PROSES PEMBERDAYAAN PEREMPUAN MELALUI PROGRAM USAHA PENINGKATAN PENDAPATAN
KELUARGA (UP2K) DI RW 01 KELURAHAN PELA MAMPANG KECAMATAN MAMPANG PRAPATAN
JAKARTA SELATAN
SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi untuk memenuhi persyaratan memperoleh gelar Sarjana Sosial
(S.Sos)
Disusun Oleh:
Mariatul Khiftiyah NIM 11160540000045
PROGRAM STUDI PENGEMBANGAN MASYARAKAT ISLAM FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA 1442 H/2021 M
LEMBAR PERSETUJUAN
PROSES PEMBERDAYAAN PEREMPUAN MELALUI PROGRAM USAHA PENINGKATAN PENDAPATAN
KELUARGA (UP2K) DI RW 01 KELURAHAN PELA MAMPANG KECAMATAN MAMPANG PRAPATAN
JAKARTA SELATAN
Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi untuk memenuhi persyaratan memperoleh gelar Sarjana Sosial (S.Sos)
Oleh
Mariatul Khiftiyah 11160540000045 Dibawah Bimbingan
Wati Nilamsari, M.Si.
NIP. 197105201999032002
PROGRAM STUDI PENGEMBANGAN MASYARAKAT ISLAM FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA 1442 H/2021 M
ABSTRAK Mariatul Khiftiyah (11160540000045)
Proses Pemberdayaan Perempuan Melalui Program Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K) Di RW 01 Kelurahan Pela Mampang Kecamatan Mampang Prapatan Jakarta Selatan
Program UP2K merupakan program yang dikhususkan oleh pemerintah untuk memberdayakan kaum perempuan.
Program ini mendorong kaum perempuan untuk meningkatkan produktifitas mereka dengan melakukan kegiatan berwirausaha. Program ini bertujuan memberdayakan kaum perempuan agar dapat berkontribusi dalam meningkatkan pendapatan keluarga.
Permasalahan yang dalam penelitian ini adalah proses pemberdayaan perempuan melalui program UP2K dan bagaimana dampak dari pelaksanaan program UP2K bagi kehidupan masyarakat RW 01 Kelurahan Pela Mampang Kecamatan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa proses pemberdayaan melalui program UP2K RW 01 terdapat potensi sumber daya yang tersedia yang kemudian dikembangkan. Pada proses implementasi kegiatan dilakukan lewat kegiatan usaha rumahan sehingga hasil yang diperoleh yakni meningkatkan pendapatan keluarga. Adapun dampak program UP2K, terjadinya perubahan yang dibuktikan dengan meningkatnya pengetahuan, wawasan dan relasi bagi para anggota pelaksana kegiatan UP2K RW 01.
Kata Kunci: Proses, Pemberdayaan Perempuan, Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K)
KATA PENGANTAR Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Segala puji bagi Allah SWT peneliti ucapkan atas segala nikmat yang diberikan. Dengan rahmat-Nya peneliti dapat melaksanakan tugas akhir yaitu skripsi dengan judul “Proses Pemberdayaan Perempuan Melalui Program Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K) Di RW 01 Kelurahan Pela Mampang, Kecamatan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan”. Skripsi ini sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana Strata satu (S-1) di Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Sholawat serta salam semoga senantiasa selalu tercurah kepada Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi Wasallam, serta kepada para keluarga dan sahabatnya yang telah memberikan teladan yang baik bagi kita semua.
Dalam penyusunan tugas akhir ini, penulis banyak mengucapkan terima kasih atas saran, bimbingan dan dukungan, serta kepada semua pihak yang telah membantu proses penyelesaian dan hasil penulisan skripsi ini, sebagaimana nama-nama yang tercantum dibawah ini:
1. Prof. Dr. Amany Burhanudin Umar Lubis, Lc MA., Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Suparto, M.Ed, Ph.D sebagai Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Dr. Siti Napsiyah, MSW sebagai Wakil Dekan I Bidang Akademik Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi. Dr. Sihabudin Noor, MA sebagai Wakil Dekan II Bidang Administrasi Umum Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi.
Cecep Sastra Wijaya MA., Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Dr. Muhtadi, M.Si., Ketua Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
4. WG. Pramita Ratnasari, S.Ant., M.Si., Sekretaris Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
5. Wati Nilamsari, M.Si, selaku Dosen Pembimbing Skripsi yang telah mengarahkan dan membimbing peneliti dalam menyelesaikan penelitian karya ilmiah ini.
6. Dosen-dosen pengajar selama perkuliahan; Prof.
Dr. H. Asep Usman Ismail, M A., Dr. Tantan Hermansah, M.Si., Drs. Yusra Kilun, M.Pd., Nurul Hidayati, S.Ag., M.Pd., Wati Nilamsari, M.Si., Rosita Tandos, M.ComDev., Ph.D., M. Hudri, M.Ag. Dicky Andika, M.Si beserta seluruh dosen Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang selalu memberikan ilmunya selama perkuliahan.
7. Kedua orang tua peneliti, Ibunda Hj. Niroyah dan Ayahanda H. Asep Setiawan serta kakak-kakak dan adikku yang tak henti-hentinya selalu memberikan dukungan dan doa hingga peneliti dapat menyelesaikan penelitian karya ilmiah ini.
8. Ibu Sri Rahayu atau lebih akrab dipanggil dengan Ibu Cici selaku Ketua Pokja II Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP- PKK) Kelurahan Pela Mampang. Bapak Romi Sudaryatmo selaku Ketua RW 01. Ibu Suwarni selaku Ketua PKK RW 01. Ibu Rini Andriani selaku Ketua UP2K RW 01 beserta seluruh anggota yang telah bersedia membantu peneliti dalam memberikan informasi terkait penelitian yang ditempuh.
9. Teman seperjuangan Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam angkatan 2016, kakak kelas dan
adik kelas peneliti berterima kasih atas masukkan, dukungan dan doanya.
10. Terima kasih untuk para sahabat-sahabat Thoyyibus Sariroh, Madania Cahya Rani, Tiara Aprilia, Fildza Maghfira Alyani karena selalu ada juga atas doa dan motivasi yang tak pernah henti.
11. Kepada semua pihak yang terlibat yang peneliti tidak dapat sebutkan namanya satu persatu.
Peneliti menyadari bahwa laporan dari penelitian ini masih jauh dari kesempurnaan. Maka dari itu, peneliti sangat mengharapkan adanya kritik dan saran yang membangun dari semua pihak guna melengkapi kekurangan dan memperbaiki hasil dari penelitian agar lebih baik lagi kedepannya.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Jakarta, 15 Januari 2021
Mariatul Khiftiyah
DAFTAR ISI
ABSTRAK ... i
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI... vi
DAFTAR GAMBAR ... x
DAFTAR TABEL ... xi
DAFTAR BAGAN ... xii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Identifikasi Masalah Penelitian ... 9
C. Pembatasan dan Perumusan Masalah ... 10
1. Pembatasan Masalah ... 10
2. Perumusan Masalah ... 10
D. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 11
1. Tujuan Penelitian ... 11
2. Manfaat Peneletian ... 11
E. Metodologi Penelitian ... 12
1. Pendekatan Penelitian ... 12
2. Jenis Penelitian ... 14
3. Subjek dan Objek Penelitian ... 14
4. Teknik Pemilihan Informan ... 15
5. Sumber Data ... 18
6. Teknik Pengumpulan Data ... 19
7. Teknik Analisis Data ... 22
8. Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data ... 24
F. Tinjauan Pustaka ... 26
G. Sistematika Penulisan ... 30
BAB II TINJAUAN TEORITIS A. Pemberdayaan Perempuan... 33
1. Pengertian Pemberdayaan Perempuan ... 33
2. Tujuan Pemberdayaan Perempuan ... 40
3. Indikator Keberdayaan ... 41
4. Pandangan Islam Terhadap Pemberdayaan Perempuan ... 43
B. Pemberdayaan Sebagai Proses ... 47
1. Pengertian Proses ... 47
2. Proses Pemberdayaan Perempuan ... 50
3. Dampak Sosial-Ekonomi ... 56
4. Pemandirian Masyarakat ... 58
C. Program Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K)... 62
D. Kerangka Berpikir ... 64
BAB III GAMBARAN UMUM PENELITIAN A. Gambaran Umum Kelurahan Pela Mampang ... 67
1. Kondisi Geografis Kelurahan Pela Mampang .... 67
2. Keadaan Penduduk Kelurahan Pela Mampang ... 68
3. Keadaan Ekonomi dan Mata Pencaharian Penduduk Kelurahan Pela Mampang ... 76
B. Gambaran Umum Program Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K) ... 79
1. Sejarah Singkat Usaha Peningkatan Pendapatan
Keluarga (UP2K) Kelurahan Pela Mampang... 79
2. Profil Program UP2K RW 01 ... 81
3. Kegiatan Program UP2K RW 01 ... 82
4. Struktur Kepengurusan TP-PKK Kelurahan Pela Mampang ... 86
5. Struktur Kepengurusan UP2K RW 01 Kelurahan Pela Mampang ... 87
BAB IV DATA DAN TEMUAN PENELITIAN A. Proses Pemberdayaan Perempuan Melalui Program Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K) di RW 01 Kelurahan Pela Mampang Kecamatan Prapatan, Jakarta Selatan ... 89
1. Mengidentifikasi Potensi Wilayah ... 89
2. Menyusun Rencana Kegiatan Program ... 94
3. Implementasi Rencana Kegiatan Program ... 102
4. Monitoring dan Evaluasi Kegiatan Program... 114
B. Dampak Pemberdayaan Perempuan Melalui Program Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K) di RW 01 Kelurahan Pela Mampang Kecamatan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan ... 117
BAB V ANALISIS PEMBAHASAN A. Proses Pemberdayaan Perempuan Melalui Program Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K) RW 01 Kelurahan Pela Mampang Kecamatan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan ... 125
1. Identifikasi Potensi Wilayah, Permasalahan dan Peluang di RW 01 Kelurahan Pela Mampang
Kecamatan Mampang Prapatan ...125
2. Menyusun Rencana Kegiatan Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K) RW 01 ...130
3. Implementasi Kegiatan Program UP2K RW 01 Kelurahan Pela Mampang...135
4. Memantau dan Evaluasi Kegiatan Program UP2K RW 01 Kelurahan Pela Mampang ...142
B. Dampak Pemberdayaan Perempuan Melalui Program Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K) di RW 01 Kelurahan Pela Mampang Kecamatan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan ...144
BAB VI PENUTUP A. Kesimpulan ...149
B. Saran ...153
DAFTAR PUSTAKA ...155
LAMPIRAN ...160
DAFTAR GAMBAR
Gambar 3.1 Kondisi Lingkungan Wilayah RW 01 Gambar 3.2 Pertemuan Rutin UP2K RW 01
Gambar 3.3 Kegiatan Bazar di Walikota Jakarta Selatan Gambar 3.4 Kegiatan Lomba Terkait UP2K
Gambar 4.1 Kondisi Lahan Wilayah RW 01 Gambar 4.2 Diskusi untuk Rencana Kegiatan Gambar 4.3 Pelatihan Membuat Keju Mozarela Gambar 4.4 Kemasan Kering Kentang Ibu Elah
Gambar 4.5 Kue Kering dan Basah Produksi Ibu Darwanti dan Kemasannya
Gambar 4.6 Produksi Pembuatan Bakso Ibu Yamiati Gambar 5.1 Pelatihan Membuat Kue Onde-Onde Gambar 5.2 Sosialisasi saat Pertemuan Rutin
Gambar 5.3 Proses Produksi dengan Alat dan Bahan Sederhana
Gambar 5.4 Pemasaran Online Melalui Instagram Produk Ibu Yamiati dan Ibu Darwanti
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Daftar Informan
Tabel 3.1 Kondisi Lingkungan Wilayah RW 01 Tabel 3.2 KK Menurut Jenis Kelamin RW 01
Tabel 3.3 Tingkat Pendidikan Penduduk Kelurahan Pela Mampang
Tabel 3.4 Sarana Pendidikan Kelurahan Pela Mampang Tabel 3.5 Agama Penduduk Kelurahan Pela Mampang Tabel 3.6 Mata Pencaharian Penduduk RW 01
Tabel 4.1 Daftar Nama Anggota UP2K RW 01 Tabel 4.2 Jumlah Pendapatan Anggota Pelaksana
SetelahMengikuti Program UP2K di RW 01
DAFTAR BAGAN
Bagan 2.1 Kerangka Berfikir Proses Pemberdayaan Perempuan Melalui Program UP2K RW 01 Bagan 3.1 Struktur Kepengurusan TP PKK Kelurahan
Pela Mampang
Bagan 3.2 Struktur Kepengurusan UP2K RW 01
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pada dasarnya kemiskinan merupakan masalah yang dihadapi oleh semua negara di dunia, tanpa terkecuali baik di negara berkembang maupun di negara maju seperti Amerika Serikat. Kemiskinan adalah ketidakmerataan pada hasil-hasil pembangunan.
Menurut Mulyono (2017:5-7) kemiskinan merupakan fenomena yang sulit dipecahkan bagi bangsa Indonesia.
Beban kemiskinan paling besar terletak pada kelompok- kelompok tertentu dan kaum perempuan pada umumnya merupakan pihak yang dirugikan. Kemiskinan ditandai oleh kondisi masyarakat yang serba terbatas baik dalam akses pada faktor produksi, peluang atau kesempatan berusaha, pendidikan, fasilitas hidup sehingga dalam melakukan aktivitas maupun usaha menjadi sangat terbatas.
Masyarakat miskin terbagi menjadi dua, yaitu miskin secara fisik dan nonfisik. Miskin secara fisik antara lain berupa kondisi bangunan rumah yang tidak layak huni, status kepemilikan tanah ada yang milik sendiri dan ada yang menempati tanah negara, serta kepemilikan aset yang
masih sangat sederhana. Sedangkan yang nonfisik terdiri dari pendapatan rendah di bawah 2$ per orang atau per hari, bahkan ada yang di bawah standar UMR. Secara umum masyarakat miskin pada dasarnya serba kekurangan baik papan, pangan, maupun sandang. Tidak hanya itu untuk keperluan lainnya seperti pendidikan dan kesehatan juga ikut terabaikan. Bukan hanya di pedesaan tetapi di perkotaan juga masih banyak terdapat masyarakat yang hidup dalam taraf kemiskinan. Salah satunya kota besar di Indonesia yaitu kota Jakarta.
Badan Pusat Statistik (2019), Kota Jakarta memiliki persentase penduduk miskin pada Maret 2019 adalah 3,47% atau sebesar 365 ribu orang. Akan tetapi, untuk Kota Jakarta Selatan memiliki jumlah penduduk miskin sebesar 61 ribu dengan persentase 2,73 %. Pada 2019 ketimpangan pengeluaran penduduk meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Di Kelurahan Pela Mampang memiliki penduduk berjumlah 26.382 keluarga. Badan Kependudukan dan Keluarga Berecana Nasional (BKKBN) Tahun 2015 mencatat ada 3.071 keluarga yang hidup dalam garis kemiskinan atau setara dengan 12%.
Berdasarkan data dari Bappenas yang dikutip oleh Bambang Rustanto (2015:95), bahwa kemiskinan perkotaan dapat dilihat dari rendahnya akses terhadap
sumberdaya dan aset produktif yang diperlukan untuk pemenuhan sarana kebutuhan hidup. Kriteria kemiskinan perkotaan ditandai ketidakmampuan dan ketidakberuntungan sosial salah satu diantaranya yaitu perempuan. Perempuan memang paling banyak mengalami masalah terutama ekonomi dan lingkungan lebih sempit mengarah pada masalah rumah tangga.
Beberapa masalah tersebut erat kaitannya dengan gejala seperti, kesejahteraan keluarga, tingkat mata pencaharian, tingkat pendidikan yang rendah, tingkat pendapatan yang rendah, dan terbatasnya akses dan sumber daya.
Sejalan dengan itu, data Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil mencatat dalam data Kelurahan Pela Mampang (2020), bahwa jumlah penduduk laki-laki di Kelurahan Pela Mampang lebih banyak dibanding jumlah penduduk perempuan. Selain itu, peneliti mengutip dari media online (https://www.gatra.com yang diakses pada 06 Mei 2019), bersumber dari Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), bahwa tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan di Indonesia pada Februari 2019 sebesar 55,50% dan tingkat partisipasi angkatan kerja laki-laki mencapai 83,18%. Hal tersebut terjadi juga di Kelurahan Pela Mampang.
Selain tingkat partisipasi kerja yang rendah di Kelurahan Pela Mampang, tingkat pendidikan warganya
juga tergolong rendah karena sebagian dari mereka hanya lulusan SMP bahkan ada beberapa yang hanya lulusan SD.
Kaum perempuannya banyak yang tidak bekerja atau hanya mengurus rumah tangga. Sehingga dari kedua keadaan tersebut, menyebabkan terbatasnya akses sumber daya dan membuat perekonomian keluarga menjadi lemah karena pendapatan keluarga diserahkan sepenuhnya kepada kaum laki-laki.
Padahal, perempuan merupakan sumber daya manusia yang mempunyai potensi dalam menentukan arah keberhasilan suatu pembangunan. Dalam kehidupan nyata sampai saat ini perempuan masih diidentikkan dengan pekerjaan domestik seperti urusan dapur, sumur dan kasur.
Di samping itu, Anwar (2006:85) menjelaskan bahwa dalam konsep ajaran Islam kesempatan bagi perempuan untuk berpartisipasi dalam pembangunan tidak tertutup.
Adanya pembagian kerja yang kaku dalam keluarga dan kehidupan masyarakat menunjukkan bahwa dalam benak dan pemikiran masyarakat, kehadiran perempuan di dunia ini hanya berfungsi untuk mengabdi kepada keluarganya.
Islam secara tegas tidak membedakan fungsi penciptaan perempuan dan laki-laki.
Fungsi penciptaan perempuan dan laki-laki ini sama, maka tugas kemanusiannya pun sama, seperti Firman Allah SWT:
ٌنِمْؤُم َوُهَو ٰىَثْ نُأ ْوَأ ٍرَكَذ ْنِم اًِلِاَص َلِمَع ْنَم ۖ ًةَبِّيَط ًةاَيَح ُهَّنَ يِيْحُنَلَ ف
َنوُلَمْعَ ي اوُناَك اَم ِنَسْحَِبِ ْمُهَرْجَأ ْمُهَّ نَ يِزْجَنَلَو
Artinya:“Barang siapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Q.S An-Nahl, 16:97).
Tugas lain manusia (laki-laki dan perempuan) di muka bumi ini adalah sebagai khalifah Allah atau pemimpin di muka bumi dan Allah memerintahkan untuk beramar makruf nahi mungkar, sebagai Firman Allah SWT:
رَكْنُمْلا ِنَع َنْوَهْ نَ يَو ِفوُرْعَمْلِبِ َنوُرُمَْيَ ۚ ٍضْعَ ب ُءاَيِلْوَأ ْمُهُضْعَ ب ُتاَنِمْؤُمْلاَو َنوُنِمْؤُمْلاَو
Artinya:“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, (Islam) menyuruh kepada yang makruf dan mencegah yang mungkar.” (Q.S.
At-Taubah, 9:71).
Islam sama sekali tidak memisahkan kerja kemasyarakatan (publik) dan kerumahtanggaan
(domestik). Al-Qur’an maupun hadits mengakui adanya perempuan yang aktif di berbagai bidang kehidupan. Dari kehidupan para sahabat Nabi SAW diketahui bahwa pekerjaan yang dilakukan perempuan dan laki-laki dalam keluarga bersifat fleksibel sesuai dengan kondisi masing- masing keluarga. Nabi sendiri mendukung perempuan untuk paham dan kritis tentang urusan kemasyarakatan dan memberikan sumbangsinya kepada kemajuan peradaban umat manusia. Dalam sejarah Islam telah ditunjukkan sumbangsih perempuan, sahabat, dan para isteri nabi dalam kehidupan ekonomi, sosial dan politik.
Seperti diakui oleh nabi demi tegaknya dakwah Islam, Umi Hani berperan dalam menjamin keamanan orang musyrik, Aisyah sebagai isteri nabi juga berperan sebagai ahli ilmu agama, guru kaum muslimin, perawi hadits, dan pemimpin perang jamal.
Ayat-ayat dan sejarah Islam menjelaskan bahwa, tidak ada perbedaan tugas antara laki-laki dengan perempuan.
Meskipun pencari nafkah utama tetap dipegang oleh seorang laki-laki tetapi kaum perempuan juga dapat berkontribusi untuk meningkatkan pendapatan keluarga mereka.
Kehadiran program Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K) sebagai program pemberdayaan yang merupakan peluang berharga bagi perempuan yang ingin
mengubah dirinya dan lingkungannya dalam upaya mencapai dan meningkatkan kesejahteraan keluarganya.
Dalam rangka untuk memajukan kesejahteraan rakyat Indonesia, pemerintah menghadirkan program penanggulangan kemiskinan dengan memberikan dukungan khususnya untuk kaum perempuan yaitu program Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K).
Kelurahan Pela Mampang merupakan salah satu kelurahan yang menjalankan program Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K). Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K) adalah salah satu implementasi program kebijakan bidang pemberdayaan perempuan dari segi perekonomian. Hal tersebut dilakukan karena mengingat kondisi kaum perempuan saat ini, dimana tingkat pendidikan, tingkat keterampilan, dan tingkat produktivitas yang rendah mengakibatkan tidak mampu mendukung perekonomian rumah tangga atau keluarga.
Program UP2K bergerak di bawah gerakan Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK). UP2K merupakan salah satu program dalam PKK dan berada pada Pokja II yakni pendidikan dan keterampilan.
Pelaksanaan program UP2K juga telah disahkan berdasarkan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 53
Tahun 2000, tentang gerakan Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) yaitu bahwa terwujudnya kualitas sumber daya manusia yang ditentukan oleh tingkat kesejahteraan keluarga perlu dilakukan oleh seluruh komponen bangsa secara bersama-sama, terpadu, terencana dan berkelanjutan. Dan untuk terwujudnya keluarga yang sejahtera, maka kegiatan pembinaan keluarga perlu ditingkatkan dan diintensifkan melalui program UP2K yang di wadahi oleh Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK).
Dalam pemberdayaan perempuan pasti di dalamnya terdapat proses pelaksanaan progam UP2K kaum perempuan di RW 01 dilibatkan dalam organisasi kemasyarakatan yaitu PKK, kemudian kaum perempuan diperbolehkan ikut dalam kegiatan-kegiatan PKK termasuk UP2K guna mengembangkan keterampilan yang dimiliki salah satunya seperti membuat olahan makanan atau minuman. Dari hal tersebut, kaum perempuan di RW 01 tentu dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan, kesejahteraan dan produktivitas serta pendapatan mereka.
Dengan demikian, proses pemberdayaan perempuan melalui program UP2K di RW 01 Kelurahan Pela diharapkan dapat membawa dampak yakni kemandirian.
Sehingga berkontribusi sedikit demi sedikit terhadap peningkatan pendapatan keluarga mereka.
Berdasarkan uraian tersebut, peneliti tertarik untuk mengkaji lebih dalam dan memahami bagaimana proses pemberdayaan perempuan dari program usaha peningkatan pendapatan keluarga (UP2K) serta melihat dampak dari pelaksanaan program pemberdayaan tersebut.
Peneliti menuliskannya dalam judul: “Proses Pemberdayaan Perempuan Melalui Program Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K) di RW 01 Kelurahan Pela Mampang Kecamatan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan”.
B. Identifikasi Masalah Penelitian
Dari beberapa uraian yang dikemukakan pada latar belakang masalah, maka dapat diidentifikasikan sebagai berikut:
1. Rendahnya tingkat partisipasi kerja kaum perempuan di Kelurahan Pela Mampang. Tingkat partisipasi kerja didominasi oleh kaum laki-laki.
2. Rendahnya pendapatan keluarga karena banyaknya kaum perempuan yang tidak bekerja atau hanya mengurus rumah tangga. Dan pendapatan keluarga hanya berasal dari suami.
3. Rendahnya tingkat pendidikan kaum perempuan di Kelurahan Pela Mampang karena sebagian dari mereka hanya lulusan SMP dan SMA. Bahkan, ada yang hanya lulusan SD.
4. Rendahnya tingkat SDM yang berpendidikan tinggi, sehingga berkaitan dengan terbatasnya akses dan sumber daya.
C. Pembatasan dan Perumusan Masalah 1. Pembatasan Masalah
Dalam penelitian ini, peneliti membatasi untuk mengkaji proses pemberdayaan perempuan melalui program Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K) yang sedang terjadi saat ini. Hal tersebut disebabkan karena adanya masalah pada tingkat pendidikan kaum perempuan yang rendah serta terbatasnya akses di RW 01 Kelurahan Pela Mampang.
2. Perumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah, maka peneliti merumuskannya yakni sebagai berikut:
a. Bagaimana proses pemberdayaan perempuan melalui program Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K) di RW 01 Kelurahan Pela Mampang?
b. Bagaimana dampak pelaksanaan pemberdayaan perempuan melalui program Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K) di RW 01 Kelurahan Pela Mampang?
D. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini sebagai berikut:
a. Untuk mengetahui bagaimana proses pemberdayaan perempuan melalui program Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K) di RW 01 Kelurahan Pela Mampang Kecamatan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.
b. Untuk menganalisis bagaimana dampak pelaksanaan pemberdayaan perempuan melalui program Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K) di RW 01 Kelurahan Pela Mampang Kecamatan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.
2. Manfaat Peneletian
Manfaat penelitian ini dibagi menjadi dua yaitu manfaat teoritis dan manfaat praktis diantaranya sebagai berikut:
a. Manfaat Teoritis
Manfaat teoritis dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran dalam melakukan pemberdayaan kepada masyarakat khususnya kaum perempuan.
b. Manfaat Praktis
Manfaat Praktis penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan dan evaluasi bagi pihak-pihak yang berkepentingan dalam Program Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga oleh Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (UP2K-PKK) di RW 01 Kelurahan Pela Mampang Kecamatan, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan pengalaman untuk peneliti dalam mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang didapat selama kuliah ke dalam karya tulis yang nyata serta dapat dijadikan sebagai kajian ilmiah dan referensi bagi penelitian selanjutnya.
E. Metodologi Penelitian
Dalam penelitian program usaha peningkatan pendapatan keluarga (UP2K) di RW 01 Kelurahan Pela Mampang Kecamatan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif.
1. Pendekatan Penelitian
Dalam penelitian ini, penulis memilih jenis pendekatan kualitatif deskriptif. Menurut Herdiansyah (2012:9), penelitian kualitatif adalah penelitian ilmiah yang bertujuan untuk memahami suatu fenomena dalam konteks sosial secara ilmiah dengan mengedepankan proses interaksi komunikasi yang mendalam antara peneliti dengan fenomena yang diteliti. Pendekatan kualitatif digunakan untuk mendapatkan data yang mendalam, suatu data yang mengandung makna. Makna adalah data yang sebenarnya.
Menurut Sugiyono (2009:1), metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang ilmiah dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, analisis data bersifat induktif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna daripada generalisasi. Pada pendekatan kualitatif peneliti mempunyai lebih banyak keleluasaan dalam menyusun proses penelitian dan menganalisis catatan lapangan. Data penelitian diperoleh dari wawancara, observasi, dan bahan-bahan yang dapat mendukung argumentasi peneliti, sehingga penelitian ini shahih.
Dalam penelitian ini, peneliti mengambil pendekatan kualitatif deskriptif yakni memberikan gambaran mengenai individu, keadaan maupun kelompok tertentu.
Penelitian yang bersifat deskriptif yakni penelitian yang
menggambarkan karakteristik suatu masyarakat atau suatu kelompok tertentu. Penelitian yang dimaksud adalah proses pemberdayaan perempuan melalui program UP2K dan dampaknya bagi kaum perempuan di RW 01 Kelurahan Pela Mampang, Kecamatan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.
2. Jenis Penelitian
Penelitian ini termasuk penelitian lapangan (field research), yaitu penelitian yang dilakukan dalam kehidupan masyarakat yang sebenarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari atau menangkap makna tentang latar belakang keadaan sekitar dan interaksi individu, kelompok dan masyarakat dalam lingkungannya.
Menurut Martana (2006:59), field research sama seperti halnya penelitian kualitatif lainnya yakni lebih dekat dengan fakta lapangan. Field research juga menekan pada setting yang natural. Kedekatan pada lingkungan ini, membuat field research tepat untuk mengkaji kegiatan usaha rumahan yang dikembangkan melalui program UP2K di RW 01 Kelurahan Pela Mampang Kecamatan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.
3. Subjek dan Objek Penelitian
Adapun subjek penelitian ini adalah pemerintah setempat, tim penggerak PKK Kelurahan Pela Mampang
yang mengurus Pokja II, PKK RW 01, dan anggota program Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K) RW 01 yang menjadi pelaku usaha rumahan. Sedangkan objek penelitian ini adalah proses pemberdayaan perempuan dari Program Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K).
4. Teknik Pemilihan Informan
Menurut Sugiyono (2010:54), dalam penelitian kualitatif teknik pemilihan informan yang digunakan yaitu non-probability sampling. Penentuan sampel dalam penelitian kualitatif tidak didasarkan pada perhitungan statistik. Sampel atau informan yang dipilih berfungsi untuk mendapatkan informasi yang maksimum. Pada penelitian ini peneliti memfokuskan pada purposive sampling. Purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu.
Peneliti mewawancarai 9 orang informan dan 5 diantaranya sebagai sampel pelaksana kegiatan UP2K di RW 01.
Informan pada tabel dibawah ini adalah Kepala Seksie bagian Kesejahteraan Rakyat, Ketua Pokja II TP-PKK Kelurahan Pela Mampang, Ketua PKK RW 01, Ketua UP2K RW 01 dan beberapa orang anggota pelaksana kegiatan UP2K, dimana orang-orang tersebut mengetahui
dan memahami tentang apa yang peneliti harapkan sehingga memudahkan peneliti dalam memahami proses pemberdayaan perempuan melalui program UP2K.
Berikut ini adalah tabel daftar informan yang terpilih dalam pengumpulan data penelitian.
Tabel 1.1 Daftar Informan
No. Nama Informan
Status Informan
Informasi yang dicari
Metode Pengumpulan
Data
1 Shogy
Kasi Kesra Kelurahan
Pela Mampang
Gambaran umum wilayah
dan keadaan penduduk Kelurahan Pela Mampang
Data Primer
2 Cici
Ketua POKJA II
TP PKK Kelurahan
Pela Mampang
Sejarah dan profil program
serta proses pemberdayaan
perempuan melalui program
UP2K
Wawancara dan dokumentasi
3 Suwarni Ketua PKK RW 01
Gambaran atau keadaan penduduk RW 01, sejarah dan profil program
dan proses pelaksanaan pemberdayaan
perempuan melalui
Wawancara dan dokumentasi
No. Nama Informan
Status Informan
Informasi yang dicari
Metode Pengumpulan
Data program
UP2K
4 Rini Andriani
Ketua UP2K RW
01
Profil dan sejarah UP2K RW 01, proses pemberdayaan
perempuan melalui program
UP2K
Wawancara dan dokumentasi
5 Jumiati
Bendahara UP2K RW
01
Proses dan dampak pemberdayaan
perempuan melalui program
UP2K
Wawancara dan dokumentasi
6 Yamiati
Sekretaris UP2K RW
01
Proses dan dampak pemberdayaan
perempuan melalui program
UP2K
Wawancara dan dokumentasi
7 Elah Anggota
UP2K
Proses dan dampak pemberdayaan
perempuan melalui program
UP2K
Wawancara dan dokumentasi
No. Nama Informan
Status Informan
Informasi yang dicari
Metode Pengumpulan
Data
8 Nana Anggota
UP2K
Proses dan dampak pemberdayaan
perempuan melalui program
UP2K
Wawancara dan dokumentasi
9 Darwanti Anggota UP2K
Proses dan dampak pemberdayaan
perempuan melalui program
UP2K
Wawancara dan dokumentasi
Sumber: Data Wawancara Peneliti 5. Sumber Data
Sumber data yang didapatkan dalam penelitian ini terbagi dua yaitu:
a. Data Primer
Menurut Moelong (2000:112), data primer adalah data yang bersifat langsung dikumpulkan oleh peneliti dari sumber pertama. Sumber data primer dalam penelitian ini diperoleh dari Kepala Seksie Kesejahteraan Rakyat (Kesra), Ketua Pokja II PKK Kelurahan Pela Mampang dan PKK RW 01, serta 5 orang anggota pelaksana
program Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K).
b. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang biasanya telah tersusun dalam bentuk dokumen-dokumen. Sumber data sekunder dalam penelitian ini adalah sumber-sumber pendukung seperti, buku yang berjudul Kecamatan Mampang Prapatan Dalam Angka yang diterbitkan oleh BPS Kota Administrasi Jakarta Selatan, data statistik Kelurahan Pela Mampang yang diterbitkan oleh Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil), jurnal tentang program UP2K, beberapa portal resmi milik pemerintah seperti BPS, BKKBN. Data sekunder juga dilengkapi dokumentasi yang diperoleh dari anggota UP2K.
6. Teknik Pengumpulan Data
Peneliti menggunakan beberapa teknik pengumpulan data, diantaranya pengamatan (observasi), wawancara (interview), dan studi dokumentasi. Di bawah ini dijelaskan sebagai berikut:
a. Pengamatan (observasi)
Menurut Herdiyansyah (2012:131), Observasi adalah proses pengumpulan data dengan melakukan pengamatan indera penglihatan, penciuman dan pendengaran kemudian ditransformasikan ke dalam bahasa penelitian. Cartwright mendefinisikan sebagai suatu proses melihat, mengamati dan mencermati serta “merekam” perilaku secara sistematis dengan tujuan tertentu.
Menurut Arikunto yang dikutip oleh Imam Gunawan (2013:143), bahwa observasi merupakan suatu teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengadakan penelitian secara teliti, serta pencatatan secara sistematis. Manfaat observasi dalam hal ini pengamatan merupakan pengalaman langsung sebagai alat yang ampuh dalam memperoleh kebenaran, pengamatan memungkinkan peneliti mampu memahami situasi-situasi yang rumit. Pengamatan membantu peneliti menghilangkan keraguan dalam memperoleh informasi.
Dalam hal ini, peneliti melakukan observasi atau pengamatan untuk meninjau, melihat dan mencatat semua hal yang ditemukan di lapangan dengan lengkap dan jelas:
mengkaji proses pemberdayaan perempuan melalui program usaha peningkatan pendapatan keluarga (UP2K), antara lain yaitu aktivitas, pertemuan, dan kegiatan terkait UP2K RW 01.
b. Wawancara (interview)
Menurut Imam Gunawan (2013:160-162), wawancara merupakan suatu kegiatan tanya jawab dengan tatap muka antara pewawancara dengan yang diwawancarai tentang masalah yang diteliti, dimana pewawancara bermaksud memperoleh persepsi, sikap, dan pola pikir dari yang diwawancarai yang relevan dengan masalah yang diteliti.
Wawancara adalah suatu percakapan yang diarahkan pada suatu masalah tertentu; ini merupakan proses Tanya jawab lisan dimana dua orang atau lebih berhadap-hadapan secara fisik. Menurut Sugiyono (2010:72), wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti.
Dalam hal ini, peneliti melakukan wawancara langsung terhadap informan yaitu pemerintah setempat, Ketua Pokja II PKK Kelurahan Pela Mampang yang membawahi Pokja II, PKK RW 01, sejumlah anggota perempuan yang mengikuti program Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K). Setiap informan diwawancarai dua hingga 3 jam pada kesempatan yang berbeda-beda. Dalam proses wawancara, peneliti mencatat dengan tulisan tangan dan rekorder handphone. Dan ditranskrip langsung pada malam harinya. Ada beberapa informan yang diwawancarai lebih dari satu kali.
c. Studi Dokumentasi
Menurut Sugiyono (2010:82), studi dokumen merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif. Hasil penelitian juga akan kredibel apabila didukung oleh foto- foto atau karya tulis. Studi dokumentasi merupakan suatu metode pengumpulan data kualitatif dengan melihat dan menganalisis dokumen-dokumen yang dibuat oleh subjek sendiri. Peneliti dalam hal ini melakukan studi dokumentasi dari berbagai data yang sudah tersedia baik buku, jurnal, laporan dan yang lainnya yang berhubungan dengan objek penelitian yakni proses pemberdayaan melalui program UP2K di RW 01 Kelurahan Pela Mampang.
7. Teknik Analisis Data
Analisis data menurut Moelong adalah proses mengurutkan data kedalam pola, kategori dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditentukan tema dan dirumuskan hipotesis kerja yang disarankan data. Analisis data bermaksud untuk mengorganisasikan data diantaranya mengatur, mengurutkan, mengelompokkan, memberi kode dan mengkategorikannya. Dalam menganalisis data hasil penelitian, peneliti akan
menjelaskan catatan hasil temuan lapangan dan menyimpulkannya.
Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain sehingga memudahkan peneliti. Proses analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan sejak sebelum memasuki lapangan, memasuki lapangan, dan setelah selesai di lapangan. Berikut adalah komponen dalam analisis data penelitian:
a. Reduksi Data
Kegiatan yang dilakukan peneliti untuk memilih, menyederhanakan, data lapangan ke dalam format yang telah disiapkan baik format catatan lapangan, hasil wawancara, dan hasil dokumentasi. Reduksi data dilakukan secara bersamaan ketika berlangsungnya pengumpulan data.
b. Penyajian Data
Penyajian data merupakan suatu cara untuk memaparkan data secara rinci setelah dianalisis kedalam format yang disiapkan untuk itu. Jika kenyataannya data yang disajikan belum sesuai, maka konsekuensinya data tidak dapat diambil kesimpulan.
c. Penarikan Kesimpulan
Penarikan kesimpulan sementara sejak awal proses pengumpulan data dilapangan peneliti dimungkinkan untuk menarik kesimpulan. Mengapa disebut kesimpulan sementara sebab, data masih data berubah sesuai kondisi yang berkembang di lapangan. Jadi, peneliti menganalisis data setelah melakukan pengumpulan data melalui metode observasi, wawancara dan dokumentasi, kemudian peneliti merangkumnya, dan mencari hal-hal penting. Dan kemudian menyajikan data tersebut dalam bentuk tabel, gambar dan lain-lainnya, sehingga akan mudah dipahami.
Setelah itu barulah ditarik kesimpulan dari hasil temuan untuk menjawab pertanyaan penelitian yang menjadi dasar pada studi ini.
8. Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data
Menurut Bungin (2010: 249), uji keabsahan data dapat dilakukan dengan triangulasi pendekatan dengan kemungkinan melakukan terobosan metodologi terhadap masalah-masalah tertentu. Penelitian kualitatif menghadapi persoalan penting mengenai pengujian keabsahan data hasil penelitian. Banyak hasil penelitian kualitatif diragukan kebenarannya karena beberapa hal;
(1) subjektivitas peneliti (2) alat penelitian yang diandalkan (3) sumber data kualitatif. Salah satu cara
paling mudah dalam uji keabsahan data hasil penelitian adalah dengan melakukan triangulasi peneliti, metode, teori, dan sumber data. Sedangkan, menurut Denzin dalam Imam Gunawan (2013:219), terdapat empat macam triangulasi, yaitu (1) triangulasi sumber (2) triangulasi metode (3) triangulasi peneliti dan (4) triangulasi teoritik.
Menurut William Wiersman dalam Sugiyono (2010:125), triangulasi diartikan sebagai pengecekkan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara, dan berbagai waktu. Tujuan triangulasi bukanlah untuk mencari kebenaran data, melainkan untuk meningkatkan pemahaman peneliti terhadap data atau fakta. Dalam hal ini, peneliti menggunakan berbagai cara dalam triangulasi untuk menguji keabsahan data yaitu triangulasi sumber, triangulasi teknik, dan triangulasi waktu. Triangulasi sumber dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber. Selanjutnya, triangulasi teknik dapat diperoleh dengan wawancara dan triangulasi waktu dilakukan dengan melihat waktu yang dapat mempengaruhi kredibilitas. Dengan demikian, data yang diperoleh dari proses pemberdayaan perempuan didapatkan dari wawancara kepada anggota program UP2K terlebih dahulu, kemudian barulah kepada ketua Pokja II PKK Kelurahan Pela Mampang. Pola ini kemudian di ulang untuk melihat validitas data.
F. Tinjauan Pustaka
Tinjauan pustaka merupakan bagian yang amat penting dalam sebuah penelitian. Penulis melakukan peninjauan terhadap skripsi maupun tesis ataupun hasil penelitian terdahulu yang memiliki kaitan dengan penelitian penulis. Berikut adalah beberapa hasil kajian penelitian terdahulu yang dihimpun oleh penulis:
Pertama, hasil penelitian yang ditulis oleh Diana Kurnia Putri Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Raden Intan Lampung tahun 2018 dengan judul skripsi Pemberdayaan Perempuan Melalui Program Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K) di Desa Sumber Rejo Kecamatan Waway Karya Lampung Timur. Tujuan dari penelitiannya adalah untuk mengetahui bagaimana tahapan pelaksanaan program Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K) bagi perkembangan kehidupan di Desa Sumber Rejo, Lampung Timur.
Adapun metodologi penelitian yaitu dengan penelitian lapangan pendekatan kualitatif deskriptif. Teknik pengambilan data yang digunakan dengan teknik purposive sampling. Mengambil 11 orang sebagai sampel penelitian. Dan teori yang digunakan yakni teori pemberdayaan masyarakat. Perbedaan dengan penelitian ini yaitu penulis sendiri menggunakan teori proses.
Kedua, hasil penelitian yang ditulis oleh Amelia PJT Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sumatera Utara Medan tahun 2013 dengan judul skripsi peran usaha peningkatan pendapatan keluarga (UP2K) dalam pemberdayaan dan peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat di Desa Laut Dendang Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang. Dalam penelitiannya menjelaskan pada aspek peran dari program UP2K. Tujuan dari penelitiannya yaitu mengetahui dampak, bentuk dan upaya dalam pemberdayaan ekonomi dari program usaha peningkatan pendapatan keluarga (UP2K). Adapun metodologi yang digunakan yaitu menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Banyaknya informan dalam penelitian Saudari Amelia berjumlah 5 orang. Teori yang digunakan yaitu teori peran. Sedangkan penulis sendiri dalam penelitian ini menggunakan teori proses. Dan penulis hanya menjelaskan pada aspek proses dan dampak dari program UP2K.
Ketiga, hasil penelitian yang ditulis oleh Rita Sahyuni Hasibuan Jurusan Ekonomi Islam Fakultas Syari’ah dan Ilmu Hukum UIN Sultan Syarif Kasum Riau tahun 2011 dengan judul skripsi dampak program UP2K terhadap
pendapatan dan kesejahteraan masyarakat penerima bantuan ditinjau menurut ekonomi Islam di Kecamatan Pangkalan Kuras Kabupaten Pelalawan. Dalam penelitiannya menjelaskan tentang program UP2K lebih menekankan pada aspek ekonomi islamnya. Adapun hal yang melatarbelakangi penelitian tersebut adalah ketimpangan besar dalam distribusi pendapatan yang menyebabkan kemiskinan dan ketimpangan kesejahteraan, maka mengharuskan pemerintah untuk mengambil kebijakan terhadap masalah tersebut. Adapun metodelogi penulisannya yaitu dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, angket dan dokumentasi.
Dan sampel pengambilan data berjumlah 68 orang apabila di persentasekan yaitu 50% dari jumlah populasi yang diambil. Teori yang digunakan yaitu teori ekonomi islam.
Perbedaan dengan penulis sendiri disini yaitu dilihat dari metodologi dan teori. Metodologi penulisan yang penulis gunakan yaitu pendekatan kualitatif saja. Dan teori yang penulis gunakan yaitu teori proses bukan teori ekonomi.
Keempat, hasil penelitian yang ditulis oleh Rahmad Reno Jurusan Pengembangan Masyarakat Iskam Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Raden Intan Lampung tahun 2014 dengan judul skripsi manfaat usaha peningkatan pendapatan keluarga (UP2K) dalam
pemberdayaan perempuan di Kelurahan Tejosari Kota Metro. Dalam penelitiannya menjelaskan manfaat yang diberikan oleh program UP2K yang digerakkan oleh tim penggerak pemberdayaan dan kesejahteraan keluarga (PKK) dalam upaya memberdayakan perempuan di Desa Tejosari melalui pendidikan dan pelatihan (training) kepada ibu-ibu rumah tangga anggota UP2K di kelurahan Tejosari berupa: pembuatan keripik, kerajinan tangan, pendaurulangan, dan obat-obatan tradisional. Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian yang bersifat deskriptif dan metode pengumpulan data yang digunakan berupa metode observasi, interview, dan dokumentasi.
Dalam penelitiannya Saudara Reno mengambil data sampel dengan menggunakan teknik purposive sampling dengan sampel yaitu 9 orang. Perbedaan dengan penelitian penulis yaitu dari aspek batasan masalahnya. Saudara Reno menekankan manfaat dari program UP2K saja sedangkan peneliti menekankan proses dan dampak dari program UP2K.
Kelima, hasil penelitian yang ditulis oleh Kartika Indah Pratiwi Jurusan Ilmu Sosiatri Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa “APMD” tahun 2018 dengan judul skripsi implementasi program usaha peningkatan pendapatan keluarga pemberdayaan dan kesejahteraan keluarga (UP2K-PKK) untuk meningkatkan
ekonomi keluarga di Kecamatan Sewon Kabupaten Bantul. Dalam penelitiannya Saudari Kartika menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Dan memfokuskan pada pengimplementasian program UP2K. Kemudian, menggunakan teori implementasi pada penelitiannya.
Perbedaan dengan penelitian yang ditulis penulis yaitu dilihat dari sisi penggunaan teori. Penulis menggunakan teori proses, karena penulis menekankan pada aspek proses pemberdayaan perempuan dari program UP2K.
G. Sistematika Penulisan BAB I PENDAHULUAN
Bab ini memuat beberapa bagian yang terdiri dari latar belakang masalah, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, metodologi penelitian, tinjauan pustaka, dan sistematika penulisan.
BAB II TINJAUAN TEORITIS
Bab ini membahas mengenai teori-teori yang digunakan sebagai landasan dari isi penelitian yang meliputi: teori proses, pemberdayaan perempuan, dan program Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K).
BAB III GAMBARAN UMUM PENELITIAN
Bab ini membahas mengenai gambaran umum penelitian membahas tentang informasi dari objek penelitian yang meliputi profil umum program Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K) dan segala sesuatu yang berhubungan mengenai keadaan objek di RW 01 Kelurahan Pela Mampang Kecamatan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.
BAB IV DATA DAN TEMUAN PENELITIAN
Bab ini membahas mengenai temuan dari proses dan hasil pemberdayaan perempuan melalui Program Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K) oleh tim PKK RW 01 Kelurahan Pela Mampang dan anggota program tersebut.
BAB V ANALISIS TEMUAN PENELITIAN
Bab ini membahas mengenai analisis temuan selama penelitian di lapangan dan kemudian dihubungkan dengan teori-teori yang diambil dan dilihat juga dari penelitian terdahulu.
BAB VI PENUTUP
Penutup merupakan bagian akhir dari penelitian yang telah dibuat yaitu meliputi kesimpulan dan saran.
DAFTAR PUSTAKA
Daftar Pustaka yaitu suatu daftar yang berisi semua sumber bacaan atau rujukan yang digunakan sebagai bahan acuan dalam penulisan karya ilmiah.
LAMPIRAN
Lampiran adalah berisi semua dokumen yang digunakan dalam penelitian dan dalam penulisan hasil-hasilnya menjadi suatu karya tulis ilmiah, dan analisis data menjadi suatu karya tulis ilmiah, dan analisis data yang tidak dicantumkan dalam naskah. Setiap lampiran diberi nomor urut.
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. Pemberdayaan Perempuan
1. Pengertian Pemberdayaan Perempuan
Menurut Suharto (2005:57), secara pemberdayaan merupakan terjemahan dalam bahasa inggris dari empowerment yang berasal dari kata power yang berarti kekuasaan atau keberdayaan. Sedangkan menurut Parsons dalam Anwas (2013:49), pemberdayaan menekankan bahwa orang memperoleh keterampilan, pengetahuan dan kekuasaan yang cukup untuk mempengaruhi kehidupannya dan kehidupan orang lain yang menjadi perhatiannya. Adapun Ife menyatakan bahwa pemberdayaan adalah menyiapkan kepada masyarakat berupa sumber daya, kesempatan, pengetahuan dan keahlian untuk meningkatkan kapasitas diri masyarakat di dalam menentukan masa depan mereka, serta berpartisipasi dan mempengaruhi kehidupan dalam komunitas masyarakat itu sendiri.
Secara lebih rinci dijelaskan bahwa hakikat pemberdayaan adalah bagaimana membuat masyarakat mampu membangun dirinya dan memperbaiki kehidupannya sendiri. Istilah mampu disini mengandung
makna: berdaya, paham, termotivasi, memiliki kesempatan dan memanfaatkan peluang, berenergi, mampu bekerjasama, mampu mengambil keputusan, resiko dan menangkap informasi, serta bertindak sesuai inisiatif.
Menurut Suharto (2005:58), pemberdayaan menunjuk pada kemampuan orang, khususnya kelompok rentan dan lemah sehingga mereka memiliki kekuatan atau kemampuan dalam memenuhi kebutuhan dasar, melakukan hal-hal produktif sehingga memungkinkan dapat meningkatkan pendapatan, berpartisipasi dalam proses pembangunan dan keputusan yang mempengaruhi mereka.
Dalam proses pemberdayaan bukan hanya kaum laki- laki saja yang dilibatkan di dalamnya. Sasaran dari pemberdayaan justru pada hakikatnya diperuntukkan untuk kelompok yang rentan atau lemah termasuk kaum perempuan. Mengingat posisi kaum perempuan yang mengalami ketidakadilan. Oleh karena itu, diperlukan pemberdayaan untuk meningkatkan kemampuan dan kualitas kaum perempuan. Meskipun upaya peningkatan kualitas tersebut bukanlah hal yang mudah.
Pemberdayaan perempuan muncul akibat diskursus gender. Istilah ini sendiri muncul karena keprihatinan
bersama terhadap nasib perempuan yang telah berabad- abad terdiskriminasi. Ada beberapa kendala mengapa perempuan masih terdiskriminasi dalam pembangunan diantaranya karena kendala struktur sosial, adanya minoritas, dan juga kendala mitos.
Menurut Haryono Suyono dalam Murniati Ruslan (2010:92), pemberdayaan perempuan disebut peningkatan kualitas hidup perempuan, yakni memberdayakan kaum perempuan dalam berbagai bidang, termasuk ekonomi, edukasi atau pendidikan, sosial, komunikasi, informasi dan lain sebagainya agar mereka terbebas dari belenggu kemiskinan dan keterbelakangan.
Bicara masalah pemberdayaan perempuan pasti tidak terlepas dengan isu kesetaraan gender. Menurut Edriana Noerdin dalam Liza Hadiz (2006:1), gender adalah atribut dan tingkah laku yang dilekatkan pada perempuan dan laki-laki dan dibentuk oleh sosial budaya. Kata gender dapat diartikan sebagai peran yang dibentuk oleh masyarakat serta perilaku yang tertanam lewat proses sosialisasi yang berhubungan dengan jenis kelamin laki- laki dan perempuan. Adapun kesetaraan gender merujuk kepada suatu keadaan setara antara laki-laki dan perempuan dalam pemenuhan hak dan kewajiban.
Menurut Ismiyati (2019:108), isu gender mulai disuarakan pada tahun 1960-an. Sedangkan, istilah pemberdayaan dikenal sejak tahun 1990-an. Dengan adanya pemberdayaan yang mengutamakan kesetaraan gender membuat posisi perempuan lebih membaik.
Dengan pemberdayaan perempuan diharapkan terjadi kesetaraan (equality), karena pada akhirnya hasil pembangunan menguntungkan semua pihak dan membuahkan hasil optimal.
Sementara itu, menurut Anwas (2013:149), sejarah menjelaskan bahwa sejak zaman Hindia Belanda, RA Kartini sudah mempelopori perlunya kebangkitan perempuan dalam kehidupan di keluarga, masyarakat, serta kehidupan berbangsa dan bernegara. Perempuan memiliki hak dan kewajiban yang sejajar dengan kaum laki-laki.
Bukan hanya RA Kartini, Ibu Khofifah Indah Parawarsa dalam lokakaryanya menyebutkan beberapa keterlibatan perempuan Indonesia dalam kehidupan perjuangan bangsa dan negara. Diketahui sejak zaman kerajaan Hindu yaitu Dewi Suhita dan Tri Bhuwana Tunggal Dewi. Pada masa penjajahan Belanda, Cut Nyak Dien, Cut Meutia di Aceh, Martha Christina Tiahahu di Maluku juga ikut berjuang. Selain kontribusi fisik, tokoh- tokoh perempuan seperti Dewi Sartika, Maria Walanda
Maramis, Nyi Achmad Dahlan dan Rasuna Said juga menyumbangkan tenaga dan pikirannya. Tokoh-tokoh tersebut diatas telah bahu membahu dengan pria untuk melawan penjajahan sejak dahulu kala. Pada masa penjajahan Jepang terdapat Departemen Wanita dan Kebaktian Rakyat Jawa Madura (FUJINKAI) yang berguna untuk mengembangkan sikap cinta tanah air dan bangsa.
Namun fakta empiris menunjukkan bahwa, pada era teknologi, informasi dan komunikasi sekarang, peran perempuan di Indonesia dan beberapa negara di belahan dunia masih mengalami ketertinggalan. Khususnya pada kaum perempuan dari kalangan keluarga miskin.
Perempuan masih diidentikkan dengan urusan dapur, sumur dan kasur. Pekerjaan perempuan terbatas pada mengurus rumah tangga. Dalam hal ini disebabkan pemahaman tentang perempuan hanya sebatas peran domestik sehingga kurang diperhatikan dalam pengambilan kebijakan.
Oleh karena itu, pemberdayaan perempuan dalam keluarga dan masyarakat sangat penting untuk mendongkrak keterpurukan. Kaum perempuan memiliki potensi untuk berkembang. Kaum perempuan memiliki banyak potensi yang tidak dimiliki oleh kaum laki-laki.
Salah satu potensi yang dimiliki perempuan ialah bisa
melakukan peran ganda yaitu, peran sebagai istri, peran sebagai ibu dan peran sebagai anggota masyarakat.
Keterwakilan kaum perempuan dalam segala bidang berpengaruh besar terhadap kualitas hidup perempuan tersebut.
Pemberdayaan perempuan di Indonesia mempunyai dasar hukum yang cukup kuat karena tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945, pasal 27 ayat (1): “Segala Warga Negara bersamaan kedudukannya didalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung tinggi hukum dan pemerintahan itu tidak ada kecualinya.” Landasan negara tersebut mencerminkan pada persamaan hak bagi laki-laki dan perempuan. Kemudian, UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia juga memuat pasal-pasal yang mendukung kaum perempuan agar tidak terdiskriminasi, seperti tercantum dalam pasal 20 ayat (2):
“Perbudakan atau perhambaan, perdagangan budak, perdagangan wanita, dan segala perbuatan berupa apapun tujuannya serupa dilarang. Selanjutnya, pasal 48 mengatur bahwa “Wanita berhak untuk memperoleh pendidikan dan pengajaran di semua jenis, jenjang, dan jalur pendidikan...” kemudian pasal 49 menjelaskan bahwa
“Wanita berhak untuk memilih, dipilih, diangkat dalam pekerjaan, jabatan, dan profesi...”
Berbagai landasan hukum tersebut mencerminkan dukungan pemerintah terhadap pemberdayaan kaum perempuan. Sementara itu, menurut Liza Hadiz dalam Murniati Ruslan (2010:88), di Indonesia telah hadir gerakan-gerakan perempuan seperti Organisasi Dharma Pertiwi yang menghimpun istri para prajurit TNI, Organisasi Patayat Nahdatul Ulama, Aisyiah. Bagi generasi muda terdapat Nasyiatul Aisyiah, IPPNU, KOHATI, dan berbagai organisasi kepemudaan lainnya yang anggotanya juga terdapat perempuan. Beberapa organisasi diatas merupakan gerakan para perempuan sebagai bentuk perlawanan yang menindas ketidakadilan.
Dan selanjutnya PKK, yang mempunyai kebebasan untuk bergerak. Menurut Maryati dan Rusli (2017:2), PKK merupakan sebuah gerakan yang tumbuh dari bawah dengan perempuan sebagai penggerak dan dinamisatornya dalam membangun, membina, dan membentuk keluarga guna mewujudkan kesejahteraan keluarga sebagai unit kelompok terkecil dalam masyarakat.
Dalam rangka melaksanakan ikhtiar pemberdayaan perempuan yang dilakukan pemerintah. Program-program yang ada di dalam kelompok PKK merupakan salah satu cara yang paling konkret saat ini untuk memberikan perhatian kepada kaum perempuan dengan langkah yang sederhana. Langkah sederhana tersebut dimulai dari
lingkup terkecil yaitu keluarga. Maka, dalam hal ini adanya pelibatan kaum perempuan sebagai pelaku aktif pembangunan menjadikan kaum perempuan sejajar dengan kaum laki-laki dalam membangun Indonesia ke depan.
2. Tujuan Pemberdayaan Perempuan
Menurut Keban dalam Mulyono (2017:41-44), tujuan yang ingin dicapai dari pemberdayaan adalah untuk membentuk individu dan masyarakat menjadi mandiri.
Kemandirian tersebut meliputi kemandirian berpikir, bertindak, dan mengandalkan apa yang mereka lakukan tersebut. Lebih lanjut perlu ditelusuri apa yang sesungguhnya dimaknai sebagai suatu yang mandiri.
Kemandirian merupakan suatu kondisi yang dialami oleh seseorang yang ditandai dengan kemampuan berpikir, memutuskan serta melakukan sesuatu demi mencapai pemecahan masalah-masalah.
Tujuan utama pemberdayaan sebenarnya adalah memperkuat kekuasaan masyarakat, khususnya kelompok lemah yang memiliki ketidakberdayaan, baik karena kondisi internal (mereka sendiri), maupun karena kondisi eksternal (misalnya ditindas oleh struktur sosial). Selain itu, pemberdayaan perempuan bertujuan menjadikan setiap perempuan itu mandiri dan tidak bergantung pada
pranata sosialnya seperti suami dan keluarga maupun orang lain.
Bappenas mencatat bahwa tujuan pemberdayaan perempuan telah tertuang dalam RPJPN 2005-2025 Bab IV halaman 48, bahwa pemberdayaan perempuan diarahkan pada peningkatan kualitas hidup, peran perempuan, dan kesejahteraan dalam segala bidang pembangunan termasuk penghapusan diskriminasi terhadap perempuan serta penguatan kelembagaan dan jaringan pengarusutamaan gender.
Pada intinya, target dan tujuan pemberdayaan itu dapat berbeda-beda sesuai dengan bidang pemberdayaan yang dilaksanakan. Akan tetapi, semua itu mengarah untuk mewujudkan bangsa Indonesia yang lebih makmur dan sejahtera. Tujuan pemberdayaan perempuan juga memiliki makna penting untuk mengakhiri segala bentuk diskriminasi terhadap kaum perempuan di manapun.
3. Indikator Keberdayaan
Menurut Kieffer dalam Suharto (2005:63), pemberdayaan mencakup tiga dimensi yang meliputi kompetensi kerakyatan, kemampuan sosiopolitik, dan kompetensi partisipatif. Parsons et.al juga mengajukan tiga dimensi pemberdayaan yang merujuk pada:
a) Sebuah proses pembangunan yang bermula dari pertumbuhan individual yang kemudian berkembang menjadi sebuah perubahan sosial yang lebih besar.
b) Sebuah keadaan psikologis yang ditandai oleh rasa percaya diri, berguna dan mampu mengendalikan diri dan orang lain.
c) Pembebasan yang dihasilkan dari sebuah gerakan sosial, yang dimulai dari pendidikan dan politisasi orang-orang lemah dan kemudian melibatkan upaya-upaya kolektif dari orang-orang lemah tersebut untuk memperoleh kekuasaan dan mengubah struktur-struktur yang masih menekan.
Menurut Schuler, Hashemi dan Riley dalam Suharto (2005:64-66), bahwa ada delapan indikator pemberdayaan, yang disebut sebagai empowerment index atau indeks pemberdayaan. Keberhasilan pemberdayaan masyarakat dapat dilihat dari keberdayaan mereka yang menyangkut kemampuan ekonomi, kemampuan mengakses manfaat kesejahteraan, kemampuan kultural dan politis. Indikator pemberdayaan dirangkum sebagai berikut:
1. Kebebasan mobilitas: Kemampuan individu untuk pergi keluar rumah atau wilayah tempat tinggalnya, seperti ke pasar, fasilitas medis, bioskop, rumah ibadah, ke rumah tetangga.
Tingkat mobilitas ini dianggap tinggi jika individu mampu pergi sendirian.
2. Kemampuan membeli komoditas kecil:
kemampuan individu untuk membeli barang- barang kebutuhan keluarga sehari-hari (beras, minyak tanah, minyak goreng, bumbu); kebutuhan dirinya (sabun mandi, rokok, bedak, shampoo).
3. Kemampuan membeli komoditas besar:
kemampuan membeli barang-barang sekunder atau tersier, seperti lemari pakaian, TV, radio, koran, majalah, pakaian keluarga.
4. Terlibat dalam pembuatan keputusan-keputusan rumah tangga: mampu membuat keputusan secara sendiri maupun bersama suami/istri mengenai keputusan-keputusan keluarga. Misalnya mengenai renovasi rumah, pembelian binatang ternak, memperoleh kredit usaha.
4. Pandangan Islam Terhadap Pemberdayaan Perempuan
Pada dasarnya Islam merupakan agama pemberdayaan. Islam memandang perempuan sebagai makhluk yang mulia dan terhormat. Islam juga sangat menjaga hak-hak perempuan termasuk hak dalam memperoleh pendidikan maupun hak untuk memperoleh pekerjaan atau berkarir.
Sebelum datangnya Islam, kaum perempuan selalu berada dibawah ke dzaliman kaum pria, diperjualbelikan laksana binatang dan barang, kaum perempuan tidak memperoleh hak-hak yang sewajarnya dan seharusnya diakui oleh masyarakat. Kaum perempuan sama sekali tidak pernah mempunyai hak mendapatkan pendidikan, perempuan hanya tinggal di rumah saja dan tidak mempunyai andil dalam kehidupan masyarakat.
Akan tetapi, setelah Islam datang kaum perempuan menjadi baik dan menggembirakan. Islam mengangkat martabat kaum perempuan dan memberikan hak-hak yang telah hancur oleh tradisi-tradisi, golongan dan kebangsaan.
Islam memberikan perhatian khusus kepada kaum perempuan, terbukti dengan ditetapkanya perempuan sebagai salah satu nama surah dalam Al-Quran, yaitu Surat An-Nisa. Sebagian besar ayat-ayat dalam surah ini membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan perempuan, utamanya yang berkaitan dengan perlingan hukum terhadap kaum perempuan.
Agama tidaklah melarang perempuan untuk berperan langsung dalam kehidupan masyarakat. Asalkan realisasi peran tersebut berdasarkan ajaran agama dan tidak melanggar peran-fitrah perempuan yang sesungguhnya.
Dalam Al-Qur’an dijelaskan equlitas antara laki-laki dan perempuan. Salah satu aspek ide persamaan laki-laki dan
perempuan dalam Islam bersumber pada ajaran bahwa seluruh manusia berasal dari pertemuan antara laki-laki dan perempuan sebagaimana dijelaskan dalam ayat 13 Surat Al-Hujrat. Laki-laki dan perempuan bukan dijadikan sebagai pembeda yang hanya dapat menguntungkan salah satu pihak saja. Akan tetapi melestarikan hubungan harmonis yang didasari oleh rasa kasih sayang, sehingga terwujudnya negeri yang damai.
Menurut Ismiyati (2019:115), Islam adalah agama yang fleksibel dimana wanita yang bekerja diluar rumah diperbolehkan asal mendapatkan izin dari suami dan bekerja untuk membantu kebutuhan keluarga. Islam tidak melarang seorang istri membantu suaminya dalam mencari nafkah. Bahkan, isteri Nabi SAW Khadijah ra.
dan Aisyah ra. membantu Nabi dalam menopang ekonomi keluarganya. Dalam keadaan darurat isteri boleh menjadi tulang punggung keluarga dalam mencari nafkah.
Bekerjanya seorang istri merupakan sumber pemasukan keluarga yang kedua, yang utama tetaplah kewajiban laki- laki. Dari segi pandangan Islam potensi perempuan sebagai sumber tenaga kerja diakui. Sebagaimana nyata tertulis dalam Al-Quran Surat An-Nisa ayat 124 sebagai berikut:
ُخْدَي َكِئَٰلوُأَف ٌنِمْؤُم َوُهَو ٰىَثْ نُأ ْوَأ ٍرَكَذ ْنِم ِتاَِلِاَّصلا َنِم ْلَمْعَ ي ْنَمَو َنوُل
اًيرِقَن َنوُمَلْظُي َلََو َةَّنَْلْا
Artinya: “Barang siapa mengerjakan amal saleh sesuai dengan kemampuannya dan beriman kepada Allah dan rasul-Nya, maka mereka akan masuk syurga dan tidak akan dikurangi derajatnya walau sedikit pun.
Tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan, karena perempuan juga dibebankan tugas-tugas keagamaan (mukallafah), yang berhak mendapat pahala kebaikan dan siksa kejahatan”.
(Q.S An-Nisa: 124)
Dari ayat diatas, Islam sebenarnya telah memberikan ruang yang cukup besar untuk teroptimalisasi peran-peran perempuan sesuai dengan kodrat yang diberikan Allah SWT. Di luar dari kodrat azali, kaum perempuan bisa mengekspresikan segala kemampuannya untuk berlomba bersama-sama kaum laki-laki ber-fastabiqul khairat.
Pada intinya, konsep pemberdayaan perempuan menurut pandangan Islam telah memberikan kebebasan kepada kaum perempuan, untuk berkarya dan memanfaatkan potensi yang dimiliki tanpa meninggalkan