BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
Tingkat konsumsi minuman yang bersifat asam dikalangan masyarakat sekarang semakin lama semakin meningkat. Mulai dari minuman ringan, teh, kopi, sampai kopi susu yang saat ini sedang menjadi salah satu minuman favorit bagi beberapa golongan masyarakat. Minuman yang bersifat asam ini merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya kerusakan pada gigi. Jaringan keras pada gigi terdiri dari enamel, dentin, dan sementum. Pada permukaan gigi terdapat lapisan enamel gigi yang merupakan jaringan terkeras pada tubuh manusia dikarenakan kandungan mineralnya yang sangat tinggi, yaitu 95-98% mengandung material anorganik yang terbentuk dari kristal hidroksiapatit. Kondisi struktur enamel gigi ini sangat dipengaruhi oleh faktor keadaan lingkungan rongga mulut.
2.1 Enamel
Enamel merupakan jaringan terkeras pada tubuh dan lapisan terluar dari gigi, yang berperan melindungi jaringan gigi lain yang berada dibawahnya, yaitu dentin dan pulpa.8,14,15
Pada awal pembentukannya, enamel terdiri dari komponen organik dan anorganik. Seiring dengan proses pematangannya, terdapat penambahan beberapa mineral secara perlahan-lahan yang sebagian besar adalah kalsium dan fosfat yang merupakan elemen utama pembentuk kristal hidroksiapatit pada matriks enamel. Enamel yang telah matang mengandung 96% bahan anorganik yang termineralisasi, dengan sekitar 3% air, dan kurang dari 1% matriks organik.8
Gambar 1. Anatomi gigi (a) premolar satu maksila (b) premolar dua maksila9
Ketebalan pada masing-masing enamel gigi berbeda-beda. Salah satu gigi yang paling sering digunakan sebagai sampel pada penelitian adalah gigi premolar, baik premolar atas maupun premolar bawah, hal ini dapat disebabkan karena gigi premolar sering diekstraksi untuk keperluan perawatan ortodonti. Secara anatomi, gigi premolar satu atas memiliki luas permukaan yang lebih besar dibandingkan dengan luas permukaan gigi premolar dua.9 Bentuk anatomis keduanya hampir sama, yaitu memiliki bentuk mahkota ovoid, cusp bukal dan palatalnya dipisahkan oleh fisur sentral oklusal yang berjalan mesiodistal. Dilihat dari sebelah bukal, lereng sebelah mesial pada puncak bukal umumnya lebih panjang dari pada lereng distal dari sebelah palatal, cusppalatalnya lebih rendah dari pada cusp bukal dan ujungnya terletak lebih mesial, sedangkan dari aspek mesial, permukaan mesial ditandai oleh cekungan yang sangat berbeda, yaitu fosa kaninus. Akar gigi premolar satu atas biasanya bercabang 2, sedangkan akar gigi premolar dua atas biasanya satu.9
Secara rinci, menurut Williams dan Elliot (1979), komposisi mineral enamel normal dalam jumlah terbesar yaitu, kalsium, fosfat, CO2, natrium, magnesium, klorida, dan kalium, sedangkan dalam jumlah kecil terdapat fluorida, ferum, zinkum, stronsium, tembaga, dan mangan. Kalsium dan fosfat merupakan komponen-komponen anorganik yang terpenting karena merupakan komponen-komponen utama penyusun hidroksiapatit (Ca10(PO4)6(OH)2) (cit: Bevkovrrtz).9 Ion fluorida sangat esensial pada
pembentukan dan perkembangan enamel karena dapat menggantikan gugus hidroksiapatit menjadi fluorapatit (Ca10(PO4)6(F)2). Fluorida ini diperoleh dari
lingkungan rongga mulut, seperti saliva, atau dapat juga diperoleh dari zat luar seperti
pasta gigi, aplikasi fluorida, ataupun secara sistemik dari air minum dan tablet fluorida.9,16Tingginya kandungan mineral pada enamel gigi inilah yang membuat enamel mempunyai sifat yang keras, bahkan merupakan jaringan paling keras pada tubuh manusia.2,5,9,13 Meskipun enamel merupakan struktur yang sangat keras, tetapi enamel bersifat permeabel terhadap ion-ion dan molekul yang berasal dari makanan dan minuman yang dikonsumsi, sehingga elemen anorganik pada enamel akan larut secara perlahan-lahan atau kronis yang akan berpengaruh pada kekerasannya.9
Elemen anorganik dapat larut ketika berkontak dengan asam, sehingga larutnya sebagian atau keseluruhan mineral enamel akan menurunkan kekerasannya.2,4,18
Kecepatan melarutnya mineral enamel dipengaruhi oleh derajat keasaman (pH), konsentrasi asam, lamanya berkontak dengan asam, dan kandungan ion sejenis kalsium dan fosfat.2,4,18
Hidroksiapatit memiliki pH kritis yaitu dibawah 5,5, sehingga semakin rendah pH suatu zat yang terpapar dengan enamel akan meningkatkan larutnya hidroksiapatit.9,19
Dilihat dari struktur enamel, prisma merupakan struktur komponen terluas dengan lebar 4-6 mikron.16
Prisma ini memanjang dari arah perbatasan enamel-dentin ke permukaan enamel serta saling mengikat satu sama lain. Pada potongan melintang tampak seperti ‘keyhole’ yang terdiri atas kepala dan ekor. Arah prisma ke permukaan tidak lurus, melainkan bergelombang untuk mempertinggi ketahanan terhadap gaya yang datang. Pada gambar 2, terlihat di antara kristal hidroksiapatit terdapat cross
striations yang dibagian terluarnya terdapat striae of retzius.9,16
(a) (b)
Gambar 2.Tampilan Scanning Electron Microscope Kristal Hidroksiapatit (a) potongan
longitudinal (b) potongan transversal.16
Lapisan enamel ini memiliki ketebalan yang berbeda pada setiap area gigi. Lapisan enamel yang paling tebal terdapat pada permukaan insisal dan oklusal gigi yang kemudian semakin menipis hingga ke permukaan cementoenamel junction. Ketebalan enamel juga berbeda pada setiap gigi. Ketebalan enamel pada insisal ridge insisivus rata-rata 2,5mm, dan pada cusp premolar rata-rata 2,3-2,5 mm, sedangkan cusp molar rata-rata 2,5-3 mm.16
2.2 Demineralisasi
Demineralisasi adalah proses hilangnya sebagian atau seluruh mineral enamel gigi seperti kalsium karena larut dalam asam, semakin rendah pH maka akan meningkatkan ion hidrogen yang akan merusak kristal hidroksiapatit ataupun fluoroapatit pada enamel.9,16,18,19 Demineralisasi dapat disebabkan oleh faktor karies ataupun non karies.16
banyak suatu enamel mengandung mineral maka semakin kuat enamel tersebut terhadap serangan asam.9,20
2.2.1 Karies
Karies gigi adalah penyakit infeksi dan merupakan suatu proses demineralisasi yang progresif pada jaringan keras permukaan gigi oleh asam organik yang berasal dari makanan yang mengandung gula. Karies gigi merupakan penyakit yang paling banyak dijumpai di rongga mulut bersama-sama dengan penyakit periodontal, sehingga merupakan masalah utama kesehatan gigi dan mulut.21
Proses demineralisasi karena karies dimulai dari permukaan gigi dan akan berlanjut ke lapisan dalam gigi yang diikuti dengan kerusakan bahan organiknya.21
Hal ini akan menyebabkan terjadinya invasi bakteri dan kerusakan pada jaringan pulpa serta penyebaran infeksi ke jaringan periapikal dan menimbulkan rasa nyeri.21
Karies terjadi bukan disebabkan karena suatu kejadian saja, tetapi disebabkan serangkaian proses yang terjadi selama beberapa kurun waktu. Pada tahun 1960-an oleh Keyes dan Jordan menyatakan bahwa karies merupakan suatu penyakit multifaktorial yaitu adanya beberapa faktor yang menjadi penyebab terbentuknya karies (cit: Peneva).20
Gambar 3. Karies merupakan penyakit multifaktorial yang disebabkan faktor host, agen, substrat, dan
waktu9
Bakteri plak yang ada di dalam mulut mampu menghasilkan asam yang akan mempercepat terjadinya demineralisasi pada enamel gigi. Streptococcus mutans mampu memfermentasi karbohidrat yang hasil metabolismenya akan menghasilkan asam organik. Semakin banyak bakteri plak dalam mulut, maka semakin banyak asam yang akan dihasilkan.21,22
2.2.2 Non Karies
Ketika enamel terpapar dan berkontak dengan asam atau minuman dengan pH rendah, komponen ion hidrogen yang terdapat pada larutan asam tersebut perlahan akan melarutkan kristal enamel. Jika pH asam yang terpapar dengan enamel berada di bawah 5,5, makanan asam akan melarutkan kristal hidroksiapatit dan pada pH di bawah 4,5, akan melarutkan kristal fluoroapatit.9,16,17
Menurut Dawes (2003), larutnya hidroksiapatit akan meningkat sepuluh kali lipat pada setiap satuan penurunan pH. Pada pH 5,0 larutnya hidroksiapatit sekitar 30mg/L, sedangkan pada pH 4,0 sekitar 30 g/L.11
Demineralisasi enamel terjadi melalui proses difusi, yaitu terjadinya perpindahan molekul atau ion yang larut dari dalam enamel ke saliva karena adanya perbedaan konsentrasi asam di permukaan dengan di dalam enamel gigi. Larutan asam dengan konsentrasi tinggi dan pH yang rendah akan berdifusi ke dalam enamel gigi melalui celah-celah kristal dan prisma enamel yang mengandung air dan matriks organik.20,23
Saat berdifusi ke dalam enamel, asam akan terionisasi menjadi H+ dan [L]-, ion H+ inilah yang akan merusak kalsium dari hidroksiapatit dengan menguraikannya menjadi ion-ion Ca2+, OH-, dan PO43-. 2,20Ion yang terbentuk masuk ke dalam larutan enamel dan membentuk senyawa kompleks. Setelah konsentrasi senyawa kompleks ini cukup tinggi, molekul-molekul tersebut akan lepas dan keluar dari susunan enamel. Demineralisasi dapat berhenti apabila pH kembali normal (6,75-7,25) serta didukung adanya kecukupan Ca2+ dan PO43- yang dapat menghambat proses pelarutan hidroksiapatit melalui reaksi ion. Hal ini memungkinkan terbentuknya kembali sebagian kristal apatit yang larut dan disebut dengan remineralisasi.20
Pada penelitian Jensdottir dkk. (2006), dikatakan bahwa waktu dapat mempengaruhi terjadinya demineralisasi enamel gigi, dimana demineralisasi ini dapat terjadi pada pH yang rendah di bawah 5 dalam waktu 1-3 menit.24
Proses Demineralisasi yang terjadi terus-menerus tanpa adanya perbaikan dapat menyebabkan terjadinya erosi gigi. Erosi gigi dapat diartikan sebagai proses terjadinya kehilangan sebagian jaringan keras gigi zat kimia tanpa adanya keterlibatan bakteri. Larutnya struktur mineral gigi terjadi karena kontak dengan asam yang berasal dari dalam tubuh (intrinsik) maupun dari luar tubuh (ekstrinsik).2,22,23,25
Asam instrinsik berasal dari asam lambung yang mencapai rongga mulut dan gigi yang dihasilkan dari gastroesophangeal reflux, vomitus, dan rumination.
Precipitation Dissolution
(Ca10(PO4)6(OH)2) 10Ca2+ + 6(PO43-) +2(OH-)
Gastroesophangeal reflux (GERD) adalah suatu kondisi dimana isi lambung (makanan dan isi lambung) secara tidak sadar sering mengalir kembali ke esofagus yang kemudian masuk kembali ke rongga mulut.23,24,26 Hal ini dapat terjadi karena adanya peningkatan tekanan abdominal, tidak mampunya spinchter esofagus bagian bawah berelaksasi, dan meningkatnya produksi asam lambung. Vomitus dapat terjadi secara spontan atau distimulasi sendiri.Rumination merupakan kondisi yang jarang ditemui pada seseorang. Pada kondisi ini, seseorang sengaja menstimulasikan isi dalam lambungnya dalam jumlah yang sedikit dan mengunyahnya sebelum ditelan kembali.10,22,27
Asam ekstrinsik yang dapat menyebabkan erosi pada enamel gigi berasal dari makanan, minuman, obat-obatan, lingkungan, dan pekerjaan.28,29,30
Obat-obatan yang bersifat asam berkontak langsung dengan gigi saat obat tersebut dikunyah atau ditempatkan di dalam mulut sebelum ditelan, misalnya tablet kunyah vitamin C dan Aspirin.31
Penderita yang mengonsumsi obat-obatan yang dapat menyebabkan
xerostomia, seperti penggunaan obat methampethamine, ekstasi, biasanya akan
mengkompensasi keadaan rongga mulutnya dengan minuman berkarbonat sehingga dapat menyebabkan erosi gigi yang parah.28,29
Demineralisasi yang berlanjut menjadi erosi gigi dapat terjadi karena adanya zat asam yang kuat, misalnya asam klorida, asam sitrat, dan asam fosfor dari faktor intrinsik dan ekstrinsik yang melekat pada permukaan gigi.29,30
2.3 Remineralisasi
Remineralisasi adalah proses perbaikan alami yang mengembalikan ion-ion mineral ke struktur gigi. Ion-ion mineral yang hilang harus digantikan dengan ion-ion dengan bentuk, ukuran, dan muatan listrik yang sama. Remineralisasi melibatkan karbondioksida dari nafas dan air dari saliva untuk menciptakan asam karbonat ringan tidak stabil yang merupakan inti dari proses remineralisasi alami.19,21Saliva dengan asam karbonat dapat melarutkan mineral, ketika hal ini terjadi, ion-ion mineral yang terlarut keluar menjadi ion mineral yang kembali padat. Apabila ion mineral dekat dengan kristal hidroksiapatit yang terdemineralisasi menerima ion tersebut, maka ion tersebut akan menyatu dengan enamel.32
Proses remineralisasi alami terkadang tidak lagi adekuat untuk mempertahankan kekuatan lapisan enamel, maka perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin bayak menemukan metode dan agen-agen remineralisasi.19
Agen-agen remineralisasi ini memiliki berbagai syarat bahan remineralisasi yang ideal, seperti dapat menyebarkan atau melepaskan kalsium dan fosfat ke permukaan enamel, tidak melepaskan kalsium secara berlebihan, tidak menyebabkan pembentukan kalkulus, dapat bekerja dalam pH asam, mendorong fungsi remineralisasi saliva, dan dapat bekerja pada penderita xerostomia.19,33
Dalam membantu terjadinya proses remineralisasi pada enamel gigi dapat dibantu oleh adanya kalsium dan fosfat yang terkandung dalam susu.13,34
Pada awalnya, mineral kalsium dan fosfat yang terdapat pada susu akan terdeposit pada lapisan permukaan mikroporositas yang kemudian akan berdifusi ke dalamnya.34,35 Mineral tersebut dapat berdifusi ke segala arah di antara kristal-kristal enamel yang kemudian diserap oleh hypomineralized enamel, yaitu enamel yang sebelumnya telah mengalami demineralisasi, hal ini akan mengawali terjadinya pembangunan kembali enamel yang telah larut sebelumnya.35
2.4 Minuman Ringan
Berbagai jenis minuman ringandianggap sebagai faktor utama penyebab terjadinya demineralisasi enamel.2,36
jumlah pelepasan ion kalsium dari permukaan enamel dipengaruhi oleh pH minuman. Semakin rendah pH minuman maka semakin tinggi kadar dan jumlah ion kalsium yang terlepas.11,37 Akan tetapi, beberapa minuman sebenarnya mengandung kalsium, seperti teh, kopi, dan susu. Bentuk kalsium yang berupa senyawa dalam minuman ini mengakibatkan kalsium dapat bertahan pada minuman walaupun terpapar udara bebas.5,38,39
Pada Tabel 1 terdapat daftar minuman dengan pH rendah yang umum dikonsumsi oleh masyarakat.18
Terdapat beberapa jenis minuman berkarbonat, minuman olahraga, jus buah, minuman beralkohol, juga minuman yang sering dikonsumsi sebagai pelengkap saat makan seperti teh dan kopi.18
a. Teh
Teh merupakan salah satu minuman yang terbanyak dikonsumsi oleh masyarakat. Di dalam teh terkandung beberapa bahan kimia seperti fluorida, asam amino L-theanin, anti oksidan berupa polifenol, quercetin, kaempfrol, myricetin, dan kafein.38
Beberapa penelitian mengatakan bahwa teh memiliki dampak yang positif pada rongga mulut. Hormozi (2016) pada penelitiannya menyatakan bahwa teh mengandung anti-inflamasi, anti-oksidan, dan anti-bakteri yang dapat dipercaya dapat membantu proses penyembuhan luka pada jaringan periodontal, mencegah terjadinya resorpsi, dan membatasi pertumbuhan bakteri yang berperan pada penyakit periodontal.39
Hasil data yang diperoleh Brunton,dkk. (2001), 3-4% penduduk UK mengonsumsi teh herbal setiap harinya.6
Di Indonesia, teh termasuk salah satu dari tiga jenis minuman yang terbanyak dikonsumsi masyarakat selain kopi dan susu.5Ada berbagai macam bentuk sajian teh yang sering dikonsumsi masyarakat, mulai dari teh celup, teh seduh, sampai penyajian yang paling praktis seperti teh dalam kemasan botol.5Namun ternyata beberapa penelitian menyatakan teh memiliki efek samping yang dapat merusak jaringan gigi dikarenakan pH-nya yang rendah. Marcella dkk. (2014) menyatakan bahwa teh dapat menyebabkan terjadinya penurunan kekerasan enamel gigi.5
b. Kopi
Gaya hidup seseorang sangat mempengaruhi kesehatan tubuhnya. Salah satu gaya hidup yang yang dapat mempengaruhi kesehatan gigi adalah mengonsumsi makanan dan minuman dengan pH rendah, seperti kopi. Menurut survei, satu dari lima orang Indonesia mengonsumsi kopi setiap harinya, baik dari kalangan orang tua sampai kalangan remaja.12Kopi mengandung kafein, air, ethyphenol, methylpyridinium, asam quinat, asam dicaffeoylquinat, asam tanat, dimethyl disulfide, trigonelline, dan niacin.40,41
Karena mengandung beberapa asam organik, kopi memiliki pH yang rendah. Sifat adiktif kafein yang terkandung di dalam kopi merupakan penyebab utama seseorang mengonsumsi kopi hampir setiap hari. Konsumsi terus-menerus seperti ini dapat menyebabkan efek samping yang berbahaya bagi kesehatan gigi.37
Terdapat beberapa jenis kopi yang sering dikonsumsi oleh masyarakat, diantaranya adalah Liberika, Arabika, dan Robusta. Kopi jenis arabika dan robusta adalah jenis kopi yang paling sering dikonsumsi masyarakat Indonesia.40
Kopi Arabika (Coffea arabica) merupakan jenis kopi pertama yang diduga ditemukan oleh manusia. Kopi ini mengandung kafein sebesar (0,8-1,5)%, lebih lengket dibandingkan dengan jenis kopi lainnya dikarenakan kandungan gulanya yang tinggi, dan memiliki kandungan chlorogenic acid (CGA) sebesar (5,5-8)%. Jenis kopi ini banyak ditemui di daerah Toraja, Aceh, Sumatera Utara, dan beberapa daerah di Pulau Jawa.
kopi.40,41Namun, belum ada penelitian yang memastikan efek langsung dari kandungan lain dalam kopi.
Kitchens dkk. (2007) menyatakan bahwa kopi dapat merusak permukaan enamel gigi setelah dilakukan perendaman.12pH kopi yang cukup asam dapat mengakibatkan terjadinya demineralisasi pada permukaan enamel gigi. Hasil penelitian Marcella dkk. (2014) menyatakan bahwa setelah perendaman dengan beberapa jenis minuman, penurunan kekerasan enamel gigi yang paling signifikan terjadi pada enamel gigi yang direndam dengan kopi.4
Tingkat erosif yang dapat disebabkan oleh kopi juga terbukti lewat penelitian yang dilakukan oleh Lachowski dkk. (2014) dimana kopi dapat meningkatkan kekasaran permukaan enamel gigi.30
Namun selain itu, ternyata kopi memiliki dampak yang baik bagi kesehatan gigi. Beberapa penelitian menyatakan bahwa kopi mengandung bahan anti-oksidan dan anti-bakteri yang dapat mencegah terjadinya karies pada gigi.40
Namboodiripad dan Kori (2009) melakukan penelitian pada 1000 orang pasien yang sudah mengonsumsi kopi setidaknya 35 tahun.42
Hasil penelitian didapat persentasi pasien yang mengonsumsi kopi tanpa zat tambahan seperti gula dan susu memiliki skor DMFT yang paling rendah (2,9) dibandingkan dengan subjek yang mengonsumsi kopi dengan pemanis (5,5) dan subjek yang mengonsumsi kopi dengan susu tanpa gula (3,4). Hal ini disebabkan oleh adanya kandungan anti-bakteri pada kopi yang dapat berperan untuk mencegah terjadinya pembentukan kavitas pada gigi yang disebabkan oleh bakteri baik gram-positif maupun gram-negatif, termasuk S.
mutans yang menjadi penyebab utama terjadinya karies gigi.42
c. Susu
dalam proses remineralisasi, dan dapat melindungi lapisan permukaan gigi, yang dapat mencegah terjadinya pelepasan ion mineral dari permukaan enamel gigi.5,13Sifat proteksi susu belakangan ini sering dimanfaatkan untuk mengurangi efek erosif dari berbagai minuman yang bersifat asam. Penambahan susu pada kopi diharapkan dapat mengurangi efek berbahaya dari kopi terhadap kesehatan gigi. Selain kandungannya yang baik untuk proses remineralisasi, susu juga dapat menaikkan pH kopi yang asam, sehingga dapat menurunkan efek erosif kopi.13,43
Tabel1. Nilai pH pada beberapa jenis minuman ringan (Seow dan Thong, 2005)18
Beverage Manufacturer pH
Spring Water Evian Evian Co. 7.4
Red Eye International Pty Ltd Steric Trading Pty Ltd
Frucor Beverages
Zenergy functional beverages Kirks (Coca Cola Amatil) Golden Circle Limited Golden Circle Limited Kirks (Coca Cola Amatil) Bundaberg Brewed Drinks Fruit Juice Apple juice
Orange Juice
Jacob’s Creek Riesling XXXX Bitter Beer XXXX Bitter Light Beer James Boag Premium Beer Budweiser Beer Boag & Sons Brewery Anheuser-Busch
Tea Lipton’s Breakfast Lipton 6.8
Coffee Expresso Brewed Victoria Coffee 5.6
Kemampuan lekat minuman ringan pada enamel gigi, tergantung pada kemampuan thermodinamiknya.34,35 Pada penelitian in vitro dilaporkan bahwa mengonsumsi minuman ringan yang memiliki kemampuan melekat rendah pada enamel akan lebih baik, karena semakin mudah saliva untuk menghilangkannya.35
Saliva memegang peranan penting dalam proses terjadinya demineralisasi, pencegahan karies, kelainan periodontal, dan gambaran penyakit mulut lainnya. Saliva melindungi jaringan dalam rongga mulut dengan cara pembersihan mekanis, pelumuran elemen gigi, pengaruh pH rongga mulut, agregasi bakteri, serta efek demineralisasi dan remineralisasi enamel.5,16
Saliva di dalam rongga mulut mempunyai derajat keasaman yang dapat berubah setiap saat, hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti diet dan perangsangan kecepatan sekresi saliva.5,13,44
Temperatur dan lamanya terpapar juga mempengaruhi erosif suatu minuman. Temperatur minuman dipengaruhi oleh suhu kamar, minuman ketika dalam keadaan dingin pHnya menjadi lebih tinggi sehingga menurunkan efek erosifnya. Lamanya terpapar dengan minuman yang mempunyai pH rendah akan membuat semakin lamanya ion H+ berinteraksi dengan permukaan gigi sehingga semakin melarutkan mineral-mineral gigi.2,10
2.5 Spektrofotometer Serapan Atom
disebut plasma. Plasma ini berisi suatu partikel atom yang telah teratomisasi (telah direduksi menjadi pecahan atom-atomnya).46 Pengukuran zat dengan spektrofotometri selalu melibatkan larutan blanko, analit, dan larutan standar. Larutan blanko adalah larutan uji coba sebelum diberi perlakuan. Tujuan pembuatan dan pemeriksaan larutan blanko ini adalah untuk mengetahui kandungan zat yang ada pada larutan sebelum diberi perlakuan. Analit adalah zat yang terkandung dalam larutan uji coba setelah diberi perlakuan. Larutan standar adalah larutan yang sudah mendapat perlakuan dan mengandung komponen analit dengan konsentrasi tertentu.46
Pada gambar 4, terlihat komponen Spektrofotometer Serapan Atom yang terdiri dari sumber sinar, sumber atomisasi, ducting, kompresor, detektor, dan rekorder. Pada SSA, radiasi suatu sumber radiasi yang sesuai dilewatkan ke dalam nyala api yang telah teratomisasi maka radiasi tersebut akan diabsorbsi oleh atom yang telah teratomisasi. Besarnya radiasi yang diabsorbsi diketahui dari selisih radiasi asal dengan radiasi yang diteruskan.45
Konsentrasi unsur diperoleh berdasarkan besarnya radiasi yang diabsorbsi, sesuai dengan Hukum Beer, bahwa hubungan data absorben dengan konsentrasi berbanding lurus.45
Gambar 4. Spektrofotometer Serapan Atom (Dokumentasi)
penting adalah bahwa larutan dianalisis haruslah encer. Hal ini dapat diperoleh dengan berbagai cara, misalnya langsung melarutkan dengan pelarut yang sesuai, sampel dilarutkan dalam suatu asam, ataupun sampel dilarutkan dalam suatu basa atau dilebur terlebih dahulu, kemudian hasil leburan dilarutkan dalam pelarut yang sesuai.45,46
Metode pelarutan apapun yang akan dipilih untuk dilakukan analis dengan SSA, yang terpenting adalah bahwa larutan yang dihasilkan harus jernih, stabil, dan tidak mengganggu zat-zat yang akan dianalisis.46
2.6 Landasan Teori
Enamel merupakan jaringan terkeras pada tubuhdan lapisan terluar dari gigi. Enamel tersusun dari komponen anorganik yang termineralisasi sebanyak 96%, dengan sekitar 3% air, dan kurang dari 1% bahan organik.9 Kandungan mineral yang sangat tinggi pada enamel membuat enamel menjadi sangat keras. Meskipun enamel merupakan struktur yang sangat keras, enamel memiliki sifat permeabel terhadap ion-ion dan molekul yang berasal dari makanan dan minuman yang dikonsumsi, sehingga elemen anorganik enamel dapat larut secara perlahan-lahan atau kronis yang akan berpengaruh terhadap kekerasannya.9 Mineral tersebut dapat larut karena adanya paparan asam pada enamel, baik berasal dari hasil fermentasi bakteri maupun berasal dari makanan dan minuman yang menyebabkan pH rongga mulut turun.4,18
Di kalangan masyarakat sekarang ini, tingkat konsumsi berbagai macam miuman semakin meningkat, terutama minuman dengan pH rendah seperti minuman ringan, jus buah, kopi, dan teh.1,2
Sifat asam dari berbagai minuman ini dapat mengakibatkan terjadinya pelepasan ion-ion mineral dari permukaan enamel gigi yang disebut dengan demineralisasi. Demineralisasi adalah proses hilangnya sebagian atau seluruh mineral gigi seperti kalsium karena larut dalam asam, semakin rendah pH maka semakin meningkatkan ion hidrogen yang akan merusak kristal hidroksiapatit pada enamel.9,16
Remineralisasi adalah proses perbaikan alami yang mengembalikan ion-ion mineral ke struktur gigi. Secara alami proses remineralisasi dapat terjadi karena adanya fungsi buffer saliva untuk menetralkan kembali pH saliva yang rendah.19,32 Namun, proses remineralisasi alami terkadang tidak lagi adekuat untuk mempertahankan kekuatan lapisan enamel.19 Dalam membantu terjadinya proses remineralisasi pada enamel gigi, dapat diberikan kalsium dan fosfat yang terkandung dalam susu.13,34
Kerangka Teori
Demineralisasi
Non karies Karies
Proses Penyebab
Pelepasan ion-ion mineral dari permukaan enamel Makanan dan minuman
asam, seperti kopi, teh, dan kopi susu (pH < 7)
Ca10(PO4)6(OH) 10 Ca2++
6PO43- + 2OH -Gigi
Enamel Dentin Pulpa
Organik Anorganik
Hidrogen Fosfat
Kalsium
Hidroksiapatit (Ca10(PO4)6(OH)2)
Kerangka Konsep
Kopi Susu Sampel Gigi
Perendaman gigi selama 5 menit di dalam minuman
Teh Kopi
Permukaan enamel terpapar dengan minuman bersifat asam
Terjadi atau tidak terjadi demineralisasi permukaan enamel gigi
Ca10(PO4)6(OH) 10 Ca2++ 6PO43- + 2OH
-Analisa kuantitatif ion kalsium menggunakan Spektrofotometer
Serapan Atom Pengukuran pH tiap larutan minuman menggunakan pH
Meter Hanna HI 98107