BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2 Pembahasan
4.2.2 Perilaku Konsumtif Pemuda Mendorong Perkembangan
Entrepreneur muncul dan semakin berkembang disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya pemicunya didorong dengan meningkatkanya tingkat konsumsi masyarakat modern sebagai pasar untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Munculnya perilaku-perilaku konsumtif pada pemuda (impulsive buying, non-rational buying, dan wasteful buying) artinya semakin banyak pasar-pasar baru yang potensial untuk membeli produk-produk yang dijual oleh para entrepreneur.
Gaya hidup pemuda yang serba konsumtif ini merupakan sebuah peluang bagi munculnya entrepreneur-entrepreneur baru.
Cukup tingginya tingkat perilaku konsumtif pemuda di Kecamatan Medan Selayang - seperti telah ditunjukkan sebelumnya - mengindikasikan bahwa perilaku konsumtif pada pemuda menjadi pemicu dari berkembangnya
entrepreneur muda di Kecamatan Medan Selayang. Untuk membuktikan hal tersebut telah dilakukan penelitian lapangan terhadap 30 (tiga puluh) responden yaitu para entrepreneur muda yang dijelaskan sebagai berikut:
Tabel 4.28 Rataan skor perilaku konsumtif mendorong perkembangan entrepreneur muda
Perilaku Konsumtif Mendorong Perkembangan Entrepreneur Muda Alternatif Jawaban Bobot (X) Frekuensi (F) FX %
Sumber: Diolah dari data primer 2016
Dari tabel di atas dapat dijelaskan jika para responden yaitu entrepreneur-entrepreneur muda di Kecamatan Medan Selayang dominan memberikan jawaban setuju dan sangat setuju dari beberapa poin terkait perilaku konsumtif pemuda mendorong perkembangan entrepreneur muda. Hal ini mengisyaratkan bahwa kebanyakan entrepreneur muda di Kecamatan Medan Selayang mendirikan usaha mereka karena melihat adanya peluang dari gaya hidup konsumtif pemuda.
Untuk melihat lebih detail bagaimana perilaku konsumtif pemuda daat mendorong pertumbuhan entrepreneur muda dijelaskan melalui tabel berikut ini:
Tabel 4.29 Nilai rata-rata seluruh item perilaku konsumtif mendorong perkembangan entrepreneur muda
No Perilaku Konsumtif Mendorong
Perkembangan Entrepreneur Muda Nilai Skor Kategori 1 Pemuda menjadi konsumen utama 4,2 Positif/signifikan 2 Membuka usaha di tempat strategis
5 Usaha yang dikelola selalu menyesuaikan dengan kebutuhan gaya hidup pemuda
3,8 Positif/signifikan
Jumlah Rataan Skor 4,0 Positif/signifikan
Sumber: Diolah dari data primer 2016
Berdasarkan hasil rata-rata pada tabel di atas ditemukan rataan skor yang positif signifikan, yakni 4,0. Angka ini menunjukkan bahwa perilaku konsumtif pada pemuda secara signifikan ikut membantu munculnya entrepreneur-entrepreneur baru di Kecamatan Medan Selayang.
Skor rata-rata yang sangat tinggi diperlihatkan dari kelima poin di atas membuktikan jika pemuda masih menjadi sumber pemasukan utama dari segala jenis usaha entrepreneur muda dibandingkan dengan anak-anak maupun orang tua.
Pertama, pemuda atau kaula muda merupakan pelanggan utama dari entrepreneur-entrepreneur muda. Jumlah penduduk muda yang lebih banyak dibandingkan jenjang usia lainnya (anak-anak dan orang tua) serta tingkat perilaku konsumtif yang sangat tinggi menjadi suatu ketertarikan tersendiri bagi para entrepreneur untuk memasarkan penjualan mereka kepada para pemuda. Hal ini diperjelas dengan hasil nilai rata-rata sebesar 4,2 terhadap ‗pemuda menjadi konsumen utama‘.
Kedua, para entrepreneur muda tentu terlebih dahulu mencari tempat-tempat yang strategis ketika ingin mendirikan sebuah perusahaan. Tempat strategis di era modernitas dan globalisasi seperti sekarang ini tentu tidak lagi selalu berdasarkan pertimbangan kepadatan penduduk dari suatu wilayah, namun lebih kepada lingkungan sekitar yang memungkinkan banyak didatangi para pengunjung.
Para pengusaha atau entrepreneur saat ini lebih tertarik mendirikan sebuah usaha di sekitar tempat di mana para pemuda eksis, yaitu di sekitar tempat instansi-instansi pendidikan (sekolah, perguruan tinggi, bimbingan belajar/les) serta di tempat biasanya pemuda sering hang-out dengan sesama mereka pemuda.
Hal ini dibutikan dengan skor rata-rata yang sangat tinggi yakni 4,3 pada tabel 4.29.
Selanjutnya, pemuda dengan gaya hidup konsumtifnya dimanfaatkan oleh para entrepreneur muda sebagai pasar yang potensial dalam penjualan mereka untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Analisis ini dibuktikan dengan nilai rata-rata yang sangat tinggi 4,1 dari ketiga puluh responden yang ditanyakan sangat dominan menyatakan jika pemuda merupakan pasar yang sangat potensial bagi perkembangan usaha mereka.
Entrepreneur yang juga masih dalam usia pemuda tentunya mengetahui betul apa yang menjadi kebutuhan bagi para pemuda sebagai konsumen mereka ketimbang entrepreneur yang tidak lagi berada pada usia pemuda, baik itu kebutuhan pribadi maupun kebutuhan pergaulan/sosialita. Hal tersebut menjadi keuntungan tersediri bagi para entrepreneur muda untuk berinovasi pada produk-produk mereka, karena sejatinya mereka (entrepreneur muda) mengenal betul gaya hidup pemuda itu sendiri.
Dari rata-rata skor seperti yang terlihat pada tabel 4.29, ditemukan nilai yang sangat tinggi, yakni 3,8 (positif/signifikan). Artinya, memang banyak ditemukan entrepreneur-entrepreneur muda yang menjadikan gaya hidup konsumtif para pemuda sebagai peluang bagi usaha mereka.
Berdasarkan nilai rata-rata yang didapat serta analisis dari fakta di lapangan maka dapat disimpulkan terjadi pengaruh positif yang sangat signifikan terhadap perkembangan entrepreneur muda di Kecamatan Medan Selayang yang didorong oleh tingginya tingkat konsumsi yang dilakukan oleh pemuda.
Perkembangan wirausaha atau entrepreneur yang terjadi di Kecamatan Medan Selayang memang terbilang sangat signifikan dalam 5 (lima) tahun terakhir, terutama di beberapa kelurahan di Medan Selayang.
Berikut merupakan tabel perkembangan entrepreneur ditiap kelurahan pada Kecamatan Medan Selayang tahun 2011-2015:
Tabel 4.30 Perkembangan jumlah entrepreneur di per kelurahan di Kecamatan Medan Selayang 2011-2015
No Kelurahan Jumlah Entrepreneur/Tahun
2011 2012 2013 2014 2015
1 Sempakata 390 390 1.097 1.095 1.150
2 Beringin 2.130 2.130 744 748 785
3 PB Selayang I 217 217 420 425 446
4 PB Selayang II 306 306 486 489 513
5 Tanjung Sari 474 474 2.937 2.940 3.087
6 Asam Kumbang 174 174 296 299 314
Jumlah 3.691 3.691 5.980 5.996 6.295
Sumber: Diolah dari data sekunder, 2016 (Medan Selayang Dalam Angka, 2016).
Dari 6 (enam) kelurahan yang terdapat di Kecamatan Medan Selayang, dalam lima tahun terakhir hampir seluruh kelurahan mengalami pertumbuhan entrepreneur yang sangat signifikan, hanya Kelurahan Beringin yang mengalami penurunan jumlah entrepreneur cukup drastis di tahun 2013-2014, namun perlahan mulai tumbuh kembali di tahun 2015.
Kelurahan yang diketahui sangat drastis melonjak pertumbuhan entrepreneurnya yakni Kelurahan Tanjung Sari dan Kelurahan Sempakata.
Semenjak mulai beroperasinya kawasan perekonomian baru yakni kawasan Ring
Road di tahun 2013, kedua kelurahan tersebut yang memang berada pada sekitar kawasan Ring Road, terkena dampak pembangunan dari kehadiran kawasan Ring Road (Selayang Pandang Medan Selayang, 2016).
Kawasan Ring Road betul-betul menjadi magnet bagi para investor, pengusaha, atau entrepreneur untuk berlomba-lomba mendirikan berbagai jenis usaha mereka di sekitar kawasan tersebut. Tingginya tingkat konsumtif pada pemuda di Kota Medan membuat jenis-jenis usaha yang bermunculan di sekitar kawasan Ring Road ini ialah usaha-usaha yang mengakomodir gaya hidup konsumtif para pemuda, seperti cafe, tempat karaoke, distro/fashion store, restoran, dan lain sebagainya.
Entrepreneur memang dituntut jeli dalam melihat peluang dari berbagai keadaan yang terjadi di sekitarnya, termasuk melihat peluang dari tingginya tingkat konsumsi pemuda. Akan tetapi, perlu juga bagi para entrepreneur muda untuk mengakomodir kebutuhan-kebutuhan hidup tidak hanya dari kalangan pemuda saja, namun juga dari setiap kalangan masyarakat.
Tingginya peran perilaku konsumtif pemuda dalam mendorong perkembangan dan pertumbuhan entrepreneur muda seolah-olah mengisyaratkan jika para entrepreneur selalu mengharapkan terjadinya peningkatan perilaku konsumtif pada pemuda. Oleh karena itu sudah sepatutnya para entrepreneur muda ini bisa menjadi role model bagi pemuda-pemuda lainnya, terkhusus bagi para pemuda yang sangat tinggi perilaku konsumtifnya.
Harus kita ingat bersama, memang tingginya tingkat konsumsi yang terjadi pada masyarakat mencerminkan tingginya tingkat kesejahteraan pada suatu
wilayah atau negara, akan tetapi tingginya tingkat konsumsi juga dapat berarti tingginya tingkat kesenjangan pada masyarakat.
4.2.3 Analisis Dampak Perilaku Konsumtif dan Entrepreneur Muda Terhadap Pembangunan Ekonomi di Kecamatan Medan Selayang
4.2.3.1 Analisis Dampak Perilaku Konsumtif dan Entrepreneur Muda Terhadap ‘Produksi/Output’di Kecamatan Medan Selayang
Hasil produksi barang/jasa di suatu wilayah merupakan salah satu dari indikator yang menentukan bagi berjalannya pembangunan ekonomi di wilayah tersebut. Jumlah produksi yang dihasilkan para wirausaha turut andil terhadapaktivitas ekonomi yang terjadi dalam masyarakat. Kemampuan meningkatkan output berupa barang atau jasa didapat ketika faktor-faktor produksi selalu mengalami pertambahan jumlah serta kualitasnya. Bentuk pertambahan faktor-faktor produksi tersebut antara lain ialah modal fisik yang akan menambah jumlah barang dan investasi dan penyempurnaan teknologi (Tarigan, 2007).
Dari penelitian terhadap 30 (tigapuluh) entrepreneur muda di Kecamatan Simpang Selayang terdapat pengamatan terhadap sektor produksi atau produktivitas sebagai berikut:
Tabel 4.31 Jawaban responden mengenai dampak perilaku konsumtif dan perkembangan entrepreneur muda terhadap jumlah ‗produksi/output‘
di Kecamatan Medan Selayang.
Produksi
Alternatif Jawaban Bobot (X) Frekuensi (F) FX %
Selalu 5 28 140 30,4%
Sering 4 51 204 44,2%
Kadang-Kadang 3 35 105 22,8%
Jarang 2 6 12 2,6%
Tidak Pernah 1 - - -
Jumlah 461 100%
Sumber: Diolah dari data skunder, 2016.
Berdasarkan hasil tabulasi data penelitian terhadap tiga puluh entrepreneur muda di atas maka dapat ditemukan bahwa sekitar 74,6% (Selalu = 30,4%, Sering
= 44,2%) entrepreneur muda di Kecamatan Medan Selayang melakukan aktivitas produksi dengan sangat baik, diantaranya produksi yang dihasilkan mencukupi kebutuhan pasar, produksi yang dihasilkan banyak melakukan berbagai inovasi atau pembaruan, permintaan produksi cenderung meningkat dengan signifikan, dan melibatkan atau bekerja sama dengan perusahaan lain dalam melakukan produksi barang/jasa.
Sisanya diketahui sekitar 25,4% responden yang usahanya belum melakukan kegiatan produksi yang berdampak terhadap pembangunan ekonomi di Kecamatan Medan Selayang. Hal ini dapat disebabkan oleh banyak faktor kendala, misalkan terbatasnya modal untuk melakukan banyak produksi, kurangnya keuntungan dari hasil penjualan, atau jarang melakukan inovasi terhadap produknya.
Meningkatnya permintaan produksi barang/jasa tentu mengisyaratkan bahwa terdapat peningkatan pada daya beli masyarakat. Artinya, berapa besar produksi yang dihasilkan oleh para entrepreneur muda menunjukkan daya beli dari masyarakat sekitar. Dalam hal ini akibat tingginya permintaan produksi pada
entrepreneur-entrepreneur muda di kecamatan Medan Selayang berdampak terhadap tingginya daya beli atau konsumsi masyarakat di Medan Selayang. Hal ini dibuktikan dengan munculnya perilaku konsumtif yang cukup tinggi terjadi pada pemuda-pemuda di Medan Selayang.
Untuk melihat lebih detail bagaimana dampak yang terjadi terhadap pembangunan ekonomi pada sektor produksi/output, peneliti menganalisisnya melalui empat sub indikator, yaitu produksi yang memenuhi kebutuhan atau permintaan pasar, terjadinya peningkatan produksi pada produk, melakukan pembaharuan/inovasi dalam produksi, serta melibatkan atau bekerja sama dengan usaha lainnya dalam proses produksi. Hasil analisis dampak terhadap sektor produksi dijelaskan melalui tabel berikut ini.
Tabel 4.32 Nilai rata-rata item indikator ‗produksi/output‘
No Produksi/Output Nilai
Skor Kategori
1 Produksi selalu mencukupi permintaan pasar
4,1 Positif/Signifikan 2 Terjadi peningkatan yang signifikan
pada permintaan produksi
Melibatkan atau bekerja sama dengan perusahaan/usaha lainnya dalam proses
Jumlah Rataan Skor 3,8 Positif/Signifikan
Sumber: Diolah dari data primer, 2016.
Berdasarkan temuan di lapangan yang ditunjukkan pada tabel di atas menjelaskan bahwa skor rata-rata keseluruhan sektor produksi yaitu 3,8. Angka ini menunjukkan bahwa produksi dihasilkan oleh usaha-usaha para entrepreneur muda mempunyai dampak yang signifikan terhadap pembangunan ekonomi di Kecamatan Medan Selayang.
Skor rata-rata tertinggi berada pada produksi usaha para entrepreneur muda dengan skor 4,1. Ini artinya hamper seluruh usaha yang dikelola oleh para entrepreneur muda tersebut tak pernah kekurangan produksi melainkan selalu memenuhi kebutuhan pasar, bahkan cukup sering meningkatkan hasil produksi mereka seiring dengan meningkatnya juga permintaan pasar, hal tersebut ditunjukkan dengan skor rata-rata berjumlah 3,6 pada sub-indikator permintaan produksi yang signifikan.
Sebaliknya, hanya terdapat sebagian kecil usaha entrepreneur muda yang kadang-kadang terhambat kelancaran produksinya sehingga tidak selalu memenuhi permintaan pasar. Penyebab dari kemandegan produksi ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, misalnya minimnya modal, neraca keuangan yang tidak sehat, profit yang kecil, dan kekurangan bahan baku produksi.
Tidak meningkatnya hasil produksi atau terjadi pengurangan produksi bisa berdampak ke berbagai segi pembangunan ekonomi, misalnya bertambahnya pengangguran karena terjadi PHK secara massif, bahkan lebih fatal lagi dapat membuat para entrepreneur tersebut terancam gulung tikar atau bangkrut. Demi mencegah hal ini terjadi tentu perlu bantuan dari pemerintah daerah setempat, baik itu dari materi berupa bantuan modal atau pinjaman dan juga sosial seperti penyuluhan atau bimbingan.
Skor rata-rata yang sama tingginya juga ditunjukkan pada kemampuan para entrepreneur mudamenciptakan inovasi-inovasi baru dalam produksi yang mereka hasilkan. Entrepreneur muda yang selalu atau sering melakukan berbagai inovasi pada usaha mereka dominan bergerak pada jenis usaha ‗fashion‘, seperti yang dilakukan oleh Aloysius Purba dengan usahanya ‗Cok Ko Tengok-Batak
Apparel‘, ‗Elephant Store‘ milik Denny Dwi Putra dan kawan-kawannya, atau
‗Miya Rumah Kebaya‘ milik Emiya Ginting dan usaha-usaha fashion lainnya.
Inovasi bagi usaha yang bergerak di bidang fashion memang mutlak diperlukan, karena model usaha fashion tidak bisa lepas dari mode zaman atau trend.
Namun di era modernitas dan globalisasi saat ini inovasi atau kreativitas sudah menjadi ‗nyawa‘ bagi berbagai jenis usaha, tidak hanya fashion. Hal ini dibuktian dengan makin maraknya inovasi yang dilakukan oleh beberapa usaha jenis kuliner dan jasa. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa tanpa inovasi sebuah usaha hanya tinggal menunggu waktu saja untuk menuju kepada kebangkrutan karena gagal bersaing dengan usaha-usaha lain yang lebih inovatif.
Dampak yang terjadi dari hadirnya inovasi-inovasi yang dilakukan oleh entrepreneur menurut Yamamoto (2007), yaitu dapat memperbesar spesialisasi jenis usaha. Dengan terciptanya banyak spesialisasi jenis usaha baru tentu akan membuat masyarakat terangsang dan berlomba-lomba untuk menjadi entrepreneur. Inovasi yang demikian tentu akan berdampak kemudian terhadap competitive advantages pada sesama entrepreneur untuk bersaing menghadirkan inovasi-inovasi baru (Darwanto, 2012).
Entrepreneur-entrepeneur yang sangat mengutamakan pengembangan inovasi dalam usahanya bisa menjadi investasi bagi pemerintah. Dalam jurnal pengkajian Koperasi dan UKM Nomor 2 tahun I, peran inovasi muncul sebagai salah satu dari empat faktor yang perlu mendapat perhatian pemerintah dalam pengembangan entrepreneurship. Dengan berinvestasi pada inovasi, artinya pemerintah sedang berinvestasi untuk kesejhateraan masyarakat. (Darwanto, 2012).
Selain kuantitas, kualitas dan inovasi, produksi juga akan berdampak terhadap pembangunan ekonomi jika terjadi aktivias interdependence (saling membutuhkan) pada sesama pengusaha atau entrepreneur. Untuk menghasilkan produksinya, banyak pengusaha sekarang ini terlibat kerja sama dengan usaha lain karena usaha lain, yang paling marak saat ini adalah kerja sama dalam bentuk franchising atau membeli brand/merek yang sudah terlebih dahulu terkenal untuk kemudian mendirikan sebuah usaha dengan mengatasnamakan brand tersebut.
Berdasarkan penelitian di lapangan dari 30 responden entrepreneur muda yang diketahui memang tidak ditemukan entrepreneur muda yang menggunakan franchising pada usaha yang mereka kelola, namun kebanyakan dari mereka memilih memakai produksi dari usaha lain untuk menunjang produksi mereka ketimbang memproduksinya sendiri. Jenis produksi interdependence ini dominan dilakukan oleh entrepreneur yang memiliki jenis usaha fashion dan jasa.
Kerja sama produksi dengan usaha lain ini misalnya dilakukan oleh Denny Dwi Putra beserta rekan-rekannya yang mengelola usaha fashion ‗Elephant Store‘.
Mereka menjual produk fashion yang mereka telah inovasi, akan tetapi aneka produk fashion, semisal baju, celana, tas, dan lain-lain yang mereka produksi tersebut sebenarnya mereka beli dan datangkan dari usaha produksi konveksi pakaian di Bandung. Dalam hal ini, Denny beserta rekan-rekannya tidak memproduksi baju kaos, kemeja, jeans, tas dan lainnya itu tapi menjual kreatifitas mereka yang dimasukkan ke dalam produk-produk telah jadi tersebut.
Berkembangnya entrepreneur muda tentu membuat berbagai spesialisasi produksi muncul dan terus meningkat. Akan tetapi, peningkatan produktivitas para entrepreneur muda ini tentu harus dikelola dengan baik, karena jika hanya
menghasilkan produksi yang berlimpah tanpa adanya peningkatan permintaan pasar dapat menimbulkan ‗over-produksi‘, hal ini kedepannya tentu akan sangat merugikan bagi para entrepreneur muda. Jika hal ini terjadi tentu akan banyak dampak negatif yang bermunculan tidak hanya bagi entrepreneur-entrepreneur muda, tapi juga berdampak negatifterhadap pembangunan ekonomi wilayah, dalam hal ini Kecamatan Medan Selayang.
Dari penjelasan-penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa perkembangan entrepreneur muda memiliki dampak terhadap pembangunan ekonomi di Kecamatan Medan Selayang dari sudut produksi/output yang dihasilkan oleh usaha-usaha para entrepreneur muda.
4.2.3.2 Analisis Dampak Perilaku Konsumtif dan Entrepreneur Muda Terhadap ‘Pertumbuhan/Growth’ Usahadi Kecamatan Medan Selayang
Kallapur dan Trombley (2001) menjelaskan bahwa pertumbuhan perusahaan merupakan suatu kemampuan pada perusahaan untuk meningkatkan ukuran perusahaan melalui peningkatan aktiva. Tingkat pertumbuhan yang semakin cepat mengindikasikan bahwa perusahaan sedang mengadakan ekspansi.
Pertumbuhan usaha pada suatu wilayah merupakan salah satu indikator yang menentukan bagi berjalannya pembangunan ekonomi di wilayah tersebut.
Jumlah produksi yang dihasilkan para wirausaha atau entrepreneur turut berdampak dalam kelancaran aktivitas ekonomi yang terjadi dalam masyarakat.
Dari penelitian terhadap 30 (tigapuluh) entrepreneur muda di Kecamatan Simpang Selayang terdapat pengamatan terhadap sektor produksi atau produktivitas sebagai berikut:
Tabel 4.33 Jawaban responden mengenai dampak perilaku konsumtif dan perkembangan entrepreneur muda terhadap ‗pertumbuhan/growth‘ di Kecamatan Medan Selayang.
Pertumbuhan
Alternatif Jawaban Bobot (X) Frekuensi (F) FX %
Selalu 5 20 100 18,4%
Sering 4 64 256 47,1%
Kadang-Kadang 3 57 171 31,5%
Jarang 2 8 16 3%
Tidak Pernah 1 - - -
Jumlah 543 100%
Sumber: Diolah dari data primer, 2016.
Pertumbuhan sebuah usaha sangat ditentukan olehbeberapa faktor, diantaranya adalah kemampuan manajerial, pertumbuhan laba atau profit yang signifikan serta pertumbuhan akumulasi modal pada suatu usaha. Suatu persaingan bisnis, manajemen internal perusahaan dan sebagainya yang terkait dengan permasalahan manajerial dapat menjadi salah satu faktor penyebab pertumbuhan dalam sebuah usaha. Oleh karena itu kemampuan manajerial suatu perusahaan, baik itu usaha skala mikro, menengah, atau makro, tetap harus mempunyai kemampuan manajerial yang baik dan profesional agar bisa mengalami pertumbuhan usaha .kemampuan manajerial ini tidak hanya harus dimiliki oleh entrepreneur, tapi juga seluruh stakeholder dari seluruh bagian yang beroperasi pada sebuah perusahaan, termasuk setiap karyawan atau tenaga kerjanya.
Laba atau profit yang dihasilkan oleh entrepreneur sangat berpengaruh terhadap tingkat pertumbuhan dari usaha entrepreneur itu sendiri. Penelitian Porter (1980) dalam Fijrijanti dan Hartono (2001), merumuskan bahwa perusahaan yang tumbuh merupakan perusahaan yang memiliki pertumbuhan margin, laba dan penjualan yang tinggi.Karenanya pertumbuhan penjualan sangat mempengarhui tingkat pertumbuhan laba. Jika penjualan produksi usaha tidak
menghasilkan laba bersih yang signifikan, mustahil akan terjadi pertumbuhan pada usaha tersebut, bahkan terancam akan mengalami kebangkrutan. Oleh karena itu perlu diusahakan agar semaksimal mungkin usaha para entrepreneur memilikipertumbuhan laba yang signifikan setiap bulan/tahunnya.
Salah satu cara terbaik untuk mengetahui apakah sebuah usaha mengalami pertumbuhan laba yang signifikan adalah dengan melihat neraca keuangan usaha tersebut. Jika usaha yang dikelola entrepreneur sering bahkan selalu memiliki neraca keuangan yang sehat, artinya usaha tersebut tidak mengalami permasalahan dalam peningkatan laba dari penjualan mereka, sehingga usaha mereka dapat membuat pertumbuhan di berbagai sektor usahanya. Namun sebaliknya, jika neraca keuangan sebuah usaha sering tidak sehat, dapat diduga tidak terjadi pertumbuhan laba di sana, bahkan dapat diketahui bahwa perusahaan atau usaha tersebut mengalami defisit laba dan peningkatan hutang, yang jika tidak segera diselesaikan akan menghambat pertumbuhan dari usaha tersebut atau lebih parahnya akan berakibat ‗gulung tikar‘ perusahaan.
Akumulasi modal terjadi jika ada bagian dari pendapatan pada masa sekarang yang ditabung dan kemudian diinvestasikan untuk memperbesar output/produksi pada masa yang akan datang. Dalam arti luas akumulasi modal terdiri dari investasi langsung, yang berupa investasi fisik, baik tanah maupun peralatan fisik yang menunjang kegiatan usaha tersebut, dan juga investasi tidak langsung yaitu human investment (modal manusia).
Akumulasi modal dengan jenis investasi langsung juga tidak jarang dilakukan dengan cara ekspansi atau perluasan pasar. Dalam hal ini entrepreneur dapat diketahui mengalami pertumbuhan usaha yang signifikan ketika
entrepreneur berencana untuk memperluas pasarnya dengan membuka cabang-cabang usaha di wilayah lain. Ekspansi ini dilakukan karena terdapat modal lebih yang didapat dari laba atau keuntungan hasil penjualan usaha.
Untuk melihat lebih detail bagaimana dampak yang terjadi terhadap pembangunan ekonomi pada sektor pertumbuhan/growth, peneliti menganalisisnya dengan lima sub indikator, yaitu bagaimana neraca keuangan pada suatu usaha, profit/keuntungan yang didapat, kontirbusi terhadap peningkatan pertumbuhan ekonomi di lingkungan,pertumbuhan modal fisik, dan rencana untuk menambah/membuka cabang usaha baru.Berikut ini merupakan hasil rata-rata variabel pertumbuhan dari penelitian terhadap 30 entrepreneur muda di kecamatan Medan Selayang.
Tabel 4.34 Nilai rata-rata item indikator ‗pertumbuhan/growth‘.
No Pertumbuhan/Growth Nilai
Skor Kategori
1 Kemampuan manajerial yang baik dan profesional
3,8 Positif/Signifikan 2 Memperoleh laba/profit yang
signifikan tiap bulannya
Terjadi pertumbuhan terhadap modal fisik/aset pada usaha yang dijalankan Jumlah Rataan Skor 3,6 Positif/Signifikan
Sumber: Diolah dari data primer, 2016.
Dari hasil rata-rata di atas dapat dianalisis jika perkembangan entrepreneur muda di Kecamatan Medan Selayang rata-rata memiliki dampak terhadap pembangunan ekonomi pada sektor pertumbuhan usaha di Medan Selayang, hal ini ditandai dengan skor nilai rata-rata 3,6. Artinya, para responden dominan
Dari hasil rata-rata di atas dapat dianalisis jika perkembangan entrepreneur muda di Kecamatan Medan Selayang rata-rata memiliki dampak terhadap pembangunan ekonomi pada sektor pertumbuhan usaha di Medan Selayang, hal ini ditandai dengan skor nilai rata-rata 3,6. Artinya, para responden dominan