• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dalem Kepangeranan adalah suatu kompleks rumah yang luas yang dihuni oleh pangeran dan keluarganya yang terdiri dari bangunan utama, taman, dan dikelilingi ruang-ruang kecil yang bersifat pribadi. Yang menghuni Dalem Kepangeranan adalah pangeran dari raja yang berkuasa, anak dari pangeran, atau pangeran yang berstatus menantu raja. Dalem Kepangeranan banyak yang

72 Ibid., hlm. 60 - 61 73 Ibid., hlm. 377-378 74 Ibid., hlm. 319

mengalami perubahan bentuk bangunan atau dibangun ulang pada masa

pemerintahan Sunan Paku Buwana IX dan Sunan Paku Buwana X.75

Dalem Kepangeranan dibangun dengan arsitektur tradisional Jawa. Rumah tradisional Jawa biasanya berbentuk persegi panjang, rumah berbentuk oval atau bulat tidak ditemukan dalam arsitektur tradisional Jawa. Terdapat lima macam rumah tradisional Jawa, yaitu panggangpe, kampung, limasan, joglo, dan tajug. Rumah panggangpe terdiri dari empat atau enam saka (tiang penyangga), atap hanya satu sisi saja, biasanya digunakan sebagai tempat berlindung dari hujan, angin, dan matahari, seperti gardu. Rumah kampung terdiri dari empat, enam, atau delapan saka, beratap dua belah sisinya, dan memiliki bubungan. Rumah tajug digunakan sebagai tempat ibadah atau pemujaan, yang atapnya berbentuk lancip atau meruncing. Rumah limasan berasal dari kata “lima lasan”, yaitu perhitungan sederhana penggunaan ukuran molo (balok penyangga atap) tiga meter dan blandar (balok tepi atas) lima meter, tetapi bila molo 10 meter, blandar 15 meter. Rumah joglo adalah bentuk paling sempurna dari rumah Jawa, yang

menggunakan kayu lebih banyak dan luas bangunan lebih besar.76 Dalem

Kepangeranan sebagian besar dibangun dengan konsep rumah joglo.

Dalem Kepangeranan terdiri dari tiga bagian, pendapa, pringgitan dan dalem. Pendapa berfungsi sebagai ruan pertemuan, tempat untuk menerima tamu. Pringgitan adalah ruangan pembatas antara pendapa dan dalem, yang biasa digunakan untuk pertunjukan wayang (ringgit). Dalem berfungsi sebagai ruang

75

Marleen Heins (ed.), op.cit., hlm. 236-239

76

H.J. Wibowo, et.al., Arsitektur Tradisional Daerah Istimewa Yogyakarta, (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1998), hlm. 25, 26, 31, 39, 51.

keluarga. Di dalam dalem terdapat tiga kamar atau senthong, yaitu senthong kiwa, sentong tengah, dan senthong tengen.77 Senthong tengah atau petanen sebagai tempat penghormatan untuk Dewi Sri, dewi kesuburan. Senthong kiwa dan senthong tengen berfungsi sebagai kamar pengantin baru. Komplek Dalem Kepangeranan dibatasi pagar tembok. Regol atau pintu gerbang biasanya berbentuk megah dengan dua daun pintu yang besar, yang dinamakan Kupu Tarung. Pendapa berbentuk persegi atau segi panjang, beratap joglo, dan sisinya disambung emper. Bagian depannya biasanya diberi kuncungan, yang berfungsi sebagai tempat kendaraan berhenti sehingga tamu dapat masuk ke pendapa. Lantai pendapa lebih tinggi dari lantai emper di sekelilingnya. Lantai yang lebih tinggi digunakan sebagai tempat duduk para pembesar, sedangkan lantai emper untuk duduk para abdi dalem. Dalem ageng berfungsi sebagai ruang keluarga bangsawan, yang di dalamnya terdapat tiga senthong. Senthong tengah atau petanen, selain digunakan untuk pemujaan Dewi Sri, juga sebagai tempat

menyimpan benda-benda pusaka.78

Di belakang senthong terdapat serambi belakang yang menghadap ke taman. Serambi belakang biasanya digunakan untuk membatik putri-putri pangeran. Di sebelah dalem ageng terdapat sebagai gandhok yang berbentuk memanjang di kiri kanan dalem ageng, yang berisi kamar-kamar yang dihuni anggota keluarga. Di belakang dalem ageng di bangun taman yang teratur baik. Disekeliling taman terdapat kamar-kamar yang dihuni magersari, yaitu

77

Ibid., hlm. 61.

78

orang yang biasanya mengabdi pada keluarga bangsawan yang jumlahnya

mencapai puluhan orang.79 Di taman belakang biasanya terdapat sumur, yang

digunakan untuk memenuhi kebutuhan air. Selain tanaman hias, taman belakang juga diberi tanaman seperti sayur-sayuran dan pohon buah-buahan yang dapat

memenuhi kebutuhan makanan sehari-hari.80

Dalem Kepangeranan terletak di luar dan dalam beteng keraton atau Baluwarti. Dalem Kepangeranan yang berada di dalam tembok Baluwarti sebagian besar dimiliki oleh pangeran sengkan atau pangeran menantu dan pejabat pemerintahan, tetapi beberapa juga dimiliki oleh pangeran putra.

Sebagian besar pangeran putra tinggal di luar tembok Baluwarti.81 Dalam tradisi,

pangeran yang diwajibkan tinggal di dalam tembok Baluwarti adalah pangeran adipati anom dan Pangeran Hangabehi. Pangeran adipati anom sebagai pewaris tahta berkedudukan di Kadipaten, yang terletak di sebelah timur Kedhaton. Hal ini menunjukkan bahwa pangeran adipati anom atau putra mahkota adalah orang

kedua yang berkuasa di keraton setelah raja.82 Pangeran Hangabehi bertempat

tinggal di Dalem Ngabean. Sebagai putra tertua raja yang lahir dari selir, dia harus tinggal di dalam tembok Baluwarti. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, Pangeran Hangabehi adalah calon pengganti raja, apabila raja tidak memiliki putra dari

permaisuri.83 Dalem Ngabean awalnya terletak di utara cepuri keraton, pada masa

79

Ibid., hlm. 31-32.

80

Marleen Heins (ed.), op.cit., hlm. 239.

81

Darsiti Soeratman, op.cit., hlm. 93.

82

Ibid., hlm. 93.

83

Sunan Paku Buwana XI Dalem Ngabean pindah di selatan cepuri keraton, sedangkan Dalem Ngabean lama dijadikan Sasana Pahargyan. Pada masa Sunan Paku Buwana XII namanya diubah menjadi Dalem Sasana Mulya.

Dalem Kepangeranan yang berada di dalam tembok Baluwarti antara lain Dalem Mangkubumen, Dalem Suryahamijayan, Dalem Sasana Mulya, Dalem

Mlayakusuman, Dalem Suryaningratan, Dalem Natanegaran, Dalem

Cakranegaran atau Cakradiningratan, Dalem Ngabean, dan Dalem

Brotodingratan.84 Dalem Kepangeranan di dalam Baluwarti yang dimiliki oleh

pangeran putra adalah Dalem Mangkubumen dihuni oleh K.G.P.Ad. Harya Mangkubumi, putra Sunan Paku Buwana XI, Dalem Suryahamijayan dihuni oleh K.P.H. Suryahamijaya, putra Sunan Paku Buwana X, Dalem Mlayakusuman dihuni oleh K.P.H. Mlayakusuma, putra Sunan Paku Buwana IX, Dalem Sasana Mulya, dihuni pangeran putra yang bergelar Hangabehi sampai masa Sunan Paku Buwana X, Dalem Ngabean, dihuni pangeran putra yang bergelar Hangabehi sejak masa Sunan Paku Buwana XI. Dalem Kepangeranan lainnya di dalam tembok Baluwarti dimiliki oleh pangeran sengkan atau pangeran menantu.

Beberapa dalem di dalam tembok beteng Baluwarti dimiliki oleh pejabat bupati. Dalem Kepangeranan di Baluwarti yang dimiliki pejabat bupati antara lain Dalem Purwadiningratan milik Bupati Nayaka Purwadiningrat, Dalem Mangkuyudan milik bupati arsitek Mangkuyuda, Dalem Wiryadiningratan milik Bupati Wiryadiningrat, dan Dalem Widhaningratan milik Bupati Hurdenas Widhaningrat. Dalem Wiryadiningratan pada masa Sunan Paku Buwana X,

84

diberikan kepada Bupati Jayadiningrat, sehingga berubah nama menjadi Dalem

Jayadiningratan.85 Keluarga Bupati Hurdenas Widhaningrat semula memiliki tiga

buah dalem di dalam tembok beteng Baluwarti, sehingga kawasan sekitarnya disebut kampung Hurdenasan. Dari tiga dalem tersebut, sebuah didiami oleh Bupati Hurdenas Widhaningrat dan dua dalem lainnya didiami putra dan menantunya. Salah satu putranya, K.R.M.T. Bratadiningrat menikah dengan G.R.Aj. Kusdinah, putri Sunan Paku Buwana X dengan selir R.Ay. Pandamrukmi II, kemudian dalem tersebut bernama Dalem Bratadiningratan. Pada masa Sunan Paku Buwana XI, Dalem Widhaningratan diambil alih dan diberikan kepada K.G.P.Ad. Mangkubumi, putra Sunan Paku Buwana XI, yang kemudian disebut Dalem Mangkubumen.86

Dalem Kepangeranan yang terletak di luar tembok Baluwarti biasanya dimiliki oleh pangeran putra dan dibeli dengan harta pangeran sendiri. Dalem Kepangeranan di luar Baluwarti antara lain Dalem Sumabratan atau Kusumabratan, Dalem Jayasuman atau Jayakusuman, Dalem Hadiwijayan, Dalem

Suryabratan, Dalem Wuryaningratan, dan Dalem Kusumayudan.87 Sebagian besar

Dalem Kepangeranan yang disebutkan terletak di Kampung Gajahan atau sekitar Alun-Alun Kidul. Dalem Kepangeranan yang disebutjan di atas, semua dimiliki

85

Setelah rumah bupati Wiryadiningrat diserahkan kepada Bupati Jayadiningrat, bupati Wiryadiningrat mendapatkan ganti rugi bekas Dalem Natapuran di Kampung Gading dari Sunan Paku Buwana X, lihat: Darsiti Soeratman, op.cit., hlm. 109.

86

Ibid.

87

oleh putra Sunan Paku Buwana X, kecuali Dalem Wuryaningratan, yang dihuni K.R.M.T.H. Wuryaningrat, menantu Sunan Paku Buwana X.

Dokumen terkait