Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur)
KATARINA RAMBU BABANG
SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2008
Dengan ini saya menyatakan bahwa Tugas Akhir yang berjudul : Penguatan Kelompok Pengrajin Tenun Ikat Tradisional, Studi Kasus di Desa Hambapraing, Kecamatan Haharu, Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur, adalah benar merupakan karya saya sendiri dengan arahan komisi pembimbing dan belum diajukan atau dipublikasikan kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan, maupun tidak diterbitkan dari penulis lain, telah dinyatakan secara jelas, dalam teks maupun Daftar Pustaka di bagian akhir tulisan ini.
Bogor, Mei 2008
Katarina Rambu Babang
Nrp.I.354060165
Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur). Dibimbing oleh NURMALA K. PANJAITAN dan SAHARUDDIN.
Kemiskinan merupakan masalah yang terus menerus diupayakan penanganannya, namun secara nyata perubahan tersebut membutuhkan strategi yang tepat, menyeluruh dan berkelanjutan yang disesuaikan dengan keadaan masyarakat.
Salah satu upaya strategis dalam menjawab masalah ketidakberdayaan dan kemiskinan masyarakat adalah melalui pemberdayaan masyarakat. Pemberdayaan masyarakat akan memungkinkan terjadinya peningkatan kemampuan masyarakat dalam berperan untuk menjangkau sumber daya disekitarnya. Peran masyarakat adalah partisipasi yang dapat terwujud melalui pemberdayaan yang disesuaikan dengan potensi lokal baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia.
Di desa Hambapraing, terdapat dua program pemberdayaan yang sedang berproses dalam kehidupan masyarakat, yakni Program Pengembangan Kecamatan (PPK) dan Program Penguatan dan Pengembangan Desa menuju Desa Mandiri (P3DM). Kedua program tersebut melakukan bantuan modal bagi pengembangan usaha kerajinan tenun ikat melalui kelompok usaha. Pembentukan kelompok yang sudah dilakukan masing-masing program menimbulkan perbedaan dalam perkembangannya, sehingga terdapat kelompok yang aktif, kelompok kurang aktif, dan kelompok tidak aktif lagi. Hal ini ditinjau dari tiga yakni, aspek-aspek kekuatan kekuatan dalam kelompok, keragaan anggota, dan pengembalian modal. Secara umum kelompok pengrajin mengalami bebarapa masalah dalam proses kerja atau usahanya, yakni, 1) Rendahnya kerjasama antar anggota dalam kelompok dan Rendahnya perasaan berkelompok 2) Rendahnya kerjasama antar kelompok, 3) Keterbatasan pasar, 4) Rendahnya ketrampilan dasar dan penguasaan teknik yang baru, 5) Rendahnya motivasi berusaha 6) Kurang mampu mengelola modal, 7) Keterbatasan modal usaha.
Berdasarkan masalah-masalah tersebut, maka dibutuhkan alternatif pemecahan secara partisipatif sesuai potensi yang dimiliki. Langkah awal dilakukan dengan mengidentifikasi stakeholder yang dapat berperan dalam merancang dan melaksanakan program. Program yang dirancang adalah penguatan kelompok yang dilakukan dalam kelompok yang sudah ada, maupun langkah pengorganisasian melalui pembentukan kelompok pengrajin tingkat desa. Program penguatan kelompok meliputi, pertemuan atau rapat rutin, pembentukan kelompok pengrajin tingkat desa, promosi dan pemasaran, produksi bersama, pelatihan ketrampilan dasar dan teknik yang baru, pelatihan pengelolan modal, pendampingan dan sosialisasi, serta kredit lunak. Kegiatan ini akan berlangsung melalui kerjasama semua stakehoder, sesuai tujuan yang diharapkan yaitu pemberdayaan pengrajin.
Kata Kunci : dinamika kelompok, penguatan kelompok, stakeholder, pemberdayaan
pengrajin
Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur). Dibimbing oleh NURMALA K.
PANJAITAN dan SAHARUDDIN.
Kemiskinan merupakan masalah yang terus menerus diupayakan penanganannya, namun secara nyata perubahan tersebut membutuhkan strategi yang tepat dan menyeluruh serta berkelanjutan yang disesuaikan dengan keadaan masyarakat. Salah satu upaya strategis dalam menjawab masalah ketidakberdayaan dan kemiskinan masyarakat adalah melalui pemberdayaan masyarakat.
Pemberdayaan masyarakat akan memungkinkan terjadinya peningkatan kemampuan masyarakat dalam berperan untuk menjangkau sumber daya disekitarnya. Peran masyarakat adalah partisipasi yang dapat terwujud melalui pemberdayaan yang disesuaikan dengan potensi lokal baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia.
Pengembangan komoditas lokal diharapkan dapat membantu terlibatnya masyarakat dalam gerakan membantu dirinya sendiri (self help) yakni seperti usaha ekonomi produktif yang berbasis kerakyatan. Demikian halnya dengan pengembangan usaha kerajinan tenun ikat di Desa Hambapraing. Tenun ikat adalah salah satu komoditas lokal yang menjadi sumber penghasilan sebagian besar warga (30 persen dari total penduduk), selain hasil perkebunan, peternakan, dan kelautan.
Keterbatasan usaha kerajinan banyak menghadapi masalah seperti layaknya juga dialami oleh usaha kecil lainnya seperti modal usaha, kendala pasar, hingga kemampuan dan ketrampilan dalam melakukan usaha. Pengembangan usaha kerajinan dilakukan oleh Program Pengembangan Kecamatan (PPK) dan Program Penguatan dan Pengembangan Desa menuju Desa Mandiri (P3DM) melalui bantuan modal usaha bergulir bagi kelompok-kelompok usaha yang dibentuk. Kedua program tersebut, melakukan usaha pemberdayaan pada tahap pengguliran modal saja, sedangkan belum berlanjut pada pengembangan usaha yang dapat mendukung keberdayaan pengrajin sekaligus pertumbuhan usaha kerajinan sehingga dapat mengatasi masalah kemiskinan yang dialami masyarakat.
Kajian ini merupakan studi kasus pada kelompok pengrajin untuk mengetahui dinamika kelompok dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Teknik yang digunakan dalam kajian ini adalah wawancara, studi dokumen, observasi, dan diskusi.
Langkah pemecahan masalah dilakukan secara partisipatif melalui diskusi terfokus (focuss group discussion) yang melibatkan semua stakeholder. Hasil pengamatan, kelompok bentukan kedua program dalam prosesnya menimbulkan adanya kelompok yang aktif, kurang aktif dan tidak aktif lagi. Perbedaan dinamika kelompok ditinjau dari tiga sisi yakni, keragaan anggota, pengembalian modal, dan aspek-aspek kekuatan dalam kelompok. Aspek kekuatan dalam kelompok meliputi tujuan kelompok, struktur kelompok, kekompakan kelompok, pembinaan kelompok, suasana kelompok, fungsi tugas, tekanan pada kelompok, dan efektifitas kelompok.
Berdasarkan deskripsi setiap kelompok, diketahui faktor-faktor yang mempengaruhi
kuat dan lemahnya suatu kelompok. Faktor yang menonjol dalam kelompok aktif
kelompok secara umum yang menyangkut rendahnya kerjasama dan kekompakan kelompok serta rendahnya motivasi berusaha. Oleh sebab itu pembenahan dilakukan melalui cara atau program yang dikaitkan dengan faktor-faktor tersebut, terutama unsur yang dapat mengikat kekompakan diantara pengrajin atau kerjasama dalam kelompok maupun luar kelompok.
Permasalahan yang dihadapi oleh setiap kelompok didominasi oleh rendahnya kerjasama antar kelompok, maupun antar anggota dalam kelompok yang sama. Selain itu, masalah lainnya adalah keterbatasan pasar, atau lemahnya jejaring yang dimiliki untuk pemasaran produk, rendahnya ketrampilan dasar dan penguasaan teknik yang variatif, rendahnya motivasi berusaha, kurangnya kemampuan mengelola modal, dan keterbatasan modal usaha. Pada sisi lain terdapat potensi yang dapat mendukung berkembangnya usaha kerajinan. Potensi tersebut meliputi, 1) ada aktivitas modal sosial yang mengandung nilai kerjasama antar pengrajin yang disebut panjolurungu, yang bermakna arisan tenaga dan bahan baku, 2) jejaring pemasaran sudah ada pada kelompok aktif, dan segmen pasar tenun ikat pada masyarakat lokal, regional, hingga wisatawan asing, 3) ketrampilan tenun ikat dapat dilakukan sepanjang musim, aktivitas warisan keluarga, dan dapat dilakukan perempuan dan laki-laki, 4) kelompok pengrajin merupakan kelompok yang berhasil dalam pengguliran simpan pinjam modal usaha, dukungan dari elemen masyarakat dan tanggapan masyarakat untuk pengembangan usaha tenun ikat kearah yang lebih profesional.
Berdasarkan masalah-masalah tersebut, maka dibutuhkan alternatif pemecahannya yang dilakukan secara partisipatif. Langkah awal dilakukan dengan mengidentifikasi stakeholder yang dapat berperan juga dalam merancang aktivitas yang dapat dilakukan untuk pemecahan masalah. Pihak-pihak yang dapat melibatkan diri dalam usaha kerajinan diantaranya adalah, Badan Pemberdayaan Masyarakat sebagai Unit teknis pelaku program PPK dan P3DM, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Dekranasda (dalam hal ini Ketua Tim penggerak PKK), Dinas Pariwisata, Dinas Koperasi, Pembeli perantara, Pemilik toko, Pembeli perantara, Lembaga keuangan (Bank, dan sebagainya), serta masyarakat sekitarnya. Peran setiap stakeholder sebagai sumberdaya yang dapat membantu menyelesaikan kendala yang dihadapi pemgrajin. Keberfungsian setiap stakeholder dapat dijangkau melalui program-program yang berlangsung dan melibatkan kelompok-kelompok pengrajin dalam wadah yang lebih kuat atau ikatan yang lebih solid.
Program yang dirancang adalah penguatan kelompok yang dilakukan dalam
kelompok yang sudah ada, maupun langkah pengorganisasian melalui pembentukan
kelompok pengrajin tingkat desa. Program penguatan kelompok meliputi, pertemuan
atau rapat rutin, pembentukan kelompok pengrajin tingkat desa, promosi dan
pemasaran, produksi bersama, pelatihan ketrampilan dasar dan teknik yang baru,
pelatihan pengelolan modal, pendampingan dan sosialisasi, serta kredit lunak.
informasi dan komunikasi yang dapat berperan dalam menjalin kerjasama antar pengrajin sekaligus sebagai wadah untuk penguatan dan pembinaan kelompok.
Melalui kelompok ini, akan memudahkan proses-proses yang harus dilakukan secara bersama dalam melibatkan stakeholder, seperti kegiatan-kegiatan yang sudah dirancang bersama. Melalui kelompok ini diharapkan akan mewujudkan pemberdayaan pengrajin, sekaligus melanjutkan pertumbuhan usaha kerajinan.
Kegiatan ini akan berlangsung melalui kerjasama semua stakeholder, sehingga dapat mencapai tujuan akhir yakni pemberdayaan pengrajin. Berkembangnya kelompok pengrajin akan menunjang pemberdayaan pengrajin yang terukur melalui adanya jaminan pendapatan, adanya pengembangan kemampuan pengrajin, serta adanya akses usaha dan kesempatan kerja yang lebih luas. Penanganan masalah harus dilakukan secara menyeluruh yakni oleh pengrajin, pemerintah melalui unit teknis, pembeli perantara, pembeli langsung maupun masyarakat sekitarnya, sehingga memberdayakan pengrajin dan menumbuhkan ekonomi lokal secara terencana dan
sinergis yang pada akhirnya akan mengentaskan kemiskinan.
Kata kunci : dinamika kelompok, penguatan kelompok, stakeholder, pemberdayaan pengrajin
© Hak Cipta milik IPB, tahun 2008, Hak Cipta dilindungi Undang-undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya
Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah dan
Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB
Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh
karya tulis dalam bentuk apapun tanpa izin IPB
Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur)
KATARINA RAMBU BABANG
Tugas Akhir
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Profesional pada
Program Studi Pengembangan Masyarakat
SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR 2008
Nama : Katarina Rambu Babang
Nrp : I.354060165
DISETUJUI KOMISI PEMBIMBING
Dr. Nurmala K. Panjaitan, MS.DEA Dr. Ir. Saharuddin, MSi Ketua Anggota
DIKETAHUI
Ketua Program Studi Magister Dekan Sekolah Pascasarjana, Profesional Pengembangan Masyarakat
Dr. Ir. Djuara P. Lubis, MS Prof. Dr. Ir. Khairil A.Notodiputro, MS
Tanggal Ujian : 15 Mei 2008 Tanggal Lulus : 2008
tahapannya, teristimewa untuk menyelesaikan kajian dengan judul ‘Penguatan Kelompok Pengrajin Tenun Ikat Tradisional (Studi Kasus di Desa Hambapraing, Kecamatan Haharu, Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur).
Kesempatan ini, saya ingin menyampaikan penghargaan kepada semua pihak yang telah membantu kelancaran studi dan penyusunan kajian ini :
1. Komisi Pembimbing yakni Ibu Dr. Nurmala K.Panjaitan, MSDEA dan Bpk Dr. Saharuddin, MS serta Bpk Dr. Djuara P.Lubis, MS selaku dosen penguji yang telah memberikan kritik dan saran untuk penyempurnaan kajian ini 2. Pemerintah Kabupaten Sumba Timur yang telah memberikan saya
kesempatan untuk melanjutkan pendidikan
3. Departemen Sosial Republik Indonesia sebagai donatur atau penyelenggara beasiswa studi ini
4. Pemerintah Desa Hambapraing bersama elemennya, sebagai wilayah dan subjek penelitian, bersama stakeholder pendukung
5. Para informan dan responden yang bersedia memberikan informasi yang dibutuhkan selama penelitian dan penyusunan kajian ini
6. Kedua orang tua yang tercinta, saudaraku, K Martin dan K Ana, K Suster, Johan, Mery, K Bargam sekeluarga, serta semua keluarga besar yang selalu mendoakan dan mendukung saya
7. Teman dekatku, Erik (buat cinta dan kasih sayangnya), sahabat-sahabatku dan kerabat, yang setia memberi suport untuk perjalanan studi ini
8. Semua pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu, yang dengan caranya masing-masing membantu, mendoakan dan memotivasi saya selalu.
Semoga kajian ini dapat bermanfaat bagi perkembangan masyarakat umumnya dan secara khusus memberi alternatif pendekatan yang tepat dalam pelaksanaan program pengembangan masyarakat yang berbasis komunitas. Sekian dan terimakasih.
Bogor, Mei 2008
Katarina Rambu Babang
Katarina Rambu Babang dilahirkan di Waingapu, Kabupaten Sumba Timur Provinsi Nusa Tenggara Timur, pada tanggal 11 Nopember 1979 sebagai salah satu putri kedua, anak ketiga dari Bapak Arnold Huki Lalatana dan Ibu Petronela Padji Jiara.
Penulis menyelesaikan pendidikan sekolah dasar pada tahun 1991 (SD Inpres Hiliwuku), pendidikan menengah pertama pada tahun 1994 (SMP Negeri 1 Waingapu), pendidikan menengah atas pada tahun 1997 (SMU Negeri 1 Waingapu).
Pada tahun 1998, penulis diterima sebagai Pegawai Negeri Sipil dan hingga kini mengabdi di Sekretariat Daerah Kabupaten Sumba Timur. Pada tahun 2001, penulis menjalani pendidikan S1 pada Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Kristen Wira Wacana Sumba, dan diselesaikan pada tahun 2005.
Sejak september 2006, penulis mendapatkan kesempatan studi untuk
pendidikan S2 pada Program Magister Profesional Pengembangan Masyarakat
(MPM), di Institut Pertanian Bogor, sebagai program beasiswa dari Departemen
Sosial Republik Indonesia.
DAFTAR TABEL ……… xi
DAFTAR GAMBAR……… xiii
DAFTAR LAMPIRAN………. xiv
PENDAHULUAN Latar Belakang ... 1
Masalah Kajian ... 5
Tujuan Kajian ... 5
Manfaat Kajian ... 6
TINJAUAN PUSTAKA Kemiskinan... 7
Pemberdayaan... 10
Sumberdaya Manusia, Modal Fisik, dan Modal Sosial... 13
Dinamika Kelompok... 15
Intervensi Program P3DM dan Program PPK Dalam Usaha Kerajinnan... 20
Kerangka Pikir... 23
METODE KAJIAN Tipe dan Aras Kajian ... 27
Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi Kajian... 27
Waktu Kajian... 28
Penentuan Kasus Kajian... 29
Data Metode Pengumpulan Data Jenis Data dan Sumber Data... 29
Teknik Pengumpulan Data... 29
Pengolahan Data... 31
Penyusunan Program... 31
PETA SOSIAL MASYARAKAT DESA HAMBAPRAING Gambaran Lokasi………... 32
Kependudukan………... 34
Sistem Ekonomi ………... 37
Struktur Komunitas Pelapisan Sosial………... 41
Kepemimpinan………... 42
Tanggapan Masyarakat terhadap Kepemimpinan………... 43
Oganisasi dan Kelembagaan………... 44
Jejaring Sosial Komunitas……….…... 45
Proses Kerja Pengrajin... 51
PROGRAM PENGEMBANGAN MASYARAKAT Program Pengembangan Kecamatan Deskripsi Program………... 58
Pelaksanaan Program PPK………... 59
Pengembangan Ekonomi Masyarakat………... 60
Pemanfaatan modal sosial………... 61
Program Penguatan dan Pengembangan desa Menuju Desa Mandiri Deskripsi Program………... 62
Pelaksanaan Program P3DM……….. ... 65
Pengembangan Ekonomi Masyarakat…...………... 66
Pengembangan Modal Sosial ………... 69
Evaluasi Program ………... 71
Kesimpulan Evaluasi Program Pengembangan Masyarakat………... 74
KELOMPOK PENGRAJIN TENUN IKAT TRADISIONAL Sejarah Pembentukan Kelompok...……… 75
Dinamika Kelompok Pengrajin Tenun Ikat Tradisional Kelompok Aktif... 78
Kelompok Kurang Aktif... 84
Kelompok Tidak Aktif... 90
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Dinamika Kelompok ... 98
Identifikasi Stakeholder... 101
PROGRAM PENGUATAN KELOMPOK PENGRAJIN TENUN IKAT TRADISIONAL Identifikasi Masalah, Potensi, dan Alternatif Pemecahan Masalah Program Penguatan Kelompok Pengrajin Tenun Ikat Tradisional... 105
Latar Belakang dan Tujuan Program………... 121
Monitoring dan Evaluasi ………... 130
Sistem Kelembagaan Pelaksanaan Program... 136
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Kesimpulan ………... 138
Rekomendasi………... 140
DAFTAR PUSTAKA ………... 142
1 Jadwal Rencana Pelaksanaan Kajian... 28
2 Orbitasi Jarak dan Waktu Tempuh ………... 32
3 Penggunaan Lahan Desa Hambapraing,Tahun 2006…... 34
4 Penduduk Berdasarkan Umur di Desa Hambapraing Keadaan Desember 2006………... 35
5 Jumlah dan Persentasi Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan……… 38
6 Jumlah dan Persentasi Penduduk Berdasarkan Jenis Pekerjaan………..………. 39
7 Banyaknya Unit Usaha dan Tenaga Kerja Industri Tenun Ikat dirinci Per Kecamatan Tahun 2005…………... 50
8 Karakteristik Kelompok Pengrajin Tenun Ikat Program PPK : Simpan Pinjam Perempuan,2004………. 75
9 Karakteristik Kelompok Pengrajin Tenun Ikat Program PPK: Simpan Pinjam Perempuan, Tahun 2006………… 76
10 Karakteristik Kelompok Pengrajin dalam P3DM………. 77
11 Deskripsi Dinamika Kelompok berdasarkan Aspek yang Mempengaruhinya ………... 96
12 Deskripsi Dinamika Kelompok berdasarkan Keragaan Anggota dan Pengembalian Modal ... 97
13 Deskripsi Dinamika Kelompok berdasarkan Tingkat Aktivitas Berkelompok... 110
14 Masalah, Potensi, dan Alternatif Pemecahan... 119
15 Program Penguatan Kelompok Pengrajin Tenun Ikat Tradisional ………... 129
16 Aspek Monitoring dan Evaluasi ………... 132
17 Pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi dalam Program ……... 133
18 Metode dan Pengumpulan Data... 145
1 Bagan Kerangka Pemikiran……….... 26
2 Mengikal benang (kabokul).……….………… 52
3 Proses pemasangan benang (pamening)……… 52
4 Proses mengikat (paingu) . ...……… 52
5 Proses pencelupan dan pewarnaan (kawu)...………... 53
6 Proses penjemuran benang (dengi).……… 53
7 Proses perentangan (yalahu)……….. 54
8 Gambar Struktur Kelompok Pengrajin Tingkat Desa... 122
9 Gambar Struktur Kelembagaan Pelaksanaan Program... 137
2 Dokumen Kajian... 144
3 Peta Lokasi Kajian... 150
4 Daftar Hadir Diskusi Terfokus ... 152
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pembangunan ekonomi yang berorientasi pertumbuhan di masa lalu telah menumbuhkan suatu kesenjangan yang besar, dimana laju pertumbuhan ekonomi tidak seimbang dengan peningkatan kesejahteraan sosial (Isbandi, 2002).
Ketidakberdayaan masyarakat adalah kenyataan yang merupakan dampak dari proses pembangunan yang melahirkan kesenjangan, meliputi kesenjangan antar daerah, kesenjangan kemajuan antar desa dengan kota, serta kesenjangan pendapatan ekonomi antara kalangan kaya yang minoritas dan kalangan miskin yang mayoritas.
Ketidakberdayaan tersebut telah mendapat perhatian berupa bantuan sosial, baik secara langsung maupun tidak langsung dalam bentuk modal usaha, pendampingan masyarakat, peningkatan manajemen usaha, pembangunan sarana dan prasarana sosial dasar, serta pendukung kegiatan ekonomi. Sesuai hasil evaluasi pembangunan, upaya-upaya tersebut, belum memberikan bukti yang efektif, untuk menanggulangi masalah krisis yang dialami masyarakat di berbagai bidang, yakni sosial, ekonomi, politik, dan budaya (Haeruman,2001).
Upaya strategis dalam menjawab masalah kemiskinan masyarakat adalah gerakan pemberdayaan masyarakat, secara khusus untuk pembangunan di desa atau perdesaan. Pemberdayaan masyarakat akan memungkinkan terjadinya peningkatan kemampuan masyarakat dalam berperan untuk mengakses atau menjangkau sumber daya yang ada di sekitarnya. Partisipasi masyarakat hanya dapat dibangun melalui pemberdayaan, karena pemberdayaan adalah jalan menuju partisipasi (empowerment is road to participation dalam Tonny,2006). Oleh sebab itu, pembangunan perdesaan harus bersandar pada partisipasi masyarakat yang disesuaikan dengan potensi lokal yang ada dan dimiliki berupa komoditas yang berbasis masyarakat.
Pengembangan komoditas lokal sebagai salah satu upaya meningkatkan
potensi ekonomi lokal, diharapkan akan membantu terlibatnya semua masyarakat
dalam gerakan membantu dirinya sendiri, yakni usaha ekonomi produktif yang
berbasis kerakyatan (Sumarti et al,2006). Konsep pengembangan ekonomi lokal
merupakan kerjasama seluruh komponen masyarakat di suatu daerah (lokal), untuk mencapai pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan yang akan meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan kualitas hidup (Syaukat dan Hendrakusumaatmaja,2006).
Sederhananya, pengembangan ekonomi lokal adalah salah satu upaya bersama-sama meningkatkan produktivitas perekonomian disuatu wilayah dengan memanfaatkan potensi ekonomi lokal demi peningkatan pendapatan masyarakat setempat.
Pengelolaan ekonomi lokal merupakan salah satu bagian dari sasaran pembangunan perdesaan (Haeruman,et al,2001). Selain hal tersebut di atas, sasaran pembangunan perdesaan adalah peningkatan pendapatan masyarakat, penyediaan bahan pangan dan bahan lainnya untuk kegiatan produksi dan konsumsi, serta peningkatan kapasitas lembaga atau organisasi ekonomi lokal. Pembangunan perdesaan diupayakan secara cermat untuk menghindari terjadinya kesenjangan kemajuan, dimana tujuannya adalah mempercepat kemajuan kegiatan ekonomi dan industrialisasi perdesaan.
Pendekatan pemberdayaan secara khusus dalam bidang ekonomi, sudah dilakukan oleh Pemerintah, seiring dengan pola desentralisasi (Undang-Undang No 22 1999) yang sedang berkumandang, baik program secara nasional maupun program di tingkat lokal atau daerah. Menurut Korten, 1980, terdapat dua model pendekatan pembangunan yakni pendekatan top down dan bottom up. Pendekatan bottom up adalah pembangunan yang memposisikan masyarakat sebagai pusat pembangunan atau pusat perubahan sehingga terlibat didalam proses perencanaan sampai pada pelaksanaan dan evaluasi. Dengan kata lain lebih berorientasi pada partisipasi masyarakat atau pembangunan yang berpusat pada rakyat (people centered development). Sebelumnya, pendekatan top down merupakan salah satu pendekatan yang dikritisi karena bersifat mematikan inisiatif dan kreativitas masyarakat.
Pendekatan top down adalah pendekatan yang bersumber pada pemerintah, dengan demikian masyarakat hanyalah sebagai obyek atau sasaran pembangunan saja.
Perpaduan (mix model) antara pendekatan dari atas (top down) dan dari bawah
(bottom up), dianggap sebagai pendekatan yang lebih relevan untuk dilakukan dan hal
ini sudah mulai mewarnai setiap aksi program pemberdayaan yang dilakukan, sejak
adanya sistem otonomi daerah. Sejauh pengamatan di Desa Hambapraing, terdapat
dua program pemberdayaan yang sedang berproses dalam kehidupan masyarakat.
Kedua program tersebut adalah Program Pengembangan Kecamatan (PPK) dan Program Penguatan dan Pengembangan Desa Menuju Desa Mandiri (P3DM). Kedua program tersebut sama-sama memberikan bantuan modal bagi pengembangan usaha kerajinan tenun ikat melalui kelompok usaha.
Tenun ikat merupakan salah satu komoditas lokal yang menjadi sumber penghasilan bagi rumah tangga atau masyarakat di Desa Hambapraing, Kecamatan Haharu, Kabupaten Sumba Timur, Propinsi Nusa Tenggara Timur. Selain kerajinan tenun ikat, juga terdapat sumber lain yakni peternakan dan perkebunan sebagai mata pencarian utama masyarakat Sumba Timur, bahkan masyarakat Nusa Tenggara Timur umumnya. Kerajinan tenun ikat di Kabupaten Sumba Timur merupakan salah satu jenis industri kerajinan yang paling besar jumlahnya yakni, 46,31persen dibanding jenis industri lainnya atau 906 unit dari 1956 unit industri (Sumba Timur Dalam Angka,2005). Meskipun kontribusinya bagi Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) tahun 2005, masih rendah yakni 0,92
1persen (salah satu jenis industri dibanding seluruh industri lainnya dalam lapangan usaha industri pengolahan) tetapi, untuk tingkat kabupaten maupun provinsi, industri tenun adalah salah satu lahan pekerjaan yang dapat menyerap tenaga kerja paling besar dibanding jenis industri lainnya, dan secara khusus bagi perempuan dewasa (15 tahun hingga 70 tahun).
Pemberdayan pengrajin juga akan menunjang penghasilan keluarga karena peluang pasar dari produk ini, cukup menjanjikan, meskipun belum ada catatan valid tentang besarnya permintaan terhadap hasil tenun. Kelemahan pencatatan karena banyak transaksi yang terjadi langsung dari pengrajin kepada pembeli, dirumah pengrajin.
Namun yang menjadi fakta adalah bahwa tenunan ikat tradisional dari Sumba Timur khususnya, menjadi salah satu produk yang ditawarkan pada skala pasar yang lebih besar seperti di Bali dan Jakarta pada artshop maupun pada pameran karena memiliki peluang pasar bagi pasar internasional. Hal ini disebabkan oleh pasar tenun tradisional yang memiliki keunikan dan orisinil sehingga menarik bagi kolektor atau turis asing dibanding produk komersial. Selain itu, yang patut dilihat adalah segmen
1
Distribusi Persentase PDRB Kabupaten Sumba Timur menurut Lapangan Usaha, Tahun 2005
pasar atau permintaan yang potensial datang dari masyarakat lokal, aparat pemerintah, atau pegawai swasta, hingga wisatawan baik domestik maupun luar negeri. Dari gambaran ini, maka pekerjaan tenun khususnya tenun ikat akan menjadi salah satu mata pencarian yang dapat menopang pendapatan atau penghasilan keluarga di desa.
Di desa Hambapraing terdapat 217 kepala keluarga miskin atau 84 persen dari total 260 kepala keluarga sebagai penerima beras miskin, dimana 30 persen adalah pengrajin (Laporan Desa,2006). Hal ini disebabkan oleh kondisi alam yang kurang mendukung penghasilan masyarakat dibidang pertanian, sementara itu masyarakat masih tetap berpikir bahwa bertani atau berladang adalah sumber penghasilan yang paling utama. Pada sisi lain terdapat cara lain untuk membantu kesejahteraan masyarakat melalui optimalisasi hasil atau produk kerajinan yang dapat menopang penghasilan pengrajin. Pemberian bantuan bagi pengrajin berupa modal usaha, dalam bentuk kelompok adalah hal yang tepat. Pemberian modal tersebut bukan hal yang keliru tetapi dalam prosesnya, masih ada kelemahan yang dihadapi kelompok dalam hal pemasaran produk dan proses produksi, dan sebagainya. Hal ini belum memenuhi kebutuhan mereka secara berkelanjutan dalam hal jaminan pendapatan. Bantuan modal saja belum cukup memberdayakan masyarakat dalam mengembangkan potensi sumberdaya lokal, tanpa di dukung keberlanjutannya pada sisi yang lain, seperti faktor yang mendukung proses produksi, distribusi, hingga pemasaran.
Perhatian pada usaha kerajinan tenun ikat, melalui intervensi program pemberdayaan memberi pengaruh dalam dinamika kelompok pengrajin maupun anggotanya. Berdasarkan pengamatan awal dilapangan, dalam prosesnya ada kelompok yang terus berjalan, namun ada juga kelompok yang sudah bubar seiring berhentinya program. Eksistensi suatu kelompok ditunjang faktor-faktor yang mempengaruhi kekuatan dalam kelompok (dimensi dinamika kelompok dalam Nasdian, 2006 dan Haerurah 2006). Salah satu kekuatan kelompok adalah tujuan kelompok yang mengandung arti pemenuhan kebutuhan atau kepuasan anggota.
Salah satu contoh kebutuhan utama anggota adalah terpenuhinya pendapatan melalui
hasil jual produk yang seimbang dengan biaya produksi, dan jaminan pendapatan
untuk pemenuhan kebutuhan rumah tangga. Jika hal itu belum terpenuhi, maka kelompok tersebut tergolong lemah, demikian pula dengan unsur yang lainnya. Untuk mengetahui lebih jauh dinamika suatu kelompok, maka patut diketahui bagaimana kondisi kelompok tersebut ditinjau dari unsur-unsur yang mempengaruhinya.
Pembentukan kelompok tanpa dibenahi keberlanjutannya tidak akan bermanfaat, sementara kelompok pengrajin tenun ikat di Desa Hambapraing berpotensi mengentaskan kemiskinan. Dengan demikian, dibutuhkan suatu program untuk membenahi dan menguatkan kelompok yang sudah ada. Dengan mempelajari faktor yang mempengaruhi dinamika kelompok pengrajin tenun ikat tradisional dan masalah yang mereka hadapi, dapat dirancang cara atau program untuk memecahkan masalah yang ada dalam kelompok pengrajin.
Masalah Kajian
Kerajinan tenun ikat merupakan potensi yang dapat dimanfaatkan untuk pengentasan kemiskinan. Dalam rangka penyusunan program penguatan kelompok, maka perlu mempelajari hal-hal sebagai berikut :
1. Bagaimana dinamika kelompok pengrajin tenun ikat tradisional ?
2. Faktor-faktor apakah yang mempengaruhi dinamika kelompok pengrajin tenun ikat tradisional ?
3. Program apa yang dapat dilakukan untuk menguatkan kelompok pengrajin tenun ikat tradisional ?
Tujuan Kajian
Tujuan yang hendak dicapai dalam kajian ini adalah menemukan suatu program yang dapat membantu memberdayakan masyarakat khususnya pengrajin tenun ikat tradisional di Desa Hambapraing, Kecamatan Haharu, Kabupaten Sumba Timur. Tujuan secara rinci adalah sebagai berikut :
1. Mendeskripsikan dinamika kelompok pengrajin tenun ikat tradisional
2. Mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi dinamika kelompok pengrajin tenun ikat tradisional
3. Merancang program untuk menguatkan kelompok pengrajin tenun ikat tradisional
Manfaat Kajian
1. Kajian ini akan membantu menemukan solusi permasalahan yang dihadapi oleh pengrajin tenun ikat tradisional.
2. Memberi masukan tentang program penguatan kelompok pengrajin tenun ikat tradisional untuk meningkatkan pemberdayaan warga komunitas (Desa Hambapraing).
3. Membantu Pemerintah dalam pelaksanaan program-program yang berkelanjutan dan bermanfaat secara praktis bagi masyarakat, sehingga menunjang perencanaan program secara menyeluruh demi pencapaian tujuan yang efektif.
4. Memberi masukan tentang variasi program dalam strategi pengembangan masyarakat.
5. Sebagai referensi yang dikaji secara sederhana, bersifat lokalitas, sehingga
dapat diekpslorasi lebih dalam, untuk pengembangan masyarakat di
komunitas lain (yang berkarakter sama) di wilayah Sumba Timur dan Nusa
Tenggara Timur.
TINJAUAN PUSTAKA
Kemiskinan
Kemiskinan memiliki akar masalah yang berbeda-beda atau kekhasan masing- masing pada setiap tempat. Menurut Tjokrowinoto seperti dikutip Sulistiyani, kemiskinan tidak hanya menyangkut persoalan kesejahteraan (welfare) semata, tetapi kemiskinan menyangkut persoalan kerentanan (vulnerability), ketidakberdayaan (powerless), tertutupnya akses kepada pelbagai peluang kerja, menghabiskan sebagian besar penghasilannya untuk kebutuhan konsumsi, angka ketergantungan yang tinggi, rendahnya akses terhadap pasar, dan kemiskinan terefleksi dalam budaya kemiskinan yang diwarisi dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dalam analisa ekonomi, kemiskinan bermakna adanya kesenjangan atau ketimpangan yang terjadi dalam masyarakat akibat ketidakmerataan pembagian pendapatan nasional atau kurang idealnya distribusi pendapatan dalam suatu masyarakat (indeks gini dalam Sulistiyani). Hal ini berkaitan dengan pemerataan akses sumberdaya bagi semua segmentasi sosial masyarakat. Lebih spesifik lagi diungkapkan bahwa, kemiskinan bukan hanya suatu ketidakmampuan penduduk dalam memenuhi kebutuhan dasar bagi suatu kehidupan yang layak, tetapi juga berkaitan erat dengan keadaan sistem kelembagaan yang tidak mampu memberikan kesempatan yang adil bagi anggota masyarakat untuk memanfaatkan, memperoleh manfaat dari sumber yang tersedia (Jamasy 2004). Kemiskinan dapat digolongkan dalam beberapa jenis untuk mengenal substansinya masing-masing, yakni ada yang disebut kemiskinan absolut, kemiskinan struktural, kemiskinan natural, serta kemiskinan kultural.
Selo Soemarjan dalam Ruwiyanto W,1994 mengungkapkan tentang
kemiskinan struktural dimana lebih menjelaskan kondisi realistik dari kemiskinan
tersebut. Kemiskinan struktural diartikannya sebagai kemiskinan yang diderita oleh
suatu golongan masyarakat karena struktur sosial masyarakat itu tidak dapat ikut
menggunakan sumber-sumber pendapatan yang sebenarnya tersedia bagi mereka,
seperti petani yang tidak memiliki tanah sendiri, kaum buruh yang tidak terpelajar
dan terlatih, pengusaha tanpa modal, termasuk golongan sangat lemah. Kemiskinan struktural menunjukkan bahwa terdapat ketidakberdayaan kaum miskin dalam peran, dan peluang memperoleh kesempatan untuk mendapatkan sumber daya, yang mengakibatkan pola ketergantungan, pola kelemahan, dan eksploitasi golongan miskin.
Kemiskinan absolut menyangkut masalah ketidakmampuan pemenuhan kebutuhan dasar minimal yakni, kebutuhan ; pangan, sandang, papan, dan pendidikan serta kesehatan (Sulistiyani,2004). Kemiskinan juga dapat dikatakan absolut dimana warga mengalami kemiskinan jauh dibawah garis kemiskinan, karena keluarga yang miskin akan melahirkan kemiskinan yang baru, melalui ketiadaan sumber daya, lapangan kerja yang tersedia tidak dapat diakses, pendapatan semakin rendah, maka generasi yang lahir dari generasi miskin pun akan mengalami sumber daya yang lemah, seperti kekurangan gizi, sakit-sakitan, dan sebagainya. Aliran kemiskinan ini disebut lingkaran setan kemiskinan (vicious of circle seperti yang dikatakan oleh Todaro, atau David Smith yakni (self perpetuating poverty). Lingkaran kemiskinan atau kemiskinan turun temurun sama artinya dengan kemiskinan natural, yang diakibatkan oleh keterbatasan secara alamiah seperti kondisi sumberdaya alam dan lingkungan yang buruk, sehingga tidak dapat menyediakan fasilitas bagi komunitas disekitarnya untuk mengusahakan aktivitas produksi untuk memperoleh pendapatan ekonomi yang layak. Kemiskinan kultural adalah suatu kondisi miskin yang dihadapi oleh suatu komunitas, yang disebabkan oleh faktor budaya. Budaya yang hidup, diyakini dan dikembangkan dalam suatu masyarakat menyebabkan proses pelestarian kemiskinan dalam masyarakat itu sendiri.
Menurut Friedman seperti dikutip Suharto et al.2005, kemiskinan didefinisikan sebagai keterkaitan kemiskinan dengan ketidaksamaan kesempatan dalam mengakumulasi basis kekuasaan sosial yang meliputi :
1. Modal produktif atau aset (tanah, perumahan, alat produksi, kesehatan)
2. Sumber keuangan (pekerjaan, kredit)
3. Organisasi sosial dan politik yang dapat digunakan untuk mencapai kepentingan bersama (koperasi, partai politik, organisasi sosial)
4. Jaringan sosial untuk memperoleh pekerjaan, barang, dan jasa 5. Pengetahuan dan ketrampilan
6. Informasi yang berguna untuk kemajuan hidup
Tiga penyebab kemiskinan seperti telah didefinisikan tersebut, yakni:
1. Insufficentdeman for labor, yakni rendahnya Human capital deficiencies, difisiensi modal manusia berarti rendahnya kualitas sumberdaya manusia, seperti rendahnya pengetahuan, ketrampilan sehingga menyebabkan pekerjaan yang rendah pendapatannya dan rendahnya daya beli
2. Permintaan akan tenaga kerja sehingga meningkatkan pengangguran, pengangguran menyebabkan orang tidak memiliki pendapatan, daya beli rendah, akhirnya tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar
3. Discrimination, adanya perlakuan berbeda terhadap golongan tertentu terutama dalam aksesibilitas terhadap sumberdaya-sumberdaya dan adanya dominasi pihak tertentu terhadap sumberdaya tersebut
Penyebab kemiskinan menurut BKPK dan lembaga Penelitian SMERU 2001, adalah : 1. Keterbatasan pendapatan, modal, dan sarana untuk memenuhi kebutuhan
dasar termasuk : Modal sumber daya manusia, misalnya pendidikan formal, ketrampilan, dan kesehatan yang memadai, Modal produksi, misalnya lahan dan akses terhadap kredit, Modal sosial misalnya jaringan sosial dan akses terhadap kebijakan dan keputusan politik, Sarana fisik, misalnya akses terhadap prasarana dan dasar jalan, listrik dan air bersih, termasuk hidup di daerah terpencil
2. Kerentanan dan ketidakmampuan menghadapi goncangan-goncangan karena:
Krisis ekonomi ; kegagalan panen karena hama, banjir atau kekeringan,
kehilangan pekerjaan (PHK), konflik sosial dan politik ; Korban kekerasan
sosial dan rumah tangga ; bencana alam (longsor, gempa bumi, perubahan
iklim) ; dan Musibah (jatuh sakit, kebakaran, kecurian, atau ternak terserang wabah penyakit)
3. Tidak adanya suara yang mewakili dalam institusi negara dan masyarakat karena; (Tidak ada kepastian hukum; tidak ada perlindungan dari kejahatan;
kesewenang-wenangan aparat ; ancaman dan intimidasi ; Kebijakan publik yang peka dan tidak mendukung upaya penanggulangan kemiskinan ; rendahnya posisi tawar masyarakat miskin).
Kemiskinan sudah diuraikan secara jelas, maka perlu didukung dengan upaya penanggulangan kemiskinan sesuai pendekatan yang tepat. Gerakan pemberdayaan dan bantuan sosial adalah bentuk penanggulangan yang terus dilakukan. Bantuan sosial bertujuan untuk mengatasi pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat yang bersifat residual atau sementara yang didasarkan pada penyebabnya misalnya kemiskinan absolut dan kemiskinan natural. Sedangkan pendekatan pemberdayaan bertujuan membekali masyarakat miskin dengan modal, ketrampilan dan kesempatan untuk mengupayakan cara yang tepat dalam melakukan kegiatan ekonominya. Hal ini bisa dilakukan untuk mengatasi masalah kemiskinan struktural, dan kemiskinan kultural.
Pemberdayaan
Pemberdayaan menurut banyak pemikir mengartikannya sebagai konsep yang lahir sebagai bagian dari perkembangan alam pikiran masyarakat dan kebudayaan barat, utamanya Eropa (Pranaka dan Mulyarto, 1996). Konsep ini telah meluas diterima dan digunakan, dengan pengertian dan persepsi yang berbeda satu dengan yang lainnya. Definisi pemberdayaan menurut Darmawan (2004), sebagai : a process of having enough energy enabling people to expand their capabilities, to have greater bargaining power to make their own decisions, and to more easily acces to a source of better living. Dari pengertian tersebut, makna pemberdayaan adalah :
1. Memperbesar peluang dalam melakukan pilihan-pilihan ekonomi dan politik
2. Meningkatkan derajat kebebasan seseorang atau suatu komunitas tertentu dalam mengembangkan kehidupannya
3. Meningkatkan kapasitas dalam penguasaan sumber daya ekonomi 4. Memiliki posisi dan kewenangan lebih besar dalam menentukan sesuatu
Pemberdayaan menurut Mubyarto (1999), adalah upaya meningkatkan kemampuan dan memandirikan masyarakat. Artinya, pemberdayaan meliputi upaya untuk membangun daya masyarakat dengan mendorong, memotivasi, dan membangkitkan kesadaran akan potensi yang dimilikinya serta berusaha untuk mengembangkannya. Selanjutnya dikatakan juga, bahwa pemberdayaan masyarakat berarti upaya untuk meningkatkan harkat dan martabat lapisan masyarakat yang dalam kondisi tidak mampu melepaskan diri dari perangkap kemiskinan dan keterbelakangan.
Pemberdayaan menurut Kartasasmita dalam Sumarti dan Syaukat,2006 adalah melalui cara memberdayakan sektor ekonomi dan lapisan masyarakat yang masih tertinggal dalam tiga aspek yakni : (1) Menciptakan iklim yang memungkinkan potensi lapisan masyarakat itu berkembang, (2) Memperkuat potensi atau daya yang dimiliki oleh masyarakat, (3) Mengembangkan perlindungan bagi si lemah, artinya mencegah persaingan yang tidak seimbang, menciptakan keadilan, dan mencegah eksploitasi yang kuat atas yang lemah.
Pemberdayaan adalah sebuah proses dimana orang menjadi cukup kuat untuk berpartisipasi dalam, berbagai pengkontrolan atas, dan mempengaruhi terhadap, kejadian-kejadian serta lembaga-lembaga yang mempengaruhi kehidupannya.
Pemberdayaan menekankan bahwa orang memperoleh ketrampilan, pengetahuan, dan kekuasaan yang cukup untuk mempengaruhi kehidupannya dan kehidupan orang lain yang menjadi perhatiannya (Person dikutip Suharto et al.2005).
Pemberdayaan dengan demikian merupakan sebuah proses dan tujuan.
Sebagai proses bermakna, serangkaian kegiatan untuk memperkuat kekuasaan atau
keberdayaan kelompok lemah dalam masyarakat, termasuk individu-individu yang
mengalami masalah kemiskinan. Sebagai tujuan bermakna, keadaan atau hasil yang
ingin dicapai oleh sebuah perubahan sosial yaitu : masyarakat berdaya, memiliki kekuasaan atau mempunyai pengetahuan dan kemampuan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya baik yang bersifat fisik, ekonomi, maupun sosial seperti memiliki kepercayaan diri, mampu menyampaikan aspirasi, mempunyai mata pencarian, berpartisipasi dalam kegiatan sosial, dan mandiri dalam melaksanakan tugas-tugas kehidupannya.
Pemberdayaan masyarakat di perdesaan sangat berkaitan erat dengan kegiatan perekonomian, yang dilakukan oleh masyarakat desa atau proses pemberdayaan ekonomi rakyat, untuk meningkatkan taraf kehidupan mereka menjadi lebih baik.
Sejak lama pemerintah melakukan upaya peningkatan taraf kehidupan rakyat melalui pemberdayaan ekonomi, hal ini seperti pendapat Mubyarto, yang menyatakan kegiatan seperti ini adalah kegiatan produksi bukan kegiatan konsumsi. Masyarakat digiring menjadi produsen dari bahan lokal dan kemampuannya sendiri untuk memenuhi permintaan (konsumen). Upaya pemberdayaan yang dilakukan di desa Hambapraing merupakan wujud pengentasan kemiskinan dimana 84% warga merupakan keluarga atau rumah tangga miskin (Laporan Tahunan Desa Hambapraing, 2006). Dalam program bantuan modal usaha bagi kelompok pengrajin tenun ikat diharapkan dapat menjadi produsen dari bahan lokal, serta kerampilan atau kemampuannya untuk memenuhi permintaan.
Program pemberdayan yang sudah berjalan, diharapkan dapat berkelanjutan,
jika melalui suatu perencanaan yang tepat sesuai dengan permasalahan yang menjadi
kendalanya. Pentingnya peningkatan kemampuan dan kepandaian masyarakat, agar
mampu mengembangkan komunikasi dan solidaritas antar mereka dalam kelompok,
dan luar kelompok, sehingga pada akhirnya secara kritis mereka mampu berdiskusi
untuk memecahkan masalah yang mereka hadapi secara bersama pula. Pemberdayaan
masyarakat juga terukur melalui jaminan pendapatan, pengembangan kemampuan
pengrajin, serta akses usaha dan kesempatan kerja yang lebih luas (Sumarti dan
Syaukat,2006).
Sumberdaya Manusia, Modal Fisik dan Modal Sosial
Dalam mengembangkan suatu komunitas atau konsep pengembangan komunitas, mengandung unsur pembangunan ekonomi dan pembangunan sosial (Cristenson dan Robinson,1984 dalam Soetomo,2006). Dengan kata lain, menurut Sanders dalam Soetomo,2006 bahwa pemanfaatan dan pendayagunaan energi dalam komunitas, harus meliputi energi sosial dan energi ekonomi. Potensi yang mendukung kedua unsur tersebut adalah sumber daya alam dan sumber daya manusia dalam komunitas. Ketrampilan tenun ikat, merupakan warisan sumberdaya pengetahuan yang mendukung kegiatan ekonomi keluarga pengrajin, baik secara subsisten maupun komersial. Pengrajin tenun ikat, memiliki potensi yakni dalam hal ketrampilan atau pengetahuan, dan modal produksi yang meliputi kesediaan bahan baku maupun tenaga kerja. Bahan baku dapat berupa hasil bumi maupun bahan olahan yang dapat diperoleh dari dalam komunitas maupun dari luar komunitas.
Sumberdaya manusia meliputi kemampuan dan ketrampilan yang dimiliki oleh individu dalam melakukan aktivitas produksi baik barang dan jasa. Modal ini mengacu pada suatu sumberdaya yang tidak dihabiskan dalam proses produksi barang (Haviland,1993 dalam Sumarti). Tenaga kerja merupakan faktor produksi insani yang secara langsung maupun tidak langsung menjalankan kegiatan produksi. Faktor produksi tenaga kerja juga dikategorikan sebagai faktor produksi asli. Dalam faktor produksi tenaga kerja, terkandung unsur fisik, pikiran, serta kemampuan yang dimiliki oleh tenaga kerja. Oleh karena itu, tenaga kerja dapat dikelompokan berdasarkan kualitas (kemampuan dan keahlian) dan berdasarkan sifat kerjanya.
Berdasarkan kualitasnya, tenaga kerja dapat dibagi menjadi tenaga kerja terdidik, tenaga kerja terampil, dan tenaga kerja tidak terdidik dan tidak terlatih.
Tenaga kerja terdidik adalah tenaga kerja yang memerlukan pendidikan tertentu sehingga memiliki keahlian di bidangnya, misalnya dokter, insinyur, akuntan, dan ahli hukum. Tenaga kerja terampil adalah tenaga kerja yang memerlukan kursus atau latihan bidang-bidang keterampilan tertentu sehingga terampil di bidangnya.
Misalnya tukang listrik, montir, tukang las, pengrajin dan sopir. Sementara itu,
tenaga kerja tidak terdidik dan tidak terlatih adalah tenaga kerja yang tidak
membutuhkan pendidikan dan latihan dalam menjalankan pekerjaannya, misalnya tukang sapu, pemulung, dan lain-lain. Berdasarkan sifat kerjanya, tenaga kerja dibagi menjadi tenaga kerja rohani dan tenaga kerja jasmani. Tenaga kerja rohani adalah tenaga kerja yang menggunakan pikiran, rasa, dan karsa, misalnya guru, editor, konsultan, pengacara, seniman, dan pengrajin. Sementara itu, tenaga kerja jasmani adalah tenaga kerja yang menggunakan kekuatan fisik dalam kegiatan produksi, misalnya tukang las, pengayuh becak, dan sopir.
2Ketrampilan pengrajin adalah sumber daya manusia yang dimiliki oleh hampir sebagian besar perempuan dalam komunitas, sehingga menjadi potensi yang terus dikembangkan. Tenaga kerja merujuk pada jumlah warga yang terampil maupun belum terampil sebagai potensi sumberdaya manusia dalam komunitas.
Modal fisik atau dalam ilmu ekonomi disebut faktor produksi fisik adalah semua kekayaan yang terdapat di alam semesta dan barang mentah lainnya yang dapat digunakan dalam proses produksi (Griffin R: 2006). Faktor yang termasuk di dalamnya adalah tanah, air, dan bahan mentah (raw material). Hal ini merujuk pada ketersediaan bahan baku alam di komunitas yang dapat dikembangkan untuk produksi.
Modal sosial merupakan salah satu konsep baru yang diposisikan setara dengan modal alam dan modal ekonomi. Modal sosial didefinisikan sebagai informasi, kepercayaan dan norma-norma timbal balik yang melekat dalam suatu sistem jaringan sosial (Woolcock, 1998:153 dalam Nasdian dan Utomo, 2005).
Modal sosial dipahami sebagai bentuk institusi-institusi, relasi-relasi, dan norma- norma yang membentuk kualitas dan kuantitas dari interaksi sosial dalam masyarakat.
Modal sosial dapat didefinisikan sebagai serangkaian nilai dan norma informal yang dimiliki bersama diantara para anggota kelompok suatu masyarakat yang memungkinkan terjalinnya kerjasama diantara mereka (Fukuyama, 2002a).
Selanjutnya menurut Soetomo 2006, jika para anggota kelompok itu masing-masing mengharapkan bahwa anggota-anggota yang lain akan berprilaku jujur, dan terpercaya maka mereka akan saling mempercayai. Dengan demikian kepercayaan
2
"http://id.wikipedia.org/wiki/Faktor produksi
atau trust, adalah unsur utama dalam pengertian atau konsep modal sosial.
Kepercayaan ibarat pelumas yang membuat jalannya kelompok atau organisasi menjadi lebih efisien. Kepercayaan juga dapat mendorong seseorang bersedia menggunakan hasil kerja orang atau kelompok lain, bahkan kepercayaan dapat juga mendorong munculnya aktivitas atau tindakan bersama yang produktif atau menguntungkan. Uphoff menyatakan ketiga unsur dalam modal sosial meliputi jaringan, kepercayaan dan reciprocal atau timbal balik dalam hal saling menerima, saling membantu yang dapat muncul dalam interaksi sosial (dikutip Soetomo dalam Dasgupta dan Serageldin,2000).
Menurut Coleman dalam Dasgupta, seperti dikutip Sumarti,2007 bahwa pengertian modal sosial menekankan pada adanya relasi sosial antara anggota masyarakat yang dipengaruhi oleh struktur sosial yang ada pada masyarakat yang dipengaruhi struktur sosial yang ada pada masyarakat tersebut. Selanjutnya menurut Woolcock dalam Coletta (2000), menyatakan empat dimensi modal sosial, yaitu : (1) ikatan yang kuat (integrasi), terutama terdapat dalam hubungan keluarga dan tinggal berdekatan (tetangga); (2) ikatan yang lemah (ikatan), terjadi dalam interaksi antara anggota komunitas; (3) institusi formal (integritas organisasi), meliputi lembaga negara dan efektifitasnya dalam berperan sesuai dengan kondisi dan norma-norma yang ada; (4) interaksi antara negara dan masyarakat (sinergi), yang merefleksikan bagaimana pemimpin dan lembaga-lembaga pemerintah berinteraksi dengan komunitas.
Dari konsep tersebut diatas, maka beberapa hal yang dapat digarisbawahi dalam ketiga komponen tersebut dioperasionalkan seperti berikut. Sumber daya manusia, misalnya pendidikan formal, ketrampilan, kemampuan dan kesehatan yang memadai. Modal fisik, misalnya lahan, bahan baku, dan akses terhadap kredit. Modal sosial misalnya jaringan sosial, kepercayaan, kerjasama dan akses terhadap kebijakan dan keputusan politik.
Dinamika Kelompok
Dinamika kelompok terdiri atas dua kata yakni dinamika dan kelompok.
Dinamika memiliki makna, tingkah laku individu secara langsung mempengaruhi
individu lain secara timbal balik. Dinamika dapat diartikan dengan adanya interaksi dan interdependensi antara individu dengan individu lainnya secara timbal balik dan antar individu dengan kelompok secara keseluruhan (Santosa,2004).
Kelompok merupakan sekumpulan individu, atau suatu kesatuan sosial yang memiliki hubungan saling tergantung. Menurut Santosa (2004), kelompok terbentuk karena individu sebagai makluk hidup mempunyai kebutuhan dimana kebutuhan tersebut tidak terbatas, sementara potensi manusia untuk memenuhinya masih terbatas, sehingga seorang individu membutuhkan individu lain dalam wadah yang disebut kelompok. Sejumlah individu dapat dikatakan suatu kelompok (Soekanto,1990), apabila memenuhi ciri-ciri diantaranya, a) para anggota kelompok sering mengadakan hubungan tatap muka secara berkala; b) mempunyai status dan peran; c) mempunyai tujuan atau perasaan dan sikap bersama; d) adanya norma; dan e) memiliki rasa ketergantungan satu sama lain.
Memperhatikan kedua definisi tersebut maka, dinamika kelompok berarti, suatu kelompok yang terdiri dari dua individu atau lebih yang mempunyai hubungan psikologis secara jelas antara anggota satu dengan anggota lain, baik dalam hubungannya dengan pemenuhan kebutuhan, tujuan, sikap, peran dan status, hingga kesepakatan bersama atau norma. Dinamika kelompok menurut Cartwright dan Zander (1956), merupakan cabang ilmu-ilmu sosial yang berkembang untuk mempelajari secara komprehensif dan sistematis tentang suatu kondisi-kondisi yang memungkinkan berfungsinya suatu kelompok. Menurut Eysenck seperti dikutip Nitimihardjo,et al, 1993, dinamika kelompok berkaitan dengan konteks sosial budaya suatu masyarakat yang berfungsi untuk membantu individu dan kelompok sehingga memungkinkan mereka secara bersama memiliki pola-pola merasakan, menilai, berpikir, dan bertindak.
Pengertian lain dikemukakan oleh Jenkins seperti dikutip oleh Nasdian,1988
bahwa dinamika kelompok (group dinamics) adalah kekuatan-kekuatan dalam
kelompok yang menentukan perilaku kelompok dan perilaku anggota kelompok
untuk mencapai tujuan kelompok. Menilai dinamika kelompok berarti menilai
kekuatan-kekuatan yang muncul sebagai potensi didalam kelompok. Kekuatan-
kekuatan dalam kelompok tersebut yakni, tujuan kelompok, struktur kelompok, fungsi tugas, pembinaan kelompok, kekompakan kelompok (group cohesion), suasana kelompok, tekanan pada kelompok, dan efektivitas kelompok. Secara khusus aspek kekuatan kelompok tersebut bermakna sebagai berikut :
1. Tujuan Kelompok (Group Goals)
Tujuan kelompok dipahami sebagai gambaran tentang suatu hasil yang diharapkan dapat dicapai oleh kelompok. Hasil tersebut dapat dicapai melalui usaha-usaha yang dilakukan oleh kelompok secara bersama. Anggota kelompok melakukan kegiatan atau berbuat sesuatu sesuai dengan tujuan kelompok karena kelompok mempunyai tujuan yang jelas dan anggota kelompok mengetahui arah kelompok. Tujuan sebagai salah satu unsur dinamika kelompok menjadi kuat melalui kegiatan anggota kelompok. Anggota kelompok yang berorientasi pada tujuan kelompoknya (group oriented motives) menggambarkan kesetiaan atas kelompok sehingga dengan tercapainya tujuan kelompok mengakibatkan masing-masing anggota kelompok merasakan puas. Tujuan kelompok sebagai salah satu unsur dinamika kelompok menjadi semakin lemah jika tujuan kelompok semakin tidak mendukung tujuan anggota kelompok.
2. Struktur Kelompok (Group Structure)
Struktur kelompok yaitu hubungan antar individu-individu didalam kelompok yang disesuaikan dengan posisi dan peran masing-masing individu. Kelompok yang telah memiliki struktur yaitu kelompok yang telah memiliki hubungan yang stabil antara anggota kelompok. Struktur kelompok berhubungan dengan struktur kekuasaan atau pengambilan keputusan, tugas, dan pembagian kerja, struktur komunikasi dan aliran komunikasi dalam kelompok serta sarana bagi kelompok untuk berinteraksi. Struktur kelompok sebagai salah satu unsur dinamika kelompok menjadi semakin lemah jika pengambilan keputusan kelompok semakin didominasi oleh orang-orang tertentu.
Struktur tugas menjadi semakin baik jika masing-masing anggota kelompok semakin
merasakan terlibat dalam tugas-tugas kelompok. Semakin baik struktur tugas, maka
struktur kelompok sebagai salah satu unsur dinamika kelompok semakin kuat.
3. Fungsi Tugas (Task Function)
Fungsi tugas adalah segala kegiatan yang harus dilakukan kelompok untuk mencapai tujuan. Kriteria yang digunakan untuk melihat fungsi tugas adalah, fungsi memberi informasi, kelancaran arus-arus informasi menunjukkan fungsi tugas berjalan dengan baik, sehingga fungsi tugas sebagai salah satu unsur dinamika kelompok semakin kuat : fungsi memuaskan anggota, semakin tinggi tingkat kepuasan anggota kelompok, semakin kuat fungsi menyelenggarakan koordinasi maka fungsi tugas semakin baik, yang berarti tugas sebagai salah satu unsur dinamika kelompok semakin kuat. Fungsi menghasilkan inisiatif, semakin tinggi tingkat inisiatif kelompok, maka fungsi tugas semakin baik yang berarti fungsi tugas sebagai salah satu unsur dinamika kelompok semakin kuat; fungsi mengajak untuk berperan serta dalam setiap kegiatan kelompok maka fungsi tugas semakin baik, dan fungsi tugas semakin kuat : fungsi menjelaskan, semakin sering kelompok menjelaskan anggota tentang segala sesuatu yang kurang jelas, maka fungsi tugas semakin baik. Dengan demikian fungsi tugas sebagai salah satu unsur dinamika kelompok semakin kuat.
4. Pembinaan Kelompok (Group Building and Maintenance)
Pembinaan kelompok dimaksudkan sebagai usaha untuk mempertahankan kehidupan kelompok. Usaha untuk mempertahankan kehidupan kelompok ditandai dengan adanya peran serta semua anggota kelompok, adanya kegiatan kelompok, adanya kesempatan mendapatkan anggota baru, dan adanya sosialisasi sebagai proses pendidikan yang membuat anggota mengetahui norma, tujuan dan lainnya dalam kelompok. Semua ciri tersebut ada dalam kelompok maka pembinaan kelompok sebagai salah satu unsur dinamika kelompok semakin kuat.
5. Kekompakan Kelompok (Group Cohesion)
Kekompakan kelompok adalah adanya keterikatan anggota kelompok terhadap kelompoknya. Tingkat rasa keterikatan yang berbeda-beda menyebabkan adanya perbedaan kekompakan. Tingkat kekompakan kelompok yang lebih tinggi lebih terangsang untuk aktif dalam mencapai tujuan kelompok dibandingkan dengan kelompok yang kekompakan kelompoknya rendah.
6. Suasana Kelompok (Group Atmosphere)
Suasana kelompok yang dimaksud adalah setia kawan dan rasa hangat yang terjalin antar anggota, rasa takut dan saling mencurigai, sikap saling menerima, atau sebaliknya saling menolak, dan sebagainya. Kelompok yang menarik minat yakni kelompok yang memiliki suasana dimana anggotanya merasa saling menerima atau diterima, menghargai atau dihargai. Suasana kelompok dipengaruhi oleh faktor hubungan antar anggota kelompok, kebebasan berperan serta dan juga lingkungan fisik. Faktor-faktor tersebut juga memiliki andil dalam keberlangsungan kelompok kerajinan tenun ikat. Suasana yang dibangun berdasarkan kesamaan ketrampilan, kedekatan domisili, dan hubungan kekeluargaan menunjukkan bahwa kelompok yang memiliki suasana yang positif menghadirkan keberlanjutan dalam usaha bersama, dibandingkan dengan kelompok yang bekerja secara individual dan tidak berinteraksi antar anggota yang satu dengan yang lainnya.
7. Tekanan pada kelompok (Group Pressure)
Tekanan pada kelompok ialah segala sesuatu yang menimbulkan ketegangan pada kelompok untuk menumbuhkan dorongan berbuat sesuatu dan tercapainya tujuan kelompok. Ada dua bentuk yang dapat menimbulkan tekanan pada kelompok yakni sistem penghargaan dan hukuman bagi anggota kelompok. Memberi penghargaan kepada anggota kelompok yang berbuat baik, atau menghukum anggota kelompok yang berbuat salah terhadap kelompoknya menimbulkan ketegangan psikologis, sehingga mempengaruhi dorongan berbuat sesuatu demi tercapainya tujuan kelompok.
8. Efektifitas Kelompok (Group Efectivity)
Efektifitas kelompok mempunyai pengaruh timbal balik. Kelompok yang efektif meningkatkan kedinamisan kelompok. Kelompok yang dinamis meningkatkan efektifitasnya. Efektifitas dilihat dari segi produktivitas, moral dan kepuasan anggota.
Tercapainya tujuan kelompok dipakai mengukur produktivitas. Semangat dan sikap
anggota dipakai mengukur moral, misalnya para anggota merasa bangga dan bahagia
berasosiasi dengan kelompoknya. Keberhasilan anggota mencapai tujuan pribadi
dipakai mengukur kepuasan anggota. Semakin berhasil kelompok mencapai
tujuannya, semakin bangga anggota berasosiasi dengan anggota kelompoknya dan
semakin puas anggota karena tujuan pribadinya tercapai, maka kelompok semakin efektif. Dengan demikian efektifitas kelompok sebagai salah satu unsur dinamika kelompok semakin kuat.
Kekuatan-kekuatan tersebut sebagai potensi yang dimiliki oleh kelompok secara internal sehingga menunjang keberlangsungan suatu kelompok, demikian halnya dengan kelompok pengrajin. Sebagai kelompok bentukan yang berkumpul, dapat dikenal dinamika yang terjadi didalamnya sehubungan dengan proses yang sudah berjalan selama ini. Dengan mengenal dinamika kelompok melalui aspek- aspek kekuatan tersebut, maka dapat diketahui cara pengembangan kelompok tersebut ke arah yang lebih tepat dan bermanfaat.
Unsur keragaan anggota bermakna unsur-unsur yang dimiliki oleh anggota pengrajin, meliputi ketrampilan, usia, kecakapan, latar belakang pendidikan, ketokohan dan status sosial. Keragaan anggota dapat disebut sebagai sumberdaya dan karakteristik yang dimiliki oleh anggota maupun kelompok. Pengembalian modal identik dengan kemampuan suatu kelompok dalam melaksanakan fungsi dan kewajiban dalam hal modal usaha. Kedua hal ini juga merupakan unsur atau ukuran yang menyebabkan dinamisnya suatu kelompok dalam keberfungsiannya.
Intervensi Program Pemberdayaan Masyarakat: PPK dan P3DM dalam Usaha Kerajinan
Tenun ikat tradisional merupakan salah satu seni kerajinan tangan warisan
secara turun temurun tentang teknik menghasilkan pakaian, dan hal ini diajarkan
kepada anak cucu demi kelestariannya. Tenun ikat tradisional bermakna proses
produksi menggunakan bahan yang masih asli, dan proses pengerjaan yang lama,
serta bentuknya yang orisinil, dan harga yang lebih mahal. Hal ini yang
membedakannya dengan tenun ikat komersial. Di Nusa Tenggara Timur, setiap
daerah memiliki ciri khas tenun ikat, yang dibedakan melalui motif/corak pada kain
tenunannya. Motif tersebut akan menandakan identitas si pemakainya, atau identitas
suku. Motif binatang dan manusia sangat menonjol pada tenunan Sumba Timur,
dibanding daerah lain yang menonjolkan motif tumbuhan. Secara khusus, kain
tenunan Sumba Timur memiliki ciri khas yang terdiri dari 3 (tiga) macam yakni : tenunan polos tanpa motif putih atau hitam, tenunan ikat bermotif kuda, ayam, manusia, burung kakatua, tugu perang, udang, rusa, buaya, singa (mahang), ular naga dan sebagainya, dan tenunan songket yang disebut lawu pahikungu yang biasa dipakai oleh kaum perempuan (dalam Beding dan Lestari,2002).
Menurut Dorce
3, kain tenun ikat tradisional di NTT secara umum, secara adat dan budaya memiliki fungsi yakni :
a. Sebagai busana sehari-hari untuk melindungi dan menutupi tubuh.
b. Sebagai busana yang dipakai dalam tari-tarian pada pesta/upacara adat.
c. Sebagai alat penghargaan dan pemberian perkawinan (mas kawin) d. Sebagai alat penghargaan dan pemberian dalam acara kematian
e. Fungsi hukum adat sebagai denda adat utk mengembalikan keseimbangan sosial yang terganggu.
f. Dari segi ekonomi sebagai alat tukar.
g. Sebagai prestise dalam strata sosial masyarakat.
h. Sebagai mitos, lambang suku yang diagungkan karena menurut corak atau desain tertentu akan melindungi mereka dari gangguan alam, bencana, roh jahat dan lain-lain
i. Sebagai alat penghargaan kepada tamu yang datang
Dalam masyarakat tradisional Nusa Tenggara Timur tenunan sebagai harta milik keluarga yang bernilai tinggi karena kerajinan tangan ini sulit dibuat karena dalam proses pembuatan dan penuangan motif tenunan hanya berdasarkan imajinasi penenun sehingga dari segi ekonomi memiliki harga yang cukup mahal. Tenunan sangat bernilai dipandang dari nilai simbolis yang terkandung didalamnya, termasuk arti dari ragam hias yang ada karena ragam hias tertentu yang terdapat pada tenunan memiliki nilai spiritual dan mistik menurut adat.
Pada mulanya tenunan dibuat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sebagai busana penutup dan pelindung tubuh, kemudian berkembang untuk kebutuhan adat (pesta, upacara, tarian, perkawinan, kematian dll), hingga sekarang merupakan bahan busana resmi dan modern yang didesain sesuai perkembangan mode untuk memenuhi permintaan atau kebutuhan konsumen.
3