IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.3. Dampak segera Perubahan Harga BBM Terhadap Ongkos dan
Cianjur
Terdapat tiga sumber penggunaan bahan bakar minyak (BBM) dalam usahatani, yaitu: (a) penggunaan alat dan mesin pertanian (alsintan), (b) penggunaan alat angkut yang menggunakan BBM, dan (c) BBM sebagai bahan penerangan dan pemanas, terutama pada usaha peternakan. Untuk alat angkut, pada kegiatan usahatani digunakan untuk mengangkut hasil pertanian dari lahan usahatani ke rumah petani penggarap atau ke jalan terdekat yang dapat dilalui kendaraan roda 4. Hal ini dilakukan dalam rangka penjualan hasil pertanian kepada pembeli. Karena jenis BBM yang digunakan oleh mesin pertanian maupun alat angkut yang menggunakan BBM adalah bensin dan solar, maka kedua jenis BBM inilah yang banyak digunakan dalam usahatani.
Intensitas penggunaan BBM dalam usahatani secara umum dipengaruhi oleh banyaknya jenis mesin pertanian yang digunakan dalam mengelola usahatani, serta jenis alat angkut yang digunakan untuk mengangkut hasil. Jenis mesin pertanian dan penggunaannya pada usahatani yang dianalisis dalam penelitian ini adalah: (a) mesin traktor yang digunakan untuk pengolahan lahan usahatani padi, (b) pompa air untuk pengairan lahan usahatani atau penyiraman tanaman, (c) power thesher untuk perontokan hasil panen padi. Masing-masing dilakukan di dua kabupaten sentra produksi padi yaitu di Kabupaten Subang dan Kabupaten Cianjur.
35
Perlu dikemukakan bahwa dengan semakin naiknya harga BBM maka ada indikasi petani sebagai pengguna BBM, berinovasi untuk merubah penggunaan BBM ke penggunaan gas LPG (Liquid Petroleum Gas), dan dari hasil wawancara efisiensi penggunaan BBG dapat mencapai 50% lebih dibanding dengan penggunaan BBM. Teknik inovasi yang ditempuh adalah dengan cara memodifikasi karbutor dengan menambah regulator gas dan slang/pipa gas. Hal ini menjadi hal yang sangat menarik untuk dikaji lebih lanjut terkait dengan semakin langkanya BBM yang bersumber dari minyak bumi. Kegiatan substitusi BBM oleh LPG untuk bahan bakar pompa air ini terutama berada di lokasi penelitian Kabupaten Subang.
Disamping itu, kompatibilitas penggunaan BBG kedepan adalah menjadi tantangan tersendiri dengan adanya pengembangan bio-energi gas methana yang bersumber dari biomasa pertanian. Kajian yang perlu ditindaklanjuti terkait dengan penggunaan BBG untuk sektor pertanian adalah : (a) kajian tentang modifikasi berbagai karburator (alat untuk meng-karburasi bahan bakar ke dalam silinder mesin untuk dikompresi menjadi energi) pada berbagai alat mekanisasi pertanian yang digunakan di pedesaan, (b) kajian tentang teknologi praktis yang dapat merubah bio-masa menjadi sumber energi gas di pedesaan, dan (c) peningkatan capacity building para operator alsintan di perdesaan dalam mengadaptasi dan modifikasi alat-alat pertanian sesuai dengan kondisi lokal dan perubahan regional (termasuk kenaikan harga BBM).
Pembahasan intensitas penggunaan BBM dalam usahatani akan dilakukan menurut kabupaten lokasi penelitian yang dikunjungi dan di masing-masing kabupaten tersebut pembahasan akan dilakukan menurut jenis alat pertanian yang diteliti.
4.3.1. Kabupaten Subang Usaha Traktor
Untuk melihat dampak penggunaan BBM, akan dilihat bagaimana dampak terhadap proporsi struktur ongkos usaha dan pendapatan pada usaha traktor tangan di Kabupaten Subang. Hasil analisis disajikan pada Tabel 24.
Berdasarkan Tabel 24 tersebut diperoleh informasi bahwa pangsa penggunaan BBM pada usaha traktor tangan untuk mengolahan lahan per hektar sawah sebelum
36
terjadi kenaikan harga BBM per Desember 2014 senilai Rp. 136.500 atau sebesar 13,93% dari total penerimaan jasa sewa (Rp. 980.000/ha). Adapun total biaya usaha jasa traktor senilai Rp. 701.269 atau sebesar 71,56% terhadap penerimaan, dan keuntungan usaha traktor sebesar Rp. 278.731/ha atau sekitar 28,44% dari penerimaan serta perolehan R/C rasio sebesar 1,40. Pada saat segera setelah kenaikan harga BBM khususnya solar naik dari dari Rp. 5.500/liter menjadi Rp. 7.500/liter (naik sekitar 36,36%), maka yang terjadi pada struktur ongkos usaha traktor adalah: (a) pangsa ongkos penggunaan BBM terhadap penerimaan (penerimaan tetap) naik menjadi 18,21% atau kenaikan nominal biaya BBM sebesar Rp. 42000/ha (36,36%), (b) pangsa total ongkos usaha traktor naik sebesar Rp. 42000/ha (naik 5,99%) atau pangsanya terhadap penerimaan naik menjadi 75,84%, dan (c) keuntungan usaha menurun menjadi Rp. 236.731/ha (-15,07%) atau pangsanya terhadap penerimaan turun menjadi 24,16%.
Tabel 24. Struktur Ongkos dan Harga Sewa Traktor untuk Padi per hektar di Kabupaten Subang, Jawa Barat, 2014
No. Komponen
Sebelum kenaikan harga BBM
Segera setelah kenaikan harga BBM
Setelah penyesuaian harga faktor input dan penerimaan Nilai
(Rp) Pangsa (%) (Rp) Nilai Pangsa (%) Perubahan (%) Nilai (Rp) Pangsa (%) Perubahan (%)
1 Biaya: 1.1. BBM 136,500 13.93 178,500 18.21 36.36 178,500 15.84 36.36 1.2. Oli: - - - a. Mesin 14,940 1.52 14,940 1.52 - 14,940 1.33 - b. Gardan 2,494 0.25 2,494 0.25 - 2,868 0.25 - c. Gemuk/Stempet 2,493 0.25 2,493 0.25 - 2,867 0.25 -
1.3. Spare Part &
Service 62,843 6.41 62,843 6.41 - 72,269 6.41 -
1.4. Penyusunan 90,000 9.18 90,000 9.18 - 103,500 9.18 -
1.5. Operator 392,000 40.00 392,000 40.00 - 450,800 40.00 -
1.6. Total 701,269 71.56 743,269 75.84 5.99 825,744 73.27 17.75
2 Pedapatan dari Sewa 980,000 100.00 980,000 100.00 - 1,127,000 100.00 15.00
3 Keuntungan 278,731 28.44 236,731 24.16 (15.07) 301,256 26.73 8.08
4 R/C rasio 1.40 1.32 1.36
Parameter yang digunakan :
1. Areal layanan 10 ha per thn (2 musim) 2. Harga traktor Rp 20 jt
3. Umur ekonomis 5 tahun 4. Nilai sisa 10%
5. Harga penyesuaian 15% pada faktor input dan harga sewa
37
Lebih lanjut dari Tabel 24, juga menunjukkan bahwa setelah terjadi penyesuaian harga jasa penyewaan traktor dan harga-harga input, ternyata pangsa biaya BBM terhadap penerimaan dan total biaya meningkat dibandingkan dengan sebelum terjadinya kenaikan harga BBM. Namun seiring dengan naiknya harga BBM, maka jasa sewa traktor pun akan naik menjadi Rp. 1.127.000/ha atau naik sebesar 15% dari kondisi sebelum naik BBM. Naiknya jasa sewa traktor ternyata mampu mengkompensasi atas naiknya biaya total termasuk didalamnya biaya BBM, dan hal ini terbukti dengan perolehan keuntungan usaha sebesar Rp. 301.256/ha (naik sebesar 8,08%) dan pangsa keuntungan terhadap penerimaan mencapai 26,73%.
Didalam konteks bisnis, pelaku bisnis selalu mengantisipasi dan melakukan penyesuaian terhadap apa terjadi perubahan disekitarnya termasuk perubahan harga input (BBM). Pada saat penelitian ini, dimana baru dua hari terjadinya kenaikan harga BBM, maka harga penyesuaian diperoleh dari kecenderungan para pelaku usaha dalam melakukan penyesuaian harga jual jasa dan harga faktor input lainnya, seperti onderdil dan service. Berdasarkan hasil wawacara dan survey harga-harga barang sembako di pasar tradisional, maka rencana operator untuk menyesuaikan harga BBM yaitu dengan menaikan harga jual jasa sebesar 10-20% atau rata-rata sekitar 15%. Oleh karena itu, kenaikan harga jual jasa dan faktor input diterapkan kenaikan 15%. Dengan kenaikan tersebut maka akan terjadi pergeseran kepada keseimbangan baru dalam usaha traktor tersebut.
Berdasarkan Tabel 24 tersebut di atas menunjukkan bahwa setelah terjadi penyesuaian harga jual jasa dan penyesuian harga-harga input, maka pada nyatanya tetap bahwa pangsa biaya BBM dan total biaya terjadi kenaikan dibanding dengan sebelum terjadinya kenaikan harga BBM dan sebaliknya pangsa keuntungan terjadi penurunan menjadi 26,73%. Namun demikian karena penerimaan naik 15%, maka bagi pengusaha traktor tangan setelah terjadi keseimbangan baru memperoleh kenaikan nominal sebesar 8,08%.
38
Usaha Pompa Air
Intensitas penggunaan BBM dan pengaruh terhadap kinerja usaha pompa air untuk irigasi secara rinci dapat disimak pada Tabel 25. Berdasarkan tabel tersebut dapat dijelaskan bahwa komponen biaya BBM pangsanya lebih besar dibanding dengan usaha traktor. Pangsa penggunaan BBM pada usaha pompa air untuk mengairi lahan per hektar sebelum terjadi kenaikan harga BBM per Desember 2014 senilai Rp. 38.500 atau sebesar 27,50% dari total penerimaan jasa pompa (Rp. 140.000/hari). Adapun total biaya usaha pompa senilai Rp. 50.8500 atau sebesar 36,32% terhadap penerimaan, dan keuntungan usaha pompa air sebesar Rp. 89.150/hari atau sekitar 63,68% dari penerimaan serta perolehan R/C rasio sebesar 2,75. Pada saat segera setelah kenaikan harga BBM khususnya solar naik dari dari Rp. 5.500/liter menjadi Rp. 7.500/liter (naik sekitar 36,36%), maka yang terjadi pada struktur ongkos usaha pompa air adalah: (a) pangsa ongkos penggunaan BBM terhadap penerimaan (penerimaan tetap) naik menjadi 37,50% atau kenaikan nominal biaya BBM sebesar Rp. 14000/hari (36,36%), (b) pangsa total ongkos usaha pompa air naik sebesar Rp. 14.000/hari (naik 27,53%) atau pangsanya terhadap penerimaan naik menjadi 46,32%, dan (c) keuntungan usaha menurun menjadi 75.150/hari (-15,70%) atau pangsanya terhadap penerimaan turun menjadi 53,68%.
Setelah terjadi penyesuaian harga jasa penyewaan pompa air dan harga-harga input, ternyata pangsa biaya BBM terhadap penerimaan dan total biaya meningkat dibandingkan dengan sebelum terjadinya kenaikan harga BBM. Namun seiring dengan naiknya harga BBM, maka jasa sewa pompa air pun naik menjadi Rp. 161.000/hari atau naik sebesar 15,00% dari kondisi sebelum naik BBM. Naiknya jasa sewa pompa air ternyata mampu terkompensasi atas naiknya biaya total termasuk didalamnya biaya BBM, dan hal ini terbukti dengan perolehan keuntungan usaha naik sebesar Rp. 5.598/hari (naik dibanding sebelum kenaikan sekitar 6,28%) dan pangsa keuntungan terhadap penerimaan mencapai 58,85%.
39
Tabel 25. Struktur Ongkos dan Harga Sewa Pompa Air untuk Padi di Kabupaten Subang, Jawa Barat, 2014 (BB-Solar)
No. Komponen
Sebelum kenaikan
harga BBM Segera setelah kenaikan harga BBM faktor input dan penerimaan Setelah penyesuaian harga Nilai (Rp) Pang-sa (%) Nilai (Rp) Pang-sa (%) bahan
Peru-(%) Nilai (Rp) Pangsa (%) Peru-bahan (%) 1 Biaya: 1.1. BBM 38,500 27.50 52,500 37.50 36.36 52,500 32.61 36.36 1.2. Oli: - - - a. Mesin 3,000 2.14 3,000 2.14 - 3,000 1.86 - b. Gardan - - - - - - - - c. Gemuk /stempet - - - - - - - - 1.3. Spare part & Service 1,850 1.32 1,850 1.32 - 2,128 1.32 - 1.4. Pe- nyusutan 7,500 5.36 7,500 5.36 - 8,625 5.36 - 1.5. Ope- rator - - - - - - - - 1.6.Total 50,850 36.32 64,850 46.32 27.53 66,253 41.15 30.29 2 Pedapatan dari Sewa 140,000 100.00 140,000 100.00 - 161,000 100.00 15.00 3 Keuntu-ngan 89,150 63.68 75,150 53.68 (15.70) 94,748 58.85 6.28
4 R/C rasio 2.75 2.16 2.43
Parameter yang digunakan:
1. Bekerja 20 hari per musim, jam kerja 7 jam per hari 2. Harga mesin+ Pompa+Selang isap dan dorong Rp 5 jt 3. Umur ekonomis 15 tahun
4. Nilai sisa 10%
5. Harga penyesuaian 15% pada faktor input dan harga sewa
6. Perubahan harga bahan bakar solar dari Rp 5.500 menjadi Rp 7.500 /liter (37.5%) 7. Penyesuaian harga input (onderdil) dan ongkos sewa pompa adalah 15%
Sebagaimana telah diungkapkan pada uraian sebelumnya bahwa dalam kondisi dimana perubahan yang terjadi menyebabkan kondisi petani tertekan, dan terdapat sebagian petani atau pengusaha yang melakukan adaptasi atau penyesuaian terhadap perubahan tersebut. Pada kasus di Kabupaten Subang, dengan kenaikan harga BBM ada pengusaha pompa air yang melakukan modifikasi karburator mesin penggerak pompanya supaya dapat menggunakan bahan bakar GAS (BBG).
Setelah diperhitungkan secara finansial, menurut pengusaha bahwa penggunaan BBG lebih efisien dan lebih menguntungkan dibanding dengan menggunakan BBM.
40
Kondisi struktur ongkos pada usaha pompa untuk pengairan lahan usahatani di Kabupaten Subang disajikan pada Tabel 26.
Tabel 26. Struktur Ongkos dan Harga Sewa Pompa Air untuk Padi di Kabupaten Subang, Jawa Barat, 2014 (BB-Gas).
No. Komponen
Sebelum kenaikan
harga BBM Segera setelah kenaikan harga BBM faktor input dan penerimaan Setelah penyesuaian harga Nilai (Rp) Pang-sa (%) Nilai (Rp) Pang-sa (%) Peru-bahan (%) Nilai (Rp) Pangsa (%) Peru-bahan (%) 1 Biaya: 1.1. Gas 3 kg 20,000 14.29 22,000 15.71 10.00 22,000 13.66 10.00 1.2. Oli: - - - a. Mesin 3,000 2.14 3,000 2.14 - 3,000 1.86 - b. Gardan - - - - - - - - c. Gemuk /Stempet - - - - - - - - 1.3. Spare part & Service 2,950 2.11 2,950 2.11 - 3,393 2.11 - 1.4. Penyusutan 7,500 5.36 7,500 5.36 - 8,625 5.36 - 1.5. Operator - - - - - - - - 1.6. Total 33,450 23.89 35,450 25.32 5.98 37,018 22.99 10.67 2 Pendapatan dari Sewa 140,000 100.00 140,000 100.00 - 161,000 100.00 15.00 3 Keuntungan 106,550 76.11 104,550 74.68 (1.88) 123,983 77.01 16.36 4 R/C rasio 4.19 3.95 4.35
Parameter yang digunakan : 1. Bekerja 20 hari per musim
2. Harga mesin pompa + selang dan selang hisap Rp 5 jt 3. Umur ekonomis 15 tahun
4. Nilai sisa 10 %
5. Jam kerja pompa 7 jam per hari 6. Ongkos kenversi mesin Rp 120000/600 7. Bahan yang digunakan adalah GAS LPG 8. Penyesuaian harga GAS adalah 10%
9. Penyesuaian harga input (onderdil) dan penerimaan 15%
Sebelum kenaikan, ongkos pompa dengan menggunakan BBG pangsanya terhadap penerimaan lebih rendah yaitu hanya 14,29%, sedangkan pompa yang menggunakan BBM pangsanya 27,50%. Hal yang sama pada pangsa total biaya pompa yang menggunakan BBG juga lebih rendah yaitu hanya 23,89% terhadap penerimaan, dan yang menggunakan BBM mencapai 36,32%. Adapun tingkat keuntungan pompa dengan penggunaan BBG mencapai ini Rp. 106.550/hari dengan pangsa terhadap penerimaan mencapai 76,11%, sedangkan pompa yang memakai BBM perolehan keuntungan usahanya Rp. 89.150/hari dengan pangsa terhadap penerimaan sekitar
41
63,68%. Sesaat setelah kanaikan harga BBM, memberikan implikasi terhadap kenaikan harga BBG di lokasi penelitian sekitar 10%. Kenaikan harga BBG sebagai segera setelah kenaikan harga BBM, memberikan dampak penurunan keuntungan usaha pompa sekitar 1,88%, sedangkan usaha pompa yang menggunakan BBM penurunannya sekitar 15,70%.
Dengan demikian, usaha pompa yang menggunakan BBG setelah terjadi penyesuaian harga faktor input dan harga penjualan jasa pompa, terjadi kenaikan keuntungan yang lebih tinggi yaitu mencapai 16,36%, sedangkan pada usaha pompa yang mengunakan BBM kenaikan keuntungannya hanya sekitar 6,28%.
USAHA Rice Milling Unit (RMU)
Intensitas penggunaan BBM dan pengaruh terhadap kinerja usaha RMU secara rinci dapat disimak pada Tabel 27 berikut. Berdasarkan tabel tersebut diperoleh informasi bahwa dampak kenaikan harga BBM terhadap usaha RMU agak berbeda dibandingkan dengan alat mesin pertanian lainnya. Secara rinci intensitas penggunaan BBM serta dampak dari kenaikan harga BBM dapat disajikan pada Tabel 27.
Pada usaha RMU untuk setiap 100 kg gabah yang digiling sebelum kenaikan harga BBM komponen biaya BBM pangsanya sedikit lebih besar dibanding dengan usaha traktor. Penggunaan BBM pada usaha RMU untuk mengolah gabah jadi beras sebelum terjadi kenaikan harga BBM per Desember 2014 senilai Rp. 3.850 atau sebesar 16,71% terhadap total penerimaan jasa RMU (Rp. 23.040/100 kg gabah). Adapun total biaya usaha RMU senilai Rp. 21.045 atau sebesar 91,34% terhadap penerimaan, dan keuntungan usaha RMU sebesar Rp. 1.995/100 kg gabah atau sekitar 8,66% terhadap penerimaan serta perolehan R/C rasio sebesar 1,09. Pada saat segera setelah kenaikan harga BBM khususnya solar naik dari dari Rp. 5.500/liter menjadi Rp. 7.500/liter (naik sekitar 36,36%), maka yang terjadi pada struktur ongkos usaha RMU adalah: (a) pangsa ongkos penggunaan BBM terhadap penerimaan (penerimaan tetap) naik menjadi 22,79% atau kenaikan nominal biaya BBM sebesar Rp. 1.400/100 kg gabah (naik 36,36%), (b) pangsa total ongkos usaha RMU naik sebesar Rp. 1.475/100 kg gabah (naik 7,01%) atau pangsanya terhadap penerimaan naik menjadi 97,74%, dan
42
(c) keuntungan usaha menurun menjadi Rp. 520/100 kg gabah (-73,92%) atau pangsanya terhadap penerimaan turun menjadi 2,26%.
Tabel 27. Struktur Ongkos dan Pendapatan Usaha RMU di Kabupaten Subang, Jawa Barat, 2014 (ongkos per 100 kg gabah)
No. Komponen
Sebelum kenaikan harga
BBM
Segera setelah kenaikan
harga BBM faktor input dan penerimaan Setelah penyesuaian harga Nilai
(Rp) Pangsa (%) (Rp) Nilai Pangsa (%) Perubahan (%) (Rp) Nilai Pangsa (%) Perubahan (%) 1 Biaya: 1.1. BBM Solar 3,850 16.71 5,250 22.79 36.36 5,250 19.81 36.36 1.2. Oli: - - - a. Mesin 525 2.28 600 2.60 - 600 2.26 - b. Gardan - - - - - - - - c. Gemuk/ Stempet 15 0.07 15 0.07 - 18 0.07 - 1.3. Spare part & Service 429 1.86 429 1.86 - 493 1.86 - 1.4. Penyusutan 865 3.76 865 3.76 - 995 3.76 - 1.5. Operator 15,360 66.67 15,360 66.67 - 17,664 66.67 - 1.6.Total 21,045 91.34 22,520 97.74 7.01 25,020 94.43 18.89 2 Pedapatan dari Sewa 23,040 100.00 23,040 100.00 - 26,496 100.00 15.00 3 Keuntungan 1,995 8.66 520 2.26 (73.92) 1,476 5.57 (26.03) 4 R/C rasio 1.09 1.02 1.06
Parameter yang digunakan :
1. Upah/biaya giling 6 liter beras setiap 100 kg menggiling gabah 2. Upah operator (2-3 orang) 40% dari penerimaan
3. Kenaikan harga solar dari Rp 5.500 menjadi Rp 7.500 (36,36%) 4. Harga penyesuaian untuk input (onderdil) dan penerimaan adalah 15%
Setelah terjadi penyesuaian harga jasa penyewaan RMU dan harga-harga input, ternyata pangsa biaya BBM terhadap penerimaan dan total biaya meningkat dibandingkan dengan sebelum terjadinya kenaikan harga BBM. Namun seiring dengan naiknya harga BBM, maka jasa RMU pun naik menjadi Rp. 26.496/100 kg gabah atau naik sebesar 15% dari kondisi sebelum naik BBM. Naiknya jasa RMU ternyata belum mampu mengkompensasi atas naiknya biaya total termasuk didalamnya biaya BBM, dan hal ini terbukti dengan perolehan keuntungan usaha sebesar Rp. 1.476/100 kg gabah (turun dibanding sebelum kenaikan sekitar 26,03%) dan pangsa keuntungan terhadap penerimaan mencapai 5,57%.
43
4.3.2. Kabupaten Cianjur
Pada analisis lingkup mikro ini, akan dilihat volume penggunaan dan kemudian nilainya diperbandingkan dengan harga sebelum dan setelah kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) (per Desember 2014) untuk aktivitas di sektor pertanian. Aktivitas kegiatan yang berhubungan dengan kegiatan pertanian dimaksud adalah penggunaan alat dan mesin pertanian (alsintan) untuk kegiatan usahatani. Alat dan mesin pertanian yang dianalisis atas penggunaan BBM, mencakup: alat dan mesin pengolahan lahan (hand tractor), pompa air untuk mengairi lahan sawah disaat musim kemarau, dan mesin pengolah padi menjadi beras (Rice Milling Unit/RMU). BBM yang digunakan pada alsintan umumnya adalah bensin dan solar.
Usaha Traktor
Untuk melihat intensitas penggunaan BBM, sejauh dampak terhadap proporsi struktur ongkos usaha dan pendapatan pada usaha traktor tangan di Kabupaten Cianjur disajikan pada Tabel 28. BBM yang digunakan untuk traktor di Kabupaten Cianjur adalah solar.
Berdasarkan Tabel 28 tersebut diperoleh informasi bahwa pangsa penggunaan BBM pada usaha traktor tangan untuk mengolahan lahan per hektar sawah sebelum terjadi kenaikan harga BBM per Desember 2014 senilai Rp. 44.000 atau sebesar 4,49% dari total penerimaan jasa sewa (Rp. 980.000/ha). Adapun total biaya usaha jasa traktor senilai Rp. 733.800 atau sebesar 74,66% terhadap penerimaan, dan keuntungan usaha traktor sebesar Rp. 246.200/ha atau sekitar 24,10% dari penerimaan serta perolehan R/C rasio sebesar 1,34. Pada saat segera setelah kenaikan harga BBM khususnya solar naik dari dari Rp. 5.500/liter menjadi Rp. 7.500/liter (naik sekitar 36,36%), maka yang terjadi pada struktur ongkos usaha traktor adalah: (a) pangsa ongkos penggunaan BBM terhadap penerimaan (penerimaan tetap) naik menjadi 6,12% atau kenaikan nominal biaya BBM sebesar Rp 16000/ha (36,36%), (b) pangsa total ongkos usaha traktor naik sebesar Rp. 10.000/ha (naik 1,36%) atau pangsanya terhadap penerimaan naik menjadi 75,90%, dan (c) keuntungan usaha menurun
44
menjadi Rp. 236.200/ha (-4,06%) atau pangsanya terhadap penerimaan turun menjadi 24,10%.
Tabel 28. Struktur Ongkos dan Harga Sewa Traktor untuk Padi per hektar di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, 2014.
No. Komponen
Sebelum kenaikan
harga BBM Segera setelah kenaikan harga BBM Setelah penyesuaian harga faktor input dan penerimaan Nilai (Rp) Pangsa (%) Nilai (Rp) Pangsa (%) Perubahan (%) Nilai (Rp) Pangsa (%) Perubahan (%) 1 Biaya: 1.1. BBM 44,000 4.49 60,000 6.12 36.36 60,000 5.32 36.36 1.2. Oli: - - - a. Mesin 24,000 2.45 18,000 1.84 - 18,000 1.60 - b. Gardan 8,000 0.82 8,000 0.82 - 9,200 0.82 - c. Gemuk/Stempet 1,000 0.10 1,000 0.10 - 1,150 0.10 -
1.3. Spare part &
Service 57,800 5.90 57,800 5.90 - 66,470 5.90 -
1.4. Penyusunan 207,000 21.12 207,000 21.12 - 238,050 21.12 -
1.5. Operator 392,000 40.00 392,000 40.00 - 450,800 40.00 -
1.6.Total 733,800 74.88 743,800 75.90 1.36 843,670 74.86 14.97
2 Pendapatan dari Sewa 980,000 100.00 980,000 100.00 - 1,127,000 100.00 15.00
3 Keuntungan 246,200 25.12 236,200 24.10 (4.06) 283,330 25.14 15.08
4 R/C rasio 1.34 1.32 1.34
Parameter yang digunakan:
1. Perubahan harga solar dari Rp 5.500 menjadi Rp 7.500 (36,36%) 2. Penyesuaian harga input (onderdil) dan penerimaan 15%
Lebih lanjut dari Tabel 28, juga menunjukkan bahwa setelah terjadi penyesuaian harga jasa penyewaan traktor dan harga-harga input, ternyata pangsa biaya BBM terhadap penerimaan dan total biaya meningkat dibandingkan dengan sebelum terjadinya kenaikan harga BBM. Namun seiring dengan naiknya harga BBM, maka jasa sewa traktor pun akan naik menjadi Rp. 1.127.000/ha atau naik sebesar 15% dari kondisi sebelum naik BBM. Naiknya jasa sewa traktor ternyata mampu mengkompensasi atas naiknya biaya total termasuk didalamnya biaya BBM, dan hal ini terbukti dengan perolehan keuntungan usaha sebesar Rp. 283.330/ha (naik sebesar 15,08%) dan pangsa keuntungan terhadap penerimaan mencapai 25,14%.
Usaha Pompa Air
Untuk intensitas penggunaan BBM dan pengaruhnya terhadap kinerja usaha pompa air untuk irigasi secara rinci pada Tabel 29. Berdasarkan tabel tersebut dapat dijelaskan bahwa komponen biaya BBM pangsanya lebih besar dibanding dengan usaha traktor. Pangsa penggunaan BBM pada usaha pompa air untuk mengairi lahan per
45
hektar sebelum terjadi kenaikan harga BBM per Desember 2014 senilai Rp. 38.500 atau sebesar 27,50% dari total penerimaan jasa pompa (Rp. 140.000/hari). Adapun total biaya usaha pompa senilai Rp. 118.250 atau sebesar 84,46% terhadap penerimaan, dan keuntungan usaha pompa air sebesar Rp. 21.750/hari atau sekitar 15,54% dari penerimaan serta perolehan R/C rasio sebesar 1,18. Pada saat segera setelah kenaikan harga BBM khususnya solar naik dari dari Rp. 5.500/liter menjadi Rp. 7.500/liter (naik sekitar 36,36%), maka yang terjadi pada struktur ongkos usaha pompa air adalah: (a) pangsa ongkos penggunaan BBM terhadap penerimaan (penerimaan tetap) naik menjadi 37,50% atau kenaikan nominal biaya BBM sebesar Rp. 14000/hari (36,36%), (b) pangsa total ongkos usaha pompa air naik sebesar Rp. 14.000/hari (naik 11,84%) atau pangsanya terhadap penerimaan naik menjadi 94,46%, dan (c) keuntungan usaha menurun menjadi Rp. 7.750/hari (-64,37%) atau pangsanya terhadap penerimaan turun menjadi 5,54%.
Setelah terjadi penyesuaian harga jasa penyewaan pompa air dan harga-harga input, ternyata pangsa biaya BBM terhadap penerimaan dan total biaya meningkat dibandingkan dengan sebelum terjadinya kenaikan harga BBM. Namun seiring dengan naiknya harga BBM, maka jasa sewa pompa air pun naik menjadi Rp. 161.000/hari atau naik sebesar 21,38% dari kondisi sebelum naik BBM. Naiknya jasa sewa pompa air ternyata belum mampu mengimbangi atas naiknya biaya total termasuk didalamnya biaya BBM, dan hal ini terbukti dengan perolehan keuntungan usaha sebesar Rp. 17.463/hari (turun dibanding sebelum kenaikan sekitar -19,71%) dan pangsa keuntungan terhadap penerimaan mencapai 10,85%.
Untuk lokasi penelitian di Kabupaten Cianjur, tidak seperti halnya dengan di Kabupaten Subang dimana para petaninya belum melakukan modifikasi alat pompa air, sehingga BBM yang digunakan tetap solar. Belum ada petani yang menggunakan bahan bakar pompa air dengan gas (LPG).
46 Tabel 29. Struktur Ongkos dan Harga Sewa Pompa Air untuk Padi di Kabupaten Cianjur, Jawa
Barat, 2014 (BBM-Solar)
No. Komponen
Sebelum kenaikan harga
BBM Segera setelah kenaikan harga BBM
Setelah penyesuaian harga faktor input dan penerimaan Nilai (Rp) Pangsa (%) (Rp) Nilai Pangsa (%) Perubahan (%) Nilai (Rp) Pangsa (%) Perubahan (%) 1 Biaya: 1.1. BBM 38,500.00 27.50 52,500 37.50 36.36 52,500 32.61 36.36 1.2. Oli: - - - a. Mesin 4,500.00 3.21 4,500 3.21 - 4,500 2.80 - b. Gardan - - - - - - - - c. Gemuk 500.00 0.36 500 0.36 - 575 0.36 -
1.3. Spare part &
Service 5,000.00 3.57 5,000 3.57 - 5,750 3.57 - 1.4. Penyusutan 13,750.00 9.82 13,750 9.82 - 15,813 9.82 - 1.5. Operator 56,000.00 40.00 56,000 40.00 - 64,400 40.00 - 1.6.Total 118,250.00 84.46 132,250 94.46 11.84 143,538 89.15 21.38 2 Harga sewa 140,000.00 100.00 140,000 100.00 - 161,000 100.00 15.00 3 Keuntungan 21,750.00 15.54 7,750 5.54 (64.37) 17,463 10.85 (19.71) 4 R/C rasio 1.18 1.06 1.12
Parameter yang digunakan: 1. Bekerja 20 hari per musim 2. Harga mesin pompa+slang Rp 5 jt 3. Umur ekonomis 15 tahun
4. Nilai sisa 10%
5. Jam kerja poma 7 jam per hari
6. Kenaikan harga solar dari Rp 5.500 menjadi Rp 7.500 /ltr (36,36%) 7. Penyusuaian harga pada faktor iput (onderdil) dan penerimaan adalah 15%
USAHA Rice Milling Unit (RMU)
Adapun intensitas penggunaan BBM dan pengaruh terhadap kinerja usaha RMU secara rinci dapat disimak pada Tabel 30 berikut ini. Pada tabel tersebut menginformasikan bahwa dampak kenaikan harga BBM terhadap usaha RMU agak berbeda dibandingkan dengan alat mesin pertanian lainnya. Secara rinci intensitas penggunaan BBM serta dampak dari kenaikan harga BBM dapat di simak pada Tabel 30.
47 Tabel 30. Struktur Ongkos dan Pendapatan Usaha RMU di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat,
2014 (ongkos per 100 kg gabah)
No. Komponen
Sebelum kenaikan harga BBM
Segera setelah kenaikan harga BBM
Setelah penyesuaian harga faktor input dan penerimaan Nilai
(Rp) Pangsa (%) Nilai (Rp) Pangsa (%) Perubahan (%) (Rp) Nilai Pangsa (%) Perubahan (%) 1 Biaya: 1.1. BBM 1,650 5.08 2,250 6.92 36.36 2,250 6.02 36.36 1.2. Oli: - - - a. Mesin 160 0.49 120 0.37 - 120 0.32 - b. Gardan - - - - - - - - c. Gemuk 6 0.02 6 0.02 - 7 0.02 -
1.3. Spare Part &
Service 1,188 3.66 1,188 3.66 - 1,366 3.66 - 1.4. Penyustan 3,028 9.32 3,028 9.32 - 3,482 9.32 - 1.5. Operator 15,360 47.26 15,360 47.26 - 17,664 47.26 - 1.6. Total 21,392 65.82 21,952 67.54 2.62 24,889 66.59 16.35 2 Harga sewa 32,500 100.00 32,500 100.00 - 37,375 100.00 15.00 3 Keuntungan 11,108 34.18 10,548 32.46 (5.04) 12,486 33.41 12.40 4 R/C rasio 1.52 1.48 1.50
Parameter yang digunakan :
1. Upah giling adalah 6 lt untuk setiap 100 kg gabah 2. Operator (2-3 orang) 40% dari upah giling
3. Kenaikan harga solar dari Rp 5.500 menjadi Rp 7.500 /ltr (36,36%) 4. Penyusuaian harga pada faktor iput (onderdil) dan penerimaan adalah 15% 5. Kenaikan harga solar dari Rp 5.500 menjadi Rp 7.500 /ltr (36,36%) 6. Penyusuaian harga pada faktor iput (onderdil) dan penerimaan adalah 15%
Berdasarkan Tabel 30 tersebut menunjukkan bahwa dengan kenaikan harga BBM yang sama yakni 36.36% memberikan respon yang berbeda. Pada usaha RMU untuk setiap 100 kg gabah yang digiling sebelum kenaikan harga BBM komponen biaya BBM pangsanya lebih besar dibanding dengan usaha traktor. Penggunaan BBM pada usaha RMU untuk mengolah gabah jadi beras sebelum terjadi kenaikan harga BBM per