BAB II TINJAUAN PUSTAKA
5) Dampak Ketunanetraan terhadap Penyandangnya
Kelainan penglihatan menimbulkan berbagai akibat pada penyandangnya. Dampak/ akibat kelainan penglihatan pada penyandangnya, dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu dampak langsung dan dampak tidak langsung. Dampak langsung adalah keterbatasan yang terjadi pada anak karena mengalami kelainan penglihatan. Dampak tidak langsung adalah berupa reaksi penyandang sendiri pada kelainan penglihatannya.
Dampak langsung dan dampak tidak langsung kelainan penglihatan/
ketunanetraan, bersifat kausalitas. Menurut tingkatan kausalitas yang dapat meninjau secara bersusun sebagai berikut.
41 Mardhiyah, et.al., “Identifikasi Anak Berkebutuhan Khusus dan Strategi Pembelajarannya”, dalam Al Ta’dib, Vol. 3, No. 1, 2013, h. 58-59.
a. Terjadinya kelainan penglihatan pada individu, menimbulkan dampak langsung, yaitu hilangnya suatu fungsi, terganggu atau hilangnya fungsi dari organ penglihatan.
b. Kurang atau tidak berfungsinya organ penglihatan, maka anak akan terhambat dalam melakukan berbagai aktivitas yang berhubungan dengan organ penglihatan, karena yang berkelainan itu merupakan instrumen untuk melakukan kegiatan-kegiatan seperti mobilitas, menangkap sinar atau cahaya atau apa melihat apa saja yang ada di sekitarnya.
c. Hambatan dan keterbatasan yang dialami penyandang kelainan penglihatan dalam melakukan aktivitas, mengakibatkan pada mereka timbul reaksi-reaksi emosional. Dalam taraf ini reaksi-reaksi yang merupakan dampak emosional yang masih merupakan reaksi emosional biasa.
d. Reaksi emosional yang terjadi sebagai dampak keterbatasan atau hambatan dalam melakukan kegiatan/ aktivitas yang disebabkan ketunanetraan itu, akan semakin banyak dan intensitasnya semakin menumpuk sehingga pada akhirnya akan menjadi suatu reaksi emosional yang menetap. Reaksi emosional yang menetap itu akan membentuk dan mewarnai perkembangan kepribadiannya sehingga anak tunanetra akan dapat menunjukkan gejala kepribadian yang negatif, seperti: minder, rendah diri, kurang bahkan tidak percaya diri, menarik diri dari pergaulan dan gejala kepribadian negatif lainnya. Disamping berdampak pada kepribadian, kelainan penglihatan juga menimbulkan dampak sosial.
Dampak sosial kelainan penglihatan terlihat pada sikap dan reaksi lingkungan terbatas (keluarga) dan lingkungan luas (masyarakat luas) terhadap individu atau orang/ anak yang mengalami kelainan penglihatan.42
c. Karakter Anak Tunanetra
Ketika seorang anak dengan penglihatan yang normal dapat dengan mudah bergerak di lingkungannya, bermain dengan teman-temannya serta melihat dan meniru orang tuanya sendiri dalam aktivitas sehari-hari.
Anak-anak tunanetra kehilangan saat-saat belajar kritis seperti itu dan berdampak terhadap perkembangan, belajar, keterampilan sosial dan perilakunya.
Berikut adalah karakteristik anak tunanetra berdasarkan aspek kognitif, akademik, sosisal-emosional, dan perilaku menurut Rahardja (2007) :
1. Karakteristik kognitif
Ketunanetraan secara langsung berpengaruh pada perkembangan dan belajar dalam hal yang bervariasi. Lowenfeld menggambarkan dampak kebutaan dan low vision terhadap perkembangan kognitif, dengan mengidentifikasi keterbatasan yang mendasar pada anak sebagai berikut : a. Tingkat dan keanekaragaman pengalaman. Ketika seorang anak mengalami ketunanetraan, maka pengalaman harus diperoleh dengan mempergunakan indera-indera yang masih berfungsi, khususnya
42 Sambira Mambela, “Tinjauan Umum Masalah Psikologis dan Masalah Sosial Individu Penyandang Tunanetra”, dalam Buana Pendidikan, Vol. 14, No. 25, 2018, h. 66-67.
perabaan dan pendengaran. Teapi bagaimanapun indera-indera tersebut tidak dapat secara cepat dan menyeluruh dalam memperoleh informasi, mislanya ukuran, waran dan hubungan ruang yang sebenarnya bisa diperoleh dengan segera melalui penglihatan.
b. Tidak seperti halnya penglihatan, ketika mengeksplorasi benda dengan perabaan merupakan proses dari bagian keseluruahan dan orang tersebut harus melakukan kontak dengan bendanya selama dia melakukan eksplorasi tersebut.
c. Kemampuan untuk berpindah tempat. Pengliahtan memungkinkan kita untuk bergerak dengan leluasa dalam suatu lingkungan, tetapi tunanetra mempunyai keterbatasan dalam melakukan gerakan tersebut. Keterbatasan tersebut mengakibatkan keterbatasan dalam memperoleh pengalaman dan juga berpengaruh pada hubungan sosial.
Tidak seperti anak-anak yang lainnya, anak tunanetra harus belajar cara berjalan dengan aman dan efisien dalam suatu lingkungan dengan berbagai keterampilan orientasi dan mobilitas.
d. Interaksi dengan lingkungan. Jika anak normal ketika berada di suatu tempat ramai, ank normal bisa dengan bebas bergerak di lingkungan tersebut. Anak tunanetra tidak memiliki kontrol seperti itu. Bahkan dengan keterampilan mobilitas yang dimilikinya, gambaran tentang lingkungan masih tetap tidak utuh.
2. Karakteristik Akademik
Dampak ketunanetraan tidak hanya terhadap perkembangan kognitif, tetapi juga berpengaruh pada perkembangan keterampilan akademis, khususnya dalam bidang membaca dan menulis. Biasanya anak tunanetra menggunakan media atau alat untuk membaca dan menulis, yaitu dengan mempergunakan braille atau huruf cetak dengan berbagai alternatif ukuran.
3. Karakteristik Sosial dan Emosional
Anak tunanetra memiliki keterbatasan dalam belajar melalui pengamatan dan menirukan, anak tunanetra sering mempunyai kesulitan dalam melakukan perilaku sosial yang benar. Sebagai akibat dari ketunanetraannya yang berpengaruh pada terhadap keterampilan sosial, anak tunanetra harus mendapatkan pembelajaran yang langsung dan sistematis dalam bidang pengembangan persahabatan, menjaga kontak mata atau orientasi wajah, penampilan postur tubuh yang baik, mempergunakan gerakan tubuh dan ekspresi wajah dengan benar, mengekpresikan perasaan, menyampaikan pesan yang tepat pada waktu melakukan komunikasi, serta mempergunakan alat bantu yang tepat.
4. Karakteristik Perilaku
Ketunanetraan itu sendiri tidak menimbulkan masalah atau penyimpangan perilaku pada anak, meskipun demikian hal tersebut berpengaruh pada perilakunya. Anak tunanetra sering kurang memperhatikan kebutuhan sehari-harinya, sehingga ada kecenderungan
orang lain untuk membantunya. Apabila hal itu terjadi maka anak tunanetra akan berkecenderungan berlaku pasif.
Beberapa anak tunanetra sering menunjukkan perilaku stereotip, sehingga menunjukkan perilaku yang tidak semestinya. Sebagai contoh mereka sering menekan matanya, membuat suara dengan jarinya, menggoyang-goyangkan kepala dan badan.
Hal itu terjadi mungkin sebagai akibat dari tidak adanya rangsangan sensoris, terbatasnya aktivitas dan gerak di dalam lingkungan, serta keterbatasan sosial.
Biasanya para ahli mencoba mengurangi atau menghilangkan perilaku tersebut dengan membantu mereka memperbanyak aktivitas atau dengan mempergunakan strategi perilaku tertentu, misalnya memberikan pujian atau alternatif pengajaran, perilaku yang lebih positif dan sebagainya.43 d. Kebutuhan dan Layanan Pendidikan Anak Tunanetra
Anak tunanetra sebagaimana anak lainnya, membutuhkan pendidikan untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya secara optimal. Oleh karena itu adanya gangguan penglihatan, anak tunanetra membutuhkan layanan khusus untuk merehabilitasi kelainannya, yang meliputi: latihan membaca dan menulis huruf braille, penggunaan tongkat, orientasi dan mobilitas, serta latihan visual/ fungsional penglihatan.
43 Utomo dan Nadya Muniroh, Pendidikan Anak dengan Hambatan Penglihatan, (Kalimatan Selatan:
Prodi. PJ JPOK FKIP ULM Press, 2019), Cet. ke-1, h. 18-22.
Layanan pendidikan bagi anak tunanetra dapat dilaksanakan melalui sistem segregasi, yaitu secara terpisah dari anak awas dan integrasi atau terpadu dengan anak awas di sekolah biasa. Tempat pendidikan dengan sistem segregasi, meliputi: sekolah khusus (SLB-A), SDLB dan kelas jauh/ kelas kunjung. Bentuk-bentuk keterpaduan yang dapat diikuti oleh anak tunanetra yang mengikuti sistem integrasi, meliputi: kelas biasa dengan guru konsultan, kelas biasa dengan guru kunjung, kelas biasa dengan ruang-ruang sumber dan kelas khusus.44