• Tidak ada hasil yang ditemukan

Daerah dengan Defisit yang belum ter-cover oleh pembiayaan 82

Dalam dokumen KATA PENGANTAR. Kata Pengantar. iii (Halaman 102-110)

bAb IV ANAlIsIs sURPlUs/DEfIsIT DAN PEMbIAYAAN DAERAH

A. Defisit

5. Daerah dengan Defisit yang belum ter-cover oleh pembiayaan 82

Dalam APBD kabupaten, kota dan provinsi terdapat beberapa daerah yang besaran defisit yang dianggarkan tidak bisa ditutup dengan pembiayaan, sehingga defisit ditambah pembiayaan masih bernilai minus. Beberapa daerah tersebut dapat dilihat dalam tabel 4.1.

Tabel 4.1

Daerah dengan Defisit Belum Ter-cover oleh Pembiayaan

NO Nama Daerah Surplus/Defisit (Rp) Pembiayaan (Rp) Surplus/Defisit + Pembiayaan 1 Kab. Sarmi 79,257,562,012 -159,257,562,012 -80,000,000,000 2 Kab. Halmahera Utara -1,299,748,462 -48,570,575,122 -49,870,323,584

NO Nama Daerah Surplus/Defisit (Rp) Pembiayaan (Rp) Surplus/Defisit + Pembiayaan 3 Kab. Jayawijaya -80,626,753,486 32,933,946,054 -47,692,807,432 4 Kab. Paniai -39,374,458,743 - -39,374,458,743 5 Kab. Nduga -49,022,049,498 10,569,552,788 -38,452,496,710 6 Kab. Seram Bagian Barat -29,777,838,269 9,996,416,352 -19,781,421,917 7 Kab. Sumba Timur -54,957,607,162 44,957,607,162 -10,000,000,000 8 Kota Ambon -4,169,978,166 -5,000,000,000 -9,169,978,166 9 Kab. Nias Utara -55,869,080,046 46,762,490,633 -9,106,589,413 10 Kab. Tolikara -4,576,420,513 -4,000,000,000 -8,576,420,513 11 Prov. Nusa Tenggara

Timur -65,454,901,950 58,476,206,950 -6,978,695,000 12 Kab. Parigi Moutong -11,832,505,000 9,832,505,000 -2,000,000,000 13 Kab. Solok -42,139,027,960 41,389,127,960 -749,900,000 14 Kab. Yahukimo -14,907,502,705 14,407,502,705 -500,000,000 15 Kab. Bangkalan -109,636,630,004 109,420,036,642 -216,593,362 Sumber: APBD 2013 (Diolah)

Dalam tabel di atas dapat dilihat bahwa Kabupaten Sarmi merupakan daerah dengan nilai Defisit APBD yang tidak ter-cover oleh pembiayaan terbesar yaitu sebesar Rp80 miliar. Hal ini harus menjadi perhatian Pemerintah Pusat sebagai otoritas yang mempunyai kewenangan untuk melakukan pembinaan di bidang pengelolaan keuangan, karena fenomena di atas menunjukkan bahwa terdapat daerah-daerah yang akan menganggarkan belanja tanpa adanya kepastian sumber dananya. Hal ini secara normatif tidak layak untuk dilakukan karena menimbulkan ketidakpastian dalam alokasi belanja publik.

B. Pembiayaan Daerah

Dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 disebutkan bahwa daerah yang menganggarkan defisit wajib menganggarkan sumber Penerimaan Pembiayaan dan bagi daerah yang menganggarkan surplus wajib menganggarkan Pengeluaran Pembiayaannya. Secara total Penerimaan Pembiayaan APBD 2013 terbesar berasal dari SiLPA dan yang terkecil adalah penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan. Secara rinci Penerimaan Pembiayaan provinsi dan kabupaten/ kota dapat dilihat dalam grafik 4.5 berikut.

Grafik 4.5

Grafik 4.6

Persentase Penerimaan Pembiayaan terhadap total Penerimaan Pembiayaan

Provinsi Kab/kota

Sumber: APBD 2013 (Diolah)

Dominasi SiLPA baik di provinsi, kabupaten dan kota tampak pada persentase SiLPA yang mencapai nilai 91% lebih, sebagaimana tampak dalam grafik 4.6. Dominasi SiLPA tersebut menimbulkan pertanyaan “apakah pengaturan defisit APBD dapat disamakan dengan defisit APBN?”. Sumber pembiayaan APBD yang mempunyai resiko secara fiskal adalah pinjaman daerah karena menimbulkan beban antar generasi, sedangkan proporsi pinjaman tersebut hanya berkisar 3,8% total Penerimaan Pembiayaan. Hal tersebut berbeda dengan APBN di mana defisit APBN hampir selalu akan dibiayai dari pinjaman, sehingga besarnya defisit merupakan gambaran besaran pinjaman. Dengan melihat perbedaan tersebut menunjukkan bahwa defisit APBD merupakan defisit yang semu yang tidak bisa secara langsung disamakan dengan defisit APBN.

Selain Penerimaan Pembiayaan, Pengeluaran Pembiayaan merupakan bagian dari pembiayaan di mana merupakan bentuk pengeluaran APBD selain belanja. Secara umum Pengeluaran Pembiayaan terbesar adalah penyertaan modal, hanya saja besar penyertaan modal pemerintah provinsi secara nominal lebih besar dari kabupaten dan kota. Hal tersebut dapat diperkirakan karena kapasitas fiskal pemerintah provinsi lebih besar dari pemerintah kabupaten dan kota. Selain itu

Pembayaran Pokok Utang kabupaten dan kota yang jauh lebih besar dari provinsi menunjukkan beban pemerintah kabupaten dan kota lebih tinggi dari provinsi. Secara nominal rincian Pengeluaran Pembiayaan tampak pada grafik 4.7 dan secara persentase tampak pada grafik 4.8.

Grafik 4.7

Pengeluaran Pembiayaan Provinsi dan Kab/Kota

Sumber: APBD 2013 (Diolah)

Grafik 4.8

Persentase Pengeluaran Pembiayaan terhadap total Penerimaan Pembiayaan

Jika secara prosentase Penerimaan Pembiayaan kabupaten dan kota serta provinsi mempunyai pola yang mirip, namun untuk Pengeluaran Pembiayaan antara keduanya mempunyai perbedaan. Pengeluaran Pembiayaan provinsi hanya didominasi oleh penyertaan modal daerah sedangkan untuk kabupaten dan kota terdapat dua komponen yang dominan, yaitu Penyertaan Modal Daerah dan Pembayaran Pokok Utang. Untuk daerah dengan pembayaran pokok pinjaman terbesar adalah Kabupaten Sarmi (Rp155,2 juta) dan daerah dengan penyertaan modal terbesar adalah Kab. Badung (Rp114 miliar), sedangkan untuk provinsi daerah yang menganggarkan penyertaan modal terbesar adalah DKI Jakarta (Rp 4,3 triliun). Secara lebih detail beberapa rincian pembiayaan dijelaskan dalam poin-poin berikut.

a. Sisa Lebih Perhitungan Anggaran

Pelampauan pendapatan ataupun penghematan belanja pada realisasi APBD sebelumnya akan menghasilkan sisa dana. Sisa dana tersebut dinamakan Sisa Lebih Perhitungan Anggaran yang biasa disingkat SiLPA. Namun karena APBD TA 2012 dibuat sebelum berakhirnya tahun anggaran maka SiLPA yang terdapat di APBD merupakan nilai estimasi. Semakin besar SiLPA menunjukkan kekurangcermatan dalam penganggaran (perencanaan yang kurang baik) atau kelemahan dalam pelaksanaan anggaran. Sehingga rasio SiLPA terhadap belanja menunjukkan porsi belanja yang tertunda atau anggaran yang tidak terserap. Rasio tersebut dapat dilihat dalam grafik 4.9 berikut :

1. Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

Grafik 4.9

Rasio SiLPA terhadap Belanja Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

Sumber: APBD 2013 (Diolah)

Rasio SiLPA terhadap belanja selain menggambarkan besaran belanja yang tertunda pelaksanaannya pada tahun sebelumnya juga menggambarkan jumlah realisasi pendapatan tahun anggaran sebelumnya lebih besar dari proyeksinya. Rata-rata rasio SiLPA terhadap belanja daerah secara agregat provinsi, kabupaten dan kota adalah 7,4% dengan rasio tertingginya adalah Provinsi Kalimantan Timur (25,5%). Sebanyak 12 provinsi mempunyai rasio di atas rata-rata dan 21 provinsi di bawah rata-rata.

2. Pemerintah Kabupaten dan Kota Se-Provinsi

Grafik 4.10

Rasio SiLPA terhadap Belanja Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi *

Pemerintah kabupaten dan kota se-Provinsi Riau dan Provinsi Kalimantan Timur merupakan daerah-daerah yang terlihat berbeda dibanding pemerintah kabupaten dan kota di provinsi lain, karena pemerintah kabupaten dan kota di kedua provinsi tersebut mempunyai rasio SiLPA terhadap belanja di atas 15,0% dan di atas rata-rata yang sebesar 6,8%. Sedangkan kabupaten dan kota di Provinsi Aceh dan Provinsi Sulawesi Tengah mempunyai rasio paling rendah (2%).

3. Pemerintah Provinsi

Grafik 4.11

Rasio SiLPA terhadap Belanja Daerah Pemerintah Provinsi

Sumber: APBD 2013 (Diolah)

Terdapat perbedaan pada urutan rasio SiLPA terhadap Belanja Daerah pada pemerintah provinsi dengan pemerintah kabupaten dan kota se-provinsi. Dalam rasio SiLPA terhadap Belanja Daerah, Provinsi Riau merupakan provinsi yang mempunyai urutan tertinggi (21,8%) jauh di atas rata-rata sebesar 6,6%. Lima besar berikutnya adalah urutan kedua Provinsi Bangka Belitung (19,8%) , Provinsi DKI Jakarta (18,3%) di urutan ketiga, Provinsi Bali di urutan keempat dan Provinsi Aceh di urutan kelima, sedangkan provinsi yang mempunyai rasio terendah adalah Provinsi Lampung dan Provinsi Papua Barat sebesar 0%.

4. Per Wilayah

Rasio SiLPA terhadap Belanja Daerah tertinggi ada di wilayah Kalimantan (15,62%), rata-rata nasional untuk rasio ini adalah sebesar 7,75%, semakin besar

rasio menunjukkan semakin besar dana idle yang tidak dapat dimanfaatkan pada tahun 2012, sedangkan rasio terendah SiLPA terhadap belanja terjadi di wilayah Sulawesi (2,93%). Untuk wilayah lain dapat dilihat dalam grafik dibawah ini.

Grafik 4.12

Rasio SiLPA terhadap Belanja per Wilayah *

Sumber: APBD 2013 (Diolah) * Tidak termasuk DKI Jakarta

Dalam dokumen KATA PENGANTAR. Kata Pengantar. iii (Halaman 102-110)

Dokumen terkait