Keberhasilan Pengobatan TB Paru
DAFTAR PUSTAKA
Aditama, T. Y., et. al, 2008. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis.
Edisi ke-2. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia .
Amin, Z., Bahar, A., 2006. Ilmu Penyakit Dalam Jilid II .Edisi IV. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Arivanti, H., 2008. Tuberkulosis di Indonesia Masih Berlanjutan. Jakarta: Medical Tribute.
Atif, M., et al, 2012. Tracing contacts of TB patients in Malaysia: costs and practicality.A SpringerOpen Journal.1:8.
Bungin, B., 2001. Metodelogi Penelitian Kualitatif.Jakarta: PT Raja Grapindo Persada.
Croft, J., Norman, H., Fred, M., 2002.Tuberkulosis Klinik. Edisi 2. Jakarta: Penerbit Widya Medik.
Crofton, J., Horne, N., Miller, F., 1999.Clinical Tuberculosis. Jakarta: Penerbit Widya Medika
Departemen Kesehatan Republik Indonesia . 1997. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, Jakarta.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2000. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, Jakarta.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia.2002. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, Jakarta.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2004. Petunjuk Penggunaan Obat KDT Untuk Pengobatan Tuberculosis Di Unit Pelayanan Kesehatan. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. RI. 2005. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Edisi 2, Cetakan I
DepartemenKesehatan Republik Indonesia. 2007. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2008. Pedoman Nasional PenanggulanganTuberkulosis.Edisi 2. Cetakan II. Jakarta: Departemen
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2009. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Edisi 2, Cetakan I.
Departemen KesehatanRepublik Indonesia . 2010. Situasi Epidemiologi TB Indonesia. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Available from :
http://tbindonesia.or.id/pdf/Data_tb_1_2010[ accesed 30 April 2013 ]. Dirjen PPM & PLP, 1997.Pengawas Menelan Obat (PMO) ala Indonesia. Jakarta. Frieden, T., R., Sbarbaro, J., A., 2007.Promoting Adherence to Treatment For
Tuberculosis
Gerdunas-TB. 2007. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Available from http://www.tbindonesia.or.id/pdf/BPN_2007.pdf.di akses pada tanggal 2 Mei 2013
Haynes, R.., B., Taylor, D., W., Sackett, D., L., 1979. Compliance in Health Care.
Hill, et. al. (2002).Effectiveness of Directly Observed Therapy (DOT) for Tuberculosis:A Review of Multinational Experience Reported in 1990 -2000. http://www.asean.disease.surveillance.net (diakses tanggal 30 Mei 2013).
Hulley, S.B, Cumming, S.R, Browner, W.S, Grady, D, Newman, T.B. 2007.Designing Clinical Research an Epidemiologic Approach.Edisi ketiga. Philadelphia: Lippincott William & Wilkin.
Irawan, R., 2009. Efektifitas Fase Intensif Program Dots pada Penderita Tb Paru Putus Berobat dan Faktor – Faktor yang Mempengaruhi di Beberapa Pusat Pengobatan TB Paru di Medan. Medan: Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
Jeong, Y., J., Lee, K., S.,2008. Pulmonary Tuberculosis : Up -To-Date Imaging and Management. American Journal of Roentgenology : 191 (3). http://www.ajronline.org/doi/full/10.2214/AJR.07.3896(diakses tanggal 9 Mei 2013).
Juwita, R., H., 2009. Hubungan Kinerja Pengawas Minum Obat (PMO) dengan Keteraturan Berobat Pasien TB Paru Strategi DOTS di RSUD Dr. Moewardi Surakarta.
Kartika,2009.Analisis Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Default Penderita TB Paru di RSUD Budhi Asih Jakarta Tahun 2008. Jakarta: Fakultas Kesehatan Masyarakat Un iversitas Indonesia.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2012.Data dan Informasi Kesehatan Provinsi Sumatera Utara Tahun 2012.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2012. Strategi Pengendalian TB di Indonesia 2010-2014.
Kementerian Kesehatan Re publik Indonesia Direktorat Jendral Pengendalian Penyakit Lingkungan, 2013. Ringkasan Eksekutif Data dan Informasi Kesehatan Provinsi Sumatera Utara 2012.
Manders, et al, 2001. Can guardians Supervise TB Treatment as well as Health Workers? A Study on Adh erence During the Intensive Phase. International Jurnal of Tuberculosis and Lung Disease.
Masniari L, Aditama T Y, Wiyono W H, Hupudio H. 2005. Penilaian Hasil Pengobatan TB Paru dan Faktor -Faktor yang Mempengaruhinya Serta Alasan Putus Berobat di RS Pers ahabatan.Jakarta: Universitas Indonesia. Nawas, A., 2005. Keberhasilan Pengobatan TB Paru dan Faktor yang
Mempengaruhinya. Jakarta: Respi Indo.
Notoadmojo, Soekidjo, 2007. Metodelogi Penelitian Kesehatan. PT Rineka Cipta: Jakarta.
Oey, L., 2007. Family Matters, How Patients and Treatment Supporters Experience Directly Observed TB treatment in Kota Bogor, Indonesia.
Perdana,P., 2008. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kepatuhan berobat penderita TB Paru di Puskesmas Kecamatan Ciracas.
Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia , 2010. Buku Saku PPTI. Jakarta.
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. 2002. Pedoman Diagnosis & Penatalaksanaan Tuberkulosis di Indonesia. Jakarta.
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. 2006. Pedoman Diagnosis & Penatalaksanaan Tuberkulosis di Indonesia. Jakarta.
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. 2011. Pedoman Diagnosis & Penatalaksanaan Tuberkulosis di Indonesia. Jakarta.
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. 2006. Tuberkulosis: Pedoman Diagnosis
dan Penatalaksanaan d i Indonesia.
http://www.klikpdpi.com/konsensus/tb.tb.html (diakses tanggal 23 Mei 2013).
Ramadhani, A., 2012. Pengaruh Pelaksaan Pengawas Menelan Obat (PMO) terhadap Konversi BTA+ pada Pasien T uberkulosi Paru di RSDK Tahun 2009/2010.Semarang: Universitas Diponogoro.
Ramzie, M., 2010.Gambaran Perubahan Berat Badan pada Pasien Tuberkulosis selama Pengobatan Dots di Balai Pengobatan Penyakit Paru -Paru Medan Tahun 2009.Medan: Fakultas Kedokteran U niversitas Sumatera Utara. Richard, E.B, Victor. C.V. 1995.Ilmu Kesehatan Anak Bahagian II (Nelson
Pediatric Textbook). Edisi ke-15. Jakarta: EGC Saunder.
Salim, L., 2002. Hubungan Persepsi Penderita terhadap Peran Pengawas menelan Obat dengan Kepatuhan Pederita TB Paru Berobat di Kota Padang Tahun 2001.
Sari, C., N., 2011.Pengaruh Pengetahuan Penderita TB Paru, Faktor Pelayanan Kesehatan dan Pengawas Menelan Obat terhadap Tingkat Kepatuhan Berobat di Puskesmas Amplas Kota Medan Tahun 2011. Medan: Fakultas kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
Sidy, Y., N., 2012.Analisis Pengaruh Peran Pengawas Menelan Obat dari Anggota Keluarga terhadap Kepatuhan Pengobatan Penderita Tuberkulosis di Kota Pariaman pada Tahun 2010 -2011. Jakarta: Universitas Indonesia. Sitepu, Y., M., 2009.Karakteristik Penderita TB Paru Relapse yang Berobat
dibalai Pengobatan Penyakit Paru -Paru pada Tahun 2000 -2007. Medan: Fakultas kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
Tabrani, I.,2007. Konversi Sputum BTA pada F ase Intensif TB Paru Kategori I antara Kombinasi Dosis Tetap (KDT) dan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) Generik di RSUP Adam Malik Medan. Medan: Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
Viney, K., et al, 2011. Guidelines for TB contact tracing in Paci fic Island countries and territories: Information of Action.1:5.
Widagdo, W., 2003.Analisis Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kepatuhan Pengobatan Tuberkulosis dalam Konteks Keperawatan Komunitas di Wilayah Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu Jakarta
Wirdani, 2001.Hubungan Keberadaan Pengawas Menelan Obat Penderita Tuberkulosis Paru di Kota Semarang.
World Health Organization (WHO). 2013. Tuberculosis. Availlable from:
www.who.co.id (diakses tanggal 25 Mei 2013).
World health Organization (WHO), 2006.Guidance for National Tuberculosis Programmeson The Management of Tuberculosis in Children. Availlable from:
http://www.who.int/maternal_child_adolescent/documents/htm_tb_2006_37 1/en/ [accesed 23 September 2013].
Yamin, S., A., 2010.Prevalensi dan Karakteristik Pasien Putus dari Pengobatan Obat Anti-Tuberkulosis di Rumah Sakit Umum Haji Adam Malik Tahun 2009.Medan: Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
Zuliana, L., 2009. Pengaruh Karakteristik Individu Faktor Pelayanan Kesehatan dan Faktor Peran Pengawas Menelan Obat terhadap Tingkat Kepatuhan Penderita TB Paru dalam Pengobatan di Puskesmas Pekan Labuhan Kota Medan.
LAMPIRAN 1