• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR ISI

PENDAHULUAN Latar Belakang

Tongkol jagung merupakan salah satu limbah padat yang dihasilkan industri pengolahan jagung. Limbah tersebut banyak

mengandung bahan berlignoselulosa

(berserat) yang memiliki potensi besar sebagai bahan baku industri (Widyani 2002).

Bahan berlignoselulosa terdiri atas

hemiselulosa, selulosa, dan lignin. Tongkol jagung mengandung 40% selulosa, 36% hemiselulosa, dan 16% lignin (Irawadi 1999). Penggunaan mikrob pada limbah berlignoselulosa dapat memicu disintesisnya

enzim ekstraselular yang mampu

mendegradasi bahan berlignoselulosa

menjadi fraksi penyusunnya (Richana et al.

2000).

Hemiselulosa terdiri atas xilan, mannan, galaktan, dan arabinan (Beg et al. 2001). Hemiselulosa dapat larut dalam larutan alkali tetapi tidak larut dalam larutan

asam. Xilan merupakan komponen

hemiselulosa terbesar penyusun dinding sel

tanaman (Kulkarni et al. 1999). Xilan

terdapat dihampir semua tumbuhan tahunan baik itu kayu keras maupun kayu lunak. Kayu keras mengandung 20-25% xilan sedangkan kayu lunak mengandung 7-12%

xilan (Wang et al. 2003). Limbah-limbah

pertanian seperti tongkol jagung, jerami padi, ampas tebu, dedak gandum, dan biji kapas juga banyak mengandung xilan

(Richana et al. 2000). Kandungan xilan

dalam tongkol jagung mencapai 40 g/100 g

tongkol (Yang et al. 2005). Xilan

merupakan komponen tertinggi pada tongkol jagung dibandingkan xilan pada limbah hasil pertanian lainnya (Agustina 2002).

Rantai utama xilan yaitu gugus xilosil

-1,4 D-xilopiranosida dengan jumlah

monomer 150 hingga 200 unit. Rantai

samping xilan berupa gugus asetil,

arabinosil, dan glukorosil (Saha 2003).

Xilanase merupakan enzim

ekstraselular yang berperan dalam hidrolisis xilan. Xilanase disekresikan dalam media yang mengandung xilan murni atau residu xilan. Induksi xilanase dapat dipicu oleh komponen lignoselulosa seperti gandum,

gabah, dan tongkol jagung (Beg et al. 2001).

Sistem enzim xilanolitik terdiri atas

-1,4-endoxilanase, -xilosidase,

-L-arabinofuranosidase, -glukoronidase, asetil xilan esterase, dan asam fenolat esterase

(Beg et al. 2001). Xilanase dapat

diklasifikasikan berdasarkan substrat yang

dihidrolisis, yaitu -xilosidase, eksoxilanase,

dan endoxilanase. -xilosidase memiliki

kemampuan menghidrolisis xilooligosakarida rantai pendek menjadi xilosa. Eksoxilanase mampu memutus rantai polimer xilosa (xilan) pada ujung reduksi, menghasilkan xilosa sebagai produk utama dan sejumlah

xilooligosakarida rantai pendek.

Endoxilanase mampu memutus ikatan -1,4 pada bagian dalam rantai xilan secara teratur (Richana 2002). Xilanase dihasilkan oleh berbagai mikrob seperti cendawan dan bakteri (Beg et al. 2001). Salah satu bakteri penghasil xilanase yang potensial yaitu

Streptomyces (Ruiz-arribas et al. 1995) dari

kelompok Aktinomiset (Rahman et al.

2003).

Aplikasi xilanase semakin

berkembang dalam bidang industri. Pada industri pulp dan kertas, xilanase digunakan untuk mengurangi penggunaan bahan kimia pemutih kertas (Ruiz-arribas et al. 1995). Pada industri makanan, kombinasi xilanase dengan selulase dan pektinase digunakan untuk menjernihkan jus (Beg et al. 2001).

Xilanase juga digunakan untuk

menghidrolisis xilan menjadi gula xilosa yang banyak digunakan penderita diabetes

(Kulkarni et al. 1999) dan xilooligosakarida

sebagai dietary fiber (Yoon et al. 2005). Xilooligosakarida adalah oligomer-oligomer gula dari unit xilosa dengan derajat

polimerisasi 2 hingga 20 (Vazquez et al.

2001). Produksi xilooligosakarida dari xilan biasanya dilakukan dengan hidrolisis secara

enzimatik (Yang et al. 2005). Produk

hidrolisis xilan ini telah banyak

dikembangkan sebagai zat pemanis atau zat

aditif pada makanan (Chen et al. 1997),

sebagai komponen-komponen prebiotik

(Vazquez et al. 2001, Yang et al. 2004),

penstimulasi metabolisme Bifidobacteria

sebagai flora normal sistem pencernaan

manusia (Yang et al. 2005), dan dietary

fiber (Vazquez et al. 2001).

Streptomyces yang digunakan dalam penelitian ini merupakan mikrob aerob yang diisolasi dari tanah dan merupakan bakteri penghasil xilanase. Masing-masing isolat yang dimaksud meliputi 234P-16 asal Padang, SKK1-8 asal Sukabumi, dan 45I-3 asal Kalimantan. Ketiga isolat ini telah dikarakterisasi menghasilkan xilanase asam. Xilanase isolat 234P-16 dan 45I-3 memiliki pH optimum 5, sedangkan xilanase isolat SKK1-8 memiliki pH optimum 6. Suhu optimum xilanase isolat SKK1-8 dan 45I-3 1

adalah 50 0C, sedangkan xilanase isolat

234P-16 adalah 90 0C (Hendarwin 2005).

Tujuan

Penelitian ini bertujuan memproduksi xilooligosakarida dari xilan tongkol jagung varietas Hawaii menggunakan xilanase

Streptomyces sp. asal Indonesia yaitu isolat, 234P-16, SKK1-8, dan 45I-3.

Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan November 2005 sampai dengan Juni 2006 di Laboratorium Pengawasan Mutu,

Laboratorium Teknologi Kimia,

Laboratorium Bioindustri Departemen

Teknologi Industri Pertanian FATETA IPB,

serta Laboratorium Mikrobiologi

Departemen Biologi FMIPA IPB. BAHAN DAN METODE Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan ialah tongkol jagung manis varietas Hawaii, tiga isolat

Streptomyces sp. (234P-16 asal Padang, SKK1-8 asal Sukabumi, dan 451-3 asal Kalimantan yang merupakan koleksi isolat Dr. Ir. Yulin Lestari). Bahan kimia yang digunakan yaitu larutan NaOCl 1%, NaOH 15%, HCl 95%, etanol 95%, media

pertumbuhan bakteri, media produksi

xilanase (Lampiran 1), dan pelarut serta

bahan visualisasi Thin Layer

Chromatography.

Alat-alat yang digunakan berupa hammer mill dengan saringan 40 mesh,

oven, inkubator bergoyang (Eberbach,

USA), sentrifuse (Jouan, Perancis),

spektrofotometer (Spectronic 20, USA),

Thin Layer Chromatography silika gel (plate

60 F254 (Merck, Darmstadt, Germany), dan

peralatan laboratorium lainnya. Metode

Penyiapan Bahan

Tongkol jagung dipotong kecil hingga berukuran 2 x 2 cm dan dikeringkan di bawah sinar matahari selama tujuh hari. Selanjutnya tongkol jagung tersebut digiling hingga menjadi tepung berukuran 40 mesh dan dilakukan analisis komposisi kimia yang meliputi kadar air, abu, protein, lemak, serta komponen serat kasar (lignin, selulosa, dan hemiselulosa) (Lampiran 2).

Ekstraksi Xilan

Tepung tongkol jagung direndam dalam larutan NaOCl 1% selama 5 jam pada suhu ruang, kemudian tepung tongkol

jagung dibilas dengan akuades dan disaring untuk diambil bagian padatannya, yaitu tongkol jagung yang terdelignifikasi, yang kemudian dikeringkan dalam oven pada

suhu 50 0C selama 48 jam. Selanjutnya

dianalisis komposisi kimia yang meliputi kadar air, kadar lignin, dan bobot kering hemiselulosa-selulosa.

Padatan yang diperoleh dari proses delignifikasi direndam dalam larutan NaOH 15% selama 24 jam pada suhu ruang, kemudian disaring. Filtrat yang mengandung xilan diukur pH-nya lalu diasamkan dengan menggunakan HCl hingga pH 4.5-5.0 kemudian disentrifugasi selama 30 menit

dengan kecepatan 4000 rpm pada suhu 4 0C.

Endapan yang mengandung xilan

diendapkan dengan penambahan etanol 95% kemudian disentrifugasi selama 30 menit

dengan kecepatan 4000 rpm pada suhu 4 0C

untuk memperoleh xilan.

Selanjutnya dilakukan pemurnian

dengan purifikasi. Xilan dibilas dengan akuades kemudian disentrifugasi kembali

dengan kecepatan 6000 rpm pada suhu 4 0C

selama 30 menit. Endapan yang diperoleh dilarutkan dalam NaOH 4% kemudian disentrifugasi dengan kecepatan 4000 rpm pada suhu 4 0C selama 30 menit. Filtrat diasamkan kembali dengan HCl 6 N hingga pH 4.5-5.0 kemudian disentrifugasi dengan kecepatan 4000 rpm pada suhu 4 0C selama 30 menit untuk memperoleh endapan yang merupakan xilan murni. Xilan kemudian dikeringkan dan diayak hingga berukuran 80 mesh.

Peremajaan Isolat dan Penyiapan

Inokulum

Ketiga isolat Streptomyces sp.

diremajakan dalam media agar-agar xilan

oatspelt (Lampiran 1) selama 5 hari pada suhu ruang hingga siap digunakan sebagai inokulum.

Penentuan Waktu Produksi Optimum dan Aktivitas Xilanase Harian

Sebanyak dua inokulum Streptomyces

dengan diameter masing-masing 1 cm yang

diambil dengan menggunakan cockborer

diinokulasikan ke dalam media produksi (Lampiran 1) pada Erlenmeyer 500 ml, diinkubasi dengan agitasi 140 rpm selama 10-12 hari pada suhu ruang.

Ekstrak kasar xilanase diperoleh setiap hari dengan cara mensentrifugasi kultur pada kecepatan 14000 rpm selama 5 menit. Supernatan (ekstrak kasar enzim)

diukur aktivitasnya pada pH dan suhu optimum masing-masing enzim ketiga isolat (Hendarwin 2005) sehingga didapatkan waktu produksi enzim optimum.

Aktivitas xilanase diukur sebagai pembentukan gula pereduksi (Lampiran 3)

dengan menggunakan metode DNS

berdasarkan Miller (1959) dengan standar xilosa 0.15-0.75 mg/ml (Lampiran 4). Satu unit aktivitas xilanase didefinisikan sebagai jumlah enzim yang menghasilkan 1 µmol xilosa dalam waktu 1 menit.

Pengaruh Konsentrasi Xilan Tongkol Jagung terhadap Aktivitas Xilanase

Sebanyak dua inokulumisolat dengan

diameter masing-masing 1 cm yang diambil

dengan menggunakan cockborer

diinokulasikan ke dalam 100 ml media produksi xilan tongkol jagung masing-masing dengan konsentrasi 0.5%, 1.0%,

1.5% xilan tongkol jagung dalam

Erlenmeyer 500 ml, diinkubasi dengan agitasi 140 rpm selama 10-12 hari pada suhu ruang. Pengukuran aktivitas xilanase dilakukan pada kondisi pH dan suhu

optimum dengan substrat xilan oatspelt.

Hidrolisis Xilan menggunakan Xilanase

Xilan oatspelt dan xilan tongkol

jagung dihidrolisis dengan xilanase ekstrak kasar dari masing-masing isolat. Xilanase ekstrak kasar ini diperoleh dari isolat yang ditumbuhkan pada media produksi xilan

oatspelt dan xilan tongkol jagung hingga hari produksi optimum xilanase. Inkubasi dilakukan pada pH dan suhu optimum. Sebanyak 1 ml sampel hasil hidrolisis xilanase tiap jam selama 5 jam dari substrat 0.5% xilan oatspelt, 0.5% xilan tongkol jagung, 1% xilan tongkol jagung, dan 1.5% xilan tongkol jagung diambil dan diamati peningkatan gula pereduksi dengan metode DNS (Miller 1959), sedangkan kandungan total gula diukur dengan metode fenol asam

sulfat (Apriyantono et al. 1989)

menggunakan xilosa sebagai standar

(Lampiran 5). Derajat polimerasi dihitung berdasarkan perbandingan antara total gula dengan gula pereduksi yang dihasilkan.

Analisis Produk Hidrolisis Xilanase

dengan Thin Layer Chromatography

(TLC)

Sebanyak 2 µl sampel hasil hidrolisis diteteskan di atas lempeng TLC, kemudian dicelupkan dalam larutan etil asetat dan 65% isopropanol (2 :8 v/v) sebagai pelarut (Stahl

1969). Visualisasi spot dilakukan dengan

menggunakan larutan yang terdiri atas

0.5 ml anisaldehida, 5 ml H2SO4, dan 90 ml

etanol 95% (Stahl 1969). Sebagai standar digunakan xilosa, arabinosa, manosa, dan glukosa.

HASIL

Komposisi Kimia Tongkol Jagung

Dari hasil analisis yang telah

dilakukan, tongkol jagung varietas Hawaii mengandung 7.04% air (b.b), 1.67% abu (b.k), 1.82% protein (b.k), 4.68% lemak (b.k), 40.65% serat kasar (b.k), dan 44.14%

karbohidrat (by difference) (b.k). Komposisi

serat tongkol jagung sebelum delignifikasi yaitu lignin sebesar 16.14% (b.k), selulosa 60.04% (b.k), dan hemiselulosa 18.11% (b.k)

Ekstraksi Xilan

Perolehan tepung tongkol jagung setelah delignifikasi yaitu sebesar 81% dengan kadar lignin sebesar 15.2% (b.k), selulosa 41.88% (b.k), dan hemiselulosa 30.18% (b.k). Secara fisik, perubahan warna terlihat. Mula-mula dengan penambahan larutan NaOCl 1% tepung berwarna kuning. Semakin lama perendaman, warna kuning menjadi semakin tua hingga akhirnya menjadi coklat muda.

Selama proses ekstraksi dalam larutan NaOH 15% selama 24 jam, tepung berwarna coklat tua kehitaman. Filtrat NaOH yang mengandung ekstrak xilan setelah diasamkan dengan HCl hingga pH 4.5-5 menghasilkan cairan kental berwarna coklat susu. Selama pengeringan, xilan basah yang semula berwarna coklat susu semakin lama semakin tua warnanya. Endapan xilan yang diperoleh berwarna kuning agak kecoklatan. Setelah dihaluskan, tepung xilan menjadi berwarna putih kekuningan. Secara keseluruhan rendemen xilan yang diperoleh yaitu sebanyak 7.5% dari tepung tongkol jagung.

Penentuan Waktu Optimum Produksi dan Aktivitas Xilanase Harian

Produksi xilanase pada substrat xilan

oatspelt oleh ketiga isolat mencapai optimum masing-masing pada saat umur biakan mencapai hari ke-5 dengan aktivitas

0.27 U/ml (234P-16), hari ke-10 dengan

aktivitas 0.625U/ml (SKK1-8), dan hari

ke-8 dengan aktivitas 0.634 U/ml (45I-3)

(Gambar 1).

0 0.1 0.2 0.3 0.4 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Waktu (hari) A k ti v it a s x il a n a se 234P-16 SKK1-8 45I-3 Gambar 1 Kurva aktivitas xilanase ketiga

isolat dari media produksi xilan oatspelt yang diuji pada pH dan suhu optimum masing-masing enzim dengan substrat 0.5% xilan oatspelt.

Xilanase ketiga isolat pada media

produksi xilan oatspelt menunjukkan

aktivitas yang lebih tinggi pada substrat

xilan oatspelt dibandingkan pada substrat

xilan tongkol jagung (Gambar 2).

Gambar 2 Perbandingan aktivitas xilanase ketiga isolat pada konsentrasi 0.5% substrat xilan yang berbeda Pengaruh Konsentrasi Xilan Tongkol Jagung terhadap Aktivitas Xilanase

Isolat 234P-16 mencapai aktivitas optimum yaitu pada saat umur biakan mencapai hari ke-5 dengan aktivitas 0.123 U/ml pada konsentrasi 0.5% xilan tongkol

jagung, aktivitas 0.947 U/ml pada

konsentrasi 1.0% xilan tongkol jagung, serta aktivitas 0.297 U/ml pada konsentrasi 1.5% xilan tongkol jagung (Gambar 3, Lampiran 6).

Gambar 3 Pengaruh konsentrasi xilan

tongkol jagung (0.5%, 1%, dan 1.5%) terhadap aktivitas xilanase isolat 234P-16

Isolat SKK1-8 mencapai optimum yaitu pada saat umur biakan mencapai hari

ke-10 dengan aktivitas 2.879 U/ml (0.5%),

5.478 U/ml (1%), dan 3.588 U/ml (1.5%) (Gambar 4, Lampiran 7). 0 1 2 3 4 5 6 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Hari ke-A k ti v it a s (U /m l) 0.50% 1.00% 1.5%

Gambar 4 Pengaruh konsentrasi xilan

tongkol jagung (0.5%, 1%, dan 1.5%) terhadap aktivitas xilanase isolat SKK1-8

Isolat 45I-3 mencapai optimum yaitu pada saat umur biakan mencapai hari ke-8 dengan aktivitas 11.14 U/ml (0.5%), 11.47 U/ml (1.0%), dan 10.94 U/ml (1.5%) (Gambar 5, Lampiran 8). 0 2 4 6 8 10 12 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Hari ke-A k ti v it as ( U /m l) 0.50% 1.00% 1.50%

Gambar 5 Pengaruh konsentrasi xilan

tongkol jagung (0.5%, 1%, dan 1.5%) terhadap aktivitas xilanase isolat 45I-3 0 0.2 0.4 0.6 0.8 4 5 6 7 8 9 10 Hari ke-A k ti v it a s (U /m l) 0.50% 1.00% 1.50% 0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7

isolat 234P-16 isolat SKK1-8 isolat 45I-3

Jenis Substrat Xilan

A k ti v it as X il an as e (U /m l)

Aktivitas xilanase pada ketiga konsentrasi xilan tongkol jagung dicapai pada umur biakan yang sama untuk masing-masing isolat, namun berbeda tingkat aktivitasnya. Pada konsentrasi 1% substrat dari xilan tongkol jagung, aktivitas xilanase ketiga isolat (Gambar 3,4,5) lebih tinggi dibandingkan pada konsentrasi 0.5% dan 1.5%.

Perubahan Derajat Polimerasi (DP) pada Produk Hasil Hidrolisis Xilanase

Xilanase ketiga isolat

memperlihatkan kenaikan kadar gula

pereduksi selama perlakuan inkubasi di suhu optimumnya hingga 5 jam masa inkubasi

baik pada media xilan oatspelt maupun pada

media xilan tongkol jagung (Tabel 1, 2, 3). Derajat polimerasi sampel hasil hidrolisis xilanase dari substrat xilan tongkol jagung lebih besar dibandingkan substrat

xilan oatspelt pada konsentrasi substrat yang

sama untuk isolat 234P-16 dan SKK1-8 (Tabel 1,2).

Tabel 1 Perubahan derajat polimerasi pada produk hasil hidrolisis xilanase isolat 234P-16

Tabel 2 Perubahan derajat polimerasi pada produk hasil hidrolisis xilanase isolat SKK1-8 Konsentrasi Jam ke- Gula Pereduksi Total Gula DP Xilan (mg/ml) (mg/ml) (TG/GP) 0.5% xilan 0 30.30 71.03 2.34 oatspelt 1 31.40 71.03 2.26 2 31.90 71.03 2.23 3 32.41 71.03 2.19 4 32.90 71.03 2.16 5 33.51 71.03 2.12 Konsentrasi Xilan Jam ke- Gula Pereduksi (GP) Total Gula (TG) DP (mg/ml) (mg/ml) (TG/GP) 0.5% xilan 0 1.52 71.04 46.74 oatspelt 1 2.25 71.04 31.57 2 3.11 71.04 22.92 3 3.35 71.04 21.21 4 3.44 71.04 20.65 5 3.51 71.04 20.24 0.5% xilan 0 1.28 111.46 87.08 tongkol 1 1.72 111.46 64.80 jagung 2 1.86 111.46 59.92 3 1.74 111.46 64.06 4 1.34 111.46 83.18 5 1.34 111.46 83.18 1% xilan 0 2.05 184.79 90.14 tongkol 1 2.91 184.79 63.51 jagung 2 3.40 184.79 54.35 3 4.28 184.79 43.18 4 4.81 184.79 38.42 5 5.09 184.79 36.31 1.5% xilan 0 0.80 216.14 270.18 tongkol 1 1.49 216.14 145.06 jagung 2 1.61 216.14 134.25 3 2.36 216.14 91.58 4 2.58 216.14 83.78 5 2.95 216.14 73.27 1 % xilan 0 12.24 184.56 15.08 tongkol 1 27.43 184.56 6.73 jagung 2 36.29 184.56 5.09 3 34.84 184.56 5.30 4 38.76 184.56 4.76 5 34.55 184.56 4.47 1.5% xilan 0 15.60 216.33 13.87 tongkol 1 16.91 216.33 12.79 jagung 2 19.51 216.33 11.09 3 21.95 216.33 9.86 4 18.81 216.33 11.51 5 17.59 216.33 12.01 0.5% xilan 0 28.95 111.13 3.84 tongkol 1 29.55 111.13 3.76 jagung 2 33.57 111.13 3.31 3 36.45 111.13 3.05 4 37.83 111.13 2.94 5 35.70 111.13 3.11 5

Tabel 3 Perubahan derajat polimerasi pada produk hasil hidrolisis xilanase isolat 45I-3

Analisis Produk Hidrolisis Xilan dengan Thin Layer Chromatography

Hasil Thin Layer Chromatography

(Lampiran 9, 10, 11) memperlihatkan bahwa nilai retention factor (Rf) sampel hidrolisis

baik dengan menggunakan xilan oatspelt

maupun xilan tongkol jagung tidak berbeda jauh. Namun berdasarkan gambaran dan

nilai Rf hasil Thin Layer Chromatography

memperlihatkan bahwa sampel hasil

hidrolisis berada di antara xilosa dan glukosa sebagai standar.

PEMBAHASAN

Xilan dari tongkol jagung diperoleh melalui tahapan delignifikasi, ekstraksi, dan purifikasi.

Delignifikasi merupakan proses

penghilangan lignin sebelum proses

ekstraksi sehingga hanya komponen xilan saja yang terdapat di dalam bahan. Prinsip

dari perlakuan ini adalah pemecahan ikatan kovalen antara lignin dengan karbohidrat melalui pelarutan lignin dalam pelarut yang sesuai, yang dalam hal ini NaOCl 1%. NaOCl merupakan oksidator kuat yang mengandung ion-ion hipoklorit yang mampu memecah ikatan karbon dalam struktur lignin (Lehninger 1982, Girindra 1993). Perendaman tongkol jagung dalam larutan

NaOCl 1% selama 5 jam pada suhu 28 0C

mampu menurunkan kandungan lignin bahan sebesar 0.94% (derajat delignifikasi 5.28%). Proses delignifikasi tidak dapat menghilangkan lignin secara keseluruhan. Hal ini disebabkan karena lignin terikat secara kovalen baik pada selulosa maupun hemiselulosa (Agustine 2005). Delignifikasi

berlangsung pada suhu 28 0C dikarenakan

sifat hemiselulosa yang tidak tahan panas. Kadar selulosa setelah delignifikasi diketahui menjadi rendah dibandingkan sebelum delignifikasi yaitu dari 60.04% menjadi 41.88%. Hal tersebut disebabkan karena mikrofibril selulosa dalam suatu matriks hidrofobik dibungkus secara fisik (Agustine 2005) sehingga menyebabkan selulosa ikut terlarut bersama lignin yang

hilang. Kadar hemiselulosa setelah

delignifikasi menjadi meningkat dari

18.11% menjadi 30.18%. Hal ini

disebabkan karena selama proses

delignifikasi, terjadi pula pelarutan

komponen-komponen lain selain

hemiselulosa oleh larutan NaOCl. Xilan ikut larut juga dalam pelarut namun jumlahnya lebih sedikit daripada selulosa, karena xilan relatif tahan pada kondisi

delignifikasi menggunakan NaOCl

(Anggraini 2003). Xilan merupakan komponen utama dari hemiselulosa sehingga karena xilan yang ikut hilang bersama terlarutnya lignin sedikit menyebabkan presentase hemiselulosa setelah delignifikasi meningkat (Pratiwi 2006).

Tahapan selanjutnya adalah pelarutan hemiselulosa dengan menggunakan pelarut alkali yaitu NaOH 15% (Widyani 2002). Selama proses ekstraksi, terjadi pemutusan

ikatan karbon yang terdapat pada

hemiselulosa. Akan tetapi pada

kenyataannya, komponen selulosa juga ada yang ikut larut bersama hemiselulosa. Secara umum dapat dikatakan bahwa hasil yang diperoleh dari ekstraksi dalam NaOH ini masih berupa campuran dari tipe hemiselulosa yang berbeda seperti mannan atau glikan yang berbobot molekul tinggi dan sebagian material lain ikut terendapkan

Konsentrasi Xilan Jam ke- Gula Pereduksi (GP) Total Gula (TG) DP (mg/ml) (mg/ml) (TG/GP) 0.5% xilan 1 10.69 70.75 6.62 oatspelt 2 12.42 70.75 5.70 3 15.42 70.75 4.59 4 16.07 70.75 4.40 5 16.73 70.75 4.23 0.5% xilan 0 9.87 111.05 11.25 tongkol 1 31.46 111.05 3.53 jagung 2 41.62 111.05 2.67 3 47.36 111.05 2.34 4 51.83 111.05 2.14 5 52.43 111.05 2.12 1% xilan 0 9.34 185.32 19.84 tongkol 1 30.69 185.32 6.04 jagung 2 41.18 185.32 4.50 3 45.14 185.32 4.11 4 49.08 185.32 3.78 5 51.09 185.32 3.63 1.5% xilan 0 5.27 216.47 41.08 tongkol 1 19.92 216.47 10.87 jagung 2 27.27 216.47 7.94 3 40.75 216.47 5.31 4 36.50 216.47 5.93 5 37.66 216.47 5.75

sehingga dapat mengkontaminasi xilan. Oleh karena itu, masih harus dilakukan pemurnian untuk memperoleh fraksi yang homogen (Anggraini 2003). Filtrat NaOH

yang mengandung xilan kemudian

diasamkan dengan HCl hingga pH 4.5-5.0. Metode asidifikasi ini dilakukan berdasarkan sifat xilan yang tidak larut dalam larutan asam (Vazquez et al. 2001, Yang et al. 2004). Endapan xilan dipisahkan dengan menambahkan etanol 95%. Bobot kering xilan yang diperoleh sebanyak 7.5% dari keseluruhan bahan. Hal ini sesuai dengan

yang dilaporkan oleh Beg et al. (2001),

Subramaniyan & Prema (2002), dan Wang

et al. (2003) yaitu bahwa kandungan xilan

yang terdapat pada kayu lunak (softwood)

seperti tongkol jagung sekitar 7-12% bobot kering kayu.

Enzim memiliki spesifitas yang

amat tinggi terhadap substratnya.

Penggunaan media yang berbeda dapat menyebabkan perbedaaan produksi enzim.

Perbedaan tersebut mempengaruhi

pertumbuhan mikrob (White 1995, Agustine

2005, Rawashdeh et al. 2005). Sistem

enzim xilanolitik memperlihatkan bahwa biasanya lebih dari satu xilanase diproduksi oleh masing-masing mikrob. Sistem multienzim tersebut memperkirakan bahwa beberapa xilanase mungkin memiliki fungsi khusus untuk menunjukkan efektivitas dari hidrolisis xilan (Ruiz-arribas et al. 1995).

Xilan dari tongkol jagung dapat

digunakan sebagai media penginduksi

xilanase karena xilanase dapat diinduksi oleh media yang mengandung residu xilan atau xilan murni, xilooligosakarida, xilosa, dan residu lignoselulosa (Beg et al. 2001). Limbah berserat dapat pula menginduksi xilanase (Irawadi 1991).

Struktur kimia xilan sangat bervariasi sesuai jenis tumbuhan dan hal tersebut sesuai dengan bervariasinya xilanase yang diproduksi masing-masing isolat (Li et al. 1993). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga isolat memiliki kurva produksi xilanase yang berbeda-beda dan perbedaan aktivitas xilanase pada substrat xilan dengan

menggunakan xilan oatspelt dan xilan

tongkol jagung. Aktivitas xilanase pada ketiga konsentrasi xilan tongkol jagung dicapai pada umur biakan yang sama untuk

masing-masing isolat, namun berbeda

tingkat aktivitasnya (Lampiran 6, 7, 8). Aktivitas xilanase isolat SKK1-8 (Gambar 1,4) dan 45I-3 (Gambar 1,5) lebih tinggi

pada substrat xilan tongkol jagung

dibandingkan pada xilan oatspelt pada

konsentrasi xilan yang sama, sedangkan aktivitas xilanase isolat 234P-16 lebih tinggi

pada substrat xilan oatspelt dibandingkan

pada xilan tongkol jagung pada konsentrasi xilan yang sama (Gambar 1, 3). Hal ini disebabkan karena terdapat keragaman fisiologi diantara ketiga isolat dalam memanfaatkan xilan sebagai sumber karbon. Pada konsentrasi 1% substrat dari xilan tongkol jagung, aktivitas xilanase ketiga isolat (Gambar 3,4,5) lebih tinggi dibandingkan pada konsentrasi 0.5% dan 1.5%. Penurunan aktivitas pada konsentrasi substrat 1.5 % terjadi karena meningkatnya

kepekatan media yang menghambat

interaksi enzim-substrat, disamping terjadi alih fungsi substrat dimana substrat yang berlebih dapat menjadi inhibitor bagi kerja enzim (Lehninger 1989, Irawadi 1999). Produksi xilanase juga dapat turun karena adanya akumulasi gula terlarut pada media kultur. Akumulasi pentosa bersama dengan

turunnya aktivitas xilanase selama

pertumbuhan pada konsentrasi media xilan yang semakin meningkat menunjukkan bahwa konsentrasi gula-gula mempengaruhi regulasi enzim (Mountfort & Asher 1989).

Peningkatan gula pereduksi ketiga isolat terjadi selama lima jam masa inkubasi xilanase pada suhu optimumnya. Selama lima jam masa inkubasi, xilanase ketiga isolat mampu menghidrolisis xilan menjadi fraksi-fraksi penyusunnya. Xilan mudah

dihidrolisis karena struktur xilan yang amorf

sehingga lebih mudah dihidrolisis oleh enzim.

Besarnya jumlah gula selama

perlakuan lima jam masa inkubasi dapat diketahui dengan metode penentuan total gula. Total gula dapat berupa oligosakarida (dalam hal ini xilooligosakarida) maupun monosakarida. Total gula ditetapkan berdasarkan metode fenol dengan prinsip

bahwa gula sederhana, oligosakarida,

polisakarida, dan turunannya dapat bereaksi dengan fenol dalam asam sulfat pekat menghasilkan warna oranye yang stabil (Apriyantono et al. 1989).

Tingginya nilai gula total yang

dihasilkan, sementara nilai gula

pereduksinya rendah menunjukkan bahwa produk hasil hidrolisis masih berupa oligosakarida. Hal ini dapat dilihat dari nilai derajat polimerasi xilan isolat 234P-16 pada

media xilan oatspelt maupun xilan tongkol

jagung.

Produk hidrolisis xilan oleh xilanase juga dapat diketahui dengan melihat nilai derajat polimerasinya. Derajat polimerasi

(DP) merupakan suatu nilai yang

menunjukkan seberapa besar rantai polimer yang menyusun monomernya. Nilai Derajat polimerasi xilan dari tongkol jagung (kayu

lunak) berkisar antara 70-130 (Kulkarni et

al. 1999, Beg et al. 2001). Dengan semakin

meningkatnya nilai gula pereduksi, nilai derajat polimerasi semakin turun. Nilai DP yang turun menunjukkan bahwa semakin banyak polisakarida yang terdepolimerisasi menjadi senyawa-senyawa dengan rantai yang lebih pendek dari polisakaridanya. Nilai DP dengan menggunakan xilanase isolat SKK1-8 dan 45I-3 lebih kecil daripada isolat 234P-16. Xilanase isolat 45I-3 dan SKK1-8 lebih mampu menghidrolisis xilan menjadi xilooligosakarida rantai pendek (Tabel 2, 3).

Setelah lima jam masa inkubasi, produk hidrolisis berupa xilooligosakarida rantai panjang dihasilkan oleh isolat 234P-16 dengan nilai DP antara 20.24 hingga 83.13 pada media xilan oatspelt dan media xilan tongkol jagung. Besarnya nilai DP xilooligosakarida rantai panjang yaitu 20, sedangkan DP xilooligosakarida rantai

pendek seperti xilobiosa, xilotriosa,

xilotetraosa, dan xilopentosa berkisar antara

2-20 (Chen et al. 1997, Vazquez et al.

2001).

Produk hidrolisis xilan oleh xilanase juga dapat diketahui secara kualitatif dengan

Thin Layer Chromatography (TLC). Berdasarkan gambaran dan nilai Rf hasil TLC (Lampiran 9,10,11) memperlihatkan bahwa sampel berada di antara xilosa dan

xilan sebagai standar, yang dapat

memungkinkan sampel-sampel tersebut

merupakan xilooligosakarida. Semua

gambar sampel pada plate menunjukkan bahwa hasil hidrolisis yang terbentuk dapat berupa manosa, glukosa, arabinosa, dan xilooligosakarida. Residu yang dekat dengan spot xilan menunjukkan bahwa bobot molekul pada sampel masih berat, sehingga dapat dikatakan bahwa produk

hidrolisis tersebut adalah senyawa

oligosakarida. Gambar hasil TLC tersebut

menunjukkan kesesuaian dengan nilai

kisaran DP masing-masing isolat. DP yang dihasilkan oleh isolat 234P-16 (83.13-20.24) dan SKK1-8 (12.01-2.12), dan 45I-3 (5.75-2.12) menunjukkan bahwa gambar hasil TLC isolat 234P-16 memiliki rata-rata Rf=0.74 yang lebih rendah dibandingkan

rata Rf oleh isolat SKK1-8 yaitu rata-rata Rf=0.77 dan rata-rata-rata-rata Rf oleh isolat 45I-3 yaitu rata-rata Rf=0.78. Semakin besar nilai DP berarti xilan yang terdegradasi lebih sedikit yang memungkinkan bobot molekul pada sampel tersebut masih berat sehingga menghasilkan nilai Rf yang kecil. Dari hasil TLC (Lampiran 9, 10, 11), dapat dilihat bahwa spot sampel hasil hidrolisis xilan dari

Dokumen terkait