2.3. Dampak Kebijakan
2.3.4. Dampak Nilai Tukar Rupiah
Ketika terjadi dipresiasi mata uang rupiah terhadap dolar Amerika maka harga barang dan jasa di Indonesia menjadi murah bagi penduduk luar Indonesia. Sebaliknya harga barang luar negeri menjadi mahal bagi penduduk Indonesia. Dengan kondisi ini barang ekspor menjadi lebih murah sementara barang impor menjadi lebih mahal sehingga surplus neraca perdagangan akan meningkat. Ketika Indonesia masih mengikuti kebijakan fixed exchange rate maka dipresiasi mata uang rupiah merupakan salah satu instrumen alternatif kebijakan yang diambil oleh pemerintah untuk meningkatkan daya saing produk ekspor guna menutupi defisit neraca berjalan.
Saat ini kebijakan nilai tukar mata uang rupiah mengikuti rejim floating exchange rate di mana besar kecilnya nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar Amerika tergantung dari penawaran dan permintaan mata uang US$. Dengan semakin kondusifnya dunia usaha di Indonesia semakin banyak investor asing berminat untuk menanamkan modalnya di Indonesia sehingga mata uang US$ yang mengalir ke Indonesia semakian banyak melalui capital inflow. Oleh karena itu nilai mata uang rupiah semakin menguat terhadap mata uang US$. Di satu sisi penguatan mata uang rupiah ini akan meningkatkan daya beli penduduk Indonesia terhadap produk impor. Demikian juga dengan industri yang masih banyak
memerlukan bahan baku impor diuntungkan dengan apresiasi nilai mata uang rupiah ini. Di sisi lain produk barang ekspor menjadi kurang kompetitif. Hal yang sama juga terjadi pada barang dan jasa pariwisata.
Ketika nilai rupiah menguat akan mendorong penduduk Indonesia untuk melakukan perjalanan ke luar negeri karena daya beli penduduk Indonesia terhadap produk luar negeri menjadi meningkat akibat penguatan nilai mata uang rupiah terhadap US$. Selain itu kebijakan bebas fiskal bagi penduduk Indonesia yang akan melakukan perjalanan ke luar negeri juga ikut memicu peningkatan ini. Uang yang mereka belanjakan juga akan semakin meningkat sehingga devisa yang mengalir ke luar negeri juga akan meningkat. Sementara harga barang dan jasa pariwisata di Indonesia menjadi lebih mahal di mata wisatawan mancanegara yang bisa mengakibatkan penurunan jumlah kunjungan wisman maupun pengeluarannya selama di Indonesia sehingga devisa yang dibawa wisman ke Indonesia akan mengalami penurunan. Dengan kejadian ini jumlah wisman yang cenderung menurun dan jumlah penduduk Indonesia yang pergi ke luar negeri yang cenderung meningkat akan mengurangi surplus neraca pariwisata. Jika hal ini terus dibiarkan maka neraca pariwisata yang selama ini mengalami surplus suatu saat akan terjadi defisit.
Secara grafik dampak penguatan nilai rupiah terhadap US$ sebagai akibat dari skenario kebijakan dapat dijelaskan sebagai berikut:
Pada panel A menunjukkan dampak kebijakan ekspansi fiskal yang terjadi di Indonesia misalnya dengan meningkatkan pengeluaran pemerintah atau menurunkan tingkat pajak sehingga akan mengurangi tabungan nasional yang ditunjukkan dengan pergeseran kurva S-I ke kiri dari S1-I ke S2-I. Selisih antara
tabungan nasional dengan investasi (S-I) akan sama dengan net ekspor (NX=X- M). Ketika tabungan nasional menurun maka investasi dari luar negeri diperlukan sehingga supply mata uang US$ akan meningkat yang pada giliran berikutnya akan menguatkan nilai tukar mata uang rupiah terhadap US$. Akibatnya harga pariwisata Indonesia menjadi kurang kompetitif sementara harga pariwisata di luar negeri menjadi lebih murah bagi penduduk Indonesia.Perbedaan harga pariwisata Indonesia dan luar negeri ini mendorong peningkatan jumlah penduduk Indonesia yang pergi ke luar negeri dan mengurangi minat wisman untuk berkunjung ke Indonesia sehingga neraca pariwisata Indonesia menurun dari NXp1 ke NXp2. NXp Ɛ Ɛ1 Ɛ2 S1-I S2-I NXp2 NXp1 Net ekspor, NXp Nilai tukar US$/Rp A B Net ekspor, NXp NXp1 NXp2 Ɛ2 Ɛ1 Nilai tukar
US$/Rp S-I(r*1) S-I(r*2)
NXp Ɛ A B 0 0 NXp1 NXp2 0 NXp Ɛ Net ekspor, NXp Ɛ1 Ɛ2 B A S-I2 S-I1 Nilai tukar US$/Rp Nilai tukar US$/Rp S-I Ɛ1 Ɛ2 NXp1=NXp2 Net ekspor, NXp NXp Ɛ1 NXp Ɛ2 A B A B C D
Sumber: Mankiw (2000) dimodifikasi
Gambar 8. Dampak Kebijakan terhadap Nilai Tukar Rupiah dan Neraca Pariwisata
Pada panel B menunjukkan dampak kebijakan ekspansi fiskal yang terjadi di luar negeri sehingga tabungan di tingkat dunia berkurang yang akan mengakibatkan suku bunga dunia meningkat dari r*1 ke r*2. Suku bunga luar
negeri yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan suku bunga domestik akan terjadi capital outflow sehingga supply mata uang US$ berkurang dan nilai rupiah melemah. Pelemahan mata uang rupiah ini akan menyebabkan harga pariwisata Indonesia menjadi lebih murah dan harga pariwisata luar negeri menjadi lebih mahal. Selanjutnya devisa yang masuk ke Indonesia melalui wisman akan meningkat sementara devisa Indonesia yang mengalir ke luar negeri akan menurun. Akibat dari kebijakan ini akan meningkatkan neraca pariwisata Indonesia, NXp bergeser ke kanan dari NXp1 ke NXp2.
Pada panel C menunjukkan peningkatan permintaan investasi di dalam negeri yang melebihi tabungan nasional sehingga akan terjadi capital inflow. Masuknya mata uang US$ ke Indonesia akan menguatkan nilai rupiah terhadap US$. Penguatan mata uang rupiah ini akan mengurangi daya saing pariwisata Indonesia. Harga pariwisata Indonesia di mata wisman akan menjadi lebih mahal, sementara harga pariwisata di luar negeri menjadi relatif lebih murah dilihat dari sisi penduduk Indonesia sehingga neraca pariwisata menurun dari NXp1 ke NXp2.
Hal ini bisa terjadi ketika suku bunga dalam negeri lebih tinggi jika dibandingkan dengan suku bunga luar negeri.
Pada panel D menunjukkan ketika terjadi larangan (travel warning) beberapa negara asal wisatawan untuk mengunjungi Indonesia terkait dengan keamanan di Indonesia sehingga neraca pariwisata Indonesia menjadi berkurang yang ditunjukkan dengan pergeseran kurva NXp1 ke NXp2. Dengan berkurangnya
kunjungan wisman ke Indonesia maka jumlah dolar yang masuk ke Indonesia juga akan berkurang yang mengakibatkan nilai tukar rupiah melemah. Hal ini bisa menyebabkan harga pariwisata Indonesia menjadi lebih murah di mata wisman yang bisa menarik minat wisman untuk berkunjung ke Indonesia, terutama bagi negara yang tidak menerapkan travel warning terhadap Indonesia. Sehingga neraca pariwisata akan meningkat kembali dari NXp2 ke NXp1.
3.1. Kerangka Pikir
Menurut Chase et al. (2003), metode yang paling banyak digunakan
dalam mengukur dampak ekonomi pariwisata adalah model multiplier. Tiga model yang paling sering digunakan adalah model keseimbangan umum (computable general equilibrium), model input-output, dan model Keynesian yang menggunakan model ekonometrika. Dalam penelitian ini menggunakan dua pendekatan, yaitu: (1) model ekonometrika, untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah wisatawan mancanegara (inbound) maupun penduduk Indonesia yang pergi ke luar negeri (outbound), dan (2) analisis model input- output, untuk mengetahui dampak ekonomi pariwisata internasional terhadap perekonomian Indonesia secara sektoral berdasarkan hasil simulasi model ekonometrika.
Wisatawan internasional terdiri dari inbound dan outbound. Berdasarkan jumlah orang dan rata-rata pengeluarannya, masing-masing inbound dan outbound disusun model persamaan ekonometrikanya. Simulasi model ekonometrika dilakukan untuk mengetahui dampak perubahan variabel endogen terhadap
kunjungan wisman maupun pengeluarannya.
Dari hasil simulasi akan dianalisis dampaknya dalam neraca pariwisata (tourism balance) dan dampaknya terhadap perekonomian dalam negeri dengan menggunakan analisis tabel input-output. Komponen untuk menganalisis dampak perekonomian di dalam negeri terdiri dari devisa yang masuk ke Indonesia yang dibawa oleh wisatawan mancanegara sebagai permintaan akhir (final demand)
dalam struktur model input-output, sementara untuk pengeluaran penduduk Indonesia selama mereka berada di luar negeri dan pengeluaran haji akan digunakan untuk analisis neraca pariwisata. Kerangka pikir penelitian ini seperti terlihat dalam Gambar 8.
Gambar 9. Kerangka Pikir
Wisatawan Domestik Wisatawan Indonesia Wisatawan Mancanegara Nasional Internal Pengeluaran Pengeluaran di Indonesia Validasi Analisis Input-Output Dampak Ekonomi Singapura Malaysia Jepang Australia USA UK Lainnya Internasional Haji Non Haji Jumlah Outbound Haji Non Haji Jumlah Inbound Singapura Malaysia Jepang Australia U S A U K Lainnya Simulasi Neraca Pariwisata Estimasi Model Ekonometrika Inbound Model Ekonometrika Outbound
3.2. Hipotesis Penelitian
Hipotesis yang akan diuji dalam penelitian ini adalah:
1. Kebijakan pemerintah di sektor pariwisata akan meningkatkan penerimaan devisa lebih cepat jika dibandingkan dengan pengeluaran devisa yang dibawa oleh penduduk Indonesia yang pergi ke luar negeri.
2. Dampak ekonomi pariwisata internasional terhadap output, Produk Domestik Bruto (PDB), penerimaan pemerintah melalui pajak tak langsung, pendapatan masyarakat melalui upah dan gaji maupun tenaga kerja di Indonesia semakin meningkat ketika pertumbuhan ekonomi terjadi di Indonesia dan atau enam negara utama asal wisman.