• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dampak Pemberdayaan Perempuan Melalui

BAB IV DATA DAN TEMUAN PENELITIAN

B. Dampak Pemberdayaan Perempuan Melalui

RW 01 Kelurahan Pela Mampang Kecamatan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan

Berdasarkan hasil data wawancara peneliti kepada ibu-ibu yang ikut tergabung dalam program Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K) di RW 01, dari pelaksanaan program banyak dari mereka yang cukup terbantu khususnya dari segi perekonomian keluarga. Ibu-ibu yang mengikuti kegiatan Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K) dapat mencari penghasilan tambahan sendiri dengan membuka usaha dan

berkontribusi dalam meningkatkan pendapatan keluarga.

Berikut diungkapkan oleh Ibu Suwarni dan Ibu Rini Andriani

“…sangat sangat membantu, sangatlah karena bisa cari uang sendiri…” (Wawancara Ibu Suwarni, 2020)

“…iya seperti judul programnya kan mba, membantu meningkatkan pendapatan keluarga.

Jadi, ga mengandalkan suami...” (Wawancara Ibu Rini Andriani, 2020)

Salah satu contohnya adalah Ibu Darwanti. Ibu Darwanti merasakan dampak dari program tersebut.

Beliau perbulan mendapat keuntungan sebesar Rp.

3.000.000,- (tiga juta rupiah). Dari pendapatan yang diperolehnya, tentu Ibu Darwanti dapat berkontribusi dalam membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya.

“…kalo pendapatannya per bulan ga tentu kira-kira 3 juta-an ada pas normal kalo pas lebaran extra bonus.

3 juta itu udah dua-duanya ya kue kering dan kue basah…” (Wawancara Ibu Darwanti, 2020)

“…sangat membantu, karena kalau dari makanan itu kan kita keuntungannya bisa 100%. modal segitu kita dapat untung segitu juga. Lumayan sangat membantu minimal kebutuhan sehari-hari tertutup dari situ…”

(Wawancara Ibu Darwanti, 2020)\

Contoh lainnya yaitu Ibu Elah dan Ibu Nana. Ibu Elah mendapatkan keuntungan pada setiap penjualan produk kentangnya sebesar Rp. 400.000,- (empat ratus ribu

rupiah). Ibu Elah mengungkapkan bahwa dari penjualan kentang tersebut sangat membantu dalam memenuhi kebutuhan sehari-harinya hingga untuk biaya kuliah anaknya. Sedangkan, Ibu Nana mendapatkan pendapatan sebesar Rp. 300.000,- (tiga ratus ribu rupiah) dalam setiap pembuatan produk cheese sticknya. Suami Ibu Nana sudah tidak lagi bekerja karena terpaut usia yang sudah menua.

Menurut Ibu Nana, pendapatannya tersebut cukup membantu untuk membayar listrik dan kebutuhan sehari-hari juga seperti membeli sayur. Demikian halnya pula dengan Ibu Jumiati dan Ibu Yamiati. Berikut hasil wawancara peneliti dengan beberapa narasumber

“…sangat membantu, kebutuhan sehari-hari kuliah anak…” (Wawancara Ibu Elah, 2020)

“…alhamdulillah ya lumayan karena udah gak ada yang sekolah, bisa tambah buat bayar listrik, beli sayur…” (Wawancara Ibu Nana, 2020)

“…iya pasti karena kan ada untungnya...”

(Wawancara Ibu Yamiati,2020)

Peneliti menginterpretasikan bahwa dampak yang dirasakan oleh masing-masing anggota UP2K setelah mengikuti program tersebut sangat beragam, kegiatan UP2K RW 01 sangat membantu seperti mendapatkan untung dalam berwirausaha sehingga membantu kebutuhan sehari-hari, untuk membayar uang listrik sampai biaya kuliah anak.

Selain itu, dampak juga dirasakan saat sebelum dan sesudah mengikuti program UP2K. Sebelum mengikuti kegiatan usaha peningkatan pendapatan keluarga (UP2K), pendapatan mereka kurang. Akan tetapi, setelah mereka mengikuti kegiatan Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K) pendapatan bertambah, ilmu bertambah dan relasi juga ikut bertambah. Berikut hasil wawancara peneliti dengan beberapa anggota UP2K RW 01 mengenai dampak yang dirasakan sebelum dan sesudah mengikuti kegiatan UP2K RW 01 bahwa

“…setelah ikut UP2K ada penghasilan lah, kalo sebelum ikut ya pendapatannya ya kurang…”

(Wawancara Ibu Elah, 2020)

“…sebelum itu kan pengetahuan tentang itu kan gak ada, sekarang udah alhamdulillah tambah pengetahuan, wawasan, tambah teman…”

(Wawancara Ibu Jumiati, 2020)

“… sesudah ikut jadi tambah relasi sebelum ikut ya penjualan gitu-gitu aja…” (Wawancara Ibu Darwanti, 2020)

Dengan mengikuti kegiatan UP2K banyak masukan ilmu yang didapatkan yakni bagi kaum perempuan yang ingin meningkatkan pendapatan untuk membantu perekonomian keluarga dengan usaha rumahan. Program UP2K membuat mereka dapat berinteraksi dengan orang baru dari berbagai wilayah. UP2K RW 01 sering mengikuti kegiatan perlombaan dan mendapatkan penghargaan juara baik di tingkat kecamatan, walikota

sampai provinsi sehingga mengakibatkan mereka dikenal banyak orang serta membuat pertemanan mereka semakin bertambah. Kemudian ditambahkan oleh Ibu Yamiati dan Ibu Suwarni yang membuka usaha dan mulai berjualan sejak mengikuti kegiatan UP2K RW 01.

“…sebelum ikut kita ga tau cara buat apa dampak sesudahnya bisa buka usaha juga dari UP2K…”

(Wawancara Ibu Yamiati, 2020)

“…lebih maju lebih semangat khususnya saya jadi jualan ngewarung…” (Wawancara Ibu Suwarni, 2020) Dampak lain yang juga dirasakan ibu-ibu anggota UP2K RW 01, yakni dari segi pemasaran produk mereka.

Berikut hasil wawancara peneliti dengan salah satu anggota UP2K RW 01

“…jadi ibaratnya kalau ikut UP2K ada yang membantu memasarkan jadinya disitu keuntungannya…” (Wawancara Ibu Elah, 2020) Hal yang sama juga diungkapkan oleh Ketua Pokja II TP PKK Kelurahan Pela Mampang bahwa

“…jadi banyak juga chanel yang dia dapet entah itu dari walikota entah itu dari kelurahan lain atau kecamatan lain untuk memesan produk kita, pemasarannya udah kemana aja sih secara otomatis membantulah perekonomian keluarga…” (Wawancara Ibu Cici, 2020)

Dari hasil pengamatan peneliti, program UP2K membawa dampak kepada kaum perempuan RW 01

khususnya ibu-ibu anggota UP2K. Terlihat dari mereka yang berhasil mengembangkan skillnya. Mereka berani membuka usaha rumahan dengan modal pribadi dan membuat label pada produk mereka. Produk kering kentang yang dibuat oleh Ibu Elah diberi nama Dapoer Else dan aneka kue Ibu Darwanti diberi nama 7Cious, bakso Ibu Yami dinamakan Pawon Yami dan warung mie ayam ibu Jumiati diberi nama Dapur Pojok dan lain sebagainya. Adapun packaging yang mereka gunakan disesuaikan dengan produk masing-masing agar terlihat bagus, rapi serta meningkatkan daya jual. Hal-hal tersebut merupakan hasil dari masukan-masukan yang mereka terima selama mengikuti program UP2K.

Berikut peneliti sajikan tabel pendapatan rata-rata per bulan bagi para anggota pelaksana program UP2K di RW 01:

Tabel 4.2

Jumlah Pendapatan Anggota Pelaksana Setelah Mengikuti Program UP2K di RW 01

No. Jumlah Gabungan Pendapatan Suami dan Istri

Jumlah

Data: diolah oleh peneliti

Dari sajian tabel, dapat dipahami bahwa setelah ibu-ibu anggota pelaksana mengikuti program UP2K RW 01, pendapatan keluarga mereka mengalami peningkatan.

Pada tabel tercatat sebanyak 8 keluarga yang pendapatan keluarganya lebih dari Rp. 3.500.000 per bulan jika pendapatan suami dan istri digabungkan, atau setara dengan 53,% dari total keseluruhan anggota.

Meskipun semua modal yang mereka keluarkan berasal dari dana pribadi mereka sendiri, akan tetapi ibu-ibu anggota UP2K mampu mengembangkan usahanya.

Melalui program Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K) di RW 01, ibu-ibu anggota UP2K merasa terbantu pertama dari segi pendapatan keluarga mereka. Kedua, dari segi pemasaran produk mereka. Ketiga, program Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K) juga berdampak dalam meningkatkan kapasitas kaum perempuan. Dengan meningkatnya pendapatan mereka, maka meningkat pula kualitas dan kemandirian ibu-ibu anggota UP2K RW 01.

Dapat disimpulkan, bahwa dampak secara umum program UP2K di RW 01 membantu lebih dari 50%

pendapatan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga bagi para pelaksananya. Apalagi beberapa dari mereka memiliki suami yang sudah tidak bekerja. Peneliti melihat Program UP2K RW 01 telah menanggulangi masalah

kemiskinan sebelumnyan di wilayah RW 01 Kelurahan Pela Mampang. Minimal membantu dalam pengeluaran kebutuhan sehari-hari untuk rumah tangga mereka.

BAB V

ANALISIS PEMBAHASAN

A. Proses Pemberdayaan Perempuan Melalui Program Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K) RW 01 Kelurahan Pela Mampang Kecamatan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan

Analisis proses program pemberdayaan perempuan melalui program Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K) melalui beberapa tahapan yakni identifikasi potensi wilayah, menyusun rencana kegiatan, implementasi rencana kegiatan, monitoring dan evaluasi kegiatan serta dampak dari program Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K) diantaranya sebagai berikut:

1. Identifikasi Potensi Wilayah, Permasalahan dan Peluang di RW 01 Kelurahan Pela Mampang Kecamatan Mampang Prapatan

Tahap identifikasi ini merupakan tahap paling awal sebelum adanya penyusunan perencanaan kegiatan. Tahap identifikasi ini dilakukan setelah Bapak Romi terpilih menjadi Ketua RW 01. Dalam tahap ini, pihak yang terlibat yaitu pemerintah setempat dan ibu-ibu anggota UP2K RW 01. Manfaat dilakukannya tahap identifikasi

bagi masyarakat untuk merenungkan keadaan wilayah RW 01 serta memberikan motivasi untuk membuat perubahan.

Salah satu poin dalam tahap identifikasi potensi wilayah adanya persiapan penyelenggaraan pertemuan yang dilakukan antara Ibu-ibu anggota UP2K RW 01 dengan pihak pemerintah setempat. Pertemuan tersebut dilaksanakan di wilayah RW 01 tepatnya di rumah Ketua PKK RW 01. Pertemuan tersebut dilakukan dengan metode diskusi. Tahap ini penting dilakukan untuk memperoleh kesepakatan dan menghindari gesekan, demi keberhasilan program kegiatan pemberdayaan yang akan dilakukan. Pada diskusi tersebut, stakeholder terkait membahas kegiatan yang akan direncanakan. Peneliti juga menemukan bahwa dalam keadaan mendadak pun mereka siap untuk menyelenggarakan pertemuan.

Mereka berhasil melihat potensi, peluang dan permasalahan yang ada di wilayah RW 01. Hal tersebut sebagai bagian dari persiapan lapangan dan juga persiapan petugas. Sehingga dari pertemuan tersebut terbentuk koordinasi agar kegiatan yang akan dilakukan lebih terarah, sebagaimana yang dikatakan Ibu Rini Andriani di Bab IV:

“…pasti pertemuan ada, kita adain pertemuan nih mbak terus kita undang pihak Kelurahan jadi ada

koordinasinya…” (Wawancara dengan Ibu Rini Andriani, 2020)

Hal tersebut sesuai dengan Isbandi (2012:179-180), bahwa pada tahap persiapan ini diperlukan persiapan petugas, dan persiapan lapangan. Persiapan petugas ini diperlukan untuk menyamakan persepsi antar anggota sebagai pelaku perubahan. Sedangkan persiapan lapangan, untuk studi kelayakan terhadap daerah yang akan dijadikan sasaran. Tahap persiapan ini dilakukan sebelum memasuki suatu kelompok tertentu atau sebelum dimulainya perencanaan kegiatan.

Dalam mengkaji keadaan wilayah RW 01, realitas yang terjadi terdapat potensi, peluang dan permasalahan dari beberapa aspek sumber daya diantaranya yaitu sumber daya manusia dan sumber daya alam. Sumber daya inilah yang dapat menjadi kekurangan ataupun kelebihan. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Ibu Cici dan Ibu Suwarni mengenai sumber daya manusia dan sumber daya alam RW 01:

“…jadi itu gak semua ibu-ibu pendidikannya SMA atau Perguruan Tinggi, ada ibu-ibu yang hanya lulusan SD…” (Wawancara Ibu Cici, 2020)

“…kalo kaderku bekerja tapi dulu sebelum menikah, sekarang mah sudah ngga kerja, sekarang ya pada dirumah aja. Dulu juga pembukuan administrasi aja gabisa…”

(Wawancara Ibu Suwarni, 2020)

“…untuk wilayahnya sebenernya kecil ya gang gitu bentuknya, lahannya sebenernya gak ada…”

(Wawancara Ibu Cici, 2020)

Adapun sumber daya alam yang menjadi masalah yaitu kurangnya lahan. Peneliti mengamati bahwa lahan di RW 01 sebagian besar dipenuhi oleh pemukiman warga.

Tidak adanya lahan kosong di wilayah tersebut yang bisa dimanfaatkan sebagai tempat berusaha selain di rumah mereka masing-masing. Selain itu, kaum perempuan di wilayah RW 01 sebagian memiliki tingkat pendidikan yang rendah, karena mereka hanya tamatan SMA dan SMP dan bahkan ada yang hanya tamatan SD. Apabila dilihat dari pekerjaan sebagian mereka hanya mengurus rumah tangga. Hasil pengamatan peneliti, pendapatan keluarga berasal dari suami, karena istri hanya bekerja mengurus rumah tangga.

Padahal jika ditinjau dari segi keislaman, Islam sangat menjaga hak-hak perempuan termasuk hak dalam memperoleh pendidikan maupun hak untuk memperoleh pekerjaan atau berkarir. Dalam Surat An-Nisa ayat 124 bahwa Islam sebenarnya telah memberikan ruang yang cukup besar untuk mengoptimalisasikan peran-peran perempuan sesuai dengan kodrat yang diberikan Allah SWT. Kaum perempuan juga bisa mengekspresikan segala kemampuan dan keterampilannya.

Dalam tahap identifikasi, potensi yang timbul didalam masyarakat RW 01 bahwa ibu-ibu kader PKK memiliki keterampilan membuat olahan-olahan seperti kue sehingga mereka mempunyai usaha rumahan. Selain itu, warga RW 01 memiliki semangat dan kepedulian yang tinggi dari pada wilayah-wilayah lain di Kelurahan Pela Mampang.

Seperti yang diutarakan Ibu Suwarni dan Ibu Cici:

“…potensi yang ada di wilayah RW 01 untuk ibu-ibunya disini tuh rata-rata pada punya usaha.

Kader tuh pada punya usaha walau sekecil apa, rata-rata udah pada bisa bikin kue…”

(Wawancara dengan Ibu Suwarni, 2020)

“…kesadaran masyarakatnya memang lebih peduli ya dari RW lain mulai dari kader sampai RW-nya memang semangat untuk melakukan apa yang sudah menjadi program pemerintah.

Makanya salut juga tanpa pamrih mereka punya kesadaran sendiri apa yang bisa dimajukan dari wilayahnya…” (Wawancara Ibu Cici, 2020)

Dari hasil pengamatan dan wawancara peneliti diatas, meskipun secara modal fisik, finansial, alam atau lingkungan yang mereka miliki kurang. Akan tetapi, wilayah RW 01 memiliki kekuatan pada modal manusia dan modal sosial. Modal manusia yang dimiliki kaum perempuan di RW 01 adalah kemampuan dan keterampilan yang berpengaruh pada produktivitas mereka. Ibu-ibu Kader PKK mereka membuka usaha rumahan dengan membuat macam-macam olahan makanan. Dan modal sosial, dimana warga RW 01 baik

kaum perempuan dan kaum laki-laki memiliki kesadaran, kepedulian dan solidaritas yang tinggi, sehingga perilaku-perilaku tersebut bernilai penting dalam proses pemberdayaan dan perubahan di wilayah mereka.

Hal tersebut sesuai menurut Isbandi (2012: 237-239), pada tahap pengkajian ini, dilakukan dengan mengidentifikasi masalah ataupun kebutuhan dan sumber daya yang dimiliki masyarakat sasaran. Dalam proses mengkaji potensi wilayah kita dapat melihat lima modal yaitu modal manusia, modal fisik, modal sosial, modal finansial dan modal alam. Kelima modal diatas dijadikan roda penggerak dalam kehidupan masyarakat. Sehingga bila kelima modal diatas dikelola dengan baik, maka kehidupan masyarakat pun akan berjalan dengan baik.

Disamping itu, hal tersebut diatas sejalan dengan apa yang dikemukakan Totok Mardikanto dan Poerwoko Soebianto (2013:126), bahwa pengkajian masalah dan potensi dimaksudkan agar masyarakat mampu dan percaya diri. Setelah dilakukan persiapan dan pengkajian sumber daya, langkah berikutnya yaitu penyusunan rencana tindak lanjut untuk kegiatan Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K) RW 01.

2. Menyusun Rencana Kegiatan Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K) RW 01

Peneliti menemukan penyusunan rencana kegiatan program Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K) dilakukan setelah persiapan dan identifikasi peluang, masalah dan sumber daya yang ada di RW 01 yang dilakukan oleh para stakeholder. Seperti telah dijabarkan pada Bab IV.

Penyusunan rencana kegiatan program dilakukan dengan cara berdiskusi. Proses tersebut terjadi setelah Bapak Romi Ketua RW 01 dan Ibu Suwarni selaku Ketua PKK RW 01 berkunjung ke kampung adik iparnya yang memiliki kegiatan UP2K yang sudah maju di Jakarta Timur. Bapak Romi termotivasi untuk membuat perubahan pada lingkungannya menjadi seperti itu.

Kemudian Bapak Romi mengadakan pertemuan dengan para Kader PKK dan mendiskusikan kegiatan apa yang akan mereka lakukan. Sebagaimana yang diungkapkan Ibu Suwarni:

“…rencana awal untuk nyusun program, dulu aku tuh liat ditempat adikku di Jakarta Timur. Bapak pertama liat disana lingkungannya, penghijauannya itu maju banget, semua apa-apa udah tingkat nasional disitu tuh aku liat kegiatan UP2K kaya tas bungkus kopi terus bapak ngomong ke saya sama kader-kader. Jadi, bapak tuh pengen RW 01 maju dari lingkungannya minimal cuma terkenal sampe kecamatan aja…” (Wawancara Ibu Suwarni, 2020)

Hal tersebut sesuai dengan Isbandi (2012:139) bahwa masyarakat dan pemerintah setempat adalah kelompok utama dalam menganalisa pokok permasalahan yang akan atau sedang dibahas. Masyarakat dan pemerintah setempat merupakan yang melakukan perencanaan dalam memilih tindakan yang akan mereka lakukan. Dalam proses ini, biasanya masyarakat atau pemerintah setempat dapat mempengaruhi bentuk tindakan yang akan diterapkan, melalui proses diskusi.

Dalam penyusunan rencana kegiatan program, identifikasi sumber daya dapat membantu proses pemecahan masalah. Pada tahap sebelumnya kita sudah mengetahui seluruh stakeholder telah mengkaji masalah dan potensi yang ada di wilayah RW 01. Dengan demikian, upaya pemecahan masalah yakni membuat kegiatan yang dapat membantu meningkatkan pendapatan keluarga mereka PKK dan pemerintah setempat menghadirkan kembali kegiatan yang membuat ibu-ibu menjadi produktif agar tidak hanya berdiam dirumah.

Gambar 5.1

Pelatihan Membuat Kue Onde-Onde Sumber: Dokumentasi PKK RW 01

Kegiatan UP2K tersebut, dimana ibu-ibu dapat membuat olahan-olahan makanan agar mereka dapat berkontribusi dalam meningkatkan pendapatan keluarga.

Upaya tersebut dipilih oleh pemerintah setempat dan masyarakat khususnya kader PKK RW 01 karena melihat masalah dan potensi yang ada.

Sesuai dengan proses pemberdayaan yang dikemukakan Totok Mardikanto dan Poerwoko Soebianto (2013:126), menyusun rencana kegiatan berdasarkan hasil kajian. Pengembangan rencana kegiatan program selanjutnya yaitu pengorganisasian pelaksanaan.

Pengorganisasian pelaksanaan termasuk pemilihan pemimpin dan pembagian peran di dalamnya.

Pengorganisasian ini penting dilakukan untuk melaksanakan perubahan guna memecahkan masalah.

Pemilihan Ketua program UP2K yakni dipilih secara langsung oleh Ketua RW setempat. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibu Cici:

“…dipilih ya dari RW yang kira-kira punya potensi dia yang pantas. Kebetulan bu Rini itu dulunya PKK Walikota…” (Wawancara Ibu Cici, 2020)

Ketua RW 01 memilih Ketua UP2K berdasarkan potensi yang dimiliki. Ibu Rini Andriani merupakan Ketua UP2K, beliau pernah tergabung dalam anggota PKK tingkat Walikota Jakarta Selatan. Adapun yang berperan

sebagai pelaksana adalah para anggota UP2K yang mana mereka yang tergabung dalam keanggotaan PKK RW 01.

Tidak ada cara khusus dalam memilih Ketua UP2K RW 01 ataupun rekrutmen anggota. Seluruh anggota PKK sudah otomatis bisa mengikuti kegiatan UP2K. Hal tersebut diatas, sejalan dengan yang dikemukakan oleh Totok Mardikanto (2013:128), bahwa pengorganisasian pelaksanaan diantaranya yakni termasuk pemilihan pemimpin, pembagian peran, dan pengembangan jejaring kemitraan.

Akan tetapi, sejak pandemi virus Covid-19 ini melanda Indonesia khususnya Jakarta Selatan, maka seluruh kegiatan atau program pemerintah ditiadakan sementara. Sejak Bulan Januari Tahun 2020 hingga saat ini belum ada perencanaan yang dibuat. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Ibu Elah, Ibu Suwarni dalam Bab IV:

“…belum ada, kan memang libur dulu. Lagi nggak boleh kegiatan...” (Wawancara Ibu Suwarni, 2020) “…gak ada mba, pokoknya selama covid ini pertemuan dan kegiatan tidak diperbolehkan…”

(Wawancara Ibu Elah, 2020)

Beberapa narasumber mengatakan demikian. Hal tersebut tentu sangat disayangkan. Meskipun kegiatan atau program pemerintah ditiadakan sementara, akan tetapi itu hanya berlaku pada kegiatan yang sifatnya berkelompok

untuk menghindari adanya kerumunan. Beberapa kegiatan program PKK masih bisa berjalan selain Jumantik dan Posyandu yakni UP2K. UP2K yang diperbolehkan untuk tetap berjalan yaitu UP2K mandiri/perorangan yang dijalani ibu-ibu anggota UP2K yang dilakukan di rumah masing-masing.

3. Implementasi Kegiatan Program UP2K RW 01 Kelurahan Pela Mampang

Sebelum kegiatan diimplementasikan atau dilaksanakan maka terlebih dahulu dilakukan sosialisasi agar terjalin komunikasi yang baik antara pemerintah setempat dengan ibu-ibu anggota UP2K. Sosialisasi yang dilakukan pemerintah setempat sebelum terjadinya pandemi Covid-19 dilakukan secara langsung, saat pertemuan rutin atau rapat koordinasi.

Gambar 5.2

Sosialisasi Saat Pertemuan Rutin Sumber: Dokumentasi PKK RW 01

Saat ini, sosialisasi dilakukan secara tidak langsung yakni melalui whatsapp group. Segala bentuk kegiatan UP2K RW 01, mandiri/perorangan maupun kelompok

tetap ada sosialisasinya. Sebagaimana yang diungkapkan oleh beberapa narasumber:

“…cara sosialisasinya lewat wa aja, kita gampang sih ada undangan lewat wa, misal hari ini kita pertemuan di bu RW udah gitu aja cukup kok di wa, kan sekarang jamane udah canggih ya bu…”

(Wawancara Ibu Suwarni, 2020)

“…biarpun itu kegiatan kelompok atau kegiatan perorangan pasti ada sosialisasinya…”

(Wawancara Ibu Cici, 2020)

“…jadi pertemuan rutin itu tempat wadahnya kita menyosialisasikan mulai dari Covid, UP2K, UPPKS, KWT jadi sosialisasinya pas di pertin itu…” (Wawancara Ibu Rini Andriani, 2020) Sosialisasi dilakukan oleh pihak Kelurahan atau Kecamatan kemudian dikomunikasikan kepada Ketua PKK RW 01, lalu disampaikan kepada anggota UP2K RW 01. Sebagai harapan agar seluruh anggota UP2K RW 01 memperoleh pemahaman mengenai kegiatan yang disosialisasikan. Terbukti dari sosialisasi yang dilakukan bahwa, sebagian besar dari mereka menyetujui adanya kegiatan UP2K yang akan dilakukan dan menyambutnya dengan positif. Berikut yang diutarakan beberapa narasumber kepada peneliti

“…banyak yang menyambut positif, kalo di RW lain kan mau ikut program UP2K alasannya terpentok biaya, kesadaran ibu-ibu untuk mengembangkan inovasi tersendiri juga masih kurang…” (Wawancara Ibu Cici, 2020)

“seneng, dapet ilmu karena pengetahuan kan mahal dapat ilmu gratis ga perlu mengeluarkan biaya” (Wawancara Ibu Darwanti, 2020)

“…kita suka dapat ilmu, pemasarannya bisa terbantu ya…” (Wawancara Ibu Darwanti, 2020)

“…yang membuat saya tertarik karena nambah ilmu, meringankan beban suami, bisa nabung, nambah uang belanja...” (Wawancara Ibu Jumiati, 2020)

Proses sosialisasi menjadi sangat penting, karena membantu melihat minat dan ketertarikan masyarakat khususnya kaum perempuan RW 01 untuk berpartisipasi dan diminta keterlibatannya dalam program pemberdayaan UP2K. Berbagai macam alasan ketertarikan ibu-ibu untuk ikut berpartisipasi dalam program UP2K adapun respon mereka yaitu ingin mendapatkan ilmu, dibantu dalam pemasaran, dan meningkatkan pendapatan sehingga dapat meringankan beban suami.

Pada hakikatnya program tersebut dapat meningkatkan kemampuan dan kemandirian ibu-ibu dalam meningkatkan taraf hidupnya. Hal tersebut juga sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Totok Mardikanto (2013:125), sosialisasi merupakan upaya mengkomunikasikan kegiatan untuk menciptakan dialog dengan masyarakat.

Melalui sosialisasi akan membantu meningkatkan pemahaman masyarakat dan pihak terkait program yang telah direncanakan.

Meskipun di era pandemi, kegiatan UP2K mandiri atau perorangan ibu-ibu anggota UP2K RW 01 tetap berjalan. Hal tersebut telah diungkapkan oleh Ibu Cici selaku Ketua Pokja II TP PKK Kelurahan Pela Mampang bahwa UP2K RW 01 ada kelompok dan mandiri/perorangan. Ada 15 orang anggota UP2K yang

Meskipun di era pandemi, kegiatan UP2K mandiri atau perorangan ibu-ibu anggota UP2K RW 01 tetap berjalan. Hal tersebut telah diungkapkan oleh Ibu Cici selaku Ketua Pokja II TP PKK Kelurahan Pela Mampang bahwa UP2K RW 01 ada kelompok dan mandiri/perorangan. Ada 15 orang anggota UP2K yang

Dokumen terkait