• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran PPATK sebagai Financial Inteligence Unit Indonesia

Dalam dokumen Dari Lacak Kayu Bulatnya ke Lacak Uangnya (Halaman 113-116)

BAB IV INSTRUMEN ANTI-PENCUCIAN UANG UNTUK KEJAHATAN

9. Peran PPATK sebagai Financial Inteligence Unit Indonesia

Upaya pencegahan dan pemberantaan tindakpidana pencucian uang tidak bisa dilepaskandari

institusi Pusat Pelaporan dan AnalisisTransaksi Keuangan (PPATK). PPATK

merupakanFinancial Inteligence Unit (FIU) di Indonesia yangmempunyai tugas dan peran dalam

pencegahan danpemberantasan tindak pidana pencucian uang. FIUmerupakan nama umum untuk lembaga sejenis yangjuga terdapat di sejumlah Negara yang tergabungdalam forum

Egmont Group. Sebuah forum yang bertujuan untuk meningkatkankerjasama dan berbagi

informasi untuk mendeteksidan memerangi pencucian uang dan pendanaanterorisme. Hasil

kerja Egmont Group adalah kajianmengenai pentingnya pendirian FIU di setiap negara sebagai

badan khusus untuk menangani pencegahandan pemberantasan pencucian uang.

Keberadaan PPATK tersebut diatur sejak adanya UU No. 15 tahun 2002 dan UU No. 25 tahun 2003tentang Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. Undang-undang ini kemudian dinyatakan tidak berlaku paska UU No. 8 tahun 2010 disahkan .Kedudukan, tugas, fungsi, wewenang dan organisasi PPATK diatur pada Bab VI, Pasal 37-63 UU No.8 tahun 2010. PPATK diharapkan dapat berperansebagai sentral dari skema anti pencucian uang

diIndonesia.PPATK bertanggungjawab pada Presiden (Pasal37 ayat (2)), mempunyai hubungan

akuntabilitasdengan Dewan Perwakilan Rakyat dalam bentuk pemberian laporan secara

berkala (Pasal 47). Untuk melaksanakan tugasnya, PPATK mempunyai empat fungsi (Pasal

40), yaitu:

1. Pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang

2. Pengelolaan data dan informasi yang diperoleh PPATK

3. Pengawasan terhadap kepatuhan pihak pelapor; dan

4. Analisis atau pemeriksaan laporan dan informasi Transaksi Keuangan yang berindikasi

tindak pidana Pencucian Uang dan/atau tindak pidana lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1).

Salah satu ukuran kinerja PPATK yang dapat dicermati adalah kuantitas dan kualitas Laporan Transaksi, yang mencakup: Laporan Transaksi Keuangan Mencurigakan (LTKM), Laporan Transaksi Keuangan Tunai (LTKT), Laporan Pembawaan Uang Tunai (LPUT); dan Laporan Hasil Analisis (LHA).Berdasarkan laporan PPATK, hingga periode SampaiBulan Juni 2012, jumlah Laporan yang diterimaPPATK mencapai 11.539.844 laporan denganperincian sebagai berikut:176

data lebih rinci tentang Hasil Analisis PPATK yangdiserahkan pada penyidik dan

klasifikasi berdasarkantindak pidana asal (predicate crime) dapat dilihat dariHasil analisis yang

disampaikan oleh PPATK kepadapenyidik dibagi dalam 12 kelompok, yaitu kepada:(1) Kepolisian saja, (2) Kejaksaan saja, (3) KPKsaja, (4) Kepolisian, (5) Kejaksaan dan KPK, (6)Kepolisian dan Kejaksaan, (7) Kepolisian dan KPK,(8) Kepolisian, Kejaksaan dan BNN, (9) Kepolisian,Kejaksaan dan Ditjen Pajak, (10) Kejaksaan danKPK, (11) Ditjen Pajak dan (12) BNN.

Hingga Juni 2012, jumlah kumulatif Hasil Analisisyang diserahkan PPATK kepada penyidik berjumlah2.014 laporan sedangkan LTKM berjumlah 4.196laporan. Laporan paling banyak diserahkan kepadapenyidik Kepolisian dan Kejaksaan (LHA sebanyak1.379 laporan dan LTKM sebanyak 2.896 laporan.Sebanyak 2.014 Hasil Analisis telah disampaikanPPATK ke Penyidik sejak tahun 2008 hingga Juni 2012. Berdasarkan tindak pidana asal terlihat bahwaLaporan Hasil Analisis (LHA) yang berasal daritindak pidana korupsi merupakan yang paling besaryaitu sebesar 896 laporan. Peringkat kedua yaituberasal dari tindak pidana

114

penipuan sebesar 467laporan. Menyusul penyuapan (79 laporan) danNarkotika (78 laporan). Meskipun banyak laporan yang disampaikan olehPPATK kepada penyidik dilingkungan penegakhukum, namun proses hukum hingga ke pengadilandari laporan tersebut masih dapat dikatakan minim.Data PPATK menyebutkan sampai dengan tahun2012 hanya tercatat sebanyak 72 perkara yang telahdiputus pengadilan terkait dengan tindak pidanapencucian uang.Putusan pengadilan terkait TPPU sebagian besar diputuskan di DKI Jakarta, yaitu sebanyak 41 putusanatau 56,9 persen. Putusan pengadilan terkait tindakpidana pencucian uang menurut Dugaan TindakPidana Asal sebagian besar adalah Tindak pidanaNarkotika yaitu sebanyak 17 putusan atau 23,6persen.Dari aspek penjatuhan pidana maka Hukumanpenjara

tertinggi selama 17 tahun dan Hukumandenda tertinggi sebanyak 15 Milyar Rupiah.177

9.1. Pencucian Uang dengan Kejahatan Asal Bidang Kehutanan

Temuan PPATK dengan predicate crime pidanabidang Kehutanan hingga Februari 2012

ternyata masih sangat rendah, yakni: 9 dari 1.924 laporanatau 0,47% dari seluruh laporan. Data terbaruyang disampaikan PPATK pada Juni 2012, menyebutkan terdapat 35 laporan

transaksimencurigakan di bidang kehutanan.178

Berdasarkan kategori terdapat 11 klasifikasi pelakuyang menjadi terlapor transaksi kehutanan yang dinilai mencurigakan. Paling banyak terdri daripegawai swasta dan pengusaha masing-masing 7laporan. Transaksi mencurigakan juga ditemuai diHakim, Pejabat Negara dan Perusahaan masing-masing4 laporan. Aktor lain yang juga terlibat dalamdugaan pencucian uang, yaitu Pegawai Negeri Sipil(PNS), Dosen, Ibu Rumah Tangga, Anggota TNI, danDirektur.

Sedangkan berdasarkan lokasi kejadian, tingkatpenyebaran terjadi di 10 provinsi. KepulauanRiau dan Sumatera Selatan yang paling banyakditemukan terjadinya transaksi yang mencurigakanyaitu 3 laporan. Sedangkan Sumatera Selatan,Sumatera Barat, Kalimantan Barat dan KalimantanTimur ditemukan masing-masing 2 transaksi yangmencurigakan dibidang kehutanan. Daerah lainnyayang teridentifikasi adalah NTT, DKI Jakarta,dan Kalteng. Meski dinilai daerah yang palingbanyak terjadi kejahatan hutan, di provinsi Riaudan Papua tidak ditemukan adanya transaksi yangmencurigakan.

Berdasarkan pantauan ICW, dari 72 perkara yangdijerat dengan tindak pidana pencucian uang, hanya 1perkara yang berdimensi korupsi di sektor kehutananyaitu yang terjadi di Papua. Perkara ini melibatkanKomisaris Polisi (Kompol) Marthen Renouwmerupakan Pejabat Sementara (PjS) Kasat TindakPidana Tertentu (Tipiter)Polda Papua dan Kanit SatOpsnal Dit Reskrim Polda Papua. Marthen merupakan salah satu pejabat mempunyaikewenangan melakukan tindakan penegakkan hukumberupa penyelidikan maupun penyidikan

terhadappelaku tindak pidana kehutanan (illegal logging)di wilayah hukum Polda Papua. Tidak

saja dijeratdengan UU Pencucian Uang, Marthen juga dijeratdengan UU Kehutanan dan UU Tindak PidanaKorupsi, namun sayanya pelaku dibebaskan olehHakim Pengadilan Negeri Jayapura dengan alasantidak terbukti.

9.2. Peran PPATK dalam Pencegahan Pencucian Uang di Bidang Kehutanan

177 Bulletin Statistik PPATK, Vol 28 Thn III/2012 diterbitkan oleh Direktorat Riset dan Analisis, Juli 2012. 178Diolah dari Bahan Presentasi “Peranan PPATK dalam Pencegahan dan Pemberantasan tindak pidana

pencucian uang, disampaikan dalam Focus Group Discussion yang diselenngaran oleh ICW di jakarta, 1 Juni 2012.

115

PPATK atau Financial Intelligence Unit (FIU)di Indonesia pada tahun 2006 lalu

menerbitkanPedoman pemberian informasi tindak pidanapencucian uang di bidang kehutanan dan konservasisumberdaya alam hayati melalui SK Kepala PPATKKEP-2B/1.02/PPATK/04/06 tanggal 22 April 2006.Pedoman ini sejatinya tidak hanya mencakuppencucian uang dengan

predicate crime Kehutanan,tetapi juga seperti yang diatur di Pasal 2 ayat (1)huruf (w) UU No.

25 tahun 2003, yaitu tindakpidana di bidang Lingkungan Hidup.179PPATK menyebutkan:“Buku

Pedoman yang dibuat ini,sebagai upaya di dalam menjaga kelestarian hutandi Indonesia.Sebagaimana diketahui, kerusakanhutan di Indonesia saat ini, sudah masuk dalamkategori stadium lanjut. Tindak pidana di bidangkehutanan seperti kegiatan pembalakan

hutansecara liar (illegal logging) telah mencapai batasyang sangat mengkhawatirkan.

DepartemenKehutanan melansir secara material kerugiannegara akibat kerusakan hutan mencapaiRp. 35 trilyun sampai dengan Rp. 45 Triliunpertahunnya. Selain kerugian materil, terjadijuga kerugian berupa penyusutan pada hutan diIndonesia dengan laju yang begitu pesat. Saat inipenyusutan itu mencapai 2 juta hektar tiap tahun,yang hampir sama dengan luas

negara Swiss”180PPATK menyatakan, dalam konteks pemberantasantindak pidana pencucian uang di bidang kehutanan,prioritas utama yang dikejar adalah uang dan hartakekayaan yang

diperoleh dari kejahatan, dengan tigaalasan181

:

1. Faktor Resiko untuk mengejar pelaku kejahatan kehutanan secara langsung.

2. Mengejar hasil kejahatan dinilai lebih mudah dibanding mengejar pelaku kejahatan

kehutanan.

3. Prinsip live bloods of crime.

Dalam isu sektor kehutanan, PPATK telah melakukansejumlah kegiatan sebagai berikut:182

 Menyampaikan Pedoman High Risk Customer kepada PJK yang antara antara lain

mencantumkanusaha di bidang kehutanan sebagai high risk customer.

 Bekerjasama dengan IWGFF menerbitkan Pedoman Pelaporan Tindak Pidana Pencucian

Uang terkait Illegal logging.

 Bekerjasama dengan IWGFF dan UNODC menyelenggarakan rangkaian pelatihan

Penanganan Perkara tindak pidana di Bidang Kehutanan melalui pendekatan Anti Korupsi dan Pencucian Uang bagi Penegak Hukum

 Bersama instansi-instansi terkait menyusun Modul Pelatihan Terpadu untuk Penegak

Hukum;

 Bekerjasama dengan IWGFF dan NLRP menyusun Regulatory Manual Peraturan di Bidang

Pencegahan dan Pemberantasan TPPU, antara lain memuat Pola Penanganan Perkara TPPU.

Selain yang telah disebutkan diatas, pada 2005PPATK pernah menemukan dan mengidentifikasitransaksi mencurigakan dari rekening 20 cukongkayu yang diduga terlibat

dalam perkara pembalakanliar atau illegal logging.183

Sayangnya hasiltemuan PPATK ini tidak ditindaklanjuti oleh penyidikkepolisian hingga ke proses pengadilan.

179 Siaran Pers PPATK, PPATK Meluncurkan Buku Pedoman Pemberian Informasi Tindak Pidana Pencucian

Uang Di Bidang Kehutanan, Jakarta 27Januari 2009. http://www.ppatk.go.id/pages/detail/40/8972

180Ibid.

181Lihat ICW, Pemberantasan Kejahatan Kehutanan Setengah Hati, hal 53

182 Bahan Presentasi PPATK, disampaikan dalam Focus Group Discussion yang diselenggarakan oleh ICW dan

Koalisi Anti Mafia Hutan, 1 Juni 2012.

116

Dalam dokumen Dari Lacak Kayu Bulatnya ke Lacak Uangnya (Halaman 113-116)