• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keberhasilan Pengobatan TB Paru

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.2 Pembahasan hasil penelitian

DOTS merupakan strategi WHO yang paling efektif untuk memastikan kepatuhan berobat dan kelengkapan pengobatan, dapat mengurangi biaya pengobatan TB paru, mengurangi frekuensi resistensi obat, resistensi MDR -TB, kasus kambuh, kasus gagal pengobatan dan meningkatka n angka kesembuhan yang dapat diartikan sebagai pengawasan langsung menelan obat jangka pendek setiap hari oleh PMO.

PMO akan mencegah drop out (putus berobat) dan lalai dengan melakukan pengawasan terhadap penderita TB agar menelan obat secara teratur sampai selesai pengobatan, memberi dorongan kepada penderita agar mau berobat

telah ditentukandan memberi penyuluhan pada anggota keluarga penderita TB yang mempunyai gejala -gejala tersangka penderita TB untuk segera memeriksakan diri ke unit pelayanan kesehatan dan DOTS melalui pengawasan langsung menelan obat olehPMO. (Depkes RI, 2005).

Berdasarkan Kepmenkes No.364/SK/Menkes/V/2009 tentang pedoman penaggulangan TB sebaiknya PMO adalah petugas kesehatan bila tidak memungkinkan barula di pilih guru,kader kesehatan, anggota PKK, anggota PPTI, tokoh masyarakat atau anggota keluarga, kenyaatan dilapangan sebagian besar PMO diarahkan kepada anggota keluarga, sehingga peran PMO yang berasal dari anggota keluarga berperan penting terhadap keberhasilan pengobatan penderita TB paru.

Berdasarkan hasil penelitian ini berdasarkan hubungan PMO dengan penderita, diperoleh jumlah responden yang memiliki hubungan dekat dengan penderita TB sebanyak 88 orang (88,9%) lebih besar daripada hubungan kurang dekat dengan penderita TB sebanyak 11 orang (11,1%) terlihat bahwa 88 PMO yang memiliki hubungan dekat (jika keluarga) dengan penderita TB memiliki 60 orang penderita yang berhasil dan 28 orang pe nderita yang gagal pengobatan, sedangkan 11 responden memiliki hubungan yang kurang dekat (jika tetangga) dengan 3 orang penderita berhasil pengobatan dan 8 orang penderita gagal pengobatan. Dari hasil Chi-Square Test, dapat dilihat bahwa p-value untuk pengukuran variabel hubungan PMO terhadap keberhasilan pengobatan penderita TB sebesar 0,004< 0,05 yang artinya terdapat hubungan antara hubungan PMO dengan keberhasilan pengobatan penderita TB. Hasil penelitian ini sejalan dengan beberapa hasil penelitian t erdahulu yang menyatakan bahwa memang benar keberadaan PMO terbukti memiliki hubungan bermakna terhadap keberhasilan pengobatan TB (Manders et al 2001 ;Widagdo,2003) sebab keluar menciptakan iklim yang lebih nyaman bagi penderita sendiri (Oey,2007) juga se suai dengan kebijakan pemerintah tentang pemilihan PMO TB harus memenuhi persyaratan, sebagai seorang yang dikenal, dipercaya, disegani, dan dihormati oleh penderita TB , disetujui baik petugas kesehatan dan penderita TB yang dipilih anggota

Dari hasil penelitian subjek berdasarkan kelompok umur diperoleh jumlah PMO berusia masa anak dan remaja (0-22 tahun) sebanyak 6 orang (6,1%), dewasa awal (17-45 tahun) sebanyak 46 orang (46,5%) dan dewasa madya (40 -65 tahun) sebanyak 37 orang (37,4%) dan dewasa akhir sebanyak 10 orang (10,1%). Terlihat bahwa 6 orang PMO dengan masa anak dan remaja memiliki 4 orang penderita berhasil pengobatan dan 2 orang penderita gagal pengobatan. Sedangkan 46 orang dewasa awal memiliki 27penderita berh asil pengobatan dan 19 orang penderita gagal pengobatan, 37 PMO dewasa madya memiliki 25 orang penderita berhasil pengobatan dan 12 orang penderita gagal pengobatan dan 10 PMO Dewasa akhir memiliki 7 orang penderita berhasil pengobatan dan 3 orang penderit a gagal pengobatan.

Berdasarkan hasil penelitian pendidikan PMOterlihat bahwa dari PMO yang tidak sekolah tidak ada penderita yang berhasil, 2 orang penderita gagal pengobatan, tamat SD memiliki 3 orang penderita yang berhasil pengobatan dan 8 orang penderita yang gagal pengobatan, tamat SMP memiliki 17 orang penderita yang berhasil dan 13 orang penderita yang gagal pengobatan, tamat SMA memiliki 35 orang penderita yang berhasil dan 12 orang penderita yang gagal pengobatan, dan akademi/sarjana memiliki 8 orang penderita berhasil dan 2 orang penderita gagal pengobatan. Hal demikian sesuai dengan penelitian (Siagian,2004) menyatakan bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang maka semakin besar keinginan untuk memanfaatkan pengetahuan dan keterampilan yang dim iliki, kegagalan pengobatan lebih banyak terjadi pada penderita dengan pendidikan yang rendah (Salim,2002 ; Wirdani, 2002).

Berdasarkan hasil penelitian pembagian status pekerjaan PMO diperoleh jumlah PMO yang tidak bekerja sebanyak 54 orang (54,6 %) lebi h besar daripada responden yang bekerja sebanyak 45 orang ( 45,4) terlihat bahwa 45 PMO yang bekerja memiliki 37 orang penderita yang berhasil dan 8 orang penderita gagal pengobatan, sedangkan 54 PMO yang tidak bekerja memiliki 26 orang penderita berhasil dan 28 orang penderita gagal pengobatan TB.

sebesar 0,000 < 0,05 yang artinya terdapat hubungan an tara status pekerjaan dengan keberhasilan pengobatan penderita TB . Hasil tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Perdana,2008) menunjukkan bahwa PMO TB Paru yang bekerja lebih patuh dibandingkan dengan yang tidak memiliki pekerjaan namun tidak menunjukkan adanya hubungan dan penelitian (Zuliana,2009) menyatakan bahwa pekerjaan tidak berpengaruh terhadap keberhasilan pengobatan penderita TB.

Berdasarkan hasil pengukuran terlihat bahwa 61 PMO yang mendapat penyuluhan dari petugas kesehatan memil iki 59 orang penderita berhasil pengobatan dan 2 orang penderita gagal pengobatan, sedangkan 38 PMO yang tidak mendapat penyuluhan dari petugas kesehatan memiliki 3 orang penderita berhasil pengobatan dan 34 orang penderita yang gagal pengobatan. Dari ha sil

Chi-Square Test, dapat dilihat bahwa p -value untuk pengukuran variabel Penyuluhan dari petugas kesehatan terhadap keberhasilan pengobatan penderita TB sebesar 0,000 < 0,05 yang artinya terdapat hubungan bermakna antara penyuluhan dari petugas kesehatan dengan keberhasilan pengobatan TB, hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang menyatakan peran PMO keluarga akan berjalan dengan baik apabila ditunjang dengan kunjungan rumah dan supervisi intensif dari tenaga kesehatan (Frieden & Sbarbao,2007) serta m endapat cukup pelatihan dan penyuluhan dari petugas kesehatan (Wirdani,2001).

Berdasarkan hasil penelitian terlihat bahwa 44 PMO serumah dengan penderita TB memiliki 39 orangpenderita berhasil dan 5 orang penderita gagal pengobatan. Sedangkan 55 orangPMO yang tidak serumah dengan penderita TB memiliki 24 orang penderita yang berhasil dan 31 orang penderita gagal pengobatan TB. Dari hasil Chi-Square Test, dapat dilihat bahwa p-value untuk pengukuran variabel tingkat status tempat tinggal PMO terhadap keber hasilan pengobatan penderita TB sebesar 0,000 < 0,05 yang artinya terdapat hubungan antara status tempat tinggal dengan keberhasilan pengobatan TB. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang menyatakan bahwa peran PMO yang serumah memberikan pengaruh ter hadap keberhasilan pengobatan TB (Salim,2002), juga

sesuai dengan kebijakan pemerintah tentang pemilihan PMO yang bertempat tinggal tidak jauh (PPTI,2010).

Berdasarkan hasil penelitian terlihat bahwa 63 PMO dengan tingkat pengetahuan yang baik memiliki 60 orang penderita berhasil pengobatan dan 3 orang penderita gagal pengobatan, sedangkan 36 PMO dengan tingkat pengetahuan yang kurang baik memiliki 3 orang penderita berhasil pengobatan dan 33 orang penderita gagal pengobatan. Dari hasil Chi-Square Test, dapat dilihat bahwa p-value untuk pengukuran variabel tingkat pengetahuan PMO terhadap keberhasilan pengobatan penderita TB sebesar 0,000 < 0,05 yang artinya terdapat hubungan bermakna antara tingkat pengetahuan PMO terhadap keberhasilan pengobatan TB. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian referensi yang menyatakan determinan keberhasilan dapat ditentuakan berdasarkan tingkat pengetahuan tentang gambaran penyakit, gambaran proses rujukan, gambran situasi fasilitas pelayanan kesehatan dan gambaran terapi pe ngobatan (Haynes, Taylor, Sacket,1979).

Berdasarkan hasil penelitian terlihat bahwa 97 PMO dengan sikap PMO yang baik memiliki 62 orang penderita berhasil pengobatan dan 35 orang penderita gagal pengobatan, sedangkan 1PMO dengan sikap yang kurang baik memi liki 1 orang penderita berhasil pengobatan dan 1 orang penderita gagal pengobatan.Dari hasil Chi-Square Test, dapat dilihat bahwa p-value untuk pengukuran variabel praktek PMO terhadap keberhasilan pengobatan penderita TB sebesar 0,000< 0,05 yang artinya terdapat hubungan bermakna antara sikap PMO terhadap keberhasilan pengobatan TB. Hal ini sesuai dengan penelitian penting nya sikap sebagai pengawas minum obat (PMO) yang turut mendukung proses keberhasilan pengobatan penderita TB Paru terutama tentang s ikap keluarga kemudian ditarik kesimpulan sebagai gambaran tentang kondisi yang mendukung keberhasilan dan kesembuhan penderita TB Paru(Bungin, 2001).

Berdasarkan hasil penelitian terlihat bahwa 96 PMO dengan praktek PMO yang baik memiliki 62 orang pende rita berhasil pengobatan dan 34 orang penderita gagal pengobatan, sedangkan 3 orang PMO dengan praktek PMO yang kurang baik memiliki 1 orang penderita berhasil pengobatan dan 2 orang penderita gagal

pengukuran variabel praktek PMO terhadap keberhasilan pengobatan penderita TB sebesar 0,004< 0,05 yang artinya terdapat hubungan bermakna antara praktek PMO terhadap keberhasilan pengobatan TB. Hal ini sesuai dengan penelitian bahwa pasien yang memiliki PMO dengan praktek yang baik memiliki kemungkinan untuk teratur berobat 5,23 kali lebih besar dibandingkan pasien yang memiliki PMO dengan praktek yang buruk, dan secara statistik hubungan tersebut signifikan. Kinerja PMO berhubungan de ngan keteraturan berobat pasien TB Paru Strategi DOTS (Juwita R.H, 2009).

BAB 6

Dokumen terkait