BAB II PERNIKAHAN ANAK DI INDIA
C. Dampak Pernikahan Anak di India
Pernikahan anak memiliki dampak yang negatif bagi sang anak sendiri, baik dari sisi psikologi, kesehatan, dan pendidikan. Secara psikologis, anak yang menikah di usia dini akan mengalami trauma berkepanjangan, selain itu akan mengalami krisis percaya diri. Anak juga secara psikologis belum siap untuk bertanggung jawab dan berperan sebagai isteri atau ibu, sehingga jelas bahwa
35International Center for Research on Women, “Too Young to Wed”, 2003, hal: 6. http://www.icrw.org/publications/too-young-wed-0. Diakses pada 22 Juni 2014 36Ibid, hal: 6
37OHCHR, “Child Marriage in India: An insight into Law and Policy”, December 2013, hal: 13. http://www.ohchr.org/documents/issues/women/wrgs/forcedmarriage/ngo/theredelephantfoundatio n.pdf. Diakses pada: 20 Juni 2014.
pernikahan anak menyebabkan imbas negatif terhadap kondisi psikologis serta
perkembangan kepribadian mereka.38
Disisi kesehatan, Penting untuk diketahui bahwa kehamilan pada usia kurang dari 17 tahun meningkatkan risiko komplikasi medis, baik pada ibu maupun pada anak. Kehamilan di usia yang sangat muda ini ternyata berkorelasi dengan angka kematian dan kesakitan ibu. Faktanya hampir setengah (45%) anak perempuan di India meninggal di bawah usia 20 tahun dan 15% diantaranya meninggal pada saat kehamilan dan proses persalinan di usia yang sangat muda. Di India, anak perempuan berusia 10-14 tahun berisiko lima kali lipat meninggal saat hamil maupun bersalin dibandingkan kelompok usia 20-24 tahun, sementara risiko ini meningkat dua kali lipat pada kelompok usia 15-19 tahun. Anatomi tubuh anak belum siap untuk proses mengandung maupun melahirkan, sehingga
dapat terjadi komplikasi berupa obstructed labour serta obstetric fistula.39
Data dari UNFPA India tahun 2006 menemukan bahwa dari 957 penderita obstetric fistula di India 78% mengalami persalinan diusia 15-21 tahun atau
menikah di usia kurang dari 15 tahun dan penderita obstetric fistula sering
ditemukan di daerah Uttar Pradesh, Punjab, Assam, Orissa, Bihar, Jharkhand,
Madhya Pradesh dan Rajasthan.40 berdasarkan data NFHS-3, dari 50.000 hingga
38UNFPA, “Child Marriage Fact Sheet”, 2005.
http://www.unfpa.org/swp/2005/presskit/factsheets/facts_child_marriage.htm. Diakses pada 23 Juni 2014
39USAID, “Preventing Child Marriage: Protecting Girls Health”, 2006. http://pdf.usaid.gov/pdf_docs/Pdaci387.pdf. Diakses pada 23 Juni 2014
40UNFPA India, “A Study to identify the occurrence of Obstetric Fistula in India (Report)”. New Delhi. 2006.
http://www.endfistula.org/webdav/site/endfistula/shared/documents/needs%20assessments/India% 20OF%20Needs%20Assessment.pdf. Diakses pada Jum’at 14 November 2014
100.000 anak perempuan yang melahirkan per tahunnya tercatat 22% penderita obstetric fistula terdapat di Rajasthan, Punjab, dan Uttar Pardesh, 20% terdapat di
Orrisa, Bihar dan Jharkhand, 18% terdapat di Orissa, 18% di Madhya Pradesh.41
Fistula merupakan kerusakan pada organ kewanitaan yang menyebabkan kebocoran urin atau feses ke dalam vagina. Wanita berusia kurang dari 20 tahun
sangat rentan mengalami obstetric fistula. Obstetric fistula ini dapat terjadi pula
akibat hubungan seksual di usia dini. 42
Mudanya usia saat melakukan hubungan seksual pertamakali juga meningkatkan risiko penyakit menular seksual dan penularan infeksi HIV. Banyak anak perempuan yang menikah dini yang berhenti sekolah saat mereka terikat dalam pernikahan, mereka seringkali tidak memahami dasar kesehatan reproduksi dan tidak memiliki kemampuan untuk bernegosiasi dalam menggunakan alat
kontrasepsi, sehingga dengan mudah mereka terinfeksi HIV.43 Berdasarkan data
kementerian kesehatan India tahun 2009-2011, tercatat sekitar 116.000 perempuan
yang terjangkit HIV/AIDS, 14.500 diantaranya adalah anak-anak.44 Tidak hanya
itu, pernikahan anak ini juga berdampak pada bayi yang dilahirkan, berdasarkan
data dari The State of the Worlds Children Report (SOWC) India 2007, sekitar
41 Report, The National Family Health Survey (NFHS): Database that strengthen India’s demographic and health policies and programs.
http://www.rchiips.org/nfhs/urban_health_report_for_website_18sep09.pdf. Diakses pada 23 Desember 2014
42UNFPA India, “A Study to identify the occurrence of Obstetric Fistula in India (Report)”. New Delhi. 2006.
http://www.endfistula.org/webdav/site/endfistula/shared/documents/needs%20assessments/India% 20OF%20Needs%20Assessment.pdf. Diakses pada Jum’at 14 November 2014
43IPPF, “Ending Child Marriage: A Guide for Global Policy Action”, 2006.
http://www.unfpa.org/webdav/site/global/shared/documents/publications/2006/endchildmarriage.p df. Diakses pada 25 Juni 2014
44 Government of India, Press Information Bureau.
1000 bayi yang lahir per tahunnya 19% bayi yang lahir dari ibu berusia di bawah
17 tahun adalah prematur.45
Jika dilihat dari sisi pendidikan, dengan adanya pernikahan anak ini maka anak yang dinikahkan mau tidak mau harus putus sekolah dan mengurus pekerjaan rumah, sehingga anak tidak memiliki kesempatan untuk mengenyam pendidikan. Di daerah seperti Bihar, Mizoram, Rajasthan dan Uttar Pradesh terdapat lebih dari 60% anak perempuan yang keluar dari sekolah sebelum menyelesaikan pendidikan dasar mereka dan kemudian menikah diusia kurang
dari 18 tahun.46 Semakin dini anak perempuan menikah maka semakin rendah
pendidikannya, sehingga menimbulkan kemungkinan terjadinya kekerasan dalam rumah tangga. pelecehan seksual, dan ketergantungan ekonomi. Akibatnya, terjadilah ketidaksetaraan di rumah tangga serta menimbulkan diskriminasi dan
rendahnya status seorang perempuan.47
Biasanya anak yang menghadapi kekerasan dalam rumah tangga ini juga cenderung tidak melakukan perlawanan dan mereka biasanya dikhususkan untuk pekerjaan rumah tangga dengan pengetahuan yang terbatas. Hal itu yang menyebabkan anak perempuan (istri) tidak memiliki kemampuan untuk bernegosiasi dan pihak laki-laki (suami) cenderung mengontrol dan membatasi akses perempuan terhadap kehidupannya. Dikarenakan wanita atau anak
45CSR India. “A Study on” Child Marriage in India: Situational Analysis in Three States”. http://www.csrindia.org/images/download/case-studies/Child-Marriage-Report.pdf. Diunduh pada Jumat, 14 November 2014
46 UNICEF, Statistics of India (2004), http://www.unicef.org/infobycountry/india_statistics.html. Diakses pada 15 November 2014
47UNICEF India, “Child Marriage: Fact Sheet”, November 2011. Hal 1.
http://www.unicef.org/india/Child_Marriage_Fact_Sheet_Nov2011_final.pdf. Diakses pada 26 Juni 2014
perempuan tidak memiliki daya dan keterampilan untuk negosiasi, maka sering sekali mereka dipaksa untuk menetap dirumah dan melakukan segala bentuk pekerjaan rumah tangga dan mengurus anak (bagi yang memiliki anak), dan tidak bisa bersosialisasi dengan baik sebagaimana biasanya seorang ibu rumah tangga. Meskipun ada yang berbeda pendapat, tetapi pada kenyataannya pernikahan anak
ini juga termasuk dalam perdangangan anak.48 Tidak menutup kemungkinan
dengan adanya pernikahan anak maka akan menimbulkan sifat pemaksaan, kekerasan, penipuan, perbudakan dan bahkan sampai anak tersebut akan di perdagangkan dan digunakan dalam prostitusi.
Pada tahun 2006, tercatat 76% kasus perdagangan anak yang terjadi di daerah Tamil Nadu, Karnataka, Andhra Pradesh dan Kerala karena dinikahkan secara
dini,49 Dengan menikahi seorang anak maka anak ini akan digunakan untuk
mengambil keuntungan dari anak (istri) untuk dijadikan tanaga seks anak
(pelacuran anak) atau perburuhan.50 Anak-anak perempuan di Bengal Barat, India
menjadi korban perdagangan anak yang terjadi akibat pernikahan anak, anak-anak perempuan di Bengal dikirim ke daerah kecil seperti kashmir. Mereka dijadikan
pekerja seks dan dipaksa menikah dengan pria yang usianya jauh lebih tua.51
48Shulman, Juliana, “Child Marriage In India”. [email protected]. Diakses pada 27 Juni 2014
49 2006, National Crime Record Bureau, Govt of India, New Delhi. http://ncrb.gov.in/. Diakses pada 26 Desember 2014
50USAID, “Ending Child Marriage and Meeting the Needs of Married Children: the USAID Vision for Action”, Oktober 2012, hal: 3.
http://www.usaid.gov/sites/default/files/documents/2155/Child_Marriage_Vision_Factsheet.pdf. Diakses pada 27 Juni 2014
Di Selatan India Perdagangan dan pelacuran anak ini juga didukung
dengan adanya budaya “Devadasi”. Sebagian besar perempuan yang mengalami
devadasi ini mencari nafkah mereka dengan menyediakan layanan seksual kepada
anggota kuil dan masyarakat yang datang ke kuil.52 Pada tahun 2006 hingga 2010,
tercatat hampir 25.000 anak perempuan yang menjadi korban devadasi terdapat di daerah Karnataka, Bengal, pada tahun 2007, terdapat 17.000 Jogini di Andhra
Pradesh, Maharashtra, dan Orissa.53 Sistem Devadasi adalah praktek keagamaan
yang masih dianut dibeberapa daerah di India selatan, dimana orang tua menikahi anak perempuannya dengan Tuhan atau roh-roh leluhur mereka dikuil tempat mereka berdoa untuk dipersembahkan kepada dewa atau roh leluhur mereka, kemudian sang anak akan menetap di kuil tempat mereka menikah. Biasanya hal ini terjadi sebelum anak perempuan mereka mencapai masa pubertas. Gadis yang
mengalami devadasi disebut sebagai Jogini dan Jogini dilarang melakukan
pernikahan yang sesungguhnya.54
Dampak terakhir dari kasus pernikahan anak di India ini adalah terjadinya kasus perceraian dan timbulnya status janda pada anak. Pada tahun 2007, India memiliki 7.000 kasus perceraian dari pernikahan anak yang tersebar di daerah Rajasthan, Bengal Barat, Bihar, Jharkhand, Uttar Pardesh, dan Madhya Pardesh. Biasanya kasus perceraian ini banyak terjadi di daerah pedesaan India
52 Vanini, Sakti. “Trafficking and HIV, Maharashtra” Trafficking Report. Rajastan 2005. Hal 19 http://shaktivahini.org/wp-content/uploads/2012/03/MharastraTAHA.pdf. Diunduh pada 18 November 2014.
53Menon, Ramesh. “Devadasi in a role play performance on child marriage”. 26 April 2011 http://www.wunrn.com/news/2011/05_07/05_07_07/051407_india.htm Diunduh pada: 22 Desember 2014
54 Vanini, Sakti. “Trafficking and HIV, Maharashtra” Trafficking Report. Rajastan 2005. Hal 19 http://shaktivahini.org/wp-content/uploads/2012/03/MharastraTAHA.pdf. Diunduh pada 18 November 2014.
dibandingkan dengan daerah perkotaan.55 Daerah yang memiliki anak perempuan
berstatus janda terbanyak di India adalah Bengal Barat yakni 74%.56 Janda-janda
kecil ini biasanya mengalami diskriminasi yang menyebabkan timbulnya rasa minder dan krisis kepercayaan diri sehingga membatasi ruang lingkup dirinya sendiri.
Pernikahan semestinya dilakukan atas persetujuan penuh dari kedua pasangan. Namun kenyataan yang dihadapi dalam pernikahan anak di India, persetujuan menikah seringkali merupakan paksaan atau tekanan orang tua, sehingga anak setuju untuk menikah dan seringkali merupakan bentuk bakti dan hormat pada orang tua. Orang tua beranggapan bahwa menikahkan anak mereka berarti suatu bentuk perlindungan terhadap sang anak, namun hal ini justru menyebabkan hilangnya kesempatan anak untuk berkembang, tumbuh sehat, dan
kehilangan kebebasan dalam memilih.57
Berdasarkan berbagai dampak yang ditimbulkan dari pernikahan anak baik dampak psikologis, kesehatan dan pendidikan yang telah dijelaskan sebelumnya, maka praktek pernikahan anak seharusnya dihindari dan pemerintah perlu melakukan tindakan untuk mengendalikan angka pernikahan anak di India.
55Rohit Parihar, “Wedowed Children in India”, 31 Oktober 2008.
http://indiatoday.intoday.in/story/Widowed+children/1/18934.html. Diakses pada 26Desember 2014
56Suswati Basu, “India’s City of Widow”. Rabu, 30 Juni 2010.
http://www.theguardian.com/commentisfree/2010/jun/30/india-city-widows-discrimination. Diakses pada 26 Desember 2014
57UNPFA, “Child marriage fact sheet”, 2005.
http://www.unfpa.org/swp/2005/presskit/factsheets/facts_child_marriage.htm. Diakses pada 29 Juni 2014
D. Kebijakan Pemerintah India dalam Menangani kasus Pernikahan Anak