BAB V KASUS ADELIN LIS : Pemberantasan Kejahatan Kehutanan Tanpa
3. Dakwaan
Jaksa Penuntut Umum mengajukan dakwaan komulatif berlapis, yaitu dalam bentuk Dakwaan Kesatu-Primair; Kesatu-Subsidair dan Kedua-Primair; Kedua-Subsidair.
Dakwaan Ketentuan yang dilanggar
Pertama primair Pasal 2 ayat (1) jo Pasal 18
Undang-Undang Republik
Indonesia nomor 31 tahun 1999 dan Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2001 tentang
Pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 Kitab Undang-
Undang Hukum Pidana
(KUHPidana) jo. Pasal 64 ayat (1) KUHPidana
Pasal 2 ayat (1) UU 31/1999
Jo. UU 20/2001: “Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau
orang lain atau suatu
korporasi yang dapat
merugikan keuangan negara
atau perekonomian negara...”
Pasal 55 ayat (1) ke-1 Kitab
Undang-Undang Hukum
Pidana (KUHPidana).
Pasal 64 ayat (1) KUHPidana.
194Bambang Setiono Kejahatan Lingkungan, Menjerat Adelin Lis dengan Delik Pencucian Uang,
127
Subsidair Pasal 3 jo. Pasal 18 Undang-
Undang Republik Indonesia nomor 31 tahun 1999 dan
Undang-Undang Republik
Indonesia nomor 20 tahun
2001 tentang
Pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 Kitab Undang-
Undang Hukum Pidana
(KUHPidana) jo. Pasal 64 ayat (1) KUHPidana
ATAU
Kedua PRIMAIR Pasal 50 ayat (2) jo Pasal 78
ayat (1), ayat (14) Undang- Undang Nomor 41 tahun 1999 jo. Undang-Undang Nomor 19 tahun 2004 tentang Kehutanan Jo. Pasal 64 ayat (1) KUHPidana
Pasal 50 ayat (2) UU 41 tahun
1999 Jo. UU No. 19 tahun
2004:“Setiap orang yang
diberikan izin usaha
pemanfaatan kawasan, izin
usaha pemanfaatan jasa
lingkungan, izin usaha
pemanfaatan hasil hutan kayu dan bukan kayu, serta izin pemungutan hasil hutan kayu dan bukan kayu, dilarang
melakukan kegiatan yang
menimbulkan kerusakan
hutan”.
Pasal 78 ayat (1) UU 41 tahun
1999 Jo. UU No. 19 tahun
2004:“Barang siapa dengan
sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (1) atau Pasal 50 ayat (2), diancam dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda
paling banyak Rp
128
rupiah)”.
Kedua SUBSIDAIR Pasal 50 ayat (3) huruf e Jo.
Pasal 78 ayat (5) Undang- Undang Nomor 41 tahun 1999 jo. Undang-Undang Nomor 19 tahun 2004 tentang Kehutanan Jo. Pasal 64 ayat (1) KUHPidana
LEBIH SUBSIDAIR
Pasal 50 ayat (3) huruf h Jo. Pasal 78 ayat (7) Undang- Undang Nomor 41 tahun 1999 Jo. Undang-Undang Nomor 19 tahun 2004 tentang Kehutanan Jo. Pasal 42 Peraturan Pemerintah Nomor 45 tahun 2004 tentang Perlindungan Hutan Jo. Pasal 64 ayat (1) KUHPidana.
LEBIH SUBSIDAIR LAGI
Pasal 50 ayat (3) huruf f Jo. Pasal 78 ayat (5) Undang- Undang Nomor 41 tahun 1999 Jo. Undang-Undang Nomor 19 tahun 2004 tentang Kehutanan Jo. Pasal 64 ayat (1) KUHPidana.
Seperti diuraikan diatas, dakwaan Adelin Lis disusun secara kombinasi, yakni penggabungan antara Dakwaan Komulatif dan Dakwaan Subsidiar. Pada dakwaan Kesatu Primair, JPU
mendakwa dengan Pasal 2 ayat (1) jo Pasal 18 UU No. 31 Tahun 1999 sebagaimana telah
diubah dan ditambah dengan UU No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas UU No. 31
Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP Jo
Pasal 64 ayat (1) KUHP.Sedangkan pada Dakwaan Kedua Primair, JPU mendakwa Pasal 50
129
tentang Perubahan atas UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan Jo Pasal 64 ayat (1)
KUHP. Dari Kedua dakwaaan tersebut, pasal-pasal paling krusial yang mengatur hukum
pidana materil adalah Pasal 2 ayat (1) UU 31 tahun 1999 Jo.UU 20 tahun 2001 (Dakwaan
Kesatu Primair), dan Pasal 50 ayat (2) Jo. Pasal 78 ayat (1) UU 41 tahun 1999 Jo. UU No. 19
tahun 2004 (Dakwaan Kedua Primair).
Dalam penyusunan dakwaan tersebut ada beberapa poin kritis yang dapat dielaborasidalam pengajuan dakwaan seperti diatas. Pertama, Bentuk dakwaan komulatif memberikan kewajiban pada JPU untuk membuktikan semua dakwaan, baik Dakwaan Kesatu dan Dakwaan Kedua. Pada prinsipnya, dalam sebuah dakwaan komulatif, terdapat beberapa aturan pidana yang didakwakan dan semuanya harus dibuktikan. Secara umum bentuk dakwaan ini hampir sama dengan dakwaan subsider dan dakwaan alternatif. Perbedaan mendasar terletak pada kewajiban membuktikan semua pidana yang didakwakan.Kedua
Bentuk dakwaan seperti ini sangat berhubungan dengan terminologi concursus seperti diatur
pada Pasal 63 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Dengan kata lain dakwaan digunakan jika terjadi komulasi, dalam artian baik itu Komulasi Perbuatan ataupun Komulasi Pelaku195
.Terdapat beberapa karakteristik terkait bentuk Dakwaan Komulatif dalam
Concursus ini196
, yaitu:
Ada satu perbuatan yang melanggar beberapa ketentuan pidana;
Sistem pemidanaan adalah sistem absorbsi, yakni hanya menjatuhkan satu hukuman
pidana, yakni Pidana terberat, sesuai dengan Pasal 63 ayat (1) KUHPidana;
Dibutuhkan kecermatan dalam menentukan apakah concursus tersebut benar-benar
merupakan concursus idealis. Persyaratan terpenting adalah, harus diyakinkan, bahwa
secara nyata hanya ada satu perbuatan, namun secara ideal terjadi pelanggaran beberapa aturan pidana.
Namun, salah satu dari dua aturan pidana tersebut juga dapat bersifat khusus (specialis)
dibanding yang lainnya. Terkait konsepsi yang diatur pada Pasal 63 ayat (2) KUHPidana ini, seharusnya Jaksa Penuntut Umum menegaskan, apakah antara Pidana Korupsi (Dakwaan Kesatu) dan Pidana Kehutanan (Dakwaan Kedua), ada yang bersifat lebih khusus satu
diantaranya. Sehingga, dapat diterapkan asas Lex Specialis Derogat Legi Generale. Berdasarkan
dokumen Dakwaan, JPU tidak terlihat melakukan pemetaan dan pengklasifikasian sifat kekhususan dari salah satu aturan Pidana.
Sebagai alternatif untuk menjerat pelaku, idealnya Jaksa Penuntut Umum mempunyai pilihan.
Menggunakan Dakwaan dapat diajukan secara alternatif, akan tetapi menggunakan asas Lex
Specialis Derogat Legi Generale. Dengan konsekuensi harus menegaskan penggunaan asas ini saat menguraikan dakwaan. Sehingga, hakim dapat fokus membuktikan hanya aturan pidana yang bersifat lebih khusus.Atau, bentuk dakwaan komulatif tetap dapat diajukan. Akan tetapi, ditegaskan bahwa salah satu aturan pidana bersifat khusus. Dan, kalaupun JPU tidak berhasil membuktikan perbuatan yang dilakukan terdakwa melanggar aturan yang bersifat khusus, setidaknya masih ada kemungkinan untuk menjerat terdakwa dengan aturan yang bersifat umum. Dalam dakwaan terhadap Adelin Lis pun demikian. Jaksa dapat menyebutkan secara tegas bahwa UU Korupsi bersifat lebih khusus dibanding aturan Kehutanan, atau sebaliknya. Jika dakwaan khusus tidak terbukti, maka seharusnya dakwaan umum masih bisa dipertimbangkan majelis hakim.
195 Harun M. Husein, Surat Dakwaan; Teknik Penyusunan, Fungsi dan Permasalahan, Rineka Cipta, Jakarta: 2005.
Hal. 80
130
Dakwaan tetap diajukan dalam bentuk komulatif, akan tetapi menegaskan bahwa kedua aturan pidana yang digunakan, baik dalam dakwaan Kesatu ataupun Dakwaan Kedua, merupakan aturan yang sama-sama bersifat khusus. Dengan kata lain, Pidana Kehutanan bersifat khusus untuk aturan di bidang Kehutanan dan KUHPidana, sedangkan Pidana Korupsi juga bersifat khusus untuk aturan seputar korupsi, keuangan negara dan KUHPidana. Kedua aturan pidana tersebut punya karakter kekhususan sendiri. Pidana Korupsi disusun dengan sifat dan tujuan khusus menyelamatkan kerugian negara. Sedangkan, Pidana Kehutanan ditujukan untuk melestarikan hutan dan menjaga hutan dari kerusakan yang diakibatkan oleh kejahatan yang dilakukan di wilayah hutan.Sehingga, terhadap dua aturan pidana tersebut
merupakan Komulatif Concursus, dalam artian tidak dapat diterapkan asas Lex Specialis
Derogat Legi Generale.
Dengan demikian, Jaksa berkewajiban membuktikan kedua dakwaan. Jika kedua dakwaan terbukti, maka pada fase penuntutan Jaksa menegaskan, bahwa kedua dakwaan tersebut terbukti, namun karena konsep aturan Pidana Kehutanan dan Pidana Korupsi memenuhi
persyaratan untuk sebagai concursus idealis, maka dipilih aturan Pidana dengan ancaman
Pidana terberat.Jika dibandingkan, maka Pidana Korupsi lah yang memberikan ancaman pidana maksimal tertinggi, yakni pidana penjara seumur hidup atau maksimal pidana penjara 20 tahun. Sedangkan ancaman maksimal dari Pidana Kehutanan hanyalah pidana penjara 15 tahun.Jaksa Penuntut Umum tidak melakukan kedua alternatif tersebut. Dalam dokumen dakwaan dan tuntutan terlihat, dari aspek bentuk dan konstruksi dakwaan yang dipilih, Jaksa salah menerapkan penggunaan Dakwaan Kombinasi (Komulatif-Subsidair) untuk mendakwan dan menuntut Adelin Lis.
Materi Dakwaan Tidak Jelas
Pengujian terhadap dakwaan selain dilakukan terhadap bentuk dan konstruksi dakwaan, yang terpenting, juga dilakukan terhadap Materi Dakwaan. Pada prinsipnya, aspek yang akan dilihat
setidaknya mencakup tiga hal. Pertama, apakah kapasitas terdakwa dalam dakwaan sudah
tepat untuk dijerat dengan suatu aturan pidana tertentu. Kedua, poin yang berkaitan dengan
korelasi antara dakwaan dengan proses penyidikan oleh Kepolisian (dengan bahan dasar
Risalah Pemeriksaan. Dan, Ketiga, menyangkut materil perkara. Defenisi standar dari
Dakwaan adalah suatu surat yang diberi tanggal dan ditandatangani oleh Penuntut Umum; memuat uraian identitas lengkap terdakwa, perumusan tindak pidana yang didakwakan, dipadukan dengan unsur-unsur tindak pidana, disertai uraian waktu dan tempat tindak pidana dilakukan terdakwa. Surat ini menjadi dasar, batas dan ruanglingkup pemeriksaan pada sidang pengadilan.197
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana tidak memberikan defenisi khusus tentang Surat Dakwaan ini, dalam Pasal 14 KUHAP hanya dicantumkan, bahwa membuat surat dakwaan merupakan salah satu kewenangan Penuntut Umum. Dengan demikian, perihal materi atau substansi dakwaan, pengujian terhadap kasus Adelin Lis dapat mengacu syarat minimal yang harus dipenuhi sebuah Surat Dakwaan.Pasal 143 ayat (2) KUHAP mengaturPenuntut umum membuat surat dakwaan yang diberi tanggal dan ditandatangani serta berisi:
a. nama lengkap, tempat lahir, umum dan tanggal lahir, jenis kelamin, kebangsaan, tempat
tinggal, agama dan pekerjaan tersangka;
131
b. uraian secara cermat, jelas dan lengkap mengenai tindak pidana yang didakwakan dengan
menyebtukan waktu dan tempat tindak pidana dilakukan.
Isi surat dakwaan berdasarkan pasal diatas sesungguhnya dikelompokkan menjadi dua, yakni bagian identitas terdakwa dan bagian materil perkara. Pada bagian identitas (huruf a), seharusnya Penuntut Umum menjelaskan posisi terdakwa dan kapasitas terdakwa dalam tindak pidana yang dituduhkan padanya. Poin kapasitas terdakwa inilah yang tidak disebutkan secara jelas oleh Penuntut Umum.
Pada dakwaan kesatu primair ini, JPU mendakwa Terdakwa, dengan saksi Ir. Oscar A. Sipayung dan saksi Ir. Washington Pane, selaku Direksi PT. KNDI, serta saksi Ir. Sucipto L. Tobing selaku Kepala Dinas Kehutanan Kab. Mandailing Natal tahun 2000 sampai dengan tanggal 28 Agustus 2002 dan saksi Ir. Budi Ismoyo selaku Kepala Dinas Kehutanan Kab. Mandailing Natal sejak tanggal 29 Agustus 2002 sampai dengan 2006, telah melakukan atau turut serta melakukan perbuatan secara melawan hukum untuk memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, perbuatan mana merupakan beberapa perbuatan yang ada hubungannya sedemikian
rupa sehingga harus dipandang sebagai suatu perbuatan berlanjut (Voorgezette Handeling).
Pada surat dakwaan kesatu primair ini, Jaksa Penuntut Umum tidak menyebutkan apakah Terdakwa ADELIN LIS dalam dakwaan ini berkedudukan sebagai pelaku, atau sebagai pelaku yang menyuruh, atau sebagai pelaku yang turut melakukan atau pun bersama-sama melakukan perbuatan pidana tersebut. Sehingga boleh dikatakan Dakwaan Kesatu Primair dari JPU ini menjadi tidak jelas tindak pidana apa yang didakwakan kepada terdakwa. Padahal, Penuntut umum mengaitkan setiap dakwaannya dengan Pasal 55 KUHPidana dalam
dakwaannya198
. Pasal tersebut mengatur tentang penyertaan dalam tindak pidana.Selain pencantuman secara jelas kapasitas Adelin Lis sebagai terdakwa, pencantuman syarat material yang mencakup uraian tindak pidana yang didakwakan merupakan satu syarat penting seperti diatur Pasal 143 ayat (2) KUHAP. Disini, pembentuk undang-undang sesungguhnya menginginkan dakwaan disusun secara cermat, jelas dan lengkap. Pemahaman cermat menurut Pedoman pembutan surat Dakwaan dari Kejaksaan Agung sendiri setidaknya mensyaratkan adanya ketelitian jaksa penuntut umum agar tidak melakukan kekeliruan yang
berakibat membatalkan dakwaan seperti nebis in idem, daluarsa perkara, dan delik aduan atau
tidak. Jelas, berarti Penuntut Umum harus mampu merumuskan unsur delik dan memadukan dengan fakta atau perbuatan materil. Dan, Lengkap, berarti uraian harus mencakup semua
unsur yang ditentukan undang-undang secara lengkap199
. Masalah Dakwaan Kesatu Primair.200
Bahwa dalam memanfaatkan Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK) tersebut, Terdakwa dengan saksi Ir. Oscar A. Sipayung, saksi Ir. Washington Pane selaku Direksi PT. KNDI telah memungut hasil hutan kayu dengan cara memerintahkan karyawan PT. KNDI
antara lain saksi Musran Tumanggor (operator chain saw) untuk melakukan penebangan kayu
dengan menggunakan alat berupa chain saw atau alat penebang lainnya di luar areal Rencana Kerja Tahunan (RKT) yang telah disahkan, seperti terlihat pada tabel 1 dibawah ini.
198 Dr. J. Djohansjah, S.H., M.H., Legal Anotasi Eksaminasi Publik Putusan Perkara Illegal logging dalam Kasus Adelin
Lis. Jakarta: 2008. Hal.3
199 Kejaksaan Agung RI, Pedoman Pembuatan Surat Dakwaan, Jakarta: 1985. Hal 14-16. 200 Dr. J. Djohansjah, Loc. Cit.
132
Penebangan Kayu Illegal dalam Kasus Adelin Lis tahun 2000-2005
Tahun Log 2000 15.544 batang 2001 14.697 batang 2002 23.310 batang 2003 7.916 batang 2004 10.710 batang 2005 12.776 batang TOTAL 84.953 batang
Bahwa penebangan dan pemungutan hasil hutan kayu tersebut oleh Terdakwa, serta saksi Ir.Oscar A. Sipayung, saksi Ir. Washington Pane, serta saksi Ir. Sucipto L. Tobing dan saksi Ir. Budi Ismoyo telah bertentangandengan:
a. Kewajiban PT. KNDI dalam Lampiran Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan
No. 805/Kpts-VI/99 tanggal 30 September 1999 tentang pembaharuan ijin HPH kepada
PT. KNDI201
b. Kewajiban PT KNDI untuk melaksanakan Timber Cruising dan membuat Laporan Cruising
dengan semestinya sebagaimana Surat Keputusan DirJen Pengusahaan Hutan Nomor: 151/Kpts/IV-BPHH/93 tanggal 19 Oktober tentang Peraturan Petunjuk Teknis Tebang Pilih Tanam Indonesia (TPTI) sebagai dasar penerbitan Surat Perintah Pembayaran (SPP) PSDH dan DR.
c. Kewajiban PT KNDI untuk membuat laporan Hasil Produksi kayu bulat dengan
semestinya sebagai dasar Penerbitan Surat Perintah (SP), Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH) dan Dana Reboisasi (DR).
d. Kewajiban Kepala Dinas Kehutanan sebagaimana disebutkan dalam Keputusan Menteri
Kehutanan dan Perkebunan Nomor: 316/Kpts-II/1999 tentang Tata Usaha Hasil Hutan Jo. Keputusan Menteri Nomor: 126/Kpts-II/2003 tanggal 4 April 2003 tentang Penatausahaan
Hasil Hutan yang antara lain menyebutkan: “Dinas Kehutanan Kabupaten/Kota wajib
melaksanakan pembinaan, pengawasan dan pengendalian terhadap pelaksanaan
penatausahaan hasil hutan di wilayah kerjanya”.
e. Kewajiban Kepala Dinas Kehutanan sebagaimana disebutkan dalam Keputusan Menteri
Kehutanan dan Perkebunan Nomor: 16/Kpts-II/2003 tanggal 8 Januari 2003 tentang
201 (1) Perusahaan harus melakukan sistim silvikultur Tebang Pilih Tanah Indonesia (TPTI) pada areal seluas
58.590 Ha; (2). Perusahaan dilarang melakukan penebangan hutan di luar areal yang telah ditetapkan dalam Rencana Karya Lima Tahunan dan Rencana Karya Tahunan (RKT) yang telah disahkan; (3). Perusahaan harus membangun dan memelihara jaringan jalan di dalam areal kerjanya sesuai dengan ketetapan dan ketentuan pembuatan jalan angkutan serta sesuai dengan Rencana Karya Pengusahaan Hutan yang telah disahkan; (4). Perusahaan harus membayar Iuran Hasil Hutan/Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH) dan Dana Reboisasi (DR); (5) Perusahaan harus mengikutsertakan Koperasi (Koperasi masyarakat setempat dan Koperasi Sinar Meranti) 25 % sebagai hak kompensasi masyarakat (15 % dialihkan langsung pada saat koperasi terbentuk dan 10 % diangsur selama 5 tahun dengan hak opsi kenaikan 1 % setiap tahun), Lembaga Pendidikan setempat 10 %, dan BUMD 10 % sebagai Pemegang Saham.
133
Rencana Kerja, Rencana Kerja Lima Tahun, Rencana Kerja Tahunan dan Bagan Kerja Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu pada Hutan Alam Jo. Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: 314/Kpts-II/1999 tentang Rencana Karya Pengusahaan Hutan, Rencanan Karya Lima Tahun dan Rencana Karya Tahanan atau Bagan Kerja Pengusahaan Hutan.
kemudian perbuatan terdakwa, saksi Ir.Oscar A. Sipayung, saksi Ir. Washington Pane, serta saksi Ir. Sucipto L Tobing dan saksi Ir. Budi Ismoyo, telah memperkaya PT. KNDI dan atau diri terdakwa sendiri sebesar Rp. 119.802.393.040,- dan US $ 2.938.556,24 atau setidak- tidaknya Rp 83.112.016.591,- yang masuk dalam rek pribadi terdakwa pada Bank Buana dan HSBC yang diperoleh dari penjualan Hasil Hutan Kayu yang ditebang di luar blok Rencana Kerja Tahunan (RKT) PT KNDI, sehingga menimbulkan kerugian keuangan Negara sebagaimana hasil perhitungan BPKP Perwakilan Provinsi Sumut sesuai dengan surat No. R- 2369/PW02/6/2006.
Dakwaan Kesatu Subsidair
Pada dakwaan kesatu subsidair ini, Jaksa mendakwa Terdakwa, saksi Ir.Oscar A. Sipayung, saksi Ir. Washington Pane, selaku Direksi PT. KNDI serta saksi Ir. Sucipto L Tobing dan saksi Ir. Budi Ismoyo, telah melakukan atau turut serta melakukan perbuatan dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau korporasi menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan Negara, atau perekonomian Negara, perbuatan mana merupakan beberapa perbuatan yang ada hubungannya sedemikian rupa sehingga harus dipandang
sebagai suatu perbuatan berlanjut (Voorgezette Handeling).Uraian dakwaan Jaksa pada
dakwaan kesatu subsidair ini sama seperti uraian dakwaan Jaksa pada dakwaan kesatu primair.
Dakwaan Kedua Primair
Pada dakwaan kedua primair ini, Jaksa mendakwa Terdakwa, dan saksi Ir. Oscar A. Sipayung, serta saksi Ir. Washington Pane oleh dan atas nama badan hukum atau badan usaha PT. KNDI selaku direksi PT. KNDI, yang diberikan izin usaha pemanfaatan kawasan, izin usaha pemanfaatan jasa lingkungan, izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu dan bukan kayu, serta izin pemungutan hasil hutan kayu dan bukan kayu, dengan sengaja melakukan kegiatan yang menimbulkan kerusakan hutan,perbuatan mana merupakan beberapa perbuatan yang ada hubungannya sedemikian rupa sehingga harus dipandang sebagai suatu perbuatan berlanjut
(Voorgezette Handeling).Uraian dakwaan Jaksa pada dakwaan kedua primair ini mendakwakan:
1. Bahwa perbuatan yang didakwa menimbulkan kerusakan hutan yakni dengan tidak
melaksanakan penebangan sesuai dengan Rencana Karya Pengusahaan Hutan menurut ketentuan yang berlaku serta berdasarkan asas kelestarian hutan. Bahwa selaku pemegang Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu PT. KNDI harus melakukan sistem silvikultur tebang pilih tanam indonesia yang merupakan subsistem dari sistem pengelolaan hutan dengan filosofi lestari, antara lain:
a. Penataan Areal Kerja (PAK); PAK tidak pernah pernah dilaksanakan dan
direalisasikan sesuai dengan ketentuan, hal ini terlihat dengan tidak adanya dokumentasi Photo Bal Batas, karena dana PAK tidak pernah disalurkan terdakwa kepada Manager Camp a.n. Lee Sungman di Camp Tabuyung.
134
b. Inventarisasi Tegakan Sebelum Penebangan (ITSP); pelaksanaan Timber
Cruising/ITSP secara administratif tetap dibuat guna memnuhi persyaratan usulan RKT, tetapi secara fisik di areal blok tebangan tidak pernah dilaksanakan.
c. Pembukaan Wilayah Hutan (PWH); PWH tidak pernah dilaksanakan, hal ini terlihat
dengan tidak adanya dokumentasi photo pembukaan wilayah dan peta realisasi pembuatan jalan dengan Skala 1 : 10.000. Dana PWH dibuat pada rencana dan realisasi berdasarkan perkiraan saja, tetapi faktanya tidak ada.
d. Penebangan; penebangan kayu/pohon dilakukan di luar RKT dalam izin IUPHHK PT.
KNDI dalam kurun waktu tahun 2000 s/d tahun 2005 secara berlanjut.
e. Pengayaan/Rehabilitasi; secara administratif laporan tetap dilaksanakan tetapi riil di
lapangan tidak pernah dilaksanakan.
2. Bahwa terdakwa selaku Direktur keuangan PT. KNDI tidak merealisasikan anggaran
biaya yang telah ditetapkan guna melaksanakan sistem silvikultur Tebang Pilih Tanam Indonesia (TPTI), sehingga laporan hasil cruising dibuat sendiri oleh saksi Ir. Washington Pane (laporan hasil cruising fiktif) selaku Direktur Produksi dan Perencanaan PT. KNDI, yang tidak melihat ke lapangan, bersama Ir. Umasda selaku Kepala Bagian Perencanaan PT. KNDI, dan saksi Ir. Oscar A. Sipayung selaku Direktur Utama PT. KNDI tidak mengecek ke lapangan atas usulan RKT yang diajukan saksi Ir. Washington.
a. Bahwa dampak kerusakan sifat kimia tanah akibat adanya penebangan pohon dan
perusakan pada kawasan hutan lindung dan melakukan perusakan hutan produksi lokasi IUPHHK PT. KNDI adalah konvensi hutan alam menjadi tanah terbuka telah menyebabkan: Hilangnya bahan organik tanah hutan pada luasan 14.695 Ha sebanyak 2.736.209 Ton bahan organik; peningkatan PH tanah dan menurunkan PH tanah dan KTK tanah dan meningkatkan kejenuhan basa (KB); dan kerusakan sifat kimia tanah.
b. Bahwa dampak kerusakan sifat biologi tanah akibat kegiatan penebangan pohon dan
melakukan perusakan hutan produksi di IUPHHK PT. KNDI adalah hutan alam menjadi tanah terbuka yang telah menurunkan: jumlah mikroorganisme tanah; dan keanekaragaman genetik yang diindikatorkan menurun atau hilangnya jamur tanah (fungi).
Dakwaan Kedua Subsidair
Pada dakwaan kedua subsidair ini, JPU mendakwa Terdakwa, dan saksi Ir. Oscar A. Sipayung, serta saksi Ir. Washington Pane oleh dan atas nama badan hukum atau badan usaha PT. KNDI selaku Direksi PT. KNDI, dengan sengaja menebang pohon atau memanen atau memungut hasil hutan di dalam hutan tanpa memiliki hak atau izin dari pejabat yang berwenang, perbuatan mana merupakan beberapa perbuatan yang ada hubungannya sedemikian rupa sehingga harus dipandang sebagai suatu perbuatan
135
Uraian dakwaan Jaksa pada dakwaan kedua subsidair ini mendakwakan: Bahwa dengan dilanggarnya ketentuan Amar keempat butir 1 Keputusan Menteri Kehutanan dan
Perkebunan No.805/Kpts-VI/99, yang isinya menyatakan: “apabila PT. KNDI tidak
merealisasikan pengalokasian saham kepada Koperasi, Lembaga Pendidikan setempat dan BUMD selambat-lambatnya 2 tahun sejak diterbitkannya Keputusan ini, maka Keputusan
ini dinyatakan batal dan tidak berlaku lagi”.
Dakwaan Kedua Lebih Subsidair
Pada dakwaan kedua lebih subsidair ini, Jaksa mendakwa Terdakwa, dan saksi Ir. Oscar A. Sipayung, serta saksi Ir. Washington Pane oleh dan atas nama badan hukum atau badan usaha PT. KNDI selaku direksi PT. KNDI, dengan sengaja mengangkut, menguasai, atau memiliki hasil hutan yang tidak dilengkapi bersama-sama dengan surat keterangan sahnya hasil hutan, perbuatan mana merupakan beberapa perbuatan yang ada hubungannya
sedemikian rupa sehingga harus dipandang sebagai suatu perbuatan berlanjut (Voorgezette
Handeling).Uraian dakwaan Jaksa pada dakwaan kedua lebih subsidair ini mendakwakan:
1. Bahwa berdasarkan pengukuran ahli dari Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH)
Wilayah I Medan dan hasil pemeriksaan Rekontruksi Lapangan BPKH Wilayah I medan serta Cruiser, Operator Chain Saw dan petugas TPTI di dalam areal IUPHHK