• Tidak ada hasil yang ditemukan

KELOMPOK PENGRAJIN TENUN IKAT TRADISIONAL

Sejarah Pembentukan Kelompok

Kelompok pengrajin adalah bentukan program yang masuk ke komunitas, pada tahun 2004. Pada awalnya, dibentuk oleh Program Pengembangan Kecamatan (PPK) lalu ditambah dengan pembentukan kelompok oleh Program Penguatan dan Pengembangan Desa menuju Desa Mandiri (P3DM). Program ini bertujuan untuk membangkitkan usaha ekonomi produktif melalui bantuan modal usaha dalam bentuk pinjaman. Untuk program PPK, jenis pinjaman ini ditujukan untuk pemberdayaan perempuan, sehingga disebut Simpan Pinjam Perempuan (SPP). Pada dasarnya, para pengrajin di desa Hambapraing tidak hanya perempuan, tetapi khusus yang bergabung dalam kelompok simpan pijam ini adalah perempuan, yang terbentuk dalam lima kelompok yaitu : Kelompok Hamu Eti, Kaludang Mahamu,Lupang Mahamu, Paaing Mamila dan Himbu Anda. Secara jelas karakteristik kelompok tersebut dapat dilihat dalam tabel berikut.

Tabel 8 Karakteristik Kelompok Pengrajin Tenun Ikat di Desa Hambapraing Program PPK : Simpan Pinjam Perempuan Tahun 2004

No Nama Kelompok Jumlah

Anggota Jenis

Kelamin Usia Jumlah

Pinjaman Pengem

balian Tahun RT 1 Hamu Eti 1 10 P 30-52 Rp.199.000 100% 2005 04 2 Kaludang

Mahamu

10 P 42-56 Rp.199.000 100% 2005 02

3 Paaing Mamila 10 P 28-48 Rp.199.000 100% 2005 05

4 Lupang Mahamu 10 P 40-57 Rp.199.000 100% 2005 05

5 Himbu Anda 1 10 P 24-40 Rp.199.000 100% 2005 03 Sumber : Data TPK Desa Hambapraing,2007

Kelima kelompok ini mendapatkan bantuan sebesar Rp.199.000 per anggota, yang tersebar di empat RT. Setiap kelompok dibentuk berdasarkan kedekatan tempat tinggal, kesamaan jenis usaha, serta memiliki simpanan pokok sebesar Rp.300.000.

Cara pengembalian pinjaman adalah : 12 kali pembayaran dengan bunga 3,38 persen, dikumpulkan lewat kelompok, lalu ke Tim Pelaksana Desa, yang dilanjutkan kepada Unit Pelaksana Kegiatan (UPK) pada tingkat kecamatan setiap triwulan. Kelompok-kelompok ini berhasil mengembalikan modal pinjaman sesuai waktu yang ditentukan,

tetapi aktivitas produksi yang masih berlanjut hanya ditemui pada tiga kelompok yakni kelompok Himbu Anda, Hamu Eti, dan Paaing Mamila.

Berdasarkan pengamatan tersebut, maka pada tahun 2005 dilanjutkan dengan pengembangan kelompok pengrajin yang mengakomodir keinginan dari gabungan ketiga kelompok diatas. Usulan kelompok tersebut, menjadi dua kelompok, dimana anggotanya semakin berkurang menjadi lima orang untuk tiap kelompok. Hal ini disesuaikan dengan keinginan anggota untuk mengajukan pinjaman lagi dan kesediaan untuk berkumpul, sehingga di awal tahun 2006, terjadi pengguliran pinjaman bagi dua kelompok, yang berjumlah Rp.950.000 per anggota. Selengkapnya data kelompok pengrajin yang terus dikembangkan di tahun 2006 adalah sebagai berikut :

Tabel 9 Karakteristik Kelompok Pengrajin Penerima Pinjaman SPP

Program Pengembangan Kecamatan di Desa Hambapraing, Tahun 2006

No Nama

Kelompok Jumlah

Anggota Jenis

Kelamin RT Usia Jumlah Pinjaman Pengem balian 1 Hamu Eti 5 P 04 30-52 @Rp.950.000 Rp.800.000 2 Paaing

Mamila 5 P 05 25-45 @Rp.950.000 Rp.1.250.000

Sumber : Data TPK Desa Hambapraing, 2007

Mekanisme pengembalian pinjaman serupa dengan tahun sebelumnya, tetapi yang membedakan adalah tingkat bunga turun menjadi dua persen, serta simpanan pokok bagi kelompok sebesar Rp.230.000. Proses pengembalian yang sudah dilakukan, hampir lunas, walaupun sudah melewati batas waktu, yang seharusnya dilunasi dalam setahun atau dua belas kali pembayaran. Menurut ketua TPK Desa Hambapraing, alasan pengembalian yang macet karena produk yang dihasilkan belum dibeli konsumen, tetapi ada alasan lain juga karena adanya gambaran dari kelompok lain yang juga lebih lamban pengembaliannya tetapi tidak mendapat sanksi. Hal ini menjadi kendala bagi TPK dan UPK di tingkat masyarakat. Eksistensi Program Pengembangan Kecamatan untuk desa ini, berakhir sejak tahun 2006, dengan alasan, banyaknya kemacetan pengguliran dana di unit usaha lain, yakni usaha ekonomi produktif. Salah satu usaha pemberdayaan, yang cukup berhasil mengembalikan dana adalah kelompok pengrajin, sedangkan usaha lainnya, tidak berhasil bahkan macet total. Dari kenyataan ini, sebenarnya, menunjukkan bahwa, kelompok pengrajin tenun

ikat berpotensi untuk dikembangkan melalui pendekatan kelompok, melalui bantuan dana atau pinjaman yang sesuai dengan kebutuhan dan kesepakatan anggota.

Kelompok pengrajin tidak hanya dibentuk oleh program PPK, namun juga dibentuk melalui Program Penguatan dan Pengembangan Desa Menuju Desa Mandiri (P3DM) yang didanai oleh Dana Daerah (APBD) pada tahun 2005. Program ini mempunyai pendekatan yang sama dengan program PPK, tetapi perbedaan yang mendasar adalah, Program PPK dikendalikan oleh tim independen dalam strukturnya, sedangkan Program P3DM dikelola lembaga yang merupakan bagian dalam unsur pemerintah. Sejak tahun 2005, P3DM melakukan pengguliran dana bagi kelompok pengrajin tenun ikat dalam dua kelompok yakni, kelompok Himbu Anda 2 dan Hamu Eti 2. Yang membedakan kelompok SPP dalam PPK dengan Kelompok Pengrajin dalam P3DM, hanya pada mekanisme dan tingkat pengembalian pinjaman, yakni : bunga pinjaman hanya satu persen, pengurus di tingkat desa melalui LPM, pengembalian pinjaman sekali sebulan selama setahun, simpanan pokok kelompok Rp.200.000, pinjaman yang dikembalikan langsung kepada LPM (dalam bentuk rekening bank) dengan persetujuan Kepala Desa. Untuk sanksi, kedua program mempunyai ciri yang sama yaitu melalui sita barang dalam bentuk barang yang dimiliki oleh anggota. Pembentukan kelompok harus melalui kesepakatan dalam kelompok, hingga proses kerja, dan pertemuan rutin diatur oleh masing-masing kelompok. Secara terinci dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut.

Tabel 10 Karakteristik Kelompok Pengrajin Tenun Ikat dalam P3DM

No Nama

Kelompok Jumlah

Anggota Jenis

Kelamin RT Usia Jumlah

Pinjaman Pengem balian 1 Himbu

Anda 2 10 P 07 28-54 @Rp.100.000 Rp.522.500

2 Hamu Eti 2

7 P 05 42-49 @Rp.350.000 Rp.1.222.000

Sumber : LPM Desa Hambapraing,2007

Dinamika Kelompok Pengrajin Tenun Ikat Tradisional

Kelompok yang sudah dibentuk mengalami perbedaan dalam keaktifannya, atau perbedaan dalam beberapa unsur yang mendukung berkembang atau tidaknya suatu kelompok. Tipologi dikelompokkan berdasarkan keaktifannya, yang terdiri atas dua kelompok aktif, dua kelompok kurang aktif dan tiga kelompok tidak aktif lagi.

Untuk mengetahui masing-masing karakteristik, maka setiap kategori kelompok akan diuraikan berdasarkan tiga unsur. Unsur yang dinilai yaitu pengembalian modal atau pinjaman, keragaan anggota, serta indikator-indikator kekuatan kelompok (tujuan kelompok, struktur kelompok, kekompakkan kelompok, fungsi tugas, suasana kelompok, pembinaan kelompok, tekanan pada kelompok, dan efektifitas kelompok).

Kelompok Aktif

Terdapat dua kelompok yang aktif yakni, Kelompok Hamu Eti dan Kelompok Paaing Mamila. Kedua kelompok ini adalah pengembangan dari lima kelompok awal, yang terbentuk berdasarkan kesepakatan anggotanya. Pada bentukan yang baru, kelompok ini mendapat bantuan lebih besar.

Aspek Kekuatan Kelompok a. Tujuan Kelompok

Kelompok Hamu Eti dan kelompok Paaing Mamila, memiliki kecendrungan yang sama dalam hal pemenuhan tujuan kelompok. Tujuan kelompok meliputi pemenuhan tujuan anggota dan kepuasan anggota. Tujuan kelompok relatif sudah tercapai, dilihat dari aktivitas produksi, penjualan, kerjasama, dan kepuasan anggota.

Aktivitas produksi pada kelompok ini, terus berjalan dalam jumlah 3 kali produksi dalam setahun, dan melakukan penjualan kain secara periodik dengan pihak pembeli.

Kerjasama yang rutin diantara anggota dalam melakukan aktivitas produksi hingga pemasaran. Hal ini berlangsung secara alami karena hubungan antar anggota sangat erat yakni hubungan keluarga sehingga bentuk kerjasama yang dilakukan lebih kontinyu atau berkelanjutan. Kepuasan anggota cenderung lemah, karena belum sepenuhnya memenuhi kebutuhannya dalam hal pendapatan. Tingkat pendapatan dari hasil produk ini relatif rendah, sehingga anggota mengharapkan tingkat harga jual

yang lebih tinggi. Jadi, pemenuhan tujuan kelompok merupakan faktor yang penting dicapai untuk menunjang keberhasilan kelompok dan kepuasan anggota. Oleh sebab itu, diharapkan unsur-unsur dalam tujuan kelompok harus dipenuhi pada waktu yang akan datang. Dari kondisi ini, kelompok aktif sudah melakukan pemenuhan tujuan kelompok walaupun belum maksimal.

b. Struktur Kelompok

Unsur yang dilihat dalam struktur kelompok adalah, peran dan posisi, pengambilan keputusan, pembagian tugas, dan hubungan komunikasi. Struktur kelompok yang dibentuk adalah hasil kesepakatan anggota, sehingga penentuan peran dan posisi dalam struktur juga berdasarkan pada kesepakatan bersama. Unsur yang dipertimbangkan dalam menentukan ketua kelompok adalah kemampuan dan ketrampilan menenun, serta kemampuan mengatur dan mempengaruhi anggota lainnya. Kedua kelompok tersebut memiliki struktur pengurus yang dianggap cukup cakap dalam melakukan aktivitas tenun, berkelompok, dan berkomunikasi.

Pembagian tugas dilakukan sesuai peran, misalnya bendahara harus mengumpulkan pengembalian modal, menyampaikan laporan, pertemuan kelompok, dan sebagainya.

Pengambilan keputusan dilakukan secara komunikatif, karena anggota tinggal berdekatan. Tidak jarang juga keputusan dipengaruhi oleh pihak terdekat dari anggota misalnya suami atau keluarganya.

Struktur kelompok yang sudah ada, telah melalui proses yang dianggap tepat dan dapat mendukung keberlangsungan kelompok. Gambaran peran, posisi, dan pengambilan keputusan, serta hubungan komunikasi dalam kelompok ini, relatif lebih baik dibanding kelompok yang lainnya. Oleh sebab itu, yang perlu dibenahi adalah, cara meningkatkan kemampuan ketua, dan anggota dalam menjalankan peran dan fungsinya masing-masing.

c. Fungsi Tugas

Fungsi tugas dalam suatu kelompok meliputi, fungsi memberi informasi, memuaskan anggota, menghasilkan inisiatif, mengajak berperan serta, dan menjelaskan. Ketua kelompok maupun anggota kelompok selalu terbuka dalam membagi informasi yang dimiliki baik tentang harga bahan baku, maupun jumlah

permintaan atau pasar yang ada. Selain itu, fungsi menjelaskan pemanfaatan modal yang harus direalisasikan dalam proses produksi sudah berjalan dalam kelompok ini.

Hasilnya dalam proses pengguliran yang pertama, kelompok ini melakukan pengembalian tepat waktu, dan dilanjutkan pada bantuan tahap kedua, yang kini sedang berlangsung. Fungsi mengajak berperanserta adalah ajakan kerjasama misalnya, tahapan proses kerja yang membutuhkan tenaga kerja lebih dari satu orang.

Kondisi ini menunjukkan bahwa kedua kelompok ini, baru melakukan fungsi memberi informasi, menjelaskan dan mengajak berperan serta, sedangkan kedua fungsi lainnya belum dilaksanakan. Oleh sebab itu, perlu didampingi secara intensif sehingga, proses memfungsikan kelompok dalam dua hal lain tersebut dapat dilakukan oleh pengurus dan anggota kelompok.

d. Pembinaan Kelompok

Unsur yang dilihat dalam pembinaan kelompok adalah sosialisasi dan pendidikan atau latihan, serta kesempatan mendapatkan anggota baru. Hal ini belum dilakukan, dan hanya terbatas, pada ajakan pemanfaatan modal dan sosialisasi berkelompok. Sosialisasi dilakukan juga saat pencairan dana saja, selanjutnya tidak dilakukan lagi. Menurut ketua LPM, hal ini terjadi karena kelompok ini baru terbatas dalam mengelola modal sehingga unsur pembinaan yang lain seperti peningkatan ketrampilan belum dilakukan. Pembinaan kelompok sangat penting bagi anggota kelompok, karena keterbatasan pendidikan dan pengetahuan pengrajin akan mengakibatkan rendahnya kemampuan pengelolaan usaha. Keanggotaan yang ada, masih tetap karena kemampuan anggota belum terbina secara berkelanjutan untuk mengembangkan usaha yang lebih besar. Pembinaan kelompok adalah unsur yang penting untuk menunjang kuatnya suatu kelompok, tetapi belum dilakukan pada semua kelompok pengrajin yang ada. Unsur pembinaan masih kurang, sehingga dapat melemahkan kelompok.

e. Kekompakan Kelompok

Kelompok Hamu Eti memiliki kekompakan yang sangat kuat, dilihat dari proses produksi dalam tiap tahapnya. Kelompok ini memiliki kerampilan untuk melakukan keseluruhan tahapan, sehingga setiap anggota saling mendukung.

Kelompok Paaing Mamila, juga memiliki kekompakan, namun masih cenderung kurang akibat perbedaan aktivitas anggota pada saat tertentu. Kekompakan yang terbina didukung oleh hubungan pertalian darah maupun kesamaan klen, hingga kedekatan tempat tinggal dari anggota. Kekompakan kelompok juga dilihat dalam hal pengembalian modal, dimana ada rasa saling ketergantungan satu sama lain untuk memenuhi kewajiban pengembalian modal tepat waktu.

Unsur yang penting dalam menilai kekompakan kelompok adalah rasa keterikatan. Hal ini sudah ada dalam kelompok yang aktif ini, sehingga unsur ini menjadi faktor yang kuat mempengaruhi keaktifan anggota dalam melakukan usaha.

Hal ini yang membedakannya dengan tipe kelompok lainnya.

f. Suasana Kelompok

Suasana kelompok tergambar melalui perasaan saling percaya dan saling menerima antar sesama anggota. Dalam hal pengembalian modal, ada saling percaya dimana satu anggota mau membantu anggota lainnya untuk memenuhi kewajiban.

Selain itu, saling menghargai antar anggota terwujud dalam hal kerjasama dan pemenuhan kebutuhan salah satu anggota saat proses produksi, misalnya bantuan tenaga kerja dan ketrampilan lainnya seperti pembuatan motif dan pewarnaan.

Faktor yang dinilai mempengaruhi suasana kelompok adalah rasa saling percaya, rasa saling menerima, rasa saling menghargai, dan kebebasan berperanserta.

Suasana kelompok dalam kelompok tersebut diatas, sudah berproses cukup baik, sehingga dapat mendukung kuatnya eksistensi kelompok tersebut.

g. Tekanan Pada Kelompok

Tekanan pada kelompok meliputi penghargaan dan hukuman bagi anggota.

Penghargaan nampak pada kelompok yang aktif, karena pengembalian modal yang tepat waktu, akhirnya melanjutkan pinjaman pada jumlah yang lebih besar.

Sedangkan untuk kelompok yang lambat dan tidak mengembalikan modal diberi sanksi seperti tidak mendapat guliran lagi. Hal ini masih terbatas pada pengguliran modal, namun belum berkembang pada hal yang lain, misalnya peningkatan ketrampilan tambahan bagi kelompok yang benar-benar ingin maju, dan sebagainya.

Menurut pendamping kelompok, bpk HM

’Kelompok Hamu Eti, paling potensial dalam menghasilkan kain tenun yang berkualitas, namun sayang belum bisa memasarkannya secara lebih luas, selain itu, mungkin baik juga jika mereka terus didampingi’.

Dari keterangan ini, sebenarnya ada harapan untuk memberi perhatian bagi kelompok yang sudah berkembang atau aktif. Gambaran ini menunjukkan bahwa ada penghargaan bagi kelompok yang berkembang sudah ada, serta sanksi bagi kelompok yang macet. Seimbangnya penghargaan dan sanksi yang dilakukan akan menunjang kuatnya kelompok aktif ini.

h. Efektifitas Kelompok

Kelompok yang dianggap efektif dilihat dari sisi produktivitas, atau pencapaian tujuan kelompok, kepuasan anggota, hingga moral atau semangat dan sikap anggota. Kelompok Hamu Eti dan Paaing Mamila, cukup efektif dalam memenuhi tujuan kelompoknya, dimana proses produksi dapat berkelanjutan walaupun belum rutin atau total sebagai mata pencarian utama. Tujuan lain seperti kelancaran pengembalian modal juga dipenuhi oleh kedua kelompok ini, namun semangat dan sikap anggota belum sepenuhnya puas. Hal ini berhubungan dengan harapan mereka yang belum tercapai dalam hal pemasaran produk yang masih terbatas, sehingga belum memberi hasil atau pendapatan yang optimal. Selain itu, kurang puasnya anggota karena minimnya informasi pasar bagi mereka mengakibatkan produk dipasarkan dengan harga yang tidak seimbang dengan biaya produksi. Berdasarkan kondisi tersebut, pencapaian efektifitas kelompok, relatif cukup, karena unsur moral dan pencapaian tujuan kelompok sudah berlangsung sedangkan kepuasan anggota belum tercapai. Oleh sebab itu, kelompok ini akan kuat jika unsur kepuasan anggota dapat tercapai.

Keragaan Anggota

Anggota kelompok Hamu Eti dan Paaing Mamila, terdiri atas warga komunitas yang memiliki karakter yang hampir sama, namun lebih jelas jika diuraikan secara terpisah. Kelompok Hamu Eti, terdiri atas anggota yang memiliki latar belakang hubungan darah atau keluarga, berada dalam satu klen, tempat tinggal

yang berdekatan, masing-masing anggota berada dirumah yang berbeda, jadi bukan satu rumah tangga. Gambaran dalam satu klen, tetapi mempunyai hubungan darah yang cukup dekat mengakibatkan ketrampilan yang dimiliki juga hampir sama atau merata. Hal ini disebabkan karena setiap rumah tangga mewariskan ketrampilan menenun dan mendesain bagi anggota keluarganya sehingga hal ini menjadi kebanggaan tersendiri jika ketrampilan yang dimiliki lebih komplit dibanding dengan kelompok lainnya. Kelompok Paaing Mamila, terdiri dari anggota yang dominan bertalian darah, tidak dalam satu klen, dan tempat tinggal yang berdekatan, tetapi masih dalam satu RT. Kecakapan atau ketrampilan yang dimiliki hampir pada semua tahap proses kerja, bahkan salah satu anggotanya sudah mempunyai jaringan pemasaran dengan pihak pembeli perantara. Hal ini juga yang membedakannya dengan kelompok yang lain, sehingga menopang keberlangsungan produksi.

Unsur keragaan anggota dapat dilihat dari, kecakapan, tingkat pendidikan, usia, status atau ketokohan, dan ketrampilan. Dilihat dari usia anggota, terdapat 70 persen anggota berusia dibawah 50 tahun, dengan tingkat pendidikan sekolah dasar, tetapi mempunyai ketrampilan yang komplit pada setiap tahapan proses kerja. Selain itu, ketua dan pengurus mempunyai kecakapan yang cukup, dan terdapat 20 persen anggota yang masih berstatus tokoh atau pihak yang dihormati dalam klan.

Gambaran ini menunjukkan bahwa keragaan anggota ini mempunyai pengaruh bagi aktif atau tidaknya suatu kelompok dalam menjalani proses dan usahanya. Ikatan yang paling kuat adalah pengaruh ketrampilan, kecakapan, dan hubungan pertalian darah hingga adanya tokoh yang dihormati.

Pengembalian Modal

Pengembalian modal berkaitan dengan batasan waktu dan kewajiban pengembalian, serta jumlah pinjaman. Pengembalian modal pertama sudah dilakukan tepat waktu, sedangkan guliran yang kedua, sudah dilakukan sebesar 60 persen selama setahun, dan hal itu masih terus berproses, dengan harapan program pemberdayaan tetap meneruskannya.

Kelompok ini menggunakan modal bantuan dari pemerintah, dari jumlah yang kecil hingga yang besar yakni, sejak jumlahnya 199.000 tahun 2004 hingga berjumlah 950.000 pada tahun 2006. Bantuan modal ini digunakan untuk pengadaan bahan baku seperti benang, dan biaya bahan tambahan lainnya. Untuk harga benang, dengan modal Rp.200.000 dapat menghasilkan kain sejumlah empat lembar, karena satu bantal benang dengan harga Rp.35.000 dapat menghasilkan selembar kain.

Modal lainnya, seperti tenaga kerja membutuhkan biaya yang berbeda, dan hal ini tergantung pada kekompakan dari anggota kelompok. Selain hanya biaya benang, dibutuhkan tenaga untuk membantu proses kerja, dimana terdapat tahapan yang membutuhkan tenaga kerja lebih dari satu orang (1-3 orang). Oleh sebab itu, untuk kelompok pengrajin, proses produksi tidak hanya tergantung dengan modal, dan bahan baku tetapi juga tergantung pada keterlibatan anggota lainnya yang bisa saling melengkapi, demi kelancaran proses tersebut. Ketrampilan yang dimiliki secara komplit atau penguasaan teknik secara menyeluruh juga mendukung proses kerja atau produksi yang lebih tepat waktu.

Gambaran ini, menunjukkan bahwa kedua kelompok tersebut dikatakan aktif karena ketiga unsur yang mempengaruhi dinamika kelompok, berproses relatif cukup baik walaupun terdapat banyak unsur yang masih lemah. Unsur- unsur yang lemah tersebut patut dijadikan bahan evaluasi untuk menunjang keaktifan suatu kelompok sehingga pada akhirnya berkembang lebih baik lagi.

Kelompok Kurang Aktif

Terdapat dua kelompok yang kurang aktif di komunitas ini, yakni kelompok Himbu Anda2 dan Hamu Eti2, dimana keduanya adalah kelompok bentukan program P3DM. Jumlah modal yang diperoleh relatif lebih kecil dibanding dengan kelompok yang aktif tersebut diatas, yakni Rp.350.000 dan Rp.100.000. Hal ini juga disesuaikan dengan dana pemberdayaan yang tersedia serta kesepakatan kelompok untuk melakukan pinjaman kelompok. Sejak tahun 2005, hingga tahun 2007, pengembalian dana baru mencapai 50 persen, dengan alasan pendapatan dan kesadaran untuk pengembalian modal yang masih rendah.

Aspek Kekuatan dalam Kelompok a. Tujuan Kelompok

Tujuan kelompok dilihat dari empat unsur, yakni tujuan anggota, kerjasama, aktivitas produksi, dan kepuasan anggota. Tujuan pembentukan kelompok, selain untuk pemberdayaan juga sebagai salah satu media untuk mendapatkan bantuan modal dan bantuan dari luar. Tujuan anggota adalah mendapatkan bantuan, sehingga dalam proses ini anggota merasa puas dapat memperoleh tambahan modal untuk berusaha. Aktivitas produksi masih terbatas pada hasil yang minim, artinya dalam setahun hanya melakukan produksi sekali hingga dua kali. Anggota masih bekerja secara individual dirumah masing-masing, dengan kerjasama masih kurang. Anggota merasa tidak puas dengan harga kain yang menurun. Kondisi ini menunjukkan bahwa kelompok ini belum mencapai tujuannya, karena empat unsur tersebut belum tercapai. Oleh sebab itu, kelompok ini berjalan apa adanya, dengan produksi yang minim dalam setahun, dan hasil yang diperoleh pun sangat terbatas. Dapat disimpulkan bahwa kelompok ini mengalami kelemahan pada unsur pemenuhan tujuan.

b. Struktur Kelompok

Unsur yang dilihat dalam struktur kelompok adalah, peran dan posisi, pengambilan keputusan, pembagian tugas, dan hubungan komunikasi. Kelompok yang dibentuk memiliki struktur yang lazim atau umum yakni terdiri atas ketua, sekeretaris dan bendahara. Peran ketua dalam kelompok maupun pengurus lainnya, cenderung apatis setelah bantuan sudah diperoleh. Pengambilan keputusan lebih dominan dilakukan oleh ketua, karena kegiatan hanya berkisar pengembalian dana, sedangkan keadaan anggota melakukan produksi dan kendalanya, menjadi urusan pribadi. Hubungan komunikasi dan pembagian tugas, seputar pelaksanaan tugas masing-masing anggota, seperti contohnya yang dilakukan oleh bendahara. Catatan pengembalian modal oleh bendahara kelompok menjadi informasi bagi pengurus LPM. Pengambilan keputusan dilakukan secara individual dalam hal pengembalian modal, karena tergantung kemampuan masing-masing anggota. Berbeda dengan kelompok aktif yang saling mengingatkan, dan saling tergantung. Dari gambaran ini,

ternyata kedua kelompok ini mengalami kelemahan dalam unsur struktur dimana ketua kelompok kurang berkomunikasi dengan anggota, sehingga keputusan yang lakukan lebih individual. Hal-hal tersebut menjadi kelemahan kelompok ini sehingga tergolong kurang aktif.

c. Fungsi Tugas

Fungsi tugas dalam suatu kelompok meliputi, fungsi memberi informasi, memuaskan anggota, menghasilkan inisiatif, mengajak berperan serta, dan menjelaskan. Dalam memberikan informasi, antar anggota juga masih berjalan secara alami sama seperti waktu belum berkelompok, artinya kendala pasar atau proses produksi jarang dibicarakan. Jarang karena produksi dilakukan hanya sekali atau dua kali dalam setahun. Unsur memuaskan anggota, menghasilkan inisiatif serta mengajak berperanserta masih jarang dilakukan, hal ini disebabkan oleh peran ketua belum total atau fokus dalam melakukan berbagai tugasnya. Penjelasan dilakukan

Fungsi tugas dalam suatu kelompok meliputi, fungsi memberi informasi, memuaskan anggota, menghasilkan inisiatif, mengajak berperan serta, dan menjelaskan. Dalam memberikan informasi, antar anggota juga masih berjalan secara alami sama seperti waktu belum berkelompok, artinya kendala pasar atau proses produksi jarang dibicarakan. Jarang karena produksi dilakukan hanya sekali atau dua kali dalam setahun. Unsur memuaskan anggota, menghasilkan inisiatif serta mengajak berperanserta masih jarang dilakukan, hal ini disebabkan oleh peran ketua belum total atau fokus dalam melakukan berbagai tugasnya. Penjelasan dilakukan