BAB II TINJAUAN UMUM KONSEP PROSTITUSI DAN
2.2 Konsep Stratifikasi Sosial
2.2.4 Dampak Positif dan Negatif Stratifikasi Sosial
Pada umumnya pandangan singkat seseorang mengenai hasil dari pembedaan kedudukan dan status sosial masyarakat adalah sebuah hal negatf. Hal ini berhasil diluruskan oleh Afrysna (2016) dalam penelitiannya yang memaparkan dampak positif dan negatif dari stratifikasi sosial sebagai berikut :
a. Dampak positif
Menurut Afrysna, dampak positif stratifikasi sosial adalah adanya kemauan dari setiap individu di dalam masyarakat untuk bersaing untuk berpindah tingkatan, sehingga mendorong setiap individu untuk bekerja keras.
Pernyataan ini dapat dikaitkan dengan semangat kerja masyarakat Jepang yang notabene adalah masyarakat yang sering dijuluki dengan istilah “gila kerja”.
Umumnya masyarakat Jepang bekerja terus menerus untuk mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik dari kondisi kehidupan sebelumnya yang mungkin terkesan rendah.
b. Dampak negatif
Dampak negatif yang sudah pasti timbul dari sebuah stratifikasi sosial adalah disintegrasi sosial. Menurut Setiadi dan Kolip (2011 : 87) yang menjelaskan keadaan disintegrasi sosial yakni antaranya :
1) Persaingan
Persaingan merupakan proses sosial di mana orang perorangan atau kelompok manusia yang terlibat dalam proses tersebut saling berebut untuk mencari
keuntungan melalui bidang-bidang kehidupan yang pada masa tertentu menjadi pusat perhatian publik dengan cara menarik perhatian publik atau dengan mempertajam prasangka yang telah ada kedudukan menjadi hal yang diperebutkan sebab di dalamnya terdapat otoritas (kewenangan).
2) Kontravensi
Weise dan Becker (1932) dalam penelitiannya mengemukakan bahwa kontravensi merupakan bentuk proses sosial yang berada antara persaingan dan pertentangan. Kontravensi ditandai oleh gejala-gejala adanya ketidakpastian mengenai diri sendiri atau suatu rencana dan perasaan tidak suka yang disembunyikan, kebencian, atau keraguan terhadap kepribadian seseorang.
3) Konflik
Menurut Setiadi dan Kolip (2011 : 87) , konflik merupakan proses sosial di mana masing-masing pihak yang berinteraksi berusaha untuk saling menghancurkan, menyingkirkan, mengalahkan karena berbagai alasan seperti rasa benci atau permusuhan dan iri.
Arita ( 2017 ) menuliskan pernyataan sebagai berikut :
It appears that these differences are well explained by each society’s institutional conditions, especially the prevalence of Japanese personnel management practices such as the seniority-based wage and promotion systems and long-term stable employment and/or accessibility to their benefits.
Arita menyatakan bahwa perbedaan-perbedaan sangat baik dijelaskan oleh masing-masing kodisi institusional masyarakat Jepang, terutama gambaran dari
praktek manajemen pesonalia di Jepang seperti gaji berdasarkan senioritas dan sistem kenaikan jabatan dan status pekerja jangka panjang dan atau akses untuk keuntungan mereka.
Meninjau dari pernyataan Arita dapat dikaitkan dengan uraian mengenai dampak positif dan negatif stratifikasi atau pelapisan sosial, bahwa masyarakat Jepang memandang stratifikasi sosial sebagai sebuah persaingan untuk mencapai kedudukan yang lebih baik dalam kehidupan yang akan memperbaiki kondisi sosial dan kualitas hidup individu dalam jangka waktu baik pendek atau pun panjang.
Berdasarkan sistem pembedaan yang kerap terjadi pada masyarakat Jepang, dampak negatif tidak terlalu menonjol secara jelas dikarenakan masyarakat Jepang yang tergolong masyarakat industri yang mampu dan memiliki semangat untuk terus bekerja dalam memperbaiki dan meningkatkan taraf hidup dalam masyarakat.
BAB III
STRATIFIKASI SOSIAL PADA KALANGAN PEKERJA SEKS KOMERSIL DI JEPANG
3.1 Penyebab Terbentuknya Stratifikasi Sosial pada Kalangan PSK di
Jepang
Arita (2017) mengemukakan langkah mengumpulkan data dalam penelitian yang membahas masalah stratifikasi sosial sebagai berikut :
It is therefore common for empirical studies of stratification and social class to collect data on social status based on respondents’s work. There are several criteria for classifying an individual’s work.
Arita mengemukakan bahwa penelitian mengenai stratifikasi sosial dan kelas sosial secara umum mengumpulkan data berupa status sosial berdasarkan pekerjaan-pekerjaan responden. Terdapat beberapa kriteria untuk mengklasifikasikan sebuah pekerjaan individu.
Mengacu kepada pernyataan Arita dalam penelitiannya, telah dikumpulkan beberapa data berupa hasil wawancara yang dilakukan kepada beberapa orang pengguna jasa prostitusi dan beberapa prostitusi di Distrik Kabukicho di wilayah Shinjuku, Jepang pada tanggal 19 Desember 2019. Merangkum dari beberapa hasil wawancara dan studi kepustakaan terkait dengan sebuah fenomena stratifikasi sosial pada kalangan PSK di Jepang, dapat disimpulkan ada tiga poin yang
menyebabkan timbulnya stratifikasi sosial pada kalangan PSK di Jepang, yaitu : tingkat pendapatan, popularitas, dan senioritas.
3.1.1 Tingkat pendapatan
Tingkat pendapatan menjadi salah satu faktor utama yang menjadi pembeda antara satu prostitusi dengan prostitusi lainnya di wilayah Kabukicho. Sama halnya seperti lapisan sosial yang terbentuk pada masyarakat pada umumnya berdasarkan kondisi ekonomi, tingkat pendapatan memberikan sebuah keuntungan khusus terhadap prostitusi pada tingkatan tertentu. Berikut hasil wawancara yang dilakukan kepada salah seorang prostitusi yang bekerja sebagai seorang baishun pada sebuah agensi lokal yang bernama Aqua :
Peneliti : しつれいですが、毎月の売り上げはどのぐらですか”
Terjemahan : ‘Maaf jika tersinggung, setiap bulan berapa penghasilan anda?’
Prostitusi A : 60万円ぐらいもらえます.”
Terjemahan : ‘Saya menerima sekitar 600.000 Yen.’
Peneliti : 夜のエンターテインメントで働く人として、このぐらいの
売り上げは高いといえますか.”
Terjemahan : ‘Sebagai orang yang bekerja di dunia hiburan malam, apakah penghasilan sejumlah ini dapat dikatakan tinggi ?’
Prostitusi A : 風俗で働いているにとして、そのぐらいのは高くないと思 うよ, 水商売で働いているホステッスが私より5倍にも稼ぐ こと ができると思うよう.
Terjemahan : ‘Sebagai orang yang bekerja dalam hal seks, penghasilan sekitar itu tidak tidak tinggi, hostess yang bekerja di klub-klub dibandingkan saya dapat menghasilkan lima kali lipat lebih dari saya.’
Berdasarkan pertanyaan yang diajukan terkait tingkat pendapatan terhadap salah seorang prostitusi tersebut, dapat dilihat bahwa dalam sebuah pekerjaan yang berorientasi seks, setiap prostitusi dapat memiliki pendapatan yang berbeda-beda tergantung dari jenis pelayanan yang mereka berikan.
Keterkaitan pertama ditujukan kepada pernyataan Arita (2017) pada penelitiannya , yaitu bahwa standar pembayaran, potensi kenaikan gaji, pendapatan, stabilitas kepegawaian dan ragam gengsi tergantung dari besarnya perusahaan, sudah menjadi variabel kunci untuk dasar dari struktur stratifikasi di masyarakat Jepang. Dapat dikaitkan pada pernyataan dari penelitian Arita bahwa terbentuk sebuah struktur stratifikasi pada kalangan PSK berdasarkan tinggi rendahnya pendapatan yang dapat mereka hasilkan baik per hari atau pun per bulan.
Keterkaitan berikutnya yaitu dengan pernyataan seorang pengacara dalam industri dunia hiburan malam, Sho Wakabayashi, dalam video pada platform YouTube yang berjudul The Truth about Japan’s Prostitution, dimana seorang
akan terlalu diperhatikan oleh para pemungut pajak sehingga akan ditanggung oleh agensi yang bertanggung jawab. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa semakin besar pendapatan seorang prostitusi dalam sebuah agensi, maka semakin besar kenyamanan dan keamanan yang diterima seorang prostitusi tersebut yang secara tidak langsung mempersulit keadaan prostitusi yang memiliki penghasilan yang tidak cukup tinggi untuk mendapatkan keuntungan lebih berupa keamanan dan kenyamanan.
3.1.2 Popularitas
Popularitas atau tingkat ketenaran mempengaruhi kinerja dan kualitas diri seorang prostitusi. Pada umumnya seorang prostitusi yang memiliki banyak pelanggan dalam setiap bulannya akan mendapatkan promosi berupa penunjukkan wajah dan nama di poster- poster sebagai iklan yang ditempelkan di sekitaran agensi.
Promosi ini meningkatkan ketenaran dari seorang prostitusi sehingga mampu mendapatkan lebih banyak pelanggan yang akan lebih menguntungkan prostitusi tersebut dan agensi yang menanganinya.
Namun, ada sedikit ketidakadilan dikarenakan promosi sering ditujukan kepada prostitusi yang mampu mendapatkan penghasilan yang cukup tinggi dan mampu meningkatkan popularitas agensinya. Sementara prostitusi yang tidak memiliki penghasilan yang cukup tinggi harus melakukan promosi secara individual dan mandiri ke orang-orang sekitar wilayah Distrik Kabukicho sampai ia bisa menerima penghasilan dan tingkat popularitas seperti prostitusi dengan
penghasilan yang cukup tinggi untuk mendapatkan fasilitas berupa peningkatan popularitas. Hal ini disimpulkan berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu baishun yang bekerja dalam bisnis seks oral di Distrik Kabukicho.
Peneliti : 一 つ 気 に な る こ と が あ る ん で す が 。 ほ と ん ど ポ ス タ ー に 見 せ ら れ た 女 た ち は も と も と こ の 周 り に 人 気 が あってる女たちですよね.
Terjemahan : ‘Ada satu hal yang membuat saya penasaran, hampir semua perempuan yang diperlihatkan di poster sebelumnya sudah terkenal di sekitar sini, kan ?’
Prostitusi B : はい、もともと人気を持っているのです。普通じゃないと
思っているかもしれないが、この歌舞伎町には売り上げを もっと多いに稼ぐとその風俗店が彼女の人気のことをもっ と押してみたいなイメージをしています.
Terjemahan : ‘Benar, sebelumnya mereka sudah terkenal. Mungkin saya pikir tidak biasa, tetapi di Kabukicho ini semakin banyak penghasilan didapatkan, maka image yang dilakukan rumah – rumah bordil adalah lebih mendorong popularitas perempuan itu.’
Hasil wawancara ini dapat dikaitkan dengan penelitian oleh Arita (2017) mengenai tingkat pendapatan dan stabilitas dalam pekerjaan mempengaruhi kedudukan dan status sosial seseorang. Popularitas seorang prostitusi ini berhubungan dengan faktor awal penyebab perbedaan kedudukan dari
masing-masing pekerja yaitu tingkat pendapatan. Tingkat pendapatan menghasilkan tingkat popularitas yang cukup tinggi dan terus berkembang. Di luar dari ketidakseimbangan sistem promosi yang dilakukan di pada prostitusi, popularitas sangatlah dbutuhkan seorang prostitusi untuk menambah jumlah pelanggan terlepas dari kemampuan prostitusi tersebut dalam menangani pembagian waktu pada diri sendiri.
Hal ini juga dapat dikaitkan dengan video oleh Asian Boss pada platform YouTube yang berjudul Meet The Number 1 Hostess in Japan yang dapat disimpulkan bahwa Hoshino Kurumi yang merupakan hostess nomor satu di Jepang dengan pendapatan tertinggi dan pelayanan yang memiliki kualitas yang sangat baik. Maka, tingkat popularitas prostitusi di Jepang diklasifikasikan tidak berdasarkan jenis pekerjaannya, namun tingkat pendapatan yang mendorong adanya perkembangan popularitas tanpa memandang jenis pekerjaan dan pelayanan yang diberikan oleh prostitusi tersebut. Dapat dilihat juga dari video tersebut bahwa penempatan prostitusi yang memiliki performa yang cukup baik akan semakin mewah dan berkelas sehingga memberikan kesempatan yang lebih besar kepada prostitusi untuk mendapatkan fasilitas yang lebih baik dan tingkat pendapatan yang lebih tinggi.
Berdasarkan keterkaitan antara hasil wawancara dengan data yang sudah ditemukan, popularitas atau tingkat ketenaran menjadi salah satu pembeda kedudukan prostitusi tanpa melihat tingkat pendapatan yang pada mulanya berhubungan dalam memunculkan aspek yang mendorong berkembangnya popularitas. Tingkat pendapatan dilihat sebagai hal yang relatif karena setiap agensi
memiliki standar yang berbeda-beda terhadap tinggi rendahnya uang yang dihasilkan oleh setiap prostitusi dalam berbagai jenis pelayanan. Pelapisan sosial terbentuk secara sengaja dalam rangka menguntungkan pihak-pihak yang bekerja dan mengembangkan bisnis dalam industri seks di Distrik Kabukicho.
3.1.3 Senioritas
Arita (2017) dalam penelitiannya juga menuliskan dengan jelas bahwa praktek pekerjaan yang menggunakan basis senioritas akan memberikan keuntungan lebih pada personalia di dalamnya yang memiliki pengalaman bekerja yang lebih lama. Maka, senioritas memberikan sebuah status atau kedudukan tertentu seseorang dalam sebuah lingkup pekerjaan berdasarkan usia dan lamanya pengalaman bekerja individu tersebut.
Hal ini dikaitkan dengan pemaparan Nakane (1970) pada salah satu stratifikasi sosial yang terbentuk di Jepang, yaitu stratifikasi berbentuk senpai-kohai. Perbedaan tingkatan yang terbentuk karena adanya senioritas di pada masyarakat Jepang tidak hanya sebatas usia yang lebih tua, melainkan pengalaman bekerja atau pun moral yang lebih didpatkan dalam jangka waktu pekerjaan yang lama. Namun, pada umumnya perusahaan atau tempat bekerja di Jepang sering menempatkan pekerja dengan usia yang lebih tua dan memiliki pengalaman bekerja yang cukup lama untuk menjadi senior dalam struktural sebuah perusahaan atau tempat bekerja.
Tidak jauh berbeda halnya dengan prostitusi yang bekerja dalam suatu agensi lokal yang dapat diketahui bahwa semakin lama pengalaman bekerja satu prostitusi pada agensi tersebut, maka akan menjadikannya senior yang memiliki pengetahuan yang lebih tinggi dan informasi yang lebih banyak seputar bisnis industri seks di agensi atau wilayah tersebut. Pendapat ini disimpulkan dari hasil wawancara oleh seorang prostitusi yang ditanyakan mengenai penghasilan prostitusi sebelumnya, yaitu :
Peneliti : 一 つ の 風 俗 店 に 先 輩 後 輩 の 関 係 み た い の 状 況 は 仕 事 に何か影響を持っていますか
Terjemahan : ‘Dalam sebuah rumah bordil, apakah situasi seperti hubungan senior dan junior mempunyai pengaruh dalam pekerjaan ?’
Prostitusi A : は い 、 も ち ろ ん で す 。 先 輩 の 方 々 に は 仕 事 の 経 験 が 後 輩 よ り も っ と 長 い と 思 っ て い る と , そ の 先 輩 の 方 々 が こ の 周 り の 情 報 を 知 っ て い る み た い と か , も っ と 知 り 合 い が 作 れ る と か , も し も 働 い て い る 風 俗 店 で 店 長 ともっといい 関係も作れると思います.
Terjemahan : ‘Benar, sudah pasti. Para senior saya pikir memiliki pengalaman kerja yang lebih panjang daripada junior, para senior itu seperti akan mengetahui banyak informasi di sekitar sini, bisa membuat lebih banyak kenalan, dan
mungkin saja membuat hubungan yang lebih baik dengan pemiliki rumah bordil tempatnya bekerja.’
Berdasarkan hasil wawancara tersebut, dapat disimpulkan bahwa lagi-lagi senioritas yang sudah menjadi sebuah etika moral yang sudah diajarkan sejak kecil di Jepang, menjadi salah satu aspek utama dalam terbentuknya stratifikasi sosial pada kalangan PSK di Jepang. Stratifikasi sosial ini terbentuk secara tidak sengaja dan sangat bergantung kepada waktu bekerja individu sebagai prostitusi dan banyak sedikitnya pengalaman, dan banyak atau tidaknya junior yang dimiliki sehingga membuatnya lebih memiliki kemungkinan untuk mendapatkan posisi yang lebih tinggi dalam kedudukannya sebagai prostitusi pada satu agensi tertentu. Pada umumnya pun stratifikasi sosial yang terbentuk pada kalangan PSK ini disebabkan karena senioritas hanya pada agensi lokal, tidak kepada seluruh prostitusi yang bekerja di Distrik Kabukicho, maka selain itu hanya dianggap senior berdasarkan usia.
3.2 Jenis-Jenis Stratifikasi Sosial pada Kalangan PSK di Jepang
Setelah mengetahui penyebab-penyebab utama terbentuknya stratifikasi sosial pada kalangan PSK di Jepang, perlu diketahui ada dua jenis stratifikasi sosial yang sangat terlihat pada kalangan PSK di Jepang berdasarkan penyebab terbentuknya stratifikasi di Jepang. Dikarenakan penyebab stratifikasi sosial tersebut, maka terbentuk unsur-unsur yang mengklasifikasikan jenis stratifikasi sosial yang terbentuk pada kalangan PSK Jepang sehingga dapat dirangkum
menjadi dua jenis, yaitu sistem kelas yang terbentuk berdasarkan tingkat pendapatan dan popularitas, dan stratifikasi sosial yang bersifat terbuka yang memungkinkan setiap prostitusi tersebut dapat berpindah-pindah kedudukan sesuai dengan usaha dan pencapaiannya dalam proses menjadi yang terbaik.
3.2.1 Sistem kelas
Paul dan Hunt (1984) membedakan kelas sosial dengan pemaparan mengenai konsep stratifikasi sosial. Kelas sosial dapat diartikan sebagai suatu strata lapisan orang-orang yang berkedudukan sama dalam kontinium status sosial, dan para anggota suatu kelas sosial saling memandang satu sama lainnya sebagai anggota masyarakat yang setara, serta menilai diri mereka secara sosial lebih hebat dari beberapa orang lain dan lebih rendah daripada beberapa orang lainnya.
Terkait dengan sistem kelas yang terbentuk pada kalangan PSK umumnya berdasarkan penilai secara subjektif oleh para PSK itu sendiri dan para pengguna jasa prostitusi. Penilaian ini menimbulkan sebuah sistem kelas sosial yang membedakan satu prostitusi dengan prostitusi lainnya berdasarkan faktor-faktor penyebab stratifikasi sosial tersebut ditambah dengan jenis dan kualitas pelayanan yang disediakan oleh prostitusi tersebut.
Sebagai simpulan yang dapat diambil dari wawancara bersama seorang prostitusi terkait tingkat pendapatan yang menjadi penyebab timbulnya stratifikasi sosial pada kalangan PSK ini, dapat dilihat bahwa semakin tinggi tingkat pendapatan dapat ditentukan berdasarkan pelayanan yang diberikan dari prostitusi
tersebut, sebagai contoh adalah prostitusi berbentuk hostess yang terus menerus disebut sebagai tingkatan prostitusi dengan penghasilan tertinggi dari jenis pelayanan prostitusi lainnya, sebagaimana pula yang menjadi tolak ukur channel Asian Boss dalam menelusuri hostess terbaik di Jepang berdasarkan penilaian pelanggan dan tingkat pendapatan yang dihasilkannya sehingga mampu membuat sebuah dokumenter berjudul Meet The Number 1 Hostess in Japan.
Sebuah pandangan yang bersifat subjektif dapat dilihat dari judul video oleh Asian Boss yang menyimbolkan bahwa adanya kelas sosial antara prostitusi dengan berbagai jenis pelayanan. Bahkan dalam tingkatan hostess pun dapat menghasilkan peringkat dari yang tertinggi hingga paling rendah berdasarkan tingkat pendapatan dan pelayanan yang diberikan. Pandangan subjektif ini tidak hanya dari pengguna atau pun peneliti terkait jasa prostitusi, namun pandangan subjektif bila dilihat dari hasil wawancara dengan seorang prostitusi jenis baishun yang dipaparkan sebelumnya terkait tingkat pendapatan, terdapat kelas-kelas tertentu sesuai dengan pendapatan dari prostitusi tersebut yang dibentuk oleh agensi-agensi yang menangani pekerja tersebut dan popularitas yang semakin memberikan keuntungan lebih kepada prostitusi dan agensi tersebut.
Dengan demikian, sistem kelas pada kalangan PSK di Jepang terkhusus di Distrik Kabukicho sebagai pusat dari dunia hiburan malam, menjadi sebuah perhatian untuk diteliti karena merupakan salah satu komponen pembentuk lapisan-lapisan sosial yang membagi-bagi kedudukan para PSK. Namun pada prosesnya, sistem kelas yang terbentuk ini memberikan pembagian yang tegas untuk
dengan jenis pekerjaannya, sehingga memberikan informasi yang sangat berguna terkait pendanaan yang disiapkan untuk menggunakan jasa prostitusi bagi yang hendak menggunakan.
Sistem kelas ini juga terbentuk akibat pandangan satu prostitusi yang merasa lebih rendah atau lebih tinggi dari prostitusi yang lainnya. Hal ini dapat dilihat dari pandangan Hoshino Kurumi sebagai hostess nomor satu di Jepang pada channel Asian Boss yang mengatakan bahwa pelayanan yang menambahkan unsur keimutan dalam percakapan dengan pelanggan tidak dilakukan oleh hostess dengan tingkat pelayanan yang lebih baik. Hal ini menunjukkan bahwa sebagai contoh pada lingkup pekerjaan seorang hostess, kelas-kelas ini dapat dibagi berdasarkan selera pelanggan terhadap pelayanan. Hal ini juga disampaikan oleh pelanggan tetap Kurumi bernama Daigo yang tidak menyukai bentuk pelayanan yang mengandung unsur keimutan tersebut. Namun, Kurumi menjelaskan bahwa ia tidak melakukan pelayanan dengan menggunakan keimutan untuk membuat pelanggan lebih tertarik terhadapnya, yang menunjukkan walaupun ada atau tidak unsur keimutan dalam pelayanan seorang hostess, selera pelanggan secara mayoritas menentukan kelas dari seorang hostess dalam sebuah bar atau klub tempat hostess tersebut bekerja.
Dalam hal ini, pernyataan Kurumi yang menunjukkan bahwa ia tidak melakukan pelayanan dengan aksi imut untuk menggoda pelanggan melambangkan bahwa pelayanan yang normal dan menjadi diri sendiri adalah selera mayoritas pelanggan di klub Lalah, tempat ia bekerja dan dipandang sebagai kelas yang lebih tinggi oleh pelanggan dan para hostess lainnya.
Berdasarkan analisis tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa pelapisan sosial yang menggunakan sistem kelas pada kalangan PSK ini terbentuk secara sengaja berdasarkan unsur-unsur yang bersifat relatif seperti tingkat pendapatan dan popularitas, sementara terbentuk secara tidak sengaja akibat proses bekerja yang setiap waktu menghasilkan opini-opini yang berkembang dari para pengguna jasa prostitusi dan prostitusi itu sendiri. Sistem kelas ini juga membantu dalam pembagian jenis-jenis prostitusi berdasarkan bentuk pelayanan dan dapat membagi secara tegas tingkat pendapatan dari pelayanan tersebut.
Berdasarkan analisis tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa pelapisan sosial yang menggunakan sistem kelas pada kalangan PSK ini terbentuk secara sengaja berdasarkan unsur-unsur yang bersifat relatif seperti tingkat pendapatan dan popularitas, sementara terbentuk secara tidak sengaja akibat proses bekerja yang setiap waktu menghasilkan opini-opini yang berkembang dari para pengguna jasa prostitusi dan prostitusi itu sendiri. Sistem kelas ini juga membantu dalam pembagian jenis-jenis prostitusi berdasarkan bentuk pelayanan dan dapat membagi secara tegas tingkat pendapatan dari pelayanan tersebut.