BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2 Dampak Suku Bunga terhadap Pembiayaan Defisit Anggaran
Karakteristik suku bunga sangat berpengaruh dalam mengambil keputusan investasi dan pembiayaan, karena suku bunga merupakan biaya pendanaaan di satu sisi dan merupakan tingkat hasil yang diharapkan disisi lain. Dengan memahami karakteristik suku bunga,dapat diperoleh biaya pendanaan yang paling efisien dan sebaliknya akan mencapai tingkat hasil yang diharapkan lebih besar. Berikut perkembangan tingkat suku bunga kredit investasi dari tahun 1985 – 2007.
Gambar 4.3. Perkembangan Tingkat Suku Bunga Kredit Investasi dari Tahun 1985 - 2007
Suku bunga majemuk merupakan suku bunga yang berlaku pada dunia bisnis yang senantiasa mengalami modifikasi sesuai dengan periode pembayaran bunga, yang disebut suku bunga efektif. Dalam perkembangannya suku bunga efektif dikonversikan menjadi suku bunga flat agar memudahkan melakukan investasi – pembiayaan dan mencari biaya pendanaan yang paling efisien dan tingkat hasil yang paling besar.
Setiap pelaku bisnis baik pengusaha, manajer, individu dalam menjalankan kegiatan ekonomi dan bisnis tidak terlepas dari berbagai alternatif keputusan investasi dan pembiayaan. Keputusan investasi dan pembiayaan merupakan keputusan yang saling bertalian seperti mata uang dengan dua sisi, dimana satu sisi adalah keputusan investasi maka di sisi lain adalah keputusan pembiayaan. Secara teoritis, keputusan investasi dan pembiayaan sangatlah bergantung pada tingkat suku bunga yang berlaku. Menurut Lawrence J Gitman (2000) tingkat suku bunga merupakan kompensasi yang harus dibayar oleh pihak peminjam (borrower) dana kepada pihak yang meminjamkan (lender). Dari sudut pandang borrower tingkat suku bunga merupakan biaya penggunaan dana (cost of borrowing funds) yang harus dipertimbangkan dalam keputusan pembiayaan, sedangkan dari sudut pandang lender tingkat suku bunga merupakan tingkat hasil yang diharapkan (required return).
Sumber terpenting pembiayaan defisit anggaran salah satunya adalah pendanaan utang dengan penerbitan surat utang negara, baik domestik maupun global. Di tengah situasi pasar modal global yang sangat bearish tahun ini, tantangan berat mengiringi upaya pencapaian anggaran penerbitan utang. Selama ini terdapat kesan, setiap kali pemerintah akan melelang obligasi negara, harga obligasi pemerintah di pasar sekunder bergerak turun. Ini sama artinya dengan kenaikan yield atau imbal hasil obligasi.
Dampak dari fenomena ini, biaya dana yang ditanggung pemerintah meningkat karena imbalan hasil yang diajukan peserta lelang mengacu pada imbalan hasil yang terbentuk di pasar sekunder ketika lelang dilaksanakan. RAPBN 2008 tahun lalu, banyak pihak menilai target pembiayaan utang netto Rp 91,6 triliun adalah tugas berat bagi Departemen Keuangan. Apalagi ketika APBN 2008 direvisi, pembiayaan utang melalui surat utang negara (SUN) neto malah dinaikkan menjadi Rp 117,8 triliun. Jika dijumlahkan dengan total SUN yang jatuh tempo tahun ini Rp 37 triliun, total besaran SUN yang harus diterbitkan mencapai Rp 154,8 triliun. Ini adalah target yang harus diakui ambisius. Oleh sebab itu, dari awal tahun pelaksanaan lelang obligasi pemerintah berpotensi mengalami tekanan kenaikan imbal hasil yang diminta investor.
Pemerintah menjadi sasaran empuk untuk aksi cornering oleh para pelaku pasar SUN. Cornering yang diduga terjadi di pasar obligasi pemerintah merupakan konsekuensi dari situasi supplydemand yang ada. Di sisi suplai, pemerintah
transparan menyebutkan kebutuhan pembiayaan melalui utang di APBN. Namun, ketika kebutuhan pembiayaan utang meningkat signifikan di 2008, sumber permintaan melorot tajam akibat krisis likuiditas kredit atau yang credit crunch. Mengeringnya likuiditas kredit ini sejatinya terjadi terutama di Amerika Serikat dan Eropa, sebagai dampak kerugian perbankan di sana atas investasi subprime mortgage. Namun, kenyataannya dampak krisis subprime mortgage itu meluas ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. Pasar obligasi Indonesia sangat merasakannya karena peranan investor asing di pasar primer dan sekunder sangat dominan.
Risiko berinvestasi di negara emerging market seperti Indonesia dinilai meningkat. Selain risiko tekanan inflasi, risiko pelemahan ketahanan anggaran dan pelemahan nilai tukar rupiah menjadi perhatian investor obligasi dan menjadi faktor-faktor pendorong penurunan harga obligasi pada semester I-2008. Pada pertengahan Juni 2008, indeks imbal hasil rata-rata obligasi pemerintah 13,24 persen, naik 3,65 persen dibandingkan awal 2008, sebesar 9,59 persen.
Dapat disimpulkan, krisis likuiditas global dan kenaikan risiko investasilah yang menyebabkan investor meminta imbal hasil yang lebih tinggi pada setiap lelang obligasi pemerintah. Adapun minat investor asing terhadap obligasi pemerintah Indonesia tidak berkurang. Kepemilikan investor asing di obligasi pemerintah terus meningkat hingga mendekati Rp 100 triliun pada akhir Juli 2008. Memasuki Agustus 2008, Departemen Keuangan bisa sedikit lega dalam mengejar target anggaran pembiayaan utang. Sampai Juli 2008, pemerintah telah menerbitkan SUN Rp 76,6
triliun dan obligasi global 4,2 miliar dollar AS atau sekitar Rp 39,4 triliun sehingga total dana yang telah diraih pemerintah sekitar Rp 116 triliun. Jumlah itu sekitar 75 persen dari total target penerbitan 2008 Dapat dikatakan, pemerintah telah melakukan upaya mengamankan pembiayaan defisit anggaran melalui penerbitan surat utang dengan baik.
Kemampuan pemerintah menjaga atmosfer investasi yang kondusif dan stabil harus tetap menjadi prioritas. Tantangan yang paling nyata adalah risiko memburuknya sentimen investor akibat peningkatan kecepatan perlambatan perekonomian dunia. Apalagi risiko inflasi diprediksi belum akan turun sampai tahun depan. Hal yang juga harus diperhatikan adalah kebijakan bank sentral dalam merespons laju inflasi. Kebijakan moneter yang hawkish belum tentu cocok untuk Indonesia saat ini, mengingat laju pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nilai tukar rupiah masih kondusif bagi dunia investasi. Selain itu, perlu diperhatikan, pada setiap akhir tahun siklus kegiatan investasi di pasar modal biasanya menurun sehingga, jika tidak hati-hati, pemerintah bisa terlambat memenuhi seperempat target yang tersisa. Selanjutnya, agar dapat mempertahankan kinerja pemenuhan target anggaran 2008, penerbitan SBSN dan ORI005 boleh jadi merupakan kunci sukses yang penting. Keberhasilan penerbitan dua jenis surat utang itu akan menjadi sinyal yang kuat kepada investor bahwa fleksibilitas pendanaan pemerintah berada pada level yang sangat baik.