• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

4.1.4 Pengujian Validitas dan Reliabilitas

4.1.4.1 Uji Validitas dan Reliabilitas Variabel Perilaku

Hasil uji validitas dan reliabilitas variabel perilaku konsumtif pemuda dengan indicator impulsivebuying, non-rational buying, dan wasteful buying dijelaskan pada Tabel 4.11 berikut ini.

Tabel 4.11. Hasil uji validitas dan reliabilitas variabel perilaku konsumtif pemuda

Variabel Butir

Pertanyaan r-hitung r-tabel Keterangan Koefisien Alpha

Sumber: Hasil Pengolahan Data Primer 2016 a. Uji Validitas

Berdasarkan hasil uji validitas dapat dinyatakan bahwa seluruh item pernyataan/pertanyaan variabel Perilaku Konsumtif Pemuda adalah valid. Hasil ini dikatakan valid karena r- hitung lebih besar dari r- tabel. Skor r- hitung untuk item untuk indikator variabel impulsivebuying(0,504, 0,536, 0,599, 0,504), item non-rational buying (0,541, 0,393, 0,561, 0,402, 0,493, 0,617), dan item wasteful buying (0,,456, 0,387, 0,657, 0,604) adalah lebih besar dari skor r tabel, yaitu 0,311. Artinya skor-skor dari seluruh indikator tersebut berkorelasi signifikan.

Skor r- tabelsendiri didapat dengan DF (Degree of Freedom) = N – 3, dimana ―N‖ adalah jumlah seluruh sampel dan ―3‖ yang merupakan jumlah seluruh indicator variabel. Maka dari itu didapati DF = 27, dan kemudian dicari pada signifikansi 5% (0,05) maka didapatlah r – tabel sebesar 0,311.

b. Reliabilitas

Berdasarkan tampilan output SPSS menunjukkan bahwa variabel tingkat perilaku konsumtif pemuda (ImpulsiveBuying, Non-rational buying, dan Wasteful buying) memiliki nilai Cronbach Alpha masing-masing sebesar 0,742 untuk indikator impulsivebuying, 0,759 untuk indikator non-rational buying dan 0,725 untuk indikator wasteful buyiing. Menurut Nunnaly (1960) jika nilai Cronbach Alpha lebih besar dari 0,6 dapat dikatakan reliabel. Oleh karena itu dari hasil di atas dimana seluruh Cronbach Alpha memiliki nilai >0,6 dapat disimpulkan bahwa variabel tingkat perilaku konsumtif adalah reliabel.

4.1.4.2 Uji Validitas dan Reliabilitas Variabel Perkembangan Entrepreneur Muda Berpengaruh Terhadap Perilaku Konsumtif Pemuda

Hasil uji validitas dan reliabilitas variabel perkembangan entrepreneur muda berpengaruh terhadap perilaku konsumtif dijelaskan pada Tabel 4.12 berikut.

Tabel 4.12. Hasil uji validitas dan reliabilitas variabel perkembangan entrepreneur muda berpengaruh terhadap perilaku konsumtif

Variabel

Butir

Pertanyaan r-hitung r-tabel Keterangan

Cronbach

Sumber: Hasil Pengolahan Data Primer 2016

a. Uji Validitas

Berdasarkan hasil uji validitas yang diolah dengan SPSS dinyatakan bahwa seluruh item untukpernyataanvariabel Perkembangan Entrepreneur Muda Berpengaruh Terhadap Perilaku Konsumtif adalah valid. Hasil ini dikatakan valid

setelah didapat skor r- hitung lebih besar dari r- tabel. Skor r- hitung untuk variabel ini berturut-turut adalah(0,305, 0,536, 0,345, 0,396, 0,445) adalah lebih besar dari skor r tabel, yaitu 0,300. Artinya skor-skor dari seluruh indikator tersebut berkorelasi signifikan.

Skor r- tabel sendiri didapat dengan rumus DF (Degree of Freedom) = N – 1, dimana ―N‖ adalah jumlah seluruh sampel dan ―1‖ yang merupakan jumlah variabel. Setelah itu didapati DF = 29, dan kemudian dicari pada signifikansi 5%

(0,05) maka didapatlah r – tabel sebesar 0,300.

b. Reliabilitas

Berdasarkan tampilan output SPSS menunjukkan bahwa variabel Perkembangan Entrepreneur Muda Berpengaruh Terhadap Perilaku Konsumtif memiliki nilai Cronbach Alpha sebesar 0,825. Menurut Nunnaly (1960) jika nilai Cronbach Alpha lebih besar dari 0,6 dapat dikatakan reliabel. Oleh karena itu dari hasil di atas dimana seluruh Cronbach Alpha memiliki nilai >0,6 dapat disimpulkan bahwa variabel perkembangan entrepreneur muda terhadap perilaku konsumtif pemuda adalah reliabel.

4.1.4.3 Uji Validitas dan Reliabilitas Variabel Perilaku Konsumtif PemudaMendorong Perkembangan Entrepreneur Muda

Hasil analisis uji validitas dan reliabilitas untuk variabel perilaku konsumtif pemuda berpengaruh terhadap perkembangan entrepreneur muda dijelaskan pada Tabel 4.13 sebagai berikut.

Tabel 4.13. Hasil pengujian validitas dan reliabilitas variabel perilaku konsumtif pemuda berpengaruh terhadap perkembangan entrepreneur muda.

Variabel Butir

Pertanyaan r-hitung r-tabel Keterangan Cronbach Alpha

Sumber: Hasil Pengolahan Data Primer 2016

a. Uji Validitas

Berdasarkan hasil uji validitas yang diolah dengan SPSS dinyatakan bahwa seluruh item pernyataan untuk variabel Perilaku Konsumtif Pemuda Berpengaruh Terhadap Perkembangan Entrepreneur Muda adalah valid. Hasil ini dikatakan valid setelah didapat skor r- hitung lebih besar dari r- tabel. Skor r- hitung untuk variabel ini berturut-turut adalah (0,645, 0,617, 0,606, 0,547, 0,500) adalah lebih besar dari skor r tabel, yaitu 0,300. Artinya skor-skor dari seluruh indikator tersebut berkorelasi signifikan.

Skor r- tabel didapat dengan rumus Df (Degree of Freedom) = N – 1, dimana ―N‖ adalah jumlah seluruh sampel dan ―1‖ yang merupakan jumlah variabel. Setelah itu didapati DF = 29, dan kemudian dicari pada signifikansi 5%

(0,05) maka didapatlah r – tabel sebesar 0,300.

b. Reliabilitas

Berdasarkan tampilan output SPSS ditunjukkan bahwa variabel Perilaku Konsumtif Berpengaruh Terhadap Perkembangan Entrepreneur Muda memiliki nilai Cronbach Alpha sebesar 0,805. Menurut Nunnaly (1960) jika nilai Cronbach Alpha lebih besar dari 0,6 dapat dikatakan reliabel. Oleh karena itu dari hasil di atas dimana seluruh Cronbach Alpha memiliki nilai >0,6 dapat disimpulkan bahwa variabel perilaku konsumtif pemuda terhadap perkembangan entrepreneur muda adalah reliabel.

4.1.4.4 Uji Validitas dan Reliabilitas Peran Entrepreneur Muda Terhadap Pembangunan Ekonomi

Hasil analisis uji validitas dan reliabilitas untuk variabel Pembangunan Ekonomi dijelaskan sebagaimana pada Tabel 4.14 berikut.

Tabel 4.14. Hasil pengujian validitas dan reliabilitas variabel peran entrepreneur muda terhadap pembangunan ekonomi

Variabel Butir

Pertanyaan r-hitung r-tabel Keterangan Cronbach Alpha

Sumber: Diolah dari data primer, 2016.

a. Uji Validitas

Berdasarkan hasil uji validitas yang diolah dengan SPSS dinyatakan bahwa seluruh item pernyataan untuk variabel Pembangunan Ekonomi adalah valid. Hasil ini dikatakan valid setelah diketahui skor r- hitung lebih besar dari r- tabel. Skor r- hitung untuk variabel ini berturut-turut (0,477, 0,579, 0,549, 0,501) adalah lebih besar dari skor r tabel, yaitu 0,300. Artinya skor-skor dari seluruh indikator tersebut berkorelasi signifikan.

Skor r- tabel didapat dengan rumus Df (Degree of Freedom) = N – 1, dimana ―N‖ adalah jumlah seluruh sampel dan ―1‖ yang merupakan jumlah variabel. Setelah itu didapati DF = 29, dan kemudian dicari pada signifikansi 5%

(0,05) maka didapatlah r – tabel sebesar 0,300.

b. Reliabilitas

Berdasarkan tampilan output SPSS ditunjukkan bahwa variabel Pembangunan Ekonomi memiliki nilai Cronbach Alpha sebesar 0,734.Menurut Nunnaly (1960) jika nilai Cronbach Alpha lebih besar dari 0,6 dapat dikatakan reliabel. Oleh karena itu dari hasil di atas dimana seluruh Cronbach Alpha memiliki nilai >0,6 dapat disimpulkan bahwa variabel Pembangunan Ekonomi adalah reliabel.

4.1.4.5 Uji Validitas dan Reliabilitas Variabel Dampak Perilaku Konsumtif dan Perkembangan Entrepreneur Muda Terhadap Pembangunan Ekonomi

Hasil analisis uji validitas dan reliabilitas untuk variabel Dampak Perkembangan Entrepreneur Muda Terhadap Pembangunan Ekonomi Kecamatan Medan Selayang dijelaskan sebagaimana pada tabel 4.15 berikut.

Tabel 4.15. Hasil uji validitas dan reliabilitas dampak perilaku konsumtif dan perkembangan entrepreneur muda terhadap pembangunan ekonomi Variabel

Butir

Pertanyaan r-hitung r-tabel Keterangan

Cronbach

Variabel Butir

Pertanyaan r-hitung r-tabel Keterangan Cronbach Alpha

Sumber: Hasil Pengolahan Data Primer 2016 a. Uji Validitas

Berdasarkan hasil uji validitas yang diolah dengan SPSS ditemukan bahwa seluruh item pernyataan untuk variabel Dampak Perkembangan Entrepreneur Muda Terhadap Pembangunan Ekonomi di Kecamatan Medan Selayang adalah valid. Hasil ini dikatakan valid setelah didapat skor r- hitung lebih besar dari r- tabel. Skor r- hitung untuk variabel ini berturut-turut adalah item Output (0,579, 0,662, 0,571, 0,541), item Growth (0,797, 0,583, 0,640, 0,752, 0,541), item Pengangguran (0,765, 0,797, 0487, 0,596) dan item Welfare (0,797, 0,793, 0,483, 0,623, 0,448, 0,521). Seluruh item di atas memiliki r hitung yang lebih besar dari skor r tabel, yaitu 0,300. Artinya skor-skor dari seluruh indikator tersebut berkorelasi signifikan.

Skor r- tabel didapat dengan rumus DF (Degree of Freedom) = N – 4, dimana ―N‖ adalah jumlah seluruh sampel dan ―4‖ yang merupakan jumlah variabel. Setelah itu didapati DF = 26, dan kemudian dicari pada signifikansi 5%

(0,05) one tailed atau uji hipotesis satu arah, maka didapatlah r – tabel sebesar 0,317.

b. Reliabilitas

Berdasarkan tampilan output SPSS menunjukkan bahwa Dampak Perkembangan Entrepreneur Muda Terhadap Pembangunan Ekonomi di Kecamatan Medan Selayang memiliki nilai Cronbach Alpha masing-masing sebesar 0,784 untuk indikator output, 0,854 untuk indikator growth, 0,835 untuk indikator pengangguran, dan 0,838 untuk indikator welfare. Menurut Nunnaly (1960) jika nilai Cronbach Alpha lebih besar dari 0,6 dapat dikatakan reliabel.

Oleh karena itu dari hasil di atas dimana seluruh Cronbach Alpha memiliki nilai

>0,6 dapat disimpulkan bahwa variabel Dampak Perkembangan Entrepreneur Muda Terhadap Pembangunan Ekonomi adalah reliabel.

4.1.5. Tingkat Perilaku Konsumtif Pemuda di Kecamatan Medan Selayang 4.1.5.1. Uji Asumsi Klasik

4.1.5.1.1Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah distribusi sebuah data mengikuti atau mendekati distribusi normal (Situmorang, 2008). Cara untuk mengetahui apakah data penelitian tersebut terdistribusi dengan normal atau tidak dapat diketahui paling tidak dengan 2 cara, yaitu analisis grafik dan analisis statistik.

Uji normalitas menggunakan grafik atau scatterplot, distribusi yang normal akan menghasilkan titik-titik yang membentuk sebuah satu garis lurus diagonal dan ploting data residual akan dbandingkan dengan garis diagonal.

Berikut merupakan grafik scatterplot dari data Tingkat Perilaku Konsumtif Pemuda.

Gambar 4.2 Diagram uji normalitas tingkat perilaku konsumtif pemuda

Hasil tampilan grafik pada gambar 4. menunjukkan bahwa titik-titik membentuk sebuah garis lurus diagonal yang kemudian dapat disimpulkan bahwa data menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonalnya atau dapat juga berarti data residual berdistribusi normal yang hampir sempurna (simetris).

Dalam uji normalitas menggunakan grafik histogram dapat diketahui data berdistribusi normal ditunjukkan dengan historam yang tidak menceng ke kiri atau menceng ke kanan (Situmorang, 2008). Berikut adalah grafik histogram dari data Tingkat Perilaku Konsumtif pada Pemuda di Kecamatan Medan Selayang.

Gambar 4.3 Histogram uji normalitas tingkat perilaku konsumtif pemuda

Berdasarkan grafik histogram di atas terlihat dengan jelas bahwa variabel

‗Perilaku Konsumtif‘ berdistribusi normal, hal ini ditunjukkan dengan distribusi data yang tidak menceng ke kiri ataupun menceng ke kanan.

4.1.5.1.2 Uji Heterokedastisitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan veriance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain.Jika varians tetap maka disebut homoskedastisitas dan jika berbeda maka terjadi problem heteroskedastisitas. Model regresi yang baik yaitu homoskesdatisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas.

Terdapat beberapa cara untuk mendeteksi ada tidaknya heteroskedastisitas salah satunya yaitu dengan melihat scatter plot pada grafik. Heteroskedastisitas terjadi bila variansnya tidak konstan, sehingga seakan-akan ada beberapa

kelompok data yang mempunyai besaran eror yang berbeda-beda sehingga bila diplotkan. Heteroskedastisitas akan terdeteksi bila plot menunjukkan pola yang sistematis. Berikut ini adalah gambar 4. yang menunjukkan uji heterokedastisitas pada data dari Tingkat Perilaku Konsumtif Pada Pemuda di Kecamatan Medan Selayang:

Gambar 4.4 Scatterplot Uji Heterokedastisitas Variabel Tingkat Perilaku Konsumtif Pemuda

Berdasarkan gambar scatterplot di atas, dapat disimpulkan bahwa terdapat titik-titik bulat menyebar tidak beraturan dan tidak membentuk suatu pola yang sistematis. Hal ini berarti tidak ada terjadi heterokedastisitas pada data dan menunjukkan data residual berdistribusi normal.

4.1.5.1.3 Uji Multikoliniearitas

Uji multikolinieritas digunakan untuk menguji apakah pada model regresi yang dipakai ditemukan adanya korelasi antar variabel independen. Jika terjadi korelasi, maka artinya terdapat problem/masalah multikolinieritas. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi antar variabel independen. Untuk mendeteksi ada atau tidaknya gejala multikolinieritas dapat dilakukan dengan memperhatikan nilai matriks korelasi yang dihasilkan pada saat pengolahan data, serta memperhatikan nilai VIF (Variance Inflation Factor) dan Tolerance-nya dengan indikator sebagai berikut

1. VIF > 5, maka diduga memiliki persoalan multikolinieritas 2. VIF < 5, maka tidak terdapat multikolinieritas

3. Tolerance< 0,1 maka diduga terdapat problem multikolinieritas 4. Tolerance> 0,1 maka tidak terdapat multikolinieritas

Berikut merupakan tabel 4.16 yang menjelaskan apakah terjadi multikolinieritas pada variabel tingkat perilaku konsumtif:

Tabel 4.16Hasil uji multikolinieritas variabel perilaku konsumtif pemuda Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized

Coefficients Collinearity Statistics B Std. Error Beta Tolerance VIF 1 (Constant) -1.804 2.031

IB .446 .079 .523 .916 1.091

NRB .365 .072 .473 .915 1.093

WB .303 .084 .320 .988 1.012

a. Dependent Variable: Perilaku Konsumtif

Sumber: Diolah dari data primer, 2016

Berdasarkan hasil output data pada tabel di atas dapat dilihat bahwa seluruh variabel independen memiliki nilai VIF < 5 dan nilai Tolerance> 0,1.

Maka dari nilai-nilai tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi multikolinieritas pada penelitian, yang artinya model regresi yang digunakan adalah baik.

4.1.5.1.4Uji Koefisien Determinasi

Uji koefisien determinasi digunakan untuk menguji goodness-fit dari model regresi, yang dapat dilihat dari nilai R-Square maupun Adjust R Square.

Untuk menjelaskan seberapa besar terdapat hubungan antara variabel impulsive buying, non-rational buying, serta wasteful buying, makayang harus dilihat ialah besaran koefisien determinasi dari Adjust R Square karena memiliki lebih dari dua variabel independen.

Tabel 4.17 Hasil pengujian koefisien determinasi (Uji R2) tingkat perilaku konsumtif pemuda

Model Summaryb

Model R R Square

Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

1 .892a .795 .772 .923

a. Predictors: (Constant), WB, IB, NRB b. Dependent Variable: Perilaku Konsumtif Sumber: Diolah dari data primer, 2016

Berdasarkan hasil perhitungan di atas dapat disimpulkan bahwa besarnya koefisien determinasi ialah 0,772. Angka tersebut mengandung pengertian bahwa pengaruh variabel bebas (independent) terhadap perubahan variabel dependent adalah sebesar 77,2%, sedangkan sisanya 22,8% (100%-77,2%) dipengaruhi oleh variabel-variabel lain di luar dari model. Dari hasil koefisien determinasi tersebut

maka keempat variabel independent yang dipilih oleh peneliti mempunyai hubungan yang ‘erat’ (0,6 – 0,79) dan sudah dapat diterima.

4.1.5.2.1 Pengujian Hipotesis

4.1.5.2.1Hasil Uji Simultan/ANOVA (Uji F)

Uji Simultan (uji F) digunakan untuk mengetahui apakah hipotesis yang diajukan secara serempak/simultan dapat diterima atau ditolak. Berdasarkan kriteria diketahui jika Fhitung < Ftabel, maka Ho diterima dan Ha ditolak, sedangkan jika F hitung > F tabel, maka Ho ditolak dan Ha diterima. Selain itu, jika tingkat signifikansi di bawah atau lebih kecil dari 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima. Pada penelitian ini diketahui Ftabel mempunyai nilai 2,98 yang didapat dari Degree of Freedom (Df) pada derajat kepercayan 95% (0,05).

Sedangkan nilai Fhitung didapat dari hasil uji simultan (uji F) untuk ‗tingkat perilaku konsumtif pemuda‘ sebagai berikut.

Tabel 4.18 Hasil uji simultan (ANOVA) variabel perilaku konsumtif pemuda ANOVAb

Model

Sum of

Squares df Mean Square F Sig.

1 Regression 86.030 3 28.677 33.682 .000a

Residual 22.137 26 .851

Total 108.167 29

a. Predictors: (Constant), WB, IB, NRB a. Dependent Variable: Perilaku Konsumtif

Sumber: Diolah dari data primer, 2016

Seperti ditunjukkan pada tabel 4.1 di atas nilai F tabel diketahui yaitu 33,682 sedangkannilai Fhitung ialah sebesar 2,98, ini berarti Fhitung > Ftabel dan diketahui juga tingkat signifikansi yaitu 0,000 atau < 0,05. Berdasarkan rumusan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima yang artinya

menunjukkan bahwa ―perilaku konsumtif pemuda secara simultan (serempak) berpengaruh positif signifikan terhadap perkembangan entrepreneur muda di Kecamatan Medan Selayang‖.

4.1.5.2.2 Hasil Uji Parsial (Uji T)

Uji parsial (uji T) digunakan untuk menguji apakah hipotesis yang diajukan diterima atau ditolak secara parsial. Berdasarkan kriteria jika Thitung

<Ttabel, maka Ho diterima dan Ha ditolak sedangkan jika Thitung > Ttabel, maka Ho ditolak dan Ha diterima. Selain itu, jika tingkat signifikansi di bawah atau < 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima.

Pada analisis penelitian ini diketahui memiliki Df (Degree of Freedom) dengan tingkat signifikansi 95% atau 0,05 (satu arah) dan juga diketahui memiliki nilai T tabel 1,705. Setelah diketahui angka dari Ttabel, kemudian dibandingkan dengan angka Thitung yang didapat dari pengolahan data melalui SPSS, sebagaimana ditunjukkan pada tabel berikut ini.

Tabel 4.19 Hasil uji T (parsial) variabel perilaku konsumtif pemuda Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t Sig.

B Std. Error Beta

1 (Constant) -1.804 2.031 -.888 .383

IB .446 .079 .523 5.639 .000

NRB .365 .072 .473 5.099 .000

WB .303 .084 .320 3.589 .001

a. Dependent Variable: Perilaku Konsumtif

Sumber: Diolah dari data primer, 2016

Berdasarkan hasil Thitung dan signifikansi di atas maka dapat ditemukan beberapa kesimpulan terkait uji hipotesis penelitian secara parsial, yaitu

1. Variabel‗Impulsive buying‘memiliki nilai signifikansi yaitu 0,000 sehingga < 0,05 dan memiliki nilai Thitung yakni 5,639 atau > 1,705.

Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa variabel impulsive buying didapati ‗berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap tingkat perilaku konsumtifpemuda di Kecamatan Medan Selayang‘.

2. Variabel ‗non-rational buying‘ memiliki nilai signifikansi 0,000 sehingga

< 0,05 dan memiliki nilai Thitung yakni 5,099 atau > 1,705. Maka variabel non-rational buying didapati ‗berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap tingkat perilaku konsumtifpemuda di Kecamatan Medan Selayang‘.

3. Variabel ‗wasteful buying‘ memiliki nilai signifikansi 0,001 sehingga <

0,05 dan memiliki nilai Thitung yakni 3,589 atau > 1,705. Maka variabel

‗wasteful buying didapati berpengaruh secara positif dan signifikan tingkat perilaku konsumtifpemuda di Kecamatan Medan Selayang‘.

4.1.6 Dampak Perilaku Konsumtif dan Perkembangan Entrepreneur Muda Terhadap Pembangunan Ekonomi di Kecamatan Medan Selayang.

4.1.6.1 Uji Asumsi Klasik 4.1.6.1.1Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah distribusi sebuah data mengikuti atau mendekati distribusi normal (Situmorang, 2008). Cara untuk mengetahui apakah data penelitian tersebut terdistribusi dengan normal atau tidak

dapat diketahui paling tidak dengan 2 cara, yaitu analisis grafik dan analisis statistik.

Dalam uji normalitas menggunakan grafik atau scatterplot, distribusi yang normal akan menghasilkan titik-titik yang membentuk sebuah satu garis lurus diagonal dan ploting data residual akan dbandingkan dengan garis diagonal.

Berikut merupakan grafik scatterplot dari data Dampak Perkembangan Entrepreneur Muda Terhadap Pembangunan Ekonomi di Kecamatan Medan Selayang:

Gambar 4.5Diagram uji normalitas dampak perilaku konsumtif dan perkembangan entreprenuer muda terhadap pembangunan ekonomi

Hasil tampilan grafik pada gambar 4.5 menunjukkan titik-titik membentuk sebuah garis lurus diagonal yang kemudian dapat disimpulkan bahwa data menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonalnya atau

dapat juga berarti data residual berdistribusi normal yang hampir sempurna (simetris).

Dalam uji normalitas menggunakan grafik histogram dapat diketahui data berdistribusi normal ditunjukkan dengan historam yang tidak menceng ke kiri atau menceng ke kanan (Situmorang, 2008). Berikut adalah grafik histogram dari data Dampak Perkembangan Entrepreneur Muda Terhadap Pembangunan Ekonomi di Kecamatan Medan Selayang:

Gambar 4.6Histogram uji normalitas dampak perilaku konsumtif dan perkembangan entreprenuer muda terhadap pembangunan ekonomi

Berdasarkan grafik histogram di atas terlihat dengan jelas bahwa variabel

‗Pembangunan Ekonomi‘ berdistribusi normal, hal ini ditunjukkan dengan distribusi data yang tidak menceng ke kiri ataupun menceng ke kanan.

4.1.6.1.2Uji Heterokedastisitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan veriance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain.Jika variance tetap maka disebut homoskedastisitas dan jika berbeda maka terjadi problem heteroskedastisitas. Model regresi yang baik yaitu homoskesdatisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas.

Terdapat beberapa cara untuk mendeteksi ada tidaknya heteroskedastisitas salah satunya yaitu dengan melihat scatter plot pada grafik. Heteroskedastisitas terjadi bila variansnya tidak konstan, sehingga seakan-akan ada beberapa kelompok data yang mempunyai besaran eror yang berbeda-beda sehingga bila diplotkan. Heterokedastisitas akan terdeteksi bila plot menunjukkan pola yang sistematis. Berikut ini adalah gambar 4. yang menunjukkan uji heterokedastisitas pada data dari Dampak Perkembangan Entrepreneur Muda Terhadap Pembangunan Ekonomi di Kecamatan Medan Selayang.

Gambar 4.7 Scatterplot uji heterokedastisitas dampak perilaku konsumtif dan perkembangan entreprenuer muda terhadap pembangunan ekonomi

Berdasarkan gambar scatterplot di atas, diketahui terdapat titik-titik bulat yang menyebar tidak beraturan dan tidak membentuk suatu pola yang sistematis.

Hal ini berarti tidak ada terjadi heterokedastisitas pada data dan menunjukkan data residual berdistribusi normal.

4.1.6.1.3Uji Mulitikolinearitas

Uji multikolinieritas digunakan untuk menguji apakah pada model regresi yang dipakai ditemukan adanya korelasi antar variabel independen. Jika terjadi korelasi, maka artinya terdapat problem/masalah multikolinieritas. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi antar variabel independen. Untuk mendeteksi ada atau tidaknya gejala multikolinieritas dapat dilakukan dengan memperhatikan nilai matriks korelasi yang dihasilkan pada saat pengolahan data,

serta memperhatikan nilai VIF (Variance Inflation Factor) dan Tolerance-nya dengan indikator sebagai berikut

1. VIF > 5, maka diduga memiliki persoalan multikolinieritas 2. VIF < 5, maka tidak terdapat multikolinieritas

3. Tolerance< 0,1 maka diduga terdapat problem multikolinieritas 4. Tolerance> 0,1 maka tidak terdapat multikolinieritas

Berikut merupakan tabel 4.20 yang menjelaskan multikolinieritas dari variabel pembangunan ekonomi:

Tabel 4.20 Hasil uji multikolinieritas dampak perilaku konsumtif dan perkembangan entrepreneur muda terhadap pembangunan ekonomi

Coefficientsa

a. Dependent Variable: Pembangunan Ekonomi

Sumber: Diolah dari data primer, 2016

Berdasarkan hasil output data pada tabel di atas dapat dilihat bahwa seluruh variabel independen memiliki nilai VIF < 5 dan nilai Tolerance> 0,1.

Maka dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi multikolinieritas yang artinya model regresi yang digunakan adalah baik.

4.1.6.1.4Uji Koefisien Determinasi

Uji koefisien determinasi digunakan untuk menguji goodness-fit dari model regresi yang dapat dilihat dari nilai R-Square maupun Adjust R Square.

Untuk menjelaskan seberapa besar terdapat hubungan antara variabel produksi, pertumbuhan, tenaga kerja, dan kesejahteraan maka dapat dilihat melalui besaran koefisien determinasi dari Adjust R Square, karena memiliki lebih dari dua variabel independen.

Tabel 4.21 Hasil pengujian koefisien determinasi (Uji R2) dampak perilaku konsumtif dan perkembangan entrepreneur muda terhadap pembangunan ekonomi

Model Summary

Model R R Square

Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

1 .921a .849 .825 .819

a. Predictors: (Constant), IW, IO, IG, IMP b. Dependent Variable : Pembangunan Ekonomi

Sumber: Diolah dari data primer, 2016

Berdasarkan hasil perhitungan di atas dapat disimpulkan bahwa besarnya koefisien determinasi ialah 0,825. Angka tersebut mengandung pengertian bahwa pengaruh variabel bebas (independent) terhadap perubahan variabel dependent adalah sebesar 82,5%, sedangkan sisanya 17,5% (100%-82,5%) dipengaruhi oleh variabel-variabel lain di luar dari model. Dari hasil koefisien determinasi tersebut maka keempat variabel independen yang dipilih oleh peneliti mempunyai hubungan yang ‘sangat erat’ (0,8 – 0,99) dan sudah dapat diterima.

4.1.6.2 Pengujian Hipotesis

4.1.6.2.1Hasil Uji Simultan/ANOVA (Uji F)

Uji Simultan (uji F) digunakkan untuk mengetahui apakah hipotesis yang diajukan secara serempak/simultan dapat diterima atau ditolak. Berdasarkan kriteria diketahui jika Fhitung < Ftabel, maka Ho diterima dan Ha ditolak,

sedangkan jika F hitung > F tabel, maka Ho ditolak dan Ha diterima. Selain itu, jika tingkat signifikansi di bawah atau lebih kecil dari 0,05 maka Ho ditolak dan

sedangkan jika F hitung > F tabel, maka Ho ditolak dan Ha diterima. Selain itu, jika tingkat signifikansi di bawah atau lebih kecil dari 0,05 maka Ho ditolak dan