• Tidak ada hasil yang ditemukan

Damanik J dan Weber HF. Perencanaan Ekowisata. Yogyakarta : ANDI Yogyakarta.

Damayanti Y. 2006. Koordinasi antar instansi dalam perolehan ijin lokasi untuk perolehan hak atas tanah bagi pembangunan perumahan mega residence di Kota Semarang [tesis]. Semarang: Universitas Diponegoro.

Denise L. 2011. Collaboration vs. C-Three (Cooperation, Coordination, and Communication). http://www.ride.ri.gov/adulteducation. [15 November 2011].

[DISBUDPAR] Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Lampung. 2008. Kebudayaan dan pariwisata dalam angka tahun 2008. Lampung : Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Lampung.

Eagles PFJ, Stephen FM, Christopher DH. 2002. Suistaneble Tourism In Protected Area, Guidlenes For Palnning And Management. Switzerland and Cambridge: IUCN Publication service unit.

Fatwa AM. 2009. Tugas dan fungsi MPR serta hubungan antar lembaga negara dalam sistem ketetanegaraan. J Majelis 1 (1) : 23-20

Groenendijk L. 2003. Planning And Management Tool. Netherland: The international institut for Geo-information science and earth information. Grunewald RDA. 2006. Tourism and ethnicity. http://socialsciences.scielo.org/pdf

[13 Juli 2011]

Gulo W. 2002. Metodologi Penelitian. Jakarta : PT Gramedia Widiasarana Indonesia

Hadjan PM. 1994. Pengantar Hukum Administrasi Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Ifa J dan Tesoriero F. 2006. Community Development: Alternatif Pengembangan Masyarakat di Era Globalisasi.Yogyakarta: Pustakan Pelajar.

Indrajit. 2011. Konsorsium pelaksana proyek pengembangan electronic government . http://dosen.narotama.ac.id/ [ 2 Februari 2011].

Kajala L, Erkkonen J, Perttual M. 2004. Maesure for developing sustainability of nature tourism in protected area. http://www.metla.fi/julkaisut [13 Juli 2011].

[KEMENHUT] Kementerian Kehutanan. 2011. Taman hutan raya Wan Abdul Rachman Lampung.www.dephut.go.id/informasi/twa/tahura/wanabdul.htm [5 April 2011]

Mikkelsen B. 2003. Metode Penelitian Partisipatoris dan Upaya-Upaya Pemberdayaan. Sebuah Buku Pegangan Bagi Para Praktisi Lapang, Penerjemah. Jakarta: Matheos Nalle-Ed.3. Terjemahan dari: Methods for development work and research: A Guide for Practitioners.

Muhammad A. 2004. Komunikasi Organisasi. Jakarta: Bumi Aksara

Muntasib EKSH. 2009. Tata Kelola Pariwisata Alam di Indonesia. Di Dalam

Seminar Kebijakan, Tantangan dan Peluang Pariwisata Alam di Indonesia.Asosiasi Pariwisata Alam Indonesia (APAI). Gedung Manggala Wanabakti. Jakarta: 21-22 Juli 2009.

Muntasib EKSH dan Rachmawati E. 2009. Rekreasi Alam, Wisata dan Ekowisata. Bogor: Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan IPB.

[PEMKOT KBL] Pemerintah Kota Bandar Lampung. 2000. Profil kota. http://ciptakarya.pu.go.id/profil/profil/barat/Lampung.pdf [ 5April 2011]. [PEMPROV LPG] Pemerintah Provinsi Lampung. 2006. Potensi pariwisata

Lampung.http://www.Lampungprov.go.id/?link=isi&id=125&level=2&na ma=Potensi%20Daerah+>+Pariwisata [5 April 2011].

_______. 1964. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1964 Tentang Pembentukan Daerah Tingkat I Lampung Dengan Mengubah Undang-Undang No 25 Tahun 1959 Tentang Pembentukan Daerah Tingkat Isumatera Selatan.

_______. 2009. Undang-undang Nomor 10 Tahun 2009 Tentang Kepariwisataan. _______. 2010. Peraturan Pemerintah Nomor 36 Pengusahaan Pariwisata Alam

Di Suaka Margasatwa, Taman Nasional,Taman Hutan Raya, Dan Taman Wisata Alam.

Pemerintah Provinsi Lampung. 2010. Peraturan Gubernur Lampung nomor 27 2010 tentang pembentukan, organisasi dan tatakerja unit pelaksana teknis dinas (UPTD) pada dinas daerah di provinsi Lampung.

Pitana IGP dan Diarta IKS. 2009. Pengantar Ilmu Pariwisata. Yogyakarta: ANDI Yogyakarta.

R. Buckley, C Pickering, DB Weaver. 2001. Nature-Based Tourism, Environment and Land Management. London: CABI Publishing.

Reed MS, Anil G, Norman D, Helena P, Klaus H, Joe M, Christina P, Claire HQ, dan Linsay C. Stringer. 2009. Who’s nad why? A Typology of Stakeholder Analysis Methids for Natural Resource Management. Journal of Environ- mental Management.

Rusmawardi M. 2011. Hubungan pemerintah pusat dan pemerintah daerah di era pemberlakuan undang-undang pemerintahan daerah. J Sosioscientia 3 (11):95-102.

Scanlon J and Guilmin FB. 2004. International Enviromental Governance An International Regime For Protected Area. Canada: IUCN Publication service unit.

Schmerr K. 2009. Stakeholder analysis guidelines. http://www.lachsr.org [6 April 2011].

Slamet M. 2003. Membentuk Pola Prilaku Manusia Pembangunan. Bogor: IPB

Press.

Soekanto S. 2009. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Pers. Sunarto K. 1993. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Lembang Penerbit. Suwantoro. 2004. Dasar-Dasar Pariwisata. Yogyakarta: ANDI.

Tourism British Columbia. 2004. Economic value of the commercial nature-based tourism industry in british columbia. Canada: Pasific Analytics inc. http://www.jti.gov.bc.ca [13 Juli 2011].

Utomo BU. 2010. Kembangkan wisata Lampung, susun RAPPIDA. http://www.rribandarLampung.co.id [ 2 Januari 2011].

[UNEP] United Nations Environment Programme. 2002. Industry as a patner for sustainable development, tourism. United kingdom : United Nations Environment Programme.

Wahab S. 1992. Manajemen Kepariwisataan. Jakarta: PT Pradnya Paramita. Wildemuth BM. 2009. Application of Social Research Methods To Question In

DI KOTA BANDAR LAMPUNG DAN SEKITARNYA,

PROVINSI LAMPUNG

WINDY MARDIQA RIANI

DEPARTEMEN

KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA

FAKULTAS KEHUTANAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2012

DI KOTA BANDAR LAMPUNG DAN SEKITARNYA,

PROVINSI LAMPUNG

WINDY MARDIQA RIANI

Skripsi

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan pada Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata

Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor

DEPARTEMEN

KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA

FAKULTAS KEHUTANAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2012

WINDY MARDIQA RIANI. Mekanisme Hubungan Para Pihak dalam Pengelolaan Wisata Alam di Kota Bandar Lampung dan Sekitarnya, Provinsi Lampung. Dibimbing oleh E.K.S HARINI MUNTASIB dan RINEKSO SOEKMADI

Kota Bandar Lampung (KBL) merupakan wilayah di Provinsi Lampung yang memiliki potensi sumberdaya alam beragam dan letak strategis. Pendapatan asli daerah KBL terbesar ke-dua berasal dari sektor pariwisata. Pada tahun 2011 Pemerintah Provinsi Lampung menyusun Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah (RIPPDA) untuk menggantikan RIPPDA Lampung 2002 yang sudah tidak dapat digunakan. Penyusunan RIPPDA Lampung 2011 tidak akan berdampak besar terhadap pengembangan wisata khususnya wisata alam KBL apabila Pemerintah Provinsi Lampung hanya menyerahkan tanggung jawab pada satu pihak saja. Padahal terdapat pihak lainnya yang juga ikut bertanggung jawab dan berperan. Penelitian ini bertujuan untuk merumumuskan mekanisme hubungan para pihak dalam pengelolaan wisata alam di KBL dan sekitarnya.

Penelitian ini dilakukan di KBL pada bulan September - November 2011. Penelitian menggunakan teknik penentuan informan secara purposive sampling. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara informan kunci, observasi lapang, dan penelusuran dokumen. Penentuan informan kunci menggunakan snowball method. Analisis data yang digunakan meliputi analisis stakeholder, analisis isi, dan analisis deskriptif.

Hasil penelitian menunjukkan stakeholder yang terlibat dalam pengelolaan wisata alam di KBL meliputi Disbudpar Lampung, BKSDA Lampung, Disbudpar Bandar Lampung, Unit Pelaksana Teknis Dinas Tahura Wan Abdul Rachman, DKP Bandar Lampung, Bappeda Bandar Lampung, Watala, WWF, PT Bumi Kedaton, Perusahaan Wira Garden, Yayasan Taman Buaya Indonesia, PT Sutan Duta Sejadi, Yayasan Sahabat Alam, PT Alam Raya, Pengusaha Sukamenanti, PHRI, ASITA, HPI, Kelompok Sadar Wisata Taman Hutan Kera Tirtosari, dan masyarakat. Bentuk mekanisme hubungan diantara stakeholder ialah subordinate

dan independent. Hal itu menyebabkan adanya stakeholder yang tidak memiliki mekanisme hubungan dengan stakeholder lainnya. Rumusan mekanisme hubungan stakeholder wisata alam KBL disusun untuk merubah mekanisme hubungan antara stakeholder yang bersifat subordinate dan independent menjadi

subordinate dan dependent. Perubahan mekanisme hubungan dapat dilakukan melalui konsorsium. Konsorsium digerakkan Disbudpar Bandar Lampung dengan program kerja bersama berdasarkan hasil analisis kebutuhan. Program kerja bersama disinkronisasikan dengan TUPOKSI/aturan kelembagaan masing-masing

stakeholder yang akan menghasilkan partisipasi stakeholder. Selanjutnya dilakukan tahap pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi.

Kata kunci : Mekanisme, Hubungan, Stakeholder, Wisata Alam, Kota Bandar Lampung

WINDY MARDIQA RIANI. Mechanism of Stakeholder’s Relationship in

Natural Tourism Management in Bandar Lampung Municipality and It’s

Surrounding, Lampung Province. Under Supervision of E.K.S HARINI MUNTASIB and RINEKSO SOEKMADI

Bandar Lampung Municipality (BLM) is one of areas in Lampung Province which has high diversity of natural resources and is located in a strategic area. It’s second highest of local revenue come from tourism sector. In 2011, Lampung Governance compose Tourism Development Master Plan (TDMP) to replace the 2002 TDMP. Composing Lampung TDMP wouldn’t give major impact on tourism development, particularly BLM’s natural tourism if Lampung Governance only gave responsibility to one of stakeholder. The aim of this research was to formulate mechanism of stakeholder’s relationship on natural tourism management in Bandar Lampung Municipality and It’s surronding.

This research was done in Bandar Lampung Municipality on September until November 2011. Informant’s was determaining by purpossive sampling method. Data was collected through interview key informant, field observation, and document study. Key informants were determined through snowball sampling method. Stakeholder analysis, content analysis, and descriptive analysis were used in data analysis.

The research revealed that stakeholder which involved on natural tourism in BLM were Disbudpar Lampung, BKSDA Lampung, Disbudpar Bandar Lampung, Local Technical Implementation Unit Wan Abdul Rachman Green Forest Park, DKP Bandar Lampung, Bappeda Bandar Lampung, Watala, WWF, PT Bumi Kedaton, Wira Garden Company, Indonesia Crocodile Park Foundation, PT Sutan Duta Sejadi, Natural Friend Foundation, PT Alam Raya, Sukamenanti Employers, PHRI, ASITA, HPI, Tourism Awarness Group of Tirtosari Monkey Forest Park, and communities. The type of relationship between stakeholders was subordinate and independent, which cause the absent of relationship mechanism of several stakeholder with the aothers. The formulation of stakeholder relationship mechanism in natural management in BLM was prepared to change the subordinate and independent relationship into subordinate and dependent relationship. The change of relathionship mechanism could be done within the consortium. Consortium was drived by Disbudpar Bandar Lampung in implementing which the joint program was composed based on descriptive analysis of stakeholder’s need. Joint program should be synchronized with TUPOKSI/role of institutional each stakeholder which produce stakeholder’s participation. After that it should be implemented the phases of organization, implementation, monitoring and evaluation.

Keywords : Mechanism, Relationship, Stakeholder, Natural Tourism, Bandar Lampung Municipality

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul Mekanisme Hubungan Para Pihak dalam Pengelolaan Wisata Alam di Kota Bandar Lampung dan Sekitarnya, Provinsi Lampung adalah benar-benar hasil karya sendiri dengan bimbingan dosen pembimbing dan belum pernah digunakan sebagai karya ilmiah pada perguruan tinggi atau lembaga manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Bogor, Februari 2012

Windy Mardiqa Riani NIM E34070020

Segala puji dan syukur penulis panjatkan pada kehadirat Allah SWT karena atas karunia dan rahmat-Nya, penulis dapat menyelesaikan skipsi yang berjudul “Mekanisme Hubungan Para Pihak Dalam Pengelolaan Wisata Alam di Kota Bandar Lampung Dan Sekitarnya, Provinsi Lampung”. Skripsi ini diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Kehutanan pada Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.

Penulisan skripsi ini bertujuan untuk memberikan informasi tentang mekanisme hubungan para pihak dalam pengelolaan wisata alam di Kota Bandar Lampung dan sekitarnya serta memberikan rumusan mekanisme hubungan yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pengembangan wisata alam Kota Bandar Lampung. Rumusan mekanisme yang telah dibuat diharapkan dapat menjadi rekomendasi dalam pengembangan wisata alam di Kota Bandar Lampung.

Besar harapan penulis agar skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi para pengelola wisata alam Kota Bandar Lampung maupun semua pihak yang membutuhkan data tantang mekanisme hubungan para pihak dalam pengelolaan wisata alam di Kota Bandar Lampung dan sekitarnya.

.

Bogor, Februari 2012

Windy Mardiqa Riani dilahirkan di Lampung, 21 Desember 1989. Penulis merupakan anak pertama dari dua bersaudara pasangan Bapak H. Dede Mulyadi dan Ibu Marfu’ah. Pendidikan formal ditempuh di SD Madrassah Ibtidaiyah Muhammadiyah Braja Asri, SLTP Negeri 1 Way Jepara dan SMA Negeri 9 Bandar Lampung. Pada tahun 2007, penulis diterima di Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI).

Selama perkuliahan, penulis aktif dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Tingkat Persiapan Bersama (TPB), Himpunan Mahasiswa Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (HIMAKOVA), DKM Ibadurrahman, dan Kelompok Pemandu Agroedutourism IPB. Kegiatan-kegiatan kemahasiswaan yang pernah penulis ikuti meliputi Oryza in Action (OIA) dan Panitia Masa Perkenalan Kampus Mahasiswa Baru 45 (MPKMB), Eksplorasi Flora dan Fauna Indonesia (RAFFLESIA) 2009 di Cagar Alam Rawa Danau Provinsi Banten dan Eksplorasi Flora dan Fauna Indonesia (RAFFLESIA) 2010 di Cagar Alam Gunung Burangrang Provinsi Jawa Barat, Malam Apresiasi Seni Konservasionis (MANSION) 2009, EDELWISE 2009 di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Studi Konservasi Lingkungan (SURILI) 2009 di Taman Nasional Manupeu Tanadaru Provinsi Nusa Tenggara Timur, Muslimah In Action (MIA) 2009, Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) untuk Artikel Ilmiah tahun 2010, dan Program Kreatifitas Mahasiswa Wirausaha (PKMW) 2010.

Penulis melaksanakan Group Project di Taman Nasional Way Kambas tahun 2008, Praktek Pengenalan Ekosistem Hutan (P2EH) di BKPH Cikeong- Karawang dan Cagar Alam Gunung Burangrang-Purwakarta tahun 2009, Praktek Pengelolaan Hutan (P2H) di Hutan Pendidikan Gunung Walat Sukabumi-Jawa Barat tahun 2010, dan Praktek Kerja Lapang Profesi (PKLP) di Taman Nasional Kerinci Seblat tahun 2011.

1. Allah SWT atas limpahan Rahmat dan Karunia yang telah diberikan;

2. Kedua orangtua (H. Dede Mulyadi dan Marfu’ah) dan adik (Destian Ade Anggi) atas doa, motivasi, dan kesabaran yang diberikan;

3. Prof. Dr. E.K.S Harini Muntasib, MS. Dan Dr. Ir. Rinekso Soekmadi, MSc.F. atas bimbingan yang diberikan;

4. Paman Dzaril, Bibi Khosiah, Rifkika Izza Maorits dan Fakhri Habibi atas bantuan penginapan yang diberikan;

5. Nenek (Alm. Sobiha), Paman Sony, Bibi Atun, Bagus Nugraha, Bibi Zakia, dan Bibi Eva atas bantuan saran dan transportasi yang diberikan;

6. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandar Lampung, Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Bandar Lampung, Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah Bandar Lampung atas bantuan data dan informasi yang diberikan; 7. BKSDA Lampung, UPTD Tahura WAR, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata

Provinsi Lampung atas bantuan data dan informasi yang diberikan;

8. PT Bumi Kedaton, LSM Watala dan WWF, Perusahaan Wira Garden, Yayasan Taman Buaya Indonesia, PT Sutan Duta Sejadi, Yayasan Sahabat Alam, PT Alam Raya, Pengusaha Sukamenanti, PHRI, ASITA, HPI, dan Kelompok Sadar Wisata Taman Hutan Kera Tirtosari atas bantuan data dan informasi yang diberikan;

9. Kelurahan Sumur Batu, Kelurahan Sukadanaham, Kelurahan Batu Putu, dan Kelurahan Sukamaju atas bantuan data dan informasi yang diberikan;

10.Bu Eva, Bu Resti, Mbak Jadda, Mbak Tri atas saran yang diberikan;

11.Sarah, Otentic, Indri, Yulia, Arini, Nalfa, Kamsuri, Ridwan, Armando, Hadi, dan semua teman SMALAN 2007 atas saran dan waktu yang diberikan; 12.Sahabat-sahabatku Retno Cahya, Heri Setiawan, Resi, Meli, Rurun, Cha-cha,

Nori, Akbar, Anin, Fitrotul, Indah, Novriyanti, Dilla, Nana, Neina, Metha, Rakhmi, Hireng, Lynda, Desi atas persahabatan, kenangan, dan motivasi yang diberikan selama menjalanai perkuliahan dan penelitian;

13.Temen-teman KSHE 44 dan Hamassh atas persahabatan yang diberikan; 14.Berbagai pihak yang turut membantu, dan tidak dapat disebutkan satu persatu

iv

Halaman KATA PENGANTAR ... i DAFTAR ISI ... iv DAFTAR TABEL ... vi DAFTAR GAMBAR ... vii DAFTAR LAMPIRAN ... viii BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Perumusan Masalah ... 2 1.3 Tujuan ... 3 1.3 Manfaat ... 3 1.4 Kerangka Pemikiran ... 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pariwisata, Wisata dan Wisata Alam ... 5 2.2 Sistem dan Kelembagaan Pariwisata ... 6 2.3 Pelaku Kegiatan Pariwisata ... 7 2.4 Governance dan Tata Kelola Wisata ... 9 2.5 Stakeholder ... 9 2.6 Analisis Stakeholder ... 10 BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Lokasi dan Waktu ... 11 3.2 Alat dan Bahan ... 12 3.3 Teknik Penentuan Informan ... 12 3.4 Metode Pengambilan Data ... 13 3.5 Analisis Data ... 17

v

4.2 Iklim dan Topografi ... 20 4.3 Potensi Wisata Alam ... 21 4.4 Aksesbilitas ... 23 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Identifikasi stakeholder dan Peranannya ... 24 5.2 Pemetaan Stakeholder ... 26 5.3 Identifikasi TUPOKSI dan Aturan Kelembagaan Stakeholder ... 31 5.4 Hubungan Stakeholder Wisata Alam ... 33 5.4.1 Koordinasi ... 35 5.4.2 Kerjasama ... 37 5.4.3 Komunikasi ... 42 5.5 Identifikasi Kebijakan Wisata Alam ... 43 5.5.1 Undang-Undang Nomor 10 tahun 2009 ... 45 5.5.2 Undang-Undang Nomor 5 tahun 1990 ... 46 5.5.3 Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1999 ... 47 5.5.4 Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2010 ... 48 5.5.5 Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 53 Tahun 2006 ... 49 5.5.6 Peraturan Daerah Kota Bandar Lampung Nomor 9

Tahun 2003 ... 50 5.5.7 Peraturan Daerah Kota Bandar Lampung Nomor 16

Tahun 2008 ... 51 5.5.8 Peraturan Walikota Bandar Lampung Nomor 31.A

Tahun 2010 ... 52 5.6 Kebutuhan Stakeholder ... 53 5.7 Rumusan Mekanisme Hubungan Stakeholder ... 57 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan ... 60 6.2 Saran ... 61 DAFTAR PUSTAKA ... 62 LAMPIRAN ... 65

vi

No. Halaman

1 Matriks pengumpulan data ... 15 2 Tingkatan administratif stakeholder wisata alam ... 24 3 Tingkat kepentingan stakeholder ... 27 4 Tingkat pengaruh stakeholder ... 27 5 Hasil analisis TUPOKSI dan aturan kelembagaan Stakeholder ... 31 6 Hasil analis kebijakan wisata alam ... 44 7 Kelompok kebutuhan stakeholder wisata alam ... 56

vii

No. Halaman

1 Kerangka pemikiran ... 4 2 Sistem kepariwisataan ... 7 3 Matriks kepentingan-pengaruh... 18 4 Matriks kepentingan dan pengaruh stakeholderwisata alam ... 28 5 Peta hubungan stakeholder wisata alam berdasarkan dokumen dan hasil

viii

No. Halaman

1 Panduan wawancara instansi pemerintah ... 66 2 Panduan wawancara lembaga/kelompok non pemerintah ... 68 3 Panduan penilaian tingkat kepentingan ... 70 4 Panduan penilaian tingkat pengaruh ... 72 5 Matrik hasil analisis isi TUPOKSI dan aturan kelembagaan ... 74 6 Matrik hasil analisis isi Kebijakan ... 85

BAB I

PENDAHULUAN

1.1Latar belakang

Wisata alam merupakan bentuk kegiatan pariwisata yang sedang berkembang pesat melebihi bentuk wisata lainnya (R. Buckley et al. 2001). Pemanfaatan potensi sumberdaya alam sebagai daya tarik wisata menjadikan jumlah kawasan wisata alam terus bertambah. Pertambahan ini disebabkan permintaan pasar wisata yang bergerak dari wisata buatan manusia ke arah wisata berbasis alam. Selain itu, wisata alam juga digunakan untuk mengembangkan dan mempromosikan potensi sumberdaya alam disetiap daerah.

Lampung merupakan provinsi yang memiliki potensi sumberdaya alam tinggi dan berdekatan dengan Jakarta. Potensi sumberdaya alam tinggi dan letak strategis menjadikan Lampung potensial sebagai provinsi tujuan wisata. Tetapi pada kenyataanya Lampung hanya menjadi tujuan wisata ke-18 di Indonesia dan kunjungan wisata didominasi wisatawan domestik. Hal itu terlihat dari data wisatawan tahun 2008, total wisatawan yang berkunjung ke Lampung sebesar 1.458.087 individu yang terdiri dari jumlah wisatawan domestik sebesar 1.448.059 individu dan jumlah wisatawan mancanegara sebesar 10.028 individu (Disbudpar Lampung 2008).

Kota Bandar Lampung (KBL) merupakan kota yang memiliki potensi sumberdaya alam beragam mulai dari pegunungan hingga pantai. KBL biasanya digunakan sebagai tempat persinggahan bagi pengendara kendaraan bermotor yang akan menuju provinsi lainnya di Pulau Sumatera. Sebagian besar potensi sumberdaya alam di KBL telah dikelola dan dikembangkan menjadi objek wisata alam. Objek wisata alam yang terdapat di KBL meliputi Taman Hutan Raya Wan Abdul Rachman, Taman Kupu-Kupu Gita Persada, Taman Wisata Bumi Kedaton, Wira Garden, Air Terjun Batu Putu, Taman Hutan Kera Tirtosari, dan Tiga pantai di Teluk Lampung yaitu Taman Tirtayasa, Pantai Puri Gading, dan Duta Wisata.

Sektor pariwisata termasuk wisata alam merupakan sektor tertinggi ke-dua dalam membangun perekonomian KBL. Persentase kegiatan ekonomi dari sektor pariwisata sebesar 22,78% (PEMKOT KBL 2000). Sektor pariwisata yang potensial di KBL dan pertambahan obyek wisata alam beberapa tahun terakhir menjadikan Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah (RIPPDA) Lampung 2002 yang memfokuskan wisata pada wisata perkotaan tidak dapat digunakan lagi. Pada tahun 2011 Pemerintah Provinsi Lampung menyusun kembali RIPPDA Lampung tahun 2011 (Utomo 2010). RIPPDA ini akan menjadi acuan bagi pemerintah KBL dalam pengembangan potensi pariwisata di KBL. Penyusunan RIPPDA tahun 2011 tidak akan berpengaruh besar terhadap pengembangan wisata khususnya wisata alam di KBL apabila tanggung jawab terhadap sektor pariwisata hanya diserahkan kepada satu pihak saja. Padahal terdapat pihak lain yang ikut berperan dan bertanggung jawab terhadap sektor pariwisata khususnya wisata alam. Pihak-pihak yang terlibat dalam pengelolaan wisata alam berasal dari instansi pemerintah, lembaga swasta, pengusaha pariwisata, kelompok masyarakat, dan masyarakat. Para pihak yang terlibat memiliki peran dan kegiatan yang berbeda. Peran dan kegiatan yang dilakukan suatu pihak mencerminkan kepentingannya. Kepentingan masing-masing pihak akan mempengaruhi mekanisme hubungan yang terjalin dalam pengelolaan wisata alam di KBL. Oleh karena itu diperlukan penelitian untuk merumuskan mekanisme hubungan para pihak dalam pengelolaan wisata alam di KBL.

1.2Perumusan masalah

Penelitian ini akan mengkaji para pihak dan hubungan diantara para pihak dalam pengelolaan wisata alam di KBL. Hal yang akan dikaji dirumuskan dalam beberapa pertanyaan sebagai berikut :

1. Bagaimana hubungan para pihakyang terlibat dalam pengelolaan wisata alam di KBL berdasarkan Tugas pokok dan fungsi (TUPOKSI) dan aturan kelembagaan?

2. Kebijakan apa saja yang diberlakukan oleh pemerintah KBL dalam kaitannya dengan wisata alam dan bagaimana implementasi dari kebijakan tersebut? 3. Kebutuhan apa saja yang diperlukan para pihak dalam pengelolaan wisata

alam di KBL?

4. Bagaimana mekanisme hubungan diantara para pihak dalam pengelolaan wisata alam di KBL?

1.3Tujuan

Penelitian ini memiliki tujuan untuk merumuskan mekanisme hubungan para pihak dalam pengelolaan wisata alam di KBL. Tujuan utama penelitian ini akan dicapai melalui tujuan antara sebagai berikut.

1.Mengidentifikasi pihak-pihak dan peranan masing-masing pihak yang terlibat dalam pengelolaan wisata alam di KBL berdasarkan tingkat kepentingan dan pengaruh.

2.Menganalisis tugas pokok dan fungsi (TUPOKSI) dan aturan kelembagaan serta hubungan yang terjadi diantara para pihak yang terlibat dalam pengelolaan wisata alam di KBL.

3.Menganalisis kebijakan yang diterapkan dalam pengelolaan wisata alam di KBL.

4.Menganalisis kebutuhan para pihak dalam pengelolaan wisata alam di KBL.

1.4Manfaat penelitian

Penelitian ini dapat digunakan sebagai sumber informasi bagi pihak-pihak yang terlibat dalam pengelolaan wisata alam di KBL. Sehingga pihak-pihak