BAB
V
Bogor. Sementara di Kabupaten Karanganyar, kerja sama dilakukan antara KPw BI Solo dengan Pemerintah D a e r a h K a b u p a t e n K a r a n g a n y a r. P r o g r a m pengembangan UMKM bawang putih di Kabupaten Banjarnegara dan Purbalingga dilakukan antara KPw BI Purwokerto dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Banjarnegara dan Purbalingga.
Komitmen para pihak tersebut dituangkan dalam Perjanjian Kerjasama selama kurun waktu 3 (tiga) tahun. Dalam pelaksanaan melibatkan pula expertpool Bank Indonesia DR Ir. H. Nugroho Widiasmadi M.Eng dan Prof. Sobir. Melalui sinergi yang dibangun diharapkan target program pengendalian inflasi komoditas bawang putih di delapan kabupaten yang akan dituangkan dalam Blueprint dengan jangka waktu 3 tahun dapat dicapai.
Program pengendalian inflasi komoditas bawang putih di Kabupaten Temanggung dan Magelang dilaksanakan oleh KPw BI Provinsi Jawa Tengah bersama Pemerintah Kabupaten dengan segenap SKPD. Di tingkat provinsi, Dinas Pertanian Tanaman
Pangan dan Hortikultura, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan, Badan Ketahanan Pangan, Dinas Koperasi dan UMKM, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, Kanwil Badan Pertanahan Nasional, Perbankan (PT BRI dan Bank Jateng), dan PT Telekomunikasi Indonesia.
Program pengendalian inflasi komoditas bawang putih di Kabupaten Tegal, Pekalongan, dan Batang, dilaksanakan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Tegal bekerja sama dengan
Pemerintah Daerah Kabupaten Tegal, Pekalongan, dan Batang, serta Pusat Kajian Hortikultura Tropikal (PKHT)
KAJIAN EK ONOMI D AN KEU ANGAN RE GIONAL PRO VINSI J A W A TENGAH
Aktivitas sistem pembayaran meningkat sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang membaik pada triwulan II 2016.
PENYELENGGARAAN
SISTEM PEMBAYARAN DAN
PENGELOLAAN UANG RUPIAH
BAB
V
Kegiatan sistem pembayaran di Jawa Tengah pada triwulan II 2016 menunjukkan pertumbuhan seiring dengan meningkatnya aktivitas perekonomian pada triwulan laporan. Hal ini dikonfirmasi oleh peningkatan aktivitas sistem pembayaran nontunai yang diselenggarakan Bank Indonesia melalui Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) dibandingkan triwulan sebelumnya, baik dari sisi volume maupun nominal. Pertumbuhan transaksi melalui kliring di Jawa Tengah sejalan dengan pertumbuhan transaksi kliring secara nasional.
Penyelesaian transaksi melalui SKNBI pada triwulan II 2016 menunjukkan pertumbuhan yang meningkat. Penyelesaian transaksi pada periode pelaporan tercatat sebesar 1.240.748 Data Keuangan Elektronik (DKE). Secara tahunan, pertumbuhan transaksi kliring mencatat peningkatan yang signifikan dari kontraksi sebesar 5,74% (yoy) pada triwulan II 2015 atau sebesar 857.207 DKE menjadi tumbuh sebesar 44,74% (yoy) pada triwulan berjalan dari sisi volume. Pertumbuhan tahunan nilai transaksi yang dikliringkan juga mencatat peningkatan yang signifikan sebesar 74,98% (yoy) dibandingkan triwulan II 2015 yang mencatat pertumbuhan negatif sebesar 0,76% (yoy) atau sebesar Rp34,10 triliun.
Pertumbuhan pada periode triwulanan tercatat sebesar 8,09% (qtq) dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 17,70% (qtq) sebesar 1.147.860 DKE.
5.1. Perkembangan Transaksi Sistem Kliring
Nasional Bank Indonesia (SKNBI)
Pertumbuhan yang melambat juga terjadi pada nilai transaksi kliring pada periode pelaporan menjadi sebesar Rp59,66 triliun atau tumbuh sebesar 14,63% (qtq) dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 20,32% (qtq) atau sebesar Rp52,05 triliun. Perputaran kliring triwulanan pada periode pelaporan tercatat mengalami perbaikan dibandingkan triwulan II 2015 yang tumbuh negatif sebesar 0,98% (qtq) dari sisi volume dibandingkan triwulan I 2015 yang mengalami kontraksi sebesar 4,76% (qtq). Dari sisi nominal, nilai transaksi yang diproses melalui SKNBI pada triwulan II 2015 tumbuh negatif sebesar 0,26% (qtq) lebih baik dibandingkan pertumbuhan triwulanan sebelumnya sebesar 8,31% (qtq).
Secara tahunan, volume DKE yang ditransaksikan melalui kliring menunjukkan peningkatan sebesar 40,15% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan yang s a m a t a h u n s e b e l u m n y a y a n g m e n c a t a t k a n p e r t u m b u h a n n e g a t i f s e b e s a r 7 , 2 8 % ( y o y ) . Pertumbuhan tahunan nominal transaksi kliring pada periode laporan juga mengalami peningkatan signifikan sebesar 69,43% (yoy), dibandingkan triwulan I 2015 yang mencatat kontraksi sebesar 2,38% (yoy).
Pertumbuhan aktivitas transaksi melalui SKNBI tersebut sejalan dengan pertumbuhan konsumsi ritel yang dikonfirmasi oleh peningkatan Indeks Penjualan Riil (IPR) hasil dari Survei Penjualan Eceran (SPE). Pada
Grafik 5.2Pertumbuhan Tahunan Rata-Rata Perputaran Kliring dan SBT SKDU II III IV 2012 I II III IV 2013 I II III IV 2014 I 2015 II III IV I I 2016 (50) INDEKS %, YOY
PERTUMBUHAN TAHUNAN RATA-RATA PERPUTARAN KLIRING HARIAN JAWA TENGAH - VOLUME PERTUMBUHAN TAHUNAN RATA-RATA PERPUTARAN KLIRING HARIAN JAWA TENGAH - NOMINAL INDEKS KEYAKINAN KONSUMEN - SKALA KANAN
SALDO BERSIH TERTIMBANG SKDU - SKALA KANAN
Grafik 5.1 Perkembangan Rata-Rata Perputaran Kliring Harian di Jawa Tengah II III IV 2012 I II III IV 2013 I II III IV 2014 I 2015 II III IV I I 2016 400 600 800
1,000 RP MILIAR RIBU TRANSAKSI
NOMINAL SKNBI VOLUME - SKALA KANAN
II 12 14 16 18 20 II 50 100 150 200 250 70 60 50 40 30 20 10 0 -10 KAJIAN EK ONOMI D AN KEU ANGAN RE GIONAL PRO VINSI J A W A TENGAH
Kegiatan sistem pembayaran di Jawa Tengah pada triwulan II 2016 menunjukkan pertumbuhan seiring dengan meningkatnya aktivitas perekonomian pada triwulan laporan. Hal ini dikonfirmasi oleh peningkatan aktivitas sistem pembayaran nontunai yang diselenggarakan Bank Indonesia melalui Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) dibandingkan triwulan sebelumnya, baik dari sisi volume maupun nominal. Pertumbuhan transaksi melalui kliring di Jawa Tengah sejalan dengan pertumbuhan transaksi kliring secara nasional.
Penyelesaian transaksi melalui SKNBI pada triwulan II 2016 menunjukkan pertumbuhan yang meningkat. Penyelesaian transaksi pada periode pelaporan tercatat sebesar 1.240.748 Data Keuangan Elektronik (DKE). Secara tahunan, pertumbuhan transaksi kliring mencatat peningkatan yang signifikan dari kontraksi sebesar 5,74% (yoy) pada triwulan II 2015 atau sebesar 857.207 DKE menjadi tumbuh sebesar 44,74% (yoy) pada triwulan berjalan dari sisi volume. Pertumbuhan tahunan nilai transaksi yang dikliringkan juga mencatat peningkatan yang signifikan sebesar 74,98% (yoy) dibandingkan triwulan II 2015 yang mencatat pertumbuhan negatif sebesar 0,76% (yoy) atau sebesar Rp34,10 triliun.
Pertumbuhan pada periode triwulanan tercatat sebesar 8,09% (qtq) dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 17,70% (qtq) sebesar 1.147.860 DKE.
5.1. Perkembangan Transaksi Sistem Kliring
Nasional Bank Indonesia (SKNBI)
Pertumbuhan yang melambat juga terjadi pada nilai transaksi kliring pada periode pelaporan menjadi sebesar Rp59,66 triliun atau tumbuh sebesar 14,63% (qtq) dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 20,32% (qtq) atau sebesar Rp52,05 triliun. Perputaran kliring triwulanan pada periode pelaporan tercatat mengalami perbaikan dibandingkan triwulan II 2015 yang tumbuh negatif sebesar 0,98% (qtq) dari sisi volume dibandingkan triwulan I 2015 yang mengalami kontraksi sebesar 4,76% (qtq). Dari sisi nominal, nilai transaksi yang diproses melalui SKNBI pada triwulan II 2015 tumbuh negatif sebesar 0,26% (qtq) lebih baik dibandingkan pertumbuhan triwulanan sebelumnya sebesar 8,31% (qtq).
Secara tahunan, volume DKE yang ditransaksikan melalui kliring menunjukkan peningkatan sebesar 40,15% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan yang s a m a t a h u n s e b e l u m n y a y a n g m e n c a t a t k a n p e r t u m b u h a n n e g a t i f s e b e s a r 7 , 2 8 % ( y o y ) . Pertumbuhan tahunan nominal transaksi kliring pada periode laporan juga mengalami peningkatan signifikan sebesar 69,43% (yoy), dibandingkan triwulan I 2015 yang mencatat kontraksi sebesar 2,38% (yoy).
Pertumbuhan aktivitas transaksi melalui SKNBI tersebut sejalan dengan pertumbuhan konsumsi ritel yang dikonfirmasi oleh peningkatan Indeks Penjualan Riil (IPR) hasil dari Survei Penjualan Eceran (SPE). Pada
Grafik 5.2Pertumbuhan Tahunan Rata-Rata Perputaran Kliring dan SBT SKDU II III IV 2012 I II III IV 2013 I II III IV 2014 I 2015 II III IV I I 2016 (50) INDEKS %, YOY
PERTUMBUHAN TAHUNAN RATA-RATA PERPUTARAN KLIRING HARIAN JAWA TENGAH - VOLUME PERTUMBUHAN TAHUNAN RATA-RATA PERPUTARAN KLIRING HARIAN JAWA TENGAH - NOMINAL INDEKS KEYAKINAN KONSUMEN - SKALA KANAN
SALDO BERSIH TERTIMBANG SKDU - SKALA KANAN
Grafik 5.1 Perkembangan Rata-Rata Perputaran Kliring Harian di Jawa Tengah II III IV 2012 I II III IV 2013 I II III IV 2014 I 2015 II III IV I I 2016 400 600 800
1,000 RP MILIAR RIBU TRANSAKSI
NOMINAL SKNBI VOLUME - SKALA KANAN
II 12 14 16 18 20 II 50 100 150 200 250 70 60 50 40 30 20 10 0 -10 KAJIAN EK ONOMI D AN KEU ANGAN RE GIONAL PRO VINSI J A W A TENGAH
Grafik 5.3 Pangsa Volume Transaksi SKNBI Berdasarkan Daerah Pengiriman
Grafik 5.4Pangsa Nominal Transaksi SKNBI Berdasarkan Daerah Pengiriman
SEMARANG SOLO PURWOKERTO TEGAL KUDUS PEKALONGAN LAINNYA II III IV 2012 I II III IV 2013 I II III IV 2014 I 2015 II III IV I I 2016 RP MILIAR 5,000 10,000 15,000 20,000 25,000 30,000 35,000 40,000 45,000 50,000 60,000 0
SEMARANG SOLO PURWOKERTO TEGAL KUDUS PEKALONGAN LAINNYA
II III IV 2012 I II III IV 2013 I II III IV 2014 I 2015 II III IV I I 2016 RIBU TRANSAKSI 200 400 600 800 1,000 1,200 II II
Perputaran kliring terbesar masih didominasi kota Semarang dan Solo sebagai kota pusat perekonomian di Jawa Tengah. Pangsa transaksi kliring terbesar secara volume dan nominal masih dicatat kota Semarang yaitu masing-masing sebesar 43,30% dan 42,88%. Meskipun tercatat sebagai kota dengan pangsa transaksi kliring terbesar, aktivitas kliring pada triwulan laporan di kota Semarang menunjukkan penurunan pangsa dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 43,77% dari sisi volume dan 44,44% dari sisi nominal.
Daerah kedua di Jawa Tengah yang mencatatkan pangsa transaksi kliring tertinggi adalah Solo dengan pangsa volume sebesar 25,72% atau sedikit menurun dibandingkan pangsa triwulan I 2016 sebesar 25,79%. Sementara dari sisi nominal, pangsa perputaran kliring di Solo sebesar 27,21% atau meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 26,77%. Perputaran kliring di kota-kota lain memiliki pangsa masing-masing kota dibawah 10%. Secara volume, kota-kota yang mencatat peningkatan pangsa adalah Kudus, Magelang, Pekalongan, dan Purworejo. Sedangkan apabila dilihat dari sisi nominal, peningkatan pangsa transaksi dicatat oleh kota Kudus, Magelang, dan Pekalongan.
Perputaran kliring di Jawa Tengah pada triwulan laporan masih didominasi oleh transaksi kliring debet penyerahan berupa penyerahan cek dan bilyet giro (BG). Jumlah rata-rata harian penarikan cek dan BG kosong pada triwulan laporan mengalami penurunan periode pelaporan, IPR tercatat sebesar 187,29
mengalami peningkatan 11,17 poin dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 176,12 serta meningkat 7,94 poin dibandingkan triwulan II 2015. Pertumbuhan transaksi kliring juga dikonfirmasi oleh optimisme kinerja dunia usaha juga yang tercermin dari Saldo Bersih Tertimbang (SBT) hasil dari Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU). Pada triwulan II 2016, SBT kegiatan dunia usaha berada pada level 33,31%, lebih tinggi daripada SBT triwulan I 2016 sebesar 6,72%, meskipun tumbuh melambat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dengan SBT 36,80%. Peningkatan kegiatan usaha pada triwulan berjalan, terjadi hampir pada seluruh sektor ekonomi, terutama sektor ekonomi utama di provinsi Jawa Tengah yaitu sektor Industri Pengolahan serta Perdagangan, Hotel, dan Restoran (PHR).
Penerbitan Peraturan Bank Indonesia No.17/9/PBI/2015 tanggal 5 Juni 2015 perihal Penyelenggaraan Transfer Dana dan Kliring Berjadwal oleh Bank Indonesia yang b e r l a k u e f e k t i f p e r 1 J a n u a r i 2 0 1 6 d a n SE.No.17/35/DPSP tanggal 13 November 2015 perihal Batas Nilai Nominal Transfer Dana melalui Sistem Bank Indonesia – Real Time Gross Settlement dan Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia yang mengatur penyempurnaan SKNBI Generasi II khususnya mengenai nilai nominal transaksi juga menjadi salah satu pendorong peningkatan volume dan nilai transaksi SKNBI yang cukup signifikan sejak Januari 2016. Dalam peraturan tersebut, nilai nominal transaksi yang diproses melalui SKNBI hingga 30 Juni 2016 tidak dibatasi jumlahnya. KAJIAN EK ONOMI D AN KEU ANGAN RE GIONAL PRO VINSI J A W A TENGAH
Grafik 5.5 Perkembangan Rata-Rata Penarikan Cek dan Bilyet Giro Kosong Harian di Jawa Tengah
II III IV 2012 I II III IV 2013 I II III IV 2014 I 2015 II III IV I I 2016 LEMBAR 6 7 8 9 10 11 12 RP MILIAR
VOLUME - SKALA KANAN NOMINAL II 360 320 280 240 200
dari sisi volume meskipun meningkat secara nominal dibandingkan triwulan sebelumnya. Rata-rata cek dan BG kosong yang dikliringkan per hari pada triwulan laporan sebanyak 220 warkat per hari atau lebih rendah 12,35% (qtq) dari triwulan sebelumnya sebanyak 252 warkat per hari. Sementara itu, nilai penarikan cek dan BG kosong meningkat 6,22% (qtq) menjadi Rp8,83 miliar per hari dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar Rp8,31 miliar per hari.
Aliran uang kartal melalui Bank Indonesia di Semarang, Solo, Purwokerto dan Tegal menunjukkan adanya peningkatan net outflow dibandingkan triwulan sebelumnya. Posisi net outflow menurun signifikan mencapai 190,39% (qtq) menjadi Rp10,61 triliun pada triwulan laporan dari triwulan sebelumnya yang mencatat net inflow 1.213,35% (qtq) atau net inflow sebesar Rp11,74 triliun. Posisi net outflow mencatat pertumbuhan tahunan sebesar 564,75% (yoy) apabila dibandingkan triwulan II 2015 yang mencatat penurunan 57,35% (yoy) atau net inflow sebesar Rp2,28 triliun.
Aliran uang kartal yang masuk ke Bank Indonesia (inflow) pada triwulan II 2016 sebesar Rp12,44 triliun, lebih rendah 33,63% (qtq) dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar Rp18,75 triliun. Sebaliknya, aliran uang kartal dari Bank Indonesia ke perbankan dan masyarakat (outflow) pada triwulan pelaporan tercatat sebesar Rp23,06 triliun atau meningkat signifikan sebesar 229,29% (qtq) dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar Rp7,00 triliun.
Posisi net outflow yang tinggi pada periode laporan sejalan dengan pola historisnya. Hal ini didorong oleh peningkatan aliran uang keluar dari Bank Indonesia ke perbankan/ masyarakat ke Bank Indonesia untuk memenuhi kebutuhan saat bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri, serta persiapan tahun ajaran baru sekolah. Selain itu, kebutuhan uang tunai untuk kegiatan konsumsi pemerintah maupun swasta juga meningkat seiring dengan pencairan gaji ke-13 PNS dan pembayaran Tunjangan Hari Raya (THR).
Secara tahunan, posisi inflow pada triwulan laporan mengalami penurunan sebesar 16,52% (yoy) dibandingkan triwulan II 2015 yang tumbuh 4,18% (yoy). Sementara posisi outflow mencatat peningkatan sebesar 82,69% (yoy) dari pada triwulan yang sama tahun sebelumnya yang mencatat pertumbuhan sebesar 41,00% (yoy). Secara spasial, aliran uang kartal
5.2. Perkembangan Pengelolaan Uang Rupiah
Aliran uang kartal melalui Bank Indonesia di Semarang, Solo, Purwokerto dan Tegal menunjukkan adanya peningkatan net outflow dibandingkan triwulan sebelumnya. Posisi net outflow menurun signifikan mencapai 190,39% (qtq) menjadi Rp10,61 triliun pada triwulan laporan dari triwulan sebelumnya yang mencatat net inflow 1.213,35% (qtq) atau net inflow sebesar Rp11,74 triliun. Posisi net outflow mencatat pertumbuhan tahunan sebesar 564,75% (yoy) apabila dibandingkan triwulan II 2015 yang mencatat penurunan 57,35% (yoy) atau net inflow sebesar Rp2,28 triliun.
Aliran uang kartal yang masuk ke Bank Indonesia (inflow) pada triwulan II 2016 sebesar Rp12,44 triliun, lebih rendah 33,63% (qtq) dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar Rp18,75 triliun. Sebaliknya, aliran uang kartal dari Bank Indonesia ke perbankan dan masyarakat (outflow) pada triwulan pelaporan tercatat sebesar Rp23,06 triliun atau meningkat signifikan sebesar 229,29% (qtq) dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar Rp7,00 triliun.
KAJIAN EK ONOMI D AN KEU ANGAN RE GIONAL PRO VINSI J A W A TENGAH
Grafik 5.3 Pangsa Volume Transaksi SKNBI Berdasarkan Daerah Pengiriman
Grafik 5.4Pangsa Nominal Transaksi SKNBI Berdasarkan Daerah Pengiriman
SEMARANG SOLO PURWOKERTO TEGAL KUDUS PEKALONGAN LAINNYA II III IV 2012 I II III IV 2013 I II III IV 2014 I 2015 II III IV I I 2016 RP MILIAR 5,000 10,000 15,000 20,000 25,000 30,000 35,000 40,000 45,000 50,000 60,000 0
SEMARANG SOLO PURWOKERTO TEGAL KUDUS PEKALONGAN LAINNYA
II III IV 2012 I II III IV 2013 I II III IV 2014 I 2015 II III IV I I 2016 RIBU TRANSAKSI 200 400 600 800 1,000 1,200 II II
Perputaran kliring terbesar masih didominasi kota Semarang dan Solo sebagai kota pusat perekonomian di Jawa Tengah. Pangsa transaksi kliring terbesar secara volume dan nominal masih dicatat kota Semarang yaitu masing-masing sebesar 43,30% dan 42,88%. Meskipun tercatat sebagai kota dengan pangsa transaksi kliring terbesar, aktivitas kliring pada triwulan laporan di kota Semarang menunjukkan penurunan pangsa dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 43,77% dari sisi volume dan 44,44% dari sisi nominal.
Daerah kedua di Jawa Tengah yang mencatatkan pangsa transaksi kliring tertinggi adalah Solo dengan pangsa volume sebesar 25,72% atau sedikit menurun dibandingkan pangsa triwulan I 2016 sebesar 25,79%. Sementara dari sisi nominal, pangsa perputaran kliring di Solo sebesar 27,21% atau meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 26,77%. Perputaran kliring di kota-kota lain memiliki pangsa masing-masing kota dibawah 10%. Secara volume, kota-kota yang mencatat peningkatan pangsa adalah Kudus, Magelang, Pekalongan, dan Purworejo. Sedangkan apabila dilihat dari sisi nominal, peningkatan pangsa transaksi dicatat oleh kota Kudus, Magelang, dan Pekalongan.
Perputaran kliring di Jawa Tengah pada triwulan laporan masih didominasi oleh transaksi kliring debet penyerahan berupa penyerahan cek dan bilyet giro (BG). Jumlah rata-rata harian penarikan cek dan BG kosong pada triwulan laporan mengalami penurunan periode pelaporan, IPR tercatat sebesar 187,29
mengalami peningkatan 11,17 poin dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 176,12 serta meningkat 7,94 poin dibandingkan triwulan II 2015. Pertumbuhan transaksi kliring juga dikonfirmasi oleh optimisme kinerja dunia usaha juga yang tercermin dari Saldo Bersih Tertimbang (SBT) hasil dari Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU). Pada triwulan II 2016, SBT kegiatan dunia usaha berada pada level 33,31%, lebih tinggi daripada SBT triwulan I 2016 sebesar 6,72%, meskipun tumbuh melambat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dengan SBT 36,80%. Peningkatan kegiatan usaha pada triwulan berjalan, terjadi hampir pada seluruh sektor ekonomi, terutama sektor ekonomi utama di provinsi Jawa Tengah yaitu sektor Industri Pengolahan serta Perdagangan, Hotel, dan Restoran (PHR).
Penerbitan Peraturan Bank Indonesia No.17/9/PBI/2015 tanggal 5 Juni 2015 perihal Penyelenggaraan Transfer Dana dan Kliring Berjadwal oleh Bank Indonesia yang b e r l a k u e f e k t i f p e r 1 J a n u a r i 2 0 1 6 d a n SE.No.17/35/DPSP tanggal 13 November 2015 perihal Batas Nilai Nominal Transfer Dana melalui Sistem Bank Indonesia – Real Time Gross Settlement dan Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia yang mengatur penyempurnaan SKNBI Generasi II khususnya mengenai nilai nominal transaksi juga menjadi salah satu pendorong peningkatan volume dan nilai transaksi SKNBI yang cukup signifikan sejak Januari 2016. Dalam peraturan tersebut, nilai nominal transaksi yang diproses melalui SKNBI hingga 30 Juni 2016 tidak dibatasi jumlahnya. KAJIAN EK ONOMI D AN KEU ANGAN RE GIONAL PRO VINSI J A W A TENGAH
Grafik 5.5 Perkembangan Rata-Rata Penarikan Cek dan Bilyet Giro Kosong Harian di Jawa Tengah
II III IV 2012 I II III IV 2013 I II III IV 2014 I 2015 II III IV I I 2016 LEMBAR 6 7 8 9 10 11 12 RP MILIAR
VOLUME - SKALA KANAN NOMINAL II 360 320 280 240 200
dari sisi volume meskipun meningkat secara nominal dibandingkan triwulan sebelumnya. Rata-rata cek dan BG kosong yang dikliringkan per hari pada triwulan laporan sebanyak 220 warkat per hari atau lebih rendah 12,35% (qtq) dari triwulan sebelumnya sebanyak 252 warkat per hari. Sementara itu, nilai penarikan cek dan BG kosong meningkat 6,22% (qtq) menjadi Rp8,83 miliar per hari dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar Rp8,31 miliar per hari.
Aliran uang kartal melalui Bank Indonesia di Semarang, Solo, Purwokerto dan Tegal menunjukkan adanya peningkatan net outflow dibandingkan triwulan sebelumnya. Posisi net outflow menurun signifikan mencapai 190,39% (qtq) menjadi Rp10,61 triliun pada triwulan laporan dari triwulan sebelumnya yang mencatat net inflow 1.213,35% (qtq) atau net inflow sebesar Rp11,74 triliun. Posisi net outflow mencatat pertumbuhan tahunan sebesar 564,75% (yoy) apabila dibandingkan triwulan II 2015 yang mencatat penurunan 57,35% (yoy) atau net inflow sebesar Rp2,28 triliun.
Aliran uang kartal yang masuk ke Bank Indonesia (inflow) pada triwulan II 2016 sebesar Rp12,44 triliun, lebih rendah 33,63% (qtq) dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar Rp18,75 triliun. Sebaliknya, aliran uang kartal dari Bank Indonesia ke perbankan dan masyarakat (outflow) pada triwulan pelaporan tercatat sebesar Rp23,06 triliun atau meningkat signifikan sebesar 229,29% (qtq) dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar Rp7,00 triliun.
Posisi net outflow yang tinggi pada periode laporan sejalan dengan pola historisnya. Hal ini didorong oleh peningkatan aliran uang keluar dari Bank Indonesia ke perbankan/ masyarakat ke Bank Indonesia untuk memenuhi kebutuhan saat bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri, serta persiapan tahun ajaran baru sekolah. Selain itu, kebutuhan uang tunai untuk kegiatan konsumsi pemerintah maupun swasta juga meningkat seiring dengan pencairan gaji ke-13 PNS dan pembayaran Tunjangan Hari Raya (THR).
Secara tahunan, posisi inflow pada triwulan laporan mengalami penurunan sebesar 16,52% (yoy) dibandingkan triwulan II 2015 yang tumbuh 4,18% (yoy). Sementara posisi outflow mencatat peningkatan sebesar 82,69% (yoy) dari pada triwulan yang sama tahun sebelumnya yang mencatat pertumbuhan sebesar 41,00% (yoy). Secara spasial, aliran uang kartal
5.2. Perkembangan Pengelolaan Uang Rupiah
Aliran uang kartal melalui Bank Indonesia di Semarang, Solo, Purwokerto dan Tegal menunjukkan adanya peningkatan net outflow dibandingkan triwulan sebelumnya. Posisi net outflow menurun signifikan mencapai 190,39% (qtq) menjadi Rp10,61 triliun pada triwulan laporan dari triwulan sebelumnya yang mencatat net inflow 1.213,35% (qtq) atau net inflow sebesar Rp11,74 triliun. Posisi net outflow mencatat pertumbuhan tahunan sebesar 564,75% (yoy) apabila dibandingkan triwulan II 2015 yang mencatat penurunan 57,35% (yoy) atau net inflow sebesar Rp2,28 triliun.
Aliran uang kartal yang masuk ke Bank Indonesia (inflow) pada triwulan II 2016 sebesar Rp12,44 triliun, lebih rendah 33,63% (qtq) dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar Rp18,75 triliun. Sebaliknya, aliran uang kartal dari Bank Indonesia ke perbankan dan masyarakat (outflow) pada triwulan pelaporan tercatat sebesar Rp23,06 triliun atau meningkat signifikan sebesar 229,29% (qtq) dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar Rp7,00 triliun.
KAJIAN EK ONOMI D AN KEU ANGAN RE GIONAL PRO VINSI J A W A TENGAH
Grafik 5.6 Perkembangan Pola Penarikan dan Setoran Uang Kartal melalui Bank Indonesia di Jawa Tengah
II III IV 2012 I II III IV 2013 I II III IV 2014 I 2015 II III IV I I 2016 (20) (15) (10) (5) 5 10 15 20 25 30 RP TRILIUN
INFLOW OUTFLOW NET INFLOW/(OUTFLOW)
II
II III IV
2012 I II2013III IV I II2014III IV I II2015III IV
I I 2016 (2) (1) 1 2 3 4 5 6 RP TRILIUN II (3) (4)
Grafik 5.7 Perkembangan Pola Penarikan dan Setoran Uang Kartal Berdasarkan Wilayah
SEMARANG SOLO PURWOKERTO TEGAL
masyarakat. Pemusnahan uang rupiah tidak layak edar di Jawa Tengah pada triwulan laporan tumbuh negatif sebesar 15,97% (qtq) sejalan dengan penurunan inflow.
Sampai dengan triwulan laporan, jumlah uang palsu yang ditemukan di Jawa Tengah sebanyak 13.902 lembar. Jumlah ini mengalami kenaikan 21,00% dibandingkan semester I 2015 dengan temuan uang palsu sebanyak 11.489 lembar. Mayoritas uang palsu ditemukan di Semarang (45,78%), Solo (27,92%), Purwokerto (13,48%), dan Tegal (12,81%). Secara nominal, uang palsu yang paling banyak ditemukan dalam pecahan Rp50.000 sebanyak 7.076 lembar (50,90%), diikuti oleh pecahan Rp100.000 sebanyak 6.550 lembar (47,12%). Sedangkan uang palsu dalam pecahan lainnya memiliki pangsa masing-masing pecahan kurang dari 2%. Penemuan tersebut antara lain berasal dari klarifikasi perbankan ke Bank Indonesia (92,67%), hasil setoran bank (2,81%), serta setoran masyarakat melalui loket penukaran (2,31%), temuan kepolisian (2,20%), serta klarifikasi masyarakat ke Bank Indonesia (0,01%).
melalui Kantor Perwakilan Bank Indonesia Semarang, Solo, Purwokerto, dan Tegal pada triwulan mencatat posisi net outflow. Kondisi net outflow tertinggi terdapat di Semarang dan Solo mengingat peran kedua kota tersebut sebagai kota pusat perekonomian di Jawa Tengah.
Dalam rangka melaksanakan clean money policy, Kantor Perwakilan Bank Indonesia di Semarang, Solo, Purwokerto dan Tegal secara rutin melakukan kegiatan penarikan uang yang lusuh, cacat, sudah dicabut, dan ditarik dari peredaran, untuk selanjutnya disortir dan diganti dengan uang rupiah layak edar. Hal tersebut