Al-Quran dalam sebuah ayatnya menegaskan bahwa Allah Swt senantiasa menjaga para nabi agar wahyu Ilahi bisa sampai kepada manusia secara tepat dan akurat:
(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang gaib, maka Dia tidak menunjukkan kepada seorang pun tentang yang gaib itu.
Kecuali kepada rasul yang diridai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. Supaya Dia mengetahui, bahwa sesungguhnya rasul-rasul itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya, sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu persatu.66
Ayat ini menjelaskan dua lapis penjagaan, yaitu penjagaan yang dilakukan oleh para malaikat dari setiap arah dan
66 QS. al-Jin [72]:26-28.
Pustaka
Syiah
penjagaan dari Allah terhadap para nabi dan para malaikat itu sendiri.
2. Kemaksuman dari Maksiat dan Dosa
Dalam mengamalkan hukum-hukum syariat yang dibawanya, para nabi juga harus maksum dari dosa, maksiat dan ketergelinciran. Artinya, mereka tidak mungkin akan melakukan tindakan haram. Untuk memastikan kemaksuman jenis ini kita pun memiliki dalil rasional dan tekstual.
Dalil Rasional
Ajaran Ilahi tidak hanya berupa kata-kata, melainkan juga perbuatan. Sebagaimana sabda para nabi berfungsi sebagai pembuka jalan kebahagiaan bagi manusia, amal perbuatan mereka juga memiliki fungsi yang sama dalam bentuk yang bahkan lebih efektif. Banyak riwayat yang menyebutkan supaya umat diseru dan diberi petunjuk jangan hanya dengan kata-kata, tetapi harus dengan perbuatan; karena perbuatan memiliki pengaruh yang lebih besar daripada sebatas ucapan. Karena itu, jika para nabi menyeru umat dengan sabda supaya tidak tergelincir pada perbuatan haram lalu mereka sendiri ternyata melakukannya, maka perilaku mereka itu akan berdampak pada kebingungan umat dalam menentukan jalan yang benar.
Pada giliran selanjutnya misi pengutusan nabi pun tidak akan terealisasi. Hal ini jelas bertolak belakang dengan hikmat Ilahiah.
Selain bertugas mengajarkan agama Ilahi, para nabi juga mengemban kewajiban memberikan tarbiah (pembinaan) dan tazkiyah (penyucian jiwa) kepada manusia. Para nabi bukan sekedar guru, tapi juga pembina. Pada lingkup tarbiah, perilaku
Pustaka
Syiah
pemberi tarbiah dan kesesuaian tingkah laku dengan apa yang dikatakannya tentu sangat berpengaruh pada diri orang yang dibina. Jika pembina sampai melakukan perbuatan yang tak patut dan menyalahi kata-katanya sendiri maka ini tentu sangat buruk dampaknya bagi proses tarbiah.
Fungsi nabi sebagai pemberi tarbiah, berikut tugas mereka membangun kemuliaan akhlak manusia, mengharuskan keterjagaan mereka dari segala noda dan dosa agar mereka benar-benar dipercaya oleh umat manusia dan selanjutnya dapat menunaikan tugasnya dengan sempurna. Sebaliknya, jika mereka ternyata juga terlibat dalam dosa dan maksiat praktis maka mereka akan kehilangan fungsinya sebagai sosok pemberi bimbingan Ilahiah. Tak hanya itu, mereka bahkan secara tidak langsung turut mengajak manusia kepada dosa dan maksiat, dan ini tentu juga bertolak belakang dengan hikmat Ilahiah.
Atas dasar ini, para nabi juga harus maksum sejak mereka menghirup nafas kehidupan. Jika tidak demikian maka orang-orang yang ingkar dapat mengungkit titik-titik kelabu dalam kehidupan dan masa lalu para nabi untuk merusak citra mereka.
Jika ini terjadi maka risalah mereka pun akan berhadapan dengan masalah besar, dan ini menyalahi hikmat Ilahi.
Para nabi juga harus bersih dari karakter buruk dan penyakit-penyakit jasmani yang tidak disukai manusia, seperti penyakit-penyakit menular. Sebagian penyakit, termasuk penyakit menular, serta karakter buruk seperti pemarah, sangat tidak disukai manusia sehingga penderitanya cenderung dijauhi oleh masyarakat.
Pustaka
Syiah
Para nabi harus bersih dari kekurangan rohani dan jasmani seperti itu agar tidak cenderung dijauhi oleh manusia.
Dalil Tekstual
Kemaksuman para nabi dari segala dosa dan maksiat juga mendapat penekanan dalam berbagai ayat suci al-Quran, di antaranya sebagai berikut:
1. Al-Quran menyebut para nabi sebagai insan yang disucikan oleh Allah sehingga tidak ada peluang bagi setan untuk mengendalikan mereka.67 Dengan demikian, mereka terpelihara dari segala dosa.
2. Al-Quran menyebutkan bahwa imamah (kepemimpinan) merupakan janji Ilahi yang tidak mungkin mencakup orang-orang yang zalim.68 Kezaliman di sini memiliki makna luas yang mencakup kezaliman terhadap diri sendiri, terhadap hak orang lain dan terhadap Allah—terutama kezaliman berupa syirik. Kezaliman adalah kata yang maknanya sejajar dengan maksiat dan dosa. Dengan demikian, kemaksuman para imam adalah perkara yang sudah jelas, dan karena sebagian nabi memiliki maqam imamah, dan dari sisi lain kenabian juga merupakan janji Allah, maka para nabi pun harus terpelihara dari sentuhan dosa dan maksiat.
67 Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya. kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlas di antara mereka.”
(QS. Shad [38]:82-83)
68 “....dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfi rman:
‘Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia.”
Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku.’ Allah berfi rman: ‘Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim.’” (QS. al-Baqarah [2]:124)
Pustaka
Syiah
3. Al-Quran memandang para nabi sebagai hamba-hamba pilihan yang mendapat petunjuk dari Allah Swt.69 Manusia yang telah mendapat petunjuk dari Allah tidak mungkin dapat disesatkan oleh kekuatan apapun.70 Dengan demikian, para nabi tidak mungkin mengalami kesesatan dalam bentuk apapun, termasuk kesesatan berupa dosa dan maksiat. Oleh karena mereka adalah fi gur-fi gur yang tidak mungkin tersentuh dosa dan maksiat, maka para nabi adalah maksum dari dosa dan maksiat.
3. Kemaksuman dari Salah dan Lupa dalam Urusan Individual dan Sosial
Dalam urusan sehari-hari dan pribadi pun para nabi harus terjaga dari kesalahan, khilaf, alpa dan lupa, sebab semua itu dapat mengurangi kepercayaan umat kepada mereka.
Memang, salah dan lupa dalam urusan biasa dan sehari-hari tidaklah identik dengan kesalahan dalam penjelasan hukum-hukum Ilahi. Yakni, tidak ada masalah logis seandainya seorang nabi—yang maksum dalam menjelaskan ajaran agama—
namun dalam urusan sehari-hari ia juga melakukan kekhilafan yang dapat dimaklumi oleh orang-orang yang mengerti.
Namun, persepsi ini juga tidak benar. Sebab, orang awam sulit membedakan antara urusan agama dan urusan sehari-hari sehingga jika mereka melihat seorang nabi melakukan kesalahan dalam urusan sehari-hari maka akan dengan
69 “...dan Kami lebihkan (pula) derajat sebagian dari bapak-bapak mereka, keturunan dan saudara-saudara mereka. Dan Kami telah memilih mereka (untuk menjadi nabi-nabi dan rasul-rasul) dan Kami menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (QS. al-An’am [6]:87)
70 “...dan barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak seorang pun yang dapat menyesatkannya.”(QS. al-Zumar [39]:37)
Pustaka
Syiah
mudah mereka mengaitkannya pada seluruh ajaran nabi dan menjalarkannya ke wilayah kemaksuman lainnya. Akibatnya, kepercayaan mereka kepada nabi akan memudar, dan ini tentu juga menyalahi misi dan tujuan pengutusan nabi.