• Tidak ada hasil yang ditemukan

Demikianlah pula persoalan-persoalan jang di

Dalam dokumen AGA ADMINISTRAS! NEGARA (Halaman 57-79)

ADM INISTRASI SEBAGAI KEGIATANBa b II

18. Demikianlah pula persoalan-persoalan jang di

hadapi dalam menetapkan metode bekerdja. Djalan jang dapat ditempuh ada kalanja terlalu sukar, sedang djalan keliling mungkin lebih lapang tapi terlalu djauh.

P ad a um um nja kadan g dap at dipilih djalan ja n g ter­

pen dek. K eb a n jak a n harus diam bii djalan jan g agak p an d jan g, ja n g djuga m em inta kebidjaksanaan,

se-43

Menghimpun alal-alat (4)

hin gga perlu diam bil tindakan-tindakan tertentu untuk m elapangkan djalan kearah tudjuan.

19. Pem ilihan djalan ja n g pendek, tanpa m enjadari apakah djalan itu betul-betul m em buka kem ungkinan seperti diharapkan, m endjadi sumber keketjewaan dan kegagalan. Seperti djuga halnja dalam penetapan tudjuan, hal m etode m em erlukan penelitian dan per­

tim bangan ja n g saksama.

20. Pada pokoknja dalam pen etapan m etode harus d i­

perhitungkan pengaruh dan hubu ngan dengan soal-soal:

a. tudjuan: D a p at ditam bahkan bahw a makin sulit tudju­

an itu, makin terikat metode ja n g dapat ditem puh.

b. waktu : Soal w aktu d ap at d ju ga d ian ggap sebagai bagian dari m etode, sebab m etode ja n g dipilih m e­

nentukan w aktu dan sebaliknja w aktu itu m em pe­

ngaruhi penentuan m etode.

B eberapa faktor intern djuga m em inta perhatian ber­

hubu ng dengan soal m odal dan ten aga. Faktor-fakior intern senantiasa p en tin g, karena pada um um nja fak­

tor-faktor itu tidak senantiasa terletak dalam pengaruh manusia, nam un sebaliknja harus ditjari penjesuaian p ad a faktor itu , ja n g kebanjakan b erarti bahw a harus ditem puh djalan ja n g leb ih pandjang.

21. D engan alat-alat dim aksudkan sedjum lah benda dan ten aga ja n g d iperlu kan untuk m endjadi alat m entjapai tudju an m enurut w aktu dan m etode ja n g telah ditetapkan. U n tu k dapat m em beda-bedakan d i­

adakan pem bagian dalam d u a golongan, ja itu golongan m odal dan golongan tenaga. Selain u an g, unsur modal um um nja terdiri dari perkakas, pesaw at, kendaraan, mesin, tan ah dan bangunan serta lain-lain peralatan.

D alam unsur tenaga teru tam a digolongkan ten aga m anusia disam ping tenaga alam dan ten aga hew an.

4 4

22. Banjaknja alat-alat itu ditentukan menurut rumus bahwa:

H = W x BA.

H = Hasil pekcrdjaan (jang djadi tudjuan) W = W aktu

B A = Banjaknja alat.

Hasil sebesar 5 H dapat ditjapai dengan 5 W X 1 BA atau dengan 1 W X 5 B A . D ari rumus ini njata sekali pentingnja w aktu dan djuga pengaruh banjaknja alat untuk merealisasi tudjuan.

23. Djenis alat-alat ja n g diperlukan tergantung pada m etode jan g dipilih. K alau pekerdjaan didjalankan dengan mesin, maka selain mesin diperlukan orang- orang pandai-mesin dan pem bantu-pem bantu, sedang produksi dengan kerdjatangan p ada pokoknja akan me­

m erlukan perkakas dan tenaga jan g terlatih. D alam pem ilihan peralatan dan tenaga, selain kwalitet dan kw antiteit, djuga berpengaruh faktor jan g ikut diper­

tim bangkan dalam penentuan tudjuan, waktu dan m etode. D engan kata lain, antara satu dan lain se­

nantiasa ada saling hubungan dan saling pengaruh.

24. Satu faktor ja n g perlu dikem ukakan lagi menge- Faktor objektki-

nai penetapan tudjuan, waktu, metode dan alat-alat U'1 itu ialah faktor objektiviteit. Penetapan hal-hal itu tentu tidak dapat digantungkan sepenuhnja p ada perasaan („feeling” atau „in tu itie ” ), djuga tidak pada tjara m e­

raba-raba. D ikatakan „tid ak sepenuhnja” karena harus diakui bahwa dalam bidang perekonomian senantiasa dapat dihadapi keadaan, jan g tidak dapat diperhi­

tungkan lebih dahulu.

25. D alam pada itu harus diusahakan, supaja sifat objektiviteit senantiasa diutam akan untuk m enghindar­

kan tjara-tjara ja n g berakar pada tradisi atau

kebia-4 5

saan, w alau p u n sudah lapuk. Perasaan-perasaan ja n g bersifat pro dan kontra terh ad ap sesuatu d ap at m eng­

gan ggu p erh atian p ad a garis-garis besar dan m enga­

bu rkan pan dan gan.

26. U sah a un tuk m endapat p ertim ban gan dan penje- lesaian ja n g tepat d ap at dilakukan d engan djalan:

a. m en gadakan tukar-pikiran dengan rekan-rekan atau dengan pen djabat-pend jabat organisasi-organisasi lain,

b . m engikut sertakan ten aga-ten aga spesialisasi dalam pem bahasan soal-soal tertentu,

c. m en gan gkat suatu „ s t a f” ja n g terdiri dari tenaga- tenaga ahli,

d. m enggun akan bah an -b ah an keteran gan ja n g d i­

tetapkan setjara objektif, seperti bahan statistik, e. m en gam b il m anfaat dari tulisan-tulisan m engenai

bidan g ini.

27. H arus diakui b a h w a hal-hal ini han ja m erupakan andjuran u m um , sebab akan sukar kiranja u n tu k m e­

netapkan setjara pasti, d jalan ja n g harus d item puh u n ­ tu k p em etjah an tiap -tiap persoalan. K elem ah an -k e­

lem ahan ja n g tentu d ju g a ad a p ad a tiap-tiap djalan itu d a p a t diatasi d en gan m enggabun gkan kem un gkin ­ an-kem un gkinan ja n g dikem ukakan.

penjusunan alat- 28. D a ri u raian diatas n jata, b ah w a tugas m enjusun alal ^ organisasi tidaklah suatu p ekerdjaan ja n g m udah.

Sam pai kini nam un baru diadakan pem bahasan ten­

tan g p ekerdjaan p en d ah u lu an ja n g d ip erlu kan , belum lagi ten tan g usaha penjusunan („arran gem en t” ) d alam arti ja n g sebenarnja.

29. Penjusunan alat-alat sebagai langkah kelim a d alam penjusunan organisasi p ad a pokoknja m eliputi usaha:

46

a. m enetapkan alat-alat dan ten aga-ten aga ja n g sudah d ip ilih m enurut bagian dan urutan tugas dalam ran gka m etode b ekerd ja ja n g akan diikuti, um um ­ nja d engan m em beri kesem patan kepada petugas- p etu gas inti untuk m elengkapi kep erlu an bagiannja

m asing-m asing,

b. m enetapkan sedjauh m ungkin tugas dan kew adjiban serta kew enangan tiap-tiap petugas, begitupun h u b u n gan tim bal-balik antara petugas-petugas itu, baik d alam bagian tertentu, m aupun dalam kese­

lu ru h an organisasi.

30. U saha penjusunan itu harus dilakukan dem ikian, sehingga tiap -tiap orang dan tiap-tiap bagian dapat m elakukan fungsinja dengan baik. N am un antara satu b agian dengan ja n g lain harus ada p ertalian dan ke- tjotjokan, ja n g m endjam in kerdjasam a sebagai sjarat m u tlak u n tu k m entjapai tudjuan keseluruhannja. Ib a ­ rat p ekerdjaan m em asang suatu mesin, ja n g terdiri dari b eb erap a bagian , m aka m ula-m ula alat-alat tiap -tiap bagian dim ontir dan distel, kem udian bagian itu m enurut urutan fungsinja dipasang p ad a rangka susunan dengan m eletakkan hubungan antara bagian ja n g satu dengan ja n g lain. Pem asangan itu haruslah dem ikian sehingga dengan satu gerak tangan semua b a g ian mesin itu berputar sebagai suatu kesatuan.

31. S ep erti halnja dalam pekerdjaan pendahuluan, ja itu d alam p en etap an tudjuan, - w aktu, - metode dan pem ilih an alat-alat, dju ga penjusunan alat-alat perlu d ipro jektir le b ih dahu lu. Pem buatan projek itu m e­

m erlu kan pen glih atan kemuka. D jad i dapat dikatakan, b a h w a pekerdjaan mengorganisir m em erlukan penglihatan kemuka.

32. Sjarat ini tidak m enutup kem ungkinan, bahw a

Menggerakkan or­

ganisasi (6)

p ad a achirnja organisasi ja n g telah disusun m em beri hasil ja n g tidak m em uaskan, w alaup un dilihat satu dem i satu kelim a usaha ja n g m endjadi pokok pem bi- tjaraan sudah dikerdjakan sebagaim ana m estinja. Ini bisa terdjadi, kalau p ada hubu n gan antara d u a bagian terd ap at hal-hal ja n g djan ggal, m isalnja bahw a suatu mesin ja n g dipilih m enurut m etode ja n g ditetapkan dilajani oleh tenaga dengan ketjakapan ja n g kurang m em adai.

33. K elem ahan seperti ini ten tu tidak dapat dike- tem ukan dengan mem eriksa tiap-tiap bagian, m elain­

kan dengan m eneliti djalannja organisasi dalam kese- luruhannja. H a l ini m em buktikan, b ah w a selain peng­

lihatan kemuka penjusunan organisasi memerlukan penglihatan dalam keseluruhan.

34. A n tara hal-hal ja n g dju ga perlu m endapat p er­

hatian, terutam a dalam h u bu n gan dengan soal tenaga, kami sebut kem ungkinan un tuk m engadakan susunan ja n g bersifat hierarchis (berdjandjang), fungsionil atau dalam bentuk ko- dan subordinasi. H al-hal ini akan dibahas kem udian disam ping hal spesialisasi, rasiona­

lisasi dan efisiensi.

35. T a k d ap at disangkal bahw a bagi seorang organ i­

sator am atlah penting un tuk m engetahui hal-hal ini.

Setidak-tidaknja haruslah ia m em punjai ketjakapan untuk m enggunakan itu dalam praktek. B anjak orga­

nisasi telah m endjadi besar dan penting dibaw ah pim ­ pinan tenaga 'jan g belum m enjelam i teori organisasi, tetap i dapat dipastikan dju ga bahw a pen getahuan itu nistjaja akan m elapangkan tugas pengorganisasian.

36. D en gan penjusunan alat-alat sesungguhnja o r­

ganisasi sudah selesai dan sebelum nja m em beri „ k o ­ 48

m ando” untuk berdjalan dihadapi persoalan, hal-hal apa ja n g perlu diperhatikan lagi agar organisasi itu d ap at bergerak. Mesin-mesin jan g sudah lengkap di­

pasang setidak-tidaknja perlu diminjaki dan diisi bahan bakar un tuk dapat digerakkan.

37- J an g terutam a penting untuk mendjamin agar pekerdjaan berdjalan baik ialah, bagaimana bunji instruksi-instruksi bagi tenaga-tenaga pelaksana. Instruksi- instruksi ini tentu harus disesuaikan pada perlengkapan jan g sudah tersedia dan harus pula efektif, sebab tidak dalam semua hal dapat ditetapkan sangsi.

38. D alam pada itu soal peraturan pemberian upah tidak kurang penting dan harus ditetapkan, tidak sadja dengan m elihat pada kepentingan usaha, tetapi djuga dengan m em perhatikan penuh keadaan dan kepen­

tingan para pengerdja jan g mendjadi subjek usaha.

39- Adanja instruksi tentu tidak mengurangi perlunja kebidjaksanaan tenaga-tenaga pimpinan, jan g dapat mem­

bangkitkan semangat bekerdja. Dengan perkataan dan teladan, pim pinan ja n g bidjaksana dapat mem penga­

ruhi pem bantu-pem bantunja demikian, sehingga m e­

reka akan tidak berbuat lain daripada membantu m e­

nurut garis jan g ditetapkan oleh pimpinan.

4°- Selain itu tenaga pim pinan tentu harus mempunjai keahlian, sebab tanpa keahlian tentu tipis pengaruhnja.

Umum nja diketahu i, bahwa penundjukan tenaga atasan adalah soal ja n g tidak m udah. K etju ali pengenalan tentang sifat-sifat manusia, haruslah ada kemampuan untuk m elihat kem uka mengenai pekerdjaan jan g akan dilakukan oleh petugas-petugas bawahan jan g bakal dipekerdjakan. Ini berhubungan pula dengan penen­

tuan tem pat baw ahan itu dalam organisasi.

4 1. D ju g a p em ilih a n tenaga bawahan bu kan lah suatu soal ja n g m u d ah d ip etja h k a n , sebab ketjuali sjarat- sjarat m en gen ai p erseo ran gan , harus ad a p erh atian p u la p a d a sifat-sifat d an tab iatn ja, sebab keku ran gan d a la m h al-h a l itu akan m eru gik an suasana ja n g baik serta kerd jasam a ja n g sangat d iperlu kan .

Pemenksaan (7) 42. O rganisasi ja n g sudah b erg erak d engan sendirinja m em erlu kan pemeriksaan, teru tam a m en gen ai djalan nja organisasi d alam keseluruhannja. A g a k salah un tuk m e n g a n g g a p b a h w a segala sesuatu sudah b e tu l kalau hasil ja n g d itja p a i sudah sesuai d engan ap a ja n g d ite ta p ­ kan sebagai tu d ju an , sebab m ungkin p ad a suatu bagian ada kelem ah an , ja n g dikom pensasi atau diim ban gi lain b a g ian ja n g b e k e rd ja leb ih baik. T erleb ih kalau tu d ju ­ an organisasi b elu m diten tu kan setjara pasti, hasil ja n g d itjap ai b elu m b o leh d ikatakan m em uaskan. B a g ai­

m a n a p u n d ju g a, a p a ra t ja n g b ek erd ja itu , harus ber- d jalan dem ikian sehingga ap a ja n g m endjadi hasil m erupakan b u ah -kerd ja d en gan ten aga penuh.

43. Pem eriksaan p ertam a ja n g bersifat sintetis, glo b a al atau u m u m itu harus d ju g a bersifat sem entara karena dim aksudkan sebagai p en in d jau an . K a la u pen elitian d alam keseluruhan tidak d ap at m enu ndjukkan kele­

m ahan ja n g ditjari, m aka tim bu l keperluan un tuk m em eriksa bagian -b agian n ja, b egitu p u n ketjotjokan h u b u n gan an tara satu b a g ian d e n g a n ja n g lain. P e ­ m eriksaan ini bersifat analitis atau kritis dan dilakukan sam pai p ad a bagian -b agian ketjil, un tuk m en getah u i kelem ahan -kelem ahan dan kesalahan-kesalahan atau apa ja n g m end jadi su m ber hal-hal ja n g belum m e ­ m uaskan.

44 D a la m p ad a itu dipakai tjara ja n g bersifat konsen- tn s, ja itu m em ulai d engan m en gad akan pem eriksaan

5 °

um um , kem udian m em batasi perhatiannja p ada bagian ja n g semakin sem pit, sam pai kesalahan diketahui.

45. A chirn ja, berdasarkan hasil pem eriksaan, seperlu- Perbaikan (8) nja d iad akan perbaikan, d en gan m engubah susunan

selui'uh organisasi atau b agian -b agian tertentu. Perbaik­

an ja n g bersifat m en gatu r kem bali susunan ja n g telah a d a d iseb u t reorganisasi.

46. M en gen ai organisasi ja n g tetap ata u perm anen p a d a p okokn ja a d a lim a h a l ja n g d a p a t m end jadi alas­

an u n tu k m enindjau kem bali susunannja, sehingga ada lim a djenis reorganisasi:

a. P ertam a-tam a d a p a t terd ja d i, b a h w a - biarp u n d i­

p erg u n ak a n ren tjan a ja n g sudah dipersiapkan d e ­ n gan saksam a - p a d a penjusunan organisasi dikete- m u k a n kesukaran, ja n g tak d a p a t d ik etah u i lebih d a h u lu dan u n tu k sem entara tak d a p a t diatasi.

K a la u tidak a d a kem u n gkin an u n tu k m endapatkan pen jelesaian d alam ran gka rentjana ja n g m endjadi d asar, m aka harus d iad ak an reorganisasi, ja itu m en gu b ah susunan u n tu k m engelakkan kesukaran itu . R eo rgan isasi dem ikian, ja n g d ju ga harus d ilih a t se b a g a i fase terach ir d a la m m enjusun organisasi, bersifat melengkapi.

b. S u atu p eru b ah an d alam kead aan p a d a um um nja, d a p a t m en em patkan suatu organisasi ja n g sudah b e rd ja la n baik p ad a kesulitan, ja n g h an ja d ap at diatasi d en gan djalan m en gad akan reorganisasi, d a ­ lam arti m enjesuaikan organisasi itu p a d a p e ru ­ b a h an kead aan . Reorganisasi itu bersifat oportunistis.

c. M u n gk in sekali, b ah w a karena h a l-h a l'te rte n tu pe­

njusun an su atu organisasi tidak d ap at dip ertim b an g­

kan le b ih d ahu lu d en gan saksama ata u d ju g a b ah w a b en tu k dan susunannja dipen garu h i m asa p ertu m ­ bu han . D a p a t d im en gerti b a h w a p ad a organisasi

Rasionalisasi dan efisiensi

52

d em ikian d en gan sendirinja m elekat kelem ahan.

R eorganisasi ja n g diperlu kan bersifat prinsipiil dan m enudju kearah rasionalisasi.

d. K e m u n g k in a n m em perluas usaha m em besar gedung atau m em indahkan tem pat m end jadi alasan pula u n tu k m en gadakan reorganisasi. A d a kalan ja bahw a alasan in i tak d a p a t dilepaskan dari alasan u n tu k per­

u b ah an ja n g bersifat prinsipiil. D ju g a bisa terd ap at p en ga ru h faktor-faktor ekstern a tau p u n intern. H al- h al in i setjara sekaligus m en d ap at pen jalu ran p ad a perb aikan ja n g d iad akan . R eorganisasi dem ikian m em pun jai sifat memperluas.

e. P ad a ach irn ja suatu reorganisasi d ap at diadakan, karena p en garu h ten aga-ten aga p im pin an ja n g baru atau orang-orang lu a r ja n g in gin m em praktekkan pikiran-pikiran b aru . R eorgan isasi dem ikian ber- tjo ra kperseorangan, karena leb ih d ititik beratkan p ad a p ah am seoran g d arip ad a k ep erlu an m engadakan p eru b a h a n .

47- D em ik ian la h sifat-sifat pokok usaha-usaha reor­

ganisasi. D a p a t d itam b ah k an b ah w a usaha-usaha itu d en gan sendirinja tid ak terlep as d ari sjarat rasionalisasi d an efisiensi, ja n g harus dipen u hi u n tu k m entjapai organisasi ja n g d jitu . Sep erti d ju g a h aln ja d alam penjusunan organisasi, reorganisasi itu - sebelum nja diw u d ju d kan setjara n jata - m u la-m u la senantiasa dikerd jakan „ d a la m p ik iran ” atau setjara „v ir tu il” . D e n g a n ini njata b a h w a p ekerd jaan reorganisasi d ju ga m em erlukan penglihatan kemuka.

Ba b V

T U B U H O RG AN ISA SI

i. P a d a b ab ini akan d iad akan pem bahasan tentang Fase peiuusunan

b e rb ag a i hal dalam tu b u h organisasi:

pertama, ja n g dapat m enam bah p en gertian tentang penjusunan organisasi,

kedua, ja n g d ap at m endjadikan b ah an keterangan bagi pimpinan organisasi.

M en gen ai penjusunan organisasi telah diuraikan bahw a p ekerd jaan itu dilakukan tin gkat dem i tingkat, sedang tin gkat-tingkat itu saling berh u b u n gan . K ed elapan fase ja n g telah dib itjarakan , kini d ap at d ib agi dalam 4 b a g ia n pokok ja itu :

A . Persiapan.

1. M en etap k an tudjuan .

2. M e n e t a p k a n d j a n g k a w a k t u . 3 . M e m i l i h m e t o d e .

4 . M e m i l i h a l a t - a l a t . B . Pelaksanaan.

5 . M e n j u s u n a l a t - a l a t . 6. M e n g g e r a k k a n org a n isasi.

C 7. pemeriksaan.

D . 8. Perbaikan (R eorganisasi).

2 D a p at dipastikan b ah w a tiap-tiap kegiatan itu Sifat virtuil

d ilak u k an setjara virtuil (dalam pikiran), ja k n i dengan m em b u at rentjana seraja m elihat segala sesuatu d a ­ lam pikiran- D e n g a n ini njata b ah w a tugas m eng­

organisir m em erlukan kem am puan m elihat kem uka.

Seperti telah dikem ukakan, pem etjahan sesuatu p er­

soalan p a d a um um nja pertam a-tam a m em erlukan

53

1

„in sigh t” , jaitu pertim bangan c. q.c penglihatan seba­

gaim ana m estinja. K em ud ian tiap-tiap bagian harus dap at dilihat dalam hubungan keseluruhannja, djadi harus ada „su rv e y ” . D engan adanja „in sigh t” dan

„s u r v e y ” dapatlah ditjapai pandangan ja n g m enem ­ bus kem uka dan m enggariskan djalan penjelesaian.

3. Sudah pula disebut, sjarat-sjarat apa ja n g harus dipenuhi untuk m entjiptakan organisasi ja n g baik.

D a p at ditetapkan b ah w a suatu organisasi disebut baik, apabila dipergunakan alat-alat ja n g tep at, ja n g be- kerdja sama setjara tepat untuk m entjapai suatu tudjuan ja n g ditetapkan setjara tepat.

Sifat organisasi 4. T a k dapat disangkal, b ah w a keadaan suatu orga­

nisasi dapat dibandingkan dengan kead aan suatu orga­

nisme. T ia p organisme p ad a pokoknja m em punjai dua tudjuan, ja itu untuk hidup dalam arti mempertahankan kehi- dupannja, dan untuk mempertahankan djenisnja. H a l ini m enundjukkan, bahw a tiap-tiap organisme m em punjai tudjuan tertentu\ T u d ju a n itu tidak ditentukan oleh manusia seperti halnja dalam suatu organisasi.

5. U n tu k m ew udjudkan tudju an itu dipergunakan rupa-rupa tjara, ja n g berbeda dalam soal w aktu dan m etode. Pun alat-alat ja n g dipakai berbeda-beda, w a­

laupun tudjuan ja n g dikedjar bersifat sama. B agaim an a­

pun djuga, p ada tiap-tiap organisme ja n g sehat, biarpun dalam kead aan ja n g berbeda-beda, dapat d ilih a t adanja w aktu, m etode dan alat-alat ja n g tep at, b egitu p u n suatu kerdjasam a ja n g djitu antara alat-alat itu, ja n g dapat m endjadi telad an b agi tiap -tiap organisasi.

6. K a la u diam bil sebagai tjontoh organism e manusia, ja itu tubuh kita sendiri, m aka tam pak b eta p a djitunja alat-alat ja n g digunakan dan betapa sem purna

kerdja-54

sama antara alat-alat itu. D alam pada itu tampak kelunakan („flexib ility” ) jan g demikian, sehingga h a­

langan ja n g disebabkan oleh faktor-faktor ekstern, se­

perti penjakit dan luka-luka, dapat disembuhkan dalam tubuh sendiri. Jan g dapat menjadari keadjaiban ini akan m em aham i bahwa tak ada suatu organisasi jan g dapat m engikuti tjiptaan demikian.

7. T ap i tentu tak ada salahnja apabila diusahakan untuk mendekati kesempurnaan ini. Sudah njata pula bahwa hanja organisasi-organisasi jan g besar jan g m e­

nam pakkan banjak persam aan dengan tubuh manusia.

K ea d aa n tubuh manusia memang menundjukkan or­

ganisme, ja n g memenuhi sjarat-sjarat jan g sangat tinggi. Susunannja sangat kompleks dan mempunjai bagian-bagian jan g mendjalankan tugas-tugas spesiali­

sasi dengan hubungan timbal-balik antara satu dan lain. M ata, perut dan urat-sjaraf dapat diibaratkan sebagai bagian dan petugas chusus (spesialis) dalam suatu organisasi, ja n g dju ga memenuhi sjarat-sjarat ja n g tin ggi.

8. Organisasi ja n g ketjil tidak mesti dilengkapi de­

ngan bagian-bagian itu dan dapat disamakan dengan organisme ja n g lebih sederhana dan memenuhi sjarat- sjarat ja n g tidak begitu tinggi. Ini tidak berarti, bahwa organisasi itu m enurut keadaannja tidak perlu lengkap.

D juga organisme ja n g sederhana mempunjai susunan ja n g memenuhi sjarat-sjarat untuk tudjuannja. Sedang­

kan suatu am oebe, jan g terdiri dari satu sel dan tidak mempunjai organ istimewa, dapat hidup dan mem per­

tahankan djenisnja, namun dapat menjesuaikan diri pada rupa-rupa keadaan.

9- D ari uraian ini njata, bahwa baik organisasi jan g ketjil, m aupun jan g besar, dapat disamakan dengan

su atu organism e clalam k e a d a a n ja n g sepadan. K e m u n g ­ kin an m em persam akan akan senantiasa b erg u n a dalam u raian selandjutnja.

H a l alat-alat j o . M e n g e n a i soal a lat-alat ja n g m en d jad i un sur pe- n jusun an tam p a k p e rlu u n tu k m enindjau leb ih m en­

d a la m , a la t-alat a p a atau djenis a p a ja n g d ip erlu k a n . A . P erta m a -tam a d ap at d ia d ak a n p e rb e d a a n antara

alat-alat pokok d a n alat-alat petnbantu. A la t-a la t p o ­ k ok m u tlak d ip e rlu k a n sed an g ala t-alat p em ban tu bersifat m em u d ah k an d jalan n ja organisasi. S e b a ­ g a i alat-pokok m isalnja d a la m suatu organisasi p ro ­ duksi d a p a t d iseb u t ten ag a m anusia serta a p arat produksi, p em b elian d a n p en d ju alan sedan g b agian tata-u saha, ekspedisi d a n alat-alat telepo n m e ru ­ p ak a n alat-p em b an tu .

B . A la t-a la t itu d a p a t d ju g a d ib a g i atas alat-alat-kong- krit dan alat-alat-idaman. J a n g term asu k kongkrit a d a la h m esin-m esin d a n te n a g a m anu sia, sed an g se b a g a i a la t-alat id a m a n d a p a t d iseb u t keten tuan -

B . A la t-a la t itu d a p a t d ju g a d ib a g i atas alat-alat-kong- krit dan alat-alat-idaman. J a n g term asu k kongkrit a d a la h m esin-m esin d a n te n a g a m anu sia, sed an g se b a g a i a la t-alat id a m a n d a p a t d iseb u t keten tuan -

Dalam dokumen AGA ADMINISTRAS! NEGARA (Halaman 57-79)

Dokumen terkait