BAB V PENUTUP
5. Pemanasan Global
2.3. Dampak penggunaan bahan bakar pada pesawat tebang
26 udara tersebut ditentukan berdasarkan penilaian atas kriteria sebagai berikut (PP 07/2001): Status kota dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) yang meliputi:
1. Pusat Kegiatan Nasional (PKN);
2. Pusat Kegiatan Wilayah (PKW);
3. Pusat Kegiatan Lokal (PKL).
Status Penggunaan Bandar Udara yang meliputi : 1. Internasional.
2. Domestik.
Jumlah kepadatan penumpang yang meliputi:
1. Datang dan berangkat.
2. Transit.
3. Frekuensi penerbangan.
Rute penerbangan yang meliputi : 1. Rute penerbangan dalam negeri.
2. Rute penerbangan luar negeri.
3. Rute dalam negeri yang menjadi cakupannya
Oleh karena itu akan dilakukan penelitian mengenai polusi udara yang diakibatkan oleh aktifitas di Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin.
27 ketahui, hal ini mungkin di karenakan mo lode observasi dan pengukuran polutan udara ( zat pencemar ) dari limbah transportasi udara adalah sulit dan memakan biaya yang relatif tinggi serta belum di anggap sebagai suatu ancaman. Perbedaan antara jenis transportasi ( darat dan udara ) terdapat bahan bakar yang digunakan. Bahan bakar transportasi darat didominasi oleh solar dan bensin, sedangkan pesawat terbang menggunakan avtur ( jet fuer ) sebagai bahan bakarnya atau jenis korosine. Solar bensin dan Avtur adalah bahan bakar fosil yang bersumber pada tambang minyak bumi, polutan udara yang dihasilkan oleh pesawat adalah karbon monoksida (CO),Nitrogen dioksida (NO2) dan sulfur dioksida (SO2)
2.3.2. Pengkajian Polusi Udara.
Pengkajian polusi udara dari transportasi udara perlu dilakukan karena pertama, secara kasat mata transportasi udara berjarak lebih dekat mencemari udara karena dibuang pada lapisan bagian atas troposfer dan lapisan bagian bawah statosfer 19-13 km dari permukaan bumi mendekati lapisan ozon. Sampai saat ini ketinggian yang dapat di jangkau oleh sebagian pesawat udara adalah 60-80 km dari permukaan bumi. Tidak seperti transportasi darat yang masih bersentuhan langsung dengan permukaan tanah. Kedua polutan udara dari sumber transportasi darat dapat diabsorbsi oleh vegetasi polutan yang dihasilkan transportasi udara tidak ada yang mengabsorbsinya, CO yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil transportasi darat dapat diabsorbsi oleh tumbuhan hijau ( jika proporsi antara CO dengan tumbuhan hijau seimbang). Kelebihan CO diudara yang tidak dapat diabsorbsi lagi oleh tumbuhan hijau mengakibatkan banyak CO
28 diatmosfer dan berperan sebagai gas rumah kaca yang semakin memanasi bumi, hanya air hujan yang mampuh mencuci polutan udara yang terapung-apung diatmosfer yang agak jauh dari permukaan.
Polusi udara memang sebuah kondisi yang sangat memprihatinkan.
Polusi udara sangat berpengaruh terhadap kesehatan manusia dalam jangka pendek dan jangka panjang. Dampak jangka pendek akan mengakibatkan berkurangnya aktivitas harian karena sakit yang meningkatkan resiko atau memperberat gejala asma dan alergi, gejala akut (batuk, sesak, infeksi saluran pernapasan). Tidak hanya manusia yang merasakan dampak kesehatan menjadi buruk, ternyata ekosistem lainyapun bisa terkena penyakit yang menyerang organ tubuhnya. Sehingga dapat menyebabkan kematian bagi seluruh makhluk hidup sebagai akibat dari jangka panjangnya.
2.3.3. Dampak Terhadap Manusia.
Sejauh yang terlihat dan dirasakan tingkat polusi udara secara garis besar telah dirasakan oleh masyarakat serta merasa resa dengan aktifitas bandara karena efek polusi udara yang mengganggu dan membahanyakan kesehatan serta berujung pada maut atau kematian.
Masyarakat perpendapat akan semakin para dan tidak bisa teratasi polusi udara jika pihak bandara tidak mencari solusi atas dampak polusi udara, ini menjadi keluhan Masyarakat yang harus ditangani dengan serius.
Tingkat polusi udara terasa kecil dan sederhana jika masyarakat acu tak acu mengenai dampak dampaknya, sedangkan ini merupakan dampak yang serius yang perluh didesain secara detail dan seefesien mungkin
29 sehingga masyarakat merasa nyaman dan terasa terhindar dari bahaya polusi udara.
2.3.4. Dampak polusi udara terhadap kesehatan.
Polusi udara dapat membahayakan kesehatan terganggu diakibat emisi gas buang yang dihasilkan dari pasawat terbang. Dikuatirkan tahun-tahun kedepan akan ada penambahan armada pesawat terbang yang beroperasi dibandara akibat permintaan penumpang menyebabkan bertambah pula polusi udara yang akan terjadi di sekitar wilayah bandara.
Pada prinsipnya akan ada dilema yang akan dihadapi masyarakat disebabkan emisi gas buang. Faktor ini yang harus dilihat dan dicari solusinya atas emisi yang terjadi kedepan nanti , sehingga sesuai dengan baku mutu pencemaran udara dan dasar- dasar operasional kebandar udaraan.
Setiap pengoperasian Bandara yang terjadi membuat masyarakat merasa terganggu dikarenakan bertambah lajur jadwal penerbangan. Belum lagi yang akan terjadi jika aransemen kebandar udaraan ini memproduksi atau menambahkan angka jadwal penembahan penerbangan dikarenakan makin banyak masyarakat melakukan perjalan menggunakan pesawat terbang.
Akhir-akhir ini dalam pelaksanaan aktifitas lajurnya penerbangan dibutuhkan kejelihan agar dapat menetralisir dampak emisi gas buang yang mengakibatkan polusi udara dalam lintasan dan grafik yang semakin meningkat.
Pada hakekatnya grafik angkah kenaikan polusi udara yang terjadi di sekitaran wilayah bandara harus mendapat evaluasi dan perhatian khusus
30 agar dapat diketahui dampaknya dan diketahui solusi atau penanganannya, sehingga tidak merugikan masyarakat pada umumnya.
2.3.5. Indek Standar Kualitas Udara.
Salah satu kegiatan dalam menganalisa polusi udara adalah pemantauan kualitas udara ambien. Pemantauan kualitas ambien memiliki peran yang sangat penting dalam penentuan tercemar atau tidaknya udara pada lokasi pengukuran. Sistem pemantauan udara dari sisi teknik pengambilan sampel dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu metode manual dan metode otomatis.
Indeks standar kualitas udara yang dipergunakan secara resmi di Indonesia adalah Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU), hal ini sesuai dengan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : KEP 45 / MENLH / 1997 Tentang Indeks Standar Pencemar Udara. Dalam keputusan tersebut yang dipergunakan sebagai bahan pertimbangan diantaranya : bahwa untuk memberikan kemudahan dari keseragaman informasi kualitas udara ambien kepada masyarakat di lokasi dan waktu tertentu serta sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan upaya-upaya pengendalian pencemaran udara perlu disusun Indeks Standar Pencemar Udara.
Indeks Standar Pencemar Udara adalah angka yang tidak mempunyai satuan yang menggambarkan kondisi kualitas udara ambien di lokasi dan waktu tertentu yang didasarkan kepada dampak terhadap kesehatan manusia, nilai estetika dan makhluk hidup lainnya. Indeks Standar Pencemar Udara ditetapkan dengan cara mengubah kadar pencemar udara yang terukur menjadi suatu angka yang tidak berdimensi.
31 2.3.6. Indeks Standar Pencemaran.
Rentang indeks standar pencemar udara dapat dilihat pada tabel .
KATEGORI RENTANG PENJELASAN
Baik 0-50 µg/𝑚3 Tingkat kualitas udara yang tidak memberikan efek bagi kesehatan Manusia atau Hewan dan tidak berpengaruh pada Tumbuhan bangunan atau nilai estetika.
Sedang 51-100 µg/𝑚3 Tingkat kualitas udara yang tidak berpengaruh pada kesehatan manusia ataupun hewan tetapi berpengaruh pada tumbuhan yang sensitive dan nilai estetika.
Tidak Sehat 101-199 µg/𝑚3 Tingkat kualitas udara yang bersifat merugikan pada manusia ataupun kelompok hewan yang sensitive atau bisa menimbulkan kerusakan pada tumbuhan atau nilai estetika.
Sangat Tidak Sehat
200-299 µg/𝑚3 Tingkat kualitas udara yang merugikan kesehatan pada sejumlah segmen populasi yang terpapar.
Berbahaya 300- lebih µg/𝑚3 Tingkat kualitas udara berbahaya yang secara umum dapat merugikan kesehatan yang serius.
Data Indeks Standar Pencemar Udara diperoleh dari pengoperasian Bandar udara Pemantaua Kualitas Udara Ambien Otomatis. Sedangkan Parameter Indeks Standar Pencemar Udara meliputi :
a. Karbon monoksida (CO) b. Sulfur dioksida (SO2).
32 c. Nitrogen dioksida (NO2.).
Perhitungan dan pelaporan serta informasi Indeks Standar Pencemar Udara ditetapkan oleh Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan, yaitu Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan No. 107 Tahun 1997 Tanggal 21 November 1997.
Keputusan kepala badan pengendalian dampak lingkungan, memuat diantaranya adalah : Parameter-parameter dasar untuk indeks standar pencemar udara (Ispu) dan periode waktu pengukuran, selengkapnya dapat dilihat pada tabel
Tabel . Parameter-Parameter Dasar Untuk Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Dan Periode Waktu Pengukuran.
No PARAMETER WAKTU PENGUKURAN
1. Sulfur Dioksida (SO2) 30 Menit ( Periode pengukuran rata-rata ) 2. Carbon Monoksida (CO) 30 Menit ( Periode pengukuran rata-rata ) 3. Nitrogen Dioksida (NO2 ) 30 Menit ( periode pengukuran rata-rata )
2.3.7. Angka dan kategori ISPU Serta Grafik ISPU
Angka dan Kategori Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU), selengkapnya dapat dilihat pada tabel .
33 ANGKA DAN KATEGORI INDEKS STANDAR PENCEMAR UDARA (ISPU).
INDEKS KATEGORI
1 µg/𝑚3- 50 µg/𝑚3 Baik
51 µg/𝑚3 - 100 µg/𝑚3 Sedang
101 µg/𝑚3 - 199 µg/𝑚3 Tdak sehat 200 µg/𝑚3 - 299 µg/𝑚3 Sangat Tidak Sehat
300 µg/𝑚3- lebih Berbahaya
34 BENTUK GRAFIK
Batas Indeks Pencemaran Udara dalam Satuan Matriks.
35
36 Polutan Standar Indeks (PSI) merupakan index yang dipakai sebagai acuan dari Index Standar Pencemar Udara (ISPU). Polutan Standar Indeks (PSI) dipergunakan oleh beberapa Negara, diantaranya Amerika Serikat. Metode perhitungan yang dipergunakan dalam Polutan Standar Indeks berprinsip pada tingkat efek yang ditimbulkan terhadap manusia dan lingkungan oleh karena pemaparan suatu parameter polutan. Tingkat efek yang ditimbulkannya dianggap konstan untuk setiap konsentrasi pemaparan polutan tertentu. Parameter-parameter yang dipergunakan dalam Polutan Standar Indeks (PSI) adalah seperti dalam table.
NO PARAMETER WAKTU PENGUKURAN
1. Sulfur Dioksida ( SO2 ) 30 menit periode pengukuran rata 2. Carbon Monoksida (CO) 30 menit periode pengukuran rata 3. Nitrogen Dioksida (NO2) 30 menit periode pengukuran rata