• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PERNIKAHAN ANAK DI INDIA

B. Faktor Penyebab terjadinya Pernikahan Anak di India

Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab terjadinya kasus pernikahan anak di India, diantaranya: Adat dan budaya tradisional India, persepsi masyarakat mengenai keselamatan anak, faktor pendidikan dan faktor ekonomi. Jika dilihat dari adat dan budaya tradisional India, pernikahan anak di India dilandasi

sejumlah motivasi diantaranya: pernikahan anak dipercaya mampu

mempromosikan kasta dalam kehidupan sehari-hari apabila kedua pasangan menikah dengan kasta yang berbeda, dapat meningkatkan kesuburan dan

6 UNICEF, Child Marriage in India – An analysis of available data, (2012), India. http://www.unicef.in/documents/childmarriage.pdf. Diakses pada 16 Juni 2014

memperbanyak garis keturunan dan pernikahan anak ini dapat membantu

hubungan ekonomi, politik dan sosial diantara keluarga mereka.7 Saat ini di India

khususnya di daerah yang memiliki kasus pernikahan anak cukup besar seperti Bihar, Rajashtan, Jharkhand, Uttar Pardesh, dan Madya Pardesh, pernikahan anak sudah menjadi tradisi dan telah disalahgunakan oleh sebagian besar penduduk India karena tidak jarang dijadikan pekerja anak maupun diperdagangkan. Pernikahan anak di bawah umur menjadikan, status perempuan di India dipandang rendah oleh kaum laki-laki. Anak perempuan yang belum menikah dianggap sebagai harga terpenting bagi kehormatan keluarga. Pernikahan anak dipercaya sebagai cara untuk memastikan kesucian dan keperawanan pengantin wanita, sehingga para orang tua menikahkan anak perempuannya untuk menjaga

kehormatan keluarganya.8

Selain itu, orang tua di India masih percaya bahwa jika mereka tidak menikahkan anak mereka sebelum masa pubertas, maka mereka akan berdosa. Jika anak perempuan mereka belum menikah hingga anak perempuan mereka mendapat menstruasi maka dosa mereka sama seperti mereka membunuh orang. Dengan adanya kepercayaan tersebut, maka orang tua memilih untuk menikahi

anak mereka sedini mungkin dengan tujuan menghindari dosa9

7Basham, A. L, “The Wonder That Was India: A Survey of the History and Culture of the Indian Sub-Continent before the coming of the Muslims”, Macmillan Publishers. 3rd Edition, 2001, New Delhi, hal:165

8UNICEF India. “Child Marriage: Fact Sheet”. November 2011. Hal 2.

http://www.unicef.org/india/Child_Marriage_Fact_Sheet_Nov2011_final.pdf. diakses pada 17 Juni 2014

9Basham, A. L. “The Wonder That Was India: A Survey of the History and Culture of the Indian Sub-Continent before the coming of the Muslims”.Macmillan Publishers. 3rd Edition. New Delhi, 2001. Hal:159

Di Bihar dan Rajashtan, masih banyak orang tua yang berfikir bahwa anak perempuan itu tidak diharuskan untuk bersekolah, karena anak perempuan akan menjadi seorang istri dan mematuhi seorang suami dan memiliki anak perempuan akan melindungi atau membawa berkah bagi keluarga, sehingga mereka menganggap untuk menikahi anak perempuan mereka dengan cepat tanpa melihat

resiko yang ada.10

Saat ini masih ada praktek-praktek pelanggaran hak wanita yang masih terjadi, terutama dikarenakan tradisi dan budaya masyarakat India yang sudah berakar sejak lama dan yang masih berlangsung sampai sekarang. Salah satunya

adalah budaya “Bride Price” atau Dowry, yang menimbulkan efek negatif

terhadap kondisi kehidupan wanita India.11

Dowry adalah pemberian yang dilakukan oleh pihak pengantin wanita

kepada pihak pengantin laki-laki ketika menikahkan anaknya, dowry bisa berupa

uang tunai, barang-barang berharga seperti perhiasan, alat elektronik, furniture

dan lain sebagainya, tergantung permintaan dari pihak laki-laki.12 Terkadang

semakin tinggi status sosial dan pendidikan dari calon pengantin laki-laki, maka

akan semakin tinggi pula jumlah dowry yang diminta.

Menurut hasil studi yang dilakukan oleh Sonia Dalmia dan Pareena G.

Lawrence, Dowry merupakan hadiah dan tanda bukti kasih sayang dari orang tua

10 Ministry of Women and Child Development Government of Orissa, “State Plan of Action of Childre,. 2009-2012”. http://www.wcdorissa.gov.in/download/StatePlanAction.pdf. Diakses pada 17 Juni 2014

11Basham, A. L, “The Wonder That Was India: A Survey of the History and Culture of the Indian Sub-Continent before the coming of the Muslims”.Macmillan Publishers. 3rd Edition, 2001, New Delhi, hal: 165-168

terhadap anak perempuannya ketika memasuki pernikahan. Hadiah itu diberikan kepada pihak laki-laki, sehingga anak perempuan mereka bisa sepenuhnya menjadi anggota keluarga laki-laki dan menikmati kekayaan mereka sendiri

melalui dowry tersebut. Sehingga dowry ini dianggap sebagai kompensasi, karena

anak perempuan tidak mendapatkan hak waris seperti anak laki-laki.13 Akan

tetapi, pandangan tersebut berubah dengan didukung adanya hubungan yang kuat

antara status hirarki dan jumlah dowry dari keluarga wanita kepada pihak

laki-laki, pengantin laki-laki yang berasal dari kasta yang lebih tinggi akan menerima

jumlah dowry yang tinggi pula dibanding dowry bagi pengantin laki-laki dari

kasta yang lebih rendah.14 Seringkali permintaan keluarga pengantin laki-laki ini

tidak berhenti saat awal pernikahan, namun terus berlanjut ketika anak-anak mereka sudah menikah. Pihak perempuan diharuskan memberikan apa yang diminta oleh pihak keluarga laki-laki jika ingin anak mereka diperlakukan dengan

baik oleh keluarga pihak laki-laki.15

Budaya dowry ini telah menyebar hampir ke seluruh lapisan masyarakat

India. Jika pada empat abad yang lalu sistem dowry hanya dijalankan di kalangan

tertentu seperti umat Hindu yaitu pada kelompok kasta kelas atas. Saat ini, tradisi dowry telah menyebar ke dalam kalangan kelas menengah dan bawah masyarakat Hindu, Kristen dan Muslim di India. Di India bagian utara, masyarakat muslim

13Sonia Dalmia dan Pareena G. Lawrence. “The Institutions of Dowry in India : Why it Continues to Prevail. The Jounal of Developing Areas”. Vol.38 No.2. 2005.

14Sonia Dalmia dan Pareena G. Lawrence. “The Institutions of Dowry in India : Why it Continues to Prevai”l. The Jounal of Developing Areas. Vol.38 No.2. 2005.

mulai mempraktekkan dowry sejak puluhan tahun yang lalu.16 Karena adanya

sistem dowry inilah anak perempuan dianggap sebagai beban bagi keluarga,

mereka akan membebani keluarga secara finansial di kemudian hari. Dengan

adanya sistem dowry ini para orang tua memilih untuk menikahkan putri mereka

sedini mungkin agar terbebas dari sistem dowry.17

Selain budaya dowry, sejak usia dini, anak-anak diajari tentang peran dan

kedudukan mereka dalam masyarakat, dimana kedudukan laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan dan peran perempuan hanya sebagai alat reproduksi atau penghasil keturunan. Tradisi ini diperkuat dengan adanya sistem kasta dan kepercayaan kepada dewa-dewa dan roh yang dianggap berperan penting dan tak terpisahkan dari kehidupan mereka. Di India memiliki empat sistem kasta yaitu Brahamana yang terdiri golongan tertinggi seperti para ulama atau

pendeta-pendeta, Kesatria yang terdiri dari golongan bangsawan dan tentara, Waisha yang

terdiri dari golongan pedagang dan petani dan Sudra yang terdiri golongan biasa

atau rakyat jelata.18

Setiap kasta di India mengajarkan bahwa hanya pria lah yang lebih bernilai dan dominan di keluarga India. Mereka bertindak sebagai kepala rumah

tangga, pencari nafkah dan para pengambil keputusan.19 Selain mengajarkan

16Basham, A. L, “The Wonder That Was India: A Survey of the History and Culture of the Indian Sub-Continent before the coming of the Muslims”.Macmillan Publishers. 3rd Edition, 2001, New Delhi, hal:165-168

17ibid

18 Basham, A. L, “The Wonder That Was India: A Survey of the History and Culture of the Indian Sub-Continent before the coming of the Muslims”.Macmillan Publishers. 3rd Edition, 2001, New Delhi, hal:165-168

19Bidner, Chris and Eswaran, Mukesh. “A Gender-Based Theory of the Origin of the Caste System of India”. New Delhi. 2 Des 2012. Hal: 5.

mengenai kedudukan pria, sistem kasta juga memiliki aturan lain seperti pendidikan hingga usia pasangan yang harus mereka nikahkan.

Dari keempat kasta hanya tiga yang masih memiliki peraturan yang masih

aktif hingga sekarang, yakni: Brahmana memiliki peraturan bahwa anak-anak

wajib mendapatkan pendidikan selama 8 tahun, Kesatria memiliki peraturan

bahwa anak-anak wajib mendapatkan pendidikan selama 11 tahun dan Waisha

memiliki peraturan bahwa anak-anak wajib mendapatkan pendidikan selama 12 tahun. Setelah mereka mendapatkan pendidikan sesuai dengan aturan kasta mereka, mereka diwajibkan untuk melanjutkan pendidikan lebih dalam mengenai kasta yang mereka anut selama 12 tahun. Setelah mereka menyelesaikan pendidikan kasta kemudian mereka harus menikah dengan pasangan yang

memiliki kasta yang sama dan memiliki perbedaan usia 12 tahun lebih muda.20

Hal tersebut yang mendorong para orang tua menikahkan anak perempuan mereka dengan seorang laki-laki yang usianya jauh lebih dewasa dan memiliki kesamaan kasta dengan anak perempuan mereka. Kasta sendiri memiliki pengaruh pada

sistem dowry, karena semakin besar kelas kasta semakin tinggi pula jumlah dowry

yang harus diberikan.21

Persepsi masyarakat terhadap keselamatan anak merupakan faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya pernikahan anak di bawah umur. Hasil studi

http://www.isid.ac.in/~pu/conference/dec_12_conf/Papers/MukeshEswaran.pdf. Diakses pada 19 November 204.

20Basham, A. L, “The Wonder That Was India: A Survey of the History and Culture of the Indian Sub-Continent before the coming of the Muslims”.Macmillan Publishers. 3rd Edition, 2001, New Delhi, hal:165-168

ICRW tahun 2011 menyatakan banyak orang tua di India sering merasa khawatir tentang keselamatan dan keamanan anak perempuan mereka dari tindakan pelecehan atau kekerasan seksual. Dengan menikahkan anak perempuan mereka

diusia dini mereka merasa dapat menjaga virginitas anak perempuan mereka.22

Pernikahan anak juga merupakan salah satu cara untuk melestarikan kekayaan dalam keluarga antar kelas sosial-ekonomi yang lebih tinggi. Beberapa keluarga yang sangat kaya, mempunyai kecenderungan dan juga terdorong oleh kebutuhan untuk melindungi kehormatan anak perempuan mereka dan nama keluarga mereka, dan dengan status kekayaan keluarga. Hal ini membuat mereka menikahi anak perempuan mereka ke keluarga yang memiliki tingkat

perekenomian yang setara.23

Adanya anggapan bahwa perempuan hanya dianggap sebagai pekerja yang sifatnya reproduktif sedangkan laki-laki merupakan pekerja yang sifatnya produktif. Sehingga timbul pembagaian pekerjaan dimana perempuan sifatnya lebih diam dirumah atau mengontrol kebutuhan rumah tangga, sedangkan laki-laki sifatnya bekerja diluar dan mencari uang. Hal ini menjadi salah satu penyebab

timbulnya ketidaksetaraan gender di India.24 Karena ketidaksetaraan gender ini

maka perempuan tidak memiliki hak atau tidak bisa mengambil keputusan dan

22USAID, “Ending Child Marriage and Meeting the Needs of Married Children: the USAID Vision for Action”, Oktober 2012, hal: 3.

http://www.usaid.gov/sites/default/files/documents/2155/Child_Marriage_Vision_Factsheet.pdf. Diakses pada 19 Juni 2014

23OHCHR, “Child Marriage in India: An insight into Law and Policy”, December 2013. hal: 13. http://www.ohchr.org/documents/issues/women/wrgs/forcedmarriage/ngo/theredelephantfoundatio n.pdf. Diakses pada: 13 Juni 2014.

24Solidarity for the Children of SAARC, “Child Marriage in South Asia: Realities, Responses and The Way Forward”, 2013. hal: 5.

https://www.icrw.org/files/publications/Child_marriage_paper%20in%20South%20Asia.2013.pdf. Diakses pada 19 Juni 2014

tidak bisa bernegosiasi mengenai pendidikan, pekerjaan, masalah keluarga, dan masalah seksualitas sehingga anak perempuan cenderung hanya menerima apa yang diberikan kepadanya. Hal tersebut yang mendorong orang tua untuk menikahkan anak perempuan mereka saat usia mereka masih sangat dini. Untuk kasus pernikahan anak laki-laki tidak sebanyak pernikahan anak perempuan dikarenakan anak laki-laki tidak terbebani oleh sistem dowry dan anak laki-laki tidak memiliki resiko yang dimiliki oleh perempuan. Di India, memiliki anak perempuan dianggap sebagai beban bagi keluarga, karena memiliki anak perempuan akan menghabiskan dana yang cukup besar untuk kebutuhan hidupnya

termasuk membayar dowry, sehingga tanpa berfikir panjang mereka menikahkan

putrinya tanpa melihat status dan usia.25

Kurangnya pendidikan juga menjadi faktor yang melatar belakangi pernikahan anak di India. Rata-rata, anak yang memiliki pendidikan yang cukup

tinggi biasanya menikah diusia lanjut atau diatas 18 tahun.26 Berdasarkan data

dari National Family Health Survey (NFHS India), 40% anak perempuan yang

memiliki pendidikan tinggi di India menikah diusia 20-24 tahun.27 Hal ini

25Davis, A., Postles, C. and Rosa, G,. “A girl’s Right to Say No to Marriage: Working to end Child Marriage and Keep Girls in School”, Plan International, 2013.

http://www.planbelgie.be/sites/default/files/user_uploads/a_girls_right_to_learn_without_fear._wo rking_to_end_gender-based_violence_at_school_plan_international_-_engelstalig.pdf. Diakses pada 21 Juni 2014

26Solidarity for the Children of SAARC, “Child Marriage in South Asia: Realities, Responses and The Way Forward”, 2013, hal: 5.

https://www.icrw.org/files/publications/Child_marriage_paper%20in%20South%20Asia.2013.pdf. Diakses pada 19 Juni 2014

27 Marcy Hersh, Sunayana Walia and Priya Nanda, ”Solution Exchange for the Gender Community Discussion Summary”, International Center for Research on Women (ICRW), New Delhi, Januari 2010. http://www.unicef.org/india/cr-se-gen-25110901-public.pdf. Diakses pada 21 Juni 2014

mengindikasikan bahwa seorang anak yang memiliki pendidikan yang lebih tinggi, semakin kecil kemungkinan dia untuk menikah diusia dini.

Tingkat pendidikan yang rendah pada orang tua dan minimnya akses ke sekolah dengan jarak yang cukup jauh yaitu 10 kilometer, khususnya di daerah pedesaan, menjadi penghambat bagi pendidikan anak-anak dan berpotensi sebagai pelaku pernikahan dini. Hasil studi dari ICRW tahun 2011 di India menemukan tidak adanya infastruktur yang memadai, kurangnya akses menuju sekolah dan jarak yang cukup jauh menjadi halangan bagi anak-anak untuk bersekolah. Kebanyakan sekolah menengah didaerah pedesaan India memiliki jarak yang cukup jauh dan sulitnya trasportasi menuju ke sekolah serta tingginya tingkat kejahatan di desa membuat para orang tua semakin khawatir untuk mengirim anak

mereka kesekolah tersebut.28 Hal tersebut juga dirasakan di daerah Andra Pardesh,

berdasarkan DLHS-3 tahun 2010, terdapat hanya 31% anak yang tetap bersekolah dan kebanyakan dari mereka adalah laki-laki, sehingga menimbulkan mereka

harus putus sekolah diusia 10 hingga 15 tahun.29 Di daerah Rajasthan,

berdasarkan NFHS-3, terdapat 23% anak yang hadir kesekolah.30 Di daerah Bihar,

berdasarkan NFHS-3, 24 % anak yang bersekolah dan kemudian harus berhenti

sekolah saat usi mereka 10 tahun dikarenakan kekhawatiran orang tua mereka.31

28ICRW and AUSAID, “Child Marriages in Southern Asi: Policy Action for Action”, 2012. http://www.icrw.org/publications/child-marriage-southern-asia. Diakses pada 21 Juni 2014 29 Report, The District Level Household and facility Survey (DLHS): (Reproductive & Child Health Project). http://www.rchiips.org/pdf/rch3/report/AP.pdf. Diakses pada: 23 Desember 2014 30 Report, The National Family Health Survey (NFHS): Database that strengthen India’s

demographic and health policies and programs. http://www.rchiips.org/nfhs/raj_state_report.pdf. Diakses pada 23 Desember 2014

31Ibid. http://www.rchiips.org/nfhs/NFHS-3%20Data/Bihar_report.pdf Diakses pada 23 Desember 2014

Selain beberapa faktor diatas, faktor ekonomi merupakan faktor yang memiliki pengaruh besar terhadap kasus pernikahan anak ini. Pertimbangan ekonomi pada suatu keluarga sangat mempengaruhi terjadinya pernikahan anak di bawah umur. Hasil penelitian UNICEF tahun 2011 menemukan sekitar 56% pernikahan anak terjadi didaerah pedesaan India dan 29% pernikahan anak terjadi

didaerah perkotaan India.32 Praktek pernikahan anak pada umumnya terjadi di

pedesaan atau di daerah yang memiliki tingkat kemiskinan dengan rata-rata

penghasilan penduduknya sebesar 5 hingga 100 Rupe perbulan.33 Acara

pernikahan di India sedikitnya memerlukan biaya 8000 Rupee, dengan biaya pernikahan yang mahal dan ekonomi yang sangat minim serta terbatas maka setiap keluarga yang memiliki anak perempuan di bawah umur memilih untuk menikahi anak mereka sebelum masa pubertas dalam acara pernikahan masal guna meminimalisir dana pernikahan. Selain itu orang tua memiliki ketergantungan yang tinggi kepada seorang laki-laki atau saudagar kaya untuk menikahi anak perempuan mereka dengan tujuan memperbaiki ekonomi

keluarga.34

Dikarenakan anak perempuan mereka belum cukup umur dan dianggap masih suci, maka dalam pernikahan tersebut pihak laki-laki akan memberikan mas kawin atau mahar berupa uang atau barang mewah yang akan diberikan langsung

32UNICEF India, “Child Marriage Fact Sheet”, November 2011.

http://www.unicef.org/india/Child_Marriage_Fact_Sheet_Nov2011_final.pdf. diakses pada 17 Juni 2014

33

34World Bank, “World Development Report on Gender Equality and Development”, 2012, hal: 154.

http://econ.worldbank.org/WBSITE/EXTERNAL/EXTDEC/EXTRESEARCH/EXTWDRS/EXT WDR2012/0,,menuPK:7778074~pagePK:7778278~piPK:7778320~theSitePK:7778063~contentM DK:22851055,00.html. Diakses pada 24 Juni 2014

oleh keluarga anak perempuan dan menjadi hak milik keluarga.35 Pengantin anak perempuan memiliki harga yang lebih tinggi, hal ini disebabkan usia yang sangat muda dan dipercaya mampu memberikan kontribusi yang baik untuk suami dan

keluarganya. Disamping itu, anak perempuan di India dianggap sebagai “paraya

dhan” atau properti pernikahan, oleh karena itu anak perempuan dinikahkan

sedini mungkin guna menutup hutang atau mengurangi hutang keluarga.36

Pernikahan anak ini terjadi tidak hanya dikalangan ekonomi rendah tetapi juga dikalangan ekonomi tinggi. Untuk keluarga kaya, banyak orang tua yang menikahi anaknya kepada keluarga kaya juga demi menjaga garis warisan dan

kekayaan yang dimiliki oleh keluarganya.37

Dokumen terkait