memperkirakan keluarnya Inggris dari keanggotaan Uni-Eropa diperkirakan dapat menurunkan kinerja perekonomian Inggris. IMF pada rilis terbarunya (bulan Juli 2016) merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Inggris tahun 2016 dan 2017 ke tingkat yang lebih rendah.
Dalam jangka pendek, pengumuman keluarnya Inggris dari keanggotaan Uni-Eropa cukup berdampak bagi perekonomian regional yang tercermin dari pelemahan nilai tukar dan harga saham kawasan.
Dalam jangka menengah, dampak Brexit terhadap perekonomian nasional secara langsung dapat ditransmisikan melalui kegiatan ekspor Indonesia ke Inggris. Namun demikian, pangsa ekspor nasional ke Inggris tidak terlalu signifikan. Pada tahun 2015, pangsa ekspor nasional ke Inggris terhadap seluruh ekspor
DAMPAK BRITAIN EXIT TERHADAP EKONOMI
PROVINSI JAWA TENGAH
NEGARA 2015
Sumber : IMF
Tabel 1. Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Beberapa Negara oleh IMF
CHINA US ASEAN JAPAN UK 2016 REVISI TERBARU IMF 2017 REVISI TERBARU IMF 6.9 2.4 4.8 0.5 2.2 6.6 2.2 4.8 0.3 1.7 +0,1 -0,2 0,0 -0,2 -0,2 6.2 2.5 5.1 0.1 1.3 0.0 0.0 0.0 -0.2 -0.9
Grafik 2.Perkembangan Nilai Tukar Kawasan
Sumber: Bloomberg (3.00) (2.50) (2.00) (1.50) (1.00) (0.50) (0.00) KRW MYR SGD INR IDR PHP CNY THB -2.44 -1.86 -1.37 -0.96 -0.88 -0.79 -0.54 -0.47
PERUBAHAN NILAI TUKAR ASIA 24 JUNI 2016 VS 23 JUNI 2016 -3.09 -2.72 -2.11 -1.70 -1.30 -1.29 -0.82 -0.36
Grafik 3.Perkembangan Harga Saham Kawasan
Sumber: Bloomberg KOREA INDIA SINGAPORE THAILAND CINA PHILIPINES INDONESIA MALAYSIA (4.00) (3.00) (2.00) (1.00) (0.00)
PERUBAHAN SAHAM ASIA (23 - 24 JUNI 24 JUNI 2016 VS 23 JUNI 2016
Grafik 1.Pangsa Ekspor Nasional ke Beberapa Negara Utama
SUPLEMEN II
Grafik 4.Pangsa Ekspor Jawa Tengah dan Pangsa Ekspor Negara Tujuan Jawa Tengah ke Inggris
Sumber: Bloomberg
Hasil asesmen menunjukkan bahwa dampak tidak langsung fenomena Brexit terhadap perekonomian Jawa Tengah ditransmisikan melalui kegiatan ekspor ke negara mitra dagang utama Inggris juga diperkirakan tidak signifikan. Data menunjukkan bahwa pangsa ekspor negara mitra dagang utama Jawa Tengah ke Inggris juga tidak besar. Meskipun terdapat beberapa negara dengan pangsa ekspor ke Inggris yang besar, namun di sisi lain pangsa ekspor Jawa Tengah ke negara-negara tersebut tidak besar.
Berdasarkan hasil asesmen dampak langsung maupun tidak langsung, diperkirakan dampak Brexit bagi perekonomian Jawa Tengah tidak besar. Namun demikian, para pelaku ekspor diharapkan dapat terus melakukan diversifikasi negara tujuan ekspor untuk dapat meminimalisasi dampak gejolak negara tujuan bagi kinerja ekspor di masa mendatang.
SUPLEMEN II
nasional tercatat sebesar 0,29% (sumber: UN Comtrade).
Di tingkat Provinsi Jawa Tengah, dampak langsung yang timbul sebagai akibat dari Brexit yang ditransmisikan melalui kegiatan ekspor Jawa Tengah ke Inggris juga diperkirakan tidak akan signifikan berpengaruh terhadap perekonomian Jawa Tengah. Hal ini sejalan dengan kecilnya pangsa ekspor Jawa Tengah ke Inggris. Pada tahun 2015, pangsa ekspor Jawa Tengah ke Inggris tercatat sebesar 2,5%.
Sementara itu, dampak tidak langsung Brexit terhadap perekonomian Jawa Tengah dapat terjadi melalui jalur perdagangan antara negara tujuan ekspor Jateng ke Inggris. Hal ini sejalan dengan posisi Jateng yang cukup banyak melakukan ekspor bahan baku untuk mendukung ekspor negara tujuan ke berbagai negara, termasuk Inggris.
Keluarnya Inggris dari keanggotaan Uni-Eropa (Brexit) diperkirakan dapat memberikan dampak bagi perkembangan perekonomian dunia melalui negara-negara mitra dagangnya, termasuk Indonesia dan juga Provinsi Jawa Tengah secara khusus. Berbagai analis memperkirakan keluarnya Inggris dari keanggotaan Uni-Eropa diperkirakan dapat menurunkan kinerja perekonomian Inggris. IMF pada rilis terbarunya (bulan Juli 2016) merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Inggris tahun 2016 dan 2017 ke tingkat yang lebih rendah.
Dalam jangka pendek, pengumuman keluarnya Inggris dari keanggotaan Uni-Eropa cukup berdampak bagi perekonomian regional yang tercermin dari pelemahan nilai tukar dan harga saham kawasan.
Dalam jangka menengah, dampak Brexit terhadap perekonomian nasional secara langsung dapat ditransmisikan melalui kegiatan ekspor Indonesia ke Inggris. Namun demikian, pangsa ekspor nasional ke Inggris tidak terlalu signifikan. Pada tahun 2015, pangsa ekspor nasional ke Inggris terhadap seluruh ekspor
DAMPAK BRITAIN EXIT TERHADAP EKONOMI
PROVINSI JAWA TENGAH
NEGARA 2015
Sumber : IMF
Tabel 1. Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Beberapa Negara oleh IMF
CHINA US ASEAN JAPAN UK 2016 REVISI TERBARU IMF 2017 REVISI TERBARU IMF 6.9 2.4 4.8 0.5 2.2 6.6 2.2 4.8 0.3 1.7 +0,1 -0,2 0,0 -0,2 -0,2 6.2 2.5 5.1 0.1 1.3 0.0 0.0 0.0 -0.2 -0.9
Grafik 2.Perkembangan Nilai Tukar Kawasan
Sumber: Bloomberg (3.00) (2.50) (2.00) (1.50) (1.00) (0.50) (0.00) KRW MYR SGD INR IDR PHP CNY THB -2.44 -1.86 -1.37 -0.96 -0.88 -0.79 -0.54 -0.47
PERUBAHAN NILAI TUKAR ASIA 24 JUNI 2016 VS 23 JUNI 2016 -3.09 -2.72 -2.11 -1.70 -1.30 -1.29 -0.82 -0.36
Grafik 3.Perkembangan Harga Saham Kawasan
Sumber: Bloomberg KOREA INDIA SINGAPORE THAILAND CINA PHILIPINES INDONESIA MALAYSIA (4.00) (3.00) (2.00) (1.00) (0.00)
PERUBAHAN SAHAM ASIA (23 - 24 JUNI 24 JUNI 2016 VS 23 JUNI 2016
Grafik 1.Pangsa Ekspor Nasional ke Beberapa Negara Utama
SUPLEMEN II
Grafik 4.Pangsa Ekspor Jawa Tengah dan Pangsa Ekspor Negara Tujuan Jawa Tengah ke Inggris
Sumber: Bloomberg
Hasil asesmen menunjukkan bahwa dampak tidak langsung fenomena Brexit terhadap perekonomian Jawa Tengah ditransmisikan melalui kegiatan ekspor ke negara mitra dagang utama Inggris juga diperkirakan tidak signifikan. Data menunjukkan bahwa pangsa ekspor negara mitra dagang utama Jawa Tengah ke Inggris juga tidak besar. Meskipun terdapat beberapa negara dengan pangsa ekspor ke Inggris yang besar, namun di sisi lain pangsa ekspor Jawa Tengah ke negara-negara tersebut tidak besar.
Berdasarkan hasil asesmen dampak langsung maupun tidak langsung, diperkirakan dampak Brexit bagi perekonomian Jawa Tengah tidak besar. Namun demikian, para pelaku ekspor diharapkan dapat terus melakukan diversifikasi negara tujuan ekspor untuk dapat meminimalisasi dampak gejolak negara tujuan bagi kinerja ekspor di masa mendatang.
SUPLEMEN III
bertambah luas, dimana semula hanya 4 (empat) desa dalam 1 (satu) kecamatan menjadi 10 kecamatan yang ditetapkan sebagai Kawasan Minapolitan meliputi Kecamatan Kedungbanteng, Karanglewas, Baturraden, Sokaraja, Kembaran, Sumbang, Sumpiuh, Kemranjen, Ajibarang dan Kecamatan Cilongok. Kecamatan yang termasuk dalam Kawasan Minapolitan tersebut kemudian dicitrakan sebagai KEBANGCIRAWAS. Pada tahun 2015 ditetapkan Surat Keputusan Bupati Banyumas Nomor 523/76/TAHUN 2015 tentang Penetapan Lokasi Pengembangan Kawasan Minapolitan Kabupaten Banyumas Tahun 2015-2020, sebagai pengganti Keputusan Bupati yang lalu yang telah berakhir masa berlakunya. Pada Keputusan Bupati tersebut, masih 10 kecataman yang ditetapkan sebagai Kawasan Minapolitan sebagaimana yang telah ditetapkan melalui Keputusan Bupati Banyumas Nomor 523/673/2008 tanggal 13 Desember 2008. Disamping lokasi kawasan minapolitan, pada Keputusan Bupati Banyumas Nomor 523/76/TAHUN 2015 tersebut juga ditetapkan komoditas yang dikembangkan dalam kawasan minapolitan. Sebagai komoditas unggulan minapolitan masih tetap ikan Gurami, kemudian ada tambahan yaitu: komoditas andalan adalah ikan Lele dan sebagai komoditas potensial adalah ikan Nila.
Pengembangan Kawasan Minapolitan Kabupaten Banyumas 2013-2018, dikelompokkan menjadi 3 (tiga) kawasan yaitu Kawasan Pembenihan, Kawasan Pembesaran serta Kawasan Pengolahan Ikan dan Pemasaran. Pada masing-masing kawasan tersebut terdapat kawasan yang dijadikan sebagai sentra dan kawasan yang dijadikan sebagai hinterland sebagaimana tersebut berikut ini.
Salah satu arah kebijakan dan strategi agenda pembangunan kemaritiman nasional yang tertuang dalam RPJMN 2015-2019 adalah “Meningkatkan Harkat dan Taraf Hidup Nelayan dan Masyarakat Pesisir”. Pendalaman bisnis proses usaha di sektor perikanan dapat memberikan gambaran mengenai progress kebijakan tersebut. Kabupaten Banyumas tidak memiliki wilayah perairan laut, namun usaha di sektor perikanannya sudah cukup terintegrasi dalam Kawasan Minapolitan Banyumas.
Kawasan Minapolitan berdasarkan turunan kawasan Agropolitan: adalah kawasan yang terdiri atas satu atau lebih pusat kegiatan pada wilayah perdesaan sebagai sistem produksi perikanan dan pengeloaan sumberdaya alam tertentu yang ditunjukkan oleh adanya keterkaitan fungsional dan hierarki keruangan satuan sistem permukiman dan sistem minabisnis.
Program Pengembangan Kawasan Minapolitan adalah pembangunan ekonomi berbasis perikanan di Kawasan Agribisnis, yang dirancang dan dilaksanakan dengan jalan mensinergikan berbagai potensi yang ada untuk mendorong berkembangnya sistem dan usaha agribisnis yang berdaya saing, berbasis kerakyatan, berkelanjutan dan terdesentralisasi, yang digerakkan oleh masyarakat dan difasilitasi oleh pemerintah.
Lokasi pengembangan Kawasan Minapolitan di Kabupaten Banyumas selanjutnya disempurnakan m e l a l u i K e p u t u s a n B u p a t i B a n y u m a s N o m o r 523/673/2008 tanggal 13 Desember 2008 tentang Perubahan Atas Keputusan Bupati Banyumas Nomor 523/241/2008 Tentang Penetapan Lokasi Program Pengembangan Kawasan Minapolitan Kabupaten Banyumas Tahun 2009-2014. Dengan Keputusan Bupati tersebut, lokasi Kawasan Minapolitan menjadi
ISU KAWASAN MINAPOLITAN BANYUMAS SUPLEMEN III
Sentra: Kecamatan Kedungbanteng (Desa Beji, Desa Karangssalam Kidul, Desa Karangnangka dan Desa Kebocoran).
Hinterland: - Kecamatan Karanglewas (Desa Singasari dan Desa Jipang) dan Kecamatan Baturraden (Desa Kutasari, Desa Pandak dan Desa Purwosari)
Kebijakan pengembangan Kawasan Minapolitan di Kabupaten Banyumas telah berimplikasi positif terhadap peningkatan dan pengembangan perikanan di Kabupaten Banyumas khususnya ikan Gurami sebagai komoditas unggulan sebagaimana yang telah ditetapkan melalu Keputusan Bupati Banyumas. Hal tersebut secara otomatis juga menjadi sumber pendapatan utama bagi masyarakat yang berada di dalam kawasan tersebut. Pada tahun 2014 produksi ikan Gurami konsumsi di Kabupaten Banyumas telah mencapai 4.060,09 ton dan memberikan kontribusi hingga 48,81% dari total produksi ikan di Kabupaten Banyumas yang mencapai 8.318,63 ton. Produksi ikan Gurami di tahun 2015 meningkat sebesar 4.952,88 ton dengan tingkat kontribusi mencapai 50,17 % dari total produksi ikan. Adapun produksi pembesaran dan pembenihan ikan di Kabupaten Banyumas tahun 2014 dan 2015 secara rinci terlihat pada tabel berikut.
Berdasarkan hasil kunjungan ke Dinas Perikanan dan Peternakan Banyumas dan Kelompok Pembesaran Gurame Ulam Sari serta kelompok Pembenihan Gurame Desa Beji dapat diidentifikasi permasalahan sebagai berikut:
A. KAWASAN PEMBENIHAN
Sentra: Kecamatan Sokaraja (Desa Kalikidang, Desa Wiradadi, Desa Lemberang dan Desa Karangduren) Hinterland: -B. KAWASAN PEMBESARAN
Kecamatan Kembaran (Desa Bantarwuni, Desa Kembaran dan Desa Karangtengah).
Kecamatan Sumbang (Desa Sumbang, Desa Banteran, Desa Banjarsari Kulon dan Desa Tambaksogra) . Kecamatan Sumpiuh (Desa Bogangin). Kecamatan Ajibarag (Desa Ajibarang Wetan). Kecamatan Kemranjen (Desa Pageralang). Kecamatan Cilongok (Desa Kalisari).
Sentra: Kecamatan Sokaraja
Hinterland: Seluruh kecamatan/ desa yang menjadi lokasi minapolitan baik di Kawasan Pembenihan maupun Kawasan Pembesaran.
C. KAWASAN PENGOLAHAN DAN PEMASARAN
JENIS IKAN
(Ton)
Sumber : Dinnakkan Kabupaten Banyumas, 2015
Tabel 1. Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Beberapa Negara oleh IMF
GURAME TAWES NILEM NILA LELE KARPER BAWAL MUJAIR PATIN SIDAT JUMLAH
(Ekor) (Ton) (Ekor)
4,060.09 1,287.20 803.47 554.03 822.88 603.08 81.19 76.13 30.57 -127,646,298.00 42,205,030.00 26,742,632.00 12,864,937.00 19,607,309.00 13,951,307.00 -1,115,960.00 -4,952.88 1,500.74 908.97 673.35 956.25 685.19 84.02 83.72 24.85 1.30 121,163,733.00 49,780,440.00 32,423,119.00 43,984,682.00 34,551,921.00 18,381,036.00 -1,791,047.00 -8,318.64 244,133,473.00 9,871.27 302,075,978.00 PRODUKSI PEMBESARAN TAHUN 2014
PRODUKSI PEMBENIHAN PRODUKSI PEMBESARAN PRODUKSI PEMBENIHAN TAHUN 2015
SUPLEMEN III
bertambah luas, dimana semula hanya 4 (empat) desa dalam 1 (satu) kecamatan menjadi 10 kecamatan yang ditetapkan sebagai Kawasan Minapolitan meliputi Kecamatan Kedungbanteng, Karanglewas, Baturraden, Sokaraja, Kembaran, Sumbang, Sumpiuh, Kemranjen, Ajibarang dan Kecamatan Cilongok. Kecamatan yang termasuk dalam Kawasan Minapolitan tersebut kemudian dicitrakan sebagai KEBANGCIRAWAS. Pada tahun 2015 ditetapkan Surat Keputusan Bupati Banyumas Nomor 523/76/TAHUN 2015 tentang Penetapan Lokasi Pengembangan Kawasan Minapolitan Kabupaten Banyumas Tahun 2015-2020, sebagai pengganti Keputusan Bupati yang lalu yang telah berakhir masa berlakunya. Pada Keputusan Bupati tersebut, masih 10 kecataman yang ditetapkan sebagai Kawasan Minapolitan sebagaimana yang telah ditetapkan melalui Keputusan Bupati Banyumas Nomor 523/673/2008 tanggal 13 Desember 2008. Disamping lokasi kawasan minapolitan, pada Keputusan Bupati Banyumas Nomor 523/76/TAHUN 2015 tersebut juga ditetapkan komoditas yang dikembangkan dalam kawasan minapolitan. Sebagai komoditas unggulan minapolitan masih tetap ikan Gurami, kemudian ada tambahan yaitu: komoditas andalan adalah ikan Lele dan sebagai komoditas potensial adalah ikan Nila.
Pengembangan Kawasan Minapolitan Kabupaten Banyumas 2013-2018, dikelompokkan menjadi 3 (tiga) kawasan yaitu Kawasan Pembenihan, Kawasan Pembesaran serta Kawasan Pengolahan Ikan dan Pemasaran. Pada masing-masing kawasan tersebut terdapat kawasan yang dijadikan sebagai sentra dan kawasan yang dijadikan sebagai hinterland sebagaimana tersebut berikut ini.
Salah satu arah kebijakan dan strategi agenda pembangunan kemaritiman nasional yang tertuang dalam RPJMN 2015-2019 adalah “Meningkatkan Harkat dan Taraf Hidup Nelayan dan Masyarakat Pesisir”. Pendalaman bisnis proses usaha di sektor perikanan dapat memberikan gambaran mengenai progress kebijakan tersebut. Kabupaten Banyumas tidak memiliki wilayah perairan laut, namun usaha di sektor perikanannya sudah cukup terintegrasi dalam Kawasan Minapolitan Banyumas.
Kawasan Minapolitan berdasarkan turunan kawasan Agropolitan: adalah kawasan yang terdiri atas satu atau lebih pusat kegiatan pada wilayah perdesaan sebagai sistem produksi perikanan dan pengeloaan sumberdaya alam tertentu yang ditunjukkan oleh adanya keterkaitan fungsional dan hierarki keruangan satuan sistem permukiman dan sistem minabisnis.
Program Pengembangan Kawasan Minapolitan adalah pembangunan ekonomi berbasis perikanan di Kawasan Agribisnis, yang dirancang dan dilaksanakan dengan jalan mensinergikan berbagai potensi yang ada untuk mendorong berkembangnya sistem dan usaha agribisnis yang berdaya saing, berbasis kerakyatan, berkelanjutan dan terdesentralisasi, yang digerakkan oleh masyarakat dan difasilitasi oleh pemerintah.
Lokasi pengembangan Kawasan Minapolitan di Kabupaten Banyumas selanjutnya disempurnakan m e l a l u i K e p u t u s a n B u p a t i B a n y u m a s N o m o r 523/673/2008 tanggal 13 Desember 2008 tentang Perubahan Atas Keputusan Bupati Banyumas Nomor 523/241/2008 Tentang Penetapan Lokasi Program Pengembangan Kawasan Minapolitan Kabupaten Banyumas Tahun 2009-2014. Dengan Keputusan Bupati tersebut, lokasi Kawasan Minapolitan menjadi
ISU KAWASAN MINAPOLITAN BANYUMAS SUPLEMEN III
Sentra: Kecamatan Kedungbanteng (Desa Beji, Desa Karangssalam Kidul, Desa Karangnangka dan Desa Kebocoran).
Hinterland: - Kecamatan Karanglewas (Desa Singasari dan Desa Jipang) dan Kecamatan Baturraden (Desa Kutasari, Desa Pandak dan Desa Purwosari)
Kebijakan pengembangan Kawasan Minapolitan di Kabupaten Banyumas telah berimplikasi positif terhadap peningkatan dan pengembangan perikanan di Kabupaten Banyumas khususnya ikan Gurami sebagai komoditas unggulan sebagaimana yang telah ditetapkan melalu Keputusan Bupati Banyumas. Hal tersebut secara otomatis juga menjadi sumber pendapatan utama bagi masyarakat yang berada di dalam kawasan tersebut. Pada tahun 2014 produksi ikan Gurami konsumsi di Kabupaten Banyumas telah mencapai 4.060,09 ton dan memberikan kontribusi hingga 48,81% dari total produksi ikan di Kabupaten Banyumas yang mencapai 8.318,63 ton. Produksi ikan Gurami di tahun 2015 meningkat sebesar 4.952,88 ton dengan tingkat kontribusi mencapai 50,17 % dari total produksi ikan. Adapun produksi pembesaran dan pembenihan ikan di Kabupaten Banyumas tahun 2014 dan 2015 secara rinci terlihat pada tabel berikut.
Berdasarkan hasil kunjungan ke Dinas Perikanan dan Peternakan Banyumas dan Kelompok Pembesaran Gurame Ulam Sari serta kelompok Pembenihan Gurame Desa Beji dapat diidentifikasi permasalahan sebagai berikut:
A. KAWASAN PEMBENIHAN
Sentra: Kecamatan Sokaraja (Desa Kalikidang, Desa Wiradadi, Desa Lemberang dan Desa Karangduren) Hinterland: -B. KAWASAN PEMBESARAN
Kecamatan Kembaran (Desa Bantarwuni, Desa Kembaran dan Desa Karangtengah).
Kecamatan Sumbang (Desa Sumbang, Desa Banteran, Desa Banjarsari Kulon dan Desa Tambaksogra) . Kecamatan Sumpiuh (Desa Bogangin). Kecamatan Ajibarag (Desa Ajibarang Wetan). Kecamatan Kemranjen (Desa Pageralang). Kecamatan Cilongok (Desa Kalisari).
Sentra: Kecamatan Sokaraja
Hinterland: Seluruh kecamatan/ desa yang menjadi lokasi minapolitan baik di Kawasan Pembenihan maupun Kawasan Pembesaran.
C. KAWASAN PENGOLAHAN DAN PEMASARAN
JENIS IKAN
(Ton)
Sumber : Dinnakkan Kabupaten Banyumas, 2015
Tabel 1. Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Beberapa Negara oleh IMF
GURAME TAWES NILEM NILA LELE KARPER BAWAL MUJAIR PATIN SIDAT JUMLAH
(Ekor) (Ton) (Ekor)
4,060.09 1,287.20 803.47 554.03 822.88 603.08 81.19 76.13 30.57 -127,646,298.00 42,205,030.00 26,742,632.00 12,864,937.00 19,607,309.00 13,951,307.00 -1,115,960.00 -4,952.88 1,500.74 908.97 673.35 956.25 685.19 84.02 83.72 24.85 1.30 121,163,733.00 49,780,440.00 32,423,119.00 43,984,682.00 34,551,921.00 18,381,036.00 -1,791,047.00 -8,318.64 244,133,473.00 9,871.27 302,075,978.00 PRODUKSI PEMBESARAN TAHUN 2014
PRODUKSI PEMBENIHAN PRODUKSI PEMBESARAN PRODUKSI PEMBENIHAN TAHUN 2015
SUPLEMEN III
KAJIAN EK ONOMI D AN KEU ANGAN RE GIONAL PRO VINSI J A W A TENGAHPersentase realisasi pendapatan menurun, sementara persentase realisasi belanja pada triwulan II 2016 meningkat.