• Tidak ada hasil yang ditemukan

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.7. Daerah penangkapan

Daerah penangkapan ikan swanggi berada pada perairan Selat Sunda bagian Timur, Barat Daya, dan Barat Laut. Gambar 15 menunjukkan lokasi persebaran daerah penangkapan ikan swanggi di Selat Sunda berdasarkan bulan dan jenis alat tangkap yang beroperasi. Pada musim penghujan alat tangkap jaring rampus cenderung beroperasi tidak jauh dari daratan.

Daerah penangkapan ikan swanggi berdasarkan Gambar 15 dibagi menjadi 5 kelompok berdasarkan kedekatan daerah penangkapan. Operasi penangkapan paling sedikit terjadi pada bulan April dan Juni hingga September dan lebih banyak dilakukan oleh kapal motor yang memiliki alat tangkap jaring rampus. Tabel 3 menampilkan ukuran panjang ikan swanggi yang diplotkan berdasarkan bulan dan lokasi penangkapan.

Juli Agustus September Oktober November Desember Januari Februari Maret April Mei Juni

IMP (%)

Bulan

Musim Penangkapan

39

Berikut adalah matriks penyebaran selang kelas ukuran panjang ikan swanggi :

Tabel 3. Matriks sebaran spasial, temporal, dan ukuran panjang ikan swanggi di Selat Sunda periode penangkapan bulan Maret-Oktober 2011

Kriteria Bulan

Sumber : diolah dari Ballerena (2012) Ket : pada bulan Mei dan September, dengan lokasi penangkapan pada bulan Mei yaitu 15-35 km ke arah Barat Laut Labuan, Panimbang, P. Liwungan, Tg. Sumur, Tg.

Alang-alang, dan P. Panaitan, dan lokasi penangkapan bulan September yaitu 15-35 km ke arah Barat Laut Labuan , P. Papole, dan Tg. Lesung.

40

Gambar 15. Peta daerah penangkapan ikan swanggi (Priacanthus tayenus) di Selat Sunda (Sumber : Hasil wawancara)

41

Tabel berikut adalah matriks yang akan memberikan informasi mengenai ukuran TKG pada bulan Maret hingga Oktober dan persebaran penangkapannya.

Tabel 4. Matriks sebaran spasial, temporal, dan TKG ikan swanggi di Selat Sunda periode penangkapan bulan Maret-Oktober 2011

Sumber : diolah dari Ballerena (2012) Ket :

√ : ada

TKG V, dan VI merupakan TKG ikan swanggi yang dapat melakukan pemijahan. Berdasarkan Tabel 4, persentase TKG tersebut merupakan nilai tertinggi pada bulan Maret dan September. Pada bulan September terdapat persentase TKG V dan VI tertinggi dengan lokasi penangkapan Pulau Papole,

42

Tanjung Lesung, dan 15-35 km ke arah Barat Laut Labuan, sedangkan pada bulan Maret terdapat persentase TKG V tertinggi kedua dengan lokasi penangkapan Tg.

Lesung, P. Panaitan, dan 15-35 km ke arah Barat Laut Labuan.

TKG I, II, III, dan IV merupakan TKG ikan swanggi yang belum siap untuk melakukan pemijahan. TKG I dan II memiliki persentase yang tinggi setiap bulannya, sementara TKG III dan IV hampir selalu terdapat setiap bulannya.

4.1.8. Bioekonomi

Aspek ekonomi dari eksploitasi stok ikan sangat tergantung pada karakteristik biologi dari stok ikan itu sendiri. Produksi lestari maksimum (MSY) hanya menggunakan parameter biologi saja, sedangkan produksi lestari secara ekonomi (MEY) menggunakan parameter biologi dan ekonomi. Analisis bioekonomi menggunakan parameter biologi r, q, K dan parameter ekonomi p dan c.

Berdasarkan analisis yang telah dilakukan dengan model Schaefer didapatkan parameter biologi dan ekonomi pada Tabel 5.

Tabel 5. Hasil estimasi parameter biologi dan ekonomi

Parameter Nilai

Koefisien kemampuan alat tangkap (q) (kg/trip) 0.02 Daya dukung perairan (K) (kg/tahun) 177311 Laju pertumbuhan populasi intrinsik (r) (kg/tahun) 2.16

Harga (p) (Rp/kg) 10,724

Biaya (c) (Rp/trip) 134,012

Berdasarkan Tabel 5 dapat diketahui bahwa koefisien kemampuan alat tangkap ikan swanggi yaitu jaring cantrang dan jaring rampus senilai 0.02 kg per trip, daya dukung ikan swanggi di perairan (K) sebesar 177311 kg per tahun, dan laju populasi intrinsik ikan swanggi senilai 2.16 kg per tahun. Harga dan biaya ikan swanggi didapatkan dari rata-rata hasil wawancara terhadap nelayan, yaitu masing-masing sebesar Rp 10,724 per kg dan Rp 134,012 per trip.

43

Setelah mengetahui parameter biologi dan ekonomi, perhitungan produksi dapat dilakukan. Tabel 6 memperlihatkan produksi lestari dari berbagai rezim atau kondisi.

Tabel 6. Hasil perhitungan bioekonomi dalam berbagai rezim

Variabel Kondisi

MEY MSY Aktual OA

Yield (h) 95,520.68 95,522.56 6,806.30 1,689.40

Effort (E) 67 67 80 135

TR (Rp) 1,024,376,943 1,024,397,148 72,991,700 18,117,351

TC (Rp) 9,058,676 9,099,086 10,842,370 18,117,351

Rente ekonomi (π) 1,015,318,267 1,015,298,062 62,149,330 0.00

Tabel 6 menunjukkan jumlah biomassa (yield), upaya (effort), total penerimaan (TR), total biaya (TC), dan rente ekonomi dalam kondisi MEY, MSY, Open Access (OA), dan kondisi sebenarnya atau aktual. Kondisi aktual memperlihatkan nilai variabel effort yang paling tinggi, namun memiliki rente ekonomi yang lebih kecil dari rente ekonomi pada kondisi MEY dan MSY.

Kondisi MEY dan MSY memiliki rente yang lebih besar dibandingkan kondisi aktual dan open access, dengan upaya yang lebih sedikit. Rente ekonomi pada rezim open access bernilai nol, dengan upaya paling besar. Rente ekonomi optimal diperoleh pada kondisi MEY dan MSY, hal ini ditunjukkan oleh jarak vertikal antara penerimaan dan biaya yang merupakan jarak terbesar. Tingkat upaya (effort) pada kondisi aktual sudah melebihi kedua rezim tersebut yaitu sebesar 80 trip dengan biomassa sebesar 6806.30 kg per tahun.

4.2. Pembahasan 4.2.1. Hasil tangkapan

Pelabuhan perikanan pantai Labuan terdiri dari tiga PPP, yaitu PPP 1, PPP 2, dan PPP 3. Pendaratan ikan swanggi dilakukan di PPP 1 Labuan, dimana armada penangkapan ikan swanggi adalah kapal berukuran 2-6 GT dengan alat tangkap jaring rampus dan kapal berukuran 6-24 GT dengan alat tangkap jaring cantrang.

Hasil tangkapan dominan di PPP 1 Labuan adalah ikan-ikan demersal seperti ikan kuwe, kerapu, manyung, kurisi, kuniran, pepetek, dan ikan swanggi.

44

Keadaan hasil tangkapan yang cenderung stabil pada tahun 2001 hungga 2002 diduga disebabkan oleh perubahan jumlah alat tangkap di Labuan yang tidak terlalu signifikan (Tabel 2). Pada tahun 2002 terjadi peningkatan hasil tangkapan yang signifikan hingga tahun 2005, hal tersebut diduga disebabkan oleh peningkatan kapasitas kapal pada tahun 2003. Penurunan jumlah alat tangkap dilakukan pada tahun 2003 guna menjaga keberadaan sumberdaya ikan di Selat Sunda, namun disertai dengan peningkatan kapasitas kapal di Labuan sehingga terjadi peningkatan produksi tangkapan hingga tahun 2005. Secara alamiah, nelayan akan merespon penurunan stok ikan dengan merekayasa peningkatan kemampuan tangkap kapal, ukuran kapasitas kapal, jaring, dan taktik penangkapan (peningkatkan kemampuan tangkap dengan perlengkapan teknologi yang lebih maju).

Hasil tangkapan dan harga ikan swanggi di PPP Labuan sangat berfluktuasi, hal ini dapat disebabkan oleh faktor alami maupun faktor non-alami yang bersifat dari manusia. Faktor alami yang mempengaruhi fluktuasi hasil tangkapan dan harga ikan swanggi yaitu ukuran stok, mortalitas alami, dan migrasi. Sedangkan faktor non-alami yaitu struktur pasar, biaya operasional, perubahan teknologi, dan perilaku konsumen (Charles 2001).

Harga ikan swanggi terendah terdapat pada operasi penangkapan ke-4 pada tanggal 14 Februari 2011, yaitu Rp 4.000,-, hal ini disebabkan oleh hasil tangkapan maksimum terjadi pada tanggal tersebut (Gambar 10). Berdasarkan perhitungan indeks musim penangkapan periode 2010-2011, bulan Februari termasuk kategori musim penangkapan, dengan nilai IMP 120.23 %.

Harga ikan swanggi tertinggi terjadi pada tanggal 2 Oktober yaitu Rp 14.957,- dengan hasil tangkapan hanya sebesar 23.4 kg. Berdasarkan perhitungan indeks musim penangkapan periode 2010-2011, bulan Oktober termasuk kategori bukan musim penangkapan, dengan nilai IMP 64.18 %.

Dokumen terkait