• Tidak ada hasil yang ditemukan

D J A BATAN ORGANISATOR

Dalam dokumen AGA ADMINISTRAS! NEGARA (Halaman 106-130)

Fungsi mengorga­

nisir

Sjarat-sjarat orga­

nisasi

Djabatan organi­

sator

1. L ebih dahulu telah diuraikan:

a. bahw a fungsi „m engorganisir” adalah bagian dari fungsi ,,administrasi” ja n g p ad a pokoknja m eliputi kegiatan merenljanakan, mengorganisir dan me?nimpin

(lihat Bab III);

b. bahw a fungsi m engorganisir dari aw al sam pai achir m eliputi delapan djenis kegiatan (lihat Bab I V ) ; c. bahwa „organisasi adalah gabungan alat-alat jang disusun

dalam hubungan kerdjasama untuk mentjapai sesuatu tudjuan tertentu’ '’ (lihat Bab V ).

2. D alam pada itu telah didjelaskan p u la, bahw a untuk mentjapai suatu organisasi ja n g baik atau djitu pada dasarnja harus dipenuhi sjarat bahw a:

a. tudjuan haruslah tepat, b. alat-alat haruslah tepat,

c. penjusunan haruslah tepat pula.

K etiga hal ini adalah masalah jan g harus dipetjahkan dalam djabatan organisator. D engan kata lain, tudjuan pekerdjaan seorang organisator ialah m entjapai suatu organisasi ja n g memenuhi tiga sjarat itu.

3. Selandjutnja perlu diperhatikan bahw a lepas dari tudjuannja, suatu organisasi bisa besar dan bisa ketjil.

D alam organisasi ja n g ketjil, fungsi administrasi ja n g m eliputi tiga kegiatan, masih mungkin diletakkan dalam tangan satu orang. T etap i makin besar organisasi, m akin mutlaklah keperluan untuk m em bagi-bagi pekerdjaan.

Pekerdjaan penjusunan organisasi misalnja d ap at

di-92

tu gaskan setjara chusus pada satu orang atau pada suatu b a g ia n . K a re n a dem ikian dalam uraian selandjutnja d ip e g a n g pengertian, bahw a ja n g m em egang djabatan o rgan isato r atau ja n g disebut organisator adalah pen- d ja b a t, ja n g b ertan ggu n g djawab tentang pekerdjaan p en jusun an organisasi. D engan adanja tudjuan dan b e n tu k ja n g berbeda-beda p ula, serta ketjakapan tenaga d a n p eralatan ja n g berlain-lainan dalam berdjenis organisasi, tid aklah m udah, bahkan tidaklah mungkin u n tu k m enetapkan, siapa ja n g mendjadi organisator ja n g baik. K a re n a itu pem bahasan selandjutnja dibata­

si p a d a soal-soal um um ja n g bertalian dengan sjarat- sjara t ja n g harus dimiliki seorang organisator, baik m en gen ai sifat-sifat pribadinja, m aupun pengetahuan d a n k etjak ap an n ja.

4. L e b ih d ahu lu sudah djuga diuraikan bahwa untuk Sifat dan

sesuatu p ekerdjaan p ad a pokoknja diperlukan kegiat- ,e‘ >ro u an berpikir, kem udian kegiatan menjelenggarakan. Pemi­

kiran oran g pan dai ja n g bersifat menghasilkan sesuatu ja n g baru disebut inventif („inven tive” ) dalam arti

„m e n d a p a tk a n ” . Istilah ini berhadapan dengan sifat ,,reproduktif” („rep ro d u ctive” ) dalam arti penjeleng- g araan . D a p at dipastikan bahwa pekerdjaan seorang o rgan isator tergolon g „in ven tif” . Bahkan kegiatannja d a p a t disam akan dengan kegiatan seorang seniman u n tu k m entjiptakan sesuatu. K edua-duanja meletak-, kan d alam pekerdjaannja sesuatu dari diri-pribadinja.

M e re k a tidak m em buat sesuatu menurut bentuk-ben- ' tu k tertentu, m elainkan sesuatu ja n g memiliki tjorak p em buatn ja. Seorang organisator mentjiptakan sesu­

a tu organisasi ja n g mendjadi projeksi dari pribadinja, sifatnja ataup un perangainja. Ia bukanlah manusia m en u ru t ukuran ja n g biasa. T en tu banjak hal jan g d a p a t m endorong seseorang untuk mempunjai minat d alam pekerdjaan organisasi. K aren a itu banjak pula

Type harmonis

Type disharmonis

„ ty p e ” atau m atjam organisator. Pcrtanjaan ja n g tim ­ bul ialah: „m an u sia bagaim an akah ja n g disebut orga­

nisator ?”

5. T y p e ja n g pertam a adalah orang ja n g dapat b er­

pikir setjara imbang dan harmonis dan m erasakan p an g ­ gilan un tuk m engatur lingkungan kehidupannja setjara harm onis. Setjara n e g a tif dapat dikatakan, seorang ja n g tidak m enghendaki keadaan ja n g ru w et atau tidak teratur sekelilingnja, karena keadaan itu bertentangan dengan kepribadiannja dan m engganggu dia dalam ketenangan dan keseim bangannja. T y p e organisator ja n g harmonis ini menjukai kerapian dan disiplin; ia tidak m enjukai pertentangan atau pertengkaran. Pada um um nja orang-orang dari type ini tidak akan mun- tjul sebagai perom bak dan p en ggu b ah keadaan dalam dunia ini, karena tem peram ennja ja n g kurang deras dan keseganannja p ada hal-hal ja n g m enjukarkan.

G olongan organisator ja n g harmonis ini terd ap at seba­

gai pen djabat, ja n g ditugaskan untuk m engorganisir setjara insidentil dan djuga un tuk m engawasi pekerdja- an dalam bagian-bagian tertentu. D alam susunan fungsionil atau hierarchis mereka bertugas sebagai kepala suatu bagian. Banjak asministrator tergolong p ad a type ini, dengan ketjenderungannja p ad a biro­

krasi dan formalisme.

6. J a n g berlaw anan dengan type tadi adalah organ i­

sator ja n g disharmonis, ja itu ja n g tidak m em iliki sifat ja n g im bang dan harmonis. Djustru karena itu ia suka m engatur supaja ia m endapat pegangan. D orongan baginja untuk mengorganisir berdasarkan „overcom - pensatie” , ialah rasa keperluan m engim bangkan suatu kelem ahan setjara berlebih-lebihan. U m um nja hal itu tidak disadarinja. O rganisator ja n g disharmonis ini m em punjai sifat ja n g lebih deras daripada ja n g bersifat

94

harmonis. Kcbanjakan ia tidak begitu pandai dan tidak mempunjai pandangan jang begitu luas. Ia mempunjai idam-idaman ja n g lebih tinggi, kebanjakan terlalu tinggi. Dalam usahanja sering njata bahwa ia kurang sadar dan tidak konsekwen; ada kalanja bahwa sukar diketahui, bagaim ana sikapnja terhadap orang lain.

T y p e jan g disharmonis ini umumnja terdapat pada djabatan-djabatan atasan. Pengusaha besar, jang ter­

masuk golongan ini, tidak djarang.

< 7. Dengan mengambil ukuran jan g lain, maka di- Type petualang

samping kedua type jan g dimaksud diatas terdapat type petualang (,,adventurer” ). O rang seperti ini senang mengambil risiko. Tugas organisasi adalah suatu sport baginja. Jang mendorong untuk bertindak bukanlah semata-mata pikirannja, melainkan perasaannja jang umumnja dinjatakan sebagai intuisi atau penglihatan

batin. Ia tidak mempunjai tjukup kesabaran untuk \ melakukan pekerdjaan persiapan; ia bergerak l a n g s u n g

kearah tudjuannja. D itengah djalan ia memilih metode dan alat-alat jan g diperlukannja, sepandjang itu di­

m ungkinkan oleh keadaan. Susunan jang ditjapainja djuga bertjorak oportunistis dan seringkali ia harus m em utar haluan. Suatu garis penjusunan jang tetap um um nja tidak terlihat. Bahkan dapat terdjadi, bahwa apabila ada rintangan atau hal jang mengetjewakan ja n g tentu tidak dapat dihindarkan pada tjara jang

ditem puhnja — ia meninggalkan tudjuannja bermula dan m em ulai sesuatu jan g baru. Djelaslah kiranja, bahw a seorang petualang sebagai organisator tidak atau sukar untuk menduduki djabatan itu. T yp e ini banjak terdapat sebagai kepala perwakilan atau sebagai pendjual ja n g berkeliling dari suatu perusahaan. K alau m ereka m entjapai sukses, m aka itu tidak terletak pada kepandaiannja sebagai organisator, melainkan pada kegiatan dan tjara ia bertindak.

Type konstruktur 8. Berlaw anan dengan type tadi, ja n g digerakkan oleh perasaannja, terd ap at type konstruktur, ja n g tidak m engikuti perasaan, tetap i senantiasa tenang, seraja m em pertim bangkan apa ja n g akan dibuatnja. Ia m eng- riskir sesedikit m ungkin, bahkan ia m engadakan perhitungan leb ih dahulu. Ia tidak m engorganisir sem aunja, tetapi ia sungguh-sungguh bertindak sebagai konstruktur, ja itu sebagai pem bentuk dan pem bangun, ja n g m engadakan tim bang-m enim bang, ukur-m engukur, jan g lebih d ahu lu m em projektir dan memeriksa.

Type tjampuran 9. P ad a um um nja pilihan dapat didjatuhkan pada type ja n g m erupakan sintese atau pertem uan dari type petualang dan type konstruktur. D engan dem ikian diper­

oleh organisator, ja n g m enggunakan baik perasaannja m aupun pikirannja; ja n g m engam bil risiko sesedikit m ungkin, tetapi kalau perlu djuga tidak segan m en g­

am bil risiko itu. D a ri tangannja d a p a t terdjadi sesuatu ja n g praktis dan dari otaknja tidak lah ir hal-hal ja n g hanja m enimbulkan pem ikiran atau kem ungkinan, m elainkan sesuatu ja n g kongkrit. Kombinasi dari kedua type ini menijadi idam-idaman bagi hampir semua djabatan jang berhubungan dengan tugas organisasi. Pada tindakan ja n g satu soal pem ikiran perlu m engam bil tem pat ja n g utam a, p ad a ja n g lain soal perasaan ja n g didahulukan.

M ereka ja n g dalam djabatannja harus b erh u bu n gan dengan orang-orang, dengan sendirinja harus leb ih banjak bekerdja dengan perasaan darip ad a seorang organisator ja n g senantiasa m enghadapi suatu projek diatas kertas.

Type idealis io . D engan norm a ja n g lain lagi dapat dibedakan organisator m enurut type idealis dan type materialis.

Pada type ja n g idealistis itu tam pak m enondjol k e b u ­ tuhan dan kegem aran untuk menjusun sesuatu, sehing­

ga itu ,,berdjalan” . H asrat dem ikian baik dan berguna

untuk tiap-tiap djabatan organisasi, djuga untuk tugas organisasi ja n g bersifat insidentil, nam un untuk pekerdjaan jan g sangat sederhana. Harus diperhatikan pula, bahw a hasrat ifu dapat m engakibatkan pula, b ah w a organisasi itu tidak lagi dilihat sebagai alat, tetapi sebagai tudjuan. D alam hal ini ada bahaja p ula bahw a ditjapai suatu organisasi ja n g berlebih- _ lebihan.

u . B agi type materialis organisasi itu merupakan alat Type m aterialis

untuk m em etik keuntungan kebendaan. D orongan ini um um nja terdapat p ad a pengusaha-pengusaha dan para pem bantunja. M ereka mendjalankan tugas orga­

nisasi sebaik m ungkin dengan harapan akan mendapat keuntungan bagi diri sendiri. K aren a itu dapat terdjadi bahw'a ditjapai suatu bentuk ja n g sudah „dikuras”

habis-habisan, sedang keindahan pekerdjaan tidak dilihat lagi. Suatu kombinasi dari type idealis dan materi­

a lis um um nja terdapat p ad a pendjabat organisator, dengan titik berat p ad a salah satu djurusan sepandjang itu sesuai dengan tugas ja n g dihadapi.

12. Sclandjutnja dikenal organisator ja n g bersifat Type f<n m alu

formalis disam ping ja n g bersifat fungsionalis. Organisator jang formalis mem perhatikan sungguh-sungguh segi-segi formil d aripada organisasi. Segala sesuatu harus tjotjok.

Berdjenis sistim dan statistik dipergunakannja untuk m elakukan pengawasan, malahan berdjalannja sistim m erupakan suatu kegem aran bagi type itu. D alam ke­

adaan ja n g berlebih-lebihan organisasi jan g ditjapainja berisi unsur-unsur ja n g tidak berguna, w alaupun susun­

an itu tam pak rap i dan tidak merusak. Paling tinggi diperlukan leb ih banjak waktu dan lebih banjak uang.

T y p e ini djarang terdapat pada djabatan atasan, karena h al-hal ja n g formil lebih diberatkannja daripada hal- hal ja n g penting. Seorang pem egang-buku umumnja

Type fu.ngsiona.lis

Soal kombinasi

Kesimpulan

m enam pakkan sifet-sifat type ini, b egitu p u n p en djabat- p en d jab at un tuk statistik.

13. L a in la h sifat organisator ja n g fungsionalis. S oal ke­

baikan organisasi tak dipentingkannja. J a n g p en tin g b agin ja ia la h b agaim an a organisasi itu berdjalan ke- arah tudjuannja. K a la u seorang form alis m em punjai perh atian p ad a kein dahan organisasi, fungsionalis itu leb ih m em buka m ata p a d a kegu naan nja. D a n sam pai ta ra f tertentu sifat ini d ap at dibenarkan. K a re n a kepi- tjikannja banjaklah hal ja n g tid ak m end ap at perh atian ja n g w adjar. D en gan keseganan ia m engesahkan tindak an-tindakan, ja n g m enurut perasaannja sem ata-m ata bersifat formalistis, misalnja h al-hal ja n g diinstruksikan oleh djaw atan perburuhan atau djaw atan p adjak. Sifat ini m asih banjak terd ap at p ad a kaum p en gu saha.

14. T eran glah dju ga kiranja, b a h w a em pat golongan type organisator dim aksud dipengaruhi oleh faktor- faktor ja n g berbeda-beda, bahkan bertjam puran. K a ­ rena dem ikian pem baw aannja tentu bertjam p u ran p u ­ la. K om bin asi ja n g banjak terdapat ialah:

a. harmonis — konstruktif— idealistis — formalistis atau fungsionalistis;

b. disharmonis— bersifat petualang— materialistis— fung­

sionalistis;

c. harm onis — bersifat petu alan g— m aterialistis— fung­

sionalistis.

K om binasi ini sam pai p ad a tara f tertentu m em punjai h u b u n gan tim bal-balik dengan typ e m anusia pada um um nja, ja itu individualistis, egosentris atau b erp e­

rasaan sosial.

15 . D ari u raian diatas d a p a t disim pulkan, bahw a seoran g organisator ja n g baik sebenarnja term asuk dalam tiap-tiap type ja n g telah dikem ukakan. Satu 98

atau dua dari itu mungkin lebih berpengaruh daripada ja n g lain, tetapi ja n g lain itu djuga perlu ada, ketjuali apabila organisator itu m endjalankan tugas ja n g ter­

batas. M akin luas pekerdjaan organisasi itu dan pada um um nja makin tinggi kedudukan pendjabat organi­

sasi itu, makin lebihlah type jan g perlu dimilikinja.

O rganisator jan g mem punjai kedudukan pada puntjak oi'ganisasi mem persatukan pada dirinja semua sifat- sifat ja n g dimiliki para pem bantunja. Suksesnja sebagai pem im pin sebagian besar tergantung pada banjaknja segi pengetahuannja.

Ba b I X

P E M IM P IN DAN P E R A N A N N JA

Administrator sebagai pemim­

pin

H al istilah

1. Lebih dahulu dalam rangka penindjauan tentang fungsi daripada administrasisebagai kegiatan jang dila­

kukan untuk mengendalikan suatu usaha (pemerintah agar tu- djuannja tertjapai — telah diadakan penilaian tentang fungsi administrasi p ad a um um nja dan tentang fungsi merentjanakan dan mengorganisir pada chususnja. M en ge­

nai hal-hal ja n g telah dikem ukakan tentang fungsi memimpin, ja n g m endjadi fungsi pokok ja n g ketiga di- dalam proses administrasi, d ap atlah diam bil sebagai saripati:

a. bahw a organisasi ja n g telah disusun m em erlukan pim pinan untuk mendjamin tertjapainja tudjuan or­

ganisasi itu;

b. bahw a p ada dasarnja pemimpin organisasi bertugas terus-menerus memelihara dan memadjukan organisasi itu setjara strukturil dan setjara fungsionil;

c. bahw a seorang pendjabat ja n g bertugas m em im pin itu pada hakekatnja adalah seorang administrator, ja n g setidak-tidaknja memenuhi sjarat-sjarat djabat-

an itu pada um um nja. *

D engan b erpegan g pada hal-hal diatas sebagai patokan, perlu kiranja untuk m enjelam i setjara lebih m endalam , apakah ja n g m endjadi tugas seorang pem im pin, sjarat- sjarat apa ja n g harus dipen u hi setjara chusus dan b a ­ gaim ana ia melakukan kegiatannja.

2. U ntuk itu pertam a-tam a perlu ditelitikan beberapa hal m engenai penggunaan istilah. K a ta „memimpin”

sebagai kata-kerdja berpokok p ada kata „pimpin” dan ioo

„b e rp im p in ” dalam arti „berp im pinan tangan” atau

„b ergan d en gan tan gan” . M isalnja: „d u a sedjoli itu turun dari m obil berpim pinan tangan” . D alam h u ­ bu n gan itu kata „m em im pin” m engandung arti:

1. „m en u n tu n ” (m engantar, menundjukkan djalan) atau „m em b im b in g” ;

2. „m em baw a kedjalan atau ketudjuan tertentu” (djuga dalam arti kiasan); „m en getiiai” (rapat, perkum ­ pulan), „m e n g e p a la i” (organisasi, perusahaan);

3. „m e la tih ” (m endidik, m engadjar) supaja dapat m engerdjakan sendiri.

D em ikian beberapa keterangan ja n g dapat dipetik dari „P u rw o d arm in to” . D a p a t ditam bahkan bahwa kata ,,pimpinan" dalam arti „le id in g ” atau „m anage­

m ent” (kata benda abstrak) m enundjuk pada kegiatan atau perbuatan „m em im p in ” . D engan kata ifu djuga d ap at dimaksud instansi atau pendjabat ja n g memim­

pin (kongkrit), seperti dalam kalimat: „in i kehendak pim pinan” . K a ta „kepemimpinan” dalam arti „leiderschap” atau „leadership” ja n g dibentuk dari kata „pem im pin”

dengan kata aw alan ke dan achiran an, menundjuk pada hal atau pem baw aan jan g mendjadi dasar, sehing­

ga seorang m endjadi pemimpin.

3. Berikut perlu diperhatikan bahwa tenaga pimpinan Fungsi kontaktuil

m endjalankan fungsi ja n g bersifat kontaktuil, jakni ia senantiasa m em punjai kontak atau hubungan dengan orang-orang. Bahkan sebagai pem egang peranan jang pertam a didalam seluruh organisasi, ia m endjalankan pe­

ranan itu via orang-orang jan g terdapat didalam orga­

nisasi. D engan tudjuan tertentu ia berusaha,membawa

— djuga dalam arti kiasan — orang-orang itu kesuatu taraf, djurusan atau alam pikiran, dengan penuh pe­

ngertian pula tentang keadaan dan kepentingan orang- orang ja n g bersangkutan. M emimpin organisasi berarti m em im pin suatu organisme. Bagaikan memimpin orang*

101

ia mendjuruskan perhatiannja kepada ketjerdasan, kom ­ binasi serta reaksi jan g tepat tenaga pikiran oran g itu, kemudian pada kemampuan dan ketjakapan tan gan dan kakinja sebagai alat pengerdja atau p en jelen ggara.

Pada manusia sedjak lahirnja sudah tertjipta susunan dan hubungan kerdjasama antara tiap-tiap organ , pun antara bagian kepala dengan alat-alat pen gerdja, tin g­

gal soalnja mem pertinggi prestasi orang itu dengan m em ­ pertinggi mutu kem am puan tiap-tiap organ dan tiap- tiap bagian dimaksud. K a la u pada seorang satu fung­

si didjalankan oleh satu organ, m aka d idalam suatu organisasi rata-rata fungsi satu organ didjalankan oleh seorang, bahkan oleh sekumpulan orang. D en gan adanja orang-orang dan bagian-bagian ja n g m asing-m asing merupakan organ tersendiri, maka tugas ja n g lebih penting lagi bagi seorang pem im pin ialah bagaim an a meletakkan dan melantjarkan hubungan kerdjasam a antara orang-orang itu, sehingga keseluruhannja m e­

rupakan satu organisme jan g harmonis dan efektif.

lApomn Seminar ^ Untuk memperdalam pengetahuan dalam soal

'fistensi erdja banjak jan g diusahakan atas dorongan

Lem baga Administrasi N egara. D alam hubu n gan itu diminta perhatian terhadap lampiran buku i?ii, ja n g m e­

m uat „L aporan umum Seminar Efisiensi Kerdja dalam Dinas Pemerintahan” pada tanggal 30 O k to b er 1958, jan g dititik-beratkan pada masalah „kepim p in an ” - Laporan jan g lengkap, begitupun kedua prasaran jan g disebut dalam laporan itu, dapat dibatja dalam N o ­ mor Perkenalan „M ad jalah Administrasi N e g a ra ” bulan Desember 1958. Perhatian chusus diminta terhadap tulisan-tulisan itu. Penulis buku ini berkesan, bahkan berkejakinan bahwa erat hubungan usaha-usaha di­

maksud dengan usaha mengisi kelapangan-kelapangan jan g dikonstatir Misi Litchfield seperti dimuat dalam Bab I buku ini- Selandjutnja perlu ditjatat bahwa 102

d a la m u raian ja n g berikut um umnja diikuti alam pikiran di Prantjis m engenai soal pim pinan, antara lain seperti terd ap at dalam karangan „ L ’art d ’etre ch ef”

o leh G . Courtois. D en gan demikian dapat diperoleh' b a h a n perb an din gan dan perim bangan dengan tu­

lisan-tulisan m engenai m asalah pim pinan, jan g banjak m en gem u kakan patokan - patokan - N egara - negara - A n glo-Saksen .

5. E tim ologis pem im pin itu adalah seorang jan g m e­

n g e p a la i, atau tegasnja ja n g mendjadi kepala. Seperti su d a h dikatakan leb ih dahu lu, kepala itu melihat, m e n d en g a r dan m em ikirkan. K e p a la itu memutuskan a a n m endorong kegerakan bagian jan g bertugas men- d jalan kan keputusan itu. Pem im pin adalah seorang ja n g m en getah u i, ja n g berkem auan, ja n g mewudjudkan d a n d ju g a seorang ja n g m am pu m endorong orang lain u n tu k m en getah ui, berkemauan dan m e w u d ju d k a n . Pe­

m im p in ad a la h seorang ja n g m engetahui kemauannja d a n d a p a t m engatur kegiatannja sesuai dengan hasil ja n g hen d ak ditjapainja.

6. U n tu k m endjadi pem im pin ia harus mampu m em ­ p en ga ru h i sekum pulan orang dalam suatu tjita-tjita, seh in gga m ereka dengan sendirinja bergerak untuk m en tjap ai itu, w alau p u n banjak rintangan. Suatu ke- p u tu san m u dah diam bil, tetapi soalnja ialah, bahwa k ep u tu san itu dju ga didjalankan. K aren a itu fungsi seo ra n g pem im pin tidak sadja m em erintah, melainkan d ju g a m em ilih, m endidik, m enggiatkan, membantu d a n m en gam ati tenaga-tenaga ja n g harus melaksanakan kep u tu san itu.

7. D isam p in g faktor kewenangan dalam djabatan, fakto r pem baw aan dirinja bersifat m enentukan kewi­

b a w a a n seorang pem im pin. Ia harus tahu

memenang-Siapa mendjadi pemimpin ?

IO3

kan kepatuhan dan ketjintaan. Pem im pin bukanlah seorang ja n g m endapat pengangkatan, tetapi seorang ja n g m em berikan dirinja. „K e b e sa ra n suatu djabatan tam pak terletak p ad a kem am puan m em persatukan orang-orang” , kata Saint-E xupéry dan h al ini m em ang benar m engenai seorang pem im pin pada chususnja.

K a la u kita ingin m engetahui siapa ja n g m endjadi pem im pin sesuatu usaha, bertanjalah siapa ja n g dalam kegagalan m em ikul tanggungdjaw ab.

Sebab apa diperlu- 8. Suatu rapat akan sukar m engeluarkan suatu

perin-kanpemimpm? g uatu rom bongan manusia tan p a pem im pin ada­

lah badan ja n g tidak berkepala. Suatu D ew an adalah tepat sekali untuk m em elihara atau m engurus suatu kepentingan, tetapi tidak tepat untuk bertindak.

N apoléon berpendirian: „R a k ja t ja n g m em persoalkan, saja m em utuskan” . T id a k djauh dari itu pen dapat alm arhum D r G . S. S. J. R atu lan gie, ja n g m engatakan:

„D am okrasi ja n g baik ialah m endengarkan apa ja n g hidup p ada orang-orang ja n g berkepentingan, tetapi pengam bilan keputusan m endjadi kehorm atan pemim- pinn ja” .

9. K en d atip u n telah banjak ja n g didengungkan m e­

ngenai teori-persam aan, banjaklah orang ja n g senan­

tiasa m em erlukan orang atasannja sebagai tiang san­

daran. K a la u atasan itu tidak ada, m aka m ereka seperti seorang „h o akiau ” ja n g kehilangan datjin g. K ehadiran seorang pem im pin, ja n g p atut disebut dem ikian, m e­

nim bulkan kepertjajaan, kekuatan dan rasa tenteram.

T an p a pem im pin, ja n g m engatur dan m engkoordinir, ja n g memikirkan dan m engendalikan buah pikirannja pad a ja n g dipim pinnja, ibarat ja n g dilakukan kepala dengan perantaraan urat saraf terhadap kaki dan tangan, m aka pada sekumpulan orang akan segera tim bul saing­

an dan pertentangan, bahkan bentrokan dengan

sega-la akib atn ja. K a sega-la u tidak ada pem im pin, m aka akan tim bul anarchi dan an archi hanja m erom bak, tak p er­

nah d ap at m em bangun.

nah d ap at m em bangun.

Dalam dokumen AGA ADMINISTRAS! NEGARA (Halaman 106-130)

Dokumen terkait