• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kondisi Geografis, Demografi dan Kasus DBD di Kota Bogor

Secara geografis Kota Bogor terletak di antara 106’ 48’ BT dan 6’ 26’ LS, kedudukan geografis Kota Bogor di tengah-tengah wilayah Kabupaten Bogor serta lokasinya sangat dekat dengan ibukota negara, merupakan potensi yang strategis bagi perkembangan dan pertumbuhan ekonomi dan jasa, pusat kegiatan nasional untuk industri, perdagangan, transportasi, komunikasi dan pariwisata. Kota Bogor mempunyai rata-rata ketinggian minimum 190 m dan maksimum 330 m dari permukaan laut. Kondisi iklim di Kota Bogor suhu rata-rata tiap bulan 26 0

C dengan suhu terendah 21.80 C dengan suhu tertinggi 30.4 0C. Kelembaban udara 70%, curah hujan rata-rata setiap tahun sekitar 3 500 – 4 000 mm dengan curah hujan terbesar pada bulan Desember dan Januari (Pemkot Bogor 2016).

Luas wilayah Kota Bogor (Gambar 1) sebesar 11 850 Ha terdiri dari 6 kecamatan dan 68 kelurahan, kemudian secara administratif kota Bogor terdiri dari 6 wilayah kecamatan, 31 kelurahan dan 37 desa (lima diantaranya termasuk desa tertinggal yaitu Desa Pamoyanan, Genteng, Balumbangjaya, Mekarwangi dan Sindangrasa), 210 dusun, 623 RW, 2 712 RT. Jumlah penduduk pada tahun 2015 sebanyak 1 047 922 jiwa, sehingga kepadatan penduduknya adalah 88.43 jiwa per Ha. Kota Bogor dikelilingi oleh wilayah Kabupaten Bogor yaitu sebagai berikut : sebelah Utara berbatasan dengan Kec. Kemang, Bojong Gede dan Kec. Sukaraja Kabupaten Bogor. Sebelah Timur berbatasan dengan Kec. Sukaraja dan Kec. Ciawi, Kabupaten Bogor. Sebelah Barat berbatasan dengan Kec. Darmaga dan Kec. Ciomas, Kabupaten Bogor. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kec. Cijeruk dan Kec. Caringin, Kabupaten Bogor (Pemkot Bogor 2016).

Data kasus demam berdarah dengue tahun 2015 sejumlah 1 107 penderita dan 8 orang meninggal. Angka incident rate (IR) sebesar 105.64 per 100 000 penduduk dan case fatality rate (CFR) sebesar 0.76 dan nilai ABJ 88.69% (HI : 11.31%) (Dinkes Kota Bogor 2016).

Gambar 2. Data Kasus DBD Di Kota Bogor Tahun 2009 – 2015 (Dinkes Kota Bogor 2016)

Target Kemenkes RI adalah angka IRsebesar ≤ 49 per 100 000 penduduk dan angka CFR sebesar < 1% (Kemenkes 2015a). Jumlah kasus DBD tertinggi di Kota Bogor tertinggi selama tahun 2015 berada di Kelurahan Baranangsiang sebanyak 63 jiwa sedangkan jumlah kasus DBD terendah di Kelurahan Bojongkerta sebanyak 0 jiwa sudah terjadi pada 5 tahun terakhir. Data kasus DBD tahun 2009 sampai dengan 2015 berfluktuasi (tahun 2009 berjumlah 1 344 penderita, 2010 : 1 769 penderita, 2011 : 608 penderita, 2012 : 1 011 penderita, 2013 : 729 penderita, 2014 : 669 pederita dan 2015 : 1 107 penderita) seperti pada Gambar 2 (Dinkes Kota Bogor 2014; Dinkes Kota Bogor 2016).

Kondisi Geografis dan Demografi Kelurahan Baranangsiang

Kelurahan Baranangsiang merupakan kelurahan di Kecamatan Bogor Timur yaitu mempunyai luas sekitar 235 hektar (170.12 Ha berupa perumahan, 13.3 Ha toko dan kantor, sarana umum 43.41 Ha, makam 3 Ha dan taman serta sarana olah raga 1.29 Ha), terdapat 14 RW, 83 RT. Jumlah penduduk 2015 sebanyak 22 825 jiwa (11 111 laki-laki dan 11 714 perempuan) dalam 5 631 KK. Kelurahan Baranangsiang berbatasan sebelah Utara dengan Kelurahan Tegalega dan Paledang Kec. Bogor Tengah, sebelah Selatan dengan Kelurahan Sukasari, sebelah Timur dengan Kelurahan Katulampa, sebelah Barat dengan Kelurahan Babakan Pasar Kec. Bogor Tengah. Topografi wilayah Kelurahan Baranangsiang berupa daerah berlembah dan datar, dibatasi oleh aliran sungai besar Ciliwung yang membentang mulai sebelah Selatan sampai ke wilayah Barat (Pemkot Bogor 2016).

Kondisi geografis berada di titik tengah kota dengan ketinggian dari permukaan laut ± 1 500 – 2 500 m, curah hujan antara 3 000 s/d 4 000 mm per tahun dan berada di dataran rendah dengan sebagian besar jenis tanah kemerah merahan struktur tanah halus. Suhu rata-rata 23 s/d 320 C, jarak orbitasi dari pusat pemerintahan kelurahan ke pusat Pemerintahan Kota Bogor ± 1.5 km dan jarak ke pusat Pemerintahan Kecamatan ± 1 km. Selain Sungai Ciliwung, Kelurahan Baranangsiang juga dilewati tiga aliran sungai irigasi, seperti saluran irigasi Kali Gede sepanjang kurang lebih 1.5km yang membentang melintasi wilayah RW 06,

07, 13 dan RW 11. Masing masing saluran irigasi dan sungai besar tersebut memiliki peran dan fungsinya sendiri, selain sebagai sumber kehidupan untuk rumah tangga, serta berfungsi sebagai drainase utama wilayah Kelurahan Baranangsiang. Selain itu di Wilayah tersebut juga terdapat pula sumber mata air bersih yang dimanfaatkan untuk keperluan mandi, cuci dan kakus (MCK) (Pemkot Bogor 2016).

Kondisi Geografis dan Demografi Kelurahan Bojongkerta

Secara administratif Kelurahan Bojongkerta terletak di Kecamatan Bogor Selatan Kota Bogor yang memiliki 6 (enam) RW dan 28 (dua puluh delapan) RT, dengan luas wilayah sekitar 216.785 Ha, adapun letak Kelurahan Bojongkerta berbatasan dengan wilayah sebelah Utara dengan Kelurahan Kertamaya, sebelah Timur dengan Kelurahan Harjasari, sebelah Selatan dengan jalan Kabupaten/Kota/Desa Bitungsari, sebelah Barat dengan Kelurahan Rancamaya. Jumlah penduduk sebanyak 8 784 jiwa dengan 4 532 laki-laki dan 4 252 perempuan (Pemkot Bogor 2016).

Faktor Vektor Kepadatan Larva Aedes spp.

Berdasarkan perhitungan, nilai HI, CI dan BI pada Tabel 2, di Baranangsiang sebesar (33%; 17.4%; 42) dan di Bojongkerta (42%; 23.2%; 54). Kepadatan vektor DBD di Baranangsiang sebesar 5 artinya berdasarkan kepadatan vektornya menunjukkan wilayah kelurahan Baranangsiang mempunyai risiko penularan DBD pada tingkat sedang, sedangkan DF Bojongkerta adalah 6 yang berarti mempunyai risiko penularan DBD pada tingkat tinggi. Di Bojongkerta tersedia habitat Aedes spp. lebih banyak dibanding di Baranangsiang, dengan volume air lebih dari 20 liter sehingga air tidak dibuang atau dikuras, hal itu berkaitan dengan kebiasaan masyarakat untuk menyimpan air untuk menghindari sumber air kering atau tidak mengalir sehingga mengakibatkan nyamuk pra dewasa berkembang dengan baik.

Berbeda dengan di Baranangsiang yang ketersediaan habitat Aedes spp. pada kontainer dengan volume air kurang dari 1 liter atau cenderung pada kontainer yang terabaikan, tidak disangka terdapat air untuk habitat larva Aedes spp. dan sebagian besar kontainer air adalah sekali habis airnya sehingga kepadatan vektornya lebih rendah dibandingkan dengan Bojongkerta.

Berdasarkan kepadatan vektornya, Kelurahan Baranangsiang mempunyai persentase lebih kecil dibandingkan Kelurahan Bojongkerta, hal ini sesuai dengan Soedarmo (1999) bahwa keadaan dengan populasi vektor DBD yang tinggi dimungkinkan terjadi kasus DBD yang rendah.

Tabel 2. Kepadatan Vektor DBD berdasarkan perhitungan HI, BI dan CI di Baranangsiang dan Bojongkerta Tahun 2015.

HI CI BI DF Kepadatan

Baranangsiang 33 17.4 42 5 Sedang

Bojongkerta 42 23.2 54 6 Tinggi

Keterangan : HI : house indeks; CI : container indeks; BI : breteau indeks; DF : density figure

Faktor yang mempengaruhi hal tersebut diantaranya kerentanan nyamuk terhadap insektisida dan infeksi virus, ketidakberadaan virus, keragaman tipe virus, umur nyamuk pendek, jarak terbang nyamuk yang pendek dan faktor microclimate yang tidak mendukung keaktifan nyamuk.

Hal ini senada dengan penelitian yang dilakukan oleh Shinta & Sukowati (2013), indeks pupa tidak berbanding lurus dengan kasus DBD, dapat dilihat dari hasil penelitian di lima lokasi penelitian yang bervariasi, indeks pupa dengan urutan dari tertinggi adalah Jakarta Utara, Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Jakarta Barat dan terendah di Jakarta Pusat, sedangkan untuk jumlah kasus dengan urutan dari tertinggi adalah Jakarta Utara, Jakarta Timur, Jakarta Barat, Jakarta Pusat dan kasus terendah Jakarta Selatan.

Kemenkes menetapkan bahwa untuk mencegah penularan DBD, maka HI tidak boleh lebih dari 5%, jika > 10% maka wilayah tersebut mengindikasikan wilayah yang berisiko tinggi terhadap kejadian DBD. Semakin tinggi nilai HI, semakin tinggi pula risiko masyarakat di wilayah tersebut untuk kontak dengan nyamuk pembawa virus dengue. Perhitungan HI harus diiringi perhitungan parameter yang lain, karena jika berdiri sendiri kurang kuat karena tidak memperhitungkan faktor habitat yang ada di dalam rumah tersebut, walaupun parameter ini banyak digunakan (Sunaryo dan Pramestuti 2014; Sambuaga 2011; Minhas dan Sekhon 2013).

Banyaknya kontainer digambarkan dalam nilai CI yaitu terdapat larva pada kontainer, parameter ini untuk mengevaluasi program pengendalian vektor. Parameter ini juga tidak bisa berdiri sendiri karena tidak dapat melihat kepadatan larvanya (Pant dan Self 1999). Penelitian lain di Kota Makkah menyebutkan bahwa indeks larva Ae. aegypti (CI, HI, BI) tercatat lebih besar selama musim penghujan dibandingkan dengan musim kering (Aziz et al. 2012).

Identifikasi Larva Aedes spp.

Hasil identifikasi terhadap seluruh larva yang diperoleh dari kedua kelurahan menunjukkan 99.8% adalah spesies Ae. aegypti dan 0.02% Ae. albopictus. Kontainer yang ditemukan paling banyak ditemukan di kedua wilayah adalah di dalam rumah, di Baranangsiang sebesar 89% dan di Bojongkerta 86%. Habitat Ae. aegypti pada umumnya berada di dalam rumah dan bisa ditemukan di luar rumah sedangkan Ae. albopictus hanya berada di luar rumah. Kondisi rumah di Baranangsiang sebagian besar di wilayah penelitian adalah saling berhimpitan sehingga walaupun di luar rumah tetapi atap berhimpit menjadi satu sehingga dimungkinkan untuk menjadi habitat Ae. aegypti. Hal ini sesuai dengan penelitian Fadilla et al. (2015) di Kelurahan Bantarjati Kota Bogor bahwa species Ae. aegypti ditemukan sebanyak 84.09% dan Ae. albopictus 15.91%.

Resistensi

Status kerentanan nyamuk Ae. aegypti terhadap insektisida malation 0.8% adalah Baranangsiang 100% kematian, yaitu rentan, dengan kontrol positif strain Liverpool rentan. Status kerentanan Bojongkerta 39% kematian, yaitu resisten, dengan kontrol positif strain Liverpool rentan. Status kerentanan nyamuk Ae. aegypti terhadap insektisida bendiokarb 0.1% adalah Baranangsiang 46.67% kematian, yaitu resisten, dengan kontrol positif strain Liverpool rentan.

Tabel 3. Status Kerentanan Nyamuk Ae. aegypti terhadap Malation, Bendiokarb dan Deltametrin di Baranangsiang dan Bojongkerta Tahun 2015.

Sampel Malation 0.8% Bendiokarb 0.1% Deltametrin 0.025%

% Mati Status % Mati Status % Mati Status

Baranangsiang 100 Rentan 46.67 Resisten 20 Resisten

Bojongkerta 39 Resisten 41 Resisten 81 Toleran

Tabel 4. Lethal Time 50 dan 95 serta Ratio Resistance 50 dan 95 Ae. aegypti di Baranangsiang dan Bojongkerta Tahun 2015.

Malation 0.8% Bendiokarb 0.1% Deltametrin 0.025%

BS BK BS BK BS BK

LT50 0.56 1324.84 34.41 1237.19 129.19 67.76

LT95 2.38 2990.58 237.03 2687.94 327.64 1427.53

RR50 4.00 8.44 1720.50 17.19 1174.45 0.35

RR95 0.06 5.56 430.96 8.72 1.12 1.22

Keterangan : BS=Baranangsiang; BK=Bojongkerta; LT=Lethal time; RR=Ratio resistance

Status kerentanan Bojongkerta 41% kematian yang berarti resisten, dengan kontrol positif strain Liverpool rentan. Status kerentanan nyamuk Ae. aegypti terhadap insektisida deltamethrin 0.025% di Baranangsiang adalah resisten dengan 20% kematian, sedangkan di Bojongkerta adalah toleran dengan 81% kematian, menggunakan kontrol positif strain Liverpool rentan (Tabel 3). Berdasarkan kriteria nilai RR, di Baranangsiang telah resisten terhadap bendiokarb dan deltametrin, sedangkan di Bojongkerta terhadap bendiokarb (Tabel 4). Dari hasil wawancara dengan penentu kebijakan penggunaan insektisida dalam upaya pengendalian DBD di dinas kesehatan Kota Bogor, bahwa sejak sekitar 15 tahun yang lalu sudah tidak menggunakan malation berganti dengan jenis sintetik piretroid.

Hal yang sama juga terjadi dengan pest control yang menggunakan jenis insektisida sintetik pirethoid, sehingga nyamuk di Baranangsiang sudah kembali rentan terhadap insektisida jenis malation. Berbeda dengan di Bojongkerta yang resisten terhadap malation, dari segi lingkungan sekitar wilayah kelurahan ini berupa tanah perkebunan singkong, talas dan ubi yang pupuknya menggunakan pupuk kandang, sedangkan penggunaan insektisida hanya pada tanaman padi dengan luas sebidang lahan kecil ±200 meter dan bahan aktif insektisidanya yang beredar di pasaran bukan berbahan aktif malation. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai kemungkinan terjadinya resistensi ganda ataupun resistensi silang pada Aedes spp. di Bojongkerta dan penggunaan insektisida pada masyarakat di wilayah yang berbatasan dengan kelurahan Bojongkerta yang dibatasi oleh sungai yang menyerupai jurang.

Penelitian yang dilakukan Joharina dan Alfiah juga menyebutkan insektisida yang digunakan masyarakat (insektisida rumah tangga) sebagian besar berbahan aktif sintetik piretroid. Di Kota Bogor telah terjadi resistensi ganda pada seluruh isolat Ae. aegypti terhadap golongan karbamat (bendiokarb) dan piretroid (deltametrin), sementara resistensi ganda juga terjadi pada lima isolat nyamuk Ae.

aegypti terhadap golongan organofosfat (malation) dan piretroid (deltametrin) di Lawang Gintung, Kebon Kelapa, Kebon Pedes, Kedung Waringin dan Tegal Gundil (Nurjanah 2013)

Penelitian lain menyebutkan bahwa nyamuk Ae. aegypti resisten terhadap deltametrin dan rentanterhadap bendiokarb, klorpirifos dan sipermetrin. Alternatif insektisida yang bisa dipertimbangkan untuk dipakai dalam pengendalian Ae. aegypti yaitu klorpirifos dan sipermetrin. Penelitian di Penang, Kuala Lumpur, Johor Bharu dan Kota Bharu terjadi resistensi secara meluas pada Ae. aegypti khususnya terhadap piretroid, DDT dan bendiokarb. Nyamuk di Kuala Lumpur memiliki tingkat resistensi tertingi dan terjadi secara konsisten, satu-satunya populasi menunjukkan toleran terhadap malation (91% kematian) (Ishak et al. 2015).

Faktor Lingkungan Jenis kontainer

Ember merupakan jenis tempat penampungan air (TPA) yang paling banyak digunakan di kedua kelurahan, (Baranangsiang 59% dan di Bojongkerta 55%), akan tetapi larva nyamuk banyak ditemukan pada bak mandi (Baranangsiang 38.095% dan Bojongkerta 42.59%). Penggunaan wadah penampungan air di masyarakat telah bergeser dari tempayan ke ember yang lebih praktis, ringan dan mudah dipindahkan serta lebih mudah didapatkan. Kemudahan dalam menguras ember dan fungsinya untuk sekali pakai air habis, maka nyamuk pra dewasa tidak bisa berkembang pada ember yang airnya selalu berganti. Permukaan ember yang licin menyebabkan nyamuk tidak nyaman untuk meletakkan telurnya. Warna ember yang terang juga bertentangan dengan kesukaan nyamuk Aedes spp. pada habitat yang gelap. Berbeda dengan bak mandi yang volume airnya cenderung selalu ada menyebabkan kondisi ruangan menjadi lembab, bak mandi banyak yang masih dari semen sehingga selain warnanya disukai, permukaannya juga kasar lebih memudahkan nyamuk untuk meletakkan telurnya. Sesuai dengan penelitian yang dilakukan Hadi et al. (2009) bahwa di satu wilayah RW V Desa Cikarawang didapatkan kontainer yang paling banyak adalah bak mandi.

Bak mandi merupakan key container untuk tempat perkembangbiakan nyamuk vektor DBD di Kabupaten Tulungagung, Kota Malang dan Kota Kediri Jawa Timur (Joharina dan Widiarti 2014). Bak mandi yang ditemui kebanyakan tidak dicat, berwama gelap, lembab dan kurang ventilasi. Bak mandi berukuran besar sulit untuk diganti aimya sehingga sangat sesuai untuk perkembangbiakan nyamuk. Menurut Kittayapong & Strickman (1993) bahwa di Thailand, masing-masing dari 10 jenis wadah yang digunakan secara statistik tidak berbeda satu sama lain. Di antara semua habitat, keberadaan larva Ae. aegypti tertinggi tercatat di bak plastik/drum/tangki/OHTs yang disemen (32.9%) diikuti oleh barang pecahan yang terbuat dari kaca (25.25%), pendingin udara gurun (10.72%), sampah (5.81%) dan kolam/air mancur/lubang (4.64%).

Tatakan dispenser merupakan jenis non TPA yang paling banyak digunakan di kedua wilayah (Baranangsiang 7.9% dan di Bojongkerta 2.6%) dan paling banyak banyak ditemukan larva nyamuk (Baranangsiang 9.5% dan Bojongkerta 7.4%). Masyarakat banyak yang menggunakan air galon, tetapi cenderung mengabaikan air yang masuk ke dalam tatakan dispenser yang bisa menjadi

habitat nyamuk pra dewasa, seperti penelitian yang dilakukan Dhewantara dan Dinata (2015) di Kota Banjar, Jawa Barat bahwa tatakan dispenser di rumah tangga digunakan sebanyak 22.86% termasuk kontainer bukan TPA yang paling banyak, disebabkan tidak diperhatikannya jenis kontainer ini sehingga cenderung membiarkannya terisi air.

Hasil uji statistik menunjukkan bahwa di kedua wilayah terdapat perbedaan proporsi yang signifikan antara jenis kontainer dengan keberadaan larva Aedes spp. yaitu di Baranangsiang (p = 0.012) dan di Bojongkerta (p = 0.000). Jenis kontainer yang digunakan sebagai habitat Aedes spp. erat kaitannya dengan jumlah volume air, pengurasan kontainer dan permukaan kontainer tersebut yang digunakan sebagai tempat bertelur nyamuk dewasa. Sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Badrah dan Hidayah (2011) bahwa terdapat hubungan bermakna antara jenis TPA dengan keberadaan larva di Kelurahan Penajam, Kecamatan Penajam, Kabupaten Penajam Paser Utara.

Letak kontainer

Kontainer yang paling banyak ditemukan di kedua kelurahan berada di dalam rumah (Baranangsiang sebesar 89% dan Bojongkerta 86%) dan keberadaan larva nyamuk paling banyak juga di dalam rumah (Baranangsiang sebesar 78.57% dan Bojongkerta sebesar 88.88%). Pergeseran budaya hidup bersih dan sehat yang memberikan pandangan masyarakat terhadap aktivitas MCK (mandi, cuci dan kakus) tidak lagi dilakukan di luar rumah baik di sungai, danau ataupun sumber air lainnya, tetapi dilakukan dengan membangun atau menyediakan tempat penampungan air di dalam rumah. Selain MCK, penggunaan kontainer untuk aktivitas sehari-hari di dalam rumah misalnya tandon air untuk memasak. Menurut Hasyimi et al. (2008) di Banyuasin, Sumatera Selatan, kontainer positif larva banyak ditemukan di dalam rumah sebesar 57.7% dibandingkan di luar rumah. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa di Baranangsiang letak kontainer di dalam rumah berhubungan (p = 0.030) dengan keberadaan larva Aedes spp. sedangkan di Bojongkerta tidak terdapat hubungan (p = 0.656). Penelitian yang dilakukan Imawati dan Sukesi (2015) menunjukkan bahwa tidak ada hubungan bermakna antara letak kontainer di dalam rumah dengan keberadaan larva Ae. aegypti (p = 0.818) di Dusun Mandingan, Desa Kebon Agung, Kabupaten Bantul.

Menurut Kittayapong & Strickman (1993) penelitian yan telah dilakukan di Thailand bahwa kontainer di dalam rumah secara signifikan lebih sering positif larva daripada yang berada di luar, di atap atau di kamar mandi. Menurut Aziz et al. (2012), sepuluh jenis kontainer buatan yang ditemukan 70% dari habitat Aedes spp. di Kota Makkah berada di dalam ruangan. Ae. aegypti masih ditemukan di luar rumah, seperti pada penelitian Hasyimi et al. 2008 di Banyuasin, Sumatera Selatan, 53.8% kontainer di luar rumah positif larva Ae. aegypti dari total 246 kontainer yang diperiksa, sedangkan letak kontainer di luar rumah dengan kelimpahan bahan organik atau yang terletak antara dedaunan atau di bawah pohon (misalnya bak plastik dan ban bekas) cenderung menghasilkan Ae. aegypti dewasa terbesar, memiliki daya pertumbuhan yang lebih cepat dan kelangsungan hidup dewasa yang lebih baik (Tun-Lin et al. 2000).

Menurut Ayuningtyas (2013), tidak ada perbedaan keberadaan larva Ae. aegypti di Kelurahan Bangetayu Wetan Kota Semarang berdasarkan letak kontainer (di dalam dan di luar rumah) dengan nilai p = 0.727 (p > 0.05). Rumah

yang menempatkan kontainernya di dalam sebesar 83.6% dan 41.3% positif larva Ae. aegypti. Sedangkan 16.4% rumah yang menempatkan kontainernya di luar 33.3% positif larva Ae. aegypti. Kontainer yang berada di luar rumah namun positif larva Ae. aegypti yaitu bak mandi. Hal ini dikarenakan terbuat dari bahan semen sehingga kondisinya yang lembab dan gelap. Kondisi ini memberikan rasa aman dan tenang bagi nyamuk untuk bertelur, sehingga telur yang diletakkan lebih banyak dan jumlah larva yang terbentuk lebih banyak pula.

Bahan kontainer

Lebih dari 70% bahan kontainer di kedua kelurahan terbuat dari plastik (Baranangsiang sebesar 77% dan Bojongkerta 75%) dan keberadaan larva nyamuk paling banyak juga terdapat pada bahan kontainer dari plastik (Baranangsiang sebesar 59.52% dan Bojongkerta 53.70%). Sebagian besar kontainer dengan bahan dari plastik adalah ember dengan volume 1-20 liter. Keberadaan larva dalam kontainer dari plastik disebabkan habitat yang tersedia terbuat dari plastik dan perbedaan bahan kontainer tidak mempengaruhi kandungan nutrisi yang diperlukan larva dalam air. Menurut Hasyimi et al. (2008) di Banyuasin, Sumatera Selatan, penyusun tempat perkembangbiakan Aedes ternyata persentase paling banyak yang terbuat dari plastik yaitu 60.6%.

Menurut Hemme et al. (2009) penelitian yang telah dilakukannya tentang drum yang dibuat dari baja atau plastik terhadap keberadaan larva. Keberadaan larva tergantung pada interaksi antara beberapa faktor biotik dan abiotik. Diketahui bahwa tidak ada perbedaan nutrisi secara signifikan antara drum positif dibandingkan dengan yang negatif terhadap keberadaan larva Ae. aegypti. Sampel air yang ada dalam drum tersebut dianalisis kandungan amonium, nitrat dan soluble reactive phosphorus (SRP). Tingkat SRP dan amonium dalam drum baja secara signifikan lebih rendah daripada di drum plastik air. Amonia terakumulasi di habitat akuatik karena limbah yang bisa menghambat atau mempercepat pertumbuhan. Hal ini dapat terjadi karena amonia mempengaruhi populasi mikroba sebagai pakan larva nyamuk atau bisa juga menghambat perkembangan sebagai stressor untuk mengembangkan larva.

Hasil uji chi square menunjukkan bahwa ada perbedaan proporsi secara signifikan antara bahan kontainer yang digunakan responden dengan keberadaan larva nyamuk yang ditemukan di dalam kontainer tersebut yaitu p = 0.006 di Baranangsiang dan di Bojongkerta p = 0.000. Penggunaan bahan kontainer paling banyak dari plastik, hal ini menyebabkan keberadaan larva paling banyak juga pada kontainer berbahan dasar plastik karena tidak ada pilihan lain bagi nyamuk dewasa untuk meletakkan telurnya pada kontainer lain yang tidak tersedia di rumah tersebut. Tidak menutup kemungkinan jika tersedia kontainer berbahan dasar selain plastik, maka nyamuk dewasa lebih memilih kontainer lain tersebut, seperti penelitian yang dilakukan oleh Ayuningtyas (2013), ada perbedaan keberadaan larva Ae. aegypti di Kelurahan Bangetayu Wetan Kota Semarang berdasarkan bahan kontainer (p = 0.004). Bahan kontainer yang paling tinggi positif larva Ae. aegypti adalah semen dan tanah 54.3%. Hal ini terjadi karena bahan dari semen dan tanah mudah berlumut, permukaannya kasar dan berpori-pori pada dindingnya. Permukaan kasar memiliki kesan sulit dibersihkan, mudah ditumbuhi lumut dan mempunyai refleksi cahaya yang rendah. Refleksi cahaya yang rendah dan permukaan dinding yang berpori-pori mengakibatkan suhu

dalam air menjadi rendah, sehingga jenis bahan kontainer yang demikian akan disukai oleh nyamuk Ae. aegypti sebagai tempat perindukkannya.

Warna kontainer

Kontainer di kedua wilayah dikategorikan menjadi warna gelap dan terang, diketahui bahwa penggunaan yang berwarna terang lebih dominan, > 50% (di Baranangsiang dan Bojongkerta sama yaitu sebesar 58%), tetapi larva Aedes spp. ditemukan paling banyak di Baranangsiang (warna terang sebesar 54.76%), sedangkan di Bojongkerta (warna gelap sebesar 51.85%). Hasil uji statistik menunjukkan bahwa warna kontainer tidak ada hubungan dengan keberadaan larva nyamuk di dalam kontainer tersebut yaitu p = 0.757 di Baranangsiang dan di Bojongkerta p = 0.152. Ketersediaan kontainer sebagai habitat Aedes spp. dengan berbagai macam warna tidak mempengaruhi pemilihan nyamuk dewasa untuk meletakkan telurnya (oviposisi), hal ini perlu diperhatikan juga faktor lainnya yaitu frekuensi pengurasan kontainer itu sendiri, jika kontainer dengan warna terang tidak pernah dikuras maka keberadaan jentik lebih terjaga dibandingkan dengan warna kontainer gelap tetapi sering dikuras airnya.

Penelitian lain yang dilakukan di New Jersey, dari 306 kontainer sampel di daerah perkotaan, pinggiran kota dan pedesaan. Berdasarkan kelimpahan pupa dan jenis kontainer, hasil penelitian menunjukkan bahwa ban, tong sampah dan tempat hasil kebun adalah wadah yang paling penting bagi Ae. albopictus. Warna

Dokumen terkait