• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR ISI

DAFTAR PUSTAKA

Agustina SW. 2002. Penetapan Kadar

Xilan Dari Beberapa Limbah Industri Pertanian dengan Menggunakan Metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi [Skripsi]. Jakarta: Fakultas Farmasi Universitas Pancasila.

Agustine W. 2005. Penentuan Kondisi

Optimum Pertumbuhan dan Produksi Xilanase Isolat AQ [Skripsi]. Bogor:

Fakultas Matematika dan Ilmu

Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor.

Anggraini F. 2003. Kajian Ekstraksi dan Hidrolisis Xilan dari Tongkol Jagung (Zea mays L.) [Skripsi]. Bogor: Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Apriyantono A, Fardiaz D, Puspitasari NL, Sedarnawati. 1989. Analisis Pangan. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Beg QK, Kapoor M, Mahajan L, Hoondal

GS. 2001. Microbial xylanases and their industrial applications: a review.

Appl Microbiol Biotech 56: 326-338. Chen C, Chen JL, Lin TY. 1997.

Purification and characterization of

xylanase from Trichoderma

longibrachiatum for xilooligosakarida

production. Enzyme Microb Technol

21: 91-96.

Girindra A. 1993. Biokimia I. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Haki GD, Rakshit SK. 2003. Developments in industrially important thermostable

enzymes: a review. Bioresource

Technol 89: 17-34.

Hendarwin T. 2005. Keragaman Karakter

Xilanase dari Tiga Isolat Streptomyces Asal Indonesia [Skripsi]. Bogor:

Fakultas Matematika dan Ilmu

Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor.

Irawadi, TT. 1999. Kajian hidrolisis enzimatik limbah lignoselulosa dari industri pertanian. Tek Ind Pert 3: 20-25.

Kluepfel D, Daigneault N, Morosoli R, Shareck F. 1991. Purification and characterization of a new xylanase

(xylanase C) produced by Streptomyces

lividans 66. Appl Environ Microbiol

50:626-631.

Kulkarni NA, Shendye, Rao M. 1999. Molecular and biotechnologycal aspect

of xylanases. FEMS Microbiol Rev 23:

411-456.

Lehninger A. 1982. Dasar-Dasar Biokimia.

Volume ke-1. Suhartono MT,

penerjemah; Jakarta: Erlangga.

Terjemahan dari Principles of

Biochemistry.

Li X, Zhang Z, Jeffrey FDD, Karl-Erik LE, Lars GL. 1993. Purification and characterization of a new xylanase

(APX-II) from fungus Aureobasidium

pullulans Y-2311-1. Appl. and Environ Microbiol 59: 3212-3218.

Miller GI. 1959. Dinitrosalisilic assay.

Anal chem 31: 426-428.

Mountfort DO, Asher RA. 1989. Production of xylanase by the ruminal anaerobic fungus Neocallimastix frontalis. Appl. and Environ Microbiol 55:1016-1022.

Pratiwi FMR. 2006. Produksi Xilanase dari

Streptomyces sp. pada Substrat Xilan Tongkol Jagung [Skripsi]. Bogor: Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Rahman S, Sugitani N, Hatsu M,

Takamizawa K. 2003. A role of xylanase, a-arabinofuranosidase, and xylosidase in xylan degradation. Can J Microbiol 49: 58-64.

Richana N, Lestari P, Thontowi A, Rosminik. 2000. Seleksi isolat bakteri lokal penghasil xilanase. J Microbiol Indones 5: 54-56.

Richana N. 2002. Produksi dan prospek enzim xilanase dalam pengembangan bioindustri di Indonesia. Bul Agrobio 5: 29-36.

Ruiz-Arribas A, Abalos JMF, Shanchez P, Garda AL, Santamaria RJ. 1995.

Overproduction, purification, and

biochemical characterization of a

xylanases (xys1) from Streptomyces

halstedii JM8. Appl Environ Microbiol

61(6): 2414-2419.

Rawashdeh R, Saadoun I, Mahasneh A. 2005. Effect of cultural conditions on

xylanase production by Streptomyces

sp. (strain lb 24D) and its potential to

Saha BC.2003. Hemicellulose

bioconversion. J Ind Microbiol

Biotechnol 30: 279-291.

Stahl E. 1969. Thin Layer Chromatography.

Second Edition. Springer-verlag. New York.

Subramaniyan S, Prema P. 2002.

Biotechnology of microbial xylanases: enzymology, molecular biology, and

application. Critical Rev in Biotech

22(1): 33-64.

Vazquez MJ, Alonso JL, Dominguez H, Parajo JC. 2001. Xilooligosaccharides:

manufacture and applications. Trends

Food Sci Technol 11: 387-393.

Wang SL, Yen YH, Shih IL, Chang AC. 2003. Production xylanases from rice

bran by Streptomyces actuosus A-151.

Enzyme Microb Technol 33: 917-925.

White D. 1995. The Physiology and

Biochemistry of Prokaryotes. New York: Oxford University.

Widyani, IGA. 2002. Ekstraksi Xilan dari Tongkol Jagung dan Kulit Ari Kedelai

[Skripsi]. Bogor: Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Yang R, Xu S, Wang Z, Yang W. 2005.

Aqueous extraction of corncob xylan and production of xylooligosaccharides.

Swiss Soc Food Sci Technol 38: 677-682.

Yoon KY, Woodams EE, Hang YD. 2005. Enzymatic production of pentoses from hemicellulose fraction of corn residues.

Swiss Soc Food Sci Technol 39: 387-3912.

Lampiran 1 Komposisi media agar-agar xilan dan media produksi xilanase (Ruiz-Arribas et al.1995)

Lampiran 2 Prosedur karakterisasi bahan baku 1 Kadar Air (AOAC 1984)

Contoh sebanyak 2 g dimasukkan ke dalam cawan aluminium yang telah diketahui

bobotnya, kemudian dikeringkan di dalam oven bersuhu 100-1050 C sampai bobot konstan.

Setelah itu didinginkan di dalam desikator dan ditimbang.

2 Kadar Abu (AOAC 1984)

Contoh sebanyak 3-5 g dimasukkan ke dalam cawan porselin yang telah diketahui

bobotnya, kemudian diabukan dalam furnace pada suhu 6000 C selama kurang lebih 4 jam atau

sampai diperoleh abu berwarna putih. Setelah itu cawan didinginkan dalam desikator sampai suhu ruang dan ditimbang.

3 Kadar Protein Metode Kjeldahl (Apriyantono et al. 1989)

Sebanyak 0.1-0.5 g sampel dimasukkan ke dalam labu kjeldahl 30 ml dan ditambahkan 1

g CuSO4, 1 g Na2SO4, 2.5 ml H2SO4, dan beberapa butir batu didih. Kemudian, didihkan selama 60-90 menit sampai cairan jernih. Setelah itu didinginkan, dipipet isinya dan dimasukkan ke dalam labu destilasi dan ditambah 15 ml NaOH 50 %, kemudian dibilas dengan air suling. Destilasi dilakukan dengan mencampurkan 25 ml HCI 0.02 N ditambah 2-4 tetes indikator (campuran 2 bagian metal merah 0.2% dalam alkohol dan 1 bagian metal biru 0.02 dalam alkohol) ke dalam labu erlenmeyer 125 ml yang diletakkan di bawah kondensor dengan ujungnya terendam dalam labu larutan HCI. Hasil destilasi diencerkan sampai 25 ml dan dititrasi dengan NaOH 0.02 N sampai berwarna hijau.

Kadar protein = % N x faktor konversi (6.25)

4 Kadar Lemak Metode Ekstraksi Soxhlet (Apriyantono et al. 1989)

Sebanyak ± 5 g sampel yang telah ditepungkan dibungkus dengan kertas saring,

dimasukkan ke dalam labu soxhlet, lalu ditambahkan heksan secukupnya dan direfluks selama 5-6 jam. Kemudian, labu lemak yang berisi lemak hasil ekstraksi dan pelarut dipanaskan pada

oven dengan suhu 1050 C, setelah itu didinginkan dalam desikator dan ditimbang beratnya.

Bahan Media agar-agar xilan oatspelt (% b/v) Media produksi (% b/v)

Ekstrak khamir 1 1

Sukrosa 10.3 10.3

Oatspelt xylan 0.5 0.5

Agar-agar 1.5 -

Akuades 100 100

Bobot awal-bobot akhir

Kadar air = x 100%

Bobot contoh

Bobot abu

Kadar abu = x 100%

Bobot contoh

(ml HCI – ml blanko) x NHCI x 14.007 x 100

Kadar N =

mg sampel

Berat lemak

Kadar lemak = x 100%

5 Kadar Serat Kasar (AOAC 1980)

Contoh sebanyak 5 g sampel dimasukkan ke dalam erlenmeyer 500 ml kemudian

ditambahkan 100 ml H2SO4 0.325 N dan dididihkan selama kurang lebih 30 menit.

Ditambahkan lagi 50 ml NaOH 1.25 N dan dididihkan selama 30 menit. Dalam keadaan panas disaring dengan kertas Whatman No.40 setelah diketahui bobot keringnya. Kertas saring yang digunakan dicuci berturut-turut dengan air panas, 25 ml H2SO4, dan etanol 95%. Kemudian

dikeringkan di dalam oven bersuhu 100-1100 C sampai bobotnya konstan. Kertas saring

didinginkan dalam desikator dan ditimbang.

6 Kadar Lignin (AOAC 1982)

Sampel sebanyak 1 g ditimbang dalam erlenmeyer 250 ml kemudian ditambahkan

H2SO4 20 ml. Selanjutnya didiamkan selama 2 jam dan dikocok perlahan-lahan. Sampel

kemudian ditambahkan akuades sebanyak 250 ml, dipanaskan dalam waterbath pada suhu 1000

C selama 3 jam. Selanjutnya dilakukan penyaringan dengan menggunakan kertas saring yang telah diketahui bobotnya (A). Erlenmeyer dan corong dibilas dengan akuades sebanyak 3 kali. Kertas saring beserta residu diovenkan pada suhu 1050 C selama 1-2 jam. Kertas saring didinginkan dan ditimbang bobotnya (B). Kertas saring dengan residu diabukan dengan muffle

furnace pada suhu 6000 C selama 3-4 jam. Kemudian didinginkan dan ditimbang (C).

Keterangan :

A = bobot kertas saring dan residu setelah dioven (g) B = bobot kertas saring (g)

C = bobot abu (g)

7 Kadar Hemiselulosa Metode Van Soest (Apriyantono et al. 1989)

Sampel sebanyak A g dan B g masing-masing dimasukkan ke dalam gelas piala

berukuran 500 ml. Sampel A g ditambahkan dengan 50 ml larutan NDS dan sampel B g ditambahkan dengan 50 ml larutan ADS lalu dipanaskan selama 1 jam di atas penangas listrik. Selanjutnya masing-masing sampel tersebut dicuci menggunakan pompa vakum dan gelas G-3 (C g dan D g). Sampel dalam gelas G-3 dikeringkan dengan menggunakan oven, didinginkan dengan eksikator dan ditimbang sebagai E g dan F g.

Kadar hemiselulosa = % NDF - % ADF

8 Kadar Selulosa Metode Van Soest (Apriyantono et al. 1989)

Residu ADF (F g) yang berada pada gelas G-3 diletakkan diatas nampan yang berisi air

setinggi 1 cm kemudian ditambahkan H2SO4 72% setinggi ¼ bagian gelas G-3 dan dibiarkan selama 3 jam sambil diaduk-aduk. Selanjutnya sampel tersebut dicuci menggunakan aseton dan air panas serta disaring menggunakan pompa vakum dan gelas G-3. Sampel dalam gelas G-3 dikeringkan dengan menggunakan oven, didinginkan dengan eksikator dan ditimbang sebagai H g.

Bobot endapan kering

Kadar serat kasar = x 100%

Bobot contoh B – A - C Kadar lignin = x 100% Bobot contoh E - C % NDF = x 100% A F - D %ADF = x 100% B H - F Kadar selulosa (%) = x 100% B 13

Lampiran 3 Penentuan gula pereduksi metode DNS (Miller 1959)

Komposisi reagen Dinitrosalisilic Acid (DNS)

NaOH …….………. . 10 g KNa Tartrat……….. 182 g

Na2SO3……… .0.5 g

Dinitrosalisilic Acid (DNS)………. 10 g Akuades………... 1000 ml Penentuan Gula Pereduksi

Penentuan gula pereduksi dilakukan dengan menggunakan metode DNS yang melibatkan terukurnya gula pereduksi oleh larutan DNS. Metode DNS tersebut yaitu ekstrak kasar enzim 100 µl ditambahkan substrat 1 ml dan buffer 900 µl. Campuran tersebut dimasukkan ke dalam

waterbath untuk diinkubasi selama 30 menit sesuai suhu optimum xilanase masing-masing isolat.

Setelah itu ditambahkan DNS sebanyak 3 ml, dilanjutkan pemanasan pada suhu 100 0C selama 15

menit. Tahap terakhir yaitu mengukur Optical Density (OD) warna yang dihasilkan akibat

pencampuran gula pereduksi dengan larutan DNS pada spektrofometer dengan = 540 nm. Pembuatan Kurva Standar untuk Gula Pereduksi dengan Metode DNS

Standar xilosa yang digunakan 0.15-0.75 mg/ml. Larutan stok xilosa dibuat dengan cara melarutkan sebanyak 10 mg xilosa dalam akuades 10 ml sehingga konsentrasinya menjadi 1 mg/ml. Larutan stok xilosa diambil 0 ml, 0.3 ml, 0.5 ml, 0.7 ml, 0.9 ml, 1.1 ml, 1.3 ml, dan 1.5 ml, masing-masing ditempatkan pada tabung reaksi. Masing-masing larutan xilosa yang telah ditempatkan pada tabung reaksi ditambahkan akuades hingga volume larutan xilosa ditambah akuades pada tabung reaksi adalah 2 ml. Pada setiap tabung reaksi kemudian ditambahkan larutan DNS sebanyak 3 ml. Selanjutnya larutan dipanaskan dalam air mendidih selama 15 menit. Setelah dingin, larutan diukur menggunakan spektrofotometer pada = 540 nm.

Lampiran 4 Penentuan aktivitas xilanase

Bahan Jumlah Kontrol Sampel Blanko

Substrat 1 ml Ya Ya Ya

Buffer pH optimum 900 µl Ya Ya -

Enzim 100 µl Ya (setelah DNS) Ya (sebelum DNS) -

DNS 3 ml Ya Ya (setelah inkubasi) Ya

Akuades 1 ml - - Ya

Aktivitas xilanase dihitung dengan rumus : 1 unit Aktivitas xilanase ~ 1µ mol xilosa/menit

Keterangan

Csp : Kadar xilosa sampel

Ckt : Kadar xilosa kontrol

T : Waktu inkubasi (30 menit)

BM Xilosa : 150.13

Lampiran 5 Prosedur analisis total gula metode Fenol-H2SO4 (Apriyantono et al. 1989)

Penentuan Total Gula

Penentuan total gula dilakukan dengan cara mengambil 2 ml sampel hidrolisis dipipet ke

dalam tabung reaksi, ditambahkan 1 ml larutan fenol 5%, dikocok, dan ditambahkan 5 ml H2SO4

pekat. Selanjutnya larutan dibiarkan selama 10 menit, dikocok, dan diukur menggunakan spektrofotometer pada = 490 nm. Nilai absorbansi yang dihasilkan kemudian dimasukkan ke dalam persamaan linear dari kurva standar total gula.

(Csp-Ckt) x f. pengenceran x 1000 Aktivitas xilanase (U/ml) =

Penentuan Kurva Standar Total Gula

Larutan stok diambil 0 ml, 0.2 ml, 0.4 ml, 0.6 ml, 0.8 ml, 1.0 ml, 1.2 ml, dan 1.4 ml, masing-masing ditempatkan pada tabung reaksi. Masing-masing larutan xilosa yang telah ditempatkan pada tabung reaksi ditambahkan akuades hingga volume larutan xilosa ditambah akuades pada tabung reaksi adalah 2 ml. Pada setiap tabung reaksi kemudian ditambahkan 1 ml larutan fenol 5% dan 5 ml H2SO4 pekat. Selanjutnya larutan didiamkan hingga dingin. Setelah dingin, larutan diukur menggunkan spektrofotometer pada = 490 nm.

Lampiran 6 Aktivitas xilanase harian isolat 234P-16

Media Aktivitas Xilanase (U/ml)

Hari ke- 4 5 6 7 8 9 10 0.5% oatspelt 0.19 0.27 0.20 0.20 0.15 0.14 0.08 0.5% xilan tongkol jagung 0.05 0.15 0.12 0.07 0.09 0.09 0.006 1.0% xilan tongkol jagung 0.16 0.95 0.94 0.63 0.23 0.25 0.35 1.5% xilan tongkol jagung 0.15 0.30 0.29 0.23 0.13 0.16 0.15

Lampiran 7 Aktivitas xilanase harian isolat SKK1-8

Media Aktivitas Xilanase (U/ml)

Hari ke- 4 5 6 7 8 9 10 11 12 0.5% oatspelt 0.23 0.27 0.32 0.32 0.35 0.41 0.63 0.50 0.45 0.5% xilan tongkol jagung 0.71 0.84 0.89 0.91 0.83 1.02 2.88 1.00 0.85 1.0% xilan tongkol jagung 2.17 2.45 3.54 3.54 2.23 4.11 5.48 2.05 2.14 1.5% xilan tongkol jagung 0.82 1.19 1.56 1.99 1.08 2.12 3.59 1.96 0.45

Lampiran 8 Aktivitas xilanase harian isolat 45I-3

Media Aktivitas Xilanase (U/ml)

Hari ke- 4 5 6 7 8 9 10 11 12 0.5% oatspelt 3.79 4.67 5.42 5.51 6.34 5.18 5.06 3.45 1.76 0.5% xilan tongkol jagung 1.88 2.98 5.80 9.08 11.14 9.02 5.84 8.54 8.49 1.0% xilan tongkol jagung 2.47 3.89 3.80 10.54 11.47 8.22 3.40 3.78 3.25 1.5% xilan tongkol jagung 1.16 2.36 1.35 10.08 10.94 6.84 1.84 1.59 1.50 15

Lampiran 9 Hasil TLC sampel hidrolisis isolat 234P-16

Keterangan gambar :

A : standar xilan 0 : sampel xilan o.s jam ke-0 6 : sampel xilan tongkol jagung jam ke-0

B : standar xilosa 1 : sampel xilan o.s jam ke-1 7 : sampel xilan tongkol jagung jam ke-1

C : standar arabinosa 2 : sampel xilan o.s jam ke-2 8 : sampel xilan tongkol jagung jam ke-2

D : standar manosa 3 : sampel xilan o.s jam ke-3 9 : sampel xilan tongkol jagung jam ke-3

E : standar glukosa 4 : sampel xilan o.s jam ke-4 10 : sampel xilan tongkol jagung jam ke-4

5 : sampel xilan o.s jam ke-5 11 : sampel xilan tongkol jagung jam ke-5

o.s : oatspelt

A B C D E 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

Lampiran 10 Hasil TLC sampel hidrolisis isolat SKK1-8

Keterangan gambar :

A : standar xilan 0 : sampel xilan o.s jam ke-0 6 : sampel xilan tongkol jagung jam ke-0

B : standar xilosa 1 : sampel xilan o.s jam ke-1 7 : sampel xilan tongkol jagung jam ke-1

C : standar arabinosa 2 : sampel xilan o.s jam ke-2 8 : sampel xilan tongkol jagung jam ke-2

D : standar manosa 3 : sampel xilan o.s jam ke-3 9 : sampel xilan tongkol jagung jam ke-3

E : standar glukosa 4 : sampel xilan o.s jam ke-4 10 : sampel xilan tongkol jagung jam ke-4

5 : sampel xilan o.s jam ke-5 11 : sampel xilan tongkol jagung jam ke-5

o.s : oatspelt

A B C D E 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

Rf: 0.00 0.80 0.72 0.76 0.73 0.75 0.75 0.75 0.76 0.78 0.78 0.73 0.73 0.74 0.76 0.76 0.76

Lampiran 11 Hasil TLC sampel hirolisis isolat 45I-3

Keterangan gambar :

A : standar xilan 0 : sampel xilan o.s jam ke-0 6 : sampel xilan tongkol jagung jam ke-0

B : standar xilosa 1 : sampel xilan o.s jam ke-1 7 : sampel xilan tongkol jagung jam ke-1

C : standar arabinosa 2 : sampel xilan o.s jam ke-2 8 : sampel xilan tongkol jagung jam ke-2

D : standar manosa 3 : sampel xilan o.s jam ke-3 9 : sampel xilan tongkol jagung jam ke-3

E : standar glukosa 4 : sampel xilan o.s jam ke-4 10 : sampel xilan tongkol jagung jam ke-4

5 : sampel xilan o.s jam ke-5 11 : sampel xilan tongkol jagung jam ke-5

o.s : oatspelt

A B C D E 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

Dokumen terkait