PEMBUKTIAN DAN DALUARSA
C. Daluarsa atau Lewat Waktu Menurut Pasal 1946 KUH
Perdata, lewat waktu atau daluarsa adalah suatu sarana untuk memperoleh sesuatu atau untuk dibebaskan dari suatu perikatan dengan lewat suatu waktu tertentu dan atas syarat-syarat yang ditentukan oleh undang-undang. Daluarsa untuk memperoleh hak milik atas suatu barang dinamakan daluarsa
acquisitive, sedangkan daluarsa untuk dibebaskan dari suatu perikatan dinamakan daluarsa extinctif.
Dengan lewat 30 tahun hapus perikatan hukum dan tinggal perikatan bebas, yaitu suatu perikatan yang
boleh dipenuhi debitur tetapi tidak dapat dituntut oleh kreditur melalui pengadilan. Dalam Pasal 1967 KUH Perdata ditentukan, bahwa segala tuntutan hukum baik yang bersifat kebendaan maupun yang bersifat perseorangan, hapus karena daluarsa apabila lewat dari 30 tahun, sedangkan siapa yang menunjukan adanya daluarsa tidak usah mempertunjukkan alas hak, lagi pula tidak dapat diajukan terhadap sesuatu tangkisan yang didasarkan pada itikat yang buruk.
Daluwarsa atau lewat waktu menurut Pasal 1946 KUH Perdata ialah suatu sarana hukum untuk memperoleh sesuatu atau suatu alasan untuk dibebaskan dari suatu perikatan dengan lewatnya waktu tertentu dan dengan terpenuhinya syarat-syarat yang ditentukan dalam undang-undang. Pasal 1967 KUH Perdata menjelaskan bahwa, “semua tuntutan hukum, baik yang bersifat kebendaan maupun yang bersifat perorangan, hapus karena lewat waktu dengan lewatnya waktu 30 tahun, sedangkan orang yang menunjuk adanya lewat waktu itu, tidak usah menunjukkan suatu alas hak, dan terhadapnya tak dapat diajukan suatu tangkisan yang didasarkan pada itikad buruk”.
Dalam Pasal 1968 KUH Perdata, untuk para ahli dan pengajar dalam bidang kebudayaan dan ilmu pengetahuan, tuntutan para penguasa rumah penginapan dan rumah makan, tuntutan para buruh yang upahnya harus dibayar dalam bentuk uang tiap-tiap kali lewat waktu yang kurang dari satu triwulan untuk mendapatkan upah mereka serta jumlah kenaikan upah itu,
semua tuntutan ini lewat waktu dengan lewatnya waktu satu tahun.
Selanjutnya, Pasal 1969 KUH Perdata, tuntutan para dokter dan ahli obat-obatan,tuntutan para jurusita, tuntutan para pengelola sekolah berasrama, tuntutan para buruh kecuali mereka yang dimaksudkan dalam Pasal 1968, semua tuntutan ini lewat waktu dengan lewatmya waktu 2 tahun.
Pasal 1970 KUH Perdata, tuntutan para advokat dan pengacara,
hapus karena lewat waktu dengan lewat waktu 2 tahun, terhitung sejak hari diputuskannya perkara, hari tercapainya perdamaian antara pihak-pihak yang berperkara, atau hari dicabutnya kuasa pengacara itu, mengenai hal perkara yang tidak selesai, tak dapatlah mereka menuntut pembayaran persekot dan jasa yang telah ditunggak lebih dari sepuluh tahun. Kemudian tuntutan para notaris untuk persekot dan upah mereka, lewat waktu juga dengan lewatnya waktu dua tahun, terhitung sejak hari dibuatnya akta yang bersangkutan.
Pasal 1971 KUH Perdata, tuntutan para tukang kayu, tukang batu, dan tukang lainnya, tuntutan para pengusaha toko, hapus karena lewat waktu dengan lewatnya waktu 5 tahun. Ada 2 (dua) macam daluarsa (Verjaring), yaitu:
1. Acquisitieve Verjaring
Acquisitieve verjaring adalah lewat waktu sebagai cara memperoleh hak milik atas suatu benda. Syarat adanya daluwarsa ini harus ada itikad baik dari pihak yang menguasai benda tersebut. Seperti dalam Pasal 1963
KUH Perdata, bahwa “ Siapa yang dengan itikad baik, dan berdasarkan suatu alas hak yang sah, memperoleh suatu benda tak bergerak, suatu bunga, atau suatu piutang lain yang tidak harus dibayar atas tunjuk, memperoleh hak milik atasnya dengan jalan daluarsa, dengan suatu penguasaan selama 20 tahun “. “ Siapa yang dengan itikad baik menguasainya selama 30 tahun, memperoleh hak milik dengan tidak dapat dipaksa untuk mempertunjukkan alas haknya”.
Seorang bezitter yang jujur atas suatu benda yang tidak bergerak lama kelamaan dapat memperoleh hak milik atas benda tersebut. Apabila ia bisa menunjukkan suatu tanda yang sah, maka dengan daluarsa 20 tahun sejak mulai menguasai benda tersebut. Misalnya, Nisa menguasai tanah perkarangan tanpa adanya tanda yang sah selama 30 tahun. Selama waktu itu tidak ada gangguan dari pihak ketiga, maka demi hukum, tanah pekarangan itu menjadi miliknya dan tanpa dipertanyakan alas hukum tersebut. 3. Extinctieve Verjaring
Extinctieve verjaring adalah seseorang dapat dibebaskan dari suatu penagihan atau tuntutan hukum. Oleh undang-undang ditetapkan, bahwa dengan lewatnya waktu 30 tahun, setiap orang dibebaskan dari semua penagihan atau tuntutan hukum. Ini berarti, bila seseorang digugat untuk mebayar suatu hutang yang sudah lebih dari 30 tahun lamanya, ia dapat menolak gugatan itu dengan hanya mengajukan bahwa ia selama 30 tahun belum pernah menerima tuntutan atau gugatan itu. Misalnya, Dea telah meminjam uang kepada Syamsul
sebesar Rp.10.000.000,00 . Dalam jangka waktu 30 tahun, uang itu tidak ditagih oleh Syamsul, maka berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku, maka Dea dibebaskan untuk membayar utangnya kepada Syamsul.
Pelepasan lewat waktu seperti apa yang dijelaskan dalam Pasal 1948 KUH Perdata, yaitu pelepasan lewat waktu dapat dilakukan secara tegas atau secara diam-diam. Pelepasan secara diam-diam disimpulkan dari suatu perbuatan yang menimbulkan dugaan bahwa seseorang tidak hendak menggunakan suatu hak yang telah diperolehnya.
Pelepasan daluarsa dibagi menjadi 2 (dua), yaitu :
1. Dilakukan secara tegas. Seseorang yang melakukan perikatan tidak diperkenankan melepaskan daluarsa sebelum tiba waktunya, namun apabila ia telah memenuhi syarat-syarat yang ditentukna dan waktu yang telah ditentukan pula, maka ia berhak melepaskan daluarsanya. 2. Dilakukan secara diam-diam.
Pelepasan yang dilakukan secara diam-diam ini terjadi karena si pemegang daluarsa tidak ingin mempergunakan haknya dalam sebuah perikatan
Literatur:
Afandi, Ali, 1997, Hukum Waris, Hukum Keluarga, Hukum Pembuktian, Rineka Cipta, Jakarta.
Mertokusumo, Sudikno, 2000, Hukum Acara Perdata Indonesia, Edisi VII Liberty, Yogyakarta.
Riduan Syahrani, 2004, Seluk Beluk dan Azas-azas Hukum Perdata, Alumni, Bandung.
Subekti, 2003, Pokok-pokok Hukum Perdata, Intermasa, Jakarta. Subekti dan R. Tjitrosudibio, 2001,
Kitab Undang-undang Hukum Perdata, Pradnya Paramita, Jakarta.
Vollmar, 1996, Pengantar Hukum Perdata I, Rajawali Press, Jakarta
Yahya, M. Harahap, 2011, Hukum Acara Perdata, Sinar Grafika, Jakarta.
Catatan:
Setelah selesai Pokok Bahasan ini akan dilaksanakan Ujian Akhir Semester. Soal Latihan:
1. Apa yang dimaksud dengan pembuktian?
2. Apa yang dimaksud dengan akta di bawah tangan dan bagaimana kedudukannya sebagai alat bukti? 3. Sebutkan dan jelaskan mengenai
dengan alat-alat bukti?
4. Apa yang dimaksud dengan daluarsa?
5. Jelaskan tentang daluarsa