tenaga penguntil. Perlu adanya pengawasan dalam ketepatan bobot untilan dan sering dilakukan kalibrasi takaran agar sesuai dosis yang direkomendasikan.

c. Pelangsir dan pengecer pupuk cukup sulit menentukan jumlah untilan

pupuk dengan benar karena perbedaan jumlah pokok antara rekomendasi dengan di lapangan sehingga untilan pupuk tidak sesuai. Oleh karena itu perlu dilakukan sensus pokok yang rutin untuk mengetahui jumlah tanaman dan kondisi blok yang ada.

d. Penabur pupuk kurang memperhatikan ketepatan dosis per pokok sehingga

masih ada pokok tidak terpupuk dan pupuk tercecer di pasar tengah. Sebaiknya sebelum kegiatan pemupukan, dilakukan penjelasan tentang pentingnya ketepatan dosis kepada penabur agar mereka menyadari bahwa selain bekerja juga harus dituntut kualitas pemupukan.

e. Kurangnya simulasi dari mandor atau asisten tentang aplikasi pemupukan

yang benar kepada penabur. Oleh karena itu perlu dilakukan simulasi terlebih dahulu sebelum pemupuk masuk ke blok oleh asisten atau mandor pupuk.

Oleh karena itu, upaya dalam meningkatkan keefektifan pemupukan dapat dilakukan dengan cara pengaturan transportasi yang baik, penyediaan tenaga kerja yang cukup, akses atau prasarana jalan yang baik, pemupukan dengan berpedoman pada prinsip 5T, pengawasan atau supervisi yang baik, penerapan

reward dan punishment yang adil. Apabila upaya diatas dapat dijalankan maka efektivitas pemupukan dapat tercapai.

Defisiensi Tanaman

Ketersediaan hara dalam tanah yang rendah dapat berakibat tanaman pemupukan tanaman kelapa sawit adalah N, P, K, Mg, Cu, dan B. Masing-masing unsur hara tersebut diharapkan tersedia cukup dalam tanah. Faktor penyebab defesiensi yaitu jumlah pupuk yang diberikan tidak mencukupi, genangan air, aplikasi pupuk yang buruk, dan perkiraan efesiensi pemupukan yang tidak tepat. Menurut Adiwiganda (2007) menyatakan bahwa defisiensi salah satu unsur hara dapat dideteksi secara visual pada daun tanaman kelapa sawit.

Pengamatan yang dilakukan oleh penulis secara visual terhadap gejala defisiensi hara yaitu sebanyak 36.16% mengalami defisiensi unsur N, 25.05% mengalami defisiensi unsur K, 7.98% mengalami defisiensi unsur B, 6.36% mengalami defisiensi unsur P, dan 4.14% mengalami defisiensi unsur Mg. Gejala defesiensi N disebabkan oleh berkurangnya mineralisasi N pada tanah dan tidak cukupnya atau tidak efektifnya aplikasi nitrogen. Selain itu juga aplikasi pemupukan yang tidak sesuai dengan rekomendasi yang telah ditentukan. Dampaknya yaitu menurunnya produksi tanaman kelapa sawit pada tahun berikutnya. Peta status hara daun kebun BKLE dapat dilihat pada Lampiran 8.

Biaya Pemupukan dan Cost/Ha Pemupukan

Menurut Adiwiganda (2002) biaya pemeliharaan tidak kurang dari 50 % adalah biaya pemupukan dari biaya pengadaan, transportasi, dan pengawasan. Pemupukan pada tanaman kelapa sawit membutuhkan biaya yang sangat besar sekitar 30% terhadap biaya produksi atau sekitar 60% terhadap biaya pemeliharaan. Berdasarkan data yang diperoleh bahwa biaya pemupukan kebun

BKLE untuk tahun 2011 tanaman menghasilkan sebesar Rp 10,496,352,201 dan

biaya pemeliharaan tanaman menghasilkan sebesar Rp 15,306,286,506. Total

cost/ha untuk kegiatan pemupukan adalah Rp 5,030,337. Artinya bahwa rata-rata untuk kegiatan pemupukan dalam 1 ha membutuhkan biaya sebesar Rp 5,030,337. Secara umum untuk biaya pemeliharaan tanaman menghasilkan pada tahun 2011 dapat dilihat pada Lampiran 10.

Kesimpulan

Pelaksanaan magang sudah sesuai dengan tujuan, terutama pada aspek khusus pemupukan. Manajemen pemupukan pada kebun Bangun Koling Estate (BKLE) secara umum dilakukan sesuai dengan SOP yang telah ditetapakan oleh PT. Bumitama Gunajaya Agro pada setiap masing-masing kegiatan dari pemeliharaan sampai dengan panen.

Dalam mencapai produksi yang optimal harus memperhatikan prinsip pemupukan 5T (Tepat Dosis, Tepat Jenis, Tepat Cara, Tepat Waktu, Tepat Tempat). Ketepatan jenis dan ketepatan cara di kebun BKLE secara umum sudah berlangsung dengan baik. Ketepatan dosis untilan sudah sesuai dengan standar kebun tetapi dalam aplikasi di lapangan masih belum tercapai sesuai dengan rekomendasi. Kriteria ketepatan waktu belum berlangsung secara baik karena terjadi kemunduran jadwal pemupukan akibat belum tersedianya pupuk di gudang kebun. Aplikasi pupuk disesuaikan dengan pola curah hujan. Kriteria ketepatan tempat juga belum sesuai dengan SOP yang telah ditetapkan oleh kebun.

Realisasi pemupukan belum sepenuhnya dilakukan sesuai rekomendasi, hal ini dapat diketahui masih cukup banyak tanaman yang mengalami defesiensi hara. Penggunaan tenaga kerja pemupukan masih belum efisien sehingga berdampak pada menurunnya efesiensi pemupukan. Dari hasil uji korelasi menunjukan pengaruh umur, pendidikan, dan lama bekerja sangat lemah pengaruhnya terhadap prestasi yang dicapai pemupuk.

Saran

Siklus pemupukan di kebun BKLE perlu ditingkatkan kembali dalam hal teknis pemupukan untuk mengurangi ketidakefisienan waktu, tenaga kerja, dan biaya yang dikeluarkan. Perlu disusun strategi untuk meningkatkan efesiensi pemupukan sehingga tercapainya realisasi pemupukan, kualiatas pemupukan, dan mengoptimalkan konsep pemupukan 5T. Selain itu perlu dilakukan kalibrasi terhadap target tenaga pemupukan dan disesuaikan dengan dosis, jenis pupuk, dan kondisi areal, serta keadaan infrastruktur. Pendataan dan kalibrasi secara

terkontrol terhadap alat-alat dan perlengkapan kesehatan bagi tenaga pemupuk seperti takaran untilan, takaran penabur, dan APD harus dilakukan secara rutin. Kegiatan pengawasan pemupukan dari Asisten Divisi sebagai koordinator BMS harus dilakukan setiap hari agar dapat mengurangi tingkat kesalahan dalam kegiatan pemupukan.

   

 

DAFTAR PUSTAKA

Adiwiganda, R. 2007. Manajemen Tanah dan Pemupukan Kelapa Sawit. Dalam S. Mangoensoekarjo (Eds.). Manajemen Tanah dan Pemupukan Budidaya Tanaman Perkebunan. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.

. 2002. Field management on fertilizer application at oil palm plantation. Seminar on Fertilizer Management for Oil Palm, Organized by PT Sentana Adidaya Pratama, Canadian Potash Exporter (Canpotex), Potash and Phosphate Institut (PPI) and Indonesian Oil Palm Research Institut (IOPC). Bali. P. 40.

Andayani, D. 2008. Pengelolaan Pemupukan Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) Tanaman Menghasilkan di PT Era Mitra Agro Lestari (BSP Group), Sarolangun, Jambi. Skripsi. Program Sarjana, Institut Pertanian Bogor. Bogor. 70 hal.

Darmosarkoro, W. 2003. Defesiensi dan Malnutrisi Hara pada Tanaman Kelapa Sawit. Dalam W. Darmosarkoro. E.G Sutarta, dan Winarna (Eds). Lahan dan Pemupukan Kelapa Sawit. PPKS. Medan.

Ditjenbun. 2011. Ekspor Produk Kelapa Sawit Terus Naik. http://ditjenbun.deptan.go.id/index.php/component/content/article/36- news/203-ekspor-produk-kelapa-sawit-terus-naik.html [30 Januari 2012].

Ditjenbun. 2011. Luas Perkebunan dan Produksi Kelapa Sawit di Seluruh Indonesia. www.ditjenbun.deptan.go.id/index.php/ teknik- budidaya.html. [ 30 Januari 2012].

Fauzi, Y., E. Widyastuti, I. Satyawibawa, dan R. Hartono. 2008. Kelapa Sawit: Budidaya Pemanfaatan Hasil Limbah Analisis Usaha dan Pemasaran Edisi Revisi. Penebar Swadaya. Jakarta. 168 hal.

Febriana, R. 2009. Pengelolaan Pemupukan Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di Perkebunan PT Sari Aditya Loka I (PT Astra Agro Lestari, Tbk.), Kabupaten Merangin, Propinsi Jambi. Skripsi. Program Sarjana, Institut Pertanian Bogor. Bogor. 97 hal.

Lubis, A. U. 2008. Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di Indonesia , Edisi 2. Pusat Penelitian Marihat Bandar Kuala Pematang Siantar. 362 hal.

 

Mangoensoekarjo, S. 2007. Manajemen Tanah dan Pemupukan Budidaya Perkebunan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. 408 hal.

Pahan, I. 2010. Panduan Lengkap Kelapa Sawit Managemen Agribisnis Dari Hulu Hingga Hilir. Jakarta: Penebar Swadaya.

Poeloengan, Z., M.L. Fadli, Winarna, S. Rahutomo, dan E.S. Sutarta. 2003. Permasalahan Pemupukan pada Kelapa Sawit. Dalam W. Darmosarkoro, E.G. Sutarta, dan Winarna (Eds). Lahan dan Pemupukan Kelapa Sawit. PPKS. Medan

Qomar, T.R. 2010. Manajemen Pemupukan Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) Tanaman Menghasilkan di Angsana Estate, PT Ladangrumpun Suburabadi, Minamas Plantation, Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan. Skripsi. Program Sarjana, Institut Pertanian Bogor. 80 hal.

Setyamidjaja, D. 2006. Kelapa Sawit Teknik Budidaya, Panen, dan Pengolahan.Yogyakarta:Kanisius

Sutarta, E.S., S. Rahutomo, W. Darmosarkoro, dan Winarna. 2003. Peranan Unsur Hara dan Sumber Hara pada Pemupukan Tanaman Kelapa Sawit. Dalm W. Darmosarkoro, E.G. Sutarta, dan Winarna (Eds). Lahan dan Pemupukan Kelapa Sawit. PPKS. Medan.

Winarna, W. Darmosarkoro, dan E.S Sutarta. 2003. Teknologi Pemupukan Tanaman Kelapa Sawit. Dalam W. Darmosarkoro, E.G. Sutarta, dan Winarna (Eds). Lahan dan Pemupukan Kelapa Sawit. PPKS. Medan.

                       

LAMPIRAN

 

Dokumen terkait