• Tidak ada hasil yang ditemukan

Manusia adalah makhluk yang mendapat anugerah akal, indra dan pengetahuan. Namun, apakah manusia masih memerlukan keberadaan seorang nabi meskipun sudah berbekal anugerah tersebut? Apakah bekal itu masih belum cukup bagi manusia untuk mengetahui jalan kebahagiaan sejatinya? Sesuai teks-teks suci Islam dan berbagai argumentasi logis, para mutakalim Islam menegaskan bahwa manusia senantiasa memerlukan ajaran nabi-nabi. Menurut mereka, kebahagiaan manusia bergantung pada ajaran nabi tersebut.

Untuk memperjelas permasalahan ini, sebelum kita sampai pada petikan kesimpulan, marilah kita paparkan beberapa tesis sebagai berikut:

Pustaka

Syiah

1. Pencipta alam semesta, termasuk manusia, adalah Allah, Tuhan Yang Mahabijaksana. Karena itu, sebagai Zat Yang Mahabijaksana tidak mungkin Allah menciptakan alam semesta ini dengan sia-sia dan tanpa makna.

2. Setiap makhluk diciptakan untuk mencapai kesempurnaannya. Karena itu, sebagai Dzat Yang Mahabijaksana, Allah pasti menyediakan kesempatan dan sarana bagi setiap makhluk untuk menggapai kesempurnaan.

3. Kehidupan manusia tidak terbatas pada kehidupan duniawi belaka. Sebaliknya, setelah kehidupan duniawi ini manusia akan memasuki kehidupan lain yang bersifat kekal dan merupakan penghakikatan dari kehidupannya di dunia.

Karena itu setiap pikiran dan amal perbuatan manusia di dunia yang fana berdampak pada kehidupan bakanya di akhirat. Karena itu, manusia harus mengenal dengan baik dan tepat hakikat ini, terutama berkenaan dengan Tuhan dan kehidupan akhirat.

4. Pengetahuan tentang hakikat tersebut berada di luar jangkauan sumber dan alat pengetahuan manusia seperti akal, indra dan kognisinya. Adanya berbagai pandangan dan teori yang berseberangan satu sama lain tentang Tuhan, kebangkitan sesudah kematian, etika, tatanan sosial, hukum dan lain sebagainya membuktikan perihal ketidak-matangan dan keterbatasan akal dan pikiran manusia. Selama abad-abad terakhir ini, betapapun ilmu pengetahuan manusia sudah sedemikian maju dan pesat,

Pustaka

Syiah

namun saat demi saat selalu muncul teori dan konsep baru yang menggeser teori dan konsep sebelumnya. Selain itu, masih banyak misteri kehidupan dan alam semesta yang belum diketahui oleh manusia. Fisikawan terkemuka Albert Einstein mengatakan, “Seluruh pengetahuan manusia, jika dibandingkan dengan apa yang belum diketahuinya, masih ibarat tangga kecil untuk menaiki ketinggian ruang semesta yang tak terhingga.”

Dalam ilmu ketuhanan, meskipun keyakinan terhadap Tuhan adalah sesuatu yang bersifat fi tri, namun terjadi banyak perselisihan tentang Tuhan di tengah umat manusia. Kaum komunis, misalnya, mendudukkan materi dalam posisi Tuhan, dan ada pula kalangan yang masih memuja berhala, sedangkan umat Kristiani meyakini doktrin Trinitas.

Di ranah etika, para pakar juga berbeda pendapat mengenai tolok ukur kebaikan. Ada yang berpendapat bahwa tolok ukurnya adalah kenikmatan, sementara menurut yang lain adalah keuntungan materi. Ada pula yang berpendapat tolok ukurnya adalah kesepakatan, betapapun kesepakatan itu bernuansa politik dan partisan. Di luar mereka, kaum beriman terbelah dalam dua pendapat; satu pendapat meyakini tolok ukur kebaikan adalah perintah Allah semata, sedangkan yang lain meyakini tolok ukurnya adalah akal.

Perbedaan pendapat di tengah umat manusia ini praktis memicu perbedaan keyakinan di semua bidang pengetahuan.

Namun demikian, paparan tentang perbedaan ini bukan berarti kita mengingkari kesahihan pengenalan akal, sebab akal terbukti

Pustaka

Syiah

telah menghasilkan banyak pengetahuan yang solid dan benar.

Hanya saja akal tetap tidak mampu menghasilkan data-data yang cukup untuk manusia. Akal mampu membedakan keburukan kezaliman dan kebaikan keadilan. Namun, akan mengalami kesulitan ketika hendak menentukan bentuk konkret atau objek luaran (misdaq)-nya akibat berbagai faktor. Contohnya, akal manusia mengetahui bahwa keadilan itu baik, namun akal kesulitan untuk memastikan bentuk konkretnya terkait hukum waris antara laki-laki dan perempuan; apakah harus sama, ataukah justru harus berbeda, dan apa tolok ukurnya?

Atas dasar ini, indra, akal dan kesadaran manusia semata tidak cukup untuk menyingkap jalan kebahagiaan yang bersifat komprehensif. Karena itu manusia memerlukan informasi lain yang terjamin kebenarannya dalam penentuan jalan tersebut.

Tuhan Yang Mahabijaksana telah menciptakan manusia agar dengan ikhtiarnya dapat menggapai kesempurnaan dan kebahagian sejati. Kehidupan manusia juga tidak terbatas pada kehidupan duniawi, melainkan juga mencakupi kehidupan lain yang akan menyusulnya dan bersifat kekal, serta merupakan buah dan hasil dari perjalanan hidupnya di dunia. Dalam konteks ini, agar dapat menempuh jalan yang benar manusia harus tahu persis faktor-faktor kunci kebahagiaan sejatinya. Namun, pengetahuan itu berada di luar kapasitas dan kemampuan alat pengetahuan manusia sehingga dibutuhkan sarana lain, yakni ajaran para nabi. Dengan pencerahan wahyu dan ajaran Ilahi itulah akal manusia akan dapat mengetahui kesempurnaan dan kebahagiaan sejatinya. Artinya, adalah bertolak belakang

Pustaka

Syiah

dengan kemahabijaksanaan-Nya apabila Allah menciptakan manusia untuk kesempurnaan dan kebahagiaannya tetapi kemudian membiarkan dan tidak menunjukkan jalan kesempurnaan dan kebahagiaan tersebut.

Al-Quran dan berbagai riwayat suci juga menegaskan bahwa manusia memerlukan ajaran para nabi guna mengetahui jalan lurus dan beruntung tersebut. Al-Quran antara lain menyebutkan:

Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan.43

Perselisihan pendapat di tengah manusia adalah bukti bahwa pikiran dan pengetahuan manusia masih belum cukup matang sehingga memerlukan pencerahan para nabi, yang membawa ajaran Ilahi, untuk menjelaskan hakikat perkara yang diperselisihkan. Beberapa ayat al-Quran juga menegaskan bahwa nabi-nabi diutus demi membawa ajaran yang tidak mungkin dapat diketahui manusia tanpa bantuan wahyu.44

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Imam Ali Ridha as pernah menjelaskan fi losofi pengutusan para nabi sebagai berikut:

43 QS. al-Baqarah [2]:213.

44 Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu al-Kitab dan al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui. (QS. al-Baqarah [2]:151)

Pustaka

Syiah

“Karena daya pemikian manusia tidak mampu mengetahui keuntungan dan kerugian, dan Allah Mahamulia “mesti” bertajalli dan berbicara dengan manusia, maka harus ada utusan Allah yang menjadi perantara antara Dia dan umat manusia, dengan tugas menjelaskan segala bimbingan (perintah, larangan dan budi pekerti) kepada manusia agar manusia dapat mengetahui apa yang akan membawa keuntungan dan kerugian bagi dirinya. Semua ini adalah karena pada bawaan manusia tidak tersedia alat yang cukup untuk mengetahui sendiri kebutuhan-kebutuhannya.”45

Dengan riwayat ini kita dapat menyimpulkan bahwa dari satu sisi akal dan pikiran manusia tidak memiliki kapasitas yang cukup untuk menghasilkan dan melengkapi data-data yang solid tentang keuntungan dan kerugian sejati manusia.

Sementara dari sisi lain, karena tidak semua orang berkelayakan untuk menerima wahyu Ilahi, maka Allah mengutus para nabi supaya manusia dapat menghimpun informasi yang akurat tentang kebahagian dan kesempurnaan dirinya melalui para insan pilihan tersebut.

Dari argumentasi ini dapat dipetik kesimpulan bahwa sejak awal diciptakan, manusia memerlukan keberadaan nabi agar ia bisa mengetahui dengan jelas jalan hidupnya yang lurus dan benar (melalui wahyu Ilahi).