BAB II TINDAK PIDANA KEHUTANAN-ALIH FUNGSI LAHAN HUTAN, DAN
10. Permasalahan Penegakan hukum Kejahatan Kehutanan dengan Penggunaan Tindak Pidana
10.1. Sulitnya Penegakan Hukum Pidana kehutanan
Menurut Studi ICW, data Kepolisian menyebutkan selama 2004 hingga Juni 2006, jumlah perkara kejahatan kehutanan yang diungkap 4.178 perkara dengan jumlah tersangka 4.860
orang dan barang bukti kayu sebanyak 822.296 m3 dan 2,37 juta batang kayu.70
Data terbaru selama tahun 2010-2011, pihak Mabes Polri menangani 25 perkara kejahatan kehutanan dengan barang bukti berupa 12.435,36 M3 dan 1.116 batang. Sedangkan tingkat Polda menangani sebanyak 3.006 perkara dan menyita barang bukti berupa kayu 80.679,87 m3 dan
180.818 batang.71
Data Kementrian Kehutanan (2012) juga menyebut sejak tahun 2005 hingga tahun 2011 Penyidik Pegawai Negeri Sipil Kementerian Kehutanan telah menangani 4.661 perkara yang
dijerat dengan UU Kehutanan. Kategori perkara yang ditangani terdiri dari Illegal Logging,
Perambahan, Tumbuhan dan Satwa Liar, Penambangan Illegal, dan Kebakaran. Dari perkara
4661 perkara yang ditangani, sebanyak 197 perkara diselesaikan secara non yustisi, 64 perkara dihentikan (SP3) dan jumlah yang telah divonis mencapai 1.191 perkara. Namun jika ditelisik lebih lanjut, menurut ICW dari data diatastidak bisa dibantah bahwa telah terjadi penurunan jumlah perkara yang ditangani oleh penegakan hukum pada berbagai tahap mulai dari penyelidikan, penyidikan hingga putusan pengadilan terkait kejahatan kehutanan.
Penanganan perkara tersebut turun terus menerus sejak tahun 2006 hingga 201172
Salah satu contoh penegakan hukum di tingkat lokal adalah yang ditangani oleh Kepolisian Daerah Kalimantan Barat (Polda Kalbar). Sepanjang tiga tahun terakhir Polda Kalbar telah menangani 204 tindak kejahatan dalam sektor kehutanan, pada tahun 2010 terdapat 72 perkara yang ditangani dan meningkat menjadi 84 perkara setahun berikutnya dan pada tahun 2012 ini hingga Mei sudah 48 perkara yang sedang ditangani jajaran kepolisian di lingkungan Polda Kalbar. Modus yang dilakukan pelaku kejahatan kehutanan di Kalbar biasanya berupa
penggunaan dokumen yang tidak sesuai dengan volume.73
Modus lain, berupa penggunaan dokumen berkali-kali untuk objek yang berbeda atau mengangkut dari daerah lain yang tidak
sesuai dengan asal usul kayu.74
Contoh lainnya adalah di wilayah papua, yang sering disebut sebagai tempat surga pembalak liar. Bertahun-tahun para pembalak liar telah menggarong kayu di sana, tapi tak ada satu pembalak kakap yang berhasil masuk bui. Data Departemen Kehutanan menunjukkan, sampai bulan November 2006 saja setidaknya ada 22 penjarah kayu yang dibebaskan pengadilan.
Dari jumlah itu, 21 orang dibebaskan oleh para hakim di Papua dan satu kasus di Pontianak.75
Tabel 4
Kasus Penegakan korupsi kehutanan di beberapa wilayah
No Nama Keterangan Penegakan Hukum
70 Op Cit 34 71 Ibid 72 Ibid hal 32 73ibid
74Lihat “Kinerja Penegak Hukum DalamPemberantasan Kejahatan Kehutanan Di KalimantanBarat. Pontianak”
Laporan Hasil Penelitian Kontak Rakyat Borneo, Juli 2012.
75 Sumber Membalak Tapi Bebas, Abdul Manan, Cunding Levi (Papua), Harry Daya (Pontianak), Majalah Tempo,
54 1 Simon
Sulaiman dan Danang
Suhargo
Direktur PT Jutha Daya Perkasa, Simon Sulaiman, ditangkap karena menebang kayu merbau di areal Kopermas Mawaif, Desa Nengke, Kabupaten Sarmi, Papua. Dalam aksinya, Simon dibantu Danang Suhargo, pimpinan cabang PT Jutha Daya Perkasa Jayapura, Lai Hua Teng, serta Wong Ing Wu. Dua nama terakhir ini sampai kini masih buron.
Di pengadilan, jaksa menuntut Simon tujuh tahun penjara dan Danang enam tahun penjara serta keduanya membayar denda Rp 1 miliar. Pada 26 September 2005, majelis hakim Pengadilan Negeri Jayapura yang terdiri dari F.X. Soegiartho, S. Radiantoro, dan Denny D. Sumadi memvonis bebas keduanya. Alasannya, mereka mengantongi izin penebangan.
2 Jansen
Maarisit dan Sureng Anak Gani
Jansen dan Sureng ditangkap aparat Polisi Air dan Udara (Polairud) Polda Papua di perairan Pulau Yamna pada 25 Februari 2005. Polisi menemukan barang bukti berupa gelondongan kayu 80 batang tanpa dokumen. Menurut aparat, log itu diangkut Sureng dengan tongkang dari PT Wapoga Mutiara Industri di Biak untuk dipindahkan ke kapal tongkang yang dikemudikan Jansen. Saat kayu itu sedang dipindahkan ke tongkang Jansen, aparat tiba- tiba muncul dan membekuk keduanya
Jaksa menuntut keduanya tujuh tahun penjara. Tapi majelis hakim yang terdiri dari F.X. Soegiartho, Majedi Hendi Siswara, dan Denny D. Sumadi, memberikan vonis bebas pada 27 September 2005
3 Andi Selle Paralangi
Ketua Koperasi Masyarakat Yasra Bayan, Jayapura, ini ditangkap polisi pada 17 Maret 2005 dengan tuduhan menyelundupkan kayu merbau 860 batang. Kala itu kayu tersebut tengah diangkut kapal MV Fitria Perdana dengan tujuan Surabaya. Polisi Air dan Udara menangkap Fitria saat berada di perairan Biak. Andi ternyata memalsukan dokumen kayu. Jumlah kayu ternyata 896 batang dengan volume 3.580,86 meter kubik, bukan 850 batang dengan volume 2.775,86 meter kubik seperti di dokumen
Di Pengadilan Negeri Jayapura, jaksa menuntut Andi empat tahun penjara dan denda Rp 100. Tapi majelis hakim yang diketuai F.X. Soegiartho beserta dua anggotanya, Majedi H. Siswara dan Denny D. Sumadi, pada 30 Agustus 2005 memvonis bebas Andi. Alasan hakim: perbedaan itu terjadi karena ada kayu yang terlalu panjang sehingga harus dipotong
55 4 Prasetyo Gow
alias Asong
Cukong kayu dari Ketapang, Kalimantan Barat, ini dibekuk saat polisi memeriksa kapal KM Layan Bermakna dan KM JEVI yang memuat sekitar 1.000 meter kubik kayu. Ketika itu, 17 September 2004, kedua kapal itu tengah berada di tempat penampungan kayu Lalang Lestari di Kabupaten Ketapang
Ketika polisi menanyakan dokumen kayu tersebut, pemiliknya, Prasetyo Gow alias Asong, gelagapan. Ia tak bisa menunjukkan dokumen surat keterangan hasil sahnya hutan (SKHSH) dengan alasan dokumen itu sedang diproses di Dinas Kehutanan Ketapang. Polisi pun menjebloskan Asong ke tahanan, dan jaksa lantas menuntutnya empat tahun penjara. Pada 17 Oktober 2005, majelis hakim Pengadilan Negeri Pontianak yang diketuai I Made Ariwangsa membebaskan Asong dari tuntutan jaksa. Pria bermata sipit ini pun melenggang dan meneruskan ”bisnis” kayunya.
Sumber: Membalak Tapi Bebas, Abdul Manan, Cunding Levi (Papua), Harry Daya (Pontianak),
Majalah Tempo, Edisi. 38/XXXV/13 – 19 November 2006
Sebagai contoh lainnya adalah di Kalimantan Tengah, dalam dua tahun (2010-2012) bahkan
terlihat penurunan perkara illegal logging yang ditangani Kepolisian Daerah Kalimantan
Tengah (Polda Kalteng). Sebelumnya pada tahun 2010 tercatat ada 204 perkara pembalakan liar yang ditangani Polda Kalteng hingga P21 (berkas lengkap untuk diserahkan ke kejaksaan). Namun pada tahun berikutnya, yaitu tahun 2011 hanya ada 117 perkara yang sampai P21. Bahkan untuk tahun 2012, berdasarkan catatan di Polda Kalteng hingga April 2012 sudah ada
46 perkara dan baru 12 yang sampai status P21.76
Selama ini Polda Kalteng rutin melakukan operasi Illegal logging yang disebut ‘Operasi
Wanalaga’. Operasi tersebut merupakan operasi kewilayahan yang ditangani langsung oleh
biro Operasional Polda Kalteng. Selain operasi Wanalaga juga ada operasi pemberantasan
illegal logging yang dilakukan sepanjang tahun.Namun demikian meski banyak operasi yang sudah dilakukan dan sudah berhasil mengungkap ribuan perkara, memproses banyak tersangka serta menyita barang bukti jutaan batang kayu, namun banyak kalangan menilai proses penyidikan, penuntutan dan vonis di pengadilan belum berhasil memberi dampak jera.Menteri, Kapolri dan Presiden sendiri menyatakan tidak puas terhadap proses hukum yang berjalan, khususnya ketika proses di pengadilan.
Situasi di pengadilan juga sama. Kekecewaan banyak pihak terhadap proses di pengadilan
dalam perkara kejahatan kehutanan khususnya illegal logging bukan tidak beralasan. Hal ini
setidaknya dapat dilihat dari pencatatan dan analisis putusan yang dilakukan ICW terhadap
perkara Illegal logging yang diadili oleh Pengadilan dari tahun 2005-2008. Dari 205 terdakwa
yang terpantau, sekitar 66,83% diantaranya divonis bebas, atau 137 orang; Vonis dibawah 1 tahun dijatuhkan terhadap 44 orang (21,46); vonis 1-2 tahun terhadap 14 orang (6,83%), dan
diatas 2 tahun sebanyak 10 orang (4,88%).77
76Opcit hal 34 77Ibid hal 36
56
Sebagai contoh lain adalah pelaku Kejahatan Kehutanan dalam Studi Kasus Provinsi KalimantanTengah. Laporan Hasil Penelitian Save Our Borneo, Juli 2012,menunjukkan bahwa
pelaku kejahatan kehutanan yang posisinya kelas menengah keatas (middle upper level) hanya
58 orang (28,29%).78
Artinya, sebagian besar pelaku yang berhasil dijerat dalam penegakan
hukum pemberantasan illegal logging dari tahun 2005 – 2008hanya menyentuh aktor yang
berada di level menegah kebawah, tepatnya 71,71%. Lebih dari itu, Putusan hakim untuk 58 tersangka yang merupakan aktor kelas menegah keatas pun dominan dikategorikan tidak
berpihak pada pemberantasan illegal logging, yakni sekitar 85,71%, yang terdiri dari: Vonis
Bebas 71,43% dan Vonis dibawah 1 tahun 14,29%.79
Di tingkatan Mahkamah Agung, hasil yang serupa tergambar dari perkara illegal logging yang
ditangani. Sekitar 82,76% perkara yang ditangani MA ternyata hanya melibatkan petani, operator lapangan dan supir sebagai tersangka. Sedangkan Direktur Utama, Komisaris dan
pemilik sawmill hanya sejumlah 17,24%. Hasil pantauan ICW tidak jauh berbeda dengan data
resmi penanganan perkara tindak pidana kehutanan yang dilansir oleh Mahkamah Agung (MA). Sejak tahun 2008- 2011, MA menangani 306 perkara kejahatan kehutanan yang diadili ditingkat kasasi.80
Dari jumlah tersebut mayoritas atau sebanyak 144 perkara dihukum dengan pidana 1 hingga 2 tahun penjara. Sebanyak 67 perkara divonis dengan hukuman dibawah 1 tahun penjara. Pelaku yang divonis bebas sebanyak 60 perkara. Pemberian efek jera terhadap pelaku dinilai minim karena tidak ada satupun yang dijatuhi hukuman diatas sepuluh tahun penjara.