• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

4.2 Iklim dan topograf

KBL memiliki iklim tipe A berdasarkan klasifikasi Scmidt dan Ferguson. Hal itu menunjukkan KBL lembab sepanjang tahun. KBL memiliki curah hujan berkisar antara 2.257 – 2.454 mm/tahun dengan jumlah hari hujan 76-166 hari/tahun. Kelembaban KBL berkisar antara 60% - 85% dan suhu udara 230-370. KBL terletak pada ketinggian 0 - 700 mm di atas permukaan laut. KBL memiliki

luas wilayah datar sampai landai 60%, landai sampai miring 35%, miring sampai curam 4 % (PEMPROV LPG 2006). Topografi KBL terdiri dari :

a. Daerah pantai meliputi Teluk Betung bagian selatan dan Panjang b. Daerah perbukitan meliputi Teluk Betung bagian utara

c. Daerah dataran tinggi yang bergelombang meliputi Tanjung Karang bagian barat

d. Teluk Lampung dan pulau-pulau kecil berada di bagian selatan

4.3 Potensi wisata alam

a. Taman Hutan Raya Wan Abdul Rachman

Taman Hutan Raya Abdul Rahman (Tahura WAR) merupakan hutan pegunungan yang berisi koleksi tumbuhan dan satwaliar. Jenis tumbuhan yang terdapat di Tahura WAR ialah pulai, kenanga, durian, bintung, dadap, hopea dan berbagai macam jenis anggrek. Jenis satwaliar yang terdapat di Tahura WAR antara lain macan akar, babi hutan, rangkong, siamang dan ayam hutan (KEMENHUT 2011). Selain itu di kawasan Tahura WAR juga terdapat 5 air ter- jun yang biasa digunakan mandi oleh pengunjung. Kegiatan yang dapat dilakukan ialah berkemah, lintas alam dan mandi di air terjun.

b. Taman Hutan Kera Tirtosari

Taman Hutan Kera Tirtosari (THKT) merupakan sebuah hutan seluas 1 hektar dengan kemiringan tanah 60 derajat yang diperuntukkan untuk kehidupan satwaliar. Nama kera diambil dari bahasa Lampung yang artinya sama dengan monyet tetapi satwaliar yang berada didalamnya sebenarnya ialah monyet jenis

Macaca fascicularis. Hal itu karena secara ekologi kera merupakan primata yang tidak memiliki ekor sedangkan monyet merupakan primata yang memiliki ekor. Pengunjung dapat melihat monyet yang hidup liar dihutan dan memberikan makan secara langsung. Selain sebagai habitat bagi monyet, fungsi lain dari hutan ini ialah sebagai sumber mata air dan oksigen bagi KBL.

c. Taman Wisata Bumi Kedaton

Taman wisata bumi kedaton merupakan wisata yang dikembangkan oleh PT Bumi Kedaton sejak tahun 2004. Area Taman Wisata Bumi Kedaton berupa area perbukitan dengan berbagai jenis satwaliar dan air sungai yang berasal dari Gunung Betung. Satwaliar yang terdapat di taman wisata ini berupa jenis burung pegunungan dan beberapa satwaliar yang berada di dalam kandang serta satwaliar yang digunakan untuk atraksi seperti Gajah Sumatera. Satwaliar yang berada da- lam kandang antara lain kuda, beruang madu, siamang, buaya, biawak, ular. Selain itu Taman Wisata Bumi Kedaton juga memiliki rumah khas Lampung yang digunakan untuk memperkenalkan kebudayaan Lampung.

d. Taman Kupu-Kupu Gita Persada

Taman Kupu-Kupu Gita Persada (TKGP) merupakan area penangkaran kupu-kupu yang memiliki luasan 5 ha. TKGP memiliki koleksi kupu-kupu hidup maupun awetan kupu-kupu yang berasal dari Kabupaten Liwa Lampung Barat. Pengunjung dapat melihat dan menikmati berbagai jenis kupu-kupu dan membeli awetan kupu-kupu di Taman Kupu-Kupu Gita Persada. Selain itu pengunjung ju- ga dapat memesan kupu-kupu hidup yang diambil dari kepompong kupu-kupu. e. Wisata Alam Batu Putu

Batu putu merupakan kawasan wisata yang memiliki keindahan alam yang indah dan air terjun yang mengalir di dalamnya. Batu putu juga memiliki berbagai macam tanaman buah seperti durian, duku, pisang, manggis dan palawija. Pengunjung dapat menikmati air terjun dan membeli buah-buahan segar di wisata alam batu Putu.

f. Wira garden

Wira garden merupakan kawasan wisata yang menawarkan pemandangan alam yang indah di daerah Gunung Betung. Kegiatan yang dilakukan di Wira Garden ialah hicking, camping, dan arum jeram. Wira garden juga menyewakan

cottage bagi para pengunjung yang ingin menginap di kawasan wisata. g. Pantai

KBL yang berdekatan dengan Teluk Lampung menyebabkan KBL memiliki potensi pantai yang tinggi. Pantai-pantai di KBL yang sering menjadi tujuan wisata adalah Pantai Duta Wisata, Pantai Tirtayasa, dan Pantai Puri Gading. Potensi pantai di KBL terletak di Kecamatan Teluk Betung Barat.

4.4 Aksesibilitas

Aksesibilitas menuju KBL dapat menggunakan jalur darat dan udara. Rute perjalanan jalur darat dan jalur udara antara lain :

a. Jalur darat : Jakarta – Serang - Merak – Bakauheni – Kalianda - Kota Bandar Lampung

b. Jalur Udara : Bandara Soekarno-Hatta (Jakarta) – Bandara Raden Intan (Natar) – Kota Bandar Lampung

Pada jalur darat menuju KBL diselingi dengan jalur laut melalui penyebrangan dari pelabuhan Merak-Banten menuju Pelabuhan Bakauheni- Lampung. Jalur darat menuju KBL dapat ditempuh selama 8 jam perjalanan sedangkan jalur udara ditempuh selama 45 menit di pesawat dan dilanjutkan dengan perjalanan darat selama 1 jam. Penyebrangan dari pelabuhan Merak menuju Bakauheni ataupun sebaliknya tersedia selama 24 jam dan penerbangan dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Bandara Raden Intan ataupun sebaliknya tersedia 5-8 kali penerbangan selama satu hari.

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1Identifikasi stakeholder dan peranannya

Jumlah stakeholder yang terlibat dalam pengelolaan wisata alam di KBL ialah 21 Stakeholder. Stakeholder yang terlibat berasal dari instansi pemerintah provinsi dan kota, lembaga swasta, kelompok masyarakat, pengusaha perorangan, dan masyarakat. Hasil identifikasi stakeholder berdasarkan tingkatan administrasi disajikan pada Tabel 2. Peran stakeholder dalam pengelolaan wisata alam dalam penelitian ini dibedakan menjadi empat yaitu peran perlindungan sumberdaya, pemberdayaan masyarakat setempat, penyediaan pelayanan wisata, penyediaan data dan informasi wisata alam. Stakeholder yang berasal dari instansi pemerintah, lembaga swasta, kelompok masyarakat dan masyarakat dapat memiliki keempat peran tersebut ataupun hanya sebagian saja.

Tabel 2 Tingkatan administratif stakeholder wisata alam

No. Stakeholder Prov. Kota Kelurahan Kampung

1. Disbudpar Bandar Lampung √

2. PT Bumi Kedaton √

3. Perusahaan Wira Garden √

4. UPTD Tahura WAR √

5. Yayasan Taman Buaya Indonesia √

6. PT Sutan Duta Sejati √

7. Kelompok sadar wisata THKT √

8. Yayasan Sahabat Alam √

9. BKSDA Lampung √ 10. DKP Bandar Lampung √ 11. Disbudpar Lampung √ 12. Beppeda KBL √ 13. PT Alam Raya √ 14. KPPH Sumber Agung √ 15. Watala √ 16. HPI √ 17. PHRI √ 18. ASITA √ 19. WWF √ 20. Pengusaha Sukamenanti √ 21. Masyarakat √

5.1.1 Instansi pemerintah

Peran instansi pemerintah dalam pengelolaan wisata alam KBL meliputi perlindungan sumberdaya, pemberdayaan masyarakat setempat, penyediaan pelayanan wisata, dan penyediaan data serta informasi wisata alam. Peran instansi pemerintah dalam perlindungan sumberdaya dilakukaan melalui pengawasan yang berkaitan dengan lingkungan terhadap kawasan wisata alam. Peran instansi pemerintah dalam pemberdayaan masyarakat dilakukan melalui pembentukan kelompok sadar wisata THKT di KBL. Peran instansi pemerintah dalam penyediaan pelayanan wisata dilakukan melalui perbaikan jalan menuju objek wisata. Peran instansi pemerintah dalam penyediaan data dan informasi dilakukan melalui inventarisasi atau kunjungan ke objek wisata dan dipublikasikan dalam media massa.

5.1.2 Lembaga swasta

Pada umumnya peran lembaga swasta dalam pengelolaan wisata alam di KBL meliputi pemberdayaan masyarakat, penyediaan pelayanan wisata, penyediaan data dan informasi. Peran pemberdayaan masyarakat dilakukan melalui penyediaan lapangan kerja bagi masyarakat setempat, pembinaan tentang pembibitan tanaman kehutanan oleh Yayasan Sahabat Alam dan pembinaan serta penyuluhan manfaat hutan oleh Watala. Peran penyediaan pelayanan wisata dilakukan melalui penyediaan penginapan, restoran, program wisata, dan fasilitas lainnya yang dibutuhkan pengunjung. Peran penyediaan data dan informasi dilakukan melalui billboard, website, leaflet dan papan interpretasi yang menjelaskan flora dan fauna di dalam kawasan wisata alam.

5.1.3 Kelompok masyarakat

Peran kelompok masyarakat dalam pengelolaan wisata alam di KBL meliputi perlindungan sumberdaya, pemberdayaan masyarakat setempat dan penyediaan pelayanan wisata. Peran perlindungan sumberdaya dilakukan melalui menjaga habitat satwaliar, menanam dan memelihara tumbuhan di kawasan

Tahura WAR, tidak berburu satwaliar dan tidak melakukan penebangan pohon. Peran kelompok masyarakat dalam pemberdayaan masyarakat dilakukan melalui penyuluhan yang bersifat persuasif untuk menjaga hutan dan melindungi satwaliar yang berada di daerah tempat tinggal. Peran penyediaan pelayanan wisata hanya dilakukan kelompok sadar wisata THKT dengan membangun penampungan air di sumber mata air dalam kawasan THKT.

5.1.4 Pengusaha perorangan dan masyarakat

Peran pengusaha perorangan dalam pengelolaan wisata alam di KBL ialah penyediaan pelayanan wisata. Peran penyediaan pelayanan wisata dilakukan melalui pembangunan fasilitas mushola, toilet dan tangga di wisata alam batu pu- tu. Dana yang digunakan untuk pembangunan fasilitas juga berasal dari Disbudpar Bandar Lampung selaku pemilik objek wisata alam Batu Putu. Peran masyarakat dalam pengelolaan wisata alam di KBL sebagai penyedia pelayanan wisata. Peran masyarakat dalam penyediaan pelayanan wisata dilakukan melalui pembuatan warung makan didalam kawasan wisata alam maupun disepanjang jalan menuju kawasan wisata alam.

4.2Pemetaan stakeholder

Stakeholder yang telah teridentifikasi memiliki tingkat kepentingan dan pengaruh berbeda terhadap pengelolaan wisata alam di KBL. Perbedaan tingkat kepentingan masing-masing stakeholder dipengaruhi oleh bentuk keterlibatan

stakeholder dalam wisata alam, ketergantuang stakeholder terhadap wisata alam, program kerja masing-masing stakeholder yang berkaitan dengan wisata alam, manfaat yang diperoleh stakeholder dari wisata alam, peran yang dimainkan oleh

stakeholder dalam pengelolaan wisata alam. Perbedaan tingkat ketergantungan

stakeholder dipengaruhi oleh kekuatan kondisi, kekuatan kelayakan, kekuatan kompensasi, kekuatan individu, kekuatan organisasi (Gabriel 1983; Reed et al.

2009). Hasil analisis tingkat kepentingan stakeholder dapat dilihat pada Tabel 3 dan hasil analisis tingkat pengaruh dapat dilihat pada Tabel 4. Hasil analisis

kepentingan dan pengaruh dengan menggunakan matriks Reed et al. (2009) dapat dilihat pada Gambar 4.

Tabel 3 Tingkat kepentingan stakeholder

No. Nama Stakeholder Nilai Total I II III IV V

1. Disbudpar Bandar Lampung 5 5 5 2 5 20

2. PT Bumi Kedaton 4 5 5 4 5 23

3. Perusahaan Wira Garden 3 5 5 5 3 21

4. UPTD Tahura WAR 5 5 4 5 4 23

5. Yayasan Taman Buaya Indonesia 3 4 5 5 3 20

6. PT Sutan Duta Sejati 3 4 5 5 4 21

7. Kelompok sadar wisata THKT 3 3 4 1 4 16

8. Yayasan Sahabat Alam 4 3 1 1 5 14

9. BKSDA Lampung 2 1 1 1 3 8

10. DKP Bandar Lampung 3 1 1 1 3 9

11. Disbudpar Lampung 2 3 1 1 2 9

12. Beppeda Bandar Lampung 2 3 1 1 2 9

13. PT Alam Raya 3 3 1 1 3 11 14. KPPH Sumber Agung 3 4 1 1 3 12 15. Watala 3 3 1 1 5 11 16. HPI 2 3 1 1 4 11 17. PHRI 4 1 1 1 3 10 18. ASITA 3 5 1 1 2 12 19. WWF 3 1 1 1 2 8 20. Pengusaha Sumamenanti 2 5 3 1 1 12 21. Masyarakat 1 3 1 1 2 8

Keterangan: I:keterlibatan; II: anfaat; III: persentase program kerja; IV: tingkat ketergantungan; V:peran Tabel 4 Tingkat pengaruh stakeholder

No. Nama Stakeholder Nilai Total

I II III IV V

1. Disbudpar Bandar Lampung 5 2 4 1 5 17

2. PT Bumi Kedaton 3 1 2 2 5 12

3. Perusahaan Wira Garden 1 1 3 5 2 12

4. UPTD Tahura WAR 2 2 2 1 4 11

5. Yayasan Taman Buaya Indonesia 2 1 1 5 2 11

6. PT Sutan Duta Sejati 3 1 2 4 2 12

7. Kelompok sadar wisata THKT 2 1 1 4 3 11

8. Yayasan Sahabat Alam 3 2 2 4 4 16

9. BKSDA Lampung 1 3 2 1 3 10 10. DKP Bandar Lampung 2 1 1 1 4 9 11. Disbudpar Lampung 3 1 2 1 5 12 12. Beppeda KBL 2 2 2 1 4 11 13. PT Alam Raya 1 1 1 4 1 9 14. KPPH Sumber Agung 2 1 1 3 1 8 15. Watala 3 1 1 1 4 10 16. HPI 2 1 1 1 4 9 17. PHRI 3 1 3 1 4 12 18. ASITA 3 1 2 1 4 11 19. WWF 2 1 2 1 4 10 20. Pengusaha Sumamenanti 1 1 2 2 1 7 21. Masyarakat 1 1 1 1 4 8

Hasil perhitungan total nilai kepentingan dan pengaruh masing-masing

stakeholder dipetakan dalam matriks kepentingan dan pengaruh pada Gambar 4. Gambar 4 menjelaskan pembagian stakeholder dalam empat kelompok yaitu key player, subject, context setter dan crowd. Masing-masing kelompok memiliki jumlah stakeholder yang berbeda sesuai dengan tingkat kepentingan dan pengaruhnya.

Keterangan :

1. Disbudpar K ota Bandar Lampung 2. PT Bumi Kedaton

3. Perusahaan Wira Garden 4. UPTD Tahura WAR

5. Yayasan Taman Buaya Indonesia 6. PT Sutan Duta Sejadi

7. Kelompok Sadar wisata THKT 8. Yayasan Sahabat Alam 9. BKSDA Lampung 10. DKP Bandar Lampung 11. Disbudpar Lampung 12. Bappeda Bandar Lampung 13. PT Alam Raya 14. KPPH Sumber Agung 15. Watala 16. HPI 17. PHRI 18. ASITA 19. WWF 20. Pengusaha sukamenanti 21. Masyarakat

Gambar 4 Matriks kepentingan dan pengaruh stakeholder wisata alam

a. Key player

Key player merupakan stakeholder yang memiliki kepentingan dan pengaruh yang besar dan paling aktif dalam pengelolaan (Reed et al. 2009).

Stakeholder yang dikategorikan kelompok key player dalam pengelolaan wisata alam di KBL ialah Disbudpar Bandar Lampung. Hal itu karena Disbudpar Bandar Lampung merupakan instansi pemerintah daerah yang diberikan mandat untuk melaksanakan urusan pemerintah daerah di bidang kebudayaan dan pariwisata di KBL. Sehingga semua sumberdaya alam milik pemerintah daerah yang akan dijadikan objek wisata alam harus melalui persetujuan Disbudpar Bandar

25,0 22,5 20,0 17,5 15,0 12,5 10,0 7,5 5,0 2,5 25,0 22,5 20,0 17,5 15,0 12,5 10,0 7,5 5,0 2,5 Pengaruh K e p e n t in g a n 21 20 19 18 17 16 15 14 13 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 Key Player Subject

Lampung. Selain itu, Disbudpar Bandar Lampung juga bertanggung jawab melakukan pengawasan terhadap pertumbuhan dan perkembangan wisata alam di KBL.

b. Subject

Subject merupakan stkaeholder yang memiliki kepentingan yang besar tetapi pengaruh kecil. Stakeholder jenis ini bersifat supportive, mempunyai kapa- sitas yang kecil untuk mengubah situasi (Reed et al. 2009). Stakeholder yang dikategorikan dalam kelompok subject ialah PT Bumi Kedaton, Perusahaan Wira Garden, UPTD Tahura WAR, Yayasan Taman Buaya Indonesia, PT Sutan Duta Sejadi. Keseluruhan stakeholder yang masuk dalam kelompok subject merupakan para pemilik objek wisata alam di KBL. Kelompok subject memiliki kepentingan tinggi karena melakukan pengelolaan langsung terhadap objek wisata alam yang dimiliki baik berupa pembangunan fasilitas, pembuatan program wisata, pemasaran, dan penanganan pencemaran lingkungan dari kegiatan wisata alam. Pengelolaan yang dilakukan bertujuan untuk menarik pengunjung ke objek wisata alam yang dimilikinya. Kelompok subject memiliki pengaruh kecil karena kurangnya kerjasama dengan stakeholder lainnya. Kelompok subject hanya melakukan kerjasama dengan masyarakat setempat. Kerjasama yang dilakukan dengan masyarakat setempat berupa pengamanan objek wisata alam.

c. Context setter

Context setter merupakan stkaeholder yang memiliki pengaruh besar tetapi kepentingan kecil (Reed et al. 2009). Stakeholder yang masuk dalam kelompok

context setter ialah Yayasan Sahabat Alam. Yayasan Sahabat Alam memiliki kepentingan rendah karena kegiatan wisata yang dilakukan hanya berupa wisata pendidikan kepada anak sekolah dan wisata bukan merupakan tujuan utama yayasan. Tujuan utama Yayasan Sahabat Alam adalah konservasi kupu-kupu di KBL. Yayasan Sahabat Alam memiliki pengaruh yang besar karena pemilik dan sebagian besar pengurus yayasan bergerak dibidang akademisi yaitu sebagai dosen di Universitas Lampung (UNILA). Profesi yang dimiliki pemilik dan

pengurus yayasan dapat mempengaruhi instansi pemerintah, LSM, dan masyarakat setempat. Pengaruh kepada instansi pemerintah dilakukan melalui pendapat dan saran dalam suatu kegiatan wisata seperti pameran. Pengaruh kepada LSM diberikan melalui kerjasama dalam bentuk project di bidang konservasi. Pengaruh kepada masyarakat diberikan melalui penyuluhan dan bimbingan dalam menanam bibit tanaman kehutanan. Bibit tanaman kehutanan masyarakat kemudian dibeli yayasan untuk ditanam di dalam kawasan Taman Kupu-Kupu Gita Persada.

d. Crowd

Crowd merupakan stakeholder dengan kepentingan dan pengaruh yang kecil. Stakeholder ini akan mempertimbangkan segala kegiatan yang mereka lakukan (Reed et al. 2009). Stakeholder yang termasuk dalam kelompok crowd

ialah DKP Bandar Lampung, Disbudpar Lampung, Bappeda Bandar Lampung, PT Alam Raya, KPPH Sumber Agung, Watala, HPI, PHRI, ASITA, WWF, Pengusaha Sukamenanti dan Masyarakat. Kelompok crowd memiliki kepentingan dan pengaruh kecil karena sebagian besar wilayah kerjanya berada di tingkat provinsi seperti Disbudpar Lampung, BKSDA Lampung, Watala, HPI, PHRI, ASITA dan WWF. Sehingga program kerja para stakeholder tersebut tidak terfokus di KBL melainkan untuk seluruh Provinsi Lampung.

Stakeholder yang memiliki wilayah kerja di KBL seperti DKP Bandar Lampung dan Bappeda Bandar Lampung juga memiliki kepentingan dan pengaruh kecil karena kedua instansi hanya terlibat dalam perencanaan wisata alam di KBL. Perencanaan wisata alam yang telah dibuat dalam bentuk zonasi diserahkan kepada Disbudpar Bandar Lampung untuk dikembangkan menjadi kawasan wisata alam. PT Alam Raya memiliki kepentingan dan pengaruh kecil karena PT Alam Raya sebenarnya bergerak dibidang pembangunan dan pemasaraan perumahan Pantai Puri Gading. PT Alam Raya hanya memanfaatkan keberadaan pantai di dalam perumahan menjadi objek wisata alam untuk meningkatkan nilai jual perumahan. KPPH Sumber Agung dan Pengusaha Sukamenanti memiliki kepentingan dan pengaruh kecil karena KPPH Sumber

Agung hanya sebagai mitra UPTD Tahura WAR dalam menjaga kawasan Tahura WAR sedangkan Pengusaha Sumanenanti hanya sebagai mitra Disbudpar Bandar Lampung pada pelaksanaan kegiatan wisata di Wisata Alam Batu Putu. Masyarakat memiliki kepentingan dan pengaruh kecil karena masyarakat belum dapat memanfaatkan peluang adanya objek wisata untuk menambah penghasilan kecuali sebagai pekerja di objek wisata. Selain itu masyarakat juga masih dianggap sebagai objek yang dipengaruhi bukan sebagai pelaku kegiatan wisata.

4.3Identifikasi TUPOKSI dan aturan kelembagaan stakeholder

Setiap instansi pemerintah memiliki Tugas pokok dan fungsi (TUPOKSI) sesuai bidang yang dimandatkan kepada instansi. Stakeholder yang berasal dari lembaga swasta dan kelompok masyarakat memiliki aturan kelembagaan yang menjelaskan fungsi dan tujuan lembaga. TUPOKSI instansi pemerintah dan aturan kelembagaan lembaga swasta serta kelompok masyarakat yang telah dianalisis dapat dilihat pada Tabel 5. TUPOKSI instansi pemerintah pada Tabel 5 telah mencakup seluruh instansi yang terlibat dalam pengelolaan wisata alam di KBL tetapi aturan kelembagaan yang tercantum pada Tabel 5 belum mencakup seluruh stakeholder wisata alam di KBL. Hal itu karena beberapa lembaga swasta dan kelompok masyarakat belum memiliki aturan kelembagaan secara tertulis meskipun telah memiliki struktur organisasi.

Tabel 5 Hasil analisis TUPOKSI dan aturan kelembagaan Stakeholder

No. Nama Instansi / Lembaga/ Kelompok

Dokumen Komponen Keterangan

1. Dinas Kebudayaan dan

Pariwisata Bandar Lampung

TUPOKSI Konservasi Pasal 21

Partisipasi Pasal 23,26

Manfaat ekonomi Pasal 24

Edukasi Pasal 4,11

Wisata Pasal3,4,16,17,19,20,21, 25,

dan 26

2 Dinas Kelautan dan

Perikanan Bandar Lampung

TUPOKSI Konservasi Pasal 23 – 24

Partisipasi -

Manfaat ekonomi -

Edukasi Pasal 21

No. Nama Instansi / Lembaga/ Kelompok

Dokumen Komponen Keterangan

3. Badan Perencanaan

Pembangunan Daerah Bandar Lampung

TUPOKSI Konservasi Pasal 15,20,21

Partisipasi -

Manfaat ekonomi -

Edukasi -

Wisata -

4. BKSDA Lampung TUPOKSI Konservasi Pasal 2,3,11,12,14,15, 17

Partisipasi -

Manfaat Ekonomi Pasal 3

Edukasi Pasal 12,14,16,17

Wisata Pasal 3,14,16,17

5. Dinas Kebudayaan dan

Pariwisata Lampung

TUPOKSI Konservasi -

Partisipasi -

Manfaat ekonomi Pasal 20

Edukasi -

Wisata Pasal 20

6. UPTD Taman Hutan Raya

Wan Abdul Rachman

TUPOKSI Konservasi Pasal 155

Partisipasi -

Manfaat ekonomi -

Edukasi Pasal 157

Wisata -

7. Kelompok sadar wisata

THKT Taman Hutan

AD-RT Konservasi Pasal 1 dan 7

Partisipasi Pasal 7

Manfaat ekonomi Pasal 7

Edukasi Pasal 1

Wisata Pasal 1

8. Perhimpunan Hotel dan

Retoran Indonesia

AD-RT Konservasi -

Partisipasi -

Manfaat ekonomi Pasal 6

Edukasi Pasal 6 Wisata Pasal 7 9. Himpunan Pramuwisata Indonesia AD-RT Konservasi - Partisipasi -

Manfaat ekonomi Pasal 8

Edukasi Pasal 6

Wisata Pasal 6

10. Asosiasi Tour dan Travel

Indonesia

AD-RT Konservasi -

Partisipasi -

Manfaat ekonomi Pasal 8

Edukasi Pasal 6

Wisata Pasal 6

11. Watala Visi dan

Misi

Konservasi Visi dan misi

Partisipasi Tujuan khusus

Manfaat ekonomi -

Edukasi Tujuan khusus

Wisata -

12. PT Sutan Duta Sejadi Visi dan

Misi

Konservasi -

Partisipasi -

Manfaat ekonomi -

Edukasi -

Analisis isi TUPOKSI dan aturan kelembagaan pada Tabel 4 menunjukkan komponen yang paling banyak dijelaskan dalam TUPOKSI dan aturan kelembagaan adalah komponen wisata sedangkan komponen yang paling sedikit dijelaskan dalam TUPOKSI dan aturan kelembagaan adalah komponen partisipasi. Komponen wisata paling banyak dijelaskan karena sebagian besar

stakeholder merupakan pelaksana kegiatan wisata di KBL. Komponen partisipasi paling sedikit dijelaskan karena sebagian stakeholder tidak melibatkan masyarakat dalam bidang wisata melainkan melibatkan masyarakat dalam bidang kerja masing-masing misalnya UPTD Tahura WAR yang melibatkan masyarakat untuk menjaga dan melestarikan sumberdaya alam.

5.4 Hubungan stakeholder wisata alam

Hubungan stakeholder wisata alam dapat dilihat melalui dokumen dan wawancara kepada informan kunci. Dokumen yang dapat menjelaskan hubungan diantara stakeholder adalah dokumen TUPOKSI instansi pemerintah dan aturan kelembagaan lembaga swasta serta kelompok masyarakat. Hubungan antara

stakeholder yang dilihat melalui wawancara informan kunci merupakan hubungan antara stakeholder yang terjadi di lapangan. Hubungan antara stakeholder melalui dokumen dan wawancara informan kunci dapat dikelompokkan menjadi hubungan koordinasi, kerjasama, dan komunikasi. Masing-masing kelompok hubungan akan dilihat letak hubunganya berdasarkam komponen wisata alam meliputi konservasi, partisipasi, manfaat ekonomi, edukasi dan wisata. Peta hubungan diantara stakeholder dalam pengelolaan wisata alam di KBL dapat dilihat pada Gambar 5.

Keterangan :

: Koordinasi di lapangan; : Kerjasama di lapangan; : Komunikasi di lapangan; : Koordinasi dalam dokumen; : Kerjasama dalam dokumen; : Komunikasi dalam dokumen

Gambar 5 Peta hubungan stakeholder wisata alam berdasarkan dokumen dan hasil wawancara. Pengembangan Wisata Alam di KBL Tahura WWF PT Bumi Kedaton Yayasan Sahabat Alam Kelompok Masyarakat sadar wisata taman hutan kera tirtosari BKSDA Lampung Watala Masyarakat PT Alam Raya PT Sutan Duta Sejadi Yayasan Taman Buaya Indonesia KPH Sumber Agung Pengusaha Sukamenanti Perusahaan Wira Garden HPI Disbudpar Lampung DKP KBL Disbudpar Bandar Lampung Bandar Lampung ASITA PHRI

5.4.1 Koordinasi

Koordinasi merupakan proses penyatuan unit organisasi yang berbeda untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama (Denise 2011). Koordinasi juga merupakan suatu kesatuan usaha bersama dari beberapa bagian, komponen, kelompok, atau organisasi yang memiliki bermacam sikap, tugas dan wewenang masing-masing agar tercipta suatu keserasian, keselarasan, dan kesatuan tindakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama (Damayanti 2006).

Hubungan koordinasi antara stakeholder wisata alam di KBL terletak dalam komponen konservasi dan wisata. Hubungan koordinasi dalam komponen konservasi terjadi pada BKSDA Lampung dengan UPTD Tahura WAR, Disbudpar Bandar Lampung dengan Bappeda Bandar Lampung dan DKP Bandar Lampung. Hubungan koordinasi dalam komponen wisata terjadi pada Disbudpar Lampung dengan Disbudpar Bandar Lampung. Hubungan koordinasi diantara instansi pemerintah diatas terlihat dalam dokumen TUPOKSI dan kenyataan dilapangan. Hubungan koordinasi yang terjadi antara BKSDA Lampung dengan UPTD Tahura WAR, Disbudpar Bandar Lampung dengan Bappeda Bandar Lampung dan DKP Bandar Lampung disebut hubungan koordinasi horizontal