• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rasio Belanja Pegawai terhadap Total Belanja Daerah

Dalam dokumen KATA PENGANTAR. Kata Pengantar. iii (Halaman 72-81)

bAb III ANAlIsIs bElANJA DAERAH

A. Rasio Belanja Pegawai terhadap Total Belanja Daerah

nilai rasio Belanja Daerah per kapita, semakin besar belanja yang dikeluarkan untuk menyejahterakan satu orang penduduk wilayah tersebut sehingga semakin besar kemungkinan tercapainya. Sebaliknya, semakin kecil angka rasionya, semakin kecil dana yang disediakan pemda untuk menyejahterakan penduduknya.

Namun demikian, rasio ini juga dirinci lagi menjadi per jenis belanja sehingga akan lebih memperlihatkan kontribusi dari setiap jenis belanja sebagai faktor yang mendorong peningkatan kualitas layanan publik. Berbagai macam pengukuran rasio belanja akan disajikan pada bab ini. Pada prinsipnya, dalam tataran kebijakan, untuk menuju pelaksanaan Belanja Daerah yang berdampak positif kepada masyarakat perlu diupayakan agar pemerintah daerah mempercepat realisasi belanjanya dan menjalankan kebijakan belanja yang baik, antara lain dengan mendorong agar proses penetapan Perda APBD dapat dilakukan secara tepat waktu, menetapkan anggaran Belanja Modal yang lebih besar dan tepat sasaran, mempertajam penggunaan anggaran Belanja Pegawai, dan sebagainya.

A. Rasio Belanja Pegawai terhadap Total Belanja

Daerah

Tujuan penghitungan rasio Belanja Pegawai terhadap total Belanja Daerah adalah untuk mengetahui proporsi Belanja Pegawai terhadap total Belanja Daerah. Data Belanja Pegawai di sini adalah penjumlahan dari Belanja Pegawai langsung dan Belanja Pegawai tidak langsung. Rasio ini menggambarkan bahwa semakin tinggi angka rasionya maka semakin besar proporsi APBD yang

dialokasikan untuk Belanja Pegawai. Begitu pula sebaliknya, semakin kecil angka rasio Belanja Pegawai maka semakin kecil proporsi APBD yang dialokasikan untuk Belanja Pegawai APBD.

Mengingat bahwa saat ini jumlah guru mendominasi jumlah keseluruhan dari Pegawai Negeri Sipil Daerah (PNSD), maka penting juga untuk dilihat proporsi jumlah guru terhadap total PNSD di suatu daerah. Di sisi lain selama ini banyak pihak yang menyoroti dan mengkritisi mengenai jumlah Belanja Pegawai yang dinilai terlalu besar dalam APBD. Pihak yang mengkritisi tersebut berargumen bahwa hal ini mengakibatkan berkurangnya alokasi untuk Belanja Modal, yang dipandang lebih mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap pemenuhan pelayanan publik kepada masyarakat.

Kedua hal ini sebenarnya bisa dikompromikan. Apabila ditinjau dari sisi kewajiban pemda dalam peraturan perundangan bahwa Belanja Daerah dipergunakan dalam rangka pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya dengan prioritas kepada pelaksanaan urusan daerah yang sifatnya wajib, salah satunya bidang pendidikan, maka sebenarnya belanja untuk gaji guru sebenarnya mendukung pencapaian tujuan tersebut.

Pembebanan gaji guru bersifat wajib dalam rangka menjamin kelangsungan pemenuhan pendanaan pelayanan dasar masyarakat dalam bidang pendidikan. Pembebanan gaji guru menjadi sangat krusial karena guru adalah ujung tombak langsung dalam pemenuhan pelayanan dasar pendidikan.

1. Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

a. Rasio Belanja Pegawai terhadap Total Belanja Daerah

Secara agregat provinsi, kabupaten dan kota, rata-rata rasio Belanja Pegawai terhadap total Belanja Daerah adalah 42,78%. Rasio ini lebih rendah dari tahun anggaran sebelumnya yang mencapai rata-rata 44,7%. Penurunan rasio belanja pegawai secara konsisten dalam beberapa tahun terakhir, meskipun penurunannya relatif kecil namun menunjukkan upaya rasionalisasi terhadap

kota untuk setiap provinsi menunjukkan bahwa 15 provinsi rasionya lebih rendah dari rata-rata nasional, sedangkan 18 provinsi yang lain memiliki rasio Belanja Pegawai yang melebihi rata-rata nasional. Provinsi yang memiliki rasio Belanja Pegawai paling kecil adalah Provinsi Kalimantan Timur, yaitu sebesar 25,89%, sedangkan provinsi yang memiliki angka rasio yang paling besar adalah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dengan rasio sebesar 56,11%.

Selain itu, Grafik 3.1 menunjukkan bahwa terdapat 5 provinsi yang memiliki rasio Belanja Pegawai lebih dari 50 %, yaitu Provinsi Nusa Tenggara Barat, Provinsi Bengkulu, Provinsi Sumatera Barat, Provinsi Jawa Tengah dan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kondisi ini tentu harus menjadi perhatian, karena secara implisit provinsi-provinsi tersebut hanya menganggarkan sebagian kecil APBD-nya untuk jenis-jenis belanja selain Belanja Pegawainya. Hal ini akan menyebabkan keterbatasan program dan kegiatan daerah di luar Belanja Pegawai yang bisa didanai, khususnya dalam mendukung pemenuhan layanan publik.

Grafik 3.1

Rasio Belanja Pegawai terhadap Total Belanja Daerah Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

b. Rasio Jumlah Guru Terhadap PNSD

Secara agregat provinsi, kabupaten dan kota, rata-rata rasio jumlah guru terhadap total PNSD adalah 49,41%. Rasio ini mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya yang mencapai 47,6%. Peningkatan rasio jumlah guru yang diiringi dengan penurunan rasio belanja pegawai secara keseluruhan, sekali lagi menunjukkan bahwa daerah telah menjadi lebih rasional dalam alokasi belanja pegawainya dengan semakin menurunkan porsi jumlah PNS maupun besaran belanja untuk PNS yang bekerja di bidang administrasi. Rasio jumlah guru terhadap total PNSD agregat provinsi, kabupaten, dan kota untuk setiap provinsi menunjukkan bahwa 14 provinsi rasionya lebih rendah dari rata-rata nasional, sedangkan 19 provinsi yang lain memiliki rasio di atas rata-rata nasional. Provinsi yang memiliki rasio paling kecil adalah Provinsi Bengkulu, yaitu sebesar 41%, sedangkan provinsi yang memiliki angka rasio yang paling besar adalah Provinsi Banten dengan rasio sebesar 63,60%.

Grafik 3.2

Rasio Jumlah Guru terhadap Total PNSD Agregat Provinsi, Kabupaten dan Kota

2. Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi

a. Rasio Belanja Pegawai terhadap Total Belanja Daerah

Grafik 3.3 memperlihatkan rasio Belanja Pegawai pemerintah kabupaten dan pemerintah kota se-provinsi terhadap total belanjanya. Dari grafik tersebut terlihat bahwa semua rasio Belanja Pegawai pemerintah kabupaten dan pemerintah kota se-provinsi memiliki rasio di atas 30%, kecuali Provinsi Kalimantan Timur yang memiliki rasio sebesar 28%. Sedangkan rata-rata rasio Belanja Pegawai pemerintah kabupaten dan pemerintah kota se-provinsi terhadap total belanjanya sebesar 49,26% (turun dari tahun sebelumnya yang mencapai 50,9%). Dengan demikian, rata-rata pemerintah kabupaten dan pemerintah kota se-provinsi mengalokasikan hampir setengah Belanja Daerahnya untuk membayar Belanja Pegawai daerah. Dari angka rata-rata tersebut, sebanyak 13 provinsi memiliki rasio Belanja Pegawai yang lebih rendah dan 19 provinsi memiliki rasio Belanja Pegawai yang lebih besar. Pemerintah kabupaten dan pemerintah kota se-Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang memiliki rasio Belanja Pegawai terbesar yaitu sebesar 64,06%, sedangkan yang memiliki rasio Belanja Pegawai terhadap Belanja Daerah terkecil adalah pemerintah kabupaten dan pemerintah kota se-Provinsi Kalimantan Timur dengan rasio sebesar 28%.

Grafik 3.3

Rasio Belanja Pegawai Terhadap Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi *)

Sumber: APBD 2013 (Diolah) *) Tidak termasuk DKI Jakarta

b. Rasio Jumlah Guru Terhadap PNSD

Grafik 3.4 memperlihatkan rasio jumlah guru pemerintah kabupaten dan pemerintah kota se-provinsi terhadap total PNSD-nya. Dari grafik tersebut terlihat bahwa semua rasio jumlah guru terhadap total PNSD kabupaten dan kota se-provinsi di atas 45%, dengan rata sebesar 51,94%. Dengan demikian, rata-rata pemerintah kabupaten dan pemerintah kota se-provinsi mengalokasikan lebih dari setengah Belanja Pegawai daerahnya untuk membayar gaji guru daerah.

Rasio jumlah guru terhadap total PNSD agregat kabupaten dan kota untuk setiap provinsi menunjukkan bahwa 11 provinsi rasio jumlah guru terhadap total

memiliki rasio di atas rata-rata nasional. Provinsi yang memiliki rasio paling kecil adalah Provinsi Kalimantan Timur, yaitu sebesar 45,66%, sedangkan provinsi yang memiliki angka rasio yang paling besar adalah Provinsi Banten dengan rasio sebesar 66,38%.

Grafik 3.4

Rasio Jumlah Guru Terhadap Total PNSD Pemerintah Kabupaten dan Kota se-Provinsi *)

Sumber: DJPK (Data Diolah) *) Tidak termasuk DKI Jakarta

3. Pemerintah Provinsi

a. Rasio Belanja Pegawai terhadap Total Belanja Daerah

Rasio Belanja Pegawai pemerintah provinsi di Indonesia memiliki persentase rata-rata sebesar 19,33% (turun dari rata-rata tahun sebelumnya yang mencapai 21%). Sebanyak 17 provinsi memiliki rasio Belanja Pegawai yang lebih rendah dibandingkan rata-rata rasio tersebut, 1 provinsi yaitu Provinsi Bali memiliki rasio Belanja Pegawai sama dengan nilai rata-rata rasio, sedangkan 15 provinsi lainnya di atas rata-rata. Grafik 3.5 memperlihatkan bahwa pemerintah provinsi yang

memiliki rasio Belanja Pegawai terbesar adalah Pemerintah Provinsi Bengkulu dengan rasio sebesar 30,72%, sedangkan pemerintah provinsi yang memiliki rasio Belanja Pegawai terkecil adalah Pemerintah Provinsi Sumatera Utara yaitu sebesar 8,16%. Grafik tersebut menunjukkan bahwa rasio Belanja Pegawai pemerintah provinsi relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan rasio Belanja Pegawai pemerintah kabupaten dan kota se-provinsi.

Grafik 3.5

Rasio Belanja Pegawai Terhadap Belanja Daerah Pemerintah Provinsi

Sumber: APBD 2013 (Diolah)

4. Per Wilayah

a. Rasio Belanja Pegawai terhadap Total Belanja Daerah

Grafik 3.6 memperlihatkan rasio Belanja Pegawai per wilayah terhadap total Belanja Daerahnya. Terlihat bahwa wilayah Sulawesi memiliki rasio Belanja Pegawai tertinggi, yaitu sebesar 48,65% sedangkan wilayah Kalimantan memiliki rasio yang terendah dengan angka sebesar 33,37%. Rasio Belanja Pegawai per wilayah terhadap total Belanja Daerahnya masih di bawah 50,0%. Dengan demikian, wilayah Sulawesi mengalokasikan hampir setengah Belanja Daerahnya untuk membayar Belanja Pegawai dan memiliki lebih sedikit porsi Belanja Daerah

yang dapat digunakan untuk mendanai program/kegiatan non pegawai jika dibandingkan dengan wilayah lainnya.

Grafik 3.6

Rasio Belanja Pegawai Terhadap Belanja Daerah per Wilayah

Sumber: APBD 2013 (Diolah)

b. Rasio Jumlah Guru Terhadap PNSD

Grafik 3.7 memperlihatkan rasio jumlah guru terhadap total PNSD per wilayah. Rasio jumlah guru terhadap total PNSD per wilayah di Indonesia memiliki persentase rata-rata sebesar 50,14%. Terlihat bahwa wilayah Jawa Bali memiliki rasio jumlah guru tertinggi, yaitu sebesar 53,69%, sedangkan wilayah Sulawesi memiliki rasio yang terendah dengan angka sebesar 47,84%. Dengan demikian, wilayah Jawa Bali mengalokasikan lebih dari setengah Belanja Pegawainya untuk membayar Belanja Pegawai untuk guru daerah.

Yang menarik untuk diperhatikan adalah bahwa wilayah Sulawesi telah secara konsisten dalam dua tahun terakhir mengalokasikan Belanja Pegawai tertinggi, namun secara konsisten pula data menunjukkan bahwa jumlah guru

di wilayah Sulawesi adalah yang terendah. Hal ini berarti wilayah Sulawesi memang mengalokasikan Belanja Pegawai yang bersifat administratif jauh lebih tinggi di banding wilayah lain di Indonesia. Hal ini patut diperhatikan mengingat bahwa Belanja Pegawai yang bersifat administratif inilah yang menjadi sorotan masyarakat karena dinilai terlalu “gemuk” dan tidak efisien.

Grafik 3.7

Rasio Jumlah Guru Terhadap Total PNSD per Wilayah*)

Sumber: DJPK (Data Diolah)

Dalam dokumen KATA PENGANTAR. Kata Pengantar. iii (Halaman 72-81)

Dokumen terkait