• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

4.1.6 Dampak Perilaku Konsumtif dan Perkembangan Entrepreneur

Selayang.

4.1.6.1 Uji Asumsi Klasik 4.1.6.1.1Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah distribusi sebuah data mengikuti atau mendekati distribusi normal (Situmorang, 2008). Cara untuk mengetahui apakah data penelitian tersebut terdistribusi dengan normal atau tidak

dapat diketahui paling tidak dengan 2 cara, yaitu analisis grafik dan analisis statistik.

Dalam uji normalitas menggunakan grafik atau scatterplot, distribusi yang normal akan menghasilkan titik-titik yang membentuk sebuah satu garis lurus diagonal dan ploting data residual akan dbandingkan dengan garis diagonal.

Berikut merupakan grafik scatterplot dari data Dampak Perkembangan Entrepreneur Muda Terhadap Pembangunan Ekonomi di Kecamatan Medan Selayang:

Gambar 4.5Diagram uji normalitas dampak perilaku konsumtif dan perkembangan entreprenuer muda terhadap pembangunan ekonomi

Hasil tampilan grafik pada gambar 4.5 menunjukkan titik-titik membentuk sebuah garis lurus diagonal yang kemudian dapat disimpulkan bahwa data menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonalnya atau

dapat juga berarti data residual berdistribusi normal yang hampir sempurna (simetris).

Dalam uji normalitas menggunakan grafik histogram dapat diketahui data berdistribusi normal ditunjukkan dengan historam yang tidak menceng ke kiri atau menceng ke kanan (Situmorang, 2008). Berikut adalah grafik histogram dari data Dampak Perkembangan Entrepreneur Muda Terhadap Pembangunan Ekonomi di Kecamatan Medan Selayang:

Gambar 4.6Histogram uji normalitas dampak perilaku konsumtif dan perkembangan entreprenuer muda terhadap pembangunan ekonomi

Berdasarkan grafik histogram di atas terlihat dengan jelas bahwa variabel

‗Pembangunan Ekonomi‘ berdistribusi normal, hal ini ditunjukkan dengan distribusi data yang tidak menceng ke kiri ataupun menceng ke kanan.

4.1.6.1.2Uji Heterokedastisitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan veriance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain.Jika variance tetap maka disebut homoskedastisitas dan jika berbeda maka terjadi problem heteroskedastisitas. Model regresi yang baik yaitu homoskesdatisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas.

Terdapat beberapa cara untuk mendeteksi ada tidaknya heteroskedastisitas salah satunya yaitu dengan melihat scatter plot pada grafik. Heteroskedastisitas terjadi bila variansnya tidak konstan, sehingga seakan-akan ada beberapa kelompok data yang mempunyai besaran eror yang berbeda-beda sehingga bila diplotkan. Heterokedastisitas akan terdeteksi bila plot menunjukkan pola yang sistematis. Berikut ini adalah gambar 4. yang menunjukkan uji heterokedastisitas pada data dari Dampak Perkembangan Entrepreneur Muda Terhadap Pembangunan Ekonomi di Kecamatan Medan Selayang.

Gambar 4.7 Scatterplot uji heterokedastisitas dampak perilaku konsumtif dan perkembangan entreprenuer muda terhadap pembangunan ekonomi

Berdasarkan gambar scatterplot di atas, diketahui terdapat titik-titik bulat yang menyebar tidak beraturan dan tidak membentuk suatu pola yang sistematis.

Hal ini berarti tidak ada terjadi heterokedastisitas pada data dan menunjukkan data residual berdistribusi normal.

4.1.6.1.3Uji Mulitikolinearitas

Uji multikolinieritas digunakan untuk menguji apakah pada model regresi yang dipakai ditemukan adanya korelasi antar variabel independen. Jika terjadi korelasi, maka artinya terdapat problem/masalah multikolinieritas. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi antar variabel independen. Untuk mendeteksi ada atau tidaknya gejala multikolinieritas dapat dilakukan dengan memperhatikan nilai matriks korelasi yang dihasilkan pada saat pengolahan data,

serta memperhatikan nilai VIF (Variance Inflation Factor) dan Tolerance-nya dengan indikator sebagai berikut

1. VIF > 5, maka diduga memiliki persoalan multikolinieritas 2. VIF < 5, maka tidak terdapat multikolinieritas

3. Tolerance< 0,1 maka diduga terdapat problem multikolinieritas 4. Tolerance> 0,1 maka tidak terdapat multikolinieritas

Berikut merupakan tabel 4.20 yang menjelaskan multikolinieritas dari variabel pembangunan ekonomi:

Tabel 4.20 Hasil uji multikolinieritas dampak perilaku konsumtif dan perkembangan entrepreneur muda terhadap pembangunan ekonomi

Coefficientsa

a. Dependent Variable: Pembangunan Ekonomi

Sumber: Diolah dari data primer, 2016

Berdasarkan hasil output data pada tabel di atas dapat dilihat bahwa seluruh variabel independen memiliki nilai VIF < 5 dan nilai Tolerance> 0,1.

Maka dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi multikolinieritas yang artinya model regresi yang digunakan adalah baik.

4.1.6.1.4Uji Koefisien Determinasi

Uji koefisien determinasi digunakan untuk menguji goodness-fit dari model regresi yang dapat dilihat dari nilai R-Square maupun Adjust R Square.

Untuk menjelaskan seberapa besar terdapat hubungan antara variabel produksi, pertumbuhan, tenaga kerja, dan kesejahteraan maka dapat dilihat melalui besaran koefisien determinasi dari Adjust R Square, karena memiliki lebih dari dua variabel independen.

Tabel 4.21 Hasil pengujian koefisien determinasi (Uji R2) dampak perilaku konsumtif dan perkembangan entrepreneur muda terhadap pembangunan ekonomi

Model Summary

Model R R Square

Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

1 .921a .849 .825 .819

a. Predictors: (Constant), IW, IO, IG, IMP b. Dependent Variable : Pembangunan Ekonomi

Sumber: Diolah dari data primer, 2016

Berdasarkan hasil perhitungan di atas dapat disimpulkan bahwa besarnya koefisien determinasi ialah 0,825. Angka tersebut mengandung pengertian bahwa pengaruh variabel bebas (independent) terhadap perubahan variabel dependent adalah sebesar 82,5%, sedangkan sisanya 17,5% (100%-82,5%) dipengaruhi oleh variabel-variabel lain di luar dari model. Dari hasil koefisien determinasi tersebut maka keempat variabel independen yang dipilih oleh peneliti mempunyai hubungan yang ‘sangat erat’ (0,8 – 0,99) dan sudah dapat diterima.

4.1.6.2 Pengujian Hipotesis

4.1.6.2.1Hasil Uji Simultan/ANOVA (Uji F)

Uji Simultan (uji F) digunakkan untuk mengetahui apakah hipotesis yang diajukan secara serempak/simultan dapat diterima atau ditolak. Berdasarkan kriteria diketahui jika Fhitung < Ftabel, maka Ho diterima dan Ha ditolak,

sedangkan jika F hitung > F tabel, maka Ho ditolak dan Ha diterima. Selain itu, jika tingkat signifikansi di bawah atau lebih kecil dari 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima. Pada penelitian ini diketahui Ftabel mempunyai nilai 2,99 yang didapat dari Degree of Freedom (Df) pada derajat kepercayan 95% (0,05).

Sedangkan nilai Fhitung didapat dari hasil uji simultan (uji F) untuk ‗dampak perkembangan entrepreneur muda terhadap pembangunan ekonomi‘ sebagai berikut.

Tabel 4.22 Hasil uji simultan (uji F/ANOVA) dampak perilaku konsumtif dan perkembangan entrepreneur muda terhadap pembangunan ekonomi

ANOVAb

Model

Sum of

Squares df Mean Square F Sig.

1 Regression 94.183 4 23.546 35.072 .000a

Residual 16.784 25 .671

Total 110.967 29

a. Predictors: (Constant), IW, IO, IG, IMP a. Dependent Variable: Pembangunan Ekonomi

Sumber: Diolah dari data primer, 2016.

Seperti ditunjukkan pada tabel 4.1 di atas nilai Ftabel diketahui yaitu 35,07, sedangkan nilai Fhitung ialah sebesar 2,99, hal ini berarti Fhitung > Ftabel dan diketahui juga tingkat signifikansi yaitu 0,000 atau < 0,05. Berdasarkan rumusan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima serta menunjukkan bahwa ―perkembangan entrepreneur muda secara simultan (langsung) berpengaruh positif signifikan memiliki dampak terhadappembangunan ekonomi (produksi, pertumbuhan, tingkat pengangguran, dan kesejahteraan) di Kecamatan Medan Selayang Kota Medan‖.

4.1.6.2.2 Hasil Uji Parsial (Uji T)

Uji parsial (uji T) digunakan untuk menguji apakah hipotesis yang diajukan diterima atau ditolak secara parsial. Berdasarkan kriteria jika T hitung

<T tabel, maka Ho diterima dan Ha ditolak sedangkan jika T hitung > T tabel, maka Ho ditolak dan Ha diterima. Selain itu, jika tingkat signifikansi di bawah atau < 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima.

Pada analisis penelitian kali ini diketahui memiliki Df (Degree of Freedom) dengan tingkat signifikansi 95% atau 0,05 (satu arah) yaitu sebesar 1,708. Setelah diketahui angka T tabel, kemudian dibandingkan dengan angka T hitung yang didapat dari pengolahan data melalui SPSS, sebagaimana ditunjukkan pada tabel berikut ini.

Tabel 4.23 Hasil uji parsial (uji T) dampak perilaku konsumtif dan perkembangan entrepreneur muda terhadap pembangunan ekonomi

a. Dependent Variable: Pembangunan Ekonomi Sumber : Diolah dari data primer, 2016.

Berdasarkan hasil T hitung dan signifikansi di atas maka dapat ditemukan beberapa kesimpulan terkait uji hipotesis penelitian secara parsial, yaitu

1. Variabel ‗output/produksi‘memiliki nilai signifikansi sebesar 0,001 sehingga < 0,05 dan memiliki nilai T hitung yakni 3,628 atau > 1,708.

Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa variabel produksi/outputdidapati berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap pembangunan ekonomi di Kecamatan Medan Selayang.

2. Variabel ‗pertumbuhan/growth‘ memiliki nilai signifikansi 0,000 sehingga

< 0,05 dan memiliki nilai T hitung yakni 6,228. Maka variabel pertumbuhan/growth didapati berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap pembangunan ekonomi di Kecamatan Medan Selayang.

3. Variabel ‗mengurangi pengangguran‘ memiliki nilai signifikansi 0,072 sehingga > 0,05 dan memiliki nilai T hitung yakni 1,878 atau > 1,708.

Maka variabel tenaga kerja didapati berpengaruh secara positif tidak signifikan terhadap pembangunan ekonomi di Kecamatan Medan Selayang.

4. Variabel ‗welfare/kesejahteraan‘ diketahui memiliki nilai signifikansi 0,130 sehingga > 0,05 serta memiliki nilai T hitung yakni 1,565 atau <

1,708. Maka dapat disimpulkan bahwa variabel welfare/kesejahteraan didapati berpengaruh secara positif tidak signifikan terhadap pembangunan ekonomi di Kecamatan Medan Selayang.

Dari hasil yang ditemukan pada data-data Uji T di atas maka dapat dijelaskan bahwa perkembangan entrepreneur muda dan perilaku konsumtif pemuda yang marak terjadi di Kecamatan Medan Selayang berdampak besar bagi lancarnya kegiatan produksi yang dilakukan dunia-dunia usaha serta memberikan gairah bagi tumbuhnya para pelaku-pelaku usaha baru di Kecamatan Medan Selayang.

Tetapi, hasil ini juga menjelaskan bahwa perilaku konsumtif dan perkembangan entrepreneur muda belum mampu untuk menekan jumlah pengangguran serta

belum mampu memberikan pemerataan kesejahteraan pada para tenaga kerja di Medan Selayang.