• Tidak ada hasil yang ditemukan

5 SIMPULAN DAN SARAN Simpulan

DAFTAR PUSTAKA

Abednego HM. 1997. Perkembangan lima tahun demam berdarah dengue di Indonesia. Acta Med Indones. 21(1) : 5-19.

Agustina E. 2013. Pengaruh media terpolusi tanah terhadap perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti. Jurnal Biotik. 1(2) : 67-136.

Ahmad I, Astari S, Tan M. 2007. Resistance of Aedes aegypti (Diptera : Culicidae) in 2006 to pyrethroid insecticides in Indonesia and its association with oxidase and esterase levels. Pak J Biol Sci. 10(20) : 3688-3692.

Alfiah S. 2012. Dikloro difenil trikoloetan (DDT). Jurnal Vektora. 3 (2) :149-152. Ambarita LP, Taviv Y, Budiyanto A, Sitorus H, Pahlepi RI, Febriyanto. 2015. Tingkat kerentanan Aedes aegypti (Linn.) terhadap malation di Provinsi Sumatera Selatan. BPK. 43(2) : 97–104.

Ayuningtyas ED. 2013. Perbedaan keberadaan jentik Aedes aegypti berdasarkan karakteristik kontainer di daerah endemis demam berdarah dengue (studi kasus di Kelurahan Bangetayu Wetan Kota Semarang tahun 2013). [skripsi]. Semarang (ID) : Universitas Negeri Semarang.

Aziz AT, Dieng H, Ahmad AA, Mahyoub JA, Turkistani AM, Mesed H, Koshike S, Satho T, Salmah MRC, Ahmad H et al. 2012. Household survey of container-breeding mosquitoes and climatic factors influencing the prevalence of Aedes aegypti (Diptera : Culicidae) in Makkah City, Saudi Arabia. Asian Pac J Trop Biomed. 2(11) : 849–857.

Badrah S, Hidayah N. 2011. Hubungan antara tempat perindukan nyamuk Aedes aegypti dengan kasus demam berdarah dengue di Kelurahan Penajam Kecamatan Penajam Kabupaten Penajam Paser Utara. J Trop Pharm Chem. 1(2) : 153-160.

Barrera R, Amador M, Clark GG. 2006. Ecological factors influencing Aedes aegypti (Diptera: Culicidae) productivity in artificial containers in Salinas, Puerto Rico. J Med Entomol. 43(3) : 484-492.

Bartlett-Healy K, Unlu I, Obenauer P, Hughes T, Healy S, Crepeau T, Farajollahi A, Kesavaraju B, Fonseca D, Schoeler G, Gaugler R, Strickman D. 2012. Larval mosquito habitat utilization and community dynamics of Aedes albopictus and Aedes japonicus (Diptera: Culicidae). Reisen WK (editor). Entomol Soc Am. 813-824.

Brown AWA, Pal R. 1971. Insecticide resistance in arthropod. WHO. Geneva. Chapman RF. 1973. The insect : structure and function. London. The English

University Press LTD.

Costa EAPDA, Santos EMDM, Correia JC, de Albuquerque CMR. 2010. Impact of small variations in temperature and humidity on the reproductive activity and survival of Aedes aegypti (Diptera, Culicidae). Rev Bras Entomol. 54 (3).

Couret J, Dotson E, Benedict MQ. 2014. Temperature, larval diet, and density effects on development rate and survival of Aedes aegypti (Diptera: Culicidae). PLoS ONE, 9(2) : e87468.

Dhewantara P, Dinata A. 2015. Analisis risiko dengue berbasis maya index pada rumah penderita DBD di Kota Banjar tahun 2012. Balaba. 11(1):1-8.

[Dinkes Kota Bogor] Dinas Kesehatan Kota Bogor (ID). 2016. Data Kasus Demam Berdarah Dengue Januari-Desember 2015, Kota Bogor.

Eisen L, Monaghan AJ, Lozano-Fuentes S, Steinhoff DF, Hayden MH, PE Bieringer. 2014. The impact of temperature on the bionomics of Aedes (Stegomyia) aegypti, with special reference to the cool geographic range margins. J Med Entomol. 51(3): 496-516.

Fadilla Z, Hadi UK, Setiyaningsih S. 2015. Bioekologi vektor demam berdarah dengue (DBD) serta deteksi virus dengue pada Aedes aegypti (Linnaeus) dan Ae. albopictus (Skuse) (Diptera: Culicidae) di kelurahan endemik DBD Bantarjati, Kota Bogor. JEI. 12 (1): 31–38.

Farajollahi A, Price DC. 2013. A rapid identification guide for larvae of the most common North American container-inhabiting Aedes species of medical importance. J Am Mosq Control Assoc. 29(3):203-221.

Gama ZP, Yanuwiadi B, Kurniati TH. 2010. Strategi pemberantasan nyamuk aman lingkungan: potensi Bacillus thuringiensis isolat madura sebagai musuh alami nyamuk Aedes aegypti. JPAL. 1(1).

Ganie MW. 2009. Gambaran pengetahuan, sikap dan tindakan tentang 3M (mengubur barang bekas, menutup dan menguras tempat penampungan air) pada keluarga di Kelurahan Padang Bulan. [Laporan Hasil Penelitian]. Medan (ID) : Universitas Sumatera Utara.

Ghiffari A, Fatimi H, Anwar C. 2013. Deteksi resistensi insektisida sintetik piretroid pada Aedes aegypti (L.) strain Palembang menggunakan teknik Polymerase Chain Reaction. Aspirator. 5(2) : 37-44

Gonzales FJC, Lake IR, Bentham G. 2011. Climate variability and dengue fever in warm and humid Mexico. Am J Trop Med Hyg. 84 (5) : 757-763.

Hadi UK, Soviana S, Gunandini DJ. 2009. Sebaran jentik Aedes di pedesaan. Di dalam : Hadi UK, Handajani SU, Tiuria R, Soviana S, editor. Partisipasi Masyarakat Dalam Program Pengendalian Nyamuk Terpadu. Seminar Nasional Hari Nyamu 2009; 2009 Agust 10; Bogor, Indonesia. Bogor (ID): PEK IPB. hlm 154-159.

Hadi UK, Soviana S. 2010. Ektoparasit : Pengenalan, Identifikasi dan Pengendaliannya. Bogor (ID) : IPB Pr.

Hadi UK, Soviana S, Gunandini DJ. 2012. Aktivitas nokturnal vektor demam berdarah dengue di beberapa daerah di Indonesia. JEI. 9(1) : 1-6.

Hadi UK. 2016. Pentingnya Pemahaman Bioekologi Vektor Demam Berdarah Dengue dan Tantangan dalam Upaya Pengendaliannya. Orasi Ilmiah Guru besar IPB. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

Hasyimi M, Sukowati S, Primavara R, Krisastuti R. 2008, Habitat perkembangbiakan vektor demam berdarah dengue di Kelurahan Kenten Laut Kecamatan Talang Kelapa Kabupaten Banyuasin Propinsi Sumatera Selatan. JEK. 7(3) : 803-807.

Hemme RR, Tank JL, Chadee DD, Severson DW. 2009. Environmental conditions in water storage drums and influences on Aedes aegypti in Trinidad, West Indies. Acta Trop. 112(1) : 59–66.

Hidayat MC, Santoso L, Suwasono H. 1997. Pengaruh pH air perindukan terhadap pertumbuhan dan perkembangan Aedes aegypti pra dewasa. CDK. 117 : 47-49.

Ikawati B, Sunaryo, Widiastuti D. 2015. Peta status kerentanan Aedes aegypti (Linn.) terhadap insektisida cypermethrin dan malathion di Jawa Tengah. Aspirator, 7(1) : 23-28.

Imawati D, Sukesi TW. 2015. Faktor-faktor yang berhubungan dengan keberadaan larva di Dusun Mandingan, Desa Kebon Agung, Kabupaten Bantul. Jurnal Medika Respati. 10(2):78-88.

Indrawati A, Sudarwanto M, Tampubolon MP, Soejoedono RD, Wibawan IWT. 2011. Uji patogenisitas zoospora kapang Lagenidium giganteum terhadap larva instar-2 nyamuk Aedes aegypti skala laboratorium. J Vet. 12(1) : 19-25.

Ishak IH, Jaal Z, Ranson H, Wondji CS. 2015. Contrasting patterns of insecticide resistance and knockdown resistance (KDR) in the dengue vectors Aedes aegypti and Aedes albopictus from Malaysia. Parasit Vectors. 8(181) : 1-13. Joharina AS, Alfiah S. 2012. Analisis deskriptif insektisida rumah tangga yang

beredar di masyarakat. J Vektora. 4(1) : 23-32.

Joharina AS, Widiarti. 2014. Kepadatan larva nyamuk vektor sebagai indikator penularan demam berdarah dengue di daerah endemis di Jawa Timur. Jurnal Vektor Penyakit. 8 (2) : 33-40.

Joshi V, Mourya DT, Sharma RC. 2002. Persistence of vertical transmission of dengue 3 virus through vertical transmission passage in sucessive generations of Aedes aegypti mosquitoes. Am J Trop Med Hyg. 67(2) : 158-161.

Joubert DA, Walker T, Carrington LB, De Bruyne JT , Kien DHT, Hoang NLT, Chau NVV, Iturbe-Ormaetxe I, Simmons CP, O’Neill SL. 2016. Establishment of a wolbachia superinfection in Aedes aegypti mosquitoes as a potential approach for future resistance management. PLOS Pathogens. 1-19.

[Kemenkes RI] Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (ID). 2014a. Modul Pengendalian Demam Berdarah Dengue. Direktorat Jenderal Pengendalain Penyakit Dan Penyehatan Lingkungan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

[Kemenkes RI] Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (ID). 2014b. Panduan Peningkatan Peran Serta Masyarakat dalam Pemberantasan Sarang Nyamuk DBD di Kabupaten/Kota. Direktorat Jenderal Pengendalain Penyakit Dan Penyehatan Lingkungan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

[Kemenkes RI] Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (ID). 2015a. Pedoman Pengendalian Demam Berdarah Dengue. Direktorat Jenderal Pengendalain Penyakit Dan Penyehatan Lingkungan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

[Kemenkes RI] Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (ID). 2015b. Petunjuk Teknis Surveilans Demam Berdarah Dengue. Direktorat Jenderal Pengendalain Penyakit Dan Penyehatan Lingkungan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

Kittayapong P, Strickman D. 1993. Distribution of container-inhabiting Aedes Larvae (Diptera: Culicidae) at a dengue focus in Thailand. Reisen WK (editor). J Med Entomol. 30(3) : 601 – 606.

Knox TB, Yen NT, Nam VS, Gatton ML, Kay BH, Ryan PA. 2007. Critical evaluation of quantitative sampling methods for Aedes aegypti (Diptera: Culicidae) immatures in water storage containers in Vietnam. J Med Entomol. 44(2) : 192-204.

Kristinawati E. 2013. Uji resistensi sipermetrin dan malation pada Aedes aegypti di daerah endemis demam berdarah dengue Kabupaten Lombok Barat. Media Bina Ilmiah. 7(2) : 31-34.

Lee CY, Zairi J, Yap HH, Chong NL. 2003. Urban Pest Control A Malaysian Perspective. Penang : VCRU USM.

Lidia K, Setianingrum ELS. 2008. Deteksi dini resistensi nyamuk Aedes albopictus terhadap insektisida organofosfat di daerah demam berdarah dengue di Palu (Sulawesi Tengah). Jurnal MKM. 3(2) : 105-110.

Luz C, Tai MNH, Santos AH, Silva HHG. 2008. Impact of moisture on survival of Aedes aegyptieggs and ovicidal activity of Metarhizium anisopliae under laboratory conditions. Mem Inst Oswaldo Cruz. 103 (2).

Matsumura F. 1976. Toxicology of Insecticides. New York, USA : Plenum Pr. Minhas S, Sekhon H. 2013. Entomological survey for dengue vector in an

institutional campus to determine whether potential of dengue outbreak exist. IJMAS. 2 (4): 164–171.

Mintarsih RE, Suwasono H, Santoso L 1996. Pengaruh Suhu dan Kelembaban Udara Alami Terhadap Jangka Hidup Aedes aegypti Betina di Kotamadya Salatiga dan Semarang. CDK. 107.

Mohammed A, Chadee DD. 2011. Effects of different temperature regimens on the development of Aedes aegypti (L.) (Diptera: Culicidae) mosquitoes. Acta Trop. 119 (2011) : 38–43.

Navarro DMAF, De Oliveira PES, Potting RPJ, Brito AC, Fital SJF, Goulart Sant'Ana AE. 2003. The potential attractant or repellent effects of different water types on oviposition in Aedes aegypti L. (Dipt., Culicidae). J Appl Entomol. 127(1) : 46–50.

Nurhayati S, Rahayu A. 2006. Potensi teknik nuklir dalam pengendalian nyamuk Aedes aegypti sebagai vektor penyakit demam berdarah dengue. Di dalam : Sudjatmoko, Darsono, Sujitno T, Nurhayati DW, Kusminarto, Atmono T, editor. Pengembangan Teknologi Akselerator dan Aplikasinya; Prosiding PPI – PDIPTN; Pustek Akselerator dan Proses Bahan BATAN; 2006 Jul 10; Yogyakarta, Indonesia. Yogyakarta (ID) : ANSN BAPETEN. hlm 185-189. Nurjanah S. 2013. Status kerentanan vektor Aedes aegypti terhadap insektisida dan kaitannya dengan kejadian kasus demam berdarah di Kota Bogor. [tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.

Pant CP, Self LS. 1999. Vector ecology and bionomics. Monograph on Dengue/Dengue Haemorrhagic Fever. WHO Reg Publ SEARO. 22: 121–38. [Pemkot Bogor] Pemerintah Kota Bogor. 2016. Sekilas Bogor. [Internet].

[diunduh 2016 Apr 25]. Tersedia pada : http://kotabogor.go.id.

Perez JGR, Clark GG, Gubler DJ, Reiter P, Sanders EJ, Vorndam AV. 1998. Dengue and Dengue Haemorrhagic Fever. The Lancet (352) : 971-977. Pradani FY, Ipa M, Marina R, Yuliasih Y. 2011. Penentuan status resistensi Ae.

aegypti dengan metode susceptibility di Kota Cimahi terhadap cypermethrin. Aspirator. 3(1) : 18-24.

Pujiyanti A, Trapsilowati W. 2010. Pengetahuan, sikap dan perilaku ibu rumah tangga dalam pencegahan demam berdarah dengue di Kelurahan Kutowinangun, Salatiga. J Vektora. 2(2) : 102-115.

Pujiyanto S, Ferniah RS, Rahardian R. 2011. Aktivitas bakteri kitinolitik akuatik isolat lokal terhadap perkembangan dan mortalitas larva nyamuk Aedes aegypti L. JSM. 19(2) : 54-59.

Purba D. 2012. Pengaruh faktor lingkungan fisik dan kebiasaan keluarga terhadap kejadian demam berdarah dengue di Kecamatan Binjai Timur, Kota Binjai. [tesis]. Medan (ID) : Universitas Sumatera Utara.

Putri MHO, Kasmara H, Melanie. 2015. Jamur entomopatogen Beauveria bassiana (Balsamo, 1912) sebagai agen pengendali hayati nyamuk Aedes aegypti (Linnaeus, 1762). Di dalam : Setyawan AD, Sugiyarto, Pitoyo A, Hernawan UE, Sutomo, Widiastuti A, Raqib SM, Suwandhi I, Rosleine D, Syamsudin T, Iskandar J, Simbala HEI, Kilowasid LMH, editor. Keanekaragaman Hayati dan Jasa Ekosistem dari Kawasan Pegunungan. 2015 Jun 13. Bandung, Indonesia. Bandung (ID) : Pros Sem Nas Masy Biodiv Indon 1(6). hlm 1472-1477.

Riwidikdo H. 2009. Statistik untuk Penelitian Kesehatan dengan Aplikasi Program R dan SPSS. Yogyakarta (ID) : Pustaka Rihama.

Salim M, Febriyanto. 2007. Survei jentik Aedes aegypti di Desa Saung Naga Kab. Oku Tahun 2005. JEK. 6(2) : 602-607.

Sambuaga JVI. 2011. Status entomologi vektor demam berdarah dengue di Kelurahan Perkamil Kecamatan Tikala Kota Manado Tahun 2011. JKL. 1(1) : 54-61.

Setiawan YD, Fikri Z. 2014. Efektifitas larvasida temephos (Abate 1g) terhadap nyamuk Aedes aegypti Kecamatan Sewon Kabupaten Bantul DIY Tahun 2013. Media Bina Ilmiah. 8(4) : 33-36.

Shinta, Sukowati S, Fauziah A. 2008. Kerentanan nyamuk Aedes aegypti di Daerah Khusus Ibukota Jakarta dan Bogor terhadap insektisida malathion dan lambdacyhalothrin. JEK. 7(1) : 722-731.

Shinta, Sukowati S. 2013. Penggunaan metode survei pupa untuk memprediksi risiko penularan demam berdarah dengue di lima wilayah endemis di DKI Jakarta. Media Litbangkes. 23 (1) : 31- 40.

Soedarmo SP. 1999. Masalah Demam Berdarah Dengue di Indonesia. Jakarta (ID) : Balai Penerbit FK UI.

Soenjono SJ. 2011. Status kerentanan nyamuk Aedes spp. (Diptera : Culicidae) terhadap malation dan aktivitas enzim esterase non spesifik di wilayah kerja Kantor Kesehatan Pelabuhan Bandar Udara Sam Ratulangi Manado. JKL.1(1).

Sukowati S. 2010. Masalah vektor demam berdarah dengue (DBD) dan pengendaliannya di Indonesia. Buletin Jendela Epidemiologi. 2 : 26-30. Sulistyorini E, Trapsilowati W. 2007. Kajian kinerja Dinas Kesehatan Kota

Semarang Tahun 2005 dalam pengendalian demam berdarah dengue (DBD) dari perspektif proses internal dan perspektif pembelajaran. Media Litbangkes. 71(1):1-8.

Sunaryo, Pramestuti N. 2014. Surveilans Aedes aegypti di daerah endemis demam berdarah dengue. JKMN. 8(8) : 423-429.

Taviv Y, Alwi A, Budianto A, Purnama D, Betriyon. 2007. Efektifitas ikan cupang (Ctenops vitatus) dalam pengendalian larva dan daya tahannya terhadap temephos (uji laboratorium dan lapangan). Buletin Spirakel. 1(1). Trapsilowati W, Suskamdani. 2007. Studi kualitatif pengetahuan dan peran tokoh

masyarakat dalam pengendalian demam berdarah dengue di Kota Salatiga. Media Litbangkes 17(4) :8-13.

Tukiran, Handayani T, Hagul P. 1995. Metode Penelitian Survai. Singarimbun M, Effendi S, editor. Jakarta (ID) : LP3ES.

Tun-Lin W, Burkot TR, Kay BH. 2000. Effects of temperature and larval diet on development rates and survival of the dengue vector Aedes aegypti in north Queensland, Australia. Med Vet Entomol. 14(1) : 31–37.

Venkatesh A, Tyagi BK. 2015. Bradinopyga geminata (Anisoptera: Libellulidae) as a predator of Aedes aegypti immatures (Diptera: Culicidae). Int J Mosq Res. 2 (2): 98-105.

Vezzani D, Carbajo AE. 2008. Ae. aegypti, Aedes albopictus and dengue in Argentina: current knowledge and future directions. Mem Inst Oswaldo Cruz. 103(1): 66-74.

Walker T, Johnson PH, Moreira LA, Iturbe-Ormaetxe I, Frentiu FD, McMeniman CJ, Leong YS, Dong Y, Axford J, Kriesner P, Lloyd AL, Ritchie SA, O’Neill SL, Hoffmann AA. 2011. The wMel wolbachia strain blocks dengue and invades caged Aedes aegypti populations. Nature. 476 : 450-455.

Wati WE. 2009. Beberapa faktor yang berhubungan dengan kejadian demam berdarah dengue (DBD) di Kelurahan Ploso Kecamatan Pacitan. [skripsi]. Surakarta (ID) : Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Westbrook CJ, Reiskind MH, Pesko KN, Greene KE, Lounibos LP. 2010. Larval environmental temperature and the susceptibility of Aedes albopictus Skuse (Diptera: Culicidae) to chikungunya virus. Vector Borne and Zoonotic Dis. 10(3) : 241–247.

[WHO] World Health Organization. 2003. Guidelines for Dengue Surveillance and Mosquito Control. 2nd ed. Regional Office for the Western Pacific Manila. Phillipines.

[WHO] World Health Organization. 2004. Demam Berdarah Dengue Diagnosis, Pengobatan, Pencegahan dan Pengendalian. Jakarta (ID) : EGC.

[WHO] World Health Organization. 2013. Test Procedures for Insecticide Resistance Monitoring in Malaria Vector Mosquitoes. Geneva : VCU. Widiarti, Heriyanto B, Boewono DT. 2011. Peta resistensi vektor demam

berdarah dengue Ae. aegypti terhadap insektisisda kelompok organophosfat, karbamat dan pyrethroid di Provinsi Jawa Tengah dan Yogyakarta. BPK. 9 (4) : 176-189.

Widiastuti D, Sunaryo, Pramestuti N, Martini. 2015. Aktivitas enzim monooksigenase pada populasi nyamuk Aedes aegypti di Kecamatan Tembalang, Kota Semarang. Aspirator, 7(1) : 1-6.

Yudhastuti R, Vidiyani A. 2005. Hubungan kondisi lingkungan, kontainer dan perilaku masyarakat dengan keberadaan jenitk nyamuk Ae. aegypti di daerah endemis demam berdarah dengue Surabaya. JKL 1(2) : 170-182.

Zen S. 2012. Biokontrol jentik nyamuk Aedes aegypti dengan predator ikan pemakan jentik (sebagai pendukung materi ajar insekta). [tidak diterbitkan]. Lampung (ID) : Univ. Muhammadiyah Metro.

Lampiran 1. Larva, Pupa dan Spesies Nyamuk yang Ditemukan dalam Kontainer Responden dengan Keberadaan Larva Nyamuk pada Daerah dengan Kasus DBD Tertinggi dan Terendah Bulan Januari-Juli 2015 di Kota Bogor

Baranangsiang Bojongkerta

Frekuensi Persen Frekuensi Persen Larva Negatif 199 82.6 179 76.8 Positif 42 17.4 54 23.2 Total 241 100 233 100 Pupa Negatif 226 94 197 85 Positif 15 6.2 36 15 Total 241 100 233 100 Spesies - 199 82.57 179 76.82 Aedes spp. 42 17.43 54 23.18 Total 241 100 233 100

Lampiran 2. Jenis Kontainer NON TPA Lainnya yang Digunakan Responden dengan Keberadaan Larva Nyamuk pada Daerah dengan Kasus DBD Tertinggi dan Terendah Bulan Januari-Juli 2015 di Kota Bogor

Jenis

Kontainer Baranangsiang Bojongkerta

NON TPA Lainnya

Larva ∑ % p value Larva ∑ % p value

+ - + - Barang bekas 1 1 2 8.33 0.01 1 0 1 6.67 0.00 Tampungan belakang kulkas 0 3 3 12.50 1 1 2 13.33 Tatakan dispenser 8 11 19 79.17 8 2 10 66.67 Tandon air 0 0 0 0.00 0 1 1 6.67 Toples rendaman batu akik 0 0 0 0.00 1 0 1 6.67 Tutup drum 0 0 0 0.00 1 0 1 6.67 Total 9 15 24 100 12 4 15 100

Sumber : Data pribadi

Lampiran 3. Sumber Air Bersih, Jenis, Letak, Bahan, Warna, Kondisi Tertutup (Kontainer), Pelihara Ikan, Volume, Dikuras 1 Minggu Terakhir, Ditaburi Temephos, Suhu Air, Kelembaban dan pH Air Kontainer yang Digunakan Responden dengan Keberadaan Larva Nyamuk pada Kasus DBD Tertinggi dan Terendah Bulan Januari-Juli 2015 di Kota Bogor

Baranangsiang Bojongkerta Larva p Larva p - % + % - % + % Sumber Air 0.647 0.518 PAM 172 81.9 38 18.1 210 25 21 94 79 119 Non PAM 27 87.1 4 12.9 31 29 25.4 85 74.6 114 Jenis Kontainer 0 0 Non TPA 24 60 16 40 40 13 81.3 3 18.8 16 TPA 175 87.1 26 12.9 201 41 18.9 176 81.1 217 Letak Kontainer 0.03 0.609 Luar rumah 18 66.7 9 33.3 27 6 18.2 27 81.8 33 Dalam rumah 181 84.6 33 15.4 214 48 24 152 76 200 Bahan Kontainer 0.006 0 Plastik/ 186 84.9 33 15.1 219 34 17.9 156 82.1 190 Keramik/Logam/ Kaca Semen/Tanah/ 13 59.1 9 40.9 22 20 46.5 23 53.5 43 Karet Warna Kontainer 0.757 0.152 Terang 117 83.6 23 16.4 140 26 19.4 108 80.6 134 Gelap 82 81.2 19 18.8 101 28 28.3 71 71.7 99 Kondisi Tertutup 0.275 0.056 Tertutup 10 71.4 4 28.6 14 1 4.5 21 95.5 22 Terbuka 189 83.3 38 16.7 227 53 25.1 158 74.9 211 Pelihara Ikan 1 0.341 Ya 4 100 0 0 4 0 0 6 100 6 Tidak 195 82.3 42 17.7 237 54 23.8 173 76.2 227 Volume Kontainer 0 0.105

Kurang dari 1 liter 20 54.1 17 45.9 37 11 30.6 25 69.4 36 1-20 liter 134 90.5 14 9.5 148 26 18.4 115 81.6 141 Lebih dari 20 liter 45 80.4 11 19.6 56 17 30.4 39 69.6 56

Dikuras 1 Minggu Terakhir 0 0

Ya 179 98.4 3 1.6 182 0 0 103 100 103 Tidak 20 33.9 39 66.1 59 54 41.5 76 58.5 130 Ditaburi Temephos 0.067 1 Ya 3 50 3 50 6 0 0 3 100 3 Tidak 196 83.4 39 16.6 235 54 23.5 176 76.5 230 Suhu Air 0.94 - Tidak Optimal 67 81.7 15 18.3 82 54 23.2 179 76.8 233 Optimal 132 83 27 17 159 - - - - - Kelembaban 0.011 - Tidak Optimal 101 76.5 31 23.5 132 54 23.2 179 76.8 233 Optimal 98 89.9 11 10.1 109 - - - - - pH 0.444 0.227 6 190 83 39 17 229 11 17.5 52 82.5 63 7 9 75 3 25 12 43 25.3 127 74.7 170 Sumber : Data pribadi

Lampiran 4. Hasil Analisis Regresi Logistik Metode Enter Faktor Entomologi terhadap Keberadaan Larva pada Daerah dengan Kasus DBD Tertinggi dan Terendah Bulan Januari-Juli 2015 di Kota Bogor

Kontainer

BARANANGSIANG BOJONGKERTA

p OR CI p OR CI

Lower Upper Lower Upper

Sumber Air 0.456 2.086 0.302 14.411 0.449 1.405 0.582 3.392 Jenis 0.362 2.284 0.387 13.497 0.001 31.460 4.262 232.221 Jumlah 0.795 0.923 0.504 1.69 0.540 1.205 0.663 2.192 Letak 0.750 1.263 0.300 5.315 0.027 0.267 0.083 0.858 Bahan 0.744 1.355 0.219 8.394 0.094 0.312 0.080 1.217 Warna 0.752 1.229 0.343 4.409 0.800 1.154 0.381 3.499 Tertutup 0.906 0.894 0.139 5.746 0.130 0.180 0.020 1.654 Pelihara Ikan 0.999 0.000 0.000 0.999 0.000 0.000 Volume_1 0.420 0.490 0.087 2.776 0.039 0.184 0.037 0.918 Volume_2 0.672 0.634 0.077 5.224 0.067 0.178 0.028 1.130 Dikuras 0.000 131.786 29.992 579.082 0.996 0.000 0.000 Ditaburi Temephos 0.967 0.945 0.063 14.071 0.999 0 0 - Suhu 0.620 1.328 0.433 4.071 - - - - Kelembaban 0.572 0.695 0.196 2.457 - - - -

Lampiran 5. Hasil Susceptibility testAe. aegypti terhadap Malation 0,8%, Bendiokarb 0,1% dan Deltametrin 0,025% Waktu Malation 0.8 % Kontrol Bendiokarb 0.1 % Kontrol Deltametrin 0.025 % Kontrol

Kontrol (-) Kontrol (+) Kontrol (-) Kontrol (+) Kontrol (-) Kontrol (+)

Rata-rata % Mati Rata-rata % Mati Rata-rata % Mati Rata-rata % Mati Rata-rata % Mati Rata-rata % Mati Rata-rata % Mati Rata-rata % Mati Rata-rata % Mati 10' 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0 0.00 0 0.00 0.00 4.00 16 0.00 0 0.00 0.00 0.00 0 15' 0.00 0.00 0.00 0.00 1.50 6 0.00 0 0.00 0.00 4.50 18 0.50 2 0.00 0.00 1.00 4 20' 0.00 0.00 0.00 0.00 3.00 12 0.00 0 0.00 0.00 7.00 28 5.25 21 0.00 0.00 6.00 24 30' 0.00 0.00 0.00 0.00 7.00 28 0.00 0 0.00 0.00 8.50 34 7.75 31 0.00 0.00 8.00 32 40' 0.00 0.00 0.00 0.00 7.00 28 0.00 0 0.00 0.00 12.00 48 12.25 49 0.00 0.00 10.00 40 50' 0.00 0.00 0.00 0.00 9.00 36 1.75 7 0.00 0.00 14.50 58 14.00 56 0.00 0.00 10.00 40 60' 5.00 20.00 0.00 0.00 16.00 64 1.75 7 0.00 0.00 18.00 72 20.25 81 0.00 0.00 14.50 58 2 jam 5.00 20.00 0.00 0.00 16.00 64 2.50 10 0.00 0.00 18.00 72 20.25 81 0.00 0.00 14.50 58 3 jam 5.50 22.00 0.00 0.00 16.00 64 4.25 17 0.00 0.00 19.50 78 20.25 81 0.00 0.00 15.00 60 4 jam 6.75 27.00 0.00 0.00 17.00 68 6.75 27 0.00 0.00 22.00 88 20.25 81 0.00 0.00 18.00 72 5 jam 7.25 29.00 0.00 0.00 21.00 84 7.75 31 0.00 0.00 23.00 92 20.25 81 0.00 0.00 21.00 84 6 jam 8.50 34.00 0.00 0.00 21.50 86 8.75 35 0.00 0.00 23.50 94 20.25 81 0.00 0.00 21.00 84 12 jam 8.75 35.00 0.00 0.00 22.50 90 10.00 40 0.00 0.00 25.00 100 20.25 81 0.00 0.00 21.50 86 24 jam 9.75 39.00 0.00 0.00 25.00 100 10.3 41 0.00 0.00 25.00 100 20.25 81 0.00 0.00 21.50 86 51

Lampiran 6. Hasil Wawancara Mendalam dengan Responden Penentu Kebijakan, Masyarakat Pest Control, Pemegang Program DBD dan Tokoh Masyarakat

Kotak 2 :

Penentu Kebijakan Kesehatan

Dari secara konsep sudah memenuhi, tapi realitanya tidak seperti konsep yang telah dibuat... contoh kita sudah membuat pokja di setiap level, kota, kecamatan, kelurahan dan RW siaga, tapi kan tidak semua berjalan, artinya persepsi saya dengan mereka tidak sama, buat saya masalah, buat mereka tidak masalah. Peran serta masyarakat ini saya katakan belum sama juga persepsinya, kalau ada kasus mereka teriak, artinya mereka mengandalkan pemerintah mengatasi masalah mereka, mereka belum bisa mengatasi masalah mereka sendiri. Sosialisasi sudah sangat-sangat banyak sekali, karena kita sudah di level RW kan, RW siaga...

(Informan 1) Pest Control

kurang memadai ya di Kota Bogor kurang optimal juga faktor lingkungan berpengaruh, di kota padat tinggi kasusnya, kalau di desa masih sangat minim, bisa dibilang kegiatan adat mereka sendiri, misal kalau buang sampah ke kali langsung ngalir, kalau di kota padat air ga ngalir... kalau di bogor tiap jumat di kampung bersih-bersih biar air mengalir

(Informan 4) Kotak 3 :

Kasus Tertinggi Kasus Terendah

Pemegang Program DBD

...untuk PSN masyarakatnya kurang ya....

(Informan 5) Tokoh Masyarakat

...situasi dan kondisi pada masa musim kering semacam ini air di pemukiman besar kemungkinan pengurasan air dikurangi, mereka sayang untuk membuang air bersih, presentase pemasangan PDAM tidak 100% jadi ada yang kurang air bersih...

(Informan 10) Pemegang Program DBD

...lumayan, tapi kebanyakan di

perumahan elit yang kita sulit masuk.... (Informan 4) Tokoh Masyarakat

kepedulian mereka yang menengah ke atas ini kurang ini ya... karena kan nyamuknya tidak pilih2 ya mau orang miskin orang kaya....dimanapun bisa tumbuh kembangnya jentik ... penyakit.. kalau parameter di RT saya, korban di wilayah sini banyak di kalangan menengah ke atas karena pekarangannya besar kan banyak pot pot kembang

(Informan 8) Kotak 1 :

Oh... penting, kita menempatkan DBD sebagai prioritas di Kota Bogor karena dapat menyebabkan wabah, pernah kan Kota Bogor KLB (Kejadian Luar Biasa) kemudian bisa menyebabkan kematian, kemudian jumlah kasusnya kan berfluktuasi kadang naik kadang dia turun, contoh kan tahun ini naiknya banyak karena faktor perilaku ada di situ, ada 622 kasus padahal belum setahun...

Pemegang Program DBD kalau ada laporan, kita langsung PE, temuin kader, penghubungnya kader, insyaalloh ga ada kendala

(Informan 5) Tokoh Masyarakat

penyuluhan demam berdarah, tiap minggu ada jumat bersih, karena kesehatan merupakan kebutuhan masyarakat itu sendiri

(Informan 10) Pemegang Program DBD

..di perumahan penyuluhannya door to door pas kita periksa jentik, kader posyandunya aktif, pas pertemuan di kelurahan, kan ibu kader lebih dekat dengan masyarakat

(Informan 4) Tokoh Masyarakat

menjaga lingkungan sendiri dengan mengubur, menguras, itu yang paling murah yang rutin kita lakukan setiap hari, tidak menggantungkan pada satgas

(Informan 8) Kotak 5 :

Kotak 4 :

Penentu Kebijakan Kesehatan

Tahun ini kita upayakan foggingnya diperluas, kalau dulu foggingnya sekitar 1 RT, nah sekarang kalau ada kasus diperluas menjadi 4-5 RT lah... Ada rencana kita SMP lagi seperti kemarin, rencana bulan ini atau September-Oktober...sebelum bulan ber ber ber atau bulan penularan....kita semprot lah.. Sekarang kita sudah upayakan melatih kader-kader jumantik se-Kota Bogor, tidak hanya dengan foging. Fogging bukan pencegahan utama untuk DBD, yang paling penting PSNnya. Jadi kita kemarin bikin pelatihan untuk kader-kader jumantik seluruh posyandu seluruh Kota Bogor...

(Informan 2) Pest Control

...kalau dulu kan sosialisasi ini lumayan gencar, tapi akhir2 ini jarang ya, kalau dulu kan iklan 3M ya, sekarang malah kaki gajah yang disosialisasikan, akses kita terhadap informasi kan lumayan sulit ya, dari pemerintah jarang mempublikasikan...

Kotak 7 :

Kasus Tertinggi Kasus Terendah Pemegang Program DBD

tiap bulan ada lokmin, lokbul, temu kader sama orang kelurahan, jadi kalau ada program apa kita sampaikan di lokmin, yang aktif kader, saya selalu minta laporan jentik ya... tapi ga ada crosscek ya

(Informan 5) Tokoh Masyarakat

RW siaga ya senin kamis hehehe banyak kegiatan sih ya.... presentasenya belum 100%... hanya cukup saja...

(Informan 10) Pemegang Program DBD

Semua ikut RW siaga, walaupun tidak aktif semua pak RWnya untuk kegiatan RW siaga

(Informan 4) Tokoh Masyarakat

kalau RW siaga lebih mendorong ke kader ya, kalau kader koordinasi kegiatan ini ya ayoo aja, jalan sih RW siaga pada dasarnya

(Informan 8) Kotak 6 :

Penentu Kebijakan Kesehatan

...kita sudah menghimpun dalam pokja, tingkat kecamatan ada, tingkat kelurahan ada, ada semua nama-nama dalam struktur, cuma balik tanya lagi to siapa yang menggerakkan mereka? Semua guru sudah kita kasih ini (lembar balik gambar bobo), macem-macem caranya, ada permainannya juga, cerita, tetapi balik lagi ada sekolah yang rajin dan malas. Secara angak, ABJ bagus, rata-rata lebih dari 90%. Tetapi kenapa kasusnya banyak? Itu juga yang bikin kepala saya pusing...

(Informan 1) Pest Control

perlu lintas sektor untuk digandeng, kelurahan, karang taruna bisa digunakan, kan anak muda banyak waktu kosong, mereka bisa digunakan, tidak cuma saat pengajian, mereka bisa digerakkan

(Informan 6)

Kotak 8 :

Penentu Kebijakan Kesehatan

Kita tidak memakai ULV, masih fogging, untuk tahun ini fogging fokus, hasil penyelidikan epidemiologi turun petugas kesling puskesmas ke 20 rumah penderita dan sekitarnya, nanti apakah di situ ada jentik, jika jentik lebih dari 30% maka bisa dilaksanakan fogging fokus

Dokumen terkait