• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL TEMUAN DAN ANALISIS

B. Psikososial Remaja Pecandu Pornografi

1. Dampak Psikososial Remaja Pecandu Pornografi

Psikologi sosial merupakan hakikat untuk mengetahui sebab-sebab dari perilaku dan pikiran-pikiran individu dalam situasi sosial.38 Di dalam perkembangan psikososial terdapat perubahan berpikir. Perubahan berpikir juga dirasakan oleh informan ZP pecandu pornografi, dahulu dia berpacaran tidak ada dasar yang menjurus ke dalam hal yang buruk namun karena menonton film pornografi, ZP menjadi bahwa ada dasar lain yang mendukung mengapa dia berpacaran.

38

Sarlito,Psikologi Sosial,Individu dan Teori-Teori Psikologi Sosial (Jakarta:Balai Pustaka, 2002). h,10

“Awalnya pacaran mah karena cinta monyet aja, suka-sukaan gitu. Tapi gue dari awal emang ga pernah pacaran atas dasar mesum tapi karena suka-sukaan aja. kalaupun di tengah jalan mesum ya itu

cuma bonus aja.”

“ZP” pun berpikir tidak apa-apa jika pacaran melakukan hubungan seksual seperti di film porno yang ia tonton.

“Ga boleh di dalam agama berhubungan seksual kalo belum

mukhrim tapi ya gimana kalo pengen nonton mulu terus ada pelampiasannya ya susah juga nolaknya. Yang penting nanti sholat

minta maaf sama Allah.”39

Menurut psikolog, Elly Risman pimpinan Yayasan Kita dan Buah Hati, setelah mengkonsumsi pornografi anak-anak dan remaja secara perlahan-lahan akan terbangun perpustakaan porno di otaknya. Perpusatakaan inilah yang bisa kapan saja diakses oleh anak-anak dan remaja.40 Perubahan cara berpikir ini terjadi

pada “BL”, ia berpikir tentang hal yang berbau porno ketika melihat seseorang

dia menyatakan bahwa jika ia sudah dekat dengan orang lain maka ia bisa berhubungan fisik dengannya. Hal ini disampaikan oleh nya sebagai berikut:

“Di bioskop setiabudi. iya itu pas Smp. ada lagi nih cerita mrs. D.

D ini chinese, gw sama dia udah pdkt gitulah ceritanya gw ajak nonton juga deh sama temen-temen gw tapi misah gue nonton film lain. Pikiran gw kan udah deket trus udah sama-sama suka yaudahlah gw beraniin diri aja tuh buat megang dia eh dia malah

marah gw kira dia mau.”41

Pornografi saat ini sudah bukan menjadi hal yang tabu lagi bagi banyak remaja, semakin banyak yang membicarakan maka hal ini semakin wajar, dan

39

Wawancara pribadi dengan informan "ZP". Jakarta 27 Juni 2016.

40

Tatty Elmir, “Dampak Pornografi” diakses pada 15 Maret 2016 dari https://tattyelmir.wordpress.com/2013/08/17/dampak-pornografi/

“BL” berfikir jika laki-laki tidak pernah membicarakan hal porngrafi maka ia

tidak normal. Sebagaimana pengakuan “BL” :

“Wajar bukan berarti membenarkan,tapi banyak yang nonton itu udah ga malu kalo diliat orang. ya biasa aja lah, apa lagi cowo ya diomonginnya ga jauh dari situ. Kalo ga ngomongin kaya gitu

malah ga normal lah.”

“BL” berpikir bahwa film porno juga memberikan manfaat bagi dirinya kelak. Saat menceritakan hal ini “BL” tersenyum sambil melihat ke atas seperti membayangkan sesuatu.

“Ya ada (positifnya) tapi banyakan buruknya. ya jadi tau ilmunya...

Ilmu bercinta.”

Saat menceritakan tentang manfaat pornografi, informan “BL” tertawa

seperti ada perasaan senang ketika mendapatkan ilmu pornografi.42

Berpikir berarti menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan dan memutuskan sesuatu atau menimbang-nimbang dalam ingatan.43 Informan “MT” berpikir dan akhirnya memutuskan bahwa film pornografi itu membuat ia semakin memikirkan atau tertarik dengan sesama jenisnya. Berikut penuturannya :

“Pas kerja disitu ada cewenya ada cowonya tapi cowonya sama cin sama aku. Yaudahlah mulai bergaul disitu ohya aku tau situs bromo itu juga dari mereka lohh. duh makin paraah aku abis nonton film itu jadi geregetan gitu kaya sherina.”44

Berdasarkan pengamatan yang peneliti dapatkan, perubahan berfikir remaja kecanduan pornografi dapat memicu ke dalam perubahan yang negatif.

42Observasi Informan “BL” pada tanggal 13 Agustus 2016 43

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), diakses pada 20 Agustus dari

http://kbbi.web.id/pikir

Seperti Informan “AA” yang merasa dirinya sudah dewasa saat dia sudah

menonton film pornografi.

“Gua mah selow aja sih nonton kaya gitu, gamungkin anak jaman

sekarang belom pernah nonton. Gua aja suka ngasih temen gua situs gitu kalo dia nanya, gua juga kalo lagi ngumpul gua download aja iseng pas ada wifi eh malah pada penasaran juga. Jadi wajar aja sih nonton film kaya gitu pas SMP, udah gede juga kali. Kalo ga

pernah baru tuh aneh canggung ntar pas udah nikah.”45

Dan dia juga berfikir bahwa film pornografi adalah hal yang wajar. Bukan hanya itu tetapi dia merasa bahwa film pornografi itu bermanfaat untuk kehidupan rumah tangganya kelak. Berikut penuturannya :

“Dulu itu alesan nontonnya itu, “oh ini buat belajar kali ya nanti

jadinya kalo punya suami ga kaget-kaget amat jadi udah tau gima cara-caranya gimana sebenenrnya melakukan itu kaya apasih, dulu gapunya kepikiran buat bakal ngelakuin pokoknya nanti pa udah punya suami bakal kaya gitu trus gue ga awam bangget sama yang kaya gitu. Biar nanti gue bisa sama suami gue, nanti gue bisa muasin suami gue kalo gue aja punya dasar untuk melakukan itu.” Perubahan berpikir yang dirasakan oleh YG adalah bahwa pornografi itu bisa melampiaskan dan menenangkan dirinya di saat ada masalah atau stress.

“Di saat ada masalah terus insomnia bingung mau ngapain yaudah

deh gue iseng aja nonton, jadinya biar rada enakan hati gue trus

tidur pules dah.”46

Berdasarkan data yang diperoleh dari kelima Informan, pornografi dapat merubah pemikiran seseorang. Pemikiran bahwa pornografi adalah hal yang wajar dan jika dekat dengan orang lain bisa berhubungan fisik seperti yang ada di film porno atau dengan kata lain pornografi merubah cara pemikiran seseorang menjadi penuh dengan seks.

45

Wawancara pribadi dengan informan "AA". Jakarta 19 Juni 2016.

46

b. Perubahan dalam bertingkah laku

Semakin beranjak dewasa, semua orang pasti mengalami perubahan salah satunya adalah perubahan tingkah laku. Perubahan tingkah laku dapat menjurus ke hal yang baik dan buruk, banyak faktor yang membuat seseorang mengalami perubahan tingkah laku. Salah satunya adalah remaja yang kecanduan pornografi membuat tingkah lakunya berubah. Pada masa remaja keinginan besar untuk mencoba dan mengetahui hal baru. Pornografi merupakan media yang dapat mempengaruhi remaja untuk berperilaku seksual berisiko.47 Perubahan perilaku

seksual ini dialami oleh “ZP” berikut penuturannya :

“Kalau pelecehan itu karena dulu pas SMP penasaran pengen megang dada jadi kalo lagi kerumunan suka curi-curi remes punya orang. Itu terjadi karena ge gabisa mengkontrol diri gue saat itu

masih SMP dan ga berpikir panjang.”48

Bermula dari rasa penasaran yang tinggi setelah menonton film pornografi

membuat “BL” melakukan pelecehan seksual yang kurang lebih ia lakukan

sebanyak 4 kali. Berikut salah satu pengakuannya :

“Nih pas kelas 1 smp, jadi guru nyuruh anak-anak ngambil buku di lemari,pada rebutan kan tuh,nah temen gw bilang eh ikutan yuk

ada “m” tuh,nah lg kerumunan gitu gw remes tuh dadanya,kayanya

temen gw juga deh. Abis itu dia lapor guru,guru nyuruh anak2 ngaku, gw diem aja. Ada lagi ek dulu kelas 1 juga,itu jaman anak- anak cowo suka mepet-mepet cewe biar nyenggol. Jadi dulu ada cewe kecil-kecil ukurannya kira2 udah 36d. Jadi kalo ada dia di kantin pada ngerumunin gitu. Gw ga pernah dapet peluang,pas

dapet kesempatan gw sikat deh haha akhirnya..”49

47

Euis Supriati dan Sandra Fikawati, Efek Paparan Pornografi pada Remaja SMP Negeri Kota Pontianak Tahun 2008, MAKARA, SOSIAL HUMANIORA, VOL. 13, NO. 1, JULI 2009: 48-56

48

Wawancara pribadi dengan informan "ZP". Jakarta 27 Juni 2016.

49

Dampak menonton film yang bersifat pornografi di VCD terhadap perilaku remaja adalah terjadinya peniruan yang memprihatinkan. Peristiwa dalam film memotivasi dan merangsang kaum remaja untuk meniru atau mempraktikkan hal yang dilihatnya, akibatnya remaja menjadi semakin permisif terhadap perilaku dan norma yang ada. 50Perubahan perilaku inilah yang juga terjadi pada “BL” dia menirukan apa yang ada di film pornografi. Berikut penuturannya :

“Jadi saat itu judulnya penasaran sih ek. Yang terjadi adalah gw ajak nonton temen gw,baru kenal nih tapi orangnya nakal gitu,terus kita kiss,lama-lama tangan gw gamau diem tapi saat pertama mau megang itu deg-degan parah loh,kalo ditolak gimana,belom kalo dia teriak hahaha. Eh doi mau loh,kayanya dia udh pengalaman,malah gw masukin ke dalem bra,first time itu.”

Efek paparan pornografi tidak hanya berupa pengetahuan tentang pornografi saja tetapi yang terjadi juga sampai pada aspek afektif dan bahkan kecenderungan untuk berperilaku. Pornografi dapat mempengaruhi remaja untuk melakukan bentuk perilaku, baik secara sadar maupun tidak disadari, telah mengubah persepsi bahkan perilaku hidup remaja sehari-hari terutama dalam hal seksualitas.51

Pada informan “MT” terjadi perubahan kepada dirinya, bermula dari

lingkungan dan film pornografi membuat dia lebih merasa tertarik kepada sesama

jenisnya. Setelah menonton film porno homoseksual perilaku seksual “MT” pun

berubah. Berikut penuturannya :

“Pas kerja disitu ada cewenya ada cowonya tapi cowonya sama cin

sama aku. Yaudahlah mulai bergaul disitu ohya aku tau situs

50

Rosadi, I. (2001). Hukum Islam tentang sewa menyewa kaset video compac disk (VCD) (Studi di rental VCD Kelurahan Sukarame I Bandar Lampung. Diunduh pada 21 Agustus 2016 dari http://digilib.gunadarma.ac.id/go.php?id=laptiain-gdl-s1-2001-ismail-650-hukum.

51

Rosadi, I. (2001). Hukum Islam tentang sewa menyewa kaset video compac disk (VCD) (Studi di rental VCD Kelurahan Sukarame I Bandar Lampung. Diunduh pada 21 Agustus 2016 dari http://digilib.gunadarma.ac.id/go.php?id=laptiain-gdl-s1-2001-ismail-650-hukum

bromo itu juga dari mereka lohh. duh makin paraah aku abis

nonton film itu jadi geregetan gitu kaya sherina.”52

Informan “MT” mengaku setelah menonton film porno dia menjadi lebih

memperhatikan penampilannya supaya orang lain tertarik kepadanya.

“Abis nonton film itu, kaya gamau kalah gitu pokoknya harus bisa

semodis yang di film biar kalo ada yang liat aku lirik aku, sekali

aku kedipin mata langsung gede hahaha.”

Berdasarkan observasi peneliti, saat “MT” menjelaskan hal di atas dia tertawa sambil melambaikan tangan dan menpuk bahu peneliti.53

Perubahan perilaku juga dirasakan oleh informan “AA”, bermula dari

perubahan berpikir bahwa film pornografi adalah hal yang wajar dan menjadikannya dewasa menyebabkan dia menjadi pribadi yang berani berbicara terbuka kepada orang lain tentang seks.

“Cuma kalo temen-temen tau gue biasa aja gitu. Gue jelasin ke mereka ini gue dapet tuh buat pelajaran dan yang gue tau selama ini apa-apa jadi tau buat bahagian suami gue nanti. Gua kan suka cerita sama temen-temen gue tentang pacar gue, apa aja juga gua ceritain. Jadi yaudah pada taulah gua gimana-gimana sama pacar

gue”54

Film pornografi juga merubah perilaku “AA” dalam berpenampilan, dia ingin terlihat menarik di depan pacarnya. Serta “AA” juga ingin mencoba

memakai baju yang ada di film porno. Sebagaimana penuturan “AA” berikut ini : “gua sih jadi ekspetasi mulu sama cowo gue, pengen coba pake

lingerie gitu di depan cowo gue doang ya cowo gue.”

52Wawancara Informan “MT”, Jakarta, 18 Agustus 2016 53Observasi Informan “MT”, Jakarta, 18 Agustus 2016 54

Berdasarkan observasi peneliti, “AA” memiliki sifat yang terbuka dan

mudah bergaul saat wawancara bahkan “AA” menanyakan kepada peneliti yang

bersifat pribadi.55

Sebelum kecanduan akan pornografi YG tidak melakukan hal yang tidak seharusnya bersama pacarnya, namun karena sudah kecanduan dia melihat seseorang dari penampilan dan pakaiannya dan YG juga mendapatkan tempat untuk pelampiasan akhirnya YG mempraktikan hal yang ada di dalam film porno.

“Dulu mah waktu awal punya pacar masih biasa tuh, trus gua

dapet pacar yang kalo kemana-mana pakaian nya lumayan terbuka

yaudah alhasil begitu dah pokoknya, ngerti kan ya hehe.”56

Berdasarkan hasil wawancara dan observasi kepada kelima informan, perubahan perilaku terjadi kepada remaja yang kecanduan film porno dan bersifat negatif. Hal ini disadari oleh semua informan, tak dapat dielakan lagi bahwa pornografi sudah sangat meluas saat ini jika semakin luas maka akan berpengaruh kepada moral anak bangsa karena perubahan perilaku ini lebih dominan kepada perubahan perilaku seksual sebelum menikah.

c. Menilai dan berinteraksi dengan orang lain

Selama berinteraksi, setiap orang pasti menilai orang lain sebagaimana kita menilai orang itu.57 Menilai orang lain bisa dilihat dari penampilan, cara

berbicara dan berpikir. Penilaian informan “ZP” saat melihat hanya wajahnya

saja tetapi setelah menonton film pornografi dia merasa dirinya saat melihat

55

Observasi Informan “AA”, Jakarta, 19 Juni 2016

56Wawancara Informan “YG”, Jakarta, 14 Juli 2016 57

Raja Bambang Sutikno, M.B.A, The Power Of Empathy in LEADERSHIP, ( Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 2007)h.86

perempuan dia bukan lagi melihat wajahnya saja tetapi juga bentuk tubuhnya.

Sebagaimana yang disampaikan oleh “ZP” :

“Sejak sering nonton pandangan gue yang tadinya liat cewe cuma

liat mukanya doang jadi liat bodynya juga ngebayangin bentuk

tubuhnya kaya di film.”58

Saat melakukan wawancara ZP di sebuah tempat makan di salah satu mall di Jakarta, ZP terlihat memandangi perempuan yang lewat di sampingnya.59

Persamaan dalam menilai orang lain ini diirasakan juga oleh “BL”, ia pun menilai orang lain dari penampilannya. Bahkan dalam berinteraksi dengan orang

lain “BL” terlihat berani menatap tajam lawan jenisnya.

“Setelah nonton kalo liat cewe ga liat mukanya aja tapi body dan ukurannya. Tapi semenjak yang mrs. D itu gw biasa aja kalo ngobrol sama cewe kalo dulu kan gw suka natap matanya trus

bayangin kalo cewe lewat gw suka ekspetasi sendiri.”60

Berdasarkan observasi peneliti, dalam berinteraksi dengan orang lain “BL”

berani untuk menatap mata dan melontarkan kata-kata gombal kepada perempuan.

Kala itu “BL” menggoda peneliti dengan cara menggombal.61

Akibat dari menonton film pornografi ini, para infroman menjadi lebih

memperhatikan penampilan seseorang. Seperti Infoman “MT” dalam melihat

orang lain yang pertama kali dilihatnya adalah seseorang laki-laki yang memiliki tubuh ideal. Berikut penuturannya :

“Ya ternyata aku ga sendiri banyak yang kaya gitu, ada yang

pacaran juga ah disitu hihi. Terus dari lingkungan itu aku nonton

58

Wawancara Informan "ZP". Jakarta 27 Juni 2016.

59Observasi Informan, “ZP”, Jakarta, 27 Juni 2016 60Wawancara Informan “BL”, Jakarta, 13 Agustus 2016 61Observasi Informan “BL”, Jakarta, 13 Agustus 2016

film porno juga kan eh kalo ada customer yang ganteng atau lagi

nganterin pacarnya gitu suka godain deh. Gede sih abisnya.”62 Berdasarkan observasi peneliti, saat berinteraksi dengan orang lain khususnya laki-laki, “MT” terlihat agresif dan dia mudah untuk berinterkasi menggunakan verbal dan non verbal. Ini terlihat ketika dia menggoda seorang laki-laki yang duduk di sebelah meja makan serta dia sering berbisik kepada peneliti memberitahukan bahwa ia tertarik dengan laki-laki itu.63

Informan “MT” menilai orang lain dengan berekspetasi atau menghubungkan orang yang dia lihat dengan film pornografi yang ia tonton. Berikut penuturannya :

“Iya dong, setiap abis nonton itu aku jadi lebih merhatiin dari atas

sampe bawah. Ih cucok deh pokoknya. Jadi lebih agresif kalo abis nonton, suka bayangin gitu aku duhh jadi malu.”64

Pornografi sudah diakui oleh para ahli dapat merusak otak, jiwa, dan fisik. Otak akan terus menerus memikirkan hal yang berhubungan dengan pornografi.

Seperti informan “YG” dia melihat seorang wanita dari apa yang ia lihat di dalam

film pornografi. “YG” melihat wanita dari bentuk tubuhnya dan dia bisa membayangkannya saat itu juga. Sebagaimana penuturan “YG” :

“Sama sih kaya semua cowo, pasti dilihat pertama bentuk tubuhnya

sama mukanya lah jelek apa cakep. Kalo sesuai kriteria gue, gue bisa sih langsung bayangin. Semua cowo gue rasa sama kaya gitu semua. Kaya istri gue, dulu gue liatnya juga dari badannya dia

lahya sama mukanya cakep.”65

Bahkan informan “YG” tidak segan untuk mengoda wanita yang lewat di

depan rumahnya.

62Wawancara Informan “MT”, Jakarta 18 Agustus 2016 63Observasi Informan “MT”, Jakarta 18 Agustus 20

16

64Wawancara Informan “MT”, Jakarta 18 Agustus 2016 65Wawancara Informan “YG”, Jakarta, 14 Juli 2016

“Ya kalo lagi nongkrong sama temen-temen gua ada cewe lewat

suka ada yang godain, gue juga sih suka suitsuitin cewe”

Berdasarkan observasi peneliti, walaupun “YG” sudah memiliki istri tetapi dia masih mencuri-curi untuk menggoda dan melihat wanita. Walau tidak serius tetapi itu menandakan adanya perubahan dan menilai orang lain. Peneliti melihat,

informan “YG” memanggil “cantik, mau kemana sombong amat sih.” kepada

tetangganya yang lewat.66

Informan “YG” menilai seseorang dari penampilan dan fisiknya dan cara

dia berinteraksi dengan orang lain juga kurang sopan dan tidak memiliki sikap

yang baik. Perubahan dalam menilai orang lain juga dialami oleh “AA”, saat

menilai dan berinteraksi dengan orang lain ia melihat dari fisiknya. Berikut

penuturan “AA”

“Sejauh ini kalo ngeliat cowo udah ga tertarik kecuali pacar saya

yah, ya sebut saja B. Kalo liat B tuh kalo lagi diem, bengong trus gue liatin badannya rasanya eeeh gimana gitu ada yang ser-ser gitu rasanya pengen melukin pengen deket-deket dia aja gituh.”67

Berdasarkan hasil observasi peneliti, “AA” membandingkan pria yang

lewat dengan pacarnya atau dengan pria yang ada di film pornografi yang sudah ia tonton. Saat melakukan wawancara dia berbicara kepada peneliti, “itutuh kecil

punya dia, gua sih gasuka yang badannya gitu.”68

Berdasarkan hasil yang ada, pornografi dapat merubah seseorang dalam menilai seseorang. pornografi membuat seseeorang dalam melihat dan menilai dengan orang lain dari fisik dan bentuk tubuh seseorang dan berinterkasi lebih

66Observasi Informan “YG”, Jakarta, 14 Juli 2016 67

Wawancara Informan "AA", Jakarta ,19 Juni 2016.

68Observasi Informan “AA”, Jakarta, 19 Juni 20

berani serta dapat membayangkan apa yang ia lihat dengan film pornografi yang ia tonton.

2. Fase Perkembangan Remaja Pecandu Pornografi

Terdapat delapan tahapan perkembangan psikososial dari manusia lahir hingga lansia dalam teori yang didefinisikan oleh Erik Erikson.69 Ada 2 tahapan perkembangan remaja yaitu Identitas versus Kebingungan Identitas (Indentity vs Identity Diffusion) serta Keintiman versus Keterkucilan (Intimaci vs Isolation)

a. Fase Perkembangan Remaja ZP

Remaja perlu menggembangkan rasa diri dan identitas pribadi, keberhasilan memunculkan kemampuan untuk tetap yakin pada diri sendiri, sedangkan kegagalan mengakibatkan kebingungan peran dan rasa diri yang lemah.70

Kebingungan identitias terjadi pada “ZP”, kecanduan pornografi dan tidak dapat mengontrol diri dan emosinya membuat dia melakukan pelecehan seksual. Dia melakukan hal itu karena dia tidak tahu harus melampiaskan hasratnya seperti apa dan dengan siapa. Dia merasa sudah dewasa ketika menonton film porno tetapi dia tidak bisa mengontrol diri seperti orang dewasa.

“Ya karena ada dorongan dari diri, abg lagi masa pengen- pengennya udah ngerasa cukup umurlah untuk nonton lagi. Alasannya bisa juga kalo liat cewe di jalan terus nafsu, pas sampe rumah keinget cewe itu tapi biar nafsunya bangkit lagi jadi nonton film. Yaitu sifatnya jadi candu, secara sosial juga memicu tindak pelecehan sampai pemerkosaan atau juga hubungan di luar nikah. Secara biologis juga karena suka ngeluarin ada dampak panjang kaya ejakukasi dini. Satu dan dua gue udah rasain dampaknya.

69

Peneey Upton, Psikologi Perkembangan.(PT Gelora Aksara Erlangga Tahun 2012)

70

Yaitu kecanduan sama pelecehan. Kalau pelecehan itu karena dulu pas SMP penasaran pengen megang dada jadi kalo lagi kerumunan suka curi-curi remes punya orang.71

Setelah kejadian itu ZP mulai tertutup karena merasa bersalah, dan dia hanya menceritakan hal ini ke beberapa temannya saja. Setelah kejadian itu dia menjadi pribadi yang tertutup.

“Malu bangget nih sebenernya gue cerita tapi itu kejadian bener

dan gue bener-bener menyesali hal itu. Pas temen gue, gue ceritain dia bilang gua gokil bangget gitu sampe kaya gitu. Tapi itu terjadi karena gue gabisa mengkontrol diri gue saat itu masih SMP dan ga berpikir panjang. Malu lah sekarang gua malah jadi jarang cerita semenjak kejadian itu malu aja gitu sampe sekarang”

Berdasarkan observasi peneliti bersama “ZP”, saat menceritakan hal ini, “ZP” terdiam dan menggit bibirnya seperti menandakan ia menyesali

Dokumen terkait