• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dampak PUAP Dilihat Dari Pendapatan Petani .1 Pemanfaatan Dana BLM-PUAP

II TINJAUAN PUSTAKA

VI HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1. Mekanisme Penyaluran PUAP Desa Hasang

6.7 Dampak PUAP Dilihat Dari Pendapatan Petani .1 Pemanfaatan Dana BLM-PUAP

dibandingkan dengan lembaga keuangan lainnya seperti perbankan. Karena menurut pengalaman petani bunga yang ditawarkan pihak pembiayaan lainnya seperti perbankan sangat tinggi mencapai 6 persen.

6.7 Dampak PUAP Dilihat Dari Pendapatan Petani 6.7.1 Pemanfaatan Dana BLM-PUAP

Suatu program akan menjadi sarana yang baik apabila dilakukan dengan tepat, baik tepat waktu, tepat sasaran, tepat perencanaan maupun tepat prosedur. Hal tersebut senada dengan program PUAP sendiri yang mengedepankan pelaksanaan yang efektif. Efektif dalam arti diberikan pada orang yang tepat, dalam jumlah yang tepat dan pemanfaatannya pun tepat. Apabila pemberian dana tersebut tidak tepat pada sasarannya maka akan berdampak negatif bagi keberlanjutan program tersebut. Selain dinilai dari ketepatan dalam sasaran, pelaksanaan program PUAP juga dinilai dari ketepatan pemanfaatan dana tersebut.

Berdasarkan pengamatan, para petani yang memperoleh pinjaman sebagian besar memanfaatkan dana tersebut untuk menambah modal usahataninya. Menurut para responden yang telah diwawancara, dengan adanya BLM PUAP mempermudah untuk dalam penambahan tabungan yang berbentuk ternak domba yang mana ternak tersebut dapat dimanfaatkan untuk biaya sekolah dan kehidupan sehari-hari, karena petani dapat mejual ternak tersebut untuk keperluan petani setelah kredit pengembalian dana pinjaman PUAP telah lunas terbayar. Peningkatan hasil produksi domba tentunya mendatangkan keuntungan, minimal para petani tidak lagi membeli daging ke pasar pada saat diperlukan terutama pada saat lebaran ketika harga daging melonjak naik, maksimalnya adalah pendapatan mereka dapat meningkat sehingga pada akhirnya diharapkan kesejahteraan mereka pun meningkat.

6.7.2 Analisis Usahatani Ternak Awal dan Setelah Berjalan Program PUAP Faktor-faktor produksi yang digunakan dalam proses produksi usahatani padi dikategorikan ke dalam biaya-biaya. Biaya dalam usahatani dibedakan

menjadi dua diantaranya adalah biaya tunai dan biaya yang diperhitungkan. Biaya tunai merupakan pengeluaran secara tunai yang dikeluarkan guna untuk pembelian barang dan jasa usahatani. Sedangkan biaya yang diperhitungkan adalah pengeluaran yang secara tidak tunai dikeluarkan oleh petani.

Biaya yang tergolong biaya tunai meliputi biaya yang dikeluarkan untuk pengadaan pakan, obat-obatan, suplemen, kredit, pembuatan kandang dan biaya untuk membayar tenaga kerja luar keluarga (TKLK). Sedangkan yang termasuk biaya diperhitungkan adalah biaya yang dikeluarkan untuk membiayai tenaga kerja dalam keluarga (TKDK) dan biaya penyusutan alat pertanian. Berikut penjelasan secara umum mengenai penggunaan faktor produksi (input) dalam usahatani domba di Gapoktan Desa Hasang Kecamatan Kualuh Selatan pada awal program dan setelah berjalannya program PUAP.

6.7.3 Alat-Alat Pertanian

Jenis alat-alat pertanian yang umumnya digunakan dalam kegiatan usahatani domba antara lain cangkul, parang, arit dan ember. Rata-rata jumlah alat pertanian yang dimiliki petani responden adalah sebanyak satu buah. Nilai penggunaan dari masing-masing alat pertanian yang digunakan disajikan pada Tabel 15.

Tabel 15. Rata-Rata Nilai Penggunaan Peralatan Pada Usahatani Domba Desa Hasang Kecamatan Kualuh Selatan Labuhan Batu.

No. Jenis Peralatan Jumlah Yang Dimiliki Harga/Satuan (Rp) Nilai Ekonomis (Rp) Umur teknis (tahun) 1 Cangkul 1 50.000 50.000 4 2 Parang 1 30.000 30.000 2 3 Arit 1 15.000 15.000 2 4 Ember 1 20.000 20.000 1 Jumlah 4 115.000 115.000 9

Sumber: Data Primer, diolah

68 terbesar dikeluarkan untuk pembelian alat cangkul yakni sebesar Rp 50.000 per unitnya. Pengeluaran terbesar ke dua adalah pengadaan parang yaitu sebesar Rp 30.000. Sedangkan untuk pengeluaran ember sebesar Rp 30.000,dan terakhir adalah pengadaan arit biayanya sebesar Rp 15.000.

Para petani yang tergabung dalam anggota Gapoktan Desa Hasang di Kecamatan Kualuh Selatan umumnya tidak selalu membeli alat pertanian selama satu tahun. Pertimbangannnya adalah alat-alat pertanian tersebut masih layak dan dapat dimanfaatkan beberapa kali sampai sudah tidak layak digunakan lagi, sehingga yang diperhitungkan dalam analisis pendapatan hanya nilai penyusutan dari penggunaan alat-alat pertanian tersebut. Nilai penyusutan dari peralatan yang digunakan oleh petani responden dapat dilihat pada Tabel 16. Perhitungan nilai penyusutan dilakukan dengan metode garis lurus dimana formulasinya sebagai berikut:

Penyusutan

Nilai ekonomis Umur ekonomis

Tabel 16. Nilai Penyusutan Peralatan Pada Usahatani Petani Responden Anggota Gapoktan di Kecamatan Kualuh Selatan

No. Jenis Peralatan Nilai Ekonomis (Rp) Umur Ekonomis (Tahun) Nilai Penyusutan (Rp)/tahun 1 Cangkul 50.000 4 12.500 2 Parang 30.000 2 15.000 3 Arit 15.000 2 7.500 4 Ember 20.000 1 20.000 Jumlah 55.000

Sumber: Data Primer, diolah

Peralatan petani responden pada umumnya memiliki umur ekonomis satu sampai empat tahun dan proses usahatani ini dilakukan dalam satu tahun. Berdasarkan Tabel 16 diketahui bahwa nilai penyusutan peralatan pertanian yang digunakan oleh petani responden yakni sebesar Rp 55.000 per tahun, terdiri dari nilai penyusutan cangkul sebesar Rp 12.500, nilai penyusutan parang sebesar

Rp 15.000, nilai penyusutan arit sebesar Rp 7.500, dan nilai penyusutan ember sebesar Rp 20.000.

Besarnya nilai penyusutan alat-alat pertanian pada awal berjalannya program dan setelah berjalannya program PUAP tidak mengalami perubahan. Alat-alat pertanian tersebut memang sudah ada ketika para petani memulai usahataninya. Namun biaya pengeluaran akan kembali dipergunakan apabila alat-alat pertanian sudah tidak layak pakai lagi dan harus digantikan dengan peralat-alatan yang baru.

6.7.4 Output Usahatani

Output usahatani domba merupakan tolak ukur keberhasilan usahatani di Desa Hasang. Dilihat dari pertambahan domba dan penerimaan yang diperoleh petani, domba yang sudah dipelihara memiliki pertambahan yang sangat baik. Untuk lebih lengkapnya pertambahan domba pada awal program PUAP dan setelah berjalannya program PUAP disajikan pada Tabel 17.

Tabel 17. Jumlah Domba Pada Awal Berjalannya PUAP dan Setelah Berjalannya PUAP.

Uraian Awal berjalan

PUAP

Setelah berjalan PUAP

Produksi (ekor) (A) 200 349

Harga Jual (Rp/Kg) (B) 16.000 16.000

Berat rata-rata (C) 30 30

Penerimaan (Rp) (AxBxC) 96.000.000 167.520.000

Sumber: Data Primer, diolah

Dari Tabel 17 dapat dijelaskan bahwa jumlah pertambahan domba setelah berjalannya PUAP sangat signifikan, karena dilihat pada awal pemberian domba didapat sebanyak 200 ekor domba dan dari 200 ekor mengalami pertambahan sebesar 149 ekor jadi total jumlah menjadi 349 ekor. Melihat pertambahan jumlah domba ini maka dapat dilihat pertambahan tabungan petani dalam bentuk domba sangat baik. Sesuai dengan survei dilapangan petani merasa sangat senang dengan

70 bantuan tersebut karena dengan memelihara selama setahun para petani sudah memiliki pertambahan domba yang cukup banyak.

6.7.5 Pendapatan Anggota Gapoktan Awal dan Setelah Berjalannya PUAP Pendapatan yang digunakan dalam analisis adalah pendapatan usaha rata-rata, yaitu total penerimaan usaha dikurangi dengan total biaya pengeluaran usahatani domba milik petani. Pendapatan usahatani diperoleh dengan cara mengurangkan penerimaan rata-rata dengan biaya rata-rata yang dikeluarkan. Biaya yang dikeluarkan meliputi biaya tunai dan biaya yang diperhitungkan yang jika dijumlahkan menjadi biaya total usahatani. Sedangkan pendapatan tunai usahatani merupakan pengurangan antara penerimaan tunai dengan total biaya tunai.

Penerimaan usahatani adalah nilai produksi yang diperoleh dalam jangka waktu tertentu. Penerimaan usahatani merupakan hasil perkalian antara jumlah produksi total domba dengan harga jual dari hasil produksi tersebut. Sedangkan biaya usahatani yakni nilai penggunaan faktor-faktor produksi yang digunakan dalam melakukan proses produksi usahatani. Biaya dalam usahatani dibedakan menjadi biaya tunai dan biaya yang diperhitungkan. Biaya tunai usahatani merupakan pengeluaran tunai yang dikeluarkan oleh petani untuk pembelian barang dan jasa bagi usahataninya. Sedangkan biaya yang diperhitungkan adalah pengeluaran yang secara tidak tunai dikeluarkan oleh petani. Biaya tunai meliputi biaya yang dikeluarkan untuk pengadaan obat-obatan, suplemen tambahan, kandang, angsuran pinjaman. Sedangkan yang termasuk dalam biaya yang diperhitungkan meliputi biaya tenaga kerja dalam keluarga, biaya penyusutan alat pertanian dan biaya material kandang.

Pendapatan usahatani dihitung pada awal berjalannya program PUAP sampai dengan setelah berjalannya program PUAP terhitung selama satu tahun yaitu tahun 2009 dan pendapatan rata-rata diukur dalam satuan rupiah. Dalam perhitungan usahatani ini didasarkan dari rata-rata kepemilikan domba oleh petani pada awal dan setelah berjalannya program PUAP seperti pada Tabel 18.

Tabel 18. Jumlah Rata-Rata Kepemilikan Domba Oleh Petani Pada Awal dan Setelah Berjalannya PUAP

Awal berjalannya PUAP (ekor) Setelah berjalannya PUAP (ekor) Jumlah petani (orang) Rata-rata awal PUAP (ekor) Rata-rata setelah PUAP (ekor) 200 349 53 4 7

Sumber: Data Primer, diolah

Berdasarkan Tabel 18 pada awal program PUAP rata-rata kepemilikan domba sebanyak 4 ekor untuk satu petani, hasil ini didapat dari jumlah penyaluran domba diawal program sebanyak 200 dan yang mengambil domba sebanyak 53 orang sehingga dari hasil pembagian tersebut didapat jumlah rata-rata 4 ekor dalam satu petani. Selanjutnya setelah program PUAP berjalan selama satu tahun domba yang diternakkan mengalami pertambahan sebanyak 149 dari awal 200 ekor, sehingga dengan pertambahan tersebut jumlah total domba sebanyak 349 ekor. Dari jumlah total domba sebanyak 349 ekor dengan jumlah petani yang mengambil domba sebanyak 53 orang maka didapat jumlah rata-rata per petani mendapat domba sebanyak 7 ekor. Dalam perhitungan usahatani dilakukan tidak dengan secara menyeluruh atau satu persatu petani akan tetapi dilakukan perhitungan berdasarkan hasil rata-rata pada awal dan setelah program PUAP. Untuk lebih lengkapnya dalam perhitungan usahatani dapat disajikan pada Tabel 19. Pada Tabel 19 merupakan analisis pendapatan usahatani ternak domba selama kurun waktu 1,1 tahun. Untuk perhitungan bunga pembayaran bunga selama 1,1 tahun dapat dilihat pada Lampiran 2.

72 Tabel 19. Pendapatan Usahatani Domba Rata-Rata Petani Desa Hasang awal

berjalan dan Setelah berjalan PUAP .

Sumber : Data primer, diolah

Berdasarkan Tabel 19 dapat dijelaskan bahwa penerimaan tunai anggota Gapoktan diperoleh dari hasil kali antara jumlah ekor dan bobot rata-rata dengan harga jualnya. Pada awal berjalannya program PUAP, jumlah rata-rata domba Gapoktan Desa Hasang per petani sebanyak 4 ekor dengan rata-rata bobot badan sebesar 30 kg dengan harga jual Rp 16.000 per kilogramnya, sehingga penerimaan tunai yang diperoleh petani anggota Gapoktan adalah sebesar Rp 1.920.000. Namun, setelah berjalannya program PUAP maka jumlah produksi yang

Uraian Satuan Awal berjalan PUAP (Rp) Setelah berjalan PUAP (Rp) Jumlah domba 4 7 Harga domba/kg 16.000 16.000

Berat rata-rata domba/kg 30 30

A. Penerimaan

A1. Penerimaan Tunai Domba Kg 1.920.000 3.360.000