• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil

Dari hasil penelitian diperoleh bahwa perlakuan media tumbuh aklimatisasi berpengaruh nyata terhadap parameter pengamatan minggu bertunas dan jumlah tunas, tetapi perlakuan media tumbuh aklimatisasi tidak berpengaruh nyata terhadap parameter persentase hidup, pertambahan tinggi planlet, pertambahan diameter batang, pertambahan jumlah daun, pertambahan bobot total, bobot akar, volume akar dan jumlah klorofil daun.

Pada perlakuan jenis pupuk daun yang diberikan berpengaruh nyata terhadap parameter pertambahan tinggi planlet, pertambahan diameter batang, pertambahan jumlah daun, pertambahan bobot total, minggu bertunas, jumlah tunas, bobot akar, volume akar dan jumlah klorofil daun, tetapi perlakuan jenis pupuk daun tidak berpengaruh nyata terhadap parameter persentase hidup.

Interaksi antara perlakuan media tumbuh aklimatisasi dengan perlakuan jenis pupuk daun berpengaruh nyata terhadap parameter minggu bertunas dan jumlah tunas, tetapi tidak pengaruh nyata terhadap persentase hidup, pertambahan tinggi planlet, pertambahan diameter batang, pertambahan jumlah daun, pertambahan bobot total, bobot akar, volume akar dan jumlah klorofil daun.

Persentase Hidup (%)

Hasil pengamatan persentase hidup dapat dilihat pada Lampiran 1 dan sidik ragam dapat dilihat pada Lampiran 3. Dari sidik ragam diperoleh bahwa pada perlakuan media tumbuh aklimatisasi, perlakuan jenis pupuk daun serta interaksi antara perlakuan media tumbuh aklimatisasi dengan perlakuan jenis pupuk daun tidak berpengaruh nyata terhadap persentase hidup planlet.

Rataan persentase hidup pada beberapa perlakuan media tumbuh aklimatisasi dan perlakuan jenis pupuk daun dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Rataan Persentase Hidup Planlet Anggrek pada Beberapa Perlakuan Media Tumbuh Aklimatisasi dan Perlakuan Jenis Pupuk Daun.

Pupuk Media Rataan

M1 (%) M2 (%) M3 (%)

P0 100,000 91,667 100,000 97,222

P1 100,000 100,000 100,000 100,000

P2 91,667 91,667 91,667 91,667 Rataan 97,222 94,444 97,222 96,296

Dari Tabel 1 dapat dilihat bahwa rataan persentase hidup mencapai 96,296% (104 planlet) dari 100% (108 planlet). Dari Tabel 1 tersebut diperoleh bahwa rataan dari ketiga perlakuan media tumbuh aklimatisasi yang tertinggi adalah sebesar 97,222 % yaitu pada perlakuan M1 dan M3. Sedangkan perlakuan

jenis pupuk daun yang tertinggi pada P1 (100%) dan yang terendah pada P2 (91,667%). Interaksi antara perlakuan media tumbuh aklimatisasi dengan

perlakuan jenis pupuk daun yang tertinggi adalah pada M1P0, M3P0, M1P1, M2P1 dan M3P1 (100%), sedangkan yang terendah pada M1P2, M2P0, M2P2, M3P2 (91,667%).

23  

Pertambahan Tinggi Planlet (mm)

Data hasil pengamatan parameter pertambahan tinggi planlet dapat dilihat pada Lampiran 4 dan sidik ragam parameter pertambahan tinggi planlet dapat dilihat pada Lampiran 6. Dari sidik ragam diperoleh bahwa perlakuan jenis pupuk daun berpengaruh nyata terhadap parameter pertambahan tinggi planlet sedangkan perlakuan media tumbuh aklimatisasi dan interaksi antara perlakuan media tumbuh aklimatisasi dengan perlakuan jenis pupuk daun tidak berpengaruh nyata terhadap pertambahan tinggi planlet.

Rataan pertambahan tinggi planlet pada beberapa perlakuan media tumbuh aklimatisasi dan perlakuan jenis pupuk daun dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Rataan Pertambahan Tinggi Planlet Anggrek pada Beberapa Perlakuan

Media Tumbuh Aklimatisasi dan Jenis Perlakuan Pupuk Daun.

Pupuk Media Rataan

M1 (mm) M2 (mm) M3 (mm) P0 0,000 0,000 0,000 0,000b P1 0,133 0,300 0,400 0,278a P2 0,233 0,400 0,383 0,339a Rataan 0,122 0,233 0,261 0,206 BNJ Pupuk= 0,156

Keteterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata menurut uji beda nyata jujur (BNJ) pada taraf 5%.

Dari Tabel 2 dapat dilihat bahwa rataan pertambahan tinggi planlet

tertinggi pada perlakuan media tumbuh aklimatisasi terdapat pada M3 (0,261 mm) dan yang terendah pada M1 (0,122 mm) sedangkan pada

perlakuan jenis pupuk daun yang tertinggi terdapat pada perlakuan P2 (0,339 mm)

dan yang terendah pada perlakuan P0 (0,000 mm). Pada interaksi antara perlakuan media tumbuh aklimatisasi dengan perlakuan jenis pupuk daun menunjukkan

24  

bahwa pertambahan tinggi planlet yang tertinggi terlihat pada M3P1 dan M2P2 (0,400 mm) dan yang terendah pada M1P0, M2P0 dan M3P0 (0,000 mm)

Histogram pertambahan tinggi planlet dari perlakuan jenis pupuk daun dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Histogram Pertambahan Tinggi Planlet pada Perlakuan Jenis Pupuk Daun

Pertambahan Diameter Batang (mm)

Data hasil pengamatan parameter pertambahan diameter batang dapat dilihat pada Lampiran 7 dan sidik ragam dapat dilihat pada Lampiran 9. Dari hasil sidik ragam diketahui bahwa perlakuan jenis pupuk daun menunjukkan pengaruh nyata terhadap pertambahan diameter batang planlet. Perlakuan media tumbuh aklimatisasi dan interaksi antara perlakuan media tumbuh aklimatisasi dengan perlakuan jenis pupuk daun tidak berpengaruh nyata terhadap pertambahan diameter batang.

Rataan pertambahan diameter batang pada beberapa perlakuan media aklimatisasi dan perlakuan jenis pupuk daun dapat dilihat pada Tabel 3.

25   0, 000 0, 050 0, 100 0, 150 0, 200 0, 250 0, 300 0, 350 P er ta m b a h a n T in g g P la n le t (m m ) P 0 P 1 P 2

Tabel 3. Rataan Pertambahan Diameter Batang pada Beberapa Perlakuan Media Tumbuh Aklimatisasi dan Perlakuan Jenis Pupuk Daun.

Pupuk Media Rataan M1 (mm) M2 (mm) M3 (mm) P0 0,000 0,000 0,000 0,000c P1 0,209 0,165 0,143 0,172b P2 0,468 0,233 0,243 0,314a Rataan 0,226 0,132 0,129 0,162 BNJ Pupuk 0,132

Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata menurut uji beda nyata jujur (BNJ) pada taraf 5%.

Dari Tabel 3 diperoleh bahwa pada perlakuan media tumbuh aklimatisasi,

rataan pertambahan diameter batang tertinggi terdapat pada perlakuan M1 (0,226 mm) dan terendah terdapat pada perlakuan M3 (0,129 mm). Pada

perlakuan jenis pupuk daun, rataan pertambahan diameter tertinggi terdapat pada P2 (0,314 mm) yang berbeda nyata dengan perlakuan lainnya dan yang terendah

terdapat pada P0 (0,000 mm). Pada interaksi antara perlakuan media tumbuh aklimatisasi dengan perlakuan jenis pupuk daun menunjukkan pertambahan diameter batang yang tertinggi pada M1P2 (0,468 mm) dan yang terendah pada M1P0, M2P0 dan M3P0 (0,000 mm).

Histogram pertambahan diameter batang pada perlakuan jenis pupuk daun dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Histogram Pertambahan Diameter Batang pada Perlakuan Jenis Pupuk Daun 26   0, 000 0, 050 0, 100 0, 150 0, 200 0, 250 0, 300 0, 350 D iam et er B a ta n g P la n le t (m m ) P 0 P 1 P 2

Pertambahan Jumlah Daun (helai)

Data pengamatan pertambahan jumlah daun dapat dilihat pada Lampiran 10 dan sidik ragam dapat dilihat pada Lampiran 12. Dari hasil sidik ragam diperoleh bahwa perlakuan jenis pupuk daun berpengaruh nyata terhadap parameter pertambahan jumlah daun. Perlakuan media tumbuh aklimatisasi serta interaksi antara perlakuan media tumbuh aklimtisasi dengan perlakuan jenis pupuk daun tidak berpengaruh nyata terhadap pertambahan jumlah daun.

Hasil rataan pertambahan jumlah daun pada beberapa perlakuan media tumbuh aklimatisasi dan perlakuan jenis pupuk daun dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4. Rataan Pertambahan Jumlah Daun Planlet Anggrek pada Beberapa

Perlakuan Media Tumbuh Aklimatisasi dan Perlakuan Jenis Pupuk Daun.

Pupuk Media Rataan

M1 (helai) M2 (helai) M3 (helai)

P0 0,000 0,000 0,000 0,000b

P1 0,667 1,833 1,333 1,278a

P2 1,167 1,667 1,667 1,500a

Rataan 0,611 1,167 1,000 0,926

BNJ Pupuk 0,465

Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata menurut uji beda nyata jujur (BNJ) pada taraf 5%.

Dari Tabel 4. diperoleh bahwa bahwa pengaruh media tumbuh aklimatisasi

yang tertinggi terdapat pada M2 (1,167 helai) sedangkan yang terendah pada M1 (0,611 helai). Sedangkan pada perlakuan jenis pupuk daun yang digunakan,

pertambahan jumlah daun yang tertinggi terdapat pada P2 (1,500 helai) dan yang terendah pada perlakuan P0 (0,000 helai). Dan interaksi antara perlakuan

media aklimatisasi dengan perlakuan jenis pupuk daun yang tertinggi pada M2P1 (1,833 helai) dan yang terendah terdapat pada perlakuan M1P0, M2P0 dan

M3P0 (0,000 helai).

Histogram pertambahan jumlah daun planlet pada perlakuan jenis pupuk daun dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3. Histogram Pertambahan Jumlah Daun pada Perlakuan Pupuk Daun.

Pertambahan Bobot Total (gram)

Data pengamatan pertambahan bobot total dapat dilihat pada Lampiran 13 dan sidik ragam dapat dilihat pada Lampiran 15. Dari hasil sidik ragam diperoleh bahwa perlakuan jenis pupuk daun berpengaruh nyata terhadap pertambahan bobot total, sedangkan perlakuan media tumbuh aklimatisasi serta interaksi perlakuan media tumbuh aklimatisasi dengan perlakuan jenis pupuk daun tidak berpengaruh nyata terhadap pertambahan bobot total.

Rataan pertambahan bobot total pada beberapa perlakuan media tumbuh aklimatisasi dan perlakuan jenis pupuk daun dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Rataan Pertambahan Bobot Total pada Beberapa Perlakuan Media Tumbuh Aklimatisasi dan Perlakuan Jenis Pupuk Daun.

Pupuk Media Rataan

M1 (gram) M2 (gram) M3 (gram)

P0 0,000 0,000 0,000 0,000b

P1 0,256 0,096 0,217 0,189a

P2 0,131 0,150 0,166 0,149a

Rataan 0,129 0,082 0,127 0,113

BNJ Pupuk 0,108

Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata menurut uji beda nyata jujur (BNJ) pada taraf 5%. 28 0 0,2 0,4 0,6 0,8 1 1,2 1,4 1,6 P er ta m b a h a n Ju m lah D au n ( h el a i) P 0 P 1 P 2

Dari Tabel 5 diperoleh bahwa pada perlakuan media tumbuh aklimatisasi, pertambahan bobot total tertinggi terdapat pada perlakuan M1 (0,129 gram) dan

yang terendah terdapat pada perlakuan M2 (0,082 gram). Pada perlakuan

jenis pupuk daun, pertambahan bobot total yang tertinggi pada perlakuan P1 (0,189 gram) dan yang terendah pada perlakuan P0 (0,000 gram). Pada

interaksi antara perlakuan media tumbuh aklimatisasi dengan perlakuan jenis pupuk daun menunjukkan interaksi yang tertinggi pada M1P1 (0,256 gram) dan yang terendah pada M1P0, M2P0 dan M3P0 (0,000 gram).

Histogram pertambahan bobot total pada perlakuan jenis pupuk daun dapat dilihat pada Gambar 4.

Gambar 4. Histogram Pertambahan Berat Total pada Perlakuan Jenis Pupuk Daun Minggu Bertunas (MST)

Data hasil pengamatan minggu bertunas dapat dilihat pada Lampiran 16 dan sidik ragam dapat dilihat pada Lampiran18. Dari hasil sidik ragam diketahui bahwa perlakuan media tumbuh aklimatisasi, perlakuan jenis pupuk daun serta interaksi antara perlakuan media tumbuh aklimtisasi dengan perlakuan jenis pupuk daun berpengaruh nyata terhadap minggu bertunas.

29 0 0,02 0,04 0,06 0,08 0,1 0,12 0,14 0,16 0,18 0,2 P er tam b ah a n Bo b o t To ta l ( g ra m) P 0 P 1 P 2

Hasil rataan minggu bertunas pada beberapa perlakuan media tumbuh aklimatisasi dan perlakuan jenis pupuk daun dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Rataan Minggu Bertunas pada Beberapa Perlakuan Media Tumbuh Aklimatisasi dan Perlakuan Jenis Pupuk Daun.

Pupuk Media Rataan

M1 (MST) M2 (MST) M3 (MST) P0 0,000c 0,000c 0,000c 0,000 P1 0,000c 3,167a 0,000c 1,056 P2 0,000c 0,000c 0,667b 0,222 Rataan 0,000 1,056 0,222 0,426 BNJ Interaksi 0,575

Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom atau lajur yang sama tidak berbeda nyata menurut uji beda nyata jujur (BNJ) pada taraf 5 %.

Dari Tabel 6 diperoleh bahwa pada perlakuan media tumbuh aklimatisasi, minggu bertunas tertinggi terdapat pada perlakuan M2 (1,056 MST) dan yang terendah terdapat pada perlakuan M1 (0,000 MST). Sedangkan pada perlakuan jenis pupuk daun, minggu bertunas yang tertinggi pada P1 (1,056 MST) dan yang terendah pada P0 (0,000 MST). Pada interaksi antara perlakuan media tumbuh aklimatisasi dengan perlakuan jenis pupuk daun menunjukkan minggu bertunas planlet yang tertinggi pada perlakuan M2P2 (3,167 MST) dan yang terendah pada M1P0, M2P0, M3P0, M1P1, M3P1, M1P2, M2P2 (0.000 MST).

Histogram minggu bertunas pada interaksi antara perlakuan media tumbuh aklimatisasi dan perlakuan jenis pupuk daun dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5. Histogram Minggu Bertunas pada Interaksi Perlakuan Media Tumbuh 30 0 0, 5 1 1, 5 2 2, 5 3 3, 5 M in g u B er tu n a s ( M S T ) M1P 0 M1P 1 M1P 2 M2P 0 M2P 1 M2P 2 M3P 0 M3P 1 M3P 2

Jumlah Tunas (Buah)

Data hasil pengamatan jumlah tunas dapat dilihat pada Lampiran 19 dan sidik ragam dapat dilihat pada Lampiran 21. Dari hasil sidik ragam diperoleh bahwa perlakuan media tumbuh aklimatisasi, perlakuan jenis pupuk serta interaksi antara perlakuan media tumbuh aklimatisasi dengan perlakuan jenis pupuk daun menujukkan pengaruh yang nyata terhadap jumlah tunas.

Rataan jumlah tunas dari beberapa perlakuan media tumbuh aklimatisasi dan perlakuan jenis pupuk daun dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7. Rataan Jumlah Tunas pada Beberapa Perlakuan Media Tumbuh Aklimatisasi dan Perlakuan Jenis Pupuk Daun.

Pupuk Media Rataan

M1(buah) M2 (buah) M3 (buah)

P0 0,000c 0,000c 0,000c 0,000

P1 0,000c 0,500a 0,000c 0,167

P2 0,000c 0,000c 0,167b 0,056

Rataan 0,000 0,167 0,056 0,074

BNJ Interaksi= 0,160

Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom atau lajur yang sama tidak berbeda nyata menurut uji beda nyata jujur (BNJ) pada taraf 5 %.

Dari Tabel 7 diperoleh bahwa pada perlakuan media tumbuh aklimatisasi, jumlah tunas tertinggi terdapat pada perlakuan M2 (0,167 buah) dan yang terendah terdapat pada perlakuan M1 (0,000 buah). Sedangkan pada perlakuan jenis pupuk daun, jumlah tunas yang tertinggi pada P1 (0,167 buah) dan yang terendah pada P2 (0,000 buah). Pada interaksi antara perlakuan media tumbuh aklimatisasi dengan perlakuan jenis pupuk daun menunjukkan interaksi yang tertinggi pada M2P1 (0,500 buah) dan yang terendah pada M1P0, M2P0, M3P0, M1P1, M3P1, M1P2, M2P2 (0.000 buah).

Histogram jumlah tunas pada interaksi antara perlakuan media tumbuh aklimatisasi dengan perlakuan jenis pupuk dapat dilihat pada Gambar 6.

Gambar 6. Histogram Jumlah Tunas pada Interaksi Perlakuan Media Tumbuh Aklimatisasi dengan Perlakuan Jenis Pupuk Daun.

Bobot Akar (gram)

Data hasil pengamatan bobot akar dapat dilihat pada Lampiran 22 dan data sidik ragam dapat dilihat pada Lampiran 24. Dari hasil sidik ragam diperoleh bahwa bobot akar tidak berpangaruh nyata terhadap perlakuan media tumbuh aklimatisasi, perlakuan jenis pupuk daun dan interaksi antara perlakuan media tumbuh aklimatisasi dengan perlakuan jenis pupuk daun.

Rataan bobot akar dari beberapa perlakuan media tumbuh aklimatisasi dan perlakuan jenis pupuk daun dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8. Rataan Bobot Akar pada Beberapa Perlakuan Media Tumbuh Aklimatisasi dan Perlakuan Jenis Pupuk Daun.

Pupuk Media Rataan

M1 (gram) M2 (gram) M3 (gram)

P0 0,035 0,031 0,048 0,038

P1 0,068 0,048 0,053 0,056

P2 0,042 0,043 0,049 0,045

Rataan 0,048 0,041 0,050 0,046 Dari Tabel 8 diperoleh bahwa pada perlakuan media tumbuh aklimatisasi, bobot akar tertinggi terdapat pada perlakuan M3 (0,050 gram) dan yang terendah

32 0 0,05 0,1 0,15 0,2 0,25 0,3 0,35 0,4 0,45 0,5 J u m lah T u n a s ( b u a h M1P 0 M1P 1 M1P 2 M2P 0 M2P 1 M2P 2 M3P 0 M3P 1 M3P 2 Perlakuan Interaksi

terdapat pada perlakuan M2 (0,041 gram). Sedangkan pada perlakuan jenis pupuk daun, bobot akar yang tertinggi pada P1 (0,056 gram) dan yang

terendah pada P0 (0,038 gram). Pada interaksi antara perlakuan media tumbuh aklimatisasi dengan perlakuan jenis pupuk daun menunjukkan bobot akar tertinggi pada M1P1 (0,068 gram) dan yang terendah pada M2P0 (0,031 gram).

Volume Akar (ml)

Data hasil pengamatan volume akar dapat dilihat pada Lampiran 25 dan sidik ragam dapat dilihat pada Lampiran 27. Dari sidik ragam diketahui bahwa perlakuan jenis pupuk daun berpengaruh nyata terhadap volume akar. Perlakuan media tumbuh aklimatisasi serta interaksi antara perlakuan media tumbuh aklimatisasi dengan perlakuan jenis pupuk daun menunjukkan tidak berpengaruh terhadap volume akar.

Rataan volume akar pada beberapa perlakuan media tumbuh aklimatisasi dan perlakuan jenis pupuk daun dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9. Rataan Volume Akar pada Beberapa Perlakuan Media Tumbuh Aklimatisasi dan Perlakuan Jenis Pupuk Daun.

Pupuk Media Rataan

M1 (ml) M2 (ml) M3 (ml) P0 0,650 0,747 0,737 0,711b P1 0,778 0,778 0,783 0,780a P2 0,785 0,772 0,806 0,788a Rataan 0,738 0,766 0,775 0,760 BNJ Pupuk= 0,029

Keteterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata menurut uji beda nyata jujur (BNJ) pada taraf 5%.

Dari Tabel 9. diperoleh bahwa perlakuan media tumbuh aklimatisasi, volume akar tertinggi terdapat pada perlakuan M3 (0,775 ml) dan yang terendah M1 (0,738 ml). Sedangkan pada perlakuan jenis pupuk daun, volume akar yang

tertinggi pada P2 (0,788 ml) dan yang terendah pada P0 (0,711 ml). Pada interaksi antara perlakuan media tumbuh aklimatisasi dengan perlakuan jenis pupuk daun menunjukkan interaksi yang tertinggi pada M3P2 (0,806 ml) dan yang terendah pada M1P0 (0,650 ml).

Histogram volume akar pada perlakuan pupuk dapat dilihat pada Gambar 7.

Gambar 7. Histogram Volume Akar pada Perlakuan Jenis Pupuk Daun.

Jumlah Klorofil Daun (butir)

Data pengamatan klorofil daun dapat dilihat pada Lampiran 28 dan sidik ragam pada Lampiran 30. Dari sidik ragam diperoleh bahwa perlakuan jenis pupuk daun berpengaruh nyata terhadap jumlah klorofil daun, sedangkan perlakuan media tumbuh aklimatisasi serta interaksi antara perlakuan media tumbuh aklimatisasi dengan perlakuan jenis pupuk daun tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah klorofil daun.

Rataan jumlah klorofil daun pada beberapa perlakuan media tumbuh aklimatisasi dan perlakuan jenis pupuk daun dapat dilihat pada Tabel 10.

34 0, 66 0, 68 0, 7 0, 72 0, 74 0, 76 0, 78 0, 8 V o lu m e A k a r ( m l) P 0 P 1 P 2

Tabel 10. Rataan Klorofil Daun pada Beberapa Perlakuan Media Tumbuh Aklimatisasi dan Perlakuan Jenis Pupuk Daun.

Pupuk Media Rataan

M1 (butir) M2 (butir) M3 (butir)

P0 14,960 16,407 17,333 16,233c

P1 23,196 18,148 20,827 20,724a

P2 16,877 21,497 20,953 19,776b

Rataan 18,344 18,684 19,704 18,911

BNJ Pupuk 0,900

Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata menurut uji beda nyata jujur (BNJ) pada taraf 5%.

Dari Tabel 10 diperoleh bahwa pada perlakuan media tumbuh aklimatisasi, rataan jumlah klorofil daun tertinggi terdapat pada perlakuan M3 (19,704 butir) sedangkan yang terendah terdapat pada perlakuan M1 (18,344 butir). Sedangkan pada perlakuan jenis pupuk daun, jumlah klorofil daun yang tertinggi terdapat pada perlakuan P1 (20,724 butir) dan yang terendah pada P0 (16,233 butir). Pada interaksi antara perlakuan media tumbuh aklimatisasi dengan perlakuan jenis pupuk daun, jumlah klorofil yang tertinggi pada perlakuan M1P1 (23,196) dan yang terendah pada perlakuan M1P0 (14,960).

Histogram jumlah klorofil daun pada perlakuan jenis pupuk dapat dilihat pada Gambar 8.

Gambar 8. Histogram Jumlah Klorofil Daun Planlet pada Perlakuan Pupuk Daun. 35 0 5 10 15 20 25 J u m lah K lor o fi l d a u n ( b u ti r) P 0 P 1 P 2

Pembahasan

Pengaruh media tumbuh aklimatisasi terhadap pertumbuhan anggrek

Dendrobium sp.

Dari hasil penelitian diperoleh bahwa media tumbuh aklimatisasi berpengaruh nyata terhadap parameter pengamatan minggu bertunas dan jumlah tunas, tetapi media tumbuh aklimatisasi tidak berpengaruh nyata terhadap parameter persentase hidup, pertambahan tinggi planlet, pertambahan diameter batang, pertambahan jumlah daun, pertambahan bobot total, bobot akar, volume akar dan jumlah klorofil daun. Perbedaan nyata yang disebabkan media diduga karena pada proses aklimatisasi, media tumbuh aklimatisasi memiliki pengaruh penting dalam proses pertumbuhan anggrek. Dalam hal ini media tumbuh aklimatisasi berfungsi untuk tempat tumbuhnya tanaman, mempertahankan kelembaban, dan tempat menyimpannya hara serta air yang diperlukan, peranan lingkungan juga mempengaruhi fungsi media tumbuh aklimatisasi itu sendiri. Sesuai dengan fungsi dari media tumbuh aklimatisasi yang paling penting adalah untuk mempertahankan kelembaban karena planlet anggrek yang akan dipindahkan ke lingkungan eksternal membutuhkan kelembaban yang cukup tinggi karena proses tranpirasi berlangsung secara berlebihan yang disebabkan fungsi stomata pada planlet yang baru diaklimatisasi belum berfungsi secara sempurna yang dapat mengakibatkan planlet tersebut mengalami kematian. Hal ini sesuai dengan pendapat Batchelor (1981) dalam Wuryan (2008) yang menyatakan pertumbuhan anggrek baik vegetatif maupun generatif tidak hanya ditentukan oleh faktor genetik, tetapi sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan

anggrek, karena media tumbuh berfungsi sebagai tempat tumbuhnya tanaman, mempertahankan kelembaban dan tempat menyimpan hara serta air yang diperlukan.

Dari hasil uji beda rataan diperoleh bahwa minggu bertunas yang tertinggi adalah M2 (1.056 MST) dan yang terendah M1 (0,000 MST). Media serbuk sabut kelapa (cocopeat) memiliki keunggulan dalam penyerapan dan menyimpan air yang dibutuhkan oleh planlet anggrek dalam proses aklimatisasi. Sedangkan media arang sekam merupakan media yang sukar mengikat air dan miskin zat hara, sehingga media arang sekam kurang berfungsi dalam proses aklimatisasi. Hal ini sesuai dengan pernyataan yang dikutip dan www.duniaflora (2006) bahwa media cocopeat sanggup menahan air dalam jumlah banyak dan dalam waktu lama. Struktur pori-porinya berkemampuan tinggi menangkap dan menahan air. Pada kondisi normal unsur hara yang bisa diserap tanaman banyak tersedia, seperti nitrogen, kalsium, fosfor dan sulfur sedangkan media arang sekam sukar mengikat air dan miskin zat hara tetapi media ini sukar untuk melapuk. Hal ini juga didukung dengan pernyataan bahwa keutamaan dari arang sekam yaitu tidak cepat melapuk, tidak mudah ditumbuhi cendawan dan bakteri, sukar mengikat air dan miskin zat hara (http://jakarta.litbang.deptan.go.id., 2008).

Pengaruh perlakuan jenis pupuk daun terhadap pertumbuhan anggrek

Dendrobium sp.

Dari hasil sidik ragam diketahui bahwa pemberian jenis pupuk daun menunjukkan pengaruh nyata terhadap parameter pertambahan tinggi planlet, pertambahan diameter batang, pertambahan jumlah daun, pertambahan bobot total, pengamatan minggu bertunas, jumlah tunas, bobot akar, volume akar dan

jumlah klorofil daun, tetapi jenis pupuk daun tidak berpengaruh nyata terhadap parameter persentase hidup. Hal ini diduga karena tanaman anggrek merupakan tanaman yang tidak mampu menyediakan unsur-unsur yang dibutuhkan dalam pertumbuhan di habitatnya. Oleh karena itu, peranan pupuk sangat dibutuhkan terutama dalam mempercepat munculnya tunas yang juga dipengaruhi oleh kondisi planlet dengan kondisi stomata yang kurang berfungsi dengan baik. Hal ini sesuai dengan pernyataan Yudhie (2008) yang menyatakan bahwa untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangannya, tanaman memerlukan nutrisi berupa pupuk. Sumber pupuk dapat diperoleh dari bahan organik dan anorganik.

Selain itu pupuk juga diberikan untuk dapat menyediakan unsur hara bagi planlet itu sendiri, karena media tumbuh yang digunakan bukan berfungsi sebagai penyuplai unsur hara yang dibutuhkan planlet anggrek. Hal ini sesuai dengan pendapat Sandra (2001) yang menyatakan bahwa fungsi media tanam bagi anggrek hanya sebatas mengatur tegaknya tanaman. Tidak seperti anggapan yang ada selama ini bahwa media tanam juga menyuplai bahan makanan untuk anggrek. Untuk menyuplai makanan perlu pupuk dengan kandungan lengkap. Pupuk tersebut diberikan penyemprotan atau penaburan pada media tanam.

Dari hasil uji beda rataan, diketahui bahwa penggunaan jenis pupuk Bayfolan mempercepat pemunculan tunas baru dari planlet pada proses aklimatisasi. Hal ini terjadi karena pupuk Bayfolan mengandung unsur nitogen yang tinggi dibandingkan dengan pupuk Seprint. Dalam pertumbuhan sangat diperlukan unsur nitrogen, agar dapat membantu media tumbuh aklimatisasi dalam penyuplai unsur hara yang dibutuhkan oleh planlet anggrek dalam proses aklimatisasi. Hal ini sesuai dengan pernyataan yang dikutip dari Hipi, dkk (2002)

yang menyatakan bahwa hasil dari analisis terhadap beberapa merk pupuk di NTB menunjukkan bahwa pupuk Bayfolan berdasarkan analisa laboratorium memiliki kandungan hara N (6,12 %), P2O5 (5,4 %), K2O (6,83 %), sedangkan berdasarkan label kemasan memiliki kandungan N (11%), P2O5 (8 %), K2O (6%). Pada pupuk Seprint berdasarkan analisa laboratorium memiliki kandungan hara N (6,53%), P2O5 (0,13 %), K2O (2,88 %), sedangkan berdasarkan label kemasan memiliki kandungan N (9,6 %), P2O5 (0,67 %), K2O (2,11 %).

Pengaruh interaksi antara perlakuan media tumbuh aklimatisasi dengan perlakuan jenis pupuk daun terhadap pertumbuhan anggrek Dendrobium sp.

Dari hasil sidik ragam, diketahui bahwa interaksi antara perlakuan media tumbuh aklimatisasi dengan perlakuan jenis pupuk daun berpengaruh nyata terhadap parameter minggu bertunas dan jumlah tunas, tetapi tidak pengaruh nyata terhadap persentase hidup, pertambahan tinggi planlet, pertambahan diameter batang, pertambahan jumlah daun, pertambahan bobot total, bobot akar, volume akar dan jumlah klorofil daun. Hal ini disebabkan karena dalam proses aklimatisasi selain faktor genetik, faktor lingkungan dan media tumbuh mempengaruhi pertumbuhan planlet anggrek. Media tumbuh yang baik beserta dengan pengaplikasian pupuk daun yang mengandung unsur pupuk yang diperlukan cukup merupakan syarat agar planlet tetap mampu tumbuh dalam proses aklimatisasi dengan kondisi yang kritis, yang dari semuanya faktor lingkungan juga mempengaruhinya. Hal ini dikarenakan sifat media tumbuh yang sangat porous, menyebabkan aliran air (yang umumnya juga menghanyutkan pupuk) menjadi lebih besar, sehingga ketersediaan pupuk dalam mediapun akan sering berkurang. Demikian juga iklim dan ukuran tanaman akan sangat

berpengaruh dalam aplikasi dan dosis pemupukan (http://emigarden.com., 2008). Hal ini juga didukung dengan pendapat Lingga dan Marsono (2004) yang menyatakan bahwa kelebihan yang paling mencolok dari pupuk daun, yaitu penyerapan haranya berjalan lebih cepat dibandingkan pupuk yang diberikan lewat akar. Akibatnya, tanaman akan lebih cepat menumbuhkan tunas dan tanah

Dokumen terkait