• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN UMUM KONSEP PROSTITUSI DAN

2.1.4 Jenis-Jenis Prostitusi

Prostitusi dalam prakteknya tidak terlepas dari variasi pelayanan yang diberikan untuk menyesuaikan terhadap kebutuhan seksual pelanggan. Variasi ini dapat menggambarkan status sosial dan kedudukan sosial seorang prostitusi dalam pekerjaanya.

Menurut Kartono (1981 : 251), jenis prostitusi dibagi menjadi 2 berdasarkan aktivitasnya, yaitu :

1) Prostitusi yang terdaftar

Pelakunya diawasi oleh bagian Vice Control dari Kepolisian, yang dibantu dan bekerja sama dengan Jawatan Sosial dan Jawatan Kesehatan. Pada umumnya mereka dilokalisasi dalam suatu daerah tertentu.

2) Prostitusi yang tidak terdaftar

Termasuk ke dalam kelompok ini ialah mereka yang melakukan prostitusi secara gelap-gelapan dan liar, baik secara perorangan maupun dalam kelompok.

Perbuatannya tidak terorganisasi, tempatnya pun tidak tertentu. Mereka tidak mencatatkan diri pada pihak yang berwajib

Hal ini dapat dikaitkan dengan bentuk prostitusi di Jepang yang didominasi oleh prostitusi yang terdaftar sehingga para pekerja ini dikenakan pajak oleh pemerintah untuk tetap dijamin keamanannya dalam masa bekerja. Umumnya para pekerja ini diwadahi oleh agensi-agensi ataupun organisasi yang mengelola bisnis pelayanan seks secara variatif. Agensi-agensi dan berbagai macam organisasi ini ditempatkan pada sebuah komplek atau kawasan khusus yang biasa disebut dengan istilah “lokalisasi”.

Penempatan dari pewadah ini dikemukakan oleh Kartono (1981 : 254) yang menggolongkan lokasi atau tempat prostitusi dijalankan, yaitu :

1) Segregasi atau lokalisasi, yang terisolasi atau terpisah dari kompleks penduduk lainnya. Kompleks ini dikenal sebagai daerah lampu merah, atau petak-petak daerah tertutup ;

2) Rumah-rumah panggilan ;

3) Di balik front organisasi atau di balik bisnis-bisnis terhormat.

Pada kaitannya dengan prostitusi di Jepang, lokalisasi atau distrik lampu merah yang paling terkenal di seluruh Jepang sebagai pusat industri hiburan malam adalah Kabukichou (歌舞伎町) yang umumnya praktek pelayanan prostitusi pada

wilayah ini masih banyak yang berstatus legal. Pada tahun 1984, di Shinjuku dibangun pusat bisnis dan perbelanjaan sebagai bagian dari proyek rekonstruksi pasca Perang Dunia II. Salah satu lokasi bisnis itu dibuat untuk memamerkan pertunjukkan Kabuki ( 歌 舞 伎 ) atau teater klasik Jepang dan diberi nama

“Kabukichou” (kota Kabuki). Meski pertunjukkan Kabuki telah berhenti digelar di sini, nama Kabukichou tetap melekat hingga sekarang. Kawasan ini bahkan mendapatkan julukan distrik hiburan terbesar se-Asia. Terkait dengan bisnis seks yang berputar di kawasan ini, terdapat berbagai bentuk pelayanan seperti host / hostess club, bar, karaoke, love hotel, hingga tempat prostitusi yang dikuasai oleh para yakuza atau ‘mafia elit Jepang’. (https://matcha-jp.com/id/1301)

Berdasarkan batasan masalah yang ditetapkan, maka jenis atau bentuk praktek prostitusi yang sangat besar tersebar di seluruh Jepang dan terkenal hingga seluruh dunia adalah sebagai berikut :

1) Enjokousai ( 援助交際 )

Wakabayashi (2003) dalam penelitiannya mengemukakan bahwa enjokousai atau compensated-dating dapat dideskripsikan sebagai wanita yang berkencan dengan pria tidak dikenal, dan kadang melibatkan hubungan seksual, sebagai imbalan atau alat pertukaran dengan uang dan atau hadiah-hadiah bernilai mahal. Prostitusi ini mengacu kepada prostitusi anak, karena saat ini istilah tersebut mengacu pada remaja putri Jepang yang berkencan dengan pria yang lebih tua atau paruh baya. Kebanyakan enjokousai dilakukan oleh gadis remaja sekolah menengah. Enjokousai melibatkan gadis sekolah yang belum cukup dewasa untuk

membuat keputusan sendiri, dan juga karena karakter istimewa yang membedakan enjokousai dengan prostitusi lain.

2) Host dan Hostess

Dalam sebuah channel pada platform YouTube bernama Asian Boss, dilakukan wawancara kepada salah satu hostess termahal di Jepang bernama Hoshino Kurumi pada video berjudul Meet The Number 1 Hostess In Japan. Pada video ini Kurumi menjelaskan dengan jelas bagaimana pekerjaan dari para hostess.

Menurut Kurumi, pada dasarnya pelanggan dari hostess menghabiskan waktu dengan wanita-wanita cantik dengan membayar uang dan meminum alkohol bersama di tempat yang biasa disebut host/hostess Club. Berdasarkan perhitungan Kurumi, per bulannya ia bisa menghasilkan sampai 4 juta Yen (sekitar 600 juta Rupiah) terhitung dengan tip dan nilai-nilai pemberian di luar uang oleh klien yang menyukai pelayanannya dengan pendapatan per hari sekitar 60 ribu Yen (sekitar 9,3 juta Rupiah).

Penyebutan host dan hostess hanya memiliki perbedaan dari jenis kelamin pekerja yang melakukan pelayanan, dimana host merupakan para pria tampan yang melayani perempuan, sedangkan hostess merupakan para wanita cantik yang melayani pria. Kurumi juga menyebutkan bahwa banyak juga klien yang membayar lebih untuk berhubungan seks sehingga membuat pekerjaan ini dapat dikategorikan sebagai prostitusi. Pelanggan atau klien yang mampu merayunya sampai ia menyukai rayuannya akan diterima oleh Kurumi untuk melakukan seks tanpa bayaran tambahan, namun bagi yang kurang beruntung harus membayarnya sampai

sekitar 1 juta Yen (sekitar 150 juta rupiah) karena ia adalah prostitusi dengan pelayanan terbaik dan termahal di wilayah tersebut, yaitu wilayah Roponggi.

Dengan demikian hal tersebut menunjukkan bahwa host atau hostess merupakan salah satu jenis prostitusi yang memiliki pendapatan tertinggi dibandingkan prostitusi lainnya.

3) Joshi Kosei (JK)

Mulyadi (2018) menuliskan bahwa joshi kosei merupakan pekerjaan yang dilakukan oleh gadis-gadis remaja SMA di Jepang yang bekerja sebagai sales promotion girl. Gadis-gadis ini membagikan selebaran di pinggir jalan kepada calon pelanggan. Pekerjaan yang dilakukan gadis-gadis joshi kosei sendiri mulanya hanya sebagai teman mengobrol atau teman kencan, namun dalam prakteknya terjadi banyak kecurangan-kecurangan dimana para pekerja remaja ini bisa dibayar untuk melayani hubungan seks.

Prostitusi jenis ini bersifat ilegal karena mempekerjakan remaja SMA yang notabene adalah masih di bawah umur, merupakan sebuah pelanggaran hukum, maka umunya agensi-agensi pewadah prostitusi ini bergerak secara ilegal dan tidak sedikit yang sering ditutup oleh pihak kepolisian yang menemukannya.

Berbeda dengan enjokousai, joshi kosei biasanya memiliki organisasi atau pewadah yang menangani sistem jual beli atau transaksi, sedangkan para enjokousai didasari oleh dorongan diri sendiri dan umumnya tidak memiliki agensi tertentu sebagai pewadah.

4) Baishun ( 売春 ) atau ‘Pekerja Seks Komersil’

Baishun atau yang biasa dikenal dengan istilah ‘PSK’, adalah golongan prostitusi yang bekerja dengan sistem jual beli secara terang-terangan seperti PSK pada umumnya, yaitu transaksi pembayaran untuk langsung melakukan hubungan badan. Namun, variasi dari pelayanan terkhusus seks ini tidak hanya sekedar berhubungan badan, seperti contoh yang dituliskan oleh Mulyadi (2018) di antaranya ada jasa tekoki, yaitu jasa masturbasi menggunakan tangan, serta fashion herusu, di mana pelayan wanita dengan menggunakan pakaian tertentu, seperti pelaut atau perawat yang memberikan layanan seks kepada pelanggannya, dan sebagainya.

Para baishun ini terorientasi khusus untuk berhubungan badan, namun tidak memliki bentuk pelayanan dan tingkat pendapatan seperti ketiga bentuk prostitusi yang udah dijelaskan sebelumnya.

2.1.5 Pandangan Masyarakat Jepang Terhadap Prostitusi

Dalam sebuah video pada platform YouTube oleh channel Asian Boss yang berjudul What The Japanese Think Of Prostitution terdapat berbagai pandagan yang dilontarkan oleh beberapa orang-orang yang diwawancara pada video tersebut.

Beberapa pendapatnya adalah sebagai berikut :

Pria A : Normal people can go to brothels, but they can’t ? That’s nonsense, that’s why I feel bad.

Terjemahan : ‘Orang-orang normal dapat pergi ke rumah-rumah bordil, tetapi mereka tidak bisa ? Itu tidak masuk akal, itu mengapa saya merasa kasihan.’

Pria B : Basically, people see prostitution as something absolutely forbidden. But since there’s a big demand, shops operate secretly.

Terjemahan : ‘Pada dasarnya, orang-orang melihat prostitusi sebagai sesuatu yang sangat terlarang. Tetapi, karena ada permintaan yang besar, toko-toko beroperasi dengan rahasia.’

Wanita A : I think people accept it, since there’s a big demand. But if someone finds out that his or her partner visited prostitutes then that person probably wouldn’t like it.

Terjemahan : ‘Saya pikir orang-orang menerimanya, selagi ada permintaan yang besar. Tetapi jika seseorang menemukan pasangannya mengunjungi prostitusi, maka orang tersebut mungkin tidak menyukainya.’

Wanita B : It’s not as though the man likes the girl and is paying her. Maybe I think men have a lot of stress in their daily lives, so I think they go there to relax, but not to cheat.

Terjemahan : ‘Itu tidak seperti laki-laki menyukai perempuan itu dan membayarnya. Mungkin saya pikir pria-pria mempunyai banyak beban stress di kehidupan sehari-hari mereka, jadi saya

pikir mereka pergi ke sana untuk bersantai, bukan untuk selingkuh.’

Berdasarkan beberapa pendapat pria dan wanita mengenai prostitusi pada wawancara tersebut, tidak sepenuhnya masyarakat Jepang membuka diri terhadap prostitusi. Namun, sebagian orang juga menganggap prostitusi adalah hal yang sudah wajar di Jepang yang modern ini, walau orang-orang yang beranggapan hal tersebut tidak melakukannya. Masyarakat Jepang cenderung menganggap prostitusi ini juga salah satu pelengkap kebutuhan nafsu manusia. Dalam pandangan beberapa laki-laki di Jepang berdasarkan wawancara tersebut, permintaan yang tinggi dari banyak penikmat jasa tersebut yang didominasi oleh pria menyebabkan prostitusi dianggap sebagai hal yang sudah lumrah dan menjadi kebutuhan banyak orang terutama pria. Sedangkan pada sisi wanita, mereka menganggap bahwa prostitusi merupakan sebuah fenomena yang tidak baik namun dibutuhkan oleh para pria dan para wanita tersebut masih mampu berpikir positif bahwa pria-pria yang umumnya menggunakan jasa prostitusi tidaklah melakukan perselingkuhan melainkan hanya sekedar bersantai dan menghilangkan stres.

Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa masyarakat Jepang menganggap prostitusi sebagai hal yang sudah wajar dan berkembang seiring bertambahnya permintaan untuk memenuhi kebutuhan seks manusia.

Namun, walau praktek prostitusi tersebut dianggap terlarang bagi sebagian orang, banyaknya pengguna jasa tersebut mampu menutup pemikiran negatif yang berlebihan dari pandangan masyarakat Jepang terhadap prostitusi. Sehingga,

praktek prostitusi berjalan dan berkembang dengan sangat pesat hingga besar sampai sekarang ini.

Dokumen terkait