Adi Isbandi R. 2002. Pemikiran-Pemikiran dalam Pembangunan Kesejahteraan Sosial. Lembaga Penerbit FE Universitas Indonesia. Jakarta.
Agusyanto Ruddy. 2007. Jaringan Sosial dalam Organisasi. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Babang R Katarina 2005. Pelaksanaan Adat Kematian Di Kecamatan Haharu, Kabupaten Sumba Timur di Tinjau dari Sisi Teori Konsumsi. (Skripsi). Sumba:
Program Studi Ekonomi Pembangunan, STIE Kriswina Sumba.
Badan Pusat Statistik dan Pemerintah Kabupaten Sumba Timur. 2006. Sumba Timur dalam Angka.
Beding, Lestari. 2002. Ringkiknya Sandel, Harumnya Cendana. Bappeda Sumba Timur dan Pemerintah Propinsi NTT.
Cartwright D, Zander A. 1956. Group Dinamics, Research and Theory. Row Peterson and Company. United States of America.
Hardiman Budi. 1993. Menuju Masyarakat Komunikatif. Penerbit Kanisius Yogyakarta.
Haeruman Herman. 2001. Kemitraan dalam Pengembangan Ekonomi Lokal (Bunga Rampai), Yayasan Mitra Pembangunan Desa-kota. Yayasan Mitra Pembangunan Desa dan Bussiness Innovation Center of Indonesia. Jakarta.
Haerurah, Purwanto. 2006. Dinamika Kelompok, Konsep dan Aplikasi. PT Refika Aditama. Bandung.
Hermawati I. 2004. Pengkajian Keswadayaan Masyarakat Desa dalam Pendayagunan Sumber Kesejahteraan Sosial. BBPPPKS Jogjakarta.
Jamasy Owin 2004 Keadilan, Pemberdayaan dan Penanggulangan Kemiskinan.
Belantika. Jakarta.
Korten David C.1980. Community Organization and Rural Development A Learning Process Approach, in Public Administration Review 40 (5) Sept-Oct.
Musa Safuri. 2005. Evaluasi Program Pembelajaran dan Pemberdayaan Masyarakat. Y-PIN Indonesia. Bandung.
Morris M.J. 1991. Usaha Kecil Yang Berhasil, Bagaimana Mempersiapkannya.
Penerbit Arcan. Jakarta.
Nasdian, Darmawan. 2006. Sosiologi Untuk Pengembangan Masyarakat.
Departemen Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat. FEMA Institut Pertanian Bogor.
Nasdian, Bambang S. 2005. Pengembangan Kelembagaan dan Modal Sosial.
Departemen Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Institut Pertanian Bogor.
Nasdian. 1988. Dinamika Kelompok Tani dan Partisipasi Petani dalam Program Konservasi Tanah dan Air di Daerah Aliran Sungai Citanduy [Tesis]. Bogor:
Institut Pertanian Bogor.
Pranaka, Vidyandika Muljarto. 1996. Pemberdayaan (Empowerment) dalam Onny S.Priyono dan Pranaka, editor. Pemberdayaan, Konsep Kebijakan dan Implementasi. Jakarta : CSIS.
Pambudi Himawan et al. 2003. Politik Pemberdayaan, Jalan Mewujudkan Otonomi Desa. Lappera Pustaka Utama. Yogyakarta.
Saharuddin. 2007. Operasionalisasi Metode Tri-angulasi dalam Pendekatan Partisipatif. Departemen KPM Institut Pertanian Bogor.
Santosa Slamet. 2004. Dinamika Kelompok Edisi Revisi Cetakan ke I. Penerbit Bumi Aksara. Jakarta.
Soekanto Soerjono. 1990. Sosiologi Suatu Pengantar. PT Raja Grafindo Persada.
Jakarta.
Soetomo. 2006. Strategi-Strategi Pembangunan Masyarakat. Pustaka Pelajar.
Yogyakarta.
Syaukat, Hendrakusumaatmaja. 2006. Pengembangan Ekonomi Berbasis Lokal.
MPM Institut Pertanian Bogor.
Sumarti, Syaukat. 2006. Analisis Ekonomi Lokal. MPM Institut Pertanian Bogor.
Sitorus, Augusta. 2006. Metodologi Kajian Komunitas. MPM Institut Pertanian Bogor.
Suharto Edy. 2005. Membangun Masyarakat, Memberdayakan Rakyat. Aditama.
Bandung.
Sulistiyani AT. 2004. Kemitraan dan Model-Model Pemberdayaan. Gava Media Yogjakarta.
[Anonim]. 2006. Petunjuk Umum Program Penguatan dan Pengembangan Desa menuju Desa Mandiri, (P3DM). Badan Pemberdayaan Masyarakat Kabupaten Sumba Timur.
[Anonim]. 2006. Petunjuk Teknis Operasional Program Penguatan dan Pengembangan Desa menuju Desa Mandiri, (P3DM). Badan Pemberdayaan Masyarakat Kabupaten Sumba Timur.
[Anonim]. 2006. Profil Desa Hambapraing.
[Anonim]. 1999. Petunjuk Teknis Operasional, Program Pengembangan Kecamatan (PPK) Departemen Dalam Negeri. Jakarta.
[Anonim]. 2006. Laporan Kepala Desa Hambapraing pada Kunjungan Kerja Camat.
Haharu Kecamatan Haharu.
[Anonim]. 2007. Laporan Tim Pelaksana Kegiatan PPK Desa Hambapraing.
[Anonim]. 2007. Laporan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa Hambapraing.
146
Bersama pengrajin kelompok aktif ‘ Hamu Eti dan Paaing Mamila’, 1-3 Nopember 2008
Bersama pengrajin secara gabungan, pra diskusi terfokus, tanggal 6 Nopember 2008 (pengenalan masalah dan penjaringan pendapat secara partisipatif)
Suasana FGD, tanggal 10 nopember 2008
147
Suasana FGD, tanggal 10 Nopember 2008 (Kepala Desa,BPD,Dinas Perindag dan Pariwisata, LPM, dan Tokoh masyarakat)
Suasana FGD, dihadiri perwakilan pengrajin dan stakeholder
148
Hasil produk kelompok aktif dan situasi rumah pengrajin yang selalu melakukan produksi
149
Komunitas berada di antara dua lokasi tujuan wisata
150
Legenda : : Desa Hambapraing
: Pantai Londalima : Pantai Purukambera
151
PETA ADMINISTRASI DAN TEMPAT PENTING KABUPATEN SUMBA TIMUR
TAHUN 2004
U
0 10 20 30Km
Kerjasama Pemerintah Daerah Kabupaten Sumba Timur
dengan Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional
1200 121.300 1230 124.300 1260
1. Peta Rupabumi Indonesia skala 1:25.000 2. BAPPEDA Kabupaten Sumba Timur 3. Dinas Pariwisata Kabupaten Sumba Timur Sumber :
Ada Kurang/ Tujuan kelompok Tujuan anggota
Kerjasama Struktur kelompok Peran dan Posisi
Pengambilan Keputusan Fungsi tugas Memberi informasi
Memuaskan anggota Pembinaan kelompok Sosialisasi dan pendidikan/pelatihan
Kesempatan mendapatkan anggota baru
√
Suasana kelompok Rasa saling percaya Rasa saling menerima
Tekanan pada kelompok Penghargaan thd anggota Hukuman kpd anggota Efektifitas kelompok - Produktifitas (pencapaian tujuan kelompok)
- Moral (yakni semangat dan sikap anggota) - Kepuasan anggota (tujuan pribadi tercapai)
√
Keragaan Anggota Usia anggota
Tingkat pendidikan
Kecakapan ketua dan pengurus Status/ketokohan
Ketrampilan
70 persen dibawah 50 tahun
SD Cukup 20 % tokoh
80% status yang sama
kemampuan pada semua proses
60% dibawah 50 tahun
SD dan SMP cukup 10% tokoh 80%Status yang sama
ketrampilan dasar
80 % diatas 50 tahun
SD Rendah 10 % tokoh 80%Status yang sama
katrampilan dasar Pengembalian Modal Waktu dan kewajiban pengembalian
Jumlah
Tepat
Rp.900.000 & Rp.100.000
Cenderung lambat Rp.300.000
Lambat dan macet R.100.000
Kerjasama dalam
- Pembentukan kelompok pengrajin tingkat desa yang dapat menjalin kerjasama antar kelompok, sehingga menjadi pusat informasi dan wadah untuk meningkatkan fungsi kelompok dalam pemberdayaan masyarakat dan perkembangan usaha kerajinan 2 Keterbatasan Pasar
Keterbatasan pasar aktif dan kurang aktif -Kondisi geografis
- Promosi di tingkat lokal sampai tingkat nasional - Ikut serta dalam pameran kerajinan daerah
- Pameran hasil kerajinan komunitas, sebagai salah satu bagian dari tujuan wisata - Menarik minat pembeli melalui cara mengontak kembali pengunjung pameran
(peminat) yang hendak membeli produk dalam jumlah yang besar
- Mengadakan bazaar yang rutin di tingkat komunitas, yang disesuaikan dengan hari kunjungan wisatawan, yang menuju daerah wisata pantai
-Regulasi pemakaian seragam berbahan motif tenun ikat
Produksi Bersama melalui koordinasi diantara pengrajin lintas kelompok untuk saling bertukar informasi pasar dan peluang produksi yang diperoleh dari kelompok aktif
3 Rendahnya motivasi berusaha
-Ada motivasi usaha dalam kelompok aktif
-Membangun semangat berusaha melalui pertemuan rutin, seperti membuat arisan kelompok ibu-ibu, dan kumpul keluarga, dan aktifkan cara lokal yakni panjolurungu (arian tenaga dan bahan baku)
-Pendekatan melalui tokoh adat dan pemimpin dalam keluarga pengrajin yakni suami, atau orangtuanya
-Membangun motivasi berusaha dengan menghadirkan pembicara atau tokoh yang berhasil dalam usaha serupa
-Studi banding untuk menunjukkan gambaran usaha serupa yang berhasil
(menenun dan mendesain motif) -Keterbatasan ketrampilan atau teknik yang baru (variatif)
besar warga, menenun adalah ketrampilan yang sudah turun temurun atau warisan -Tahap-tahap
prosesnya dapat disosialisasikan dalam keluarga terus menerus
ini dapat melibatkan kelompok aktif atau pihak dari luar kelompok yang memiliki ketrampilan yang lebih mahir
-Pelatihan teknik baru sesuai dengan selera pasar atau permintaan konsumen dari pihak luar atau stakeholder
5 Kurang pengetahuan
tentang pengelolaan modal
-Kelompok aktif sudah pernah berhasil dalam pengguliran pertama
-Melakukan pertemuan rutin antara kelompok pengrajin di tiap kelompok maupun tingkat komunitas untuk berbagi pengalaman dalam hal pengelolaan modal -Pelatihan manajemen usaha dan pengelolaan modal secara lebih profesional bagi
kelompok yang aktif, yang seterusnya dapat ditransfer bagi kelompok lain 6 Keterbatasan Modal -Ada peluang dari
program-program pemberdayaan -Ada potensi
ketersediaan bahan baku
-Memberikan kredit lunak atau pinjaman bunga rendah melalui jaringan kerjasama dengan stakeholder
-Melatih cara memperoleh modal, seperti pembuatan proposal dan sebagainya
128
- Sosialisasi melalui tokoh-tokoh panutan seperti suami, atau orangtua, dan tokoh masyarakat
- Membentuk kelompok berdasarkan hubungan keeratan keluarga (klan atau marga)
Rendahnya kerjasama antar kelompok
- Membentuk kelompok pengrajin tingkat desa (TD), dan strukturnya - Memilih ketua kelompok dan
perangkatnya secara demokratis, serta sesuai kebutuhan
- Memilih motivator yang disesuaikan dengan kegiatan program P3DM - Mengaktifkan pertemuan rutin
diantara kelompok
Promosi dan Pameran
Produksi Bersama*
-Promosi di tingkat lokal sampai tingkat nasional
-Ikut serta dalam pameran kerajinan daerah
Kelompok Aktif
Semua kelompok
Kelompok kurang aktif dan tidak aktif
Pengurus Kelompok -Pameran hasil kerajinan di
komunitas, sebagai salah satu bagian atau titik dari daerah tujuan wisata
-Menarik minat pembeli melalui cara mengontak kembali
pengunjung pameran (yang pernah menjadi peminat) membeli produk dalam jumlah yang besar
-Meningkatkan kualitas produk untuk menjaga jejaring dengan pembeli perantara dan pelanggan tetap atau pembeli langsung -Kelompok aktif dapat berbagi tugas
dalam melaksanakan proses produksi,
129
130
Keterangan program * :
• Program pembentukan kelompok baru bertujuan untuk mengatasi masalah rendahnya kerjasama antar anggota dalam kelompok. Alasannya karena setiap anggota yang yang sudah kurang kompak akan mengakibatkan ketidakaktifan kelompok, sehingga kemungkinan solusi yang dapat dilakukan adalah membentuk kelompok baru atau dalam formasi anggota yang mempunyai keterikatan satu sama lain, misalnya keluarga, satu klan, dan sebagainya. Anggota dapat berasal dari anggota kelompok tidak aktif atau anggota baru.
• Masalah rendahnya motivasi berusaha, berhubungan dengan harapan dan tujuan anggota dalam berusaha, sehingga perlu dibangkitkan semangat berusaha bagi mereka secara intensif melalui pendampingan. Sosialisasi yang terus menerus tentang semangat berusaha dan kesuksesan usaha kecil dan menengah, serta sharing pengalaman dari pihak profesional dapat menumbuhkan motivasi berusaha pengrajin.
• Produksi bersama, berarti membagi proses produksi yang diperoleh kelompok aktif kepada kelompok lain sehingga ada kerjasama dalam menghasilkan produk, dan membuka peluang pasar bagi kelompok lainnya. Kelompok kurang aktif dan tidak aktif dapat menilai bahwa ada peluang pasar bagi mereka juga.
• Pelatihan pembuatan proposal bertujuan untuk memandirikan dan meningkatkan kemampuan anggota pengrajin dalam menyampaikan gambaran usaha atau profil usaha untuk mendapatkan kredit atau modal usaha dari pihak luar atau investor. Hal ini berhubungan dengan peluang bagi mereka dari pihak pemerintah maupun swasta yang dapat menyediakan modal bagi kelompok usaha kecil dan menengah.
mendesain motif)
-Pelatihan teknik yang baru dari kalangan profesional dari luar komunitas
Kelompok aktif Dinas Perindag Dinas Perindag APBD dan
-Sosialisasi atau sharing pengalaman dari anggota kelompok yang aktif,
-Pelatihan manajemen usaha dari pihak-pihak yang berkompeten
Kelompok kurang aktif dan tidak aktif
Kelompok aktif
- Sharing pengalaman dari wiraswasta dan pihak yang profesional - Pertemuan rutin tingkat kelompok
desa
- Sosialisasi secara berkala, dari pihak berkompeten
- Pendampingan dari motivator secara berkala
- Studi banding ke wilayah lain atau kelompok usaha yang berhasil
Semua kelompok Pengurus Kelompok TD, BPM, Dinas
Keterbatasan Modal Kredit Lunak Pelatihan pembuatan proposal pengajuan kredit/bantuan modal*
- Pengajuan proposal
- Membuka relasi dengan badan atau lembaga penyedia kredit atau koperasi - Melatih anggota kelompok untuk
memahami langkah-langkah memperoleh modal
Semua kelompok BPM, Dinas Koperasi, dan
LAMPIRAN TABEL